Azrax 2, Menggilas Sindikat Judi Bola

23.50.00 Jino Jiwan 1 Comments

Suara azan Maghrib bergaung-gaung. Kita melihat Azrax, lakon utama paling utama dari cerita ini duduk bersila menunduk dalam temaram lampu 3 watt. Rupanya dia baru saja sadar dari pingsannya. Dia tidak yakin berapa lama dia pingsan, tapi sepertinya tidak cukup lama, paling cuma sepuluh detik.

Pandangannya menyapu sekeliling. Sebuah kamar mungil-lusuh-buram-pengap. Yah, kalian nangkaplah gambaran yang dimaksud. Tengkuknya terasa ngilu, namun ketika hendak meraba belakang kepala dia sadar bahwa kedua pergelangannya terkunci borgol.

Azrax mencoba mengingat apa yang terjadi. Oh iya, hanya sepintas detik lalu dia tengah menyelidiki markas bandar judi bola di suatu gang kecil nan kumuh dekat padepokan pimpinannya. Markas judi bola yang amat sangat meresahkan masyarakat. Istri-istri sekampung pada melapor kepadanya perihal suami mereka yang tidak lagi memberi nafkah karena duitnya habis di meja judi. Tergerak oleh laporan tersebut, dia mendatangi gedung yang disangkai sebagai markas judi, tapi begitu mengetuk pintu dan menyapa “samporasun,” seseorang dari belakang membogem kuncir rambut Azrax. Dia pun pingsan dengan sukses.

Kini mata Azrax memejam, dia menarik nafas, berkonsentrasi untuk melakukan hal terhebat yang belum pernah kau bayangkan. Borgol yang mengunci pergelangan tangannya bergetar. Seiring mulutnya yang komat-kamit, pundaknya naik turun. Musik kian tegang. Degub jantung berdentang. Mata Azrax membelalak dan memelototi borgol itu. Borgol itu langsung ketakutan dan memutuskan untuk melepaskan diri dari Azrax.

Azrax menoleh ke samping membelakangi pintu kamar. Kupingnya berdenyut. Dia bisa mendengar ada dua orang mendekat...sayup-sayup dia mendengar suara dari lorong di luar kamar...

“Bos bilang orang itu harus dibawa menghadap,” kata suara penjahat #1.

“Ya, kita kudu waspada. Kata Bos dia dulu menghancurkan geng Kobra,” jawab suara penjahat #2.

Geng Kobra dari Hongkong?!” (dengan nada “dari Hongkong” seperti yang sudah biasa kamu dengar).

“Memang iya.”

“Oh,...itu artinya...”

Begitu mereka membuka pintu, dua orang yang mukanya garang dan penuh kekejaman itu langsung kaku saat Azrax menyerbu. Azrax melempar borgol ke arah Penjahat #1. Borgol itu mengikat tangan Penjahat #1 secara otomatis. Azrax mengibaskan kuncirnya, Penjahat #1 terlempar keluar jendela kaca. Secepat kilat Azrax mengambil bantal (dalam kamar kan ada kasur dan bantal to?). Sekali ayun jidat Penjahat #2 bonyok lalu ambruk seketika.

Azrax keluar kamar dan berjingkat bak penyusup profesional. Celingukan dia mencari posisi yang pas mengintip hiruk pikuk yang riuh rendah di bangunan bandar judi itu. Dia bersembunyi di balik dispenser jebol bergalon kosong hanya belasan langkah dari keramaian dalam gedung. Tak ada satupun penghuni gedung melihat keberadaannya! Sungguh luar biasa kesaktian Azrax ini, sanggup membuat siapapun tak bisa mendeteksinya.

Tersentak dia sebetulnya menjumpai kesibukan di dalam gedung. Dia sedang berada di bukan hanya markas judi bola nasional atau internasional, melainkan markas judi intergalaktik! Alien segala rupa ras berseliweran di situ, dari Alien, Predator, Klingon, Namec, Na’vi, E.T., Asari, hingga Wookie. Dan dia melihat orang yang sudah sangat dihapalnya, Ruhut Towi Sitompul! Kita langsung tahu Ruhut orang jahat. Pertama karena namanya saja sudah menyebalkan terlebih mukenye. Kedua, karena dia pakai penutup mata. Bukan hanya satu tapi tiga! Satu menutup mata kiri, satu lagi menutup mata kanan, yang terakhir membungkam mulutnya.

“Ruhut Towi, kukira dia sudah tamat riwayatnya.” Bisik Azrax.

“Belum...” sahut seorang tepat di tengkuknya.

Seonggok tangan keriput namun berlemak membekap mulut Azrax. Dengan sigap Azrax memelintir tangan uzur itu, namun itu baru awal dari pergumulan. Pertukaran tapak dan tinju terjadi antara Azrax dengan si pemilik tangan misterius. Pertarungan itu kelihatan keren, tapi lebih karena kameramennya menggoyang-goyangkan kamera kian kemari.

“Drap, Dhuk, Jdhek, Pam pam pam!!!” begitu bunyinya. Tidak diketahui dengan tegas pam pam pam itu bunyi apa ketemu apaan.

Azrax berhenti melancarkan serangan, begitu juga lawannya. Terpana dia mengetahui siapa lawannya. Dia adalah...Bang Haji Roma Irama! Saking terpesonanya dia terlena™ dan tak mampu berkata apa.

Dick Azrax, khamu shudhah sholat bheluuum?” Tanya Bang Haji Roma Irama penuh wibawa dengan logat khas bijaksananya saat tahu lawannya terpana.

“Aku...belum Maghriban, Bang Haji.” Jawab Azrax tunduk.

“Astaghfirullah, sungguh therlhalu™!” Bang Haji Roma geleng-geleng, “Mari kita sholat dulu.”

Mereka pun berwudhu dengan khidmat pakai air dari dispenser (yang tiba-tiba galonnya berisi air!). Dan mereka masih saja dicuekin oleh penghuni gedung. Musik syahdu yang biasa mewarnai suasana tobat pun beralun seiring Bang Haji Roma menggelar kertas koran bekas di selasar yang berdebu. Bang Haji mengimami sholat dengan penuh penghayatan diikuti oleh Azrax di sisinya. Gerakan mereka slowmo untuk suatu alasan dan warna ruangan jadi kuning jingga macam disinari lilin (meski tidak ada lilin), juga untuk suatu alasan.

Adegan berlangsung selama beberapa menit sebelum beralih pada rakaat terakhir.

“Asshyalhamualaikhum warahmathullaah...”

Bang Haji balik badan menghadap Azrax, dia memimpin zikir bersama memohon diberi kejayaan dalam pertarungan yang keduanya tahu takkan terelakkan sebentar lagi. Tapi tentu saja yang namanya Bang Haji tidak mampu melewatkan setiap momentum tanpa memberi wejangan mulia.

Dick Azrax,” Bang Haji membuka, “tahukah memphertyurutkan hawa nafsu itu dhekat dengan syaithouwn?”

Azrax mengangguk, rautnya penuh pemahaman akan tujuan hidup yang… entah apa.

“Thenangkan bijhimu Dick Azrax. Syesungguhnya manushia lebih mhulia dharipadah syaithouwn. Memphertyurutkan phanas hati syebenarnya khuranglah bijhak. Dhulu saya tidhak khurang gusarnya dikhala Rika diculik. Di khala itu saya berkeliling naik khuda hitam dengan ghitar di punggung berkelana™ mencari di mana Rika berada…. Aarhhh...siapa ini yang nulis naskah? Anak Paud ya?!” sergah Bang Haji Roma. “Kenapa kalau aku bicara mesti diselipi aksen “h”, menghina ya?!”

Mendengar tuduhan menyakitkan itu Azrax yang tadi tunduk tenang tiba-tiba meradang, “Dan kamu sudah merenggut penjiwaan karakterisasi yang di mana seharusnya saya perankan!”

“Aku di sini untuk meringkus Ruhut Towi Sitompul bukan untuk berdebat dengan kau Az!” Bang Haji bangkit.

“Dan apa yang kau pikir benar belum tentu tepat, sebab semua ini adalah merupakan manifestasi dunia kelam kriminalitas.” Azrax berdiri, alisnya menyatu di atap dahi.

“Apa yang kau bicarakan? Tenangkan bijhimu, Az!” Bang Haji Roma mengerutkan muka.

“Cukup, aku tak bisa membiarkanmu bicara lebih jauh!” Azrax mengambil kuda-kuda. Sementara Bang Haji Roma geleng-geleng beranjak hendak menunggangi kudanya yang dia parkir di luar. Untuk sesaat kau bisa melihat gurat wajah Bang Haji menyiratkan penyesalan mendalam atas keputusannya terlibat dalam film ini. Tapi Azrax buru-buru menghadangnya.

“Tunggu dulu, kita belum usai.” Tangan Azrax merentang menghalang. Suasana kembali memanas.

“Baiklah, jika itu maumu.” Jawab Bang Haji Roma.

Bang Haji Roma dan Azrax pun kembali bertukar pikiran...,eh tendangan maksudnya dan juga tamparan. Pertarungan yang sungguh seru berlangsung, terutama bagi kameramen yang lagi-lagi menggoncangkan kamera tiada terkira. Kadang-kadang si kameramen sengaja menubrukkan kameranya ke tembok atau malah lantai agar terlihat lebih seru. Tercatat total 15 kamera rusak berat. Belum lagi setiap kali tinju diterima Bang Haji setiap kali itu pula dia beristighfar, begitu pula bila Azrax menerima bogem setiap kali itu dia bertahmid, tanda bersyukur dia masih bisa merasakan rasa perih. Dan seterusnya hingga terjadi saling jawab.

Kali ini baru para makhluk intergalaktik berdatangan untuk melihat keributan macam mana pula yang terjadi. Dalam sekejap para makhluk intergalaktik sudah mengepung Azrax dan Bang Hadji Roma Irama yang sedang asyik bertukar hantaman.

ke BAGIAN 2