Desainer yang (ter)dekat

21.44.00 Jino Jiwan 0 Comments


Belakangan, dimulai dari sepertiga akhir tahun 2015 di tempat aku kuliah saat ini/kala itu bila aku sudah lulus di prodi KBM UGM aku nyaris selalu dipercaya menggarap desain (baik poster/flyer hingga web) untuk acara-acara kampus baik yang bersifat internal maupun yang terbuka untuk umum. Tapi kata “dipercaya” barangkali terkesan angkuh dan terlalu menyanjung diri. Lebih tepatnya, menurut “Manager Prodi” bahwa aku “keno jagake” alias bisa diandalkan. Sebuah reputasi yang amat sesuatu bukan? Tentu saja itu semua karena sudah ada kedekatan dan kenyamanan yang ter/dibangun.

Garapan perdana di prodi KBM

Salah satu diskusi apik dan asyik tentang budaya populer yang mendunia. Peserta datang  dari luar kota demi diskusi ini.
Soal desain-mendesain aku bukanlah satu-satunya yang mampu. Setidaknya ada empat (atau lebih?) mahasiswa lain yang bisa mendesain dan setidaknya mengoperasikan software desain. Bahkan sepertinya sebagian di antara mereka lebih mumpuni sense of design-nya daripada aku, apalagi aku sudah lama pensiun ndesain sejak konsentrasi mengerjakan skripsi (yang butuh waktu sekitar 1,5 tahun) sekitar tahun 2012-2014. Aku sendiri tidak yakin fakta bahwa aku lulusan D3 DKV dan S1 DKV serta pernah punya pengalaman kerja di perusahaan desain grafis (atau yang bosku menyebutnya sebagai marketing & creative services) ada pengaruhnya terhadap kemampuan desain seseorang. Barangkali ada sih, namun tidak cukup signifikan, soalnya rekan kerja dahulu bukan lulusan prodi DKV, zaman itu belum ada.

Poster ini disebut oleh seorang dosen sebagai "selera bule". Sayangnya acaranya kurang ramai karena mungkin pembicaranya (Ien Ang) dianggap tidak cukup menarik. Pilinan tali kupilih untuk menggambarkan navigasi kompleksitas ilmu sosial sesuai yang dibahas Ien Ang. Seperti Gundam di atas, gambar ilustrasi boleh ambil dari Wikimedia.
Poster dies KBM yang aku sendiri kurang suka, tapi dipilih oleh ketua yang punya gawe. Yah relasi kuasa tak pernah setara.

Jadi kusimpulkan aku diminta ngerjain bukan hanya karena gak ada yang lainnya. Tapi karena dekat dengan “kekuasaan” alias ada access to power *wuuiiihh*. Kekuasaan kumasukkan dalam tanda kutip supaya tidak diartikan bahwa kekuasaan di sini sama dengan kekuasaan yang kerap digunakan di media-media massa yang berkisar pada para elite politik (ini juga frasa yang lebih rumit lagi sebenarnya) atau pejabat besar (sebagai lawan yang “kecil”). Kedekatan ini adalah gabungan berbagai faktor: kerapnya interaksi dengan Manajer Prodi, dosen, dan Sekprodi (yang mana juga dosen); seringnya nongkrong di kantor prodi yang berkaitan dengan mungilnya kantor prodi dan minimnya pegawai prodi; dan nikmatnya iklim kesunyian alias sedikitnya keramaian di sana.
Mencoba poster bujur sangkar. Maksudnya biar A3 dapat 2, tapi malah pas dicetak cuma dapat 1. Boros!

Salah satu acara paling sukses dari segi jumlah peserta. Empat sesi penuh semua. Resepnya adalah pembicaranya harus berstatus "dewa"

Pemutaran dan Diskusi Film produksi Kalyana Shira Foundation yang dihelat di Joglo Dusun Terung pada 22 Agustus 2015 adalah proyek pertama yang dipasrahkan kepadaku. Sejak itu aku mengerjakan desain Prodi KBM yang aku sendiri lupa sudah berapa jumlahnya. Tiap bulan atau beberapa bulan ada saja ajang akademis yang digelar prodi: diskusi/bedah buku, kuliah umum, seminar, lokakarya, hingga dies-nya. Tingkat gaya-gaya profesional sisa-sisa bekerja dahulu masih berbekas. Gimana itu misalnya? Aku sering memberi alternatif desain jika sedang luang waktu dan yang jelas tergolong cepat rampung. Tentu saja, wong mahasiswa full timer kok. Haah! Meski ini bergantung dari dosen mana yang memesan, karena ada dosen yang gak butuh alternatif. Tapi aku tidak menampik jika alternatif kumunculkan lebih karena kurang percaya diri dengan desainnya.
Dr. Haryatmoko memang jaminan penarik masa. Penghadir acara ini membludak. Namun buku ini memicu para dosen prodi KBM untuk bikin buku CDA juga.

Sempat ada seorang rekan kuliah di S2 ini yang mengira aku dapat (duit) banyak untuk desain-desain yang kubuat. Kujawab tidak, karena memang demikian kenyataannya pada saat itu. Tapi tolong agar apa yang kuketikkan ini tidak dianggap curhat demi memohon perhatian seperti yang pernah menimpa Presiden SBY sewaktu bilang gajinya sebagai presiden tidak pernah naik. Lalu memicu reaksi publik yang buatku pribadi kurang simpatik: Koin Untuk Presiden. Aku tidak akan menceritakan ini jika tidak ada yang bertanya. Tapi ada lebih banyak hal yang jauh lebih berharga dibanding uang, yaitu kepercayaan dan kemanfaatan. Jika aku bisa berkontribusi, maka aku akan menyumbangkan apapun yang bisa dan dekat denganku: desain. Toh, mendesain itu mudah buatku. Jika memang mudah kenapa tidak kulakukan, kan? Lagipula para penghadir di acara-acara yang digelar kampus pastilah beroleh ilmu dan jika dapat menjadi salah satu dari mata rantai penyampaian ilmu itu walau hanya sesederhana poster dengan riang  rela kukerjakan.
Ini poster yang aku juga kurang sukai. Topik yang abstrak biasanya membuatku kesulitan memikirkan visualnya. Coba deh, filsafat ilmu tu apa gambarnya?

Membicarakan topik ini aku jadi ingat polemik desain logo nomor pebalap Rio Haryanto yang sempat masuk sebuah tim gurem Minor Team Manor Team dan akhirnya dia dikeluarkan (syukurlah!), karena tidak kunjung melunasi “tiket masuk”-nya. Pada akun Facebook Rio Haryanto di mana kontes logo nomor 88 digelar (silakan googling), para Fesbuktizen, entah desainer grafis pemula, desainer abal-abal, desainer sambilan, atau yang amat sangat maha profesional yang sepertinya dirasuki ideologi dagang/pasar yang percaya bahwa desain harus MAHAL untuk menunjukkan bahwa suatu desain demikian bergengsi, sibuk berdebat berapa akan dibayar untuk desain yang belum pasti dipakai. Sibuk berdebat soal penghargaan, soal royalti, soal harga, bahwa ini kelasnya Formula 1 jadi harusnya hadiahnya lebih dari sekedar bertemu dengan Rio Haryanto dan desainnya dipasang di bodi mobil jet darat itu. Berbengek-bengek alasan dihamparkan: edukasi desainlah, bahwa desain itu gak mudahlah, bahwa desain itu perlu sekolahlah. Oh, astaga!

Salah satu poster yang disukai komentator di Facebook. Tentu saja. Karena mudah untuk memikirkan apa dan bagaimana dekolonisasi terjadi pada arsip visual kita.

Bagiku desainer grafis perlu juga disadarkan bahwa kadang gak semua perlu ditukarkan dengan uang. Cobalah bertanya mengapa yang namanya desain sampai dikondisikan sebagai sesuatu yang mahal? Mengapa desainer grafis harus dikaitkan dengan pekerjaan bergengsi? Mengapa sampai harus ada kuliahnya padahal kursus saja bisa?
Untuk acara yang satu ini aku dipermudah karena foto sudah disediakan. Aku tinggal main komposisi dan warna. Tapi biarpun gak dikasih foto semiotika musik lagu Tompi ini juga mudah sebenarnya jika divisualkan.

Bertahun lalu, prodi DKV ISI Jogja sempat membuahkan gagasan (gerakan?) Desain Gratis Indonesia, yang tujuannya adalah memberi konsultasi desain grafis/komvis secara gratis kepada siapa saja. Perhatikan pemlesetan grafis menjadi gratis. Beda satu huruf namun sudah jauh maknanya dan kuat kesannya. Dimulai pada sebuah pameran karya anak-anak DKV—yang jika disingkat akan menjadi DGI, terdengar sama seperti asosiasi Desain Grafis Indonesia ya?—gagasan yang menarik ini sayangnya tidak kuketahui lagi kelanjutannya. Yang jelas aspek kemanfaatannya lebih besar melampaui aspek keduitannya. Seperti Desain Gratis Indonesia mencoba melakukannya (aku duga sebetulnya tujuannya adalah mengedukasi masyarakat agar lebih menghargai desain, tapi aku lebih suka jika duit tidak terlalu dikejar), akupun ingin agar desain grafis dan DKV sebagai institusi pendidikan tidak terlampau terseret pada penghambaan terhadap duit, melainkan lebih ke arah kontribusi.


Acara reguler prodi KBM tiap tahun adalah Lokakarya oleh Romo Haryatmoko. Yang ini membahas Jean Baudrillard.
Masih acara rutin lokakarya Dr. Haryatmoko. Yang ini sebenarnya adalah alternatif desain tahun sebelumnya. Daripada tidak digunakan ya dipakai saja.

Tapi toh ternyata ada duit turun juga, meski ini tidak (sepenuhnya) diduga-duga. Dana untuk desain pun dialokasikan dan ia turun juga ke dompetku. Gak seberapa sih namun kusyukuri, dan jelas kujadikan sebagai hembusan semangat untuk terus mempertahankan reputasi yang kusebut di awal ketikan, semampuku, hingga tiba waktuku (lulus), kumau tak seorang pun mampu (tuk menggoyahkan niatanku).

Yang satu ini poster acara sambut kenal mahasiswa baru angkatan 2015. Berhubung yang jadi panitia adalah angkatan 2014 aku dikasih kerja paling ringan: desain posternya.

0 komentar: