Pelet karya Djair, Anomali Hero

15.56.00 Jino Jiwan 0 Comments

Djair Warni yang dikenal lewat karakter ciptaannya Jaka Sembung dan Si Tolol tak diragukan adalah satu dari maestro komik silat Indonesia, yang meskipun goresannya bisa dibilang tidak serapi dan seindah Teguh Santosa atau Ganes Th, namun mempunyai kemampuan penceritaan yang baik dan termasuk melampaui zaman dari segi keberanian pemikiran. Kekhasan pemikiran ini salah satunya ditunjukkan dalam komik serial Jaka Sembung berjudul Singa Halmahera (1973), di mana ada tokoh biseksual di sana (Singa Betina) yang diceritakan hampir saja bercinta dengan Sri, adik Parmin. Tapi ada satu tokoh karangannya yang amat sangat tidak biasa dan berada di luaran hero pada umumnya. Dia bernama Tigor alias “Arjuna” dari dwilogi komiknya yang kurang dikenal berjudul Pelet dan Pekutukan yang digarap tahun 1970-an. Padahal secara materi  komik ini layak dialihmediakan menjadi film, lengkap dengan bumbu seksnya, kesadisannya, dan jelas kleniknya. Sungguh sebuah formula emas untuk menyusun film yang sukses di pasar bukan?
Dari judul dan gambar sampul, kesan apa yang anda dapatkan? Horor?

Berbeda dengan sekuelnya Pekutukan yang mengisahkan perjuangan Muhammad Ilham, seorang santri keturunan Parmin menyebarkan ajaran Islam di desa Pekutukan, komik Pelet berfokus pada jatuh bangunnya seorang pemuda asal tanah Karo, Sumatera Utara, bernama Tigor yang nantinya menjadi lawan Muhammad Ilham. Cerita dibuka di atas kapal yang mengarung ke arah Sunda Kelapa, di mana Tigor yang diusir dari kampung halamannya menolong seorang gadis bernama Rani, putri saudagar keturunan Tapanuli-Betawi dari upaya perkosaan nahkoda kapal. Tidak dijelaskan benar apa yang membuat Tigor diusir keluarganya, dia hanya mengatakan bahwa dirinya telah ternoda dan merusak nama baik orang tuanya yang berdarah bangsawan. Karena itulah dia memutuskan lebih baik mengembara ke negeri orang meski tanpa tujuan pasti. Niatnya hendak berdagang kandas, modal perbekalannya dicuri orang. Dari kesialan inilah dia berjumpa dengan seorang perempuan cantik misterius yang menyeretnya makin jauh ke kegelapan dan menghantarnya menjadi orang jahat.

Bang Tigor yang terbuang di lautan
Tawaran yang mungkin bakal disesali Tigor
Kehilangan barang-barang berharga membuat Tigor menjual suaranya dari satu kedai ke kedai makan lain. Tentu saja pelanggan kedai mencemoohnya berhubung lagu yang dibawakan Tigor terdengar asing bagi mereka. Tapi ada juga yang menghargainya, bahkan seorang pemilik kedai menawarinya untuk menyanyi secara tetap, yang langsung ditolak oleh Tigor. Penolakan tersebut berujung pengeroyokan. Seorang perempuan bernama Nyi Durgalarasati mencegah pertumpahan darah, lalu menawari Tigor untuk bekerja sebagai penyanyi di rumahnya. Tawaran itu diambil Tigor. Pilihan apa lagi yang dia miliki? Dia tidak punya siapa-siapa atau apa-apa lagi, toh perempuan cantik satu ini telah menyita pikirannya sejak pertemuan pertama mereka berhari-hari lalu, ketika Nyi Durga memanggilnya dengan sebutan “Arjuna.” Siapa yang sanggup menolak?

Masa awal regionalisasi: lagu berbahasa Batak di tanah Betawi
Ah, Sang Arjuna dari Tanah Karo 
Rumah Nyi Durga jauh masuk ke dalam hutan di tepi sungai Cisadane. Besar bagai istana buatan Belanda namun menyeramkan dan seperti pemiliknya, menyimpan misteri di balik dinding dan lorong-lorong bawah tanah. Malam itu juga Tigor diundang bermain gitar dan menyanyi di kamar Nyi Durga. Ramuan yang sebelumnya ditenggak Tigor membuat gairahnya memuncak, ditambah tarian erotis Nyi Durga di hadapannya, jatuhlah Tigor ke dalam perangkap nikmat duniawi.
Misteri dimulai dari sini
Siapa yang mampu mengelak dari Nyi Durga Larasati?
Salah satu yang menarik adalah cara Djair menggambarkan adegan percintaan. Cukup dengan cara sugestif saja, tanpa perlu eksplisit. Mirip iklan Axe zaman sekarang. 
Sesuatu yang memang telah diinginkan Nyi Durga semenjak mereka berjumpa, menyerap saripati kemudaan Tigor lewat hubungan badan demi keawetmudaan dirinya sendiri, bagai succubus. Oh, maaf bukan hanya bagai, memang IYA, Nyi Durga itu succubus, setidaknya dia pemuja… coba tebak… Dewi Durga. Kejutan! Dan Tigor mengetahui rahasia mengerikan Nyi Larasati yang molek itu ketika dia menyusuri sebuah sumur tua tembus ke lorong-lorong gelap. Tapi apa dayanya, dia hanya lelaki biasa, Nyi Larasati punya segalanya. Tigor terlanjur mabuk birahi, tak kuasa menolak karena PELET Nyi Larasati.

Nudis? Oh, bugil maksudnya.
Koleksi patung yang begitu hidup.
Ah, tentu saja bagi para penganut Kajian Budaya atau para PC SJW akan dengan mudahnya menjadikan narasi komik Pelet sebagai makanan empuk untuk dicincang dengan berbagai teori seksualitas, representasi, stereotipe, male gaze, dsb. Bisa saja, tapi aku tak hendak mengarah ke sana. Lanjuut.

Dibakar cemburu, dua orang pemuda, Sastro dan Kasman yang selama ini ternyata juga menjadi ‘tunggangan’ Nyi Durga berkomplot menyingkirkan Tigor, sang kuda baru Nyi Durga. Mereka dengan segera menemui kegagalan. Nasib keduanya? Mereka dialihfungsikan menjadi penghias ruang bawah tanah, berupa dua bilah patung. Tubuh mereka (dalam keadaan hidup) dituangi cairan ajaib mengubah jaringan manusia sekeras batu seperti patung-patung lain yang sudah ada di situ sejak entah kapan. Mereka tak lebih hanyalah mesin persatutubuhan bagi Si Perempuan Iblis yang kalau boleh meminjam teks populer lain yang lebih kontemporer, mirip Melisandre si pendeta merah dari serial tv Game of Thrones. Yah, Nyi Durga tak lain adalah perempuan uzur tua bangka berusia ratusan tahun yang telah lama memakan ratusan korban laki-laki muda. Tigor, untuk kedua kalinya diberi kesempatan untuk menebus kesalahan. Dia mengetahui fakta ini saat bersua dengan seorang Kakek Tua yang mengaku suami Nyi Durga yang dulunya bernama Latifah.

Dalam kategori horor, Djair termasuk advance. Coba bayangkan ngerinya orang dijadikan patung.
Sang Kakek Tua, suami Nyi Larasati
Asal usul Nyi Durga Larasati
 Semangat membara Tigor untuk melawan hanya bertahan sekejap, dia sempat memimpin pemberontakan para lelaki budak Nyi Durga yang langsung dapat dipadamkan. Tigor pun bersimpuh memohon ampun. Untuk menguji kesetiaannya Nyi Durga dengan kejinya memerintahkan Tigor untuk mencabut jantung Rani, perempuan yang pernah ditolong Tigor dan dalam hati kecil dicintainya. Tigor dengan kesetanan berkuda malam itu juga ke rumah Sang Saudagar, di mana Rani tinggal. Di sana dia membantai Rani dan kedua orang tua Rani. Dia merenggut jantung Rani mempersembahkannya kepada Nyi Durga. Namun ternyata apa gerangan? Yang ada di tangannya bukanlah jantung melainkan segumpal kapuk. Rani dan dua orang tuanya masih hidup, Tigor tak membunuh siapapun. Semua berkat campur tangan Si Kakek Tua yang datang tepat pada waktunya. Bingung dengan apa yang menimpanya, jiwa Tigor terguncang, dia pun jatuh pingsan.

Pemberontakan sesaat
Oh, Nyi Durga ampuni aku.
Tigor membantai Rani dan orang tuanya
Jantung kupersembahkan kepadamu
 Si Kakek Tua mengejar Nyi Durga yang telah kehilangan kecantikannya hingga ke suatu tempat di mana Sang Pendeta, guru Nyi Durga bersemayam. Pertarungan tak terhindarkan. Kalah sakti Kakek Tua itu tewas mengenaskan. Cerita belum berakhir di situ. Djair masih menyiapkan kejutan buat pembacanya. Tigor yang dirawat oleh keluarga Rani, sadar dari pingsannya. Dia tak memedulikan sekitarnya. Yang dia tahu, Nyi Durga dalam wujud nenek-neneklah yang harus bertanggungjawab atas kekacauan hidupnya, atas kematian Rani.

wujud asli Mbah Durga
Si Kakek Tua ini menjalankan peran "Kiyai" di film horor, tapi twistnya luar biasa.

Hingga berhari-hari selanjutnya Tigor menebar ketakutan di sejumlah desa. Dia membunuhi setiap perempuan tua, nenek-nenek yang disangkainya sebagai Nyi Durga. Banyak sudah korban yang jatuh. Banyak pula perempuan muda yang dikiranya sebagai Rani dipaksanya untuk kawin. Semua perbuatan itu dilakukan akibat tekanan jiwa. Suatu saat warga desa memergoki pembunuhan itu, mereka mengepung Tigor, siap hendak melenyapkannya. Tetapi seorang lelaki keturunan Arab yang kemudian menjadi kunci penting pengikat kisah Pelet dan Pekutukan dengan serial Jaka Sembung muncul menyelamatkan Tigor dari amukan warga yang kalap. Cerita Pelet pun berakhir di sini. Perjalanan Tigor yang hendak menebus kesalahan di tanah kelahiranya berujung tragis bagi semua pihak, ketragisan yang melengkapi jalannya menjemput perannya sebagai seorang dark lord.
Pembantaian atas simbah-simbah malang. Siapa yang sangka jadi begini?
Tigor tidak sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai pendekar pembela kebenaran, pembasmi kejahatan. Komik Pelet ini juga tidak bisa dimasukkan ke dalam komik silat walaupun ada silatnya juga. Permulaan petualangannya saja sudah diperkenalkan bahwa Tigor bukanlah orang baik-baik dan dia tidak segan menggunakan kemampuan silat dan kekerasan hanya untuk menuruti amarahnya. Tidak, dia bahkan bukan seorang antihero yang masih punya tujuan “mulia” dengan cara-cara tidak mulia, lebih mendekati dia ke konsep tragic hero sebenarnya, tokoh dalam cerita yang nasibnya selalu tragis dan nelangsa. Dia hanya seorang manusia pengelana yang terombang-ambing di sungai kehidupan untuk sesekali mendamparkan diri lalu mengapung kembali hanya untuk tersangkut atau membiarkan dirinya menyangkut dalam kekelaman. Bagiku inilah yang membuat Tigor terasa sangat manusiawi. Kisah Pelet ini mengingatkanku pada komik Tuan Tanah Kedawung-nya Ganes Th, jelas tidak sama persis, sebutlah Pelet adalah Tuan Tanah Kedawung-nya Djair Warni, Di mana drama kehidupannya lebih kuat dibanding adu kanuragan dan jurus-jurus maha sakti untuk meraih kemenangan. Semacam novel grafis lah, hanya saja saat itu belum ada istilah novel grafis.

Rani...Rani
Orang keturunan Arab yang ada kaitannya dengan serial Jaka Sembung
 Sosok Tigor ini bagai anomali jika dihadapkan kepada Parmin. Memang keduanya sama-sama tampan dan gagah, mahir bersilat pula, tetapi secara moral tidak putih, tidak juga tepat abu-abu, malah agak hitam namun tidak sepenuhnya hitam. Bingung kan? Sulit mengandaikan sikap moral Tigor melalui warna. Agak aneh juga melihat kenyataan Djair yang biasanya menggarap kisah tokoh persilatan golongan putih memberi perhatian kepada perjalanan hidup tokoh yang kemudian menjadi musuh dari golongan putih. Dimensi karakter Tigor berlapis dan maaf, tidak sedatar (dan semembosankan) karakteristiknya Parmin yang begitu suci, saleh, nyaris sempurna, tak terbantahkan, bahkan digelari Wali Kesepuluh—sosok yang sangat stoic, sosok bukan-manusia. Tipikal khas hero yang diwariskan dari produk budaya populer satu ke lainnya. Di sinilah letak keunikan Djair yang berani mengisahkan hero yang berbeda dari biasanya. Seakan ingin memberi keseimbangan melalui jalinan liku cerita kehidupan yang malah menimbulkan simpati kepada tokoh jahat. Hei, ini orang gak jahat sih tapi kok jahat juga, ya? Tapi dia ini juga bukan orang baik. Yah, dia hanya manusia seperti kita juga.

0 komentar: