Djair
Warni yang dikenal lewat karakter ciptaannya Jaka Sembung dan Si Tolol
tak diragukan adalah satu dari maestro komik silat Indonesia, yang meskipun
goresannya bisa dibilang tidak serapi dan seindah Teguh Santosa atau Ganes Th,
namun mempunyai kemampuan penceritaan yang baik dan termasuk melampaui zaman
dari segi keberanian pemikiran.
Kekhasan pemikirannya ini salah satunya
ditunjukkan dalam komik serial Jaka Sembung berjudul Singa Halmahera (1973), di mana ada tokoh biseksual di sana (Singa
Betina) yang diceritakan hampir saja bercinta dengan Sri, adik Parmin. Tapi ada
satu tokoh karangannya yang amat sangat tidak biasa dan berada di luaran hero
pada umumnya.
Dia bernama Tigor alias
“Arjuna” dari dwilogi komiknya yang kurang dikenal berjudul Pelet dan Pekutukan yang digarap tahun 1970-an. Padahal secara materi komik ini layak dialihmediakan menjadi film,
lengkap dengan bumbu seksnya, kesadisannya, dan jelas kleniknya. Sungguh sebuah
formula emas untuk menyusun film yang sukses di pasar bukan?
 |
Dari judul dan gambar sampul, kesan apa yang anda dapatkan? Horor? |
Berbeda
dengan sekuelnya Pekutukan yang
mengisahkan perjuangan Muhammad Ilham, seorang santri keturunan Parmin (alias Jaka Sembung) menyebarkan
ajaran Islam di desa Pekutukan, komik Pelet
berfokus pada jatuh bangunnya seorang pemuda asal tanah Karo, Sumatera Utara, bernama
Tigor yang nantinya menjadi lawan Muhammad Ilham.
Cerita dibuka di atas kapal
yang mengarung ke arah Sunda Kelapa, di mana Tigor yang diusir dari kampung
halamannya menolong seorang gadis bernama Rani, putri saudagar keturunan Tapanuli-Betawi
dari upaya perkosaan nahkoda kapal.
Tidak dijelaskan benar apa yang membuat Tigor
diusir keluarganya, dia hanya mengatakan bahwa dirinya telah ternoda dan
merusak nama baik orang tuanya yang berdarah bangsawan. Karena itulah dia
memutuskan lebih baik mengembara ke negeri orang meski tanpa tujuan pasti.
Niatnya hendak berdagang kandas, modal perbekalannya dicuri orang. Dari kesialan
inilah dia berjumpa dengan seorang perempuan cantik misterius yang menyeretnya
makin jauh ke kegelapan dan menghantarnya menjadi orang jahat.
 |
Bang Tigor yang terbuang di lautan |
 |
Tawaran yang mungkin bakal disesali Tigor |
Kehilangan
barang-barang berharga membuat Tigor menjual suaranya dari satu kedai ke kedai
makan lain. Tentu saja pelanggan kedai mencemoohnya berhubung lagu yang
dibawakan Tigor terdengar asing bagi mereka. Tapi ada juga yang menghargainya,
bahkan seorang pemilik kedai menawarinya untuk menyanyi secara tetap, yang
langsung ditolak oleh Tigor.
Penolakan tersebut berujung pengeroyokan. Seorang
perempuan bernama Nyi Durgalarasati mencegah pertumpahan darah, lalu menawari
Tigor untuk bekerja sebagai penyanyi di rumahnya. Tawaran itu diambil Tigor.
Pilihan apa lagi yang dia miliki? Dia tidak punya siapa-siapa atau apa-apa lagi,
toh perempuan cantik satu ini telah menyita pikirannya sejak pertemuan pertama
mereka berhari-hari lalu, ketika Nyi Durga memanggilnya dengan sebutan “Arjuna.”
Siapa yang sanggup menolak?
 |
Masa awal regionalisasi: lagu berbahasa Batak di tanah Betawi |
 |
Ah, Sang Arjuna dari Tanah Karo |
Rumah
Nyi Durga jauh masuk ke dalam hutan di tepi sungai Cisadane. Besar bagai istana
buatan Belanda namun menyeramkan dan seperti pemiliknya, menyimpan misteri di
balik dinding dan lorong-lorong bawah tanah. Malam itu juga Tigor diundang bermain
gitar dan menyanyi di kamar Nyi Durga. Ramuan yang sebelumnya ditenggak Tigor
membuat gairahnya memuncak, ditambah tarian erotis Nyi Durga di hadapannya,
jatuhlah Tigor ke dalam perangkap nikmat duniawi.
 |
Misteri dimulai dari sini |
 |
Siapa yang mampu mengelak dari Nyi Durga Larasati? |
 |
Adegan percintaan yang sugestif, tanpa perlu eksplisit. Mirip iklan Axe zaman sekarang. |
Sesuatu
yang memang telah diinginkan Nyi Durga semenjak mereka berjumpa, menyerap saripati
kemudaan Tigor lewat hubungan badan demi keawetmudaan dirinya sendiri, bagai succubus.
Oh, maaf bukan hanya bagai, memang IYA, Nyi Durga itu succubus, setidaknya dia pemuja… coba
tebak… Dewi Durga. Kejutan! Dan Tigor mengetahui rahasia mengerikan Nyi
Larasati yang molek itu ketika dia menyusuri sebuah sumur tua tembus ke
lorong-lorong gelap. Tapi apa dayanya, dia hanya lelaki biasa, Nyi Larasati
punya segalanya. Tigor terlanjur mabuk birahi, tak kuasa menolak karena PELET
Nyi Larasati.
 |
Nudis? Oh, bugil maksudnya. |
 |
Koleksi patung yang begitu hidup. |
Ah,
tentu saja bagi para penganut Kajian Budaya atau para PC SJW akan dengan
mudahnya menjadikan narasi komik Pelet sebagai
makanan empuk untuk dicincang dengan berbagai teori seksualitas, representasi, stereotipe,
male gaze, dsb. Bisa saja, tapi aku tak
hendak mengarah ke sana. Lanjuut.
Dibakar
cemburu, dua orang pemuda, Sastro dan Kasman yang selama ini ternyata juga
menjadi ‘tunggangan’ Nyi Durga berkomplot menyingkirkan Tigor, sang kuda baru
Nyi Durga. Mereka dengan segera menemui kegagalan. Nasib keduanya?
Mereka
dialihfungsikan menjadi penghias ruang bawah tanah, berupa dua bilah patung. Tubuh
mereka (dalam keadaan hidup) dituangi cairan ajaib mengubah jaringan manusia
sekeras batu seperti patung-patung lain yang sudah ada di situ sejak entah
kapan. Mereka tak lebih hanyalah mesin persatutubuhan bagi Si Perempuan Iblis
yang kalau boleh meminjam teks populer lain yang lebih kontemporer, mirip Melisandre
si pendeta merah dari serial tv Game of
Thrones.
Yah, Nyi Durga tak lain adalah perempuan uzur tua bangka berusia
ratusan tahun yang telah lama memakan ratusan korban laki-laki muda. Tigor,
untuk kedua kalinya diberi kesempatan untuk menebus kesalahan. Dia mengetahui fakta
ini saat bersua dengan seorang Kakek Tua yang mengaku suami Nyi Durga yang
dulunya bernama Latifah.
 |
Dalam kategori horor, Djair termasuk advance. Coba bayangkan ngerinya orang dijadikan patung. |
 |
Sang Kakek Tua, suami Nyi Larasati |
 |
Asal usul Nyi Durga Larasati |
Semangat
membara Tigor untuk melawan hanya bertahan sekejap, dia sempat memimpin
pemberontakan para lelaki budak Nyi Durga yang langsung dapat dipadamkan. Tigor
pun bersimpuh memohon ampun. Untuk menguji kesetiaannya Nyi Durga dengan
kejinya memerintahkan Tigor untuk mencabut jantung Rani, perempuan yang pernah
ditolong Tigor dan dalam hati kecil dicintainya.
Tigor dengan kesetanan berkuda
malam itu juga ke rumah Sang Saudagar, di mana Rani tinggal. Di sana dia membantai
Rani dan kedua orang tua Rani. Dia merenggut jantung Rani mempersembahkannya
kepada Nyi Durga. Namun ternyata apa gerangan? Yang ada di tangannya bukanlah
jantung melainkan segumpal kapuk. Rani dan dua orang tuanya masih hidup, Tigor
tak membunuh siapapun. Semua berkat campur tangan Si Kakek Tua yang datang tepat
pada waktunya. Bingung dengan apa yang menimpanya, jiwa Tigor terguncang, dia
pun jatuh pingsan.
 |
Pemberontakan sesaat |
 |
Oh, Nyi Durga ampuni aku. |
 |
Tigor membantai Rani dan orang tuanya |
 |
Jantung kupersembahkan kepadamu |
Si
Kakek Tua mengejar Nyi Durga yang telah kehilangan kecantikannya hingga ke
suatu tempat di mana Sang Pendeta, guru Nyi Durga bersemayam. Pertarungan tak
terhindarkan. Kalah sakti Kakek Tua itu tewas mengenaskan.
Cerita belum
berakhir di situ. Djair masih menyiapkan kejutan buat pembacanya. Tigor yang
dirawat oleh keluarga Rani, sadar dari pingsannya. Dia tak memedulikan
sekitarnya. Yang dia tahu, Nyi Durga dalam wujud nenek-neneklah yang harus
bertanggungjawab atas kekacauan hidupnya, atas kematian Rani.
 |
wujud asli Mbah Durga |
 |
Si Kakek Tua ini menjalankan peran "Kiyai" di film horor, tapi twistnya luar biasa. |
Hingga
berhari-hari selanjutnya Tigor menebar ketakutan di sejumlah desa. Dia
membunuhi setiap perempuan tua, nenek-nenek yang disangkainya sebagai Nyi Durga.
Banyak sudah korban yang jatuh. Banyak pula perempuan muda yang dikiranya
sebagai Rani dipaksanya untuk kawin. Semua perbuatan itu dilakukan akibat
tekanan jiwa.
Suatu saat warga desa memergoki pembunuhan itu, mereka mengepung
Tigor, siap hendak melenyapkannya. Tetapi seorang lelaki keturunan Arab yang kemudian
menjadi kunci penting pengikat kisah Pelet
dan Pekutukan dengan serial Jaka Sembung muncul menyelamatkan Tigor
dari amukan warga yang kalap. Cerita Pelet
pun berakhir di sini. Perjalanan Tigor yang hendak menebus kesalahan di tanah
kelahiranya berujung tragis bagi semua pihak, ketragisan yang melengkapi
jalannya menjemput perannya, meminjam istilah Star Wars, sebagai seorang dark
lord.
 |
Pembantaian atas simbah-simbah malang. Siapa yang sangka jadi begini? |
Tigor
tidak sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai pendekar pembela kebenaran,
pembasmi kejahatan. Komik Pelet ini
juga tidak bisa dimasukkan ke dalam komik silat walaupun ada silatnya juga.
Permulaan petualangannya saja sudah diperkenalkan bahwa Tigor bukanlah orang
baik-baik dan dia tidak segan menggunakan kemampuan silat dan kekerasan hanya
untuk menuruti amarahnya. Tidak, dia bahkan bukan seorang antihero yang masih
punya tujuan “mulia” dengan cara-cara tidak mulia, lebih mendekati dia ke
konsep tragic hero sebenarnya, tokoh
dalam cerita yang nasibnya selalu tragis dan nelangsa.
Dia hanya seorang
manusia pengelana yang terombang-ambing di sungai kehidupan untuk sesekali
mendamparkan diri lalu mengapung kembali hanya untuk tersangkut atau membiarkan
dirinya menyangkut dalam kekelaman. Bagiku inilah yang membuat Tigor terasa sangat
manusiawi.
Kisah Pelet ini
mengingatkanku pada komik Tuan Tanah
Kedawung-nya Ganes Th, jelas tidak sama persis, sebutlah Pelet adalah Tuan Tanah Kedawung-nya Djair Warni, Di mana drama kehidupannya
lebih kuat dibanding adu kanuragan dan jurus-jurus maha sakti untuk meraih
kemenangan. Semacam novel grafis lah, hanya saja saat itu belum ada istilah
novel grafis.
 |
Rani...Rani |
 |
Orang keturunan Arab yang ada kaitannya dengan serial Jaka Sembung |
Sosok
Tigor adalah anomali jika dihadapkan kepada Parmin Si Jaka Sembung. Memang keduanya sama-sama
tampan dan gagah, mahir bersilat pula, tetapi secara moral tidak putih, tidak
juga tepat abu-abu, malah agak hitam namun tidak sepenuhnya hitam. Bingung kan?
Sulit mengandaikan sikap moral Tigor melalui warna. Agak aneh juga melihat
kenyataan Djair yang biasanya menggarap kisah tokoh persilatan golongan putih
memberi perhatian kepada perjalanan hidup tokoh yang kemudian menjadi musuh
dari golongan putih.
Dimensi karakter Tigor berlapis dan maaf, tidak sedatar (dan
se'membosankan') karakteristiknya Parmin yang begitu suci, saleh, nyaris sempurna,
tak terbantahkan, bahkan digelari Wali Kesepuluh—sosok yang sangat stoic, sosok bukan-manusia. Tipikal khas
hero yang diwariskan dari produk budaya populer satu ke lainnya.
Di sinilah
letak keunikan Djair yang berani mengisahkan hero yang berbeda dari biasanya.
Seakan ingin memberi keseimbangan melalui jalinan liku cerita kehidupan yang malah
menimbulkan simpati kepada tokoh jahat. Hei,
ini orang gak jahat sih tapi kok jahat juga ya? Tapi dia ini juga bukan orang
baik.
Yah, dia hanya manusia biasa seperti kita juga.
0 komentar:
Posting Komentar