Sang Pendekar

21.35.00 Jino Jiwan 0 Comments

,dadanya bolong seperti hidupnya...

Pada zaman yang tidak terlampau dahulu kala. Tersebutlah seorang pendekar berlengan kekar yang terkapar tumpas penasaran dalam sebuah adu kanuragan. Kenapa disebut tumpas penasaran? Gara-garanya cukup sepele, ia masih menjomblo sewaktu dijemput malaikat. Hingga napas sepenghabisannya ia ingin sekali punya kekasih walau hanya sekejap seumur hidup. Karena itulah ia rela bertarung dalam sayembara melawan pesaing bebuyutannya yang memang lebih linuwih, Pendekar Brotowali demi memperebutkan wanita idaman, Dewi Rara Polah.

Hidup sendiri, matinya pun sendiri. Begitulah garis nasib sang pendekar malang. Tak heran ia dikenal secara luas oleh warga nagari sebagai Pendekar Penyendiri, sebatang kara seumur-umur. Bisa dikatakan hidupnya bolong, seperti dadanya yang juga bolong terkena hantaman ajian Brotowali. Meski begitu  banyak juga warga yang bersedia mengantarkan dia ke pusara. Mereka adalah orang-orang yang dulu pernah ditolongnya lepas dari bromocorah, tapi juga sekaligus orang-orang yang membiarkan dia selalu berkelana sendirian kemana-mana tanpa pernah mau sekalipun menawarkan anak perempuan mereka untuk dinikahi si pendekar. Dan yang dilakukan para pengantar tak lebih dari ratapan yang diiba-ibakan, ditrenyuh-trenyuhkan, karena bagi mereka Pendekar Penyendiri hanyalah satu dari sekian ratus pendekar dalam hayat. Begitu jasad si pendekar lenyap diurug tanah merah, rombongan pelayat bubar dengan urusan masing-masing.

Berkebalikan dengan hidupnya yang sepisepi, catatan kebaikan Pendekar Penyendiri ternyata cukup lumayan ramai. Jiwa si pendekar langsung hendak diangkat ke Nirwana sebagai anugrah atas segala kebajikannya. Namun wajahnya murung tanpa semangat. Ia tak bersedia diajak ke alam sana di mana bidadari molek sudah melambai-lambai sapu tangan putih mewangi menanti untuk dibelai-belai. Alih-alih ia memohon agar dihadapkan kepada Sang Pengabul dan dengan kurang-dampratnya meminta untuk dihidupkan kembali sebagai keturunan dari si gadis pujaan. Alasannya, hanya dengan cara itu ia dapat beroleh pelukan hangat dan menyerap siraman kasih sayang dari si gadis pujaan yang maha jelita, walau sekali dalam kehidupan keduanya.

Ck, sempat-sempatnya si pendekar kita ini berpikiran sekalap itu, maklumlah namanya juga tumpas penasaran. Rupanya karena kasihan, Sang Pengabul yang memang suka mengabulkan bersedia meluluskan permintaan Pendekar Penyendiri. Dia hanya diminta menunggu saat yang tepat untuk dihadirkan kembali di muka bumi. Sembari menunggu, dengan penuh suka cita riang gembira ria Si Pendekar Penyendiri rajin menyempurnakan jurus itu jurus ini, tenaga mendalam, serta menciptakan puluhan jurus-jurus baru. Setiap usai berlatih, dia akan meluangkan diri untuk memikirkan dan menyebut nama gadis impiannya, lalu dia berlatih lagi tanpa patah tenaga. Lalu dia akan mendendangkan tembang rindu teruntuk Dewi Rara Polah, lalu berlatih kanuragan lagi, dan begitu seterusnya.

Waktu pun berkedip tanpa dirasa, Pendekar Penyendiri pun tak merasakannya. Tiba saatnya sang pendekar yang masih penasaran dipanggil ke hadapan Sang Pengabul. Hari itu dikatakan kepadanya bahwa dia akan dikirim ke perut sang gadis pujaan. Mendengar itu bukan bercanda bahagianya dia. Melonjaklah dia kegirangan. Tapi sebelumnya Pendekar Penyendiri meminta agar kesaktiannya tidak dilunturkan lewat kelahiran kembali itu dan dia juga memohon supaya tetap diberi ingatan sebagaimana adanya sebelum mati, dia cuma tak ingin ingatan rasa cintanya musnah. Sayang, berhubung jatah penuh karena ternyata yang minta dijadikan anak si gadis ini bukan cuma dia seorang dan juga karena Sang Pengabul tak ingin ada kisah Sangkuriang#2. Kelahiran kembali Si Pendekar Penyendiri telah mengalami penundaan dan baru kebagian jadi cucunya Dewi Rara Polah. Hal demikian tidak diberitahukan kepada Si Pendekar. Maka dalam ketidaktahuannya disemburkanlah jiwanya ke rahim nan hangat, di mana dia menanti menyapa dunia sembari bertapa mempersakti diri.

Berbulan kemudian tibalah saat yang ditunggu, lahirlah dia ke dunia disambut oleh si gadis pujaan, Dewi Rara Polah yang...sekarang sudah jadi nenek-nenek peyot bergelambir. Terpana dia dalam kejut dan kecewa, terlebih dia lahir bukan dari rahim si gadis impian. Pendekar Penyendiri murka sejadinya tapi yang muncul hanya tangisan dan rontaan ala bayi sewajarnya. Nenek Rara Polah mencoba menenangkan ‘cucu’nya, tapi Pendekar Penyendiri uring-uringan tak bersedia berdamai dengan kenyataan. Kesaktian yang tidak menghilang membuat tangisannya menggetarkan siapa saja yang berada di bilik persalinan.

Nenek Rara Polah kewalahan maka dipanggillah suaminya yang dari tadi menanti di luar. Seorang laki-laki tua tergopoh ikut masuk ke bilik persalinan putrinya. Melihat siapa yang muncul dari balik tirai, si bayi Pendekar Penyendiri tercengang-cengang setelah dia tahu siapa ‘kakek’nya. Malang oh malang, yang baru diketahui oleh pendekar kita adalah bahwa gadis pujaannya dulu itu rupanya telah dikawini oleh musuh bebuyutan yang justru menamatkan riwayatnya dan memenangkan sayembara, Si Pendekar Brotowali. Kini wajahnya jelas-jelas mewarisi ciri perawakan dan garis wajah musuh bebuyutannya. Termenung dia beberapa saat bergantian menatap wajah uzur Nenek Rara Polah dan Kakek Brotowali yang penuh raut bahagia campur bangga, ketika dia kemudian kembali menangis sepenuh hati.
oh, dunia memang keji

...

...tiba-tiba pendekar kita ingat kalau dia masih punya kesaktian...,


Cerita ini ikut serta dalam peristiwa BundaKata #3: Ironi dan Daya Hidup.
Simak ketikanku tentang Bundakata di sini.

(Restu Ismoyo Aji/Jino Jiwan)

0 komentar: