Dari Kiskendo ke Seplawan

02.50.00 Jino Jiwan 0 Comments

Awal November 2015 kemarau di Jogja sedang memasuki masa akhir. Rencana dolan ke pantai terpaksa ditunda hingga suasana lebih adem ayem. Tujuan dialihkan ke goa-goa di sisi barat Jogja, dari Kulonprogo hingga Purworejo, dari Kiskendo ke Seplawan. Kali-kali aja dengan menyambanginya aku akan mendapat kesejukan  dalam rupa wangit di tengah temaramnya goa.

Goa Kiskendo dan Seplawan cukup gampang dicapai melalui Godean dari arah Jogja. Tinggal lurus terus mengikuti jalan Godean hingga mentok perempatan. Dari perempatan ambil terus jalan lurus menuju pegunungan Menoreh lalu ikuti petunjuk jalan dan... intuisi. Iya serius, intuisi. Kamu perlu intuisi soalnya mau nanya orang juga gak bisa wong gak banyak orang lalu lalang sepanjang jalan apalagi di hari Minggu. Dulu sewaktu aku mencoba mencari jalan ke kebun teh Nglinggo saja sempat nyasar. Tapi itu lebih akibat kepedean sok tahu jalan (dan) juga karena gak banyak orang untuk ditanyai arah *tetap nyalahin orang lain*. Tidak mengapalah, nyasar adalah bagian dari kehidupan. Di situlah keseruannya!

Meskipun rutenya gampang dan jalannya telah diaspal namun melewatinya tetap saja tidak mudah karena jalurnya bisa dibilang sempit, penuh kelokan tajam, dan tanjakan yang bisa bikin motormu ngeden. Sangat tidak disarankan memakai motor matik berboncengan terutama bagi pengendara yang kurang berpengalaman. Jika di musim kemarau musuhnya adalah debu, kerikil, dan pasir kering di jalan yang kadang dapat merepotkan apalagi kalau ban motormu aus, di musim hujan aku yakin tingkat kelicinan bakal meningkat sehingga kamu perlu waspada. Tangan dan kaki harus tegar menguasai stang dan rem.

Selama perjalanan kamu mungkin bakal sering berhenti seperti yang aku lakukan. Apalagi di musim kemarau Pegunungan Menoreh yang menggersang beralih jadi kuning-coklat. Sungguh sayang jika dilewatkan tanpa difoto.

kemarau
Kemarau di Menoreh (mungkin mengilhami Api di Bukit Menoreh)
Menurut seorang kawan yang pernah berkunjung ke Goa Kiskendo sebelumnya. Pada hari biasa lampu di dalam goa tidak dinyalakan sehingga kalau pengunjung mau masuk goa perlu membawa senter sendiri (itupun jika berani), atau menggunakan jasa pemandu, tentu dengan biaya ekstra (itupun si pemandu juga tidak selalu siap sedia). Maka akan sangat bijak datang ke sana pada akhir pekan. Bukan apa-apa sih, selain karena lampu di dalam goa dinyalakan, alasan lain adalah supaya ada teman sesama pengunjung. Kecuali jika kamu memang berniat mau menyendiri untuk bertapa dalam goa. Aku tidak bercanda ngomongin masalah bertapa ini. Sebab goa ini memang awalnya kerap dipakai bertapa. Hampir setiap sudut dan ujung percabangan goa adalah lokasi untuk semedi. Pengelola bahkan melengkapi setiap titik pertapaan dengan papan nama, karena rupanya setiap titik tersebut punya fungsi masing-masing (kurasa).
Goa Kiskendo, ruang bagian tengah
Kulon Progo
Titik pertapaan dengan nama-namanya
Secara keseluruhan goa ini cukup gelap walaupun sudah ada penerangan. Penyebabnya adalah lampu hanya segelintir dan peletakannya tidak strategis. Lampunya pun hanya lampu biasa yang sering dipakai menerangi rumah, bukan model lampu sorot warna-warni seperti di Jatijajar atau Goa Gong. Kami (aku dan kawan) masuk cuma bermodal sebuah kamera D90 yang sesekali disorotkan menjadi semacam senter. Belum terlalu jauh dari mulut goa, tangga yang menuntun ke dalam perut goa sama sekali tidak terlihat. Kami terpaksa harus meraba-raba pegangan dan anak tangga, maju perlahan-lahan.

Salah satu ujung Goa Kiskendo
Beberapa lampu di ujung goa dibiarkan mati dan belum diganti sehingga gelap total. Mungkin memang disengaja untuk menunjukkan bahwa itu adalah ujung goa, akhir dari langkah dan peringatan agar kami balik badan. Walaupun sebenarnya kamu akan bisa melihat bahwa goa belum berhenti di situ dan masih ada lorong yang mengharuskan orang merangkak jika mau lanjut. Rendahnya langit-langit goa membuat udara bergerak kurang leluasa, sehingga berada di dalamnya terasa agak gerah dan sumpek. Setelah mentok di setiap ujung goa kami keluar meninggalkan Kiskendo menuju Seplawan.

Dari Goa Kiskendo jarak Goa Seplawan masih 8 km. Jarak yang tidak seberapa jauh namun ternyata Seplawan sudah berada di wilayah Purworejo, Jawa Tengah. Jalannya lebih sempit dari arah Godean-Kiskendo. Uniknya jalan menuju ke Goa Seplawan mengarah langsung ke gerbangnya (dengan kata lain ini adalah “jalan buntu”). Tidak perlu khawatir tersesat karena sudah ada papan petunjuk ke arah Seplawan di setiap persimpangan jalan.

Hutan pinus menuju ke Seplawan
Jika ingin berkunjung ke Goa Seplawan sebaiknya tidak di musim hujan. Setidaknya itu yang tertulis pada papan peringatan di luar bahwa di musim hujan air bisa meluap dan kalau sampai meluap pengunjung diminta mencari tempat yang lebih tinggi lalu menunggu bantuan datang. Semula aku tidak mengerti mengapa mesti ada peringatan semacam ini. Aku sama sekali tidak mendapat gambaran seperti apa di dalam goa (dan memang sengaja tidak mencari tahu). Ternyata yang dimaksud air bisa meluap adalah karena goa ini bukan jenis goa yang menyediakan jembatan pun jalur pejalan dari corblok. Bagian dalam goa masih asli dan sepertinya memang sengaja dibiarkan seperti itu. Goa Seplawan adalah sungai bawah tanah dan pengunjung ditawari pengalaman menyusurinya bagai seorang petualang di acara wisata di tivi.

Sungai dalam Goa Seplawan
Bagiku yang masih awam soal per-goaan, Goa Seplawan bisa disebut unik. Batu-batunya coklat kehitaman, bukannya putih. Stalaktit dan stalakmit tidak bertebaran. Malahan goa ini lebih layak disejajarkan dengan kata “terowongan.” Sebuah terowongan yang alamiah tentunya. Di banyak bagian atap goa bisa setinggi bangunan tiga-lima lantai. Aku jadi membayangkan kalau bisa membangun rumah dalam goa akan kubuat macam menara. Dengan begitu rumah itu akan menjadi salah satu rumah terkeren sedunia: menara dalam goa.

Lorong/terowongan Goa Seplawan
Tips susur Goa Seplawan adalah pakailah sandal/sepatu yang memang dirancang untuk susur goa: kedap air dan anti selip. Lantai goa bisa sangat licin akibat endapan lumpur dan karenanya pengunjung disarankan berjalan justru di sungainya, seperti yang dilakukan kebanyakan pengunjung hari itu. Keberadaan air di sungai sekaligus membantu mengurangi selip di kaki (terutama buat yang mengarunginya sambil telanjang kaki). Sayangnya dasar sungai adalah batuan yang lumayan tidak nyaman di telapak kaki (atau boleh dibilang tajam). Makanya itu kamu butuh alas kaki yang mumpuni.

Di musim kemarau air dalam goa cukup dangkal. Air masih di bawah lutut rata-rata orang dewasa. Aku tidak yakin apakah ini berkah atau bikin susah. Sebab andai airnya lebih tinggi sedikit pastinya ia tidak akan sekeruh seperti ketika aku berkunjung ke sana. Kurasa penyebabnya adalah kaki-kaki pengunjung yang tiada henti mengaduk lumpur dari dasar sungai lalu ikut membawanya ke tepian.

Dan, oh hindari pakai rok. Bukan apa-apa sih, kesenengen aja cowok-cowok kalau liat rok diangkat tinggi-tinggi. Jangan lupakan pula senter! Goa ini memang lebih terang dibandingkan Kiskendo namun tetap saja gelap. Lagi pula lebih asyik jika bawa senter sendiri kamu akan bisa memasuki lorong tersembunyi tanpa pemandu. Mungkin malah di lorong tersembunyi inilah hadir wangsit tersembunyi.

Batas wisata: silakan lanjut jika mau bunuh diri.
Foto oleh Yant.
Ketikan oleh JinoJiwan

0 komentar: