Ande Ande Lemot

22.15.00 Jino Jiwan 0 Comments

Pada sebuah dusun nan bersahaja tinggallah seorang pemuda bertampang gagah yang tidak seberapa berada bernama Andy. Karena namanya agak lama untuk dicerna kuping, penduduk dusun memanggilnya “Ande.” Si Ande ini sangat pelan dalam segalanya terutama dalam berpikir. Maka itulah dia diaraniAnde Ande Lemot” oleh warga dusun. Walau begitu dia ini sangat berguna jika sedang masanya berguna. Misalnya tatkala nagari tengah mengalami musim banjir dia akan mengantarkan warga menyebrang jalanan pemisah antar dusun yang mendadak berubah jadi kali. Iya, Ande Ande Lemot adalah seorang tukang perahu handal.
tukang perahu
Ande Lemot siap ikut audisi dengan gitar pengayuh perahu
Suatu hari yang harinya sama ketika kamu sedang membaca ketikan ini. Ande Ande Lemot mendengar bahwa di dusun seberang ada seorang perempuan yang konon kecantikannya melampaui manusia. “Terlalu cantiknya sampai-sampai dia lebih layak jadi istri Dewata. Setiap lelaki yang mau melamarnya jadi segan dan memilih memejam mata saja waktu berpapasan muka,” begitu kata temannya yang Si Ande sendiri lupa namanya. Ande mengangguk-angguk saja. Temannya itu pun pulang, mungkin dengan agak dongkol karena yang diajak bicara kelihatan tidak paham.

Keesokannya Ande baru memahami arti perkataan temannya itu. Malamnya Ande bermimpi melihat sinar berwarna kuning benderang turun dari langit jatuh ke sebuah pohon hayat di tengah telaga. Sesosok perempuan berdiri diterpa cahaya kuning yang menerobos antara dedaunan pohon. Perempuan itu berdiri menghadap padanya. Sayang wajah itu perempuan tidak nampak. Sinar itu kian terang, kian terang, kian terang...
Sinar surya menerpa wajah Ande. Rupanya pagi telah menyapa. Ia bergegas bangkit dari pembaringan.

Hari itu juga dia yakinkan diri untuk berkunjung ke dusun seberang untuk sekedar menjawab rasa penasaran atas mimpinya semalam. Melangkahlah ia menuju tepi jalan dusun. Namun alangkah ia tersentak mendapatinya telah berubah jadi kali. Rupanya sekarang tengah musim banjir! Ia jadi tidak tahu apa yang harus dilakukan. 

setelah kupikir buat apa mikir
Ande Lemot bimbang dalam keberbimbangan
Butuh waktu sehari penuh baginya untuk kemudian menyeberangi banjir, itupun karena ada warga dusun yang minta diantar ke dusun seberang. Didoronglah perahunya ke banjir yang deras lalu diantarkan warga dusun itu menyebrang.

Sesampai di seberang Ande Ande Lemot duduk termenung sembari risau. Haruskah dia lanjutkan mencari perempuan seindah bidadari yang dibingkaikan temannya dalam kata tempo hari. Ande bahkan tidak tahu nama perempuan itu, tidak tahu rumahnya ada di mana, tidak punya pula gambaran seperti apa rupa perempuan itu. Dan jikapun berjumpa dia tak tahu akan bagaimana.

Sekonyong-konyong seorang perempuan mendekat ke arahnya. Gadis berkulit kuning, bermata kuning, bergigi kuning, dan bercawat kuning berjalan penuh lenggokan. Warna kuningnya memantulkan cahaya matahari sehingga Ande Lemot tak bisa menyawang dengan jelas selain warna yang serba kuning.

“Wahai, tukang perahu. Antarkanlah aku ke seberang. Berapapun yang kau minta akan aku penuhi.” Perempuan kuning itu bersuara yang terdengar bagai senandung.

“Maafkan aku Nyi Sanak, namun aku tengah memikirkan sesuatu yang...sekarang aku telah lupa apa tadi yang aku khayalkan.” Ande Ande mengernyit.

“Wahai tukang perahu yang perkasa, Aku hendak menjumpai seorang lelaki yang konon ketampanannya melebihi pangeran manapun. Dari kabar burung kudengar dia tinggal di dusun seberang. Bukankah engkau berasal dari dusun seberang? Adakah engkau mengenalnya?” Suara perempuan kuning ini kian mendayu.

“Aku tidak mengenalnya, Nyi Sanak. Dan aku tidak hendak menyebrangkan siapapun saat ini.” Ande Lemot menyipitkan matanya karena kemilau perempuan di depannya kian menyilaukan.

Star Trek Flare
Klenthing Kuning yang kemilaunya menyilaukan
“Tolonglah aku hai tukang perahu. Aku akan berikan apapun. Aku akan berikan kau sebuah ciuman.” Kali ini suaranya makin mendesah.

“Kenapa aku ingin ciuman?” Telapak tangan Ande mengatapi separuh keningnya mencoba melindungi matanya.

“Aku mohon wahai tukang perahu, aku akan penuhi apapun keinginanmu...” Perempuan kuning itu memelas.

Ande Lemot tak beranjak. Dia memalingkan wajah, pertanda sedang teguh pendirian.

Perempuan itu pun akhirnya menyerah. Segala upaya tak hasilnya untuk menggoyahkan kelemotan Si Ande. Ditengoknya sekitar tak ada tukang perahu lain. Dia berdiri di tepian banjir yang bergolak penuh angkara. Tanpa dinyana, dia terjun ke banjir, meraup tangan dan kakinya kalang kabut mencoba mengarungi arus banjir. Sementara Ande diam membiarkan itu terjadi.

Tiba-tiba Ande sadar, barangkali perempuan tadi adalah perempuan yang diceritakan temannya, perempuan yang bersinaran dalam mimpinya. Dia segera menyusul perempuan itu dengan perahunya. Tapi terlambat, perempuan itu senyap ditelan banjir. Mungkin jadi santapan ikan.

Dengan lemas lunglai Ande Ande Lemot menepi ke dusunnya. Tepekur duduk dia atas batu dia meringis memikirkan betapa miris dirinya. Untuk beberapa saat dia merasa memang dia orang yang akan bernasib galau seumur-umur. Sampai...
“Kang, kang!” sayup terdengar suara perempuan muda dari seberang banjir yang sepertinya memanggil dia. Ande menengok ke arah suara. Bukan, bukan hanya seorang perempuan, melainkan tiga! Di kejauhan di sana Ande bisa melihat tiga perempuan menyandang kain berwarna merah, hijau, dan biru.

Klenthing RGB ada di seberang sana siap untuk di...
Tersenyum Ande, begitu pula hatinya. Ini kali pertama ada yang memanggilnya dengan “Kang.”

“Kang, tuKang perahu! Kemarilah, antarkan kami ke sana!” satu dari tiga perempuan itu melambai.

Ande Ande Lemot bangkit, semangatnya juga. Dia mendorong perahu dengan sigap ke bibir banjir...tanpa dia sendiri naik ke atasnya. Perahu itu pun terbawa arus.

(Jino Jiwan/Restu Ismoyo Aji)

0 komentar: