Yang dimaksud Revolusi Mental

07.30.00 Jino Jiwan 0 Comments

Revolusi mental yang gencar jadi jadi jargon Jokowi ternyata bukan hanya omong kosong tapi benar-benar ada langkah nyatanya. Apa itu langkah nyata Revolusi mental? Ya ini yang baru saja terjadi dan akan terus terjadi, naik turunnya harga sesuatu yang “memenuhi hajat hidup orang banyak.”

Pada tataran ‘permukaan’ pemasrahan harga BBM ini pada pasar dunia ini menyimpan maksud ‘MULIA.’ Supaya rakyat Indonesia tidak repot dan sibuk antri di SPBU begitu tahu bahwa keesokan harinya (mulai jam 00:00) harga BBM akan naik. Gimana? Sungguh amat mulia bukan rezim Jokowi ini? Enak kan gak perlu antri lagi wong harganya bisa sewaktu-waktu naik dan sewenang-wenang turun?

Sisi lain dari harga yang naik turun adalah adanya pengharapan agar “pasar”-lah yang memegang peran besar menentukan dirinya sendiri terhadap segala—diulang—segala harga komoditas di negeri ini. Ujungnya agar pemerintah bisa lepas tangan terhadap harga. Harga beras, daging, telur, bahan bangunan diharapkan akan naik dan turun sesuai pasar, harga jasa transportasi pun demikian. Jalan tempuh macam ini adalah jalan kapitalis, di mana negara hanya berperan sebagai fasilitator (untuk sementara ini sebatas penentu harga BBM) demi lancarnya ekonomi (dibaca: aliran uang) pada segelintitr pihak.

Sisi lainnya mungkin (dan ini yang paling penting) agar harga BBM tidak dipolitisasi seperti yang diperbuat rezim SBY pada 2009, di mana saat itu kalau masih ingat SBY menurunkan harga BBM menjelang Pemilu 2009 dan akhirnya mengantarkan Partai Demokrat jadi pemenang dan dirinya menjadi presiden untuk masa pemerintahan kedua, tapi kita tidak pernah tahu apa bakal seperti ini juga setidaknya sampai pemerintahan Jokowi jelang berakhir nanti.

0 komentar: