Kartini Wasn’t a Gamer

22.53.00 Jino Jiwan 0 Comments

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia kembali diingatkan akan jasa salah seorang pahlawan terbaiknya, seorang putri bangsa yang melakukan perlawanan non fisik, tanpa angkat senjata. R. A. Kartini. Terlepas dari kontroversi yang melingkupi kisah Kartini sebenarnya, esensi yang ingin ditonjolkan adalah bahwa seorang perempuan--dimana pada masa dia masih hidup, kaumnya tidak dihargai--sanggup menunjukkan perbedaan nyata tentang harkat wanita seharusnya. Yaitu bukan sekedar pabrik anak dan pendidikan merupakan pondasi bagi perbaikan kualitas hidup. Bagaimana wanita jaman sekarang atau generasi selanjutnya melanjutkan perjuangan R.A. Kartini? Atau malah jangan-jangan sudah pada lupa? Berikut sekelumit pengalaman disertai secuil harapan untuk wanita Indonesia di masa depan.

Jadi ingat sewaktu ketemu dengan warnet yang sekaligus merangkap host game online di seputaran kos saat masih di Jakarta. Senang bercampur penasaran karena sulit untuk nemuin warnet yang bertampang bonafid, elit, dan terang-temaram. Beberapa warnet sebelumnya lebih layak mencerminkan analogi kapal pecah dengan harga yang menipiskan isi dompet.

Lalu pada suatu kesempatan yang telah direncanakan dengan tujuan berfesbuk-ria (ketika itu Fb masih jadi komoditi panas) masuklah kaki ini ke dalamnya, seketika itu juga kuping disambut raungan suara tumpang tindih dari speaker murahan berkualitas cempreng yang menghiasi kiri kanan monitor LCD layar lebar. Hampir semua unit komputer dihadapi oleh satu anak yang hampir semuanya pula memainkan permainan online. Jadi ternyata kemasannya tidak berbeda dengan rata-rata persewaan game online di manapun.

Sistemnya adalah pasca bayar dengan pembunuhan unit komputer secara otomatis saat waktu sewanya kadaluarsa. Bila hendak memperpanjang, ybs harus segera menghubungi operator untuk minta tambahan waktu. Macam persewaan PS saja ya? Duduk bersebelahan dengan seorang online gamer cewe. Masih muda, malah dapat dikata sangat muda, usia SMP mungkin, dengan fisik layaknya anak SMA. Sebenarnya sempat terbit rasa kagum karena jarang-jarang ngeliat cewe main game, tapi kekaguman itu langsung rontok begitu tahu game yang dimainkannya adalah game Dance online (Berikut di samping adalah gambar dari game yang dimaksud), yang pasti kalian sudah tahu. Itu game online yang cukup dominan dimainkan oleh anak-anak muda yang ada disitu ketika mata berputar ke sekeliling ruangan. 

Dan…oh kalian harus tahu cewe ini memiliki jari-jari yang amat luwes menari lincah di atas keyboard mengikuti tiap perintah pada layar soal tuts mana yang harus diketuk. Tapi segera muncul keyakinan bahwa kelihaian jarinya tidak akan banyak memberi andil bila dia berada di dapur, berdiri di depan kompor. Yang jelas secara tampilan cewe ini cukup menarik dari segi wajah hingga leher. Putih, tidak putih seperti kulit sapi tapi putih seperti idealnya perempuan dalam sinetron dan iklan produk pemutih wajah.

Sayang muka lumayannya itu tampil sangat cuek. Jika tidak mau dibilang amat cuueeeekkkk sekali (Apa ini yang disebut sebagai generasi Alay?). Jadi ini cewe matanya kuyu, namun pupilnya menegang kaku. Rambutnya tergerai kusut seperti lima minggu tanpa pernah bersentuhan dengan sampo. Sandangannya pun macam gembel dengan jaket lusuh dan celana pendek. Kedua kakinya diangkat, menapak di atas kursi. Mungkin dia lupa bahwa dia tidak sedang duduk di warteg atau warkop. Dengan bahasa tubuh itu, lelaki mana yang tidak berhak menghakiminya dengan berbagai prasangka kejam?

Segenap keinginan dan impian memiliki wanita yang juga sama-sama hobi ngegame menguap begitu saja setelah disuguhi pemandangan tadi, internetan serasa tidak asyik. Ah…wanita, tetaplah jadi wanita yang wajar-wajar saja. Bila ingin memberi sumbangsih pada emansipasi atau kesetaraan gender atau apalah namanya bukan di situ tempatnya dan bukan begitu caranya.

Happy Kartini Day!

0 komentar: