Estetika Desain dan Refleksi Diri

01.14.00 Jino Jiwan 0 Comments

Estetika dalam dunia desain (utamanya) komunikasi visual sering menimbulkan perdebatan, karena konon konsep tentang keindahan—yang merupakan padanan kata dari estetika—tidak selalu mengalami kesepakatan. Bahwa suatu keindahan atau kecantikan akan berbeda bergantung pada siapa yang menilai. Misalnya ketika seseorang diminta memberi penilaian terhadap sebuah karya desain. Bisa jadi orang itu akan mengatakan “bagus,” sedangkan orang lain dapat mengatakan sebaliknya. Sebuah isu subjektivitas tak berkesudahan.

Gerandong
Udang Grandong?
Kita semua setuju “estetika” dipadankan dengan “keindahan.” Tetapi keindahan seperti apa sih yang diawang-awangkan ini, apa yang menjadi ukurannya? Samakah ia dengan “kreativitas” yang seringkali digumamkan seseorang dalam memandang suatu karya...katakanlah iklan, “hm, kreatif nih iklan!” Sementara ada saja desain yang dicap “terlalu sederhana,” dilabeli “wagu,” dan “ndeso.” Namun sesungguhnya mereka menyimpan estetikanya sendiri yang lebih layak diapresiasi, desain-desain yang kadang telah disesuaikan dengan apa yang menjadi tujuannya, meskipun hal ini barangkali tidak disadari sepenuhnya oleh desainer tersebut.

Estetika dalam desain (utamanya Desain Komunikasi Visual) perlu bergerak dari prasangka orang-orang di luar sana yang menganggap bahwa “keindahan” dalam desain berbeda ruang dari kreativitas. Pun kreativitas sendiri harus terus didorong supaya tidak terjebak dalam kesetaraan arti dengan “kenyelenehan-keanehan-kekomedian-(menimbulkan) keterkejutan” semata, seperti yang sering diterima secara luas bahkan oleh desainernya sendiri. Keduanya, estetika dan kreativitas adalah satu.

Khas Ciamis
Estetika "Basreng"
Estetika butuh makna ‘baru’, pemahaman baru. Yaitu keindahan yang memiliki dan mengandung tujuan. Tujuannya boleh jadi mulia tapi bukan dalam bingkai moral (semata) melainkan ber-tujuan yang bijaksana dan bertangung jawab dalam praktiknya. Pada tujuan inilah estetika dapat bebas bermain-main. Namun, yang paling penting adalah bagaimana tujuan ini dikomunikasikan, karena kunci untuk membuat sebuah gerakan adalah pada komunikasi.

Permainan estetika membutuhkan etika. Etika di sini harap tidak dimaknai sebagai seperangkat aturan yang mengekang kebebasan dalam mengekspresikan apa yang dituju oleh desainer. Karena etika letaknya ada di depan sebelum seorang desainer mulai mendesain, ia tidak sama dengan hukum yang menjatuhkan vonis setelah pelanggaran terjadi.

Etika dalam mendesain diperoleh dari refleksi diri terhadap pengalaman. Pengalaman hendaknya mampu mengendalikan seorang desainer dari keinginan untuk melayani hasrat liar estetik-nya yang kerap kali tanpa kejelasan. Pengalaman desainer mengatakan bahwa sering terjadi negosiasi—dalam arti sebenarnya—dalam arti yang sudah sering kita dengar sehari-hari. Pertanyakanlah pada diri: pantaskah desain ini untuk suatu khalayak tertentu? Apakah waktunya sudah tepat? Sesuaikah pesan-pesan yang akan disajikan kepada khalayak? Adakah yang harus dikurangi atau ditambahkan? Akankah desain ini diterima dan tidak menimbulkan kehebohan (atau justru ingin agar ada kehebohan)? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah bentuk negosiasi baik dengan diri sendiri maupun dengan orang-orang yang (mungkin akan) berkepentingan terhadap desain itu.

Koleksi kemasan teh
kemasan teh pun punya estetika
Desainer yang baik bukan hanya berpikiran menjual atau menanamkan pesan saja, namun yang mampu menghayati bagaimana tujuannya bisa dikomunikasikan, jika sudah maka ia pasti dapat mengatasi pertanyaan-pertanyaan di atas dengan mudah. Refleksi diri selain sebagai etika juga berfungsi sebagai objektivisme yang subjektif atau subjektivisme yang objektif. Dengan begini persoalan estetika yang sarat akan perspektif berbeda dapat teratasi.


Dalam industri desain yang hitungannya berbau uang dari menit hingga jam, seorang desainer seringkali tidak mungkin melakukan penelitian detail seperti idealnya ketika mahasiswa menggarap tugas kuliah, terlebih tugas akhir yang merupakan proyek besar akademiknya. Keterbatasan ini tentu bukan penghalang bagi desainer. Sebaliknya rangkaian ini sudah menjadi setelan-wajib desainer. Tak ubahnya seperti seperti pemain sepakbola yang sudah bisa memperkirakan apa yang akan dilakukannya atau akan dibawa ke arah mana bola dikaki. Rangkaian ini sudah menjadi kebiasaan atau lebih tepatnya “jiwa” seorang desainer. 


Desainer harus bangga karena mereka bukan hanya sibuk merenung dan memikirkan atau hanya sampai dalam tahap mencoba menjelaskan atau mencoba menawarkan solusi abstrak. Mereka sudah melebihi dari apa yang dilakukan para kritikus/filsuf visual, sebab desainer sudah melakukannya sendiri, telah membuat tindakan. Mereka menawarkan solusi nyata yang dengan itu mereka jadi punya pengalaman yang kemudian akan digunakan untuk belajar tanpa henti dengan tidak hanya mendekonstruksi tapi juga merekonstruksi segala fenomena visual (yang sosial) dari refleksi diri demi tercapainya kebaruan-kebaruan dalam desain. 

0 komentar: