Monster Chef

01.31.00 Jino Jiwan 0 Comments

Pada suatu petang yang nahas tersiarlah sebuah acara pembantaian mental paling mengenaskan sepanjang sejarah penayangan tv: Monster Chef! Di acara ini kamu yang sebetulnya menggoreng telur saja masih sering kecampuran serpihan cangkang (mana cangkang telur cecak lagi!), bolehlah bermimpi menjadi peserta dalam kompetisi masak-memasak paling akbar senegeri ini. Maka begitulah kamu yang entah siapa yang cukup sinting waktu mengaudisimu malah menyertakanmu jadi kontestan. Kontestan putaran final pula!

being a dick
monster (dick head) chef
Di panggung final kakimu berderak saat lampu berkilat-kilat menyilaukan nyalimu. Asap putih tanpa aroma membanjiri lantai. Pintu besar di salah satu sudut arena terangkat perlahan. Musik khas penggetar kuku melengking menembus kuping. Wajahmu kian tertekan degup jantung tak karuan. Muncul tiga makhluk dari balik pintu, sosok siluet yang terlihat amat atos banget. Mereka adalah para juri alias para pembantai di pentas masak ini.

Makhluk-makhluk itu adalah: pertama, seorang juri wanita yang sebenarnya hanya seorang tukang cuci sayur di sebuah hotel kelas melati, bernama Marinkatrok. Karena ia dipaksa jadi juri oleh produser—yang mana ia sendiri memang mengimpikannya—ia menambahkan gelar Chef di depan namanya. Marinkatrok adalah seorang yang tak pernah memakan makanan enak sepanjang nafasnya. Baginya semua makanan terasa bagai lantai kotor. Karena itu ia adalah musuh nomor satu bagimu dan bagi peserta lain. Yang membuat para kontestan mengampuni polah tingkahnya selama ini adalah karena Marinkatrok ini tak lain cukup lumayan imut-imut untuk usianya yang nyaris kepala empat. Pendek badannya hanya seketekmu tapi kamu harus akui bahwa kamu ingin sekali menyandingkan diri di sisi dia.

Juri lainnya adalah seorang koki mi instan di warung burjo pinggir Jalan Kaliurang, bernama Chef Jina. Sebenarnya ia dulu sempat menjadi preman di rumah sakit jiwa dekat rumahmu. Karena itu tak heran jika tangannya dipenuhi tato. Tato yang tulisannya “Tato”. Setelah insyaf, ia memaksakan diri menjadi tukang masak mi instan di sebuah warung burjo. Jika sampai tidak diterima maka dia mengancam akan membuka tiga kancing teratas bajunya. Si pemilik yang tak ingin istrinya kesambet oleh kecemerlangan Jina akhirnya mengizinkan dia bekerja di warung burjo miliknya. Berkat rambut landaknya yang super keren, paha berotot, dan tato bertulis “tato” itu, ia (tidak jelas bagaimana kok) dianggap laki’ paling macho nan seksi sejagad oleh para wanita (dan mungkin oleh para pria juga). Apalagi cara dia sedakep yang terkesan super cool itu. Ooh, wanita mana yang tak akan terpana asmara.

duo juri yang paling layak diwaspadai
Yang terakhir seorang chef setengah uzur dan lemahlunglai yang tidak teramat penting sebetulnya. Karena tidak penting tidak usahlah kiranya ia perlu dibahas di sini. Hanya memubazirkan ketikan dan pikiran saja. Untuk itu kita sebut saja dia “chef gak penting,” atau karanglah namanya sesukamu.

Marinkatrok berdiri paling depan di antara tiga juri, harus begitu sebab jika ia berdiri paling belakang dijamin ia tak akan terlihat. Ia menatap tajam ke semua peserta yang total ada lima orang, terutama kepadamu. Kamu yang tidak pernah dipecicili cewek sebelumnya merasa ge-er luar binasa. Belum apa-apa kamu sudah berfantasi yang iya-iya.

Marinkatrok lalu memberi sambutan pembuka, “Dengar semua, target kita adalah Tama Riyadi..., eh sori salah baca skrip. Ehm..., target kalian adalah memasak makanan teraneh dan ternyentrik selama 1 jam, dihiasi penataan yang butuh menghabiskan waktu hingga setengah jam. Jika kalian gagal...,” Mata Marinkatrok begitu dingin, “...berarti kalian gagal mendapatkan saya!

...egh...sebenarnya bukan itu kata penutup dari Chef Marinkatrok, tapi kamu mendengarnya seperti itu, karena memang dialah yang kamu harapkan jadi hadiah acara Monster Chef ini.

Chef Jina melangkah tegap. Dadanya yang bidang melesak keluar dari layar televisi. Dia menuju ke sebuah meja kecil di tengah arena. Di atasnya tersaji nampan bertutup. Seluruh penonton cewek di studio sontak serentak berteriak histeris dan bola mata mereka terjulur dari kelopaknya  berganti menjadi gambar jantung hati yang berbinar-binar.

Dengan suara laki’nya Chef Jina merapal mantera yang selalu berulang tiap episode: “bahan makanan yang akan kalian masak hari ini adalah..!” tangannya mencengkram tutup nampan di hadapannya. Pegangan nampan itu langsung penyok dalam sekejap. Musik bertalu-talu, kamera berputar-putar macam sinetron mau bersambung menyorot wajah kontestan, juga wajahmu yang masih meneteskan liur gara-gara menyawang Chef Marinkatrok.

Chef Jina mengangkat tutup nampan. Seisi studio terenyak...

Tidak ada apa-apa di baliknya! Rupanya salah satu kru Seksi Urusan Set lupa belanja ke pasar hari itu. Maka seketika itu juga kru set itu ditebas gajinya. Dan harus menjalani hukuman mengepel piring kotor dengan lidahnya selama seminggu.

Acara pun harus break demi menunggu pihak Monster Chef selesai belanja di Indomacet dan Alfakemaruk. Selama itu kamu menghabisi waktu dengan mendalami peran sebagai suaminya Marinkatrok, setidaknya dalam kepalamu saja. Dan untungnya Marinkatrok tidak pergi kemana-mana selain duduk di depanmu dengan mengangkang di atas bangku jenjang memajang apapun yang tampak di selangkangan. Wuii, kalimat barusan rimanya -ang -ang! Ups, sepertinya ada yang tegang. Dan bukan kebetulan pula Marinkatrok sedikit membuka mulutnya. Bibirnya yang tebal nampak kian sensual seiring lidahnya yang menjalar-jalar. Kamu pun merasakan ada sesuatu yang melar.

Begitulah, dua setengah jam telah berlalu. Produser acara yang sedari tadi mandi keringat kerepotan mengarahkan telunjuknya agar para kru segera menempati posnya masing-masing. Syuting akan dimulai kembali sesaat lagi. Para kru tersruntul-sruntul riuh saling bertumbukan membawa bahan makanan ke dalam panggung studio. Bahan makanan rahasia itu lalu disembunyikan di bawah nampan yang sudah diganti gara-gara tutup nampan yang tadi sudah rusak kena cengkeraman maskulinitas Chef Jina.

Kali ini giliran Chef Gak Penting yang diberi kesempatan untuk membuka tutup nampan. Bukan gimana-gimana, soalnya Chef Jina sedang entah di mana. Mungkin sedang di toilet dengan sekaleng pomade untuk...menata rambutnya biar tetap licin.

what's underneath?
Sebetulnya Chef Gak Penting ingin sekali nampang. Maklumlah selama ini dia jarang disorot kamera. Dia ingin istrinya (iya, sulit dipercaya ada yang mau jadi istrinya) menonton suaminya di tivi. Sehingga dia sengaja berlama-lama mengangkat tutup nampan. Tanpa efek slow motion pun Chef Gak Penting sudah melakukannya dalam gerakan slowest motion. Sayang, produser harus nurut prosedur. Jadi yang disorot hanya tangan si Chef Gak Penting bukan mukanya. Ah, kejam dunia ini!
Nampan pun terangkat! Dan bahan rahasia yang tidak lagi rahasia itu adalah....

Kamu pun terbangun. Suara seorang wanita meledak membuatmu melek. Itu suara istrimu,...oh bukan. Sejak kapan kamu menikah? Pacar aja gak punya kok. Itu suara simbokmu! Kamu kan belum beristri dan masih tinggal bersama simbok. Sayur gori yang kamu godog gosong dan menyiarkan aroma kepahitan ke seluruh rumah.
...

Sori, ceritanya mengecewakan ya? Tapi memang begitulah hidup, gemar mengecewakan Biasakanlah mulai sekarang!

Jino Jiwan

Btw, aku membuat versi komik dari cerita aneh ini lengkap dengan twist ending. Kapan-kapan kuungah di blog Japirensil.

0 komentar: