Islamnya Satu, Hari Rayanya...

22.30.00 Jino Jiwan 0 Comments


Dari dulu begini terus, begini terus dari dulu. Rukyah hilal rukyah hilal yang tidak pernah bisa jadi satu menemui titik temu. Lucunya yang namanya islam itu hanya satu. Tapi jika ditanya kapan hari rayanya? Nah, ini sih tergantung. Tergantung kamu pengikut ormas yang mana.

Aku sendiri bukan orang yang mengerti bin paham dengan perhitungan apalagi pergerakan bulan, bulan-bulan qomariyah, rukyatul, dan hilal, atau sekian derajat di atas di bawah cakrawala bla bla bla. Sebagai muslim seharusnya aku butuh untuk memahaminya. Hanya saja aku percayakan sepenuhnya pada bapak-bapak ahli agama, fiqih, dan astronomi yang tadi bertempur argumen dalam sebuah majelis resmi membawa-bawa hadith ini hadith itu masing-masing tidak akan serampangan dalam menentukan perkara penting selevel Idul Fitri. Masalah ini jelas serius dan amat krusial karena berkaitan dengan sah tidaknya ibadah puasa. Kalau masih berpuasa di saat semestinya telah masuk 1 Syawal, bisa kena dosa. Sebaliknya kalau tidak berpuasa di waktu yang seharusnya masih Romadon juga sama ketimpa dosa. Sesuatu yang wajib dipertanggung jawabkan nanti di akhirat. 

Yang paling diributkan sepanjang sidang malam itu berputar pada masalah pengamatan bulan dari sejumlah titik di atas bumi. Dan tepat ketika keputusan pemerintah dijatuhkan, sayup takbiran di masjid-masjid mendadak senyap. Meski letusan mercon dan berbagai jenis kembang api terus membahana. 

Bulan cuma satu buah kok diributkan? Yang kumaksud adalah satelit alami bumi bernama bulan (moon). Itu baru satu buah satelit alami yang dijadikan patokan. Bagaimana seandainya bila planet bumi tempat kita bernaung punya lebih dari satu bulan, seperti planet Jupiter atau Saturnus? Memang pada kenyataannya tidak sih, tapi kan tidak ada salahnya berandai-andai. Coba tuh bulan mana yang akan digunakan patokan untuk melihat hilal? Bagaimana jika bulan bumi suatu hari ditabrak asteroid sampai hancur? Atau katakanlah sejak dulu bumi tidak punya bulan. Andai itu semua terlampau ekstrim. Bagaimana jika suatu hari kita semua terpaksa pergi meninggalkan bumi, tinggal di ruang angkasa, hidup di planet lain? Apa perlu kita kembali ke permukaan bumi demi membuktikan hilal bulan telah kasat mata? Hei, tadi itu hanya berandai-andai loh. Tanpa ada maksud menunjukkan keunggulan salah satu metode penentuan pergantian bulan (month).

Tapi setelah kupikir-pikir, ada juga hikmahnya. Hari raya Idul Fitri tahun ini bakal menjadi lebih semarak. Kenapa? Karena ada dua hari berturut-turut. Bahkan kalau sedang punya turah waktu. Sholat Ied pun bisa dilakukan dua kali, sholat versi pertama dan versi kedua. Hanya saja pertanyaan besar masih perlu dijawab. Jika islam hanya ada satu, kenapa hari rayanya bisa ada dua?
Jino Jiwan untuk bebasngetik 29 Ags 11

0 komentar: