Nenek Moyangmu Seorang Peraut

18.36.00 Jino Jiwan 0 Comments

Nak, malam ini aku hendak menceritakan kisah yang sudah lama engkau pertanyakan. Sebuah hikayat termegah tentang nenek moyangmu yang termashyur akan keberanian dan kenekatannya. Dia hidup di masa susah tapi pantang berkeluh kesah. Dia selalu maju terus pantang mundur, bahkan ketika menghadapi marabahaya sekalipun dia tidak akan mundur tetapi berbalik putar haluan dan lari. Itulah nenek moyangmu, Nak. Nenek moyangmu adalah...

Seorang peraut...(musik pembuka dimainkan!)

Ini gambar nenek moyangmu, Nak
Pada suatu siang, nenek moyangmu tergugah dari keberlamunannya. Dia sadar harus berbuat sesuatu agar dia tidak ditelan sejarah dan dilupakan, supaya ceritanya terus diceritakan dan dikenang, supaya nenekmu tidak bikin malu dia punya cucu, yaitu ya kamu itu! Pikirmu siapa lagi ha? Dia ingin agar lagu-lagu usang yang senantiasa disyahdukan dan biasa dia lahap sewaktu dininabobokan oleh bundanya mampu menemui alam nyata, bukan cuma mimpi di hari bodong belaka. Dia ingin menjadi seorang...peraut!

Kamu tahu kan lagunya yang mana? Iya tepat yang itu! Memang lagu yang itu yang ku maksud. Mari kita berdendang bersama-sama, Nak.

“Nenek moyangku seorang peraut.”
“Gemar mencari pisau nan tajam.”
“Merajang pensil, tiada kendur.”
“Meme..........”
...
Apa? Kau tidak hapal? Bukan itu lirik lagu yang pernah kau dengar? Ya sudah, tidak apa-apa jika kau tidak hapal. Mungkin versi lagu yang kau dengar sudah direvisi guru TK-mu untuk menutupi kebenaran...kebenaran tentang kisah Sang Peraut Agung.

Baiklah jika begitu, biar kuteruskan ceritanya.

Nenekmu memulai petualangannya sebagai peraut dengan mencari mata pisau yang tajam. Dia memulai pencarian mata pisau dari dapur, tempat wanita biasanya berada sejak zaman nenek moyangnya nenek moyangmu. Tapi tidak ada mata pisau yang tajam di sana. Semuanya tumpul.

Maka dengan kuasanya dia meraih segenap pisau tumpul itu dan lantas mengasahnya dengan batu kali yang dia pungut di pinggir kali. Siang malam dia bekerja keras menajamkan pisau, sementara pagi dan sore dia duduk-duduk mencari kutu di rambutnya sendiri atau di rambut simboknya atau menyapu latar kadang disambili ngeteh...Ya, iyalah, masak kerja tanpa istirahat. Kan bisa lelah. Kalau sampai dia lelah dan stres bisa-bisa kamu gak akan ada sekarang. Jangankan kamu, romo-mu ini juga tidak akan ada.

Nah, biar kulanjutkan ceritanya. Kini dia telah memiliki empat...bukan, lima batang pisau yang tajam dan siap digunakan untuk memuluskan karir sebagai peraut. Tapi, dia lupa sesuatu yang paling penting jika ingin menjadi seorang peraut.

Yakni...pensil! Pensil bukan sembarang pensil, melainkan pensil istimewa!
Oh, nak. Kamu tidak bisa membayangkan betapa puyeng nenekmu memikirkan sebatang pensil. Dia ini papa pensil. Dia tiada berpunya pensil. Di masa itu sebatang pensil istimewa harganya sungguh di luar jangkauan tangannya.
Saking panjang pedangnya sampai tidak muat di gambar ini
Namun semua berubah ketika nenekmu bertemu calon kakekmu. Seorang kapiten yang pedangnya panjang dan tiapdia berjalan suaranya “prok oprok oprok jadi apa.” Kakekmu si kapiten pedang panjang memberi nenekmu sebatang, tidak bukan sebatang tapi lima batang pensil istimewa. Tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Sebatang pensil itu nenekmu gunakan untuk menggarap soal EBTANAS/  UNAS/ UAN/ UN. Lalu sebatang selanjutnya dipakai mengerjakan soal-soal UMPTN atau SPMB atau SBMPTN, membulati nama, membulati jawaban tanpa letih. Haaaahhh, kau tak akan percaya mereka membuat hingga puluhan istilah untuk satu hal yang sama ketika itu.

Sebatang pensil berikutnya mengantarkan nenekmu jadi PNS di kementrian kekalutan dan periklanan. Tempat yang sesuai karena Kapiten Pedang Panjang juga mengabdi di situ.

Sebatang pensil berikutnya lalu menjadi mas kawin perkawinan kakek moyangmu Kapiten Pedang Panjang dengan nenek moyangmu Sang Peraut hingga aku pun....


Nak..., kamu sudah tidur? Tapi ceritanya belum selesai ini. Ini kisah tentang batang pensil terakhir...Nak? Nak..?

(Jino Jiwan)

0 komentar: