Klisenya Eagle Awards

11.58.00 Jino Jiwan 0 Comments

Barangkali hanya aku yang punya pendapat ini. Aku merasa film-film Eagle Awards kian menjemukan dari tahun ke tahun. Sudah lama juga sih tidak benar-benar menyimaknya, pun tidak tahu film apa dan buatan siapa yang memenangi ajang tahunan ini.

Topik yang diangkat dalam tiap film boleh jadi fresh, cukup banyak hal baru atau hal yang terlewatkan dalam keseharian. Tapi sayang, tema-nya itu loh, meskipun tiap tahun berbeda-beda, tapi filmnya tetap terasa sama. Sama bagaimana? Ya, sama dalam arti akan sulit membedakan apakah film dokumenter ini masuk dalam lingkup tema tahun ini atau tahun lalu atau tahun lalunya, karena tidak terasa bedanya. Yang penting filmnya mengangkat sesuatu yang ‘Indonesia Banget’, biasanya orang yang atau sekelompok orang yang melakukan sesuatu. Masalah tema, itu sepenuhnya hanya masalah pe-label-an semaunya dari pihak Eagle Awards. Kadang (maaf nih) aku membayangkan mereka punya software Theme-generator yang akan memunculkan tema apa yang akan diangkat tahun ini. Entah itu temanya mau Indonesia Berharmoni; Indonesia Kuat; Indonesia Berwarna; Indonesia Kreatif.

Boleh jadi misi Eagle Awards mulia, hendak menunjukkan Indonesia dari sisi lain, tapi kesannya Eagle Awards itu adalah Kick Andy versi dokumenter. Uniknya mereka yang diangkat dalam film dokumenter Eagle Awards hampir selalu pasti diundang ke Kick Andy. Lalu entah kenapa ajang ini masih saja butuh endorsement dari orang-orang terkenal yang bilang ajang ini bagus dan positif dan perlu dan harus ada, padahal Eagle Awards ini sudah cukup lama dilaksanakan membuatnya seolah masih butuh penyangga untuk hidup.

Gaya pembawaannya pun sama. Dan ini yang paling aku permasalahkan. Aku tidak tahu karena boro-boro ikutan pitching, aku belum pernah coba-coba ikut mengirim ide, apalagi  melihat langsung proses syutingnya. Apakah memang gaya Eagle Awards harus selalu bergaya begitu? Bahkan sulit membedakan siapa yang membuat—siapa saja orang-orang yang berada di balik film dokumenter itu. Sepertinya yang membuat seluruh film finalis Eagle Awards adalah satu tim yang sama sejak dulu hingga sekarang.

Mengapa tidak memakai pendekatan yang berbeda? Supaya terasa bahwa film ini dibuat oleh orang-orang yang berbeda. Bebaskanlah pembuatnya bereksperimen dan bermain konsep. Bergaya narasi dari mata pembuat filmnya mungkin. Supaya bukan hanya menyorot satu tokoh yang dijadikan lakon (atau wajib dibaca: agen perubahan), dengan hanya membiarkan orang ini atau mereka bicara sendirian di depan kamera memaparkan ini dan itu. Mungkin bisa pakai pendekatan humor, atau ditambahi beberapa animasi, atau bergaya investigasi. Dokumenter gak harus standar-datar-tanpa gejolak. Tapi bisa juga menegangkan, seru, ‘berbahaya’, memancing rasa ingin tahu penontonnya, menghibur, bahkan kocak. Bukan berarti juga harus mengada-ada, hanya saja kemasannya kan bisa dikejar agar tidak bernuansa sama dari tahun ke tahun walaupun orang yang berada di baliknya berbeda.

Tapi sekali lagi barangkali hanya aku yang punya pendapat ini, barangkali memang begitu gaya Eagle Awards. Aku tidak tahu. Ada yang tahu?

(Jino Jiwan)

0 komentar: