Bulan Blogging dan Sang Pemenang

22.55.00 Jino Jiwan 0 Comments

Ketika mendengar peluncuran “proyek” penulisan bareng-bareng mahasiswa KBM (prodi Kajian Budaya & Media UGM) bertajuk Bulan Blogging KBM aku termasuk ke dalam kalangan yang bergembira-ria. Beberapa bulan sebelumnya (barangkali tidak ada yang mengingat), aku sempat menyampaikan betapa asiknya jika angkatan KBM 2014 punya blog bersama. Bayanganku ketika itu adalah blog tersebut bakal diisi tugas-tugas kuliah. Keinginanku sih hanya ingin belajar dari garapan kawan-kawan kuliah, karena menurutku tulisan dan kasus yang mereka angkat ajaib-ajaib. Mungkin blog itu bisa sekalian untuk memperkenalkan kepada khalayak umum seperti sih apa kajian budaya dan media sebagai salah satu ‘disiplin’ yang ‘gak disiplin’.

Bulan Blogging hadir lebih longgar (ini terbaca dari segi tema tulisan yang diangkat oleh para penulisnya), bukan hanya soal tugas kuliah yang membosankan dan tidak “menyenangkan” karena hukumnya wajib. Model tulisan bebas semacam ini ternyata justru menarik. Perjumpaan kawan-kawan dengan dunia sekelilingnya pun sebenarnya tak jauh dari warna akademis meskipun tidak bermaksud akademis. Hanya sayang tidak seluruh mahasiswa KBM angkatan 2014 ikut serta di Bulan Blogging dengan berbagai alasan. Dari 18 orang hanya 11 yang aktif ikut serta.

Jika ada yang kurasa mengganjal tak lain adalah sistem denda Rp. 20 ribu per hari (kemudian dikurangi menjadi 10 ribu) untuk setiap kali peserta absen menulis di blog-nya. Awalnya menurutku denda ini adalah gagasan gila dan tidak mahasiswawi. Sebagai orang yang otaknya terus menerus dijejali teori-teori mengenai ketimpangan sosial selama kuliah dua semester aku sulit menerimanya. Bagiku berkarya/menulis (atau sering aku istilahkan “mengetik” di blog ini) tidak bisa dipaksa karena akan mengorbankan kualitas. Maklumlah ideologi ke-nyeni-an masih membekas dalam hati. Bagiku penting untuk bisa berkarya kapan saja, sebebasnya, senikmatnya, semaunya, tanpa tekanan. Aku bilang begini karena pernah merasakan situasi di mana menggambar—sebuah kegiatan yang biasanya aku nikmati—tidak terasa nikmat lagi di kala ia dilakukan sebagai rutinitas (maksudku: kerja). Tapi aku mengerti elemen per-MAIN-annya. Sistem denda dipakai demi menambah keseruan permainan. Iya, Bulan Blogging adalah sebuah game selain karena denda ini adalah bagian dari kesepakatan mayoritas. Lagi pula Bulan Blogging hanya berlangsung selama 31 hari. Itu tidak sulit-sulit amat sebab tak harus berupa tulisan, bisa apa saja (foto bahkan gambar).

Bulan Blogging akhirnya memaksaku mengaktifkan dua blog lain yang lama tidak aktif demi menyiasati ragam tulisan. Aku tidak ingin blog-ku yang ini (bebasngetik) dipenuhi 31 tulisan dalam sebulan, terasa gak indah aja dan akan tampak tidak konsisten jika di bulan-bulan berikutnya aku tidak menghasilkan tulisan dalam jumlah yang sama. Untuk membebaskan diri dari penulisan menulis setiap hari (karena waktu itu KBM mengadakan acara pemutaran film “Buka[n] Rahasia”), aku membuat jadwal hingga sebulan yang terbagi dalam tiga blog. Yang paling gampang ya bikin ulasan buku. Tinggal memfoto sampulnya lalu dibaca ulang secara lompat-lompat. Ulasannya pun bukan ulasan serius, lebih mirip komentar pribadi dan membandingkan apa yang kurasakan saat membaca ulang dengan pembacaan terdahulu. Blog satunya lagi  lebih sederhana karena kuisi dengan gambar-gambar stok lama yang belum sempat discan atau belum diwarnai. Yah, keterpaksaan pun kadang membuahkan hikmah. Beberapa orang sepertinya memang harus dipaksa supaya mau dan supaya bisa.

Sekarang sesudah ajang Bulan Blogging berlalu kawan-kawan KBM sekali lagi bersepakat, kali ini untuk memilih pemenang secara mufakat. Masing-masing peserta diminta menentukan tiga penulis [blog] terbaik menurut versinya sendiri. Tadi sudah kusebut bahwa Bulan Blogging ini semacam game, jadi pasti harus ada pemenangnya (walau agak aneh sebetulnya, buat apa ada tiga pemenang toh yang menang ya cuma satu, to?). Berdasar kesepakatan pula si pemenang inilah yang akan menerima hadiah uang denda senilai ratusan ribu Rupiah, sekalian diharapkan agar sang pemenang mengembalikannya kepada seluruh peserta (boleh dibaca: menyantuni) dalam bentuk traktiran makanan. Menurutku ini sungguh sebuah langkah demokratis dan berdaya mandiri, menendang jauh usulan awal yang hendak melibatkan (beberapa) dosen sebagai pihak penilai (yang mana justru jadi otoritatif).

Sebelum menentukan pemenangnya aku ingin menyampaikan tulisan ternikmat versiku dari setiap peserta Bulan Blogging.

A. Hair menuliskan kisah dibalik cerpen yang dipersembahkan kepada kekasih sebagai hadiah hari ulang tahun kebersamaan. Sampai di situ saja sebetulnya kisah ini sudah terasa menyentuh (aku enggan bilang “romantis” karena kata ini agak njijiki di kupingku), tapi cerpennya sendiri amat unik dan punya cita rasa personal yang amat dalam.

Aulia T. menulis semacam perenungan soal di ruang seperti apa seorang akan menjadi tua yang membuat aku juga ikut berpikir lebih jauh: apakah kebahagiaan dan kedamaian berada di mana uang berputar? Sepertinya sih tidak.

Dimas P.P. menulis “sejarah” mengapa seseorang bernama Dini menua (pikirannya) lebih cepat daripada seharusnya. Sekalipun twist-nya terbaca namun aku menikmati alurnya.

Cerita Dhini A. tentang mata air di desanya menggali kenanganku soal mata air (yang barangkali mirip) di daerah Temanggung yang dulu kerap kupakai mandi semasa kecil.

Tulisan Djarwo unik karena dia masih terus membawa semangat filsafatnya. Secara reflektif dia menggugat pahlawan paling berjasa bagi Jepang dan masa kecilku lewat pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat si penulis naskah berpikir ulang sebelum membuat film.

Tulisan F.F. Armadita (Dita) tentang para tukang ojek dan jasa-jasa mereka di tengah padatnya Jakarta membuatku berpikir ulang soal kota ini. Ternyata masih banyak orang-orang yang gak selalu mikirin uang di sana.

L. Sunarko L. (Levi) menceritakan refleksinya mengenai tujuan hidup setelah teringat sebuah dialogdi The Alchemist. Sebuah refleksi yang kuakui membikin pikiran ini jadi kian riuh. Mungkin(kah) hidup yang “mengalir” akan lebih menenangkan jiwa(?).

Di awal Bulan Blogging Mayarani N.I. (Ilmi) menuliskan serangkaian “gugatan” terhadap konsep pernikahan. Tulisannya terngiang hingga kini. Gayanya khas, pertanyaan disampaikan bertubi-tubi dengan tanpa menuntut jawaban. Seperti(biasa)nya dia tengah geregetan. Menurutku sih gampang saja: orang menikah lebih dikarenakan tekanan sosial.

Tulisan Neli F. yang menceritakan setahun di KBM, terutama pendapatnya mengenai situasi awal-awal perkuliahan, seorang gadis yang meminta-minta seluruh nomor hape mahasiswa, hingga soal kejutan kisah asmaranya yang baru aku ketahui belakangan.

Yul R. (yang namanya mirip nama asli Julia Perez) bermaksud menulis jalan-jalannya ke Taman Pelangi Jogja, tapi yang kutangkap malah ada gurat-gurat kesepian di tulisannya J. Gaya tulisannya ceria, seakan ditulis sambil senyum-senyum, sedikit mengingatkanku pada adik sepupu yang masih SD tapi sudah sering nge-blog.

Sungguh sulit buatku untuk menentukan pemenang. Kenapa? Tulisan-tulisan ini tidak bisa untuk di”kompetisi”kan karena tidak berada pada tingkatan yang sama untuk dinilai. Tahu kan? Seperti umumnya lomba-lomba lain yang selalu punya tema sama sebagai pengikat demi mempermudah kriteria penilaian. Bayangkan bagaimana menilai tulisan curahan hati yang dihadapkan dengan perbincangan sastra tingkat tinggi; kegalauan cinta dengan kegalauan lingkungan; pembicaraan superhero dengan cerpen; foto-foto caffe dengan film favorit. Bagiku setiap tulisan/karya punya kekuatan sendiri yang beda dari lainnya. Jika dipaksakan jatuhnya adalah pada preferensi masing-masing penilai atau ada pada tingkatan ‘kebutuhan’ dari si pembaca sendiri pada hari itu yang mana bergantung pada gejolak emosinya (alias kedekatan emosional, seperti sudah kulakukan di atas sewaktu memilih tulisan favoritku dari seluruh peserta Bulan Blogging). Kecuali bila memang ini yang dicari(?), yaitu ke-subjektivitasan bukan ke-objektivitasan seperti yang selalu digaungkan oleh para dosen(?).

Maaf, tapi dengan gaya (sok) diplomatis aku akan bilang: bagiku pemenangnya adalah semua peserta yang sudah ikut serta. Atau jika dilarang bermental diplomatis dan normatif maka aku akan bilang pemenangnya adalah mereka yang tidak absen menulis selama 31 hari alias mereka yang tidak terkena denda (yang mana ada empat orang, ehm...:). Atau justru para peserta yang terkena denda-lah yang menang karena tanpa mereka maka tidak akan ada uang hadiah. Tidak ada uang hadiah berarti tidak ada pemenang. Bila ini tidak diterima sebagai alasan maka aku bilang: pemenangnya adalah yang punya ide untuk bikin Bulan Blogging, tidak, bukan hanya yang punya ide tapi mereka yang mewujudkan Bulan Blogging dan mendesainnya. Oh, tidak, tidak, tidak, bukan. Pemenangnya adalah Sang Admin, karena tanpa perhatiannya link-link tulisan dari setiap blog peserta bisa saja tidak termuat. Tapi jika memang dipaksa untuk memilih, baiklah. Aku akan memilih Yenny S. (Mace) Kenapa? Karena suaranya berkelas platinum dan aku baru tahu itu ketika kami semua ke Candi Sukuh...ah nggak bukan hanya itu tapi karena namanya selalu ada meskipun tidak ada tulisannya.

Demikian kawan, terima kasih.

Lebih jauh soal Bulan Blogging, klik di sini.

(Restu Ismoyo Aji) 

0 komentar: