Tampilkan postingan dengan label Membaca media. Tampilkan semua postingan

Ending yang Ideal Buat film 1408

Baru saja aku sempat menonton film 1408 yang dibintangi John Cusack. Sebuah film genre psychological horror yang premisnya adalah tentang seorang penulis kisah horror tapi sebetulnya dia sendiri skeptis dengan segala hal yang bersifat supranatural/perhantuan. Yang dia lakukan adalah menyambangi dan menginap di tempat-tempat yang konon menyeramkan kemudian menjadikannya sebagai bahan tulisan. Suatu hari dia mendapati kiriman kartu pos yang memeringatkannya agar tidak menginap di hotel The Dolphin kamar nomor 1408, yang malah memantik rasa penasarannya. Seperti sudah bisa diduga dia lantas menginap di kamar itu lalu mendapati situasi yang mencekam dan mengancam kondisi mentalnya: dia terjebak di dalamnya! Soal penyebab sikap sinis dan skeptisnya Si Mike (sesuatu yang berkaitan dengan masa lalunya) ini dikupas perlahan dalam film yang mana menjadi alasan dia akhirnya 'sukses keluar' dari kamar itu. 

Memang ini masuk kategori film 'lawas' yang dirilis 2007 tapi aku baru tertarik menonton setelah melihat cuplikan salah satu adegannya di 9gag. Adegan di mana si karakter utama, Mike Enslin meminta tolong ke penghuni gedung seberang hotel dengan melambaikan tangan namun ternyata dia melambai kepada seorang yang bentukannya persis seperti dirinya (sampai ke gerakan minta tolongnya juga sama, bak berdiri di cermin). Bukan itu saja, kembarannya ini juga dibunuh sosok misterius!

mirrored waving scene & mysterious killer

Total ada empat ending alternatif dari film ini, belum termasuk ending asli dari cerita pendek karya Stephen King, yang mana film ini adalah adaptasi darinya. Masing-masing punya kelemahan dan kelebihan sendiri.

Spoiler Alert!

(1) Ending cerita pendek mengisahkan, setelah Mike Enslin selamat dari kebakaran kamar 1408, dia menderita trauma: selalu menutup tirai sebelum gelap, takut warna kuning (kayak Green Lantern aja!), dan selalu tidur dalam kondisi lampu menyala (ini mah masih dilakukan orang dewasa juga).

(2) Ending teatrikal memperlihatkan Mike Enslin yang selamat dari kebakaran kamar 1408. Dia menyetel rekaman kaset yang memperdengarkan suara putrinya. Istrinya juga mendengar suara tersebut yang mana mengkonfirmasi pengalaman nyata Mike selama terjebak di dalam kamar. (3) Alternatif lain masih sama hanya saja memperlihatkan bahwa istrinya tidak bisa ikut mendengar suara putrinya dari rekaman kaset tersebut.

(4) Ending alternatif memperlihatkan Mike Enslin tidak selamat dari kamar 1408, tapi editor bukunya menerima kiriman draft buku yang ditulis oleh Mike selama terjebak di dalam dimensi lain kamar itu.

(5) Ending versi sutradara (Mikael HÃ¥fström) memperlihatkan Mike Enslin mati dalam kebakaran. Istri dan teman-temannya turut menghantarkan jenazahnya ke pemakaman. Lalu manajer hotel The Dolphin (Gerald Olin), yang diperankan Samuel L. "mutafucka" Jackson bermaksud memberikan rekaman kaset yang ditemukan dalam kamar setelah kebakaran, tapi istrinya Mike menolak menerimanya. Pada puing kamar 1408 arwahnya Mike Enslin terlihat puas karena bisa mengalahkan entitas jahat di kamar 1408. 

Ending ideal menurutku:

Menurutku ending paling mendekati masuk akal berdasarkan nalar yang dibangun filmnya adalah yang versi sutradara, dengan alasan bahwa kamar 1408 tidak pernah membiarkan penghuninya selamat: Mike Enslin mati dalam kebakaran, tapiii... alangkah lebih baik jika Si Istri mau menerima paket dari Olin yang berisi salah satunya rekaman kaset. Lalu di saat senggangnya atau di saat sudah mulai sembuh dari luka hati, Si Istri menyetel rekaman dan mendengar suara putrinya. Aku yakin ini akan lebih berdampak dan lebih sempurna nan ideal, karena ending ini akan menggabungkan ending versi Sutradara (5) dengan ending teatrikal (2) sekaligus.

ending ideal



Industri Komik Indonesia 1960-an: Menyimak Serial Komik Silat Jaka Sembung Karya Djair

Tulisan berikut bermula dari bab yang dipangkas dari Tesis berjudul "Mitos Pendekar Jaka Sembung dalam Komik Pendekar Jaka Sembung (1969) Karya Djair" yang diuji pada sidang akhir Prodi Kajian Budaya dan Media tahun 2018. Tesis tersebut dapat dibaca di Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UGM (kurasa). Repository ada di sini

Bab yang membicarakan latar atau konteks dunia komik pada tahun 1960-an ini belum sempat dipublikasikan. Aku lantas mengirimnya ke ajang ComSequence: Comic and Sequential Art Festival 2022 untuk diikutsertakan dalam buku bunga rampai "Menilik Komik Indonesia". Setelah berbulan-bulan, buku ini akhirnya terbit juga (April 2023). Sayangnya buku ini tidak dicetak. 

ComSequence: Comic and Sequential Art Festival 2022 adalah format baru festival komik yang diselenggarakan oleh prodi DKV, Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta (dulu bernama FKN-Festival Komik Nasional) yang digelar pertama kalinya pada tahun 2012 di Jogja Nasional Museum. ComSequence diperluas jangkauannya pada level Asia Tenggara (mungkin bisalah dianggap tingkat internasional).

Berikut adalah ringkasan artikelnya:

Sejak terbitnya Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH pada 1967 bermunculanlah gelombang komik silat di Indonesia. Salah satu yang cukup tenar adalah serial Jaka Sembung karya Djair, yang serial utamanya terbit dari 1968-1977 mengisahkan perjuangan seorang pemuda bernama Parmin alias Jaka Sembung mempersatukan para pendekar Nusantara, bahkan sampai Selandia Baru untuk melawan para pendekar jahat dan tentu saja untuk mengusir Kompeni Belanda dari “Indonesia”. Dia bukan saja diceritakan sebagai keturunan bangsawan Keraton Kanoman Cirebon tapi juga berhadapan dengan tokoh nyata seperti Sultan Agung. Dengan jalinan kisah yang mengesankan bahwa dia pernah benar-benar hidup ini—terlepas  dari narasinya yang terdengar spektakuler—wajar jika ada sebagian kalangan yang menganggap Jaka Sembung sebagai tokoh sejarah.

Cover perdana serial Jaka Sembung yang bahkan tidak memuat nama karakter utama (Djair, 1968) 

Dikenal sebagai satu dari maestro komik silat Indonesia, Djair, anak kedua dari tujuh bersaudara dilahirkan pada 13 Mei 1945 di kampung Karangtengah, Kebarepan, sebelah barat kota Cirebon. Wafat pada 27 September 2016, dia mewariskan serial komik silat Jaka Sembung. Begitu lekatnya Djair dengan Jaka Sembung. Tidak mengherankan bila dia menciptakan satu universe yang di dalamnya sejumlah karakter komik ciptaannya saling bertalian. Misalnya Si Tolol (serial Si Tolol) yang tak lain murid spiritual Parmin, serial Malaikat Bayangan yang menceritakan petualangan keempat anak asuh Parmin: Kinong, Kartaran, Pe’i, dan Thomas, dan komik Pekutukan yang menceritakan kisah Muhammad Ilham, seorang santri keturunan Parmin.

Sebagai pendekar yang diceritakan hidup pada latar waktu tertentu di Nusantara, tidak diceritakan tepatnya Parmin lahir, yang jelas dia hidup di zaman Kompeni. Djair baru menjelaskan mengenai latar belakang Parmin secara detail di komik Tahta Para Bangsawan (1994), yang terbit jauh sesudah serial Jaka Sembung berakhir di Wali Kesepuluh (1977). Komik Tahta Para Bangsawan sendiri berperan bak prekuel sekaligus reboot (memulai ulang) naratif Jaka Sembung yang sudah ada sebelumnya, karena di saat beberapa bagian ceritanya seolah mengisi apa yang belum disampaikan secara detail sebelumnya, namun komik ini juga membatalkan dan sekaligus mengacaukan nalar waktu serial komik terbitan 1968-1977.

Komik Tahta Para Bangsawan secara garis besar berkisah mengenai awal pertemuan Ki Sapu Angin yang menolong Elang Sutawinata sekeluarga dari sergapan anak buah perampok Gembong Wungu. Elang Sutawinata adalah ayah Parmin, dia bangsawan Keraton Kanoman Cirebon yang mengundurkan diri setelah berselisih pendapat dengan dua saudara tirinya yang menjadi sultan karena mereka rela tunduk kepada Belanda. Ki Sapu Angin kemudian meminta Sutawinata memasrahkan Parmin cilik kepadanya untuk dididik sebagai pendekar. Proses latihan berat menjadi pendekar dijalani Parmin hingga dewasa dan berakhir dengan dilepasnya Parmin untuk bertualang (yang mana menjadi permulaan komik Bajing Ireng).

Parmin cilik yang diminta oleh Ki Sapu Angin untuk dididik. Diambil dari Pendekar Gunung Sembung (1969)

Komik tersebut menyebut Parmin lahir pada 1602, bertepatan dengan berdirinya VOC. Penyebutan spesifik ini mengacaukan lini waktu serial komik awal. Kasultanan Cirebon baru terpecah menjadi tiga pada 1679, menjadi kasultanan Kasepuhan, Kanoman, dan Panembahan Cirebon. Dengan data ini ketika ayahnya diusir dari keraton Kanoman Cirebon, paling tidak Parmin berusia 70 tahun. Sehingga tidak masuk akal rasanya jika Parmin lahir pada 1602.

Adegan yang sama di komik Tahta Para Bangsawan (1994)

Berbicara mengenai kualitas gambar Djair, diakui sendiri olehnya memang tidak sebaik komikus lain (Kurnia, 2014). Tapi lebih tepat kiranya disebut tidak konsisten. Dalam Bajing Ireng (1968), tokoh Parmin tampak seolah digambar oleh orang yang berbeda jika dibandingkan dengan goresan gambarnya di komik Pendekar Gunung Sembung (1969). Padahal pembuatan kedua komik hanya terpaut satu tahun. Belum lagi jika membandingkan komik-komik karya Djair 1970-an dan akhir 1980-an, tidak menyertakan pula komik terakhirnya Jaka Sembung vs. Si Buta dari Gua Hantu (2010) yang bukan hanya dari segi penuturan kisah, secara kualitas jauh menurun. Besar kemungkinan ini disebabkan oleh, Pertama, Djair, sebagai komikus otodidak yang pada awal karirnya masih dalam proses mengadaptasi gaya gambar komikus lain, dan Kedua, industri komik itu sendiri yang membuat gambar Djair semakin tidak rapi.


Dari kiri atas searah jarum jam: Bajing Ireng (1968), Pendekar Gunung Sembung (1969), Wali Kesepuluh (1977) dan Papua (1972)


Adalah hal lazim pula ketika pengarang menyisipkan pesan filsafat dan pesan keagamaan (Bonneff, 2008-116). Tidak menutup kemungkinan situasi Indonesia tahun 1970an atau malah sebelum itu, di mana pengamalan agama menjadi umum setelah komunisme disinonimkan dengan ateisme, ikut berperan membentuk serial Jaka Sembung menjadi kental dengan pesan keagamaan. Bonneff (2008:42-44) tidak secara tegas menyinggung dampak peristiwa 1965 pada komik, selain dari kemunculan demonstran yang memasuki toko buku untuk menyita buku-buku murahan yang dinilai melanggar moral. Insiden yang mendorong dibentuknya Seksi Bina Budaya yang menjadi bagian dari Kepolisian Indonesia dengan salah satu tugasnya adalah untuk mengawasi peredaran komik. Badan pengawasan ini mungkin punya andil terhadap keinginan komikus dan penerbit sendiri untuk bertekad “membina kebudayaan bangsa”. Salah satunya dimaknai oleh para komikus lewat pesan-pesan filsafat dalam komik.

Komik Jaka Sembung penuh nasehat dan petuah

Berlawanan dengan konstruksi moralitas tersebut. Muncul unsur yang disebut Atmowiloto (2012) sebagai “bumbu telanjang.” Ketelanjangan atau pornografi ini walau tidak dominan juga hadir dalam komik silat, tidak terkecuali serial Jaka Sembung. Bisa jadi memang ada kaitan antara konten pornografi dalam komik silat dengan pembaca komik silat yang menurut Bonneff (2008:91) didominasi remaja lelaki. Tetapi menariknya sistem penerbitan komik di Indonesia yang sejak 1967 melibatkan aparat kepolisian ternyata punya andil membiarkan pornografi dan sadisme menyebar dalam komik, antara lain karena acuan penilaiannya yang berupa Pancasila diterapkan secara sederhana dan luwes. Definisi pornografi kian melonggar karena pihak kepolisian meyakini apresiasi masyarakat berubah dan moralitas juga berkembang. Asalkan tidak berlebihan gambar bermuatan pornografi diizinkan dengan cara mengarsir adegan atau menutupi bagian tubuh yang terlarang (Bonneff, 2008:75-77). Dengan demikian dapatlah dibaca bahwa ketelanjangan dalam serial komik silat Jaka Sembung dan secara umum komik lainnya tidak bisa melepaskan diri dari ideologi kapitalisme, yang bertujuan agar komik laku di pasaran

Ketelanjangan dan tema seksual yang disamarkan. Ini ketika karakter bernama Tirta digoda oleh seorang perempuan pimpinan rampok Lalawa Hideung

Anakronisme sejarah, gaya berkomik yang sarat kata-kata bermuatan moral, dan kualitas gambar tidak konsisten dari Djair adalah akibat tekanan pelaku industri komik yang tidak memungkinkan dia melakukan riset mendalam mengenai topik tertentu dan sekaligus menunjukkan hubungan kuasa yang tidak seimbang antara komikus, industri komik, pembaca pada satu sisi dengan penentang komik (lewat lembaga tidak resmi seperti Opterma atau Operasi Tertib Remadja yang diperbantukan di seksi khusus kepolisian) dan Pemerintah di sisi lain.

Baca artikel lengkapnya beserta Daftar Pustaka di sini.  


Kenapa Aku Gak Suka Avatar: Way of Water

Sabtu dwiminggu lalu aku ajak Mbak Bojo nonton Avatar: Way of Water (selanjutnya disingkat WoW). Random aja, tiba-tiba ngajak nonton film. Biasanya weekend kami joint venture ngurusi kerjaan rumah. Berangkatlah kami pada suatu siang jelang sore ke sebuah bioskop di area Rungkut.

Mbak Bojo rupanya tidak tahu film ini dan aku memang tidak bilang kami akan menonton apaan. Dikiranya ini adalah versi film Avatar Aang (The Last Airbender), yang dulu kalau ada yang ingin melupakan, pernah dibuat live actionnya oleh M. Night Shyamalan (or should I say Shame-lan?). Jadi begitu muncul tulisan "Way of Water" disangkanya: "Loh, ini masih yang water?" Ah, nope, bukan Avatar yang 'itu' tapi yang 'ini'. 

Omong-omong, lagian aneh juga James Cameron milih judulnya diembeli water, ntar jangan-jangan sekuelnya Way of Earth, terus terakhir Way of Fire.


Dan ternyata Mbak Bojo juga belum pernah menoton Avatar (2009). Film yang kutonton tiga kali di bioskop dan entah berapa kali di komputer/laptop. Jadi ketika karakter makhluk biru ini muncul, istriku langsung bilang kalau dia takut ngeliatnya sembari mengalihkan wajah dari layar.  

Waduuh, ngalamat iki.

Secara umum aku kurang menyukai film ini. Ditambah lagi sedikit-sedikit aku harus menjelaskan plot film ke Mbak Bojo tentang apa yang terjadi kepada tokoh-tokoh di dalam WoW. Aku bisa merasakan dia bosan. Cukup sering ngecek hape membuka WA. Aku maklum, wong, aku juga bosan. Tapi ya gimana lagi, sudah terlanjur bayar. Yang bisa kulakukan adalah melindungi agar sinar hapenya tidak mbelerengi penonton lain dengan cara menutupi hape dari samping pakai telapak tanganku. 

Kenapa aku tidak suka plus merasa bosan, terlepas dari pencapaian visual yang memang ciamik meski sejatinya aku tidak merasa ada sesuatu yang signifikan dibandingkan film pertamanya?

1) Secara garis besar ceritanya mengulang sama persis dengan film pertama. Hanya saja lokasinya pindah ke bagian lain dari Pandora. Ke sebuah komunitas/klan yang budaya dan gaya hidupnya berbeda. Dimana, baca nih...Jake Sully dkk (dan kawan-keluarganya) harus belajar bagaimana hidup seperti klan Metkayina yang seperti tinggal di 'Maladewa'. Berlawanan dengan mereka yang berasal dari hutan 'Amazon'. Persis banget dengan dulu saat dia harus adaptasi dengan kehidupan Na'vi Omaticaya. Mereka makhluk asing dan di akhir kisah, mereka tidak lagi dianggap asing. Kalau sudah menonton keduanya akan banyak plot yang sama persis.

2) Skala konfliknya jauh menurun. Tidak ada lagi perang besar dimana sosok "avatar" dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik. Konflik dan perang hanya berkisar di sebuah kapal karam di tengah lautan. Bisa dimengerti karena Cameron mau memperpanjang seri film ini sampai tak terbatas, hanya Tuhan dan dia yang tahu.

3) Terbangunnya karakter Jake Sully di film pertama menguap lenyap. Dari yang seorang pejuang yang peduli dengan Omaticaya dan Eywa. Sampai menjadi Toruk Makto, mendadak jadi lemah dan egois. Mentingin keluarganya sendiri. Malah cuma ingin melarikan diri dari kejaran RDA. Hanya dengan alasan bahwa Quaritch kemungkinan besar akan balas dendam dan akan membahayakan Omaticaya, dia memilih kabur ke lautan dan malah membahayakan klan lain. Bilangnya ingin melindungi keluarga, tapi malah...ah...dia kan bisa memimpin lagi perang besar, tinggal menyatukan semua klan, terus perang. Tapi ini malah cuma mengadakan gerilya kecil-kecilan.

4) Jadi bergaya dokumenter tentang perburuan 'ikan paus' (disebut "tulkun"). Yang mana karakter pemburunya sendiri berusaha keras menjadi villain dengan lagak komikalnya. Ini bukan masalah akting, tapi penulisan karakter. Karakteristik mereka jadi annoying bukan terrifying. Apa memang itu yang dituju? Entahlah.

5) Motivasi manusia bukan lagi unobtanium yang entah fungsinya apa, melainkan jus otak ikan tulkun sebagai obat awet muda. Yang harganya di-pump-up jadi lebih mahal daripada batu/mineral di film pertama. Obat awet muda jadi tidak masuk akal, apalagi dituturkan bahwa Bumi sedang sekarat. Teraforming Pandora lebih masuk akal tapi tidak, bukan itu yang dilakukan. Jus otak ikan ini jadi agak mendadak. Tiba-tiba dibuat, diada-adakan. Dan gimana caranya manusia bisa kepikiran hunting ikan tulkun buat diambil otaknya? Sangat terasa hard selling pesan environtmental-nya. Bukannya aku kontra dengan pesan untuk kebaikan lingkungan, tapi sangat terasa maksa.

6) Jadi terlalu berfokus ke kisah kenakalan remaja yang sangat terasa "Amerikasentris". Movie trope genre teenage yang agak semi coming-to-age. Ada pranking, bullying, fighting, love interest, ngertilah. Intinya mereka sangat berbudaya manusia Bumi (saat ini). 

7) Penggunaan bahasa Inggris jauh lebih banyak daripada film sebelumnya. Seolah itu bahasa satu planet. Kata "Bro" bahkan bertebaran seolah lazim digunakan untuk saling menyapa antar duo-karakter. Buatku ini amat sangat menyebalkan untuk didengar. Beda sekali dengan film pertama dimana world-building terasa lebih kompleks dan believable.

Mungkin itu saja sih, unek-unekku tentang film ini. Jelas, aku tidak berminat menonton Avatar 3 Whatever The Title Will Be apalagi jika nanti bakalan semembosankan WoW ini, karena apa? Mbak Bojo jadi menuntutku untuk membalas kesediannya menemaniku nonton dengan cara nobar drakor di rumah. Hmm...mungkin itu jauh lebih baik.


Arsitektur yang Hendak Melawan Waktu (Webinar dari Abidin Kusno)

Berhubung karir dosenku ini hitungannya masih baru, di sebuah kampus baru yang secara adminstratif belum mengizinkan aku ngajar sendiri--namun ironisnya aku sudah harus dan butuh untuk mendapatkan poin dari institusi (lagi-lagi  administratif)--maka menjelmalah aku sebagai seorang certificate hunter

Certificate hunter? Iyap, pemburu sertifikat, segala jenis sertifikat. Termasuk sertifikat dari webinar yang untungnya--di tengah buntungnya pandemi Covid-19--bertebaran dengan gratis. Kenapa? Karena bukan lain adalah aku butuh poin itu tadi, dan keikutsertaan di webinar bisa mendapat poin (meski aku tidak tahu apa bisa menggantikan beban ngajar di kelas). Okay, enough about this points bullcrap.

Salah satu webinar yang kuikuti adalah serial P2P (People to People Relationship) tentang arsitektur, urban planning, dan desain yang dibawakan oleh Abidin Kusno bertajuk Melawan Waktu berikut. 

Abidin Kusno adalah profesor dengan latar belakang pendidikan arsitektur, di Faculty of Environmental Studies di York University, Kanada, saat dia ini menjabat sebagai direktur York Centre for Asian Research. Sebelumnya aku mengenal Pak Abidin lewat buku Di Balik Pascakolonial (2007), terjemahan dari Behind the Postcolonial yang kupinjam dari seorang teman. Buku ini, yang sayangnya belum kunjung rampung kubaca, membahas arsitektur dan desain kota dalam kaitannya dengan tatanan politik pemerintahan yang sedang berlangsung saat itu: Belanda, Soekarno, dan Soeharto. Pendekatannya cenderung ke arah cultural studies yang menyasar sejarah, bangunan, dan ruang kota. Pedas, pedih, sedap-sedap gitu. Buat yang sudah biasa dengan cultural studies tentu tidak akan gumun apalagi kaget.

Begitu pula bahasannya pada Sabtu pagi, 26 September itu, tidak jauh dari semangat pemikiran ktitis a la cultural studies yang dia lakukan dengan menerawang peninggalan arsitektur di Indonesia dan Hindia Belanda. Dia sendiri mengakui bahwa materi yang disampaikannya bukanlah hal baru, melainkan dia sesuaikan untuk topik webinar.

.....

Dalam dunia ilmu pengetahuan, waktu (masa lalu, masa kini, masa depan) selalu diasosiasikan dengan bidang sejarah. Di sisi lain konsep ruang diasosiasikan dengan bidang georafis. Para arsitek ingin menjadi penguasa keduanya: ruang dan waktu, lewat penciptaan bangunan yang monumental dan yang bisa dikenang banyak orang, sesuatu yang timeless, sekurangnya mewakili sebuah zaman. Maka dari itulah arsitek selalu mencoba "melawan waktu" dalam upayanya mencari identitas bidang arsitektur. Sayangnya pencarian identitas ini berujung pada penghilangan konteks sosial yang seyogyanya melekat pada arsitektur. 

Dari Segi Pendidikan Formal"waktu" sudah hadir semenjak mahasiswa kuliah. Kegiatan mahasiswa dalam menuntut ilmu di studio, misalnya, telah dibatasi waktu. Dengan demikian waktu turut membatasi transfer ilmu pengetahuan. Daya intelektual arsitek ditentukan politik waktu dalam kurikulum pendidikan arsitektur. Karena itu arsitek perlu melawan waktu, merefleksi dan mengembangkan pemikiran kritis atas krisis kota, sosial, politik, kebijakan, masyarakat, ke dalam desain.

Dari Segi Sejarah di Masa Kolonial, "waktu" sering dihabiskan untuk narasi dan perkembangan gaya & bentuk tanpa sadar bahwa, misalnya, buku pegangannya sendiri, "A History of Architecture" (Banister Fletcher) pun sudah bias. Buku ini ditulis oleh ilmuwan Barat di masa kolonialisme & imperalisme Eropa atas dunia Timur, bahwa arsitektur Barat berkembang secara organik dan arsitektur Timur tidak berkembang/berhenti, sehingga dikotomi modern dan tradisional pun muncul, memunculkan justifikasi negara Eropa untuk menjajah dalam misi memperadabkan dunia Timur. Sesuatu yang dikritisi Edward Said dalam buku Orientalisme.

Gaya bangunan Empire yang dianggap mampu menunjukan superioritas Eropa atas yang dijajah.
Strategi lain Kolonial adalah dengan Indis Style, yaitu berupa gabungan arsitektur lokal modern dengan Eropa. Karya Pont dan Karsten menggabungkan Timur dan Barat, tapi apakah memang arsitektur seperti ini mencoba membebaskan atau sudah mewakili suara rakyat yang dijajah?

Di Masa Kemerdekaan (masa Soekarno), konsep melawan waktu mencoba melepaskan diri dari masa lalu, menjauh dari tradisi dan masa lalu, menjadi bagian dari yang global, masuk ke modernitas, melawan penjajahan, sebuah dekolonialisasi. Gerakan yang berupaya menciptakan dunia baru, berbau utopia, membayangkan masa depan sebagai dasar membangun hari ini. Contoh di Indonesia: Ganefo, yang melawan Olimpiade. Ganefo dipenuhi slogan semacam: "pantang mundur", "dunia baru."

Kelompok ATAP terpesona modernisme dengan melawan masa lampau lewat proyeksi ke depan. Mereka tidak tertarik dengan arsitektur tradisional karena sudah pernah dilakukan arsitek di zaman Belanda.

Kapitalisme turut mempengaruhi waktu dan arsitektur. Segalanya berbalik dengan situasi sebelumnya. Globalisasi pada 1970-1980an, mengompresi waktu dan ruang. Ia membawa era keterbukaan, konsumerisme, pasar bebas, kompetisi, komodifikasi dan transfomasi ruang kota. Para arsitek Indonesia uniknya malah membuka wacana arsitektur yang khas Indonesia, mencoba melawan yang global, yang serba homogen. Memunculkan kebangkitan arsitektur "khas" Indonesia. Menghadirkan pertanyaan, "apa yang disebut arsitektur tradisional?" Negara lantas merespon dengan tradisionalisasi arsitektur yang sangat dipengaruhi oleh geliat industri wisata. Sehingga kesan serba permukaan tidak bisa dielakkan berkat campur tangan pihak-pihak tertentu. Apa yang terjadi di masa ini sejalan dengan semangat posmodernisme yang melanda dunia Barat.

Karikatur menarik, bangunan tinggal ditambahi atap joglo agar punya ciri lokal. Btw, aku punya buku ini Menuju Arsitektur Indonesia, beli di Social Agency tapi belum sempat kubaca.

Posmodernisme, mencoba melawan waktu dengan melihat ke belakang untuk mencari ide. Ini yang terjadi di Barat. Namun, cara mendesain bangunannya bak windows shopping, main comot referensi dari masa lampau, tanpa konteks, dari era mana, dan asal usul, yang penting desainnya menarik dari fisiologi (fisik/badaniah), psikologi (mental/batiniah), dan filosoli (masuk akal). Referensi sejarah, namun tanpa sejarah, yang penting secara estetika menggelitik emosi dan persepsi. Ia adalah manifestasi dari kompresi ruang dan waktu yang dibawa oleh kapitalisme global.  

Posmodernisme bertujuan membebaskan manusia dari tatanan belenggu sosial dengan mengangkat kembali elemen klasik (sebelum industrialisasi) atau bahkan prasejarah, yang dianggap lebih otentik. Bila modernisme mengacu pada masa depan dengan memberi harapan pada kemajuan teknologi, posmodernisme membebaskan fungsi sensorik manusia yang telah dirusak/diputus oleh modernisme. Pasca posmodernisme yang muncul kemudian juga punya tujuan kurang lebih serupa, meskipun kesannya berbeda. Ironisnya di sini, posmodernisme adalah kesinambungan dari modernisme, karena keduanya sama-sama hendak melawan waktu.

The infamous duck building

Gerakan posmodernisme ini adalah sebuat "retreat" dari arsitektur. Dalam arti tidak lagi menghadapi krisis yang terjadi di masyarakat, walaupun mendaku masih menghadapinya, yang caranya diperoleh dengan cara mundur dari masyarakat untuk masuk ke wilayah makna dan pengalaman. Ini disebut sebagai "the great retreat of architecture" yang punya dampak terhadap gerakan arsitektur di Indonesia.

"The great retreat of architecture" dalam posmodernisme, yang seolah-olah menyelesaikan masalah kontekstual padahal hanya mengutamakan bentuk, makna, fungsi. Di sinilah pangkal letak otonomi arsitektur, yang memisahkan diri dari bidang lain yang sebetulnya berkaitan.

Tantangan arsitektur Indonesia turut terimplikasi oleh posmodernisme dan the great retreat tersebut. Di Indonesia di antaranya muncul desain yang vernakular, tradisional, dan "nusantara". yang sama-sama hanya sampai di tataran visual dan tectonic, serba menghindari diri dari krisis/masalah lingkungan dan kondisi masyarakat, seolah hanya dengan visual maka segala masalah bisa dituntaskan.

Sebagai penutup, Pak Abidin mengenang kembali refleksinya pada 1990 ketika masih bersama AMI (Arsitek Muda Indonesia) yang mencoba "melawan waktu". Dalam manifesto AMI, terlihat bahwa mereka telah mempermasalahkan arsitektur, mereka berpihak pada kondisi masyarakat dan lingkungan Indonesia. Sayangnya memang tidak mudah mewujudkan manifesto tersebut karena arsitek menghadapi relasi kuasa antara negara dan kapitalis, di mana setiap bentuk arsitektur dikomodifikasi dan menjadi bagian dari strategi marketing untuk menjual properti. AMI lantas memilih untuk menjaga manifesto dengan mengambil jarak, menjaga otonomi desain ke dalam dirinya, yang kemudian tidak menghadapi masalah sebenarnya di luar sana. Pada akhirnya upaya "melawan waktu" membuat arsitek terperangkap dalam sekat desain yang lepas dari masyarakat. Arsitek jadi merasa bisa meresepkan masalah hanya dari displinnya sendiri tanpa bersentuhan dengan bidang lain.

.....

Pada sesi tanya dan jawab, aku sempatkan bertanya via kolom chat. Namun karena banyaknya penanya, pertanyaanku lantas ditampung untuk dijawab kemudian via teks. Berikut pertanyaan tentang komentarnya terhadap rancangan pemenang sayembara ibukota baru dan jawaban Pak Abidin Kusno:








Bentuk Komik dan Perlintasannya

Anda pernah membaca komik? Saya yakin kita semua pernah membacanya setidaknya sekali seumur hidup. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah anda suka membacanya, atau justru tidak? Jika tidak, mengapa? Jika suka, komik apa yang disukai? Apa yang membuat anda menyukainya? Gambar, cerita, tokohnya?

Pertanyaan di atas bukan bermaksud melugukan diri. Pertanyaan di atas adalah pertanyaan-pertanyaan pembuka yang ke depannya saya harap akan memicu lebih banyak pertanyaan untuk diri kita sendiri.







Dalam DKV, komik adalah medium komunikasi visual paling lengkap. Begitulah guru saya Pak Asnar Zacky pernah berujar. Pada komik kita jumpai elemen-elemen dasar DKV: garis, bentuk, ruang yang dipelajari di Desain Elementer; huruf (Tipografi); dan gambar (Ilustrasi). Tapi hal-hal teknis ini sama pentingnya dengan bentuk-bentuk komik dan proses dialogisnya terhadap wacana lainnya. Kita perlu melihat betapa luwes dan lenturnya bentuk komik hingga menjadi komik yang kita kenal sekarang.

Berdasarkan bentuknya komik digolongkan menjadi lima (Maharsi, 2011): komik strip (komik strip bersambung dan kartun komik), buku komik, novel grafis, komik kompilasi, dan komik online (web comic).

Komik Strip


Komik ini terdiri dari beberapa panel saja (3-4 panel) dan biasanya hadir di surat kabar atau majalah. Salah satu komik strip paling populer di Indonesia adalah Panji Koming di Kompas terbitan Minggu. Maharsi memang membedakan lagi antara strip bersambung dangan kartun.

Mengenai “kartun” McCloud (2002) menegaskan perbedaannya dengan “komik.” Sementara komik adalah medium, kartun merupakan pendekatan gaya gambar, yaitu yang kita kenal sebagai non-realis. Sebuah abstraksi/penyederhanaan dari kenyataan yang berfokus pada detail mendasar yang lantas menguatkan makna di mana yang nyata tidak mampu melakukannya. Kita bisa melihat diri kita sendiri ada pada yang-kartun. Ada kesadaran akan identitas diri yang universal ketika kita menyimak kartun.

Karena ikatan identitas manusia itu, kartun menjadi senjata untuk bersuara, berpendapat, dan kritik. Gaya kartun membuatnya dapat di-isi oleh pembaca. Pembaca dapat ikut mengidentifikasi diri dengan tokoh-tokoh di dalam Panji Koming, mengambil posisi yang sama (atau berseberangan?) dengan komik Panji Koming. Kartun yang tampilannya sederhana tidak lagi menjadi lucu (atau justru lucu dalam bingkai miris?), ia menjadi…istilahnya relatable.

Buku Komik

Komik ini terbit dalam bentuk buku yang bukan bagian dari media cetak lain. Kemasannya menyerupai majalah yang terbit secara rutin. Di Amerika Serikat, buku komik mulai populer 1930-an bersamaan dengan komik Superman tahun 1938. Era 1930-1960an ini kemudian disebut The Golden Age Of Comic Books.



Begitu pesatnya industri komik tumbuh di Amerika sehingga timbul reaksi balik dari masyarakatnya sendiri yang menuduhnya sebagai penyebar kebodohan, menurunkan minat baca, dan pelenyap nilai-nilai moral yang ditimbulkan komik dengan tema kriminalitas, horor, penggunaan obat terlarang, dan seks bebas. Terutama sesudah Fredric Wertham menerbitkan The Seduction of Innocent yang berisi kritik dan tuduhan terhadap komik.

Sebagai bentuk ‘tanggung jawab’ terhadap masyarakat, industri komik Amerika lantas membuahkan Comics Code Authority (CCA) atau dikenal Comics Code yang bertujuan menyensor komik dengan konten tertentu. Komik yang lulus sensor lalu berhak mendapat cap logo CCA pada sampulnya. Ketatnya sensor mendorong sejumlah penerbit buku komik menutup usahanya.

Di Indonesia, agak sedikit berbeda. Komik bukan hanya dituduh penyebar kebodohan tapi mewakili Barat yang liberal dan kapitalistik yang membahayakan identitas bangsa (Wibowo,2012). Namun bukan hanya itu. Lewat Seksi Bina Budaya yang bagian dari kepolisian dan Opterma (Operasi Tertib Remaja), komik disensor. Uniknya sensornya cukup luwes karena komik yang memuat “pornografi” (dengan tanda kutip) boleh tetap terbit asal tidak frontal (Bonneff, 2008). Lihat bagaimana isu yang berbeda  digunakan mengkambing-hitamkan komik.

Novel Grafis

Istilah ini muncul saat A Contract with God karya Will Eisner terbit 1978. Menurut Maharsi (2011) tema yang diangkat di novel grafis lebih serius, lebih panjang, ceritanya bukan untuk anak-anak pula. Tujuannya hanya satu: menghilangkan kesan murahan.


Mengapa demikian? Tak lain karena komik masih lagi-lagi dicap pembawa kebodohan, bahkan hingga sekarang. Dari sejarahnya komik pernah dibakar, tidak hanya di Indonesia pada 1955, tapi di Amerika Serikat yang konon menjunjung kebebasan berpendapat tahun 1948. Dengan banyaknya gambar, tuduhan yang dialamatkan pada komik adalah dibatasinya imajinasi pembaca. Tidak seperti ketika membaca novel (Eisner, 1985).

Dari situasi ini tumbuh istilah novel grafis (di Indonesia ada “nopel bergambar”). Maunya ingin agar komik dianggap setara dengan novel, sama-sama dianggap produk sastra. Dengan memakai istilah ini bisa jadi komikus sadar posisinya yang marjinal tetapi dengan secara tidak sadar mengakui wacana dominan yang menggunggulkan novel di atas komik.

Sebagai catatan, di Indonesia dikenal istilah cergam untuk menyebut komik. Bahkan perkumpulannya disebut Ikasti (Ikatan Seniman Tjergamis Indonesia). Para komikus merasa lebih nyaman dengan istilah ini karena terdengar lebih bagus (Bonneff, 2008). Di sini saya mau menunjukkan bahwa suatu istilah semacam novel grafis yang terdengar keren tidak lantas lepas dari hal-hal lain yang non teknis.

 

Komik Online

Komik ini menggunakan internet dalam publikasinya. Kemunculan internet telah membuka kesempatan seluasnya buat komikus untuk berkarya dan menyiarkan karya mereka ke seluruh dunia. Terlebih sejak hingar bingarnya media sosial, kegiatan pamer tidak lagi dilabeli pamer melainkan “berbagi.” Menyimak sejarahnya, justru keterbatasan media massa era sebelumnya seperti surat kabar dan penerbit buku yang mendorong pesatnya komik online. Tentu kehadirannya didukung perangkat teknologi dan akses internet yang makin terjangkau.

Keterbatasan itu bukan hanya dari jumlah medianya, tapi juga alokasi [ruang] cetak, biaya cetak dan distribusi, serta jangkauan pembaca. Internet mengizinkan alih kuasa yang lebih kentara dari pemilik media ke orang biasa. Model komunikasi satu arah dan berjarak berubah ke lintas arah di mana komikus bisa langsung berinteraksi dengan penyimaknya (pemberi komentar).

Penyebab kepopuleran komik online adalah kebutuhan akan wadah berekspresi, yaitu ekspresi yang lain dari biasa/umum. Misalnya salah satu komik online yang populer di Indonesia adalah TahiLalats (dengan bentuk komik strip!). Komik dengan konten nyeleneh yang tidak biasa seperti TahiLalats jelas tidak akan bisa masuk ke media massa arus utama (Kompas misalnya) karena tidak sejalan dengan misi yang telah ditetapkan.

Kendati begitu adalah tidak tepat jika mengatakan internet adalah ruang sebebasnya yang menjunjung kesetaraan. Dunia maya tetap diikat aturan yang ada di dunia nyata. Apalah artinya ruang kebebasan jika hanya untuk melukai pihak lain. Di sisi lain akses suatu konten dapat dengan tiba-tiba dibatasi. Penyedia layanan tetap punya kuasa lebih di atas “pengguna.” Komunikasi lintas arah juga bukannya tanpa masalah karena menimbulkan gesekan antara yang disebut sebagai haters dengan fans.

Tentu ada beberapa kasus menarik di mana komikus mampu membangun kapital berupa basis pendukung (fans) yang bisa dengan kompak menyokong komikusnya baik lewat pendanaan publik (misalnya: patreon) atau gerakan sosial yang pernah menimpa komik TheOatmeal kala menghadapi tuntutan hukum dari situs berbagi konten lucu, FunnyJunk dan serangan para pengguna situs tersebut. Bisa dibaca di sini.


Dari paparan dinamika di atas terlihat bagaimana bentuk komik tidak merupakan ketetapan tunggal, bentuk itu sendiri membentuk diri,  dan seringnya adalah tanggapan atas sebuah situasi sosial. Maka itu pemaknaan atasnya terus dan masih akan berubah.

(Restu Ismoyo Aji)

Sumber:
Bonneff, Marcel, 2008, Komik Indonesia, Jakarta: KPG.
Eisner, Will, 1985, Comis and Sequential Arts, Florida: Poorhouse Press.
Maharsi, Indiria, 2011, Komik Dunia Kreatif Tanpa Batas, Yogyakarta: Kata Buku.
McCloud, Scott, 1993, Understanding Comics, New York: Harperperennial.
Wibowo, Paul Heru, 2012, Masa Depan Kemanusiaan: Superhero Dalam Pop Culture, Jakarta, LP3ES.

Pelet karya Djair, Anomali Hero

Djair Warni yang dikenal lewat karakter ciptaannya Jaka Sembung dan Si Tolol tak diragukan adalah satu dari maestro komik silat Indonesia, yang meskipun goresannya bisa dibilang tidak serapi dan seindah Teguh Santosa atau Ganes Th, namun mempunyai kemampuan penceritaan yang baik dan termasuk melampaui zaman dari segi keberanian pemikiran. 

Kekhasan pemikirannya ini salah satunya ditunjukkan dalam komik serial Jaka Sembung berjudul Singa Halmahera (1973), di mana ada tokoh biseksual di sana (Singa Betina) yang diceritakan hampir saja bercinta dengan Sri, adik Parmin. Tapi ada satu tokoh karangannya yang amat sangat tidak biasa dan berada di luaran hero pada umumnya. 

Dia bernama Tigor alias “Arjuna” dari dwilogi komiknya yang kurang dikenal berjudul Pelet dan Pekutukan yang digarap tahun 1970-an. Padahal secara materi  komik ini layak dialihmediakan menjadi film, lengkap dengan bumbu seksnya, kesadisannya, dan jelas kleniknya. Sungguh sebuah formula emas untuk menyusun film yang sukses di pasar bukan?

Dari judul dan gambar sampul, kesan apa yang anda dapatkan? Horor?

Berbeda dengan sekuelnya Pekutukan yang mengisahkan perjuangan Muhammad Ilham, seorang santri keturunan Parmin (alias Jaka Sembung) menyebarkan ajaran Islam di desa Pekutukan, komik Pelet berfokus pada jatuh bangunnya seorang pemuda asal tanah Karo, Sumatera Utara, bernama Tigor yang nantinya menjadi lawan Muhammad Ilham. 

Cerita dibuka di atas kapal yang mengarung ke arah Sunda Kelapa, di mana Tigor yang diusir dari kampung halamannya menolong seorang gadis bernama Rani, putri saudagar keturunan Tapanuli-Betawi dari upaya perkosaan nahkoda kapal. 

Tidak dijelaskan benar apa yang membuat Tigor diusir keluarganya, dia hanya mengatakan bahwa dirinya telah ternoda dan merusak nama baik orang tuanya yang berdarah bangsawan. Karena itulah dia memutuskan lebih baik mengembara ke negeri orang meski tanpa tujuan pasti. Niatnya hendak berdagang kandas, modal perbekalannya dicuri orang. Dari kesialan inilah dia berjumpa dengan seorang perempuan cantik misterius yang menyeretnya makin jauh ke kegelapan dan menghantarnya menjadi orang jahat.

Bang Tigor yang terbuang di lautan
Tawaran yang mungkin bakal disesali Tigor
Kehilangan barang-barang berharga membuat Tigor menjual suaranya dari satu kedai ke kedai makan lain. Tentu saja pelanggan kedai mencemoohnya berhubung lagu yang dibawakan Tigor terdengar asing bagi mereka. Tapi ada juga yang menghargainya, bahkan seorang pemilik kedai menawarinya untuk menyanyi secara tetap, yang langsung ditolak oleh Tigor. 

Penolakan tersebut berujung pengeroyokan. Seorang perempuan bernama Nyi Durgalarasati mencegah pertumpahan darah, lalu menawari Tigor untuk bekerja sebagai penyanyi di rumahnya. Tawaran itu diambil Tigor. Pilihan apa lagi yang dia miliki? Dia tidak punya siapa-siapa atau apa-apa lagi, toh perempuan cantik satu ini telah menyita pikirannya sejak pertemuan pertama mereka berhari-hari lalu, ketika Nyi Durga memanggilnya dengan sebutan “Arjuna.” Siapa yang sanggup menolak?

Masa awal regionalisasi: lagu berbahasa Batak di tanah Betawi
Ah, Sang Arjuna dari Tanah Karo 
Rumah Nyi Durga jauh masuk ke dalam hutan di tepi sungai Cisadane. Besar bagai istana buatan Belanda namun menyeramkan dan seperti pemiliknya, menyimpan misteri di balik dinding dan lorong-lorong bawah tanah. Malam itu juga Tigor diundang bermain gitar dan menyanyi di kamar Nyi Durga. Ramuan yang sebelumnya ditenggak Tigor membuat gairahnya memuncak, ditambah tarian erotis Nyi Durga di hadapannya, jatuhlah Tigor ke dalam perangkap nikmat duniawi.
Misteri dimulai dari sini
Siapa yang mampu mengelak dari Nyi Durga Larasati?
Adegan percintaan yang sugestif, tanpa perlu eksplisit. Mirip iklan Axe zaman sekarang. 
Sesuatu yang memang telah diinginkan Nyi Durga semenjak mereka berjumpa, menyerap saripati kemudaan Tigor lewat hubungan badan demi keawetmudaan dirinya sendiri, bagai succubus

Oh, maaf bukan hanya bagai, memang IYA, Nyi Durga itu succubus, setidaknya dia pemuja… coba tebak… Dewi Durga. Kejutan! Dan Tigor mengetahui rahasia mengerikan Nyi Larasati yang molek itu ketika dia menyusuri sebuah sumur tua tembus ke lorong-lorong gelap. Tapi apa dayanya, dia hanya lelaki biasa, Nyi Larasati punya segalanya. Tigor terlanjur mabuk birahi, tak kuasa menolak karena PELET Nyi Larasati.

Nudis? Oh, bugil maksudnya.
Koleksi patung yang begitu hidup.
Ah, tentu saja bagi para penganut Kajian Budaya atau para PC SJW akan dengan mudahnya menjadikan narasi komik Pelet sebagai makanan empuk untuk dicincang dengan berbagai teori seksualitas, representasi, stereotipe, male gaze, dsb. Bisa saja, tapi aku tak hendak mengarah ke sana. Lanjuut.

Dibakar cemburu, dua orang pemuda, Sastro dan Kasman yang selama ini ternyata juga menjadi ‘tunggangan’ Nyi Durga berkomplot menyingkirkan Tigor, sang kuda baru Nyi Durga. Mereka dengan segera menemui kegagalan. Nasib keduanya? 

Mereka dialihfungsikan menjadi penghias ruang bawah tanah, berupa dua bilah patung. Tubuh mereka (dalam keadaan hidup) dituangi cairan ajaib mengubah jaringan manusia sekeras batu seperti patung-patung lain yang sudah ada di situ sejak entah kapan. Mereka tak lebih hanyalah mesin persatutubuhan bagi Si Perempuan Iblis yang kalau boleh meminjam teks populer lain yang lebih kontemporer, mirip Melisandre si pendeta merah dari serial tv Game of Thrones

Yah, Nyi Durga tak lain adalah perempuan uzur tua bangka berusia ratusan tahun yang telah lama memakan ratusan korban laki-laki muda. Tigor, untuk kedua kalinya diberi kesempatan untuk menebus kesalahan. Dia mengetahui fakta ini saat bersua dengan seorang Kakek Tua yang mengaku suami Nyi Durga yang dulunya bernama Latifah.

Dalam kategori horor, Djair termasuk advance. Coba bayangkan ngerinya orang dijadikan patung.
Sang Kakek Tua, suami Nyi Larasati
Asal usul Nyi Durga Larasati
Semangat membara Tigor untuk melawan hanya bertahan sekejap, dia sempat memimpin pemberontakan para lelaki budak Nyi Durga yang langsung dapat dipadamkan. Tigor pun bersimpuh memohon ampun. Untuk menguji kesetiaannya Nyi Durga dengan kejinya memerintahkan Tigor untuk mencabut jantung Rani, perempuan yang pernah ditolong Tigor dan dalam hati kecil dicintainya. 

Tigor dengan kesetanan berkuda malam itu juga ke rumah Sang Saudagar, di mana Rani tinggal. Di sana dia membantai Rani dan kedua orang tua Rani. Dia merenggut jantung Rani mempersembahkannya kepada Nyi Durga. Namun ternyata apa gerangan? Yang ada di tangannya bukanlah jantung melainkan segumpal kapuk. Rani dan dua orang tuanya masih hidup, Tigor tak membunuh siapapun. Semua berkat campur tangan Si Kakek Tua yang datang tepat pada waktunya. Bingung dengan apa yang menimpanya, jiwa Tigor terguncang, dia pun jatuh pingsan.

Pemberontakan sesaat
Oh, Nyi Durga ampuni aku.
Tigor membantai Rani dan orang tuanya
Jantung kupersembahkan kepadamu
Si Kakek Tua mengejar Nyi Durga yang telah kehilangan kecantikannya hingga ke suatu tempat di mana Sang Pendeta, guru Nyi Durga bersemayam. Pertarungan tak terhindarkan. Kalah sakti Kakek Tua itu tewas mengenaskan. 

Cerita belum berakhir di situ. Djair masih menyiapkan kejutan buat pembacanya. Tigor yang dirawat oleh keluarga Rani, sadar dari pingsannya. Dia tak memedulikan sekitarnya. Yang dia tahu, Nyi Durga dalam wujud nenek-neneklah yang harus bertanggungjawab atas kekacauan hidupnya, atas kematian Rani.

wujud asli Mbah Durga
Si Kakek Tua ini menjalankan peran "Kiyai" di film horor, tapi twistnya luar biasa.

Hingga berhari-hari selanjutnya Tigor menebar ketakutan di sejumlah desa. Dia membunuhi setiap perempuan tua, nenek-nenek yang disangkainya sebagai Nyi Durga. Banyak sudah korban yang jatuh. Banyak pula perempuan muda yang dikiranya sebagai Rani dipaksanya untuk kawin. Semua perbuatan itu dilakukan akibat tekanan jiwa. 

Suatu saat warga desa memergoki pembunuhan itu, mereka mengepung Tigor, siap hendak melenyapkannya. Tetapi seorang lelaki keturunan Arab yang kemudian menjadi kunci penting pengikat kisah Pelet dan Pekutukan dengan serial Jaka Sembung muncul menyelamatkan Tigor dari amukan warga yang kalap. Cerita Pelet pun berakhir di sini. Perjalanan Tigor yang hendak menebus kesalahan di tanah kelahiranya berujung tragis bagi semua pihak, ketragisan yang melengkapi jalannya menjemput perannya, meminjam istilah Star Wars, sebagai seorang dark lord.
Pembantaian atas simbah-simbah malang. Siapa yang sangka jadi begini?
Tigor tidak sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai pendekar pembela kebenaran, pembasmi kejahatan. Komik Pelet ini juga tidak bisa dimasukkan ke dalam komik silat walaupun ada silatnya juga. 

Permulaan petualangannya saja sudah diperkenalkan bahwa Tigor bukanlah orang baik-baik dan dia tidak segan menggunakan kemampuan silat dan kekerasan hanya untuk menuruti amarahnya. Tidak, dia bahkan bukan seorang antihero yang masih punya tujuan “mulia” dengan cara-cara tidak mulia, lebih mendekati dia ke konsep tragic hero sebenarnya, tokoh dalam cerita yang nasibnya selalu tragis dan nelangsa. 

Dia hanya seorang manusia pengelana yang terombang-ambing di sungai kehidupan untuk sesekali mendamparkan diri lalu mengapung kembali hanya untuk tersangkut atau membiarkan dirinya menyangkut dalam kekelaman. Bagiku inilah yang membuat Tigor terasa sangat manusiawi. 

Kisah Pelet ini mengingatkanku pada komik Tuan Tanah Kedawung-nya Ganes Th, jelas tidak sama persis, sebutlah Pelet adalah Tuan Tanah Kedawung-nya Djair Warni, Di mana drama kehidupannya lebih kuat dibanding adu kanuragan dan jurus-jurus maha sakti untuk meraih kemenangan. Semacam novel grafis lah, hanya saja saat itu belum ada istilah novel grafis.

Rani...Rani
Orang keturunan Arab yang ada kaitannya dengan serial Jaka Sembung
Sosok Tigor adalah anomali jika dihadapkan kepada Parmin Si Jaka Sembung. Memang keduanya sama-sama tampan dan gagah, mahir bersilat pula, tetapi secara moral tidak putih, tidak juga tepat abu-abu, malah agak hitam namun tidak sepenuhnya hitam. Bingung kan? 

Sulit mengandaikan sikap moral Tigor melalui warna. Agak aneh juga melihat kenyataan Djair yang biasanya menggarap kisah tokoh persilatan golongan putih memberi perhatian kepada perjalanan hidup tokoh yang kemudian menjadi musuh dari golongan putih. 

Dimensi karakter Tigor berlapis dan maaf, tidak sedatar (dan se'membosankan') karakteristiknya Parmin yang begitu suci, saleh, nyaris sempurna, tak terbantahkan, bahkan digelari Wali Kesepuluh—sosok yang sangat stoic, sosok bukan-manusia. Tipikal khas hero yang diwariskan dari produk budaya populer satu ke lainnya. 

Di sinilah letak keunikan Djair yang berani mengisahkan hero yang berbeda dari biasanya. Seakan ingin memberi keseimbangan melalui jalinan liku cerita kehidupan yang malah menimbulkan simpati kepada tokoh jahat. Hei, ini orang gak jahat sih tapi kok jahat juga ya? Tapi dia ini juga bukan orang baik

Yah, dia hanya manusia biasa seperti kita juga.