Jalan Berliku Embung Batara Sriten

13.15.00 Jino Jiwan 0 Comments

Barangkali salah waktu, awal musim hujan 2015 dipadu dengan topografi Gunung Kidul yang memang keras melengkapi penderitaan motorku dan kedua lengan ini dalam perjuangan menggapai puncak tertinggi kabupaten yang dikenal dengan objek wisata pantainya. Butuh lebih dari pengalaman bermotor demi menaklukkan tanjakan dan turunan: yaitu niat bin tekad. Tapi aku terlalu menyanjung diri bila memanfaatkan kata-kata barusan, lebihlah tepat dikatakan: terlanjur basah kepalang tanggung, this is the point of no return *nyambung gak?*

Tempat wisata yang dituju rombongan kami bernama Embung Batara Sriten. Sebuah embung di Gunung Kidul yang satu paket dengan puncak Tugu Magir dan tergolong masih baru. Rencananya (menurut blog-blog sebelah) tempat ini akan dibangun menjadi kebun buah kelengkeng dan manggis. Gak jelas alasan kenapa mereka memilih manggis. Padahal manggis kan sudah ada ekstraknya ya? Ha ha.

gunung kidul
Embung Batara Sriten
Tidak ada papan penunjuk menuju lokasi dari jalan utama. Jadi dengan bijaknya meski terlambat (setelah yakin bahwa kami sudah kebablasan), kami menanyakan arah dan rute kepada warga sekitar yang bisa ditemui dengan mudah di pinggir jalan. Seharusnya kami mulai mengurangi laju motor begitu melihat deretan bukit di sisi utara jalan yang mengarah ke Nglipar dan lalu Klaten. Patokannya cukup jelas: Kantor Kepala Desa Pilangrejo, tapi rombongan kami melewatkannya. Dari sini tinggal ambil ke utara atau ke kiri kalau dari arah Sambipitu.

nglipar
Kantor Kepala Desa buat patokan
Lembaran petunjuk lokasi yang sudah mulai pudar warnanya baru terpampang di sejumlah titik di jalan masuk kampung. Tujuan pemasangannya seperti memastikan bahwa kami tidak salah ambil jalan (sekaligus meyakinkan pengunjung tidak salah jurusan). Walau sebenarnya papan petunjuk tidak benar-benar dibutuhkan karena kamu toh hanya perlu menduga bahwa jalur yang akan membawamu ke atas adalah hampir selalu jalur yang menanjak.
embung batara sriten
Penunjuk jalan yang nyempil dan mungil
Awalnya jalan aspal terhitung mulus untuk ukuran desa. Tapi setelah melintasi sebuah masjid (Abu Bakar Asy Sidiq). Tiba-tiba jalan terjal meliuk tajam, mendaki, dan menurun, terhampar tanpa ampun sejauh 4 km! Semua ini diperparah dengan selang selingnya jalan corblok yang di banyak titik remuk redam, merekah pecah bersatu dengan batuan runcing dan juga tanah merah lembek. Juga tidak dilupakan bagaimana jalan cukup sempit (hanya seukuran satu mobil), itupun tanpa pagar pembatas dari jurang menganga di satu sisinya. Sesekali kami bersua dengan papan peringatan yang meminta pengendara pindah ke gigi satu dan mengecek kondisi rem (sebuah peringatan yang harusnya direntangkan jauh jauh sebelumnya). Sungguh sebuah kondisi yang sangat tidak beradab lagi tidak berperikemanusiaan (bagi manusia modern yang terbiasa dimanjakan jalan aspal). Pendeknya, esktriiim!

petualangan ekstrim
Jalan corblok yang belum parah banget, buat peringatan apa yang akan menantimu di depan sana
Kemahadahsyatan jalan ini membikin aku terpana ketika tahu bahwa masih ada pemukiman (mungkin perkampungan) di atas sana. Gak kebayang kalau ada warga yang punya urusan gawat darurat (misalnya harus ke rumah sakit segera). Dia harus menerobos jalan yang hancur lebur. Kenyataan macam ini kemungkinan besar berandil pada sikap tangguh warga sana. Dan itu dengan jelas terlihat. Beberapa kali kami berpapasan dengan warga (dan anak SMA) menggilas jalanan nan brutal, meninggalkanku yang terheran-heran sekaligus tersalut-salut. Aku jadi merasa segan mengeluh. Warga desa di sana sudah lama mengalaminya hingga “penderitaan” tidak lagi terasa bagai penderitaan.

Sekedar buat perbandingan, jalan ke Embung Batara Sriten lebih parah daripada ke Embung Nglanggeran. Ketika mengunjungi Embung Nglanggeran di tahun 2014 jalan berbatu-tanah masih lebih lebar dan terasa lebih aman karena kamu cukup berjarak dari tepian jurang. Kira-kira setaralah dengan jalan ke Pantai Timang Gunung Kidul. Aku sendiri ragu bila dalam dua-tiga tahun sudah ada langkah berarti untuk mengubahnya jadi jalan aspal *agak sok tahu sih emang*. Paling pol corblok, itu pun gak akan mencakup seluruhnya dari pucuk bukit hingga bawah.
musim kemarau
Di tepian embung (foto oleh Yant)
Sampai di tujuan badan ini begitu letih, ngilu-ngilu, dan tenaga terkuras. Padahal aku nyetir motor sendirian, gak berboncengan. Apakah semua itu terbayar? Aku berani bilang hell yeash! Pemandangan sekeliling dari embung dan puncak tertinggi Gunung Kidul amat (aku tidak punya kata-kata lain untuk mengungkapnya)...indah...amazing...spektakuler, biarpun agak mendung. Tapi jika boleh memilih aku akan memilih untuk tidak melewati jalan yang gak manusiawi barusan. Kalau punya, datanglah ke embung pakai helikopter saja. Tempat parkirnya tinggal milih, wong cukup sepi.

danau
Embung menghijau
puncak gunung
Pemandangan dari atas, Rawa Jombor Klaten pun terlihat (foto oleh Yant)
Embung Batara Sriten tidak seluas Embung Nglanggeran. Namun itu hanya kesan sekilas karena bentuknya yang agak segitiga. Barangkali dari segi angka luasnya nyaris mendekati. Di rumah aku mengukur panjang dan lebar kedua embung via Google Earth. Panjang Embung Batara Sriten mencapai seratusan meter, sedangkan Embung Nglanggeran sisi terpanjangnya ‘hanya’ sekitar 80 meter. But, size doesn’t matter, right? Karena yang dijual dari kawasan Batara Sriten adalah pemandangan puncak tertinggi Gunung Kidul: Puncak Magir yang... entah kenapa kok ada makamnya dan entah makam siapa pula itu. Jika boleh kukomentari *tentu boleh kan ini blog-ku* itu makam bad ass banget! Lebih mewah, sejuk, dan syahdu, daripada San Sicko Hills di Karawang. Bayangin, dia sendirian menikmati panorama seajaib ini siang-malam.
embung batara sriten
Makam orang hebat
Blog-blog tetangga mengembel-embeli lokasi ini dengan “embung di atas awan” atau semacam itu sehingga awan-awan akan tampak menggantung dari sana. Hm..., jangan percaya! Awan punya ketinggian setidaknya 2000 meter dari tanah. Sementara Puncak Magir hanya 859 meter. Kalau yang dimaksud adalah awan-awan terasa lebih dekatpun sebenarnya tidak juga. Tapi tidak perlu buru-buru kecewa sebab pemandangan dari puncak tertinggi mencapai 360°. Itupun kalau kamu berani menapaki pucuk bukit yang lumayan curam di tengah cuaca suram (Ingat! Aku datang pas awal musim hujan). Tiada pembatas antara kaki dengan jurang jadi lihat-lihat kemana kamu melangkah. Waktu aku mencoba berdiri di tugu mungil saja tubuh ini bergetar, takut bila sampai jatuh bergulung-gulung atau diterbangkan angin. Iya, angin berembus kencang, tambahan lagi badanku kurus.

puncak tertinggi gunung kidul
Tugu di puncak (foto oleh Yant)
embung batara sriten
Pemandangan dari puncak (foto oleh Yant)
Petuah yang bisa kusumbangkan adalah: datanglah ke embung pada akhir musim hujan-jelang musim kemarau. Karena dijamin saat itu adalah saat yang paling tepat. Embungnya pasti akan lebih segar karena penuh terisi air tidak seperti saat kami yang mendatanginya di awal musim hujan, air di embung kelihatan kurang penuh. Musim hujan bukan hanya memperburuk keadaan jalan, mengubah tanah menjadi lumpur kemerahan yang sangat mencintai ban kendaraan, saking lekatnya. Selain itu di awal musim kemarau tetumbuhan juga pasti akan lebih hijau dan pandangan akan bebas dari mendung.

embung batara sriten
Pucuk bukit tertinggi di Gunung Kidul di awal musim hujan: mendung, rumput kering, dan sampah bertebaran
Gunakan motor non matik. Pilihan motor bukan hanya mempermudah saat menanjak tapi juga menurun. Semula aku membayangkan betapa tidak mungkin naik ke sana pakai mobil dan betapa kerasnya kerja seorang sopir mengendali mobil, sehingga membuat mobil tampak bagai kendaraan opsi terakhir, nyatanya toh ada mobil jenis Carry selamat mendarat di puncak. Tapi seprima-primanya pilihan kendaraan dan sejago-jagonya sopir, masih lebih baik jika menanti hingga jalannya sudah beres (dua-tiga tahun lagi?).

Sering orang (sok) bijak mengatakan bahwa hal paling indah bukanlah sampai di tujuan, melainkan perjalanannya itu sendiri, atau kira-kira seperti itu. Menurutku orang ini belum pernah merasakan nyetir sepeda motor ke Embung Batara Sriten atau minimal Pantai Timang, so fak yu!


embung batara sriten
This is a nice place to scream "Fak Yu!" (foto oleh Yant)
(JinoJiwan)

0 komentar: