13 Langkah Membentuk Band Pop

15.16.00 Jino Jiwan 0 Comments


Ahhh… betapa menyenangkannya jadi anak band. Cepat kaya dan terkenal, peluang dapat pacar artis cantik tinggi semampai terbuka lebar, digilai para groupies cewe histeris yang rela berdesakan dan pingsan untukmu. Sampai punya layanan sms hiburan sendiri (Reg_bla bla bla). Gak perlu repot cari teman di Fb atau Twitter, tinggal di konfirmasi atau ignore aja, mereka datang sendiri bak magnet, semua orang mencarimu, dan selalu digosipin sama media, sehingga jadi makin kondang, jadwal manggungpun makin bertambah.

Sebenarnya… jadi penyanyi solo juga bisa sih dapetin semua itu, kalo suaramu bagus, tapi jadi anak band tetep lebih keren. Apa sih keunggulan band dibanding penyanyi solo? Mungkin ya… mungkin, antara lain karena kemampuan megang alat musik mereka jadi terlihat. Ingat dulu waktu SMA gak? Cewe-cewe lebih tertarik dengan cowo yang jago ngegitar nyanyiin lagu yang direquest cewe-cewe pada jam istirahat dari pada cowo ‘kutu buku’ yang unggul di prestasi akademis. Ini berlaku sampai sekarang, cewe akan klepek-klepek dengan anak band.

Gak heran banyak yang tergoda ikut-ikutan bikin band, terutama lulusan SMA yang males nerusin kuliah, meskipun banyak juga yang lenyap begitu aja setelah album pertama, dan hanya sedikit yang bisa sukses secara komersil sampai paling tidak album ketiga. Kalopun CDnya ntar hanya dibajak untuk dijual Rp. 6ribu/keping di lapak-lapak, masih ada jalan lain yang menggiurkan. Jualan RBT atau NSP! Maka muncullah bejibun band-band dengan beragam nama tapi warnanya seragam, sulit dibedakan, persis satu sama lainnya, yang beda cuma mukanya, tapi anehnya yang seperti inilah yang disukai. Cukup hanya dengan bermodalkan rata-rata 10 lagu pop mellow menghanyutkan dalam 1 album yang ngomongin 1 tema ‘universal’: Cinta!

Dan… jangan dikira perusahaan rekaman gak tergiur dengan antusiasme rakyat Indonesia untuk berdendang ria dengan lagu berbahasa sama. Ini peluang meraup duit dari kantong penikmat musik Indonesia yang kelaparan akan hiburan. Seperti hukum ekonomi “Kalo ada banyak yang minta, ya kasih aja”, maka pintu perusahaan rekamanpun dibuka selebar-lebarnya untuk dimasuki band-band baru tampang baru atau band tampang lawas nama baru. Seorang produser musik senior dari very major label di Indonesia yang kurang nyaman kalo disebutkan di sini pernah berujar kurang lebih begini. “Keuntungan dari satu album band aja itu sudah lebih dari cukup untuk meng-cover biaya yang sudah dikeluarkan untuk membiayai sembilan band gagal lainnya”. Artinya keuntungan 1 dari 10 band itu besar sekali, dan kalo sebuah grup band tidak mampu mencapai target penjualan tertentu sudah pasti album selanjutnya hanyalah ngimpi.

Isu yang selalu diangkat adalah pembajakan. Pembajak? Kenapa takut? Kalo memang pembajak-pembajak itu luar biasa untung besar kenapa label-label raksasa yang ngaku rugi itu gak ada yang bangkrut? Bahkan makin banyak perusahaan rekaman baru yang menjamur… kan? Malah konon isunya para produser rekaman itulah yang sengaja ngelempar materi rekaman band ke pembajak terlebih dahulu sebelum rilis resmi. Demi exposure gratis. Pembajak disalah-salahin sebagai pembunuh kreatifitas musisi padahal ujung-ujungnya hanyalah duit yang mau masuk ke label jadi berkurang ‘sedikit’.

Tapi ada bagusnya juga sih, musik Indonesia jadi penguasa di negeri sendiri menghajar musik barat yang sempat mendominasi peta permusikan dan perTVan dari 90-an. Kalo dulu hanya ada MTV Indonesia, sekarang setiap pagi semua stasiun tv punya acara musik sendiri yang tayang bersamaan, dengan menu utama live (or not live) performance dan peringkat lagu-lagu. Paling nggak baguslah buat mereka para anak band itu sendiri biar gak melulu dicap luntang-lantung gak jelas oleh orang-orang rumah termasuk pacarnya (itu kalo punya). Ha ha!

Agar dapat meraih sukses menembus perusahaan rekaman, dapat kontrak bikin album minimal tiga, banyak fans, dapat banyak royalti, perbaikan keturunan, dst. Berikut ini ada tips-tips awal bermodal 0 yang dapat dipraktekkan untuk jadi band top of the pop:
  1. Pertama tentukan anggota bandmu. Teman akrab lebih baik, jangan ajak musuhmu apalagi mantannya pacarmu (kalo kamu punya). Jangan terlalu rame, jangan terlalu banyak, malah bikin gak asyik dan pasti bikin manajemen apalagi calon fans jadi bingung mengenali itu siapa, ini siapa? Pilih kira-kira 4-5 orang aja. Tentukan juga pentolannya alias front man! Pilih yang paling berkharisma. Ini penting untuk menyatukan visi dan misi (kaya kampus ama partai aja). Tentukan juga siapa megang alat musik apa, liat tampang dan posturnya pantes gak. Contoh: yang badannya kecil dan pendek jadiin drummer, yang bongsor dan tinggi jadiin bassist. Jangan sampai kebalik. Bisa tenggelam tuh badan cungkring, kalo megang bass.
  2. Langkah ke2 ini adalah yang paling vital untuk masa depan bandmu; Pemilihan vokalis. Kalo tampang vokalis bandmu sekarang dibawah standar biarpun kwalitet suaranya platinum, segera turunkan pangkatnya jadi apa kek gitu. Jadi sambungan kabel yang kurang panjang juga ide bagus. Atau kalo terlalu mengganggu penampilan, pecat aja! Pilih vokalis cowo. Tanpa bermaksud menghina band dengan vokalis cewe, ini karena band dengan vokalis cowo jauh lebih laku. Kriteria selanjutnya harus bertampang oke atau berpenampilan cool, langsing (alias kurus) dengan tinggi badan sedang, jangan terlalu pendek apalagi berpostur pemain basket (cukup antara 165-175cm aja) dan klimis. Kenapa? Karena vokalis akan menjadi fokus utama yang nongol di Tv nantinya. Tidak penting kualitas vokal, yang penting gak gagu aja. Toh entar suaranya bisa dikasi efek pas rekaman. Tapi jangan juga terlalu ganteng (bukan gangguan tenggorokan ya), takutnya dia beralih ke dunia modeling dan sinetron. Status tidak masalah, jika sudah beristri justru makin seru. Kesempatan emas untuk digosipin. Semakin sering digosipin semakin terkenal.
  3. Pilih aliran POP, boleh dengan sedikit campuran rock, dan garukan gitar yang melodis. Dicampur balada, jazz kecil-kecilan, ataupun groovy juga bagus. Sedikit atau banyak sentuhan musik gaya melayu yang sedang ngetop juga dijamin laku. Apapun campurannya tetap pilih POP sebagai jalur utama. Nasihat yang harus ingat: Gak usah sok indie deh! Kalo mau albumnya laris.
  4. Formasi personel biasa aja nggak perlu tampil sok unik (gak perlu ada yang pegang kendang atau rebana, soalnya ini bukan grup marawis), ikuti aja arus yang sedang berlangsung. Misal: vokalis tampil solo aja tanpa alat musik (boleh sesekali ditampilkan, tapi jangan keseringan), dua atau satu orang gitaris cukup, seorang bassist, dan seorang drummer. Boleh juga ditambah keyboardist (meski jarang dipake) atau ada salah satu personel yang merangkapnya. Soal skill? Ah yang penting sok pede aja. Asal gitarisnya tahu kord-kord biasa yang sering dipakai band lain seperti: C, D, D7, E, Em, F, F#m, G,… H, I, J, K, L…
  5. Pilih nama band yang menjual dan ears catching sehingga bisa menggugah (hua… menggugah) rasa penasaran manusia yang sudi dengerin musikmu. Nama band biasanya sering berubah-ubah. Karena terbatasnya wawasan ber-ngeband, mereka sering baru nyadar kalo nama yang dipakai ternyata udah dipakai oleh band lain. Satu atau dua suku kata sudah cukup, gak usah over, bisa mubazir! Sebaiknya pakai bahasa Indonesia atau kata serapan yang simpel. Konsultasi dulu dengan guru bahasa Indonesiamu di SMA. Tips mudahnya: Ambil kamus besar bahasa Indonesia (atau kamus Inggris). Tutup matamu, sembarang buka halaman berapa aja, masih dengan mata merem, tunjuk jarimu di halaman kamus, sekarang buka mata. Selamat, sekarang kamu sudah tahu kata apa yang akan kamu pakai untuk jadi nama band kamu. Tren saat ini seperti tahun 90-an adalah dengan menambah kata “band” di belakang nama resmi. Diduga untuk menghindari mispersepsi dari penikmat musik yang mungkin akan menyangka mereka adalah rombongan sirkus, karena nama band-band baru sering aneh. Hindari nama-nama yang udah bikin ilfil duluan. Tambal band (ada banyaaak) atau Kepri Band adalah salah satu contoh nama yang hanya cocok untuk saingan dengan band beraliran lawak sekelas Teamlo.
  6. Soal nama, ini juga mencakup nama-nama personel bandmu. Diskusikanlah bersama nama-nama panggilan yang komersil dan gampang diingat, bukan berarti gak bersyukur dengan nama asli pemberian orang tuamu, tapi dulu itu orang tuamu kan gak tau kamu maunya jadi pemain band, jadinya kamu dapat nama yang gak ngejual. Contoh yang bisa dicoba: Nazriel jadi Ariel, Sigit jadi Pasha (Kok bisa?), Maryanto jadi Ary, Riyanto jadi Ryan, Zainal jadi Jay, Endang jadi Enda, Sutomo jadi Tommy, Iman jadi Taqwa (Ha ha), Prasetyo jadi Tyo, Wahyono jadi Ono, Jatmiko jadi Jet (Halah!), Aji jadi Jino (ha? Gak nyambung… biarin aja). Komplit!. Berikut ini contoh yang sangat baik, Bambang disingkat jadi Bams, karena nama Bambang cenderung lebih terdengar seperti nama anggota Polri.
  7. Punya instrumen dan peralatan ngeband sendiri adalah kewajiban. Minimal gitar akustik yang masih ada senarnya, kalo gak ada senarnya ya beli dong. Cuma senar gitu loh! Untuk sementara drum (karena paling mahal) bisa diganti ember plastik bekas cat tembok, kaleng biskuit Khong Guan, dan piring seng. Kalopun mau ngerekam, rekamlah pakai microphone yang bole minjem dari mesjid yang dicolokin ke komputer (harus punya!), kalo gak punya ya minjem lagi aja. Belajarlah olah suara digital dengan software bajakan murah meriah yang bisa dibeli di Mangga Dua atau Glodok. Atau ke persewaan CD yang ada di Bogor atau Jogja. Buku panduannya ada di toko buku terdekat. Kalo gak kuat beli ya coba tanya mbaknya bole difotokopi nggak? Suruh vokalismu yang tampan itu untuk melakukannya, siapa tahu berhasil. Mmm…tapi kayanya gak bakal dibolehin sih.
  8. Buatlah lagu cinta bertema patah hati, kecewa, dikhianati, tangis sendu yang penting mellow dan feeling blue. Kehabisan ide? Ulang terus tema yang sama! Buat lagu jawaban untuk lagu yang sudah ada adalah ide kuno tapi ampuh, misal: Kamu sudah buat lagu berjudul “Aku Cinta Kamu”, buatlah lagu jawaban yang seolah-olah dinyanyikan pasangannya dengan judul “Aku Juga Cinta Kamu”,lalu berlanjut dengan jawaban lain “Aku Ingin Kembali, tapi Aku Juga Cinta Dia”, dst, dst. Karanglah lirik sesederhana mungkin, ulangi kata sebanyak mungkin. Ini penting agar orang dungupun bisa menyanyikannya. Juga agar vokalis bandmu gak lupa dengan lirik jika tampil live. Gak perlu sok puitis mbrebes mili, calon fans bandmu gak akan membutuhkan kata-kata yang sulit dipahami. Tema selingkuh sebenarnya sangat mujarab, sayangnya dengar-dengar ada larangan untuk membuat lagu bertema selingkuh dari salah satu lembaga penting di negeri ini. Sediakan paling nggak 20 materi lagu yang udah dalam format kompatibel di CD buat demo ke label. Gak perlu mikirin aransemen yang terlalu mewah, kalo udah nembus rekaman, ntar bakal dibantu ama yang udah ahlinya.
  9. Pilih manajer yang tahu bagaimana cara menghitung uang tanpa kalkulator. Jangan dipilih kalo orangnya masih menghitung dengan sepuluh jarinya apalagi ngitung pake batu kerikil. Manajer penting untuk ngurusin bayaran tiap kali manggung (misalnya aja ada yang mau bayar) dan sinkronisasi waktu manggung dengan jadwal tidur, dugem, ngegame, dan waktu pacaranmu (itu juga kalo punya). Ya…kali aja ada temen sedang ultah yang terpaksa mau ngundang bandmu karena belas kasian.
  10. Banyak-banyaklah latihan ngeband di manapun kapanpun itu. Terutama vokalisnya, kecuali cuma berani tampil lypsinc (eh…tapi ini juga butuh latihan, biar lebih menyakinkan kalo manggung). Kamar mandi adalah tempat terbaik untuk seorang vokalis berlatih dan menghapal lirik. Pastikan lampu kamar mandinya cukup padang, biar gak kena rabun senja. Tapi jangan kelamaan nanti dikira sedang melakukan aktifitas ‘pengeluaran’ rutin. Kamar kos kedap suara dan cahaya adalah alternatif lainnya untuk latihan. Kalo punya uang halal, ya sewalah studio musik sekali-kali, tapi pastikan permainannya gak bikin masnya yang jaga studio ngakak atau malah mendadak mules. Camkan! Practice makes Pervert...eh Perfect.
  11. Kalo mau manggung, ikut kompetisi atau festival band. Pakailah kostum band yang satu nuansa, kompak dengan personel lain. Warna hitam adalah warna aman untuk menutupi rasa rendah diri. Jangan pakai kaos berlogo atau bergambar band rock (ingat aliranmu itu Pop), apalagi kalo kamu gak band apaan yang ada di kaosmu itu. Sewa beberapa orang (yang banyak) untuk menjadi groupies palsu. Kehadiran mereka sangat penting untuk menaikkan semangat kalo udah demam panggung duluan apalagi kalo band sebelum kamu mainnya lebih mumpuni. Beberapa kompetisi (yang gak bergengsi) meminta penonton untuk menilai penampilan band tertentu, dan kalo groupies palsumu banyak. Dijamin bisa menang. Oh ya, jangan lupa minta salah satu dari mereka ngerekam penampilan dahsyat kalian, pake kamera video tentunya. Terus upload ke YouTube, minta mereka nge-klik videomu biar jadi hits dan kalian jadi populer.
  12. Koneksi sangat penting. Semakin kalian terlihat seperti sosialita semakin bagus. Manfaatkanlah teknologi sebaik-baiknya. Kenalan, berteman, dan nongkrong bareng dengan band terkenal idolamu lewat MySpace atau Fb atau Twitter (apapun situs jejaring sosialnya). Pastikan yang ofisial. Soalnya mau kenalan secara langsung hampir pasti gak bakal terwujud. Buat apa? Ya kali-kali aja mereka membolehkan nama mereka nongol di bagian thanks to pada album band kamu suatu hari nanti entah kapan. Biar sok kenallah dan agak ngejuallah. Ntar kan orang yang beli album kalian bisa bilang “Oh, band ini temannya si band itu loh.”
  13. Yang terakhir banyaklah beribadah, berkomat-kamit, berpuasa, berderma, beramal Solikh, dan berdoa agar bandmu sukses, disukai, dihargai, digilai, dijilat, diincar label, diincar penculik (Ha?!!). Pasrah dan berharaplah agar senantiasa beruntung dan band sainganmu yang lain selalu tertimpa sial dan lagu mereka gak laku.

Astaga ada 13 langkah! Mudah-mudahan gak berarti sial.

Salam Kuper!
Restu Ismoyo Aji / Jino Jiwan untuk Bebas Ngetik 9 Mei 2009.

Ketikan ini sempat kumuat di catatan Facebook.

0 komentar: