Film Dokumenter Menurut Nia Dinata

23.55.00 Jino Jiwan 0 Comments

Sejatinya ketikan ini bermula berbulan-bulan lalu ketika prodi Kajian Budaya dan Media UGM menyelenggarakan pemutaran dan diskusi film produksi Kalyana Shira bertajuk Buka(n) Rahasia di Joglo Dusun Terung. Kedua film yang diputar adalah Pertanyaan Untuk Bapak dan Emak dari Jambi. Film pertama menceritakan seorang gay bernama Yatna yang pulang kembali ke kampung halamannya untuk menemui Sang Bapak yang dulu telah mengoyak masa lalu dan menghantui masa depannya. Sedangkan film Emak dari Jambi bertutur mengenai seorang ibu dari kampung yang datang ke Jakarta untuk menemui putranya yang ternyata kini adalah seorang waria. Mumpung isu LGBT sedang hangat, hari ini kuunggahlah ketikan ini meskipun gak nyambung-nyambung amat.

EDIT
Dokumenter sesungguhnya...
Dalam diskusi film tanggal 22 Agustus 2015, Nia Dinata selaku produser film menegaskan bahwa film-film dokumenternya dibuat tanpa menggunakan skenario. Saat membuat film Pertanyaan Untuk Bapak dan Emak dari Jambi, kru film (termasuk dia) sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan bagaimana akhir filmnya nanti. Berbeda dengan “film dokumenter” yang umum ditayangkan Discovery Channel atau National Geographic atau film dokumenter yang berkarakter etnografis lain (misalnya tentang kehidupan suatu suku di mana kegiatan sehari-hari yang diperagakan di depan kamera masih bisa diulang), film dokumenter buatannya bukan mereka-reka adegan sesuai kemauan.

Yang menjadi kontradiksi adalah ucapan Nia berikutnya. Bahwa bahan-bahan film ini nantinya toh akan DIEDIT juga.

Nia as the maker of what documentary film is
Buatku bagaimanapun juga film dokumenter hadir dalam format film yang (tujuannya) akan ditonton orang [banyak]. Jadi sebisa mungkin akan dibuat “menghibur,” atau dibuat agar menjadi cup of tea-nya para calon penonton. Pada kenyataannya film Pertanyaan Untuk Bapak dan Emak dari Jambi toh bisa tetap tampil menghibur meski (katanya) tidak memakai skenario.

Aku melihat beberapa metode ditempuh oleh pembuat film supaya filmnya sanggup “menghibur” penonton. Salah satunya terletak pada bagian editing yang diakui oleh Nia sendiri. Lewat editing ini film dokumenter sebetulnya sedang dibentuk agar punya “cerita.” Itu makanya kedua film dokumenter, terutama Pertanyaan Untuk Bapak bisa tersaji layaknya cerpen, atau dengan kata lain film ini bagai cerpen yang divisualkan (catatan: versi novelnya berjudul Pertanyaan untuk Ayah). Ambil pengandaian begini, ada seorang yang akan membuat kue dengan bahan-bahan mentah seadanya karena orang ini setelah belanja ke pasar hanya mendapat bahan seadanya. Hal demikian tidak lantas berarti kuenya akan tampil kurang menarik atau rasanya kurang enak. Jadi menurutku tetap ada “skenario” tapi bukan skenario biasa yang dikenal dalam pembuatan film feature. Tidak mungkinlah film yang dapat saja berbujet tinggi dibuat serba apa adanya hanya karena “pemerannya” bertingkah apa adanya/semaunya atau apa yang terjadi ya terjadilah.  

Bisa dibayangkan bagaimana penonton ditempatkan dalam dokumenter?
Hal-hal teknis di lapangan saat pengambilan gambar menguatkan dugaan ini. Sudut-sudut kamera tampil bukan seperti dokumentasi biasa (dalam arti semisal kalau kita ambil foto teman-teman kita) atau tampil seperti kamera wartawan dalam meliput/mereportase suatu insiden. Sudut pengambilan gambar film dokumenter sudah berdialog dengan film-film feature. Sehingga batas antara yang disebut dokumenter dengan fiksi seperti bertumpukan.
Sudut pengambilan gambar sudah dibentuk sedemikian rupa untuk mendukung skenario yang dapat menyudutkan atau mendukung suatu ideologi via visual. Bahan mentah yang sudah berpihak inilah yang lalu diolah dalam proses editing. “Cerita” dibangun dari sana dengan segenap penghilangan-penghilangan yang hanya pembuatnya yang tahu. Itu makanya kamu tidak akan melihat para “pemeran” berbicara kepada produser film atau kameraperson yang jelas hadir di situ, padahal hampir pasti perbincangan itu terjadi. Semua disengaja demi membangun yang katanya dokumenter dan tak diskenariokan ini menjadi kurang-dokumenter.


Jadi apa itu film dokumenter?

Foto oleh Finz pakai kamera Neil.

0 komentar: