Senam Gemulai para Bender

14.30.00 Jino Jiwan 1 Comments


-->

Apa yang membuat serial animasi Avatar: The Legend of Aang (ATLA) begitu menarik? Keunikan konsepnyakah? Atau unsur surprisenya? Karena saat ditayangkan pertama kali tak seorang pun menduga jika animasi dengan pendekatan gaya asia timur ini nyatanya dibuat oleh orang bule?
Tak diragukan lagi ATLA karya Aaron Ehasz, Bryan Konietzko, dan Michael Dante DiMartino ini segera menjadi gelombang fenomena masal yang merasuki tiap orang hingga layak rasanya bila ATLA menjadi legenda yang layak dikenang untuk selamanya. Tidak hanya orang Asia (dengan budaya klasiknya menginspirasi ATLA)—yang mengaguminya tapi juga mereka orang Amerika sendiri yang jauh dari kehidupan orang Asia. Tak ketinggalan anak-anak bahkan orang dewasa di Indonesia pun menikmatinya (Itu bisa dilihat dari pengaruh gaya ATLA dari sejumlah iklan produk makanan di tv nasional kita—atau gambar-gambar di kaos untuk anak-anak). Hollywood seperti biasa, selalu sanggup mengendus potensi melipatkan pundi-pundi mereka dari apapun yang punya fans base besar. Jika fans nya banyak, tidak ada salahnya untuk dicoba. Jadi tak heran ketika rumor ATLA akan dibuat versi live actionnya oleh Hollywood, sudah banyak pihak yang menanti, walau tak sedikit juga yang menyayangkan.
Perasaan fans sejati ATLA semakin campur baur ketika M. Night Shyamalan ditunjuk sebagai nahkoda film yang berseting di dunia alternatif itu. Sineas keturunan India yang sinarnya tengah meredup ini—yang belum mampu bangkit lagi sejak film terakhirnya Lady in The Water ambruk dicerca pasar, tentu saja cepat mengiyakan. Baginya ATLA versi layar lebar bagai batu loncatan untuk kembali meraih gelar suradara berkelas. Tapi apakah ia mampu mewujudkan salah satu serial animasi terbaik sepanjang masa ke layar lebar?
Protes ‘segelintir’ penggemar serial aslinya tak digubris, sementara harapan sebagian lainnya tetap terpelihara. Hingga akhirnya “The Last Air Bender” (TLAB) pun hadir dari rencana trilogi (sama seperti animasinya), judul ini dipilih demi menghindari kesamaan judul dan kerancuan dengan Avatar-nya James Cameron yang dirilis akhir 2009 lalu. Film dibuka dengan perkenalan empat elemen, sekilas mirip seperti animasinya, dalam gaya yang agak-kurang begitu elegan, lemah dan tidak berenergi. Plotnya secara garis besar sama seperti season pertama ATLA, Book One: Water dengan tambal sulam disini-sana dengan kisah yang dipercepat.
Diceritakan dua bersaudara suku air selatan, Sokka (Jackson Rathbone) dan Katara (Nicola Peltz) secara tidak sengaja menemukan Aang (dalam film dilafalkan Ang bukannya Eng), pengendali udara terakhir-sang avatar, diperankan oleh Noah Ringer. Mereka lalu bersama-sama memulai pemberontakan terhadap negara api kemudian membantu suku air utara menghadapi serangan negara api sambil menghindari kejaran Zuko (Dev Patel) yang ingin menangkap Sang Avatar demi mengembalikan harga dirinya.
Nyaris semua interaksi antar karakter dimanfaatkan oleh Shyamalan yang serakahnya sekaligus merangkap scriptwriter untuk memperkenalkan latar belakang tiap karakter habis-habisan. Akibatnya dialog terkesan kurang natural, lebih mirip orang yang sedang bertutur pada penonton. Hal ini bisa dimaklumi, memampatkan keseluruhan season Book One : Water dalam satu kali film berdurasi kurang dari 2 jam, memang bukan hal yang mudah dilakukan pembuat film manapun. Akibatnya banyak peristiwa penting yang dihilangkan dalam versi film. Belum lagi resiko jalannya cerita yang jangankan penonton awam, penggemarnya sekalipun bakal sulit memahami.
Soal efek spesial demi mendukung ‘skill’ semua karakternya dalam mengendalikan berbagai elemen alam tak perlu diragukan. Sebagaimana semua film modern produksi Hollywood lainnya efek spesial selalu menjadi suguhan utama yang mungkin jauh lebih membekas dari pada kisahnya sendiri. Mata akan dimanjakan dengan efek spesial (terutama menjelang akhir), meski tidak perlu terlalu sumringah menyaksikannya, karena masuk kategori biasa saja.
India: Fire Benders origin?
Satu yang cukup mengganggu adalah pergantian ras para pemainnya. Jika mengganti satu karakter penting dengan wajah yang ‘lebih mudah diterima’ barat buat sang tokoh utama dianggap belum cukup maka mengganti ras bagi keseluruhan peran secara radikal di dalamnya dianggap suatu keharusan.
Fans bertanya-tanya, sekaligus penasaran heran kenapa Dev Patel (Slumdog Millionare) yang punya wajah Asia, sehingga justru lebih cocok memerankan karakter Sokka malah kebagian peran sebagai Prince Zuko? Yang dalam ATLA malah ber-etnis China. Salah kasting kah? Nah, sosok bergaris wajah India ini pula yang membuat pemilihan seluruh barisan cast untuk angota Fire Nation terasa dipaksakan (karena harus menyesuaikan semua). Dimulai dari sosok Iroh (Shaun Toub), paman Zuko yang gak begitu ‘nyambung’ dengan keponakannya. Hingga ayah Zuko, Ozai raja negara api, yang berhubung Zuko-nya diperankan aktor India, maka ayahnya pun juga harus punya tampang ‘India’.
Rasanya tidak heran kalau Dev Patel, yang bukan kebetulan berasal dari negeri yang sama dengan si sutradara diplot jadi Zuko. Namun uniknya, performa yang paling lumayan malah jadi milik dia (meski tidak dominan) setidaknya jika dibanding lainnya. Ia mampu menampilkan emosi sang pangeran terbuang yang resah gulana berkaitan identitas dan tugasnya. Dari versi aslinya sendiri karakter Zuko memang yang paling unik sepanjang serial dan perannya cukup sentral. Selain karakter Sokka tentu, yang anehnya dalam film malah dibuat terlampau serius dan kaku. Padahal dalam serial animasi ATLA, Sokka adalah sosok dengan tingkah konyol-konyol idiot sekaligus cerdik.
Iroh pun tak luput dari perombakan, dari sosok yang bijak dan sangunis. Ia berubah jadi orang yang tidak jelas posisinya. Dan entah kenapa Fire Lord Ozai (Cliff Curtis) tidak terlihat meyakinkan sebagai seorang raja yang berkuasa, kejam dan, magalomaniak. Penampilannya berbeda jauh dengan Ozai versi animasi ATLA yang berkesan lebih angker. Bukankah lebih baik jika raja api ini tidak perlu ditampilkan lebih dulu supaya rasa penasaran penonton terbayar di sekuel selanjutnya?
Keseluruhan karakter yang diperankan bintang-bintang baru tampak kurang greget—kurang mantap. Cara mereka mengendalikan elemen yang mereka kuasai malah terlihat menggelikan sekaligus meragukan. Gerakan-gerakan mereka terkesan amat lembut, lambat, terlalu gemulai kurang gairah, hingga malah mirip orang yang sedang senam tai chi dengan efek pengendalian elemen (entah itu udara, air, tanah, dan api) yang begitu datar. Mungkinkah ini disengaja karena diceritakan bahwa mereka belum begitu mahir? Atau memang untuk lebih menekankan adegan laga akhir?
Usaha Shyamalan mencegah kemonotonan dengan menampilkan humor sayangnya berujung pada garingnya situasi, kelucuan yang amat mudah tertebak. Lemahnya pernokohan tampaknya memang telah dirancang dari awal demi menarik kalangan audiens yang lebih beragam. Bukankah penggemar ATLA terutama remaja dan anak-anak? Yang hampir pasti mengajak orangtua mereka. Sehingga kesan menghindari kompleksitas amat terasa. Apalagi premisnya juga simpel: Yang putih (kebaikan) akan selalu menang melawan hitam (kejahatan).
Maka seperti karya adaptasi kebanyakan, entah dari novel, komik, video game, serial televisi, atau animasi populer. Hasilnya akan selalu mengecewakan pihak fans, bahkan bagi yang sudah expect less sekalipun. Beruntunglah bagi yang belum menonton animasi aslinya. Tentu mereka bakal menemukan TLAB sebagai tayangan yang menghibur dan tidak tampil buruk-buruk amat. Yang dapat diharapkan para fans tentunya akan ada perbaikan lubang-lubang tersebut andai sekuel “Book 2: Earth” benar-benar akan dibuat, mungkin dengan perubahan sutradara dan scriptwriter baru yang lebih mampu melakukan eksplorasi kisah secara matang. Ya…siapa tahu.
Oh ya kalau anda cermat, akan ada penampakan ikon pariwisata kita yang sedang gencar dipromosikan menjadi keajaiban dunia yang baru itu.
Bending-o-meter: 5/10
Oleh Jino Jiwan untuk Bebas Ngetik

1 komentar:

Lala Aero mengatakan...

wah keren..
untuk manfaatnua spa saja ya..
dan untuk baju senam aerobik yang bagus seperti apa ....
salam sukses