Kontemplasi Jilbab

13.26.00 Jino Jiwan 0 Comments

Bagiku jilbab (atau hijab?) mampu memengaruhi persepsi mengenai kecantikan seorang perempuan. Jika ditanya seperti apa perempuan ideal untuk dijadikan pasangan hidup, salah satunya aku akan menjawab: “kalau bisa sih yang berjilbab.”  Tentunya bukan yang terus-terusan berjilbab sampai-sampai di dalam rumah (atau di depan suaminya) pun berjilbab, melainkan berjilbab yang proporsional—yang cerdas menempatkan sandangannya dalam beragam situasi.


Barangkali ini ada hubungannya dengan pendidikanku di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyaah (MA), sehingga membuatku terbiasa bertemu perempuan berjilbab. Teman-teman perempuan di sekolah masih bisa tampil menawan hati dalam balutan seragam jilbab. Jilbab sama sekali bukan penghalang untuk menunjukkan pesona diri mereka. Buatku yang ada malah rasa “hormat” (mendekati salut), karena pastinya tidak mudah untuk mengenakan jilbab di negeri tropis nan lembab seperti Indonesia. Maksudku, laki-laki tidak akan pernah tahu seperti apa rasanya memakai jilbab, ya kan?

Memang benar “berjilbab” tidak serta merta membuat si perempuan ini seorang yang taat pada perintah Tuhannya, tidak lantas membuat dia paling mulia dan bebas dari perbuatan jelek. Sering sekali kudengar ucapan-ucapan berkesan meremehkan semacam, “kalau hanya kepalanya yang berjilbab, toh percuma saja,” atau “yang penting mah hatinya berjilbab.” Namun ucapan model begini cenderung menafikan bahwa jilbab sendiri adalah simbol. Setidaknya perempuan yang berjilbab sudah meraih dan menerapkan simbol itu pada dirinya untuk ditunjukkan dalam interaksinya dengan orang sekitar terlepas apapun tujuannya.

Mau jilbab yang dikenakannya itu masuk ‘genre’ jilbab gaul atau jilbab lebar tidak masalah buatku, kecuali...jilbab ninja alias jilbab bercadar. Jilbab bercadar membuatku tidak nyaman. Aku merasa itu tidak terlalu elok bahkan sok, terlebih yang seluruhnya berwarna hitam dari atas hingga bawah. Seperti ada sesuatu dalam diriku mengatakan bahwa pemakai jilbab model ini adalah seorang yang fanatik atau fundamentalis. Suatu prasangka memang, yang aku sendiri tidak yakin apakah prasangka ini bentukan dari tontonan atau bacaan tapi begitulah kenyataannya. Selain itu jilbab bercadar telah merenggut identitas pemakainya. Dari mana kita bisa mengenali dia jika hanya matanya yang tampak? 

Bukankah wajah adalah bagian identitas paling utama? Meski begitu sebagai laki-laki aku juga harus mengakui bahwa wajah perempuan (meskipun ia berjilbab) masih berpotensi mengalihkan perhatian dan waktuku walau itu hanya sekelebatan, lagi pula ‘pengalihan’ ini juga tidak memberi kebaikan bagiku. Dari sini aku berusaha menghargai perempuan-perempuan bercadar yang berniat hendak menjaga diri, meskipun masalahnya mungkin dari keegoisan laki-laki sendiri.

Lumrahnya perempuan muslim Indonesia yang berjilbab patut disyukuri. Sedikitnya ini menunjukkan mereka bangga dengan keislaman mereka dan tidak takut dengan prasangka buruk di luar sana tentang jilbab. Sayang memang jika jilbab sekarang seolah hanya jadi sekedar tren, dan yang namanya tren tentu akan cepat menguap lalu lenyap. Di sisi lain, hati ini ikut senang menyaksikan kreasi-kreasi model jilbab baru yang unik dan menarik, namun kebaruan sekaligus menggerus hakikat sejati dari jilbab. Maknanya jadi bergeser. Jilbab berubah jadi penarik perhatian (lawan jenis) yang mana bukan begitu tujuan awalnya. Ataukah tren jilbab itu termasuk “hidayah” yang senantiasa didengungkan? Akan jadi pertanyaan yang sulit dijawab.

(Restu Ismoyo Aji)


0 komentar: