Hujan di Malam Tahun Baru

21.14.00 Jino Jiwan 0 Comments

Pada suatu hari, Musim Hujan sedang ngambek. Dia sedang tidak rela dijadikan alasan buat mahasiswa yang suka telat datang ke kampus atau telat ngumpul tugas. Tidak ingin dituduh sebagai penyebab wafatnya aliran listrik. Tidak suka dikatai penyebab genteng rumah bocor. Tidak mau pula dianggap penghalang bagi para pekerja untuk masuk kantor. Dia juga tidak ikhlas dituding sebagai penyebab seorang cowok telat menjadi tukang ojek bagi si cewek. Itu makanya Musim Hujan memilih menyendiri di tempat tersembunyi untuk merenungi nasib. Betapa dia tidak dicintai, betapa dia tidak diingini.

Ketidakberadaan musim ini membuat Musim Kemarau yang sedang liburan terjun menggantikan posisi Musim Hujan untuk sementara sampai emosi Musim Hujan mereda.

“Kemana Si Musim Hujan? Aku sudah gatal mau menyengat orang yang ada di bawah sana! Aku ingin membuat orang-orang itu menutupi telinga bergidik ngeri waktu melihat kilatan cahayaku.” Ujar Si Petir penuh amarah.

Si Kilat yang merasa tidak diberi kredit tidak dapat menerima perkataan Petir. “Hei. Yang kau bicarakan itu aku juga tau. Aku yang bikin mereka kaget lalu menutupi telinga!”

“Kau tidak berarti apapun tanpa aku, kau bahkan tidak nyata!!” Petir meledak.

Musim Kemarau pun menyahut mencoba mendinginkan suasana (yang mana agak gak begitu cocok dengan perannya), “Tenangkan dirimu hai Petir...dan kilat. Kalian bisa mengejutkan atau membunuhi orang nanti jika Musim Hujan sudah kembali. Jika kalian muncul sekarang orang-orang bisa panik menyangka itu sebagai pertanda buruk yang bakal terjadi. ‘Petir kok di hari bolong’. Lagi pula kalian tidak mungkin ada tanpa kehadiran Musim Hujan, jadi seharusnya kalian berdua tidak di sini.”

“Ah, kau benar, Kemarau.” (Petirpun menghilang tanpa bekas, tentu saja Kilat juga ikut lenyap).

“Bagaimana denganku, sahabat setiamu?” Angin menyapa Musim Kemarau.
“Ah, Angin. Baiklah, meski kau sering selingkuh dengan Musim Hujan. Kau bolehlah berembus bersamaku.” Jawab Musim Kemarau.

Maka Musim Kemarau pun memeluk dunia. Hawa kerontang menyelekiti setiap kulit manusia di bawah sana, mengubah tanah jadi debu, menjerakan dedaunan yang rajin mengisap saripati bumi. Kala itulah para pedagang es (genre apapun) kejatuhan duit seabrek-abrek dan para manusia bergumul di Indomacet dan Alfakemaruk sekedar buat ngadem atau menenggak minuman yang harganya bisa lebih mahal sepertiga harga dari toko sebelah. Angin lalu dengan sengaja mengamuk menggoyahkan pepohonan. Sebuah pohon yang telah kehilangan daya hidup memilih merebahkan diri menindih duo manusia yang sedang berkencan di bawahnya (sukurin!).

Para manusia sedih, mereka memanggil-manggil Musim Hujan agar kembali.
Musim Hujan tergugah mendengar jeritan para manusia. “Ternyata mereka (masih) mencintaiku.” Gumamnya.

Dia pun kembali. Disambut dia dengan suka cita oleh Musim Kemarau dan Angin. Petir dan juga Kilat melesat bergabung dengan gembira. Mereka kembali dipersatukan setelah sekian lama. Saling kangen-kangenan lalu membicarakan rencana dan jadwal untuk menghujani sejumlah petak-petak yang merindukan kedatangan mereka bertiga.

...belum berapa lama mereka bergabung.

Suara sekumpulan manusia mendengung hebat. “Etunggudulu, malam ini kan malam tahun baru. Alangkah lebih syahdu kalau kemarau saja yang menaungi kami. Biar kami bisa pacaran bergandengan berpelukan berdekapan menggaulkan bertindihan bersandaran sambil menatap langit yang byar-pet Jder byar-pet JDEER lalu ber-toet-toet-toet tiada jemu seolah tidak sah bagi kami untuk melakukannya di lain hari. Kau taulah, ini kan sudah tradisi. Jika kamu wahai Hujan yang datang. Kamu bisa membunuh nuansa ini. Jadi mendingan kamu tidur dulu atau ngapainlah sana terserah. Ngapain aja asal jangan menghujani kami.

Musim Hujan menunduk nesu. Perasaannya kelabu nan sendu. Dia pun menghilang lagi bersama Petir dan Kilat. Musim Kemarau yang tadinya mau tidur panjang bangkit kembali demi melembur pekerjaan yang tidak seharusnya dia tanggung.

Dan kamu. Iya kamu anggota IPJ, Ikatan Para Jomblo kasta terbawah. Cuma bisa menggigiti kuku jari kakimu seiring jari(tangan)mu meng-scroll-i cerita ini. Di luar tidak hujan, tapi hatimu banjir tangisan. Tangisan dari bijimu sendiri.




HA-HA-HA-HA-HA.

0 komentar: