Mencari Hilal Sampai Kapan

15.25.00 Jino Jiwan 0 Comments

Suatu hari di masa depan, mustahil umat Islam masih perlu melihat hilal untuk membuktikan datangnya bulan baru. Sungguh bukan suatu hal yang tidak mungkin  bagi manusia untuk punya koloni baru di planet lain. Tengok deh bagaimana antusiasnya para penggila sci-fi dan pencinta angkasa ketika menonton Interstellar (dan film sci-fi lain: Star Wars/Trek) atau di kala membaca berita kunjungan ke Pluto untuk pertama kalinya bagi sejarah manusia, atau bagaimana kemungkinan kunjungan ke Mars dan Europa (satelitnya Jupiter). Pencarian planet layak huni selain bumi sebagai “rumah baru” masih terus dilakukan. Hanya soal waktu sampai manusia benar-benar bisa melakukan apa yang selama ini disimulasikan dunia fiksi populer. Meski jaraknya sangat jauh dan jelas tidak akan terjadi dalam generasi kita bahkan cucu-cucu. Jika manusia sudah tidak hidup di bumi, bagaimana kita akan melihat bulan? Apa perlu mengirim manusia kembali ke bumi hanya untuk menatap hilal? Demi keotentikan perintah agama?

Sebenarnya pertanyaan ini mengarah ke pertanyaan lebih besar. Benarkah agama Islam dengan seluruh perangkat ibadahnya adalah agama bagi alam semesta atau hanya berorientasi ke planet bumi sebagai tempat manusia bernaung hingga saat ini? Apa ini berarti manusia tidak boleh pergi dari Bumi? Pasalnya dua ibadah utama dalam Islam amat sangat berorientasi pada bumi, bulan, dan perputarannya terhadap matahari. Mulai dari sholat hingga puasa.

Moon in GTA
Ah, CJ, ini mah sudah pagi. Bukan pas sore lagi. Udah buruan sholat Ied sana!

Untuk sholat, umat Islam secara umum (bahkan yang sangat keras berkeyakinan harus hilal untuk menentukan awal/akhir bulan Qomariyah) sudah tidak perlu lagi mengamati tanda-tanda fisik terkait kemiringan matahari terhadap permukaan Bumi. Kenapa? Berhubung sekarang sudah ada jam. Karena waktu sholat sejatinya berdasarkan ciri inderawi yang amat berkaitan dengan bumi dan matahari. Contoh, deskripsi waktu sholat maghrib adalah sejak dari matahari tenggelam hingga hilangnya warna kemerahan di ufuk barat. Bagaimana bisa mengamati matahari jika mendung tebal menutupi pandangan atau masihkah ada yang mau repot mengamati apakah langit masih memerah atau tidak, sebelum kemudian memutuskan bahwa saat itu masih merupakan waktu sholat? Teknologi jam amat sangat membantu dengan mengonversi ciri fisik ini dalam bilangan waktu. Teknologi yang tidak ada di zaman Rasulullah.

Untuk puasa kasusnya jadi jauh lebih unik. Kemajuan ilmu falak tentu perlu diperhitungkan. Bagaimana kasusnya dalam situasi seperti itu? Apakah sholat tetap lima kali dalam sehari? Bagaimana dengan puasa dalam perjalanan luar angkasa? Masalahnya kan sudah tidak ada malam ataupun pagi hari. Apa puasa tetap 12 jam dalam hitungan hari yang tetap 24 jam? Jika manusia benar-benar bisa bikin koloni baru di planet lain. Ambil contoh, Mars. Jalannya hari pun akan berbeda. Satu hari di sana beda dengan satu hari di bumi, satu tahun di sana pasti beda dengan bumi. Dan masih banyak pertanyaan lain. Intinya jelas kita sudah terputus dengan bumi sebagai orientasi syariat Islam. Jika ibadah tetap mengikuti konversi waktu bumi, maka tidak perlu repot melihat apakah matahari di bumi sudah tenggelam. Atau apakah bulan di bumi sudah masuk bulan baru atau belum. Padahal kumpulan ulama berpendapat bahwa ibadah sholat dan puasa sifatnya adalah lokal-regional. Buktinya tanda waktu sholat Maghrib saja mengikuti wilayah masing-masing.  

Lebih rumit lagi adalah. Untung bulan di Bumi cuma satu! Coba kalau Bumi punya bulan sebanyak Jupiter atau Saturnus yang sejauh ini terhitung lebih dari 60 buah. Bulan mana yang mau dipakai sebagai ketentuan penanggalan Qomariyah? Apa gak lebih runcing konfliknya? Tidak usah ke planet gas-giant deh, karena gak bisa ditempati. Mars saja punya dua satelit yang jika sampai manusia hidup di sana maka entah bulan mana yang mau dijadikan patokan hilal.


Perintah dan syariat Islam terkait ibadah baik itu ayat Al Quran dan hadits turun bertahap sedikit demi sedikit sesuai konteks dan zamannya. Ini dapat berarti bahwa perlu ada penyesuaian dalil. Dan itu mesti dipikirkan bersama namun tetap dengan mengedepankan kemerdekaan interpretasi. Bukan dengan memaksa dan mengaku diri yang paling benar. Barangkali memang eloknya adalah keanekaragaman versi awal-akhir bulan Qomariyah dari berbagai kelompok harus dihormati bukan cuma dihujat tanpa ujung. Katanya kita ini manusia-manusia toleran, iya?

Restu Ismoyo Aji/Jino Jiwan
Ketikan ini juga diunggah di Kompasiana

0 komentar: