Mas Bram, Mbak Hana, dan Karin

00.22.00 Jino Jiwan 0 Comments

Pada hari Minggu Mas Bram pamit pergi ke kantor. Katanya sih ada klayen untuk ditangani. Ia naik Metromini karena mobil Lamborjini-nya sedang dipakai Mbak Hana, istrinya ke pasar buat kulakan bahan bikin siomay.

Sebenarnya itu sih hanya akal-keong-nya Mas Bram saja. Ia membelok ke Mol Taman Bongkrek setelah berpindah moda ke taksi tentu saja. Ia cuma mau ketemu Dik Karin, seorang wanita saikopat yang menjadi selingkuhannya selama tiga bulan terakhir ini.

Mas Bram pun bertemu dengan Dik Karin. Mereka saling senyum-senyum macam anak SD sedang kasmaran. Mereka lalu duduk-duduk di Fud Kort dan dengan santainya makan nasi tempe orek + sayur kacang + sambel ijo yang dibawa Dik Karin dari warteg sebelah rumah.

Berhubung bahan siomaynya habis akibat Mbak Hana datangnya ke pasar kesiangan. Dia putuskan pergi ke Mol Taman Bongkrek untuk cari bahan siomay. Setelah dibuat frustasi karena ternyata Kerfur tidak menjual borax, ia masuk ke area Fud Kort, niatnya hanya untuk menontoni orang-orang makan, siapa tahu jadi kenyang. Alangkah terkejutnya ia melihat Mas Bram sedang makan berdua dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya. Mereka tampak akrab dalam guyonan mbelgedes.

Mbak Hana geram, ia melabrak keduanya, meja jadi sasaran gebrakan tangan. Mas Bram terkesiap, ia tak menduga situasi mendadak runyam.

“Mas Bram, apa-apaan kamu ini!?” Mbak Hana langsung mewek sejadinya, air matanya langsung satu gelas, tapi tetap tidak bisa melarutkan bedak di pipinya.

“Tunggu, Han. Aku bisa jelasin semuanya.” Mas Bram merengkuh Mbak Hana mencoba menenangkannya. “Aku bisa jelasin semuanya, sungguh!” Tapi tangis Mbak Hana tidak bisa berhenti hingga 30 menit.

“Aku malu, Mas. Aku malu. Kok tega kamu berbuat seperti ini...” ratap Mbak Hana.

Dik Karin tidak yakin harus ngapain selain..., “Mbak Hana, tenang Mbak, gak terjadi apa-apa di antara kami.”


Hana melotot, “Gak terjadi apa-apa gimana, sudah jelas kalian duduk berdua di Fud Kort, bukannya pesen makanan dari sini malah makan nasi warteg. Malu-maluin. Dasar!” 

0 komentar: