Wartawan: Antara Film dan Kenyataan

15.37.00 Jino Jiwan 0 Comments

Sebenarnya aku kerap membayangkan betapa nikmatnya kerja jadi wartawan/jurnalis/reporter. Dalam bayanganku sedap nian para wartawan ini bepergian ke sana dan kemari, motret entah apa-motret diri dengan latar entah di mana, wawancara narasumber dengan pertanyaan (sok) kritis, nulis terus dimuat, dan dibayar untuk itu semua. Aku juga membayangkan saktinya kartu pers untuk bikin orang yang mau macem-macem atau ngeremehin jadi ‘takut’. Ngerti ‘takut’ yang kumaksud? Takut disini artinya tunduk. Aku bicara soal kuasa orang media dalam mengintimidasi orang lain dan memanipulasi apa yang ditulisnya. Oke, memanipulasi mungkin kurang tepat. Mungkin lebih tepat bermanuver. Pendeknya kerja di media pernah jadi obsesiku yang sayangnya (atau untungnya?) tidak kesampaian. Karena jalan rupanya tidak menuntunku ke situ. Yang aku mau bilang sebetulnya adalah bahwa aku mungkin tidak berbakat berhadapan dengan banyak orang  dan tidak siap menghadapi gilanya kerja media.


Audrey, Rick, Stephen, dan Lou, bersama memenangkan Pulitzer Prize of Asshole 
Sumber gambar: cinemarx.ro, movieactors.com, fanpop.com, dailymail.co.uk
Film adalah media yang paling sering aku nikmati. Dan sependek pengalamanku kebanyakan film Hollywood tidak memberi kesan yang baik terhadap para wartawan. Tengoklah film Godzilla (1998). Iya, film Godzilla yang agak lawas itu (dan sering diputar di bioskop abal-abal Trans Tv) di mana si jurnalis Audrey Timmonds (diperankan Maria Pitillo) rela melakukan apa saja demi pengembangan karirnya, tidak peduli siapa pasti akan diterabas termasuk mantan kekasih yang masih dicintai. Atau lihat Die Hard (1988) dan Die Hard 2 (1990) yang menggambarkan wartawan/reporter dengan amat menjengkelkan lewat karakter Richard Thornburg (William Atherton) yang rela membahayakan nyawa orang lain asal karirnya melejit, sampai-sampai dia layak dijotos dan disetrum oleh sang protagonis. Ajaibnya penonton pun menikmati perlakuan kepada si wartawan ini. Tonton pula film Shattered Glass (2000) yang mengangkat kisah Stephen Glass (Hayden Christensen), seorang jurnalis sungguhan yang membuat batas antara berita dengan cerita jadi kabur melalui kemampuannya “mengarang indah.” Yang terakhir adalah film tentang pemburu berita/pekerja lepas berita, Nightcrawler (2014) bernama Lou Bloom (Jake Gyllenhaal). Kita diajak untuk melongok produksi berita di sebuah acara kriminal di televisi Amerika lewat mata kamera yang ditenteng Lou, bahwa yang dimaui industri televisi melulu adalah darah, drama, dan kekerasan. Untuk meraih ketenaran Lou rela merekayasa TKP dan mencelakakan orang lain, pesaing bahkan rekan kerjanya sendiri.

Dari sekilas gambaran terhadap para pemburu berita di film-film tadi dapat diambil kesimpulan bagaimana dunia pemberitaan bukanlah dunia yang suci murni mulia mengabarkan untuk teruntuk masyarakat supaya mereka tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Tapi selalu ada kepentingan di balik pemberitaan. Kepentingan bagi si wartawan sendiri, kepentingan pemilik media, dan ‘kepentingan’ (kita sebagai) penonton berita, di mana berita inipun dibentuk supaya jadi tontonan. Tontonan berita yang bersyarat: megah, fenomenal, aktual, sensasional, dan seksi. Agar terpuaskan libido kita, tanpa peduli kalau itu benar-benar manusia yang jadi korban. Akui saja. Perhatian kita pada berita (mau di surat kabar, tv, laman berita) memang pada hal-hal yang “nikmat asalkan tidak dialami sendiri.”

Sebetulnya aku tidak nyaman mengatakan bahwa film adalah representasi kenyataan sebab film pada dasarnya dibuat untuk menghibur hingga selalu ada pelibatan nalar industri. Tapi nyatanya, lagi-lagi sependek yang aku tahu, begitulah kerja wartawan. Penuh intrik dan muslihat. Bukan salah wartawannya juga sih tapi konstruksinya seperti itu. Sistemnya sudah sedemikian sulit dicukili.

Ada 3 orang teman-kuliah yang dulunya merasakan jadi wartawan (oke, ada lebih sebenarnya tapi aku ambil tiga saja). Seorang sebut saja namanya Fadil. Dia dulu kerja di sebuah laman berita nasional yang cukup populer di bawah grupnya ketua umum parpol besar di negara ini. Di tempatnya dulu kerja, dia diwanti-wanti secara tidak resmi (misal: pada saat makan siang) agar jika menulis berita tentang semburan lumpur Lapindo lebih memakai istilah “lumpur Sidoarjo” bukannya “lumpur Lapindo.”  Sudah tahu kan sekarang medianya apa? Seorang dosen menyebut hal semacam ini adalah praktik soft power. Tujuannya barangkali agar tidak ada jejak/bukti tertulis atas perintah tertentu.

Berhubung medianya media online, jadi yang dikedepankan adalah jumlah tayang halaman (pageviews). Di sini permainan kata-kata dalam judul berperan besar menarik orang-orang seperti kita untuk mengkliknya. Kita bakal sering menemui judul-judul sensasional dengan isi entah nyambung atau tidak. Fadil melakukannya juga karena dia kebagian pos “hukum” yang sedikit pemirsanya. Selain itu kuasa atasannya juga amat tinggi dalam menentukan mana yang pantas muat atau tidak berdasarkan tingkat hangat/ademnya berita, yang dilihat dari perhatian kita (pembaca berita) pada suatu isu tertentu. “Berita tingkat kelurahan” (maksudnya berita tidak penting) tidak perlu dimuat. Hal menarik lain menurutku adalah betapa cepatnya berita di-update hingga hanya dalam hitungan menit berita barusan sudah basi, dan mulai lenyapnya steno, berganti menjadi pencatatan cepat via smartphone atau Blackberry.

Teman lainnya bernama Febri. Dia dulu sempat bekerja di surat kabar lokal di Jawa Barat anakannya koran nasional paling besar. Tahu kan nama medianya apa? Awalnya karena itu koran masih dalam rangka promosi, harganya pun murah meriah hanya Rp 1000. Untuk menutupi ongkos produksi koran lokal ini menjejalkan halamannya dengan berbagai iklan, termasuk advertorial. Febri ini merasa kurang nyaman ketika dia ditugasi menulis advertorial. “Wartawan kok nulis advertorial?” Belum lagi isi berita kerap dicampuri beragam kepentingan. Misalnya, dia menyoroti praktik bagi-bagi amplop kepada wartawan dari pihak yang diberitakan setelah acara jumpa pers atau semacamnya sambil dibisiki: “Kamu nulisnya yang bagus ya.”

Seorang lagi namanya Hamad. Dia dulu reporter sekaligus kameraperson di sebuah stasiun televisi besar di bawah grup yang dimiliki konglomerat yang baru saja mendirikan parpolnya sendiri setelah berpindah-pindah parpol. Kepadanya ditunjukkan mana berita yang layak dan mana yang tidak. Sejak awal dia sudah dipesani supaya hanya memberitakan yang “ramai” saja, kalau tidak “ramai” berarti bukan berita. Ramai yang dimaksud mengarah pada keributan atau tindak kekerasan. Kekerasan yang jadi legal atas nama rekaman bernilai jurnalistik, bukan fiksi. Pola macam ini terpatri di benak reporter sehingga saat meliput demonstrasi dia akan menunggu terjadinya keributan. Malah terkadang ada beberapa rekan wartawan yang menyusup massa agar timbul keributan. Hamad juga menyebut bagaimana arsip rekaman lawas kerap disunting ulang oleh stasiun televisi untuk membuat berita baru. Melihat kenyataan ini dia menemukan dirinya sulit untuk bersikap idealis bagi seorang wartawan.

Di sini bisa kita simak bagaimana berita sudah dikemas layaknya sinetron atau film. Semakin ramai dan dramatis maka semakin laku, semakin laku artinya banyak yang nonton, makin banyak yang nonton artinya kredibilitas stasiun televisi itu menanjak dan pemasukan iklan pun bertambah deras. Mata pemirsa ditarik untuk menyaksikan lalu mengiyakan bahwa tayangan berita yang ramai adalah yang pantas diberitakan, sekalipun penuh kekerasan. Kekerasan yang kita nikmati terang-terangan.


(Jino Jiwan/Restu Ismoyo Aji)

0 komentar: