Tampilkan postingan dengan label Melihat ke dalam. Tampilkan semua postingan

Pascawisuda

Sebelum lebih jauh, di awal tulisan yang tidak aku tulis melainkan diketik ini, inginku mengutip cuitan verbatim dari akun Twitter seorang rekan kuliah yang berbunyi:

“mahasiswa baru tampangnya bahagia dan optimis. mahasiswa lama tampangnya kaya abis nelen jeruk nipis campur garem HAHAHA”

Cuitan ini dicuitkan sekira pertengahan tahun lalu ketika kami semua, mahasiswa sebuah prodi di S2 Pascasarjana UGM tengah berjuang merampungkan tesis di ujung masa akhir studi. Masa studi yang menurut peraturan maksimal hanya boleh mencapai sekian tahun saja, tidak lebih, bila kurang tentu bagus. Sehingga ketika akhirnya berhasil lulus dengan sukses, tidak ada yang lebih melegakan dan menyenangkan bagi diri ini. Sungguh! Lulus dari kampus sebesar UGM sungguh membahagiakan. Ungkapan yang terdengar nyinyir semacam, “selamat, sekarang anda akan menjadi pengangguran…” tidak akan mempan buatku.

Megah...i

Apa sebab? Pertama, biaya kuliahnya mahal. Tentu mahal itu relatif. Sebagai catatan atau upaya untuk mengenang jika aku tidak lagi ingat, satu semesternya mencapai delapan juta Rupiah (sebagai perbandingan, harga bakso yang ‘waras’ adalah sekitar 12 ribuan). Memang sih jika sudah melebihi 2 tahun alias sedang menggarap tesis, biaya menjadi ‘hanya’ lima juta Rupiah. Tapi tetap saja tergolong mahal buatku. Dengan kelulusan artinya aku tidak perlu lagi pusing soal biaya kuliah.

Alasan Kedua, kuliahnya sulit. Seberapa sulit jelaslah lagi-lagi relatif dan tergantung makna sulit itu sendiri yang akan berbanding lurus dengan seberapa cepat rampung atau tidak sehingga membutuhkan bahasan terpisah. Ada orang-orang [sok] bijak bilang bahwa jangan bilang sulit, karena nanti jadi sulit sungguhan. Masalahnya adalah setiap orang tidak punya modal yang sama untuk menghadapi serangkaian perkuliahan tertentu. Jadi shut the hell up. you byatch!

Inti ketikan yang ingin kuejawantahkan di sini kira-kira semacam ini: Kampus tak ubahnya bagai pabrik lulusan. Lulusan yang [harus] siap dipekerjakan di luar sana. Semakin cepat sebuah kampus menghasilkan lulusan, apalagi yang begitu lulus bisa langsung dapat kerja, semakin melangit reputasi kampus. Maka kian cepat pula kampus mendapat mahasiswa baru. Dengan begitu  semakin cepat juga kampus menyerap uang, karena masa depan pasca kelulusan bak menatap mentari terbit dari puncak Merapi, menjanjikan kemilau di ujung wisuda, dan ini semua bekerja bersama lewat berbagai perangkat yang telah diakademisikan (dibuat jadi akademik).

Bukan jangan-jangan, biaya kuliah tersebut di atas memang sengaja dirancang menekan agar mahasiswa tidak betah berlama-lama menguras ilmu dari kampus, melainkan cepat-cepat merampungkan kuliahnya, terjun ke dunia kerja, supaya segera beroleh kompensasi biaya kuliah yang sudah digelontorkan. Jika tidak, maka meminjam ucapan yang selalu terngiang dari seorang dosen: “anda harus segera memikirkan caranya rampung, karena mesin penagih SPP terus berputar.”

Kata-kata dosen ini menarik karena idiom ‘mesin’ yang dipilihnya. Mesin adalah perangkat yang mekanis, bekerja atas sebuah desain berdasar sistem demi melayani suatu fungsi. Mesin penagih SPP adalah perangkat akademis yang dibuat berjalan bersamaan dengan aturan cepat lulus dari kampus.
Biaya sa’hoha di atas lantas diwajar-wajarkan sebagai konon katanya bagian dari peningkatan mutu. Bahwa seiring dengan biaya tinggi akan ada kualitas yang ditingkatkan, walau sependek penyederhanaan dana yang telah mencakup biaya wisuda. Menyembunyikan usaha menaikkan pamor dan akreditasi prodi yang disangkutkan di mata calon mahasiswa. “Oh, biaya mahal berarti kuliahnya bermutu tinggi.” Nalar barang mahal lantas berarti kualitas tinggi diterapkan dalam dunia pendidikan.

Soal cepat dapat kerja, aku gak bilang dapat kerja atau menjadi pekerja itu buruk. Kita semua perlu kerja dan ditakdirkan jadi ‘pekerja’ biar bisa dapat uang untuk bisa terus hidup. Bukankah begitu konsekuensi hidup di alam kapitalisme? Gak heran pula bila si penyanyi dari grup band Nidji menginginkan agar skripsi dihapus saja diganti menjadi magang.

Hahahah…, nalar apa lagi jika bukan nalar dagang yang melanda otak si penyanyi band? Dia tentu kecewa bahwa skripsinya tidak bisa dibuat cari kerja dan memang bukan untuk dapat kerja. Lantas pendidikan menurutnya—seperti orang Indonesia pada umumnya—seharusnya jadi tiket untuk dapat kerja. Dunia pendidikan [tinggi] jadi serba transaksional. Tapi mau bagaimana lagi, wong nama kabinet menteri di Indonesia [saat ini] ya Kabinet Kerja.

Bukannya praktik memberi nama berarti memberi makna? Penamaan demikian menyajikan obsesi pemerintah secara gamblang, yaitu kerja (atau kelihatan kerja?). Pemerintah juga tidak bisa sepenuhnya dituding sebagai biangnya. Ia adalah cerminan mayoritas rakyatnya yang memang terobsesi dengan pekerjaan, sedangkan pemerintah diharapkan jadi penyedia lapangan kerja. Maka jadilah nama kabinet yang serba molitis.

Sambutan Si Lulusan Terbaik (aku tidak tahu namanya siapa) di Sekolah Pascasarjana kala wisuda April lalu dapat dijadikan patokan. Si Mbak yang sudah ibu-ibu ini menyampaikan paradoks usang yang terus disampaikan berulang-ulang soal dunia pendidikan yang kira-kira apalagi kalau bukan: “kebutuhan antara dunia kerja tidak sejalan dengan pendidikan.”

*Ya, iyalah. Siapa bilang harus sejalan?

Pembacaanku terhadap pernyataan Si Mbak Lulusan Terbaik adalah, dia berharap sama seperti Si Penyanyi band Nidji supaya pendidikan jadi pelayan dunia kerja dan dunia kerja jadi lahan untuk para lulusan kampus untuk bekerja. Klasik dan klise. Predictable and exhausted.

Bagiku paradoks sesungguhnya kalau memang mau diada-adakan tentang dunia pendidikan adalah ketika mahasiswa yang sukses saat kuliah (nilai tinggi dan dengan kebanggaan menyandang predikat kumlaut yang dibuktikan selempang di pundak) malahan kalah telak suksesnya dibandingkan mahasiswa yang prestasi akademiknya biasa saja.

Tentu definisi sukses adalah [lagi-lagi] relatif, seperti konon katanya ganteng adalah relatif. Namun situasi yang non hipotetikal di atas jelas ada dan menunjukkan ada yang keliru dengan cara pengelolaan atau lebih tepatnya arah pendidikan.

Lalu masih dari Si Lulusan Terbaik Pascasarjana. Dia dengan nada humble bragging-nya berucap yang kira-kira: “saya lulus bukan karena saya paling pintar, tapi karena saya paling taat aturan...”
Aku cuma bisa geleng-geleng sembari ngekek in silent sendiri plus palm face. Duduk di belakangku wisudawan lain turut berkomentar, “oh, berarti yang lain gak taat aturan…cuman kamu yang taat.”

Hah, aturan. Aturan kampus yang telah pakem tidak pernah dipertanyakan lagi oleh mahasiswa. Memang begitulah adanya dan begitulah seharusnya dan itulah yang dilabeli sebagai sikap disiplin, taat, setia. Dapat nilai dominan A, lulus cepat, cepat dapat kerja pula. Sekali lagi, ya karena kampus sudah berubah jadi pabrik.

Inginnya cepat ini tidak mengherankan. Manusia Indonesia memanglah terobsesi dengan pertanyaan kapan. Kapan yang menunjukkan tempo sesingkatnya, bahkan cenderung diburu-buru. Seolah tidak ada waktu nanti ataupun esok hari. Apa-apa harus serba cepat. “Lebih cepat lebih baik” katanya. “Mengejar ketertinggalan” katanya.

Sialnya, aku berkuliah di prodi pemikir. Sementara kerja berarti membuat langkah ‘nyata,’ mikir berarti tidak kerja melainkan termenung-menung tiada guna. Termasuk ngomyang dewe di blog pribadi. Jangan buru-buru bersangka-ria. Aku dulunya pun sempat punya pikiran pragmatis praktis seperti Si Mbak Lulusan Terbaik. Aku dulu mengejek orang yang kuliah terus tapi ujung-ujungnya nganggur tanpa penghasilan hanya karena belum sepenuhnya sadar bahwa barangkali orientasi pendidikannya yang perlu digugat. Di sinilah buahnya aku berkuliah di prodi pemikir, biar mahasiswa yang belum kunjung lulus tidak seperti nelen jeruk nipis plus garam.

Desainer yang (ter)dekat


Belakangan, dimulai dari sepertiga akhir tahun 2015 di tempat aku kuliah saat ini/kala itu bila aku sudah lulus di prodi KBM UGM aku nyaris selalu dipercaya menggarap desain (baik poster/flyer hingga web) untuk acara-acara kampus baik yang bersifat internal maupun yang terbuka untuk umum. Tapi kata “dipercaya” barangkali terkesan angkuh dan terlalu menyanjung diri. Lebih tepatnya, menurut “Manager Prodi” bahwa aku “keno jagake” alias bisa diandalkan. Sebuah reputasi yang amat sesuatu bukan? Tentu saja itu semua karena sudah ada kedekatan dan kenyamanan yang ter/dibangun.

Garapan perdana di prodi KBM

Salah satu diskusi apik dan asyik tentang budaya populer yang mendunia. Peserta datang  dari luar kota demi diskusi ini.
Soal desain-mendesain aku bukanlah satu-satunya yang mampu. Setidaknya ada empat (atau lebih?) mahasiswa lain yang bisa mendesain dan setidaknya mengoperasikan software desain. Bahkan sepertinya sebagian di antara mereka lebih mumpuni sense of design-nya daripada aku, apalagi aku sudah lama pensiun ndesain sejak konsentrasi mengerjakan skripsi (yang butuh waktu sekitar 1,5 tahun) sekitar tahun 2012-2014. Aku sendiri tidak yakin fakta bahwa aku lulusan D3 DKV dan S1 DKV serta pernah punya pengalaman kerja di perusahaan desain grafis (atau yang bosku menyebutnya sebagai marketing & creative services) ada pengaruhnya terhadap kemampuan desain seseorang. Barangkali ada sih, namun tidak cukup signifikan, soalnya rekan kerja dahulu bukan lulusan prodi DKV, zaman itu belum ada.

Poster ini disebut oleh seorang dosen sebagai "selera bule". Sayangnya acaranya kurang ramai karena mungkin pembicaranya (Ien Ang) dianggap tidak cukup menarik. Pilinan tali kupilih untuk menggambarkan navigasi kompleksitas ilmu sosial sesuai yang dibahas Ien Ang. Seperti Gundam di atas, gambar ilustrasi boleh ambil dari Wikimedia.
Poster dies KBM yang aku sendiri kurang suka, tapi dipilih oleh ketua yang punya gawe. Yah relasi kuasa tak pernah setara.

Jadi kusimpulkan aku diminta ngerjain bukan hanya karena gak ada yang lainnya. Tapi karena dekat dengan “kekuasaan” alias ada access to power *wuuiiihh*. Kekuasaan kumasukkan dalam tanda kutip supaya tidak diartikan bahwa kekuasaan di sini sama dengan kekuasaan yang kerap digunakan di media-media massa yang berkisar pada para elite politik (ini juga frasa yang lebih rumit lagi sebenarnya) atau pejabat besar (sebagai lawan yang “kecil”). Kedekatan ini adalah gabungan berbagai faktor: kerapnya interaksi dengan Manajer Prodi, dosen, dan Sekprodi (yang mana juga dosen); seringnya nongkrong di kantor prodi yang berkaitan dengan mungilnya kantor prodi dan minimnya pegawai prodi; dan nikmatnya iklim kesunyian alias sedikitnya keramaian di sana.
Mencoba poster bujur sangkar. Maksudnya biar A3 dapat 2, tapi malah pas dicetak cuma dapat 1. Boros!

Salah satu acara paling sukses dari segi jumlah peserta. Empat sesi penuh semua. Resepnya adalah pembicaranya harus berstatus "dewa"

Pemutaran dan Diskusi Film produksi Kalyana Shira Foundation yang dihelat di Joglo Dusun Terung pada 22 Agustus 2015 adalah proyek pertama yang dipasrahkan kepadaku. Sejak itu aku mengerjakan desain Prodi KBM yang aku sendiri lupa sudah berapa jumlahnya. Tiap bulan atau beberapa bulan ada saja ajang akademis yang digelar prodi: diskusi/bedah buku, kuliah umum, seminar, lokakarya, hingga dies-nya. Tingkat gaya-gaya profesional sisa-sisa bekerja dahulu masih berbekas. Gimana itu misalnya? Aku sering memberi alternatif desain jika sedang luang waktu dan yang jelas tergolong cepat rampung. Tentu saja, wong mahasiswa full timer kok. Haah! Meski ini bergantung dari dosen mana yang memesan, karena ada dosen yang gak butuh alternatif. Tapi aku tidak menampik jika alternatif kumunculkan lebih karena kurang percaya diri dengan desainnya.
Dr. Haryatmoko memang jaminan penarik masa. Penghadir acara ini membludak. Namun buku ini memicu para dosen prodi KBM untuk bikin buku CDA juga.

Sempat ada seorang rekan kuliah di S2 ini yang mengira aku dapat (duit) banyak untuk desain-desain yang kubuat. Kujawab tidak, karena memang demikian kenyataannya pada saat itu. Tapi tolong agar apa yang kuketikkan ini tidak dianggap curhat demi memohon perhatian seperti yang pernah menimpa Presiden SBY sewaktu bilang gajinya sebagai presiden tidak pernah naik. Lalu memicu reaksi publik yang buatku pribadi kurang simpatik: Koin Untuk Presiden. Aku tidak akan menceritakan ini jika tidak ada yang bertanya. Tapi ada lebih banyak hal yang jauh lebih berharga dibanding uang, yaitu kepercayaan dan kemanfaatan. Jika aku bisa berkontribusi, maka aku akan menyumbangkan apapun yang bisa dan dekat denganku: desain. Toh, mendesain itu mudah buatku. Jika memang mudah kenapa tidak kulakukan, kan? Lagipula para penghadir di acara-acara yang digelar kampus pastilah beroleh ilmu dan jika dapat menjadi salah satu dari mata rantai penyampaian ilmu itu walau hanya sesederhana poster dengan riang  rela kukerjakan.
Ini poster yang aku juga kurang sukai. Topik yang abstrak biasanya membuatku kesulitan memikirkan visualnya. Coba deh, filsafat ilmu tu apa gambarnya?

Membicarakan topik ini aku jadi ingat polemik desain logo nomor pebalap Rio Haryanto yang sempat masuk sebuah tim gurem Minor Team Manor Team dan akhirnya dia dikeluarkan (syukurlah!), karena tidak kunjung melunasi “tiket masuk”-nya. Pada akun Facebook Rio Haryanto di mana kontes logo nomor 88 digelar (silakan googling), para Fesbuktizen, entah desainer grafis pemula, desainer abal-abal, desainer sambilan, atau yang amat sangat maha profesional yang sepertinya dirasuki ideologi dagang/pasar yang percaya bahwa desain harus MAHAL untuk menunjukkan bahwa suatu desain demikian bergengsi, sibuk berdebat berapa akan dibayar untuk desain yang belum pasti dipakai. Sibuk berdebat soal penghargaan, soal royalti, soal harga, bahwa ini kelasnya Formula 1 jadi harusnya hadiahnya lebih dari sekedar bertemu dengan Rio Haryanto dan desainnya dipasang di bodi mobil jet darat itu. Berbengek-bengek alasan dihamparkan: edukasi desainlah, bahwa desain itu gak mudahlah, bahwa desain itu perlu sekolahlah. Oh, astaga!

Salah satu poster yang disukai komentator di Facebook. Tentu saja. Karena mudah untuk memikirkan apa dan bagaimana dekolonisasi terjadi pada arsip visual kita.

Bagiku desainer grafis perlu juga disadarkan bahwa kadang gak semua perlu ditukarkan dengan uang. Cobalah bertanya mengapa yang namanya desain sampai dikondisikan sebagai sesuatu yang mahal? Mengapa desainer grafis harus dikaitkan dengan pekerjaan bergengsi? Mengapa sampai harus ada kuliahnya padahal kursus saja bisa?
Untuk acara yang satu ini aku dipermudah karena foto sudah disediakan. Aku tinggal main komposisi dan warna. Tapi biarpun gak dikasih foto semiotika musik lagu Tompi ini juga mudah sebenarnya jika divisualkan.

Bertahun lalu, prodi DKV ISI Jogja sempat membuahkan gagasan (gerakan?) Desain Gratis Indonesia, yang tujuannya adalah memberi konsultasi desain grafis/komvis secara gratis kepada siapa saja. Perhatikan pemlesetan grafis menjadi gratis. Beda satu huruf namun sudah jauh maknanya dan kuat kesannya. Dimulai pada sebuah pameran karya anak-anak DKV—yang jika disingkat akan menjadi DGI, terdengar sama seperti asosiasi Desain Grafis Indonesia ya?—gagasan yang menarik ini sayangnya tidak kuketahui lagi kelanjutannya. Yang jelas aspek kemanfaatannya lebih besar melampaui aspek keduitannya. Seperti Desain Gratis Indonesia mencoba melakukannya (aku duga sebetulnya tujuannya adalah mengedukasi masyarakat agar lebih menghargai desain, tapi aku lebih suka jika duit tidak terlalu dikejar), akupun ingin agar desain grafis dan DKV sebagai institusi pendidikan tidak terlampau terseret pada penghambaan terhadap duit, melainkan lebih ke arah kontribusi.


Acara reguler prodi KBM tiap tahun adalah Lokakarya oleh Romo Haryatmoko. Yang ini membahas Jean Baudrillard.
Masih acara rutin lokakarya Dr. Haryatmoko. Yang ini sebenarnya adalah alternatif desain tahun sebelumnya. Daripada tidak digunakan ya dipakai saja.

Tapi toh ternyata ada duit turun juga, meski ini tidak (sepenuhnya) diduga-duga. Dana untuk desain pun dialokasikan dan ia turun juga ke dompetku. Gak seberapa sih namun kusyukuri, dan jelas kujadikan sebagai hembusan semangat untuk terus mempertahankan reputasi yang kusebut di awal ketikan, semampuku, hingga tiba waktuku (lulus), kumau tak seorang pun mampu (tuk menggoyahkan niatanku).

Yang satu ini poster acara sambut kenal mahasiswa baru angkatan 2015. Berhubung yang jadi panitia adalah angkatan 2014 aku dikasih kerja paling ringan: desain posternya.


Seberapa Perlu Hukuman Mati?

Tampaknya kata hukuman mati masih laku dicetuskan sebagai the ultimate punishment ever known nowadays. Tapi pertanyaan sesungguhnya mengenai perlukah hukuman mati diterapkan buat tindakan yang saat ini dianggap kejahatan besar terhadap manusia: korupsi, terorisme, pengedar/pembuat narkoba, dan kekerasan seksual/perkosaan, tak pernah dipertanyakan.

Argumen dari para pendukungnya selalu berkisar pada pemberian efek jera. Meskipun aku tidak mengerti bagaimana bisa seseorang menjadi jera setelah dia dihukum mati? Kan sudah mati, gimana mau jera? Jadi yang tepat adalah pemberian efek takut akan kematian dan cinta pada kehidupan (makanya seorang diharapkan tidak akan mencoba melakukan kejahatan), bahkan efek mengasihi sesama yang diharapkan muncul belakangan setelahnya pun kabur bin samar. Yang mana agaknya ini bukan sesuatu yang diingini oleh para religiawan (bukan?) yang selalu mengatakan kita tidak boleh takut mati karena pasti terjadi dan hanya soal waktu (begitu kata Bimbo). Lagipula khusus  untuk pelaku terorisme berkedok agama sudah pasti adalah orang yang sudah siap mati. Maksudku, memberi hukuman mati kepada teroris menjadi sesuatu yang sia-sia, karena kematian itu sudah masuk agenda mereka.

Masalah pertama dari hukuman mati adalah statusnya. Apa bedanya hukuman mati dengan pembunuhan? Bukankah hukuman mati pada dasarnya pembunuhan juga, hanya saja dilegalkan atas nama hukum?

Kedua, perlukah dibuat pembedaan proses hukuman mati untuk kejahatan berbeda hanya demi mengejar efek horornya yang mana berkaitan dengan pemberian efek takut tadi? Perlukah terpidana korupsi dihukum mati dengan cara berbeda? Ini sekedar ide sih. Agak gila tapi bagiku kreatif. Misalnya si koruptor digantung pada tangannya lalu pada kakinya diikat sebuah tank yang disesuaikan dengan jumlah korupsinya. Kemudian seperti orang yang dihukum gantung pada umumnya, di bawah tank sudah disiapkan pintu jebakan yang ketika dibuka tank akan meluncur ke bawah. Si koruptor akan mati kehabisan darah setelah tangan atau kakinya putus (jika tidak segera ditolong, ATAU haruskah dia ditolong?). Gimana? Cukup gory bukan? Lumayan horor kan? Sudah takut korupsi belum?

crippled batman
Atau bagaimana jika pelaku kekerasan seksual (perkosaan, dll.) dihukum penggal kelamin alias kebiri? Bagiku kebiri sendiri sejatinya merestui dendam kesumat yang tersimpan bagai bara dalam sekam dari struktur dan peran masyarakat yang senantiasa dibiarkan lalu diawetkan sebagai oposisi biner: laki-laki//perempuan. Kenapa? Karena kebiri mengandaikan pelakunya hanya laki-laki dan hanya laki-laki sementara korbannya hanya perempuan dan hanya perempuan. Bagaimana jika pelaku kekerasan seksual adalah perempuan? Apanya yang mau dikebiri? Kebiri juga mengandaikan persetujuan atas mitos bahwa laki-laki memikirkan dan selalu menikmati seks sementara perempuan…

pisang yang buluk dan tak menarik (lagi)
Ketiga, siapa yang akan melakukan hukuman mati jika tidak ada algojo(eksekutor)nya atau tidak ada yang mau jadi algojo? Sebelum anda bilang tidak mungkin, aku bilang bayangkan saja sebuah keadaan di mana segenap algojo yang kita punya sedang terserang demam plus diare akut. Aku ingin tanya buat para pendukung hukuman mati, maukah anda menjadi orang yang mengeksekusi terpidana dengan tangan atau kaki (atau apapun) anda sendiri? Dan tidak usah memberiku omong kosong soal jika memang sudah tugas dan kewajiban maka saya akan lakukan, karena jika seorang punya pilihan maka pasti saat ini tidak ada yang mau melakukan pekerjaan mengerikan, melukai tubuh/mengambil hidup orang lain biarpun legal dan dibayar untuk itu kecuali untuk alasan hegemonik, misal: yang percaya bahwa menjadi algojo adalah bagian dari ibadah.
Bayangkan kini di hadapan anda sudah terikat pasrah terpidana mati dan di tangan anda ada sebuah senapan berisi peluru. Maukah anda menekan pelatuk ke arah jantung atau bahkan pelipis terpidana? Kecuali anda punya kecenderungan sakit jiwa, sudah biasa membunuh, terbakar dendam karena korban adalah kerabat anda, pastilah menolak.

Terakhir, kenapa orang yang menolak hukuman mati dianggap pengecut, tidak tegas, dan dituduh mendukung kejahatan atau bahkan disangka akan melakukan kejahatan itu? Tidakkah ada argumen balik yang lebih valid? Tidakkah rangkaian kata yang anda baca ini bisa dimaknai sebagai sebuah langkah yang berani?

Merapi 5 Tahun Lalu bag 2

Siapa yang menyangka Merapi mampu segarang ini? Di hari pertamanya saja Mbah Maridjan direnggutnya. Siapa pula yang salah jika bencana alam menimpa? Alamkah? Tuhankah? Atau manusianya? Manusia “modern” hari ini nyatanya mengalami keterputusan dengan sejarah alamnya sendiri. Mengira teknologi murahan bisa melampaui alam. Yang kubicarakan adalah tivi dan semua tayangannya yang sok mau peduli padahal menjadikan kesusahan orang lain tak lebih sebagai pajangan berulang-ulang demi bisa dijual, dijual supaya banyak orang menontonnya, supaya banyak iklan yang masuk dalam lingkaran “breaking news” tanpa akhir. Di saat berita-berita di tivi tidak dapat diandalkan, tidak bisa dipercaya, dan tak lebih dari cerita sensasional, orang biasa hanya bisa percaya pada nalurinya. Naluri untuk hidup.

30 Oktober 2010 (Sabtu)
Dini hari jam setengah 3 aku terbangun. Agak blank, efek dari tidur yang gak dimaksudkan tidur alias ketiduran. Lampu menyala di ruang tengah. Bapak Ibu pakai masker memantau layar tivi. Aroma belerang kencang berembus, mungkin karena bau ini aku terbangun. Tetangga-tetangga pada terjaga. Mereka sudah bersiap mengungsi jika keadaan kian gawat. Mas Mar, tetangga kami yang juga masih saudara datang ngajak ngungsi ke tempat Bude Nah di daerah Sedan. Aku pun siap-siap juga, baju, charger hape dan kamera semua masuk tas. Siap untuk berangkat.

Merapi erupsi lagi jam 00.12-00.30 tadi. Repoter Metro Tv, Lalita yang berjilbab itu menceritakan bagaimana tangannya melepuh sesudah memegang ‘tepung’ abu gunung. BPPTK memperkirakan jarak luncuran awan panas dapat mencapai 10 km. Itu jarak yang cukup jauh. Artinya akan ada lebih banyak korban.

Ibu bilang abu di luar tebal. Aku lihat ke belakang rumah, hujan abu masih turun, abu putih kecoklatan terlihat menumpuk kira-kira 0,5-1 cm. Belum pernah sebelumnya seperti ini. Iseng aku menyendoki abu Merapi di pekarangan, menyimpannya dalam kantong plastik untuk kenang-kenangan.

Abu Merapi bisa juga untuk narsis (30 Oktober 2010)
Hari itu kami tidak jadi ngungsi. Keadaan masih bisa dibilang normal.

Setelah matahari muncul warna putih kecoklatan terlihat bertebaran di mana-mana di sekitar rumah dan masjid dekat rumah. Abu menutupi hampir semua dedaunan yang ada. Ketika angin bertiup abu itu akan terbang tak karuan. Pakai masker jadi wajib hukumnya. Merapi di utara sana tidak tampak sedikitpun. Langit pun hanya putih semi kelabu, tapi itu bukan jenis mendung yang menyimpan hujan.

Mbah Dasih tetangga desa menyebrangi abu (30 Oktober 2010)
Dengan motor aku “jalan-jalan” mengitari Pakem lalu ambil ke barat kemudian ke selatan ke jalan Palagan Tentara Pelajar mengamati separah apa hujan abu yang terjadi. Jalanan memutih dengan hanya menyisakan sedikit yang tidak tertutup abu. Ingin aku mengambil gambar tapi aku masih sayang kameraku. Aku tak mau kameraku kemasukan partikel abu yang bisa saja merusak lensa atau bagian dalamnya.

Di jalan ada warga yang mengalirkan air dari sungai kecil ke jalan. Mereka bergotong royong membersihkan tumpukan abu dari jalan. Biasanya hujanlah yang melakukan pekerjaan ini, tapi ia tidak turun hari itu.

Kendaraan yang melintas (terutama truk) membuat abu berlarian tapi sekaligus menyibak jalan aspal dari abu. Setiap kali ada truk lewat aku akan pelan-pelan dan menepi. Untungnya aku pakai masker tiga lapis. Masker ini pada awalnya cukup membantu namun hanya 30-an menit naik motor aku sudah mulai agak puyeng. Tak tahu pasti apa penyebabnya, kurasa itu karena saking banyaknya abu yang terhampar. Belum lagi mata ini sering kelilipan biarpun sudah pakai helm berkaca. Suasana parah dan udara yang panas memaksaku balik pulang.

Erupsi Merapi tanggal 1 November 2010. Foto diambil dari sebelah rumahku
3 November 2010 (Rabu)
Kerjaan Kritik DKV selesai jelang maghrib, pas berita Merapi sedang heboh-hebohnya. Radius daerah bahaya diperluas jadi 15 km dari puncak gunung setelah sebelumnya 10 km.

4 November 2010 (Kamis)
Sore itu jam 4 suara gemuruh “glodak-glodak” terdengar dari arah utara. Mirip suara petir tapi terus menerus dan makin lama makin santer. Aku tidak tahu suara apa itu. Aku menyimpulkan itu suara banjir lahar dingin yang sangat dahsyat melewati beberapa kali yang berhulu di Merapi. Mungkin banjir ini membawa batu-batu besar yang saling bertumbukan sehingga menimbulkan seperti itu.

Sekali lagi kami bersiap mengungsi. Kembali aku berkemas, memasukkan baju dan segala sesuatu ke dalam tas. Jantungku berdegup kencang. Tentu saja aku takut kalau banjir lahar dingin sampai menjebol beteng (tanggul) yang membentengi dusun dari kali Boyong. Aku ikut termakan cemasnya Ibu hari itu. Seorang teman adikku yang tinggal di kota sempat menanyakan “suara apa itu dari atas sana?” (rupanya suara “glodak-glodak” tadi terdengar hingga kota). Dan tak seorang pun yang tahu pasti itu suara apa.

Toh, setelah kami melihat sendiri keadaan dam di utara dusun dan jembatan di selatan dusun tidak tampak banjir lahar yang besar. Banjirnya masih kategori biasa belum sedahsyat tahun 1997. Jadi kami bisa tenang untuk malam itu. Setidaknya sampai mendengar rumor jembatan di Pulowatu (sebuah desa di utara) hancur akibat banjir lahar.

Malam itu listrik menyala setelah sempat padam dari sore. Kami duduk di depan tivi, berpindah dari Metro ke TvOne dari TvOne ke Metro tapi tak mendengar berita yang berarti. Tak ada berita tentang jembatan yang ambrol.
...

Esoknya, dini hari tanggal 5 November erupsi terbesar terjadi.

Merapi 5 Tahun Lalu

Dua kali warga Jogja dikejutkan. Tahun 2006 oleh gempa bumi dari arah selatan dan tahun 2010 oleh letusan gunung Merapi dari arah utara. Jogja yang nampaknya damai-damai saja dan selama ini selalu dijual seperti itu nyatanya dikepung oleh kuasa alam yang lebih dahsyat dari kemampuan manusia. Padahal yang namanya bencana alam datangnya tidak pernah ujug-ujug. Bencana alam selalu berulang dan terus berulang dalam rentang waktu tertentu. Mungkin biar manusia tidak meremehkan apa yang sekilas kelihatan jinak. Mungkin biar manusia tidak melupakan, bagaimana dulu mereka bisa tetap hidup dan ada hingga hari ini salah satu di antaranya karena sudah melewati hal yang sama, bencana yang sama.


Berikut adalah catatan harianku dari tahun 2010 selama masa-masa krisis Merapi yang kuketik ulang (dengan singkat) buat sekedar pengingat paling tidak buatku pribadi. Rumah keluargaku yang terhitung berada dalam jarak tidak aman di sebuah dusun di tepi kali yang berhulu di Merapi memaksa keluargaku mengungsi selama belasan hari. Tahun 2010 adalah tahun yang padat peristiwa. Musim hujan Oktober 2010 mengalirkan kemuraman, sepakbola Indonesia tengah menghadapi dua liga (LPI dan LSI), Jakarta sibuk dengan banjirnya, Mentawai diterjang tsunami, dan aku baru setahun di ISI Yogyakarta (yang sedang dies natalis) menjalani status sebagai mahasiswa dengan tanggungan tugas yang gila-gilaan.

25 Oktober 2010 (Senin)
Sore itu aku nggarap kerjaan kelompok Sosiologi Desain “Gaya Hidup Guru” di kosan Tjep. Yang kerja hanya aku dan Yanto yang ternyata berbakat membual dengan banjiran kata-kata yang dia ketik secara semena-mena (aku bilang dia pasti dapat 9 untuk pelajaran Bahasa Indonesia, mungkin itu sebab dia akan memilih jalur skripsi untuk lulus dari ISI), sementara Tjep dan Kelik cuma setor muka dan tidur.

Mas Tardai, office assitant tempat aku dulu kerja di KF ngirim sms kabar-kabaran. Dia bilang banjir Jakarta memang sekronis di tivi, kantor baru kembali merayakan ultah Pak Bos dengan traktiran Bakmi GM, dan Mbak Sus, sekretaris kantor akan menikah Desember nanti. Wah, selamat!

Sampai rumah aku baru tahu dari Bapak situasi terbaru Merapi yang sekarang berstatus “AWAS.” That means it’s about to explode. Tadi siang kata Bapak, di Pakem berjubelan awak-awak tivi nasional: Indosiar, Trans, TvOne, Metro, dll...Mereka berlomba cari berita, kurasa dengan sedikit berharap sesuatu yang buruk terjadi. Supaya bisa menjadi yang pertama menyiarkan berita (yang buruk). Btw, Metro Tv menayangkan berita bahwa Merapi kali ini mungkin akan meletus secara eksplosif alias tidak hanya melelerkan lahar dan wedhus gembel. Aku tidak yakin dengan berita ini. Setahuku Merapi bukan tipe gunung yang eksplosif. Merapi punya tipe letusan yang spesial, setidaknya itu kata para ahli pergunungan.

26 Oktober 2010 (Selasa)
Sore tadi Merapi meletus. Itu letusan pertama sejak 2006. Berita di tivi bilang letusannya terjadi jam 5 sore sebanyak tiga kali. Seluruh tivi berbarengan menayangkan Merapi. Berita di tivi tetap mengatakan bahwa itu adalah letusan eksplosif, meski kepala BPPTK meragukan kemungkinan itu. Tayangan memperlihatkan abu gunung bertebaran di jaket dan rambut reporter dan juga di motor/mobil yang lalu lalang di jalan Kaliurang.

Ibu cemas banget,bahkan ngajak ngungsi ke Bude Rin (kakak kandung Ibu yang tinggal di Godean). Apalagi Bapak belum pulang dari berburu sapi (untuk Idul Adha) di Magelang bareng Ustad Wid. Telepon ke nomor Bapak dan sebaliknya berkali-kali putus. Langit dipenuhi tidak saja oleh abu gunung tapi sambungan telepon yang bersilangan. Semua orang pasti panik ingin tahu kabar keluarganya.

Malamnya TvOne merilis foto letusan yang diklaim sebagai foto amatir diambil jam 16.55! Aneh, sore tadi gelap. Hujan rintik-rintik dan cukup deras di Jakal. Siang tadi pas pulang dari kampus Merapi cuma kelihatan sedikit di sisi timur bawah (dekat Plawangan). Dari mana TvOne dapat foto itu?

Dan, di mana Mbah Maridjan? Tadi pagi aku masih nonton wajahnya yang tidak mau disorot kamera Trans7. Tetangga Mbah Maridjan yang juga anak buahnya di kirim ke RS Ghrasia gara-gara kena wedhus gembel dengan luka bakar 75 %.

Erupsi 2010 menyisakan rekahan besar. Foto diambil 1 bulan kemudian (29 November 2010)
29 Oktober 2010 (Jumat)
Empat hari Merapi meletus kini giliran Krakatau, Slamet, dan Papandayan ikutan menggeliat berkegiatan. Merapi kerap disebut sebagai panglimanya gunung di Jawa. Kalau dia meradang yang lain ikutan juga. Pujian yang berlebihan dan tidak layak dibanggakan.

Ibu bilang kalau bukan orang baik gak akan orang mati bisa dalam posisi sujud. Iya, yang kumaksud adalah Mbah Maridjan yang ditemukan meninggal dalam posisi sujud (sekalipun di kamar mandi). Dia jadi korban pada erupsi pertama Selasa lalu bersama 35 orang lainnya. Rumor yang beredar mengenai dia selamat berakhir sudah.  Berita menunjukkan Kinahrejo luluh lantak. Sejauh mata hanya pemandangan abu-abu dengan debu vulkanik dimana-mana.

Aku tidak ambil peduli soal kemana arah hadap sujud dan di mana jasad Mbah Maridjan ditemukan. Mati dalam keadaan sujud itu tidak mungkin terjadi kalau tubuh orang itu diterjang awan panas. Lihat saja foto-foto korban Merapi lain. Mereka tampaknya mati dengan penuh rasa sakit. Dengan begitu hanya ada satu penjelasan masuk akal kenapa jasad Mbah Maridjan bisa dalam sikap sujud. Itu karena dia sudah meninggal duluan sebelum awan panasnya lewat.  

Yang kudengar Mbah Maridjan kesal dengan wartawan yang suka lebay. Makanya dia menolak diambil gambarnya. Dia juga menolak mengungsi di saat terakhir karena mengaku Merapi adalah rumahnya apapun yang terjadi. Mbah Maridjan sudah meminta warga mengungsi tapi ternyata banyak yang terlambat bereaksi karena yakin Merapi tidak akan mengamuk seperti 2006 lalu saat Kinahrejo baik-baik saja. Besar kemungkinan karena 2006 inilah dia jadi lebih dipercaya sebagai “orang ampuh” oleh warga sekitar. Maridjan tidak turun berarti tidak apa-apa. Makanya petang tanggal 26 itu ada saja yang tidak mengungsi biarpun suara gemuruh terdengar dan bau belerang tajam tercium.

Omong-omong tentang erupsi 2006, ketika itu korbannya ‘hanya’ 2 orang yang salah langkah karena bersembunyi dalam bunker. Bunker yang aneh pula karena tidak berfungsi menahan awan panas. Tahun itu Mbah Maridjan juga menolak mengungsi. Konon dia pernah mengatakan bahwa yang nyuruh itu bukan raja sungguhan. Lalu muncul kata-kata: “sopo sik wani karo Maridjan, sultan wae kalah.” Gara-gara tindakannya Mbah Maridjan malah jadi populer dan ke-roso-annya dipopulerkan iklan KubuBima. Menurut Doni Kesuma (bintang iklan KukuBima) Mbah Maridjan orangnya pendiam, santun, dan sulit diajak turun gunung. Aku sempat salah menyangka Mbah Maridjan kepedean dengan lolosnya dia dari erupsi 2006. Dia melakukan apa yang seharusnya dilakukan, setia kepada sultan (HB IX) dan tugas yang diembankan. Kinahrejo memang rumahnya dan mungkin itu adalah kematian yang dia inginkan, mati di rumahnya.

banjir lahar dingin
Banjir lahar dingin di kali Boyong dekat dusun tempatku tinggal yang jadi tontonan.
...
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang membingungkan, antara rasa cemas dan rasa yakin bahwa Merapi tidak akan memburuk.

Tentang The Egg-nya Andy Weir

Akhir bulan September 2015 bioskop-bioskop mulai menayangkan film The Martian garapan Ridley Scott yang diangkat dari novel berjudul sama karya Andy Weir. Sebagai penggemar film-film sci-fi aku termasuk terlambat mengetahui tentang film dan juga novelnya. Baru beberapa bulan lalu aku membacanya pada sebuah artikel di blog Universe Today yang memang aku ikuti. Dari artikel tersebut pencarian berkembang. Selain mencari salinan e-book novel The Martian (yang baru kubaca sampai bab 4 karena takut tidak bisa menikmati filmnya) aku menemukan karya lain Andy Weir, berupa cerpen-pendek berjudul The Egg yang bisa dibaca disini. Sebuah cerpen yang (bagiku) sungguh mengejutkan. Jika kamu masih ingat salah satu adegan di film Rush Hour 3 di mana muncul dialog buah tumbukan budaya antara Chris Tucker dengan karakter bernama Yu dan Mi, Si Yu mengucap: He's Mi and I'm Yu”. Kira-kira seperti itulah cerpennya, hanya saja dalam arti harfiah.

Memang sebuah karya dapat dibaca dan diresapi dengan berbeda. Bukan aspek teologi dari cerita The Egg yang mau kuulak-ulik sebab jelas ia bertentangan dengan keyakinan yang kuanut. Untukku pribadi cerpen ini membuatku tidak bisa dan tidak sanggup membenci orang apapun tingkah polah mereka, seberapapun menyebalkan tabiat mereka. Setiap kali aku menyusahkan siapa saja berarti aku menyusahkan diriku, sebaliknya setiap engkau memberi berarti engkau telah memberi untuk dirimu sendiri. Cerpen ini membuatku berusaha untuk tidak mengecewakan orang yang sudah berharap kepadaku, mengingatkanku agar tidak sombong, menyengat hatiku agar tak bergejolak melihat kesengsaraan dan kebahagiaan orang lain. Karena, ya seperti kuketik di atas: “He’s Me and I’m You.”

Tapi paragraf di atas hanya harapanku yang seharusnya diawali dengan kata “semoga dan semoga.” Bagaimanapun dialog antara karakter Benjamin Kapanay dan Danny Archer dalam film Blood Diamond berikut mungkin bisa menggambarkan apa yang kupikirkan tentang Orang pada umumnya.

Benjamin Kapanay: ...would you say that people are mostly good?

Danny Archer: No. I'd say they're just people.

Benjamin Kapanay: Exactly. It is what they do that makes them good or bad... None of us knows whose path will lead us to God.

Orang ya hanya Orang. Tidak wajarlah jika Orang selalu selamanya berperan bagai malaikat, iblis pun dibutuhkan pula supaya hidup ini seru. Lagi pula semuanya hanyalah satu. Barangkali ini yang dimaksud manunggaling kawulo gusti, siapa yang tahu?

Ungkapan Cinta untuk Mo

Sudah lama sebenarnya aku ingin mengungkap perasaan ini kepadamu Mo.

Mungkin sekarang waktu yang tepat...mungkin pula bukan. Aku tak peduli lagi. Yang kutahu aku harus mengatakannya sekarang juga.

Biarlah jika mereka menganggapku seorang loser karena hanya berani mengatakan ini via blogku yang sunyi. Tidak kuat lagi rasanya menahan luapan hati ini.

Oh, Mo...
Tubuh mungilmu, wajah bundarmu, kulitmu yang kemerahan. Kau begitu  sempurna. Kau mampu menjaga dirimu dengan baik di balik warna biru keabuan nan indah yang membalut dirimu.

Namun, Mo. Cintaku kepadamu lebih dari sekedar fisik semata.

Memang diriku tidak selalu membutuhkanmu. Tapi akan datang saat-saat aku amat membutuhkan sentuhanmu, dekapanmu, kehangatanmu.

Mo, datanglah. Datanglah Mo di saat yang tepat, sebelum semua terlambat.

Ketika kau merasuk di saat yang tepat, kau menawarkan pertolongan yang tak tergantikan.

Di kala awan gelap menggumpal kepala kau memberiku terang.

Di saat dada ini ditekan beban kau mampu membikin tenang.

Di waktu hati ini muram kau meniupkan tenteram.

Perjalanan kita ke depan masih panjang, Mo. Kuharap engkau selalu ada di sisiku, menemani tiap gilasan roda, tiap hentakan udara, dan tiap alunan gelombang.

Ku tak peduli jika kau dimonopoli oleh Phapros. Masa bodoh dengan merek lain. Aku tak mau coba-coba lagi, Mo. Buat aku kok coba-coba!

Pokoknya I love you, Mo.



Teruntuk AntiMo. Terima kasih atas kebersamaan kita selama ini.

Mencari Hilal Sampai Kapan

Suatu hari di masa depan, mustahil umat Islam masih perlu melihat hilal untuk membuktikan datangnya bulan baru. Sungguh bukan suatu hal yang tidak mungkin  bagi manusia untuk punya koloni baru di planet lain. Tengok deh bagaimana antusiasnya para penggila sci-fi dan pencinta angkasa ketika menonton Interstellar (dan film sci-fi lain: Star Wars/Trek) atau di kala membaca berita kunjungan ke Pluto untuk pertama kalinya bagi sejarah manusia, atau bagaimana kemungkinan kunjungan ke Mars dan Europa (satelitnya Jupiter). Pencarian planet layak huni selain bumi sebagai “rumah baru” masih terus dilakukan. Hanya soal waktu sampai manusia benar-benar bisa melakukan apa yang selama ini disimulasikan dunia fiksi populer. Meski jaraknya sangat jauh dan jelas tidak akan terjadi dalam generasi kita bahkan cucu-cucu. Jika manusia sudah tidak hidup di bumi, bagaimana kita akan melihat bulan? Apa perlu mengirim manusia kembali ke bumi hanya untuk menatap hilal? Demi keotentikan perintah agama?

Sebenarnya pertanyaan ini mengarah ke pertanyaan lebih besar. Benarkah agama Islam dengan seluruh perangkat ibadahnya adalah agama bagi alam semesta atau hanya berorientasi ke planet bumi sebagai tempat manusia bernaung hingga saat ini? Apa ini berarti manusia tidak boleh pergi dari Bumi? Pasalnya dua ibadah utama dalam Islam amat sangat berorientasi pada bumi, bulan, dan perputarannya terhadap matahari. Mulai dari sholat hingga puasa.

Moon in GTA
Ah, CJ, ini mah sudah pagi. Bukan pas sore lagi. Udah buruan sholat Ied sana!

Untuk sholat, umat Islam secara umum (bahkan yang sangat keras berkeyakinan harus hilal untuk menentukan awal/akhir bulan Qomariyah) sudah tidak perlu lagi mengamati tanda-tanda fisik terkait kemiringan matahari terhadap permukaan Bumi. Kenapa? Berhubung sekarang sudah ada jam. Karena waktu sholat sejatinya berdasarkan ciri inderawi yang amat berkaitan dengan bumi dan matahari. Contoh, deskripsi waktu sholat maghrib adalah sejak dari matahari tenggelam hingga hilangnya warna kemerahan di ufuk barat. Bagaimana bisa mengamati matahari jika mendung tebal menutupi pandangan atau masihkah ada yang mau repot mengamati apakah langit masih memerah atau tidak, sebelum kemudian memutuskan bahwa saat itu masih merupakan waktu sholat? Teknologi jam amat sangat membantu dengan mengonversi ciri fisik ini dalam bilangan waktu. Teknologi yang tidak ada di zaman Rasulullah.

Untuk puasa kasusnya jadi jauh lebih unik. Kemajuan ilmu falak tentu perlu diperhitungkan. Bagaimana kasusnya dalam situasi seperti itu? Apakah sholat tetap lima kali dalam sehari? Bagaimana dengan puasa dalam perjalanan luar angkasa? Masalahnya kan sudah tidak ada malam ataupun pagi hari. Apa puasa tetap 12 jam dalam hitungan hari yang tetap 24 jam? Jika manusia benar-benar bisa bikin koloni baru di planet lain. Ambil contoh, Mars. Jalannya hari pun akan berbeda. Satu hari di sana beda dengan satu hari di bumi, satu tahun di sana pasti beda dengan bumi. Dan masih banyak pertanyaan lain. Intinya jelas kita sudah terputus dengan bumi sebagai orientasi syariat Islam. Jika ibadah tetap mengikuti konversi waktu bumi, maka tidak perlu repot melihat apakah matahari di bumi sudah tenggelam. Atau apakah bulan di bumi sudah masuk bulan baru atau belum. Padahal kumpulan ulama berpendapat bahwa ibadah sholat dan puasa sifatnya adalah lokal-regional. Buktinya tanda waktu sholat Maghrib saja mengikuti wilayah masing-masing.  

Lebih rumit lagi adalah. Untung bulan di Bumi cuma satu! Coba kalau Bumi punya bulan sebanyak Jupiter atau Saturnus yang sejauh ini terhitung lebih dari 60 buah. Bulan mana yang mau dipakai sebagai ketentuan penanggalan Qomariyah? Apa gak lebih runcing konfliknya? Tidak usah ke planet gas-giant deh, karena gak bisa ditempati. Mars saja punya dua satelit yang jika sampai manusia hidup di sana maka entah bulan mana yang mau dijadikan patokan hilal.


Perintah dan syariat Islam terkait ibadah baik itu ayat Al Quran dan hadits turun bertahap sedikit demi sedikit sesuai konteks dan zamannya. Ini dapat berarti bahwa perlu ada penyesuaian dalil. Dan itu mesti dipikirkan bersama namun tetap dengan mengedepankan kemerdekaan interpretasi. Bukan dengan memaksa dan mengaku diri yang paling benar. Barangkali memang eloknya adalah keanekaragaman versi awal-akhir bulan Qomariyah dari berbagai kelompok harus dihormati bukan cuma dihujat tanpa ujung. Katanya kita ini manusia-manusia toleran, iya?

Restu Ismoyo Aji/Jino Jiwan
Ketikan ini juga diunggah di Kompasiana

Plural Plural Apaan Sih?

Semakin ke sini kata pluralitas kian membingungkan. Adakah ia sama dengan sekularisme? Apakah ia sama dengan multikulturalisme?

Sebagai muslim yang belum teramat taat, aku tidak paham dengan orang beridentitas Islam yang gaya-gayanya itu mau sok “mengakomodir perbedaan” (bukan sekedar menerima perbedaan), tapi jatuhnya malah mencampuradukan antara yang memang tuntunan (sunnah) agama dengan penafsiran dirinya sendiri.

Ambil contoh ketika ada yang menanyakan kabar, orang ini malah menjawab “puji tuhan, kabar baik.” Temannya ini yang menanyakan kabar karuan alisnya berkerut, terheran lalu menanyakan alasan dia menjawab seperti itu. Orang ini lalu menguraikan bahwa “Alhamdulillah kan artinya sama saja dengan puji tuhan.” Padahal jawaban demikian sangat ambigu karena kita sudah memasuki wilayah simbol. Simbol yang amat kuat, sehingga anak TK saja mungkin tahu arahnya. Lalu apa selanjutnya? Mengubah “Allahuakbar” (dalam ibadah sholat) jadi “Tuhan Yang Agung” hanya karena artinya sama?

Ini pula yang digunakan jadi mainan oleh para capres cawapres tempo hari. Biar dibilang peduli nan toleran ber-bhineka-is-pluralis sejati, mereka menyampaikan salam panjang yang tidak lazim dirangkai namun tak punya makna jelas. “Assalamualaikum, Om Swastiatu, Shalom, Selamat malam.” Coba saja diartikan kata-per-kata, apa ada maknanya? Tidak, maknanya sudah hancur lebur demi kepentingan sesaat. Ujungnya jelas, mereka ini cuma mau meraih suara dari orang-orang yang menurut sangkaan mereka tengah tersingkirkan dalam struktur sosial masyarakat.


Plural yang menjadi tujuan seharusnya bukan mau mengaburkan batas atau identitas. Jika identitas kian kabur, maka bukan keragaman lagi namanya. Arah pluralisme yang mencong seperti ini layak dipertanyakan karena berpotensi memecah belah. Menerima perbedaan sebagai identitas bukan berarti menyatukan keberbedaan menjadi ketunggalan. Menghormati perbedaan bukan dengan cara merayakan hari raya keagamaan secara bersama-sama atau menghadirinya dengan alasan agar saling memahami nilai-nilai sang Liyan. Mengetahui dan menyadari perbedaan, tidak mengganggu lainnya dengan saling melihat ke dalam diri masing-masing sembari menjauhi dominasi dapat sebagai langkah awal yang sudah lebih dari cukup untuk menjaga perbedaan tidak meretak. Untukmu lingkupanmu, untukku lingkupanku. 

Kontemplasi Jilbab

Bagiku jilbab (atau hijab?) mampu memengaruhi persepsi mengenai kecantikan seorang perempuan. Jika ditanya seperti apa perempuan ideal untuk dijadikan pasangan hidup, salah satunya aku akan menjawab: “kalau bisa sih yang berjilbab.”  Tentunya bukan yang terus-terusan berjilbab sampai-sampai di dalam rumah (atau di depan suaminya) pun berjilbab, melainkan berjilbab yang proporsional—yang cerdas menempatkan sandangannya dalam beragam situasi.


Barangkali ini ada hubungannya dengan pendidikanku di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyaah (MA), sehingga membuatku terbiasa bertemu perempuan berjilbab. Teman-teman perempuan di sekolah masih bisa tampil menawan hati dalam balutan seragam jilbab. Jilbab sama sekali bukan penghalang untuk menunjukkan pesona diri mereka. Buatku yang ada malah rasa “hormat” (mendekati salut), karena pastinya tidak mudah untuk mengenakan jilbab di negeri tropis nan lembab seperti Indonesia. Maksudku, laki-laki tidak akan pernah tahu seperti apa rasanya memakai jilbab, ya kan?

Memang benar “berjilbab” tidak serta merta membuat si perempuan ini seorang yang taat pada perintah Tuhannya, tidak lantas membuat dia paling mulia dan bebas dari perbuatan jelek. Sering sekali kudengar ucapan-ucapan berkesan meremehkan semacam, “kalau hanya kepalanya yang berjilbab, toh percuma saja,” atau “yang penting mah hatinya berjilbab.” Namun ucapan model begini cenderung menafikan bahwa jilbab sendiri adalah simbol. Setidaknya perempuan yang berjilbab sudah meraih dan menerapkan simbol itu pada dirinya untuk ditunjukkan dalam interaksinya dengan orang sekitar terlepas apapun tujuannya.

Mau jilbab yang dikenakannya itu masuk ‘genre’ jilbab gaul atau jilbab lebar tidak masalah buatku, kecuali...jilbab ninja alias jilbab bercadar. Jilbab bercadar membuatku tidak nyaman. Aku merasa itu tidak terlalu elok bahkan sok, terlebih yang seluruhnya berwarna hitam dari atas hingga bawah. Seperti ada sesuatu dalam diriku mengatakan bahwa pemakai jilbab model ini adalah seorang yang fanatik atau fundamentalis. Suatu prasangka memang, yang aku sendiri tidak yakin apakah prasangka ini bentukan dari tontonan atau bacaan tapi begitulah kenyataannya. Selain itu jilbab bercadar telah merenggut identitas pemakainya. Dari mana kita bisa mengenali dia jika hanya matanya yang tampak? 

Bukankah wajah adalah bagian identitas paling utama? Meski begitu sebagai laki-laki aku juga harus mengakui bahwa wajah perempuan (meskipun ia berjilbab) masih berpotensi mengalihkan perhatian dan waktuku walau itu hanya sekelebatan, lagi pula ‘pengalihan’ ini juga tidak memberi kebaikan bagiku. Dari sini aku berusaha menghargai perempuan-perempuan bercadar yang berniat hendak menjaga diri, meskipun masalahnya mungkin dari keegoisan laki-laki sendiri.

Lumrahnya perempuan muslim Indonesia yang berjilbab patut disyukuri. Sedikitnya ini menunjukkan mereka bangga dengan keislaman mereka dan tidak takut dengan prasangka buruk di luar sana tentang jilbab. Sayang memang jika jilbab sekarang seolah hanya jadi sekedar tren, dan yang namanya tren tentu akan cepat menguap lalu lenyap. Di sisi lain, hati ini ikut senang menyaksikan kreasi-kreasi model jilbab baru yang unik dan menarik, namun kebaruan sekaligus menggerus hakikat sejati dari jilbab. Maknanya jadi bergeser. Jilbab berubah jadi penarik perhatian (lawan jenis) yang mana bukan begitu tujuan awalnya. Ataukah tren jilbab itu termasuk “hidayah” yang senantiasa didengungkan? Akan jadi pertanyaan yang sulit dijawab.

(Restu Ismoyo Aji)