Tampilkan postingan dengan label Plesetan. Tampilkan semua postingan

Sebelum Iblis Menjemput Versi Ringkas

Di sebuah villa kuno RAY SAHETAPY duduk tepekur merenungkan nasibnya. Keuangannya tengah seret. Tapi itu tidak menghalanginya menampilkan kedalaman emosi hanya lewat ekspresi wajah minim dialog. Mungkin dia sedang galau mengapa sepanjang sisa durasi dia hanya boleh berakting tidur oleh SUTRADARA TIMO TJAHJANTO.

Tiba-tiba speaker bioskop digedor oleh Sutradara Timo.

Ray bangkit, buru-buru membukakan pintu. Dia terkesiap, penonton apalagi. Kita melihat “Si Ibu Pengabdi Setan KW3” berdiri di ambang pintu.

Ray Sahetapy : “Ib..Ibu? ….Ibu sudah bisa..”

Ibu Pengabdi Setan KW3: “Shhh…, saya bukan Ibu… panggil saja saya MAWARNI.

Mawarni masuk ke villa, mondar-mandir sebentar sebelum turun ruang bawah tanah.

Ray Sahetapy: “Ah ya, tentu saja. Tidak pernah ada sebelumnya film horor yang menampilkan ruang bawah tanah…”

Mawarni kemudian menaburkan serbuk kapur di lantai untuk menggambar…seperti sudah kamu duga, PENTAGRAM!, sambil merapal mantra yang didapat secara random oleh Sutradara Timo dari kamus bahasa latin koleksinya.

Lalu Iblis pun muncul atau…merasuk ke dalam Mawarni atau Iblis yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mawarni melayang satu meter dari lantai. Sejurus kemudian ribuan lembar seratus ribuan lawas berterbangan. Ray kelimpungan memungutinya.

Mawarni: “Ray Sahetapy, kamu bisa kayAAA rayAAA… tapi kamu harus menyediakan tumbAAAALLL.” (membuka mulut selebar kepala bayi).

Ray Sahetapy : “AstagAAA, mulutmu lebar betul.” 

Mawarni: “Ini belum seberapAAAAA… nanti kamu akan lihat lebih banyak mulut mengangAAAAA…HA HAHAHAAA…” (tertawa jahat tipikal antagonis).

gambar ini mungkin lebih menghantuimu daripada filmnya


Bertahun-tahun-tahun berikutnya. Ray Sahetapy menjadi pengusaha sukses dan tajir berat, dia menikah lagi dengan seorang artis bernama Karina Suwandi dan bercerai dari istri pertamanya, tapi kemudian jatuh bangkrut dan menderita sakit misterius. Kita tahu ini semua dari eksposisi berupa montase KLIPING KORAN. Ingat ya. Ini akan jadi poin penting.

CHELSEA ISLAN putri pertama Ray dari istri pertama datang ke rumah sakit menjenguk ayahnya yang terbaring koma di bangsal kelas 3.

Chelsea Islan: (berbisik) “Pak, Bapak sakit apa sih? Itu bentol-bentol di kulit kok kayak dibuat dari tepung kanji dan sagu mutiara?”

Tiba-tiba KARINA SUWANDI yang kita kenal lewat sinetron (komedi?) Warkop DKI 1990-an menendang pintu tanpa bisa menyembunyikan raut tipikal antagonis yang menunjukkan bahwa dia… adalah si antagonis?

Karina Suwandi: “Cih! Chelsea, kenapa juga namamu Chelsea? Itu kan nama klub bola.” (mendelik lalu meludahi seorang suster).

PEVITA PEARCE:“Iya, ngapain kamu di sini? Cuh!” (mengetapel cecak di dinding dengan karet gelang lalu menindihnya dengan kaki meja).

SAMO RAFAEL: “Mama udah deh, kamu juga Pev. Kita semua kan bersaudara. Ya kan? …Aku ini anaknya Ray Sahetapy juga kan? Haah?” (garuk-garuk kepala).

Pevita Pearce: “Eniwei, Chelsea. Biaya perawatan bapakmu ini tinggi sekali. Jadi kami mau menjual villa kuno yang sertifikatnya masih atas namamu.”

Chelsea Islan: “Kalau itu tidak cukup menunjukkan bahwa kalian orang jahatnya entah apa lagi.”

Malamnya, Chelsea Islan mimpi bertemu Ibu Mawarni (masih ingat kan?). Saat dia bangun dari mimpi buruk, di luar dugaan Ray Sahetapy jump scare dari komanya lalu MEMUNTAHKAN DARAH karena…ini filmnya Timo dan kita belum melihat darah dari tadi. Sutradara Timo pun memukul-mukul panci masak dengan gembira sembari bersembunyi di kolong dipan rumah sakit.



Besoknya Chelsea Islan memutuskan untuk mendatangi villa kuno nan angker, tempat yang sering dikunjungi Ray Sahetapy sebelum jatuh sakit. Karena… formula film horor memang mengharuskan begitu jadi kenapa tidak?

Maka berangkatlah dia menumpangi bus sejauh 66 km, ojek 6,6 km, dan berjalan kaki menembus hutan sejauh 6 km. Sorenya Chelsea sampai juga di villa bernomor 666.

Chelsea masuk lalu menekan saklar, dan LAMPU PUN MENYALA. Sungguh kebetulan! Villa yang sudah lama terbengkalai masih dialiri listrik! Mari berharap listrik ini akan berguna terhadap plot cerita. Bukan sekedar trik menakut-nakuti lewat ajep-ajep lampu nantinya…

Tiba-tiba Karina Suwandi dan anak-anaknya mendobrak pintu depan villa.

Karina Suwandi: “Ada Chelsea di sini rupanya.” (menyeringai dengan sudut mulut nyaris mencapai telinga). “Saya harap kamu tidak keberatan, kami mau…enggg…menginventarisir benda-benda yang ada di sini…demi biaya perawatan bapakmu.” (menangkapi lalat lalu menusukinya dengan jarum pentul).

Chelsea Islan: “Gak usah keliatan banget jahatnya napa sih? Ini tuh film, bukan sinetron. Dasar artis gadungan!”

Merasa disindir Karina Suwandi bangkit lalu MENGGAMPAR PIPI Chelsea. Chelsea sesenggukan menghambur ke bekas kamarnya yang anehnya perabotnya masih utuh setelah sekian tahun. Dia tengkurap di kasur bak remaja tengah putus cinta.

Samo Rafael kemudian mendatangi kamar Chelsea, membawakan dua tangkup sandwich.

Samo Rafael: “Maafin mamaku ya. Nih, makan dulu. Bisa jadi ini satu-satunya yang kita makan untuk 3 HARI KE DEPAN.”

Serius. Mereka cuma makan ini buat 3 hari(!)


Chelsea Islan: (mengambil sandwich dan mulai makan) “Jadi kamu love interestku?”

Samo Rafael: “Hei, kita ini saudara satu bapak! Gimana sih?”

Chelsea Islan : “Oh, shit.” (tepok jidat) “Kenapa tidak dijelaskan?”

Samo Rafael: “Kamu kan perempuan, harusnya pandai membaca kode.”

Chelsea Islan: “Omong-omong soal kode, tadi di lantai 2 aku lihat ceceran darah, kepala kambing terpenggal, dan sobekan kulit dan daging. Entah itu penting atau tidak…”

typical reference to demonic activity

Samo Rafael: “OOHHH… BIASA ITU. Kan sekarang masa-masa Hari Raya Korban…baidewey, tadi mama nyuruh aku MEMBONGKAR PINTU ke RUANG BAWAH TANAH yang  pintunya dibeton, disegel, digerendel, digembok, dan ditempeli jimat yang biasa untuk membekukan vampir di film-film hongkong 80-an…”

jimat sakti anti vampir...eh iblis

Chelsea Islan: “Hmm…biasanya karakter idiot dalam film horor sih matinya cepet…”

Samo Rafael: “Bicara soal idiot, bapak kita lebih idiot. Dia main pesugihan dengan iblis.”

Chelsea Islan: “Tapi bapak masih hidup, biarpun dia sempat muntah darah sampai 3 galon.”

Mawarni: “Haha, TIDAK LAGI! Kalian telah membebaskan aku dari ruang bawah tanah dan baru saja aku pergi ke rumah sakit untuk menggorok leher Ray lalu balik lagi ke sini. MATI KALIAN SEMUA!”

Mawarni menarik Karina Suwandi masuk ke ruang bawah tanah. Sutradara Timo menggebrak-gebrak meja dan lantai. Situasi kalang kabut tak karuan. Karina berusaha berpegangan pada gawangan pintu, tapi Timo memutuskan menyulap jemari Karina menjadi bubur kertas, darah pun menyembur. Samo, Chelsea, dan oh, Pevita berusaha menolong tapi sia-sia. Karina pun berubah menjadi…ZOMBIE!

ZOMBIE KARINA menerjang mereka semua dengan ganas. Karena sudah belajar bagaimana membasmi zombie dari puluhan film Hollywood, Chelsea MENGHAJAR JIDAT Zombie Karina dengan sebongkah MARTIL dan seharusnya meninggalkan trauma di mata anak-anak Karina tapi nyatanya tidak. Zombie Karina lalu kabur dari villa setelah menggigit tangan Pevita Pearce.

Pevita Pearce: “Oh, tidak. Aku terinfeksi virus zombie. Cepat tembak kepalaku!”

Samo Rafael: “Tenang Pev, Mama bukan zombie. Itu cuma obsesi gak kesampaian Sutradara Timo yang gagal terus bikin film zombie.”

Chelsea Islan: “Di sini gak ada obat-obatan. Tapi 60 km dari sini ada rumah penduduk. Biar aku antar Pevita ke sana, sekarang juga, malam-malam begini, di tengah badai hujan, tanpa payung dan mantol. Kita gak bisa pakai mobil kalian karena mesinnya dirusak Zombie Karina, jadi kita jalan kaki.”

Samo Rafael: “Ide bagus! Biar aku duduk manis di sini nunggu di villa.”

Pevita Pearce: “Kamu gak cuma nunggu di villa, kamu nemenin adik kecil kita.”

Hadijah Shahab: “ehm ehm”

Samo Rafael: “Oh shit, kita masih punya adik lagi?”

Chelsea Islan: “Keluarga besar yang aneh.”



Berbekal sebilah senter dan sebongkah martil, Chelsea dan Pevita meninggalkan villa, namun belum berapa jauh Zombie Karina berkelebat. Mereka, tidak seperti karakter dalam cerita horor pada umumnya, memutuskan ini saat yang tepat untuk BERPENCAR!

Entah bagaimana Pevita merasa itu adalah saat yang tepat untuk membongkar isi tas Chelsea yang berisi… ALBUM KLIPING KORAN tentang keluarga mereka. Ingat montase kliping koran di awal? Pembuatnya ternyata adalah Si Chelsea. Ini membuat Pevita marah dan curiga atas motivasi Chelsea sebenarnya.

Pevita Pearce: “Jadi selama ini kamu memata-matai kami!?”

Chelsea Islan: “Bukan…, itu cuma…Pe’er-ku waktu masih SD.”

Pevita melesat ke tengah hutan. Bukannya memberitahu kedua adiknya yang ada di villa soal album kliping korannya Chelsea…dia ingin menyampaikan ini lebih dulu kepada ibunya yang…sudah berubah jadi zombie (hah?). Dia diterkam oleh Zombie Karina.

Zombie Karina: “ACCCKKKK….!!!!”

Pevita Pearce: “MamAAA…ini aku MAAA!”

Zombie Karina: “ACCCKKKK….!!!!”

Pevita Pearce: “Well, Shit”

Pevita terpaksa mengayunkan martil berkali-kali ke apalagi jika bukan jidat lebar Zombie Karina. Darah muncrat-muncrat dan Sutradara Timo dengan sengaja mengulurkan wajahnya agar kecipratan darahnya Zombie Karina.

Zombie Karina: “Kenapa pula Sutradara Timo seperti membenci jidatku…ACCKK?”

Zombie Karina pun tutup usia dengan laknatnya seperti dia menutup mulutnya, namun tiba-tiba Mawarni muncul di hadapan Pevita.

Mawarni: “PevitAAA…jadilAAAHH…budaaAAAKKUU…”

Pevita Pearce: “Oke, tapi aku tidak mau kalau disuruh mangap mangap.”

Mawarni: “Tidak bisAAAA harus mangAAAPPP…”

Pevita Pearce: “Oh, baikLAAAAHHH…” (membuka mulut selebarnya)



Sementara itu Chelsea kembali ke dalam villa.

Chelsea Islan: “Samo, Si Pevita lari ke hutan setelah melihat album kliping koranku ini.”

Samo Rafael: “Oh…OKE.”

Chelsea Islan: “Kamu gak marah dan takut?”

Samo Rafael: “Enggak, tadi aku ngeliat kepala mamaku dibacok pake martil, santai aja.”

Hadijah Shahab: “Tadi aku tidur sendirian dan diganggu sama jump scare Mawarni.” (dicuekin keduanya)

Chelsea Islan: “Sekarang apa yang kita lakukan?”

Samo Rafael: “Kita tunggu sampai pagi.”

Pagi pun datang.

Chelsea Islan: “Sekarang apa yang kita lakukan?”

Samo Rafael: “Kita tunggu sampai malam.”

Malam pun datang.

tunggulah...lumayan buat manjangin durasi

Chelsea Islan: “Sekarang apa yang kita lakukan?”

Samo Rafael: “Kita tunggu sampai…plotnya jalan.”

Pevita Pearce: “KejutaAAAANN.” (tiba-tiba muncul dari sudut kamera)

Chelsea Islan: “Jelas kejutan karena kamu butuh sehari semalam cuma untuk balik ke sini.”

Pevita Pearce: “Diam, aku adalah abdinya Mawarni. Aku punya boneka voodoo yang mewakili kalian semua.” (mengeluarkan boneka voodoo yang bentuknya mirip Samo Rafael)

Pevita kemudian menarik kepala boneka Samo hingga putus.

Samo Rafael: “Ohh, tidak tidak. Aku adalah satu-satunya laki-laki tersisa di film in…” (lehernya tercabut dari pundak!).

Sembilan galon darah kehitaman mengocor dari leher Samo.

Sutradara Timo: “Sorry, warna darahnya agak gelap. Sisa dari film Headshot belum habis. Hahaha.”

Pevita Pearce: “Sekarang giliranmu Chelsea, tapi…tidak secepat itu. Aku akan menyiksamu lebih dulu, dimulai dari memuntir kakimu pelan-pelan.” (memelintir kaki boneka voodoo  Chelsea ke arah belakang).

Kaki Chelsea Islan-pun terpelintir ke belakang. Sehingga dia jadi cacat permanen.

Pecita Pearce: “Hmm, apalagi ya? Oh iya! Kita lanjutkan dengan ngobrol dari jarak dekat, supaya kamu dapat kesempatan mencuri boneka voodoo yang mewakili diriku yang kubawa-bawa ini, bukannya ku amankan di suatu tempat. Ayo silakan ambil.”

Chelsea Islan: “Makasih Lol!” (merenggut boneka voodoonya Pevita dan langsung memelintir lehernya)

Pevita Pierced: “Ah iya, karakter idiot bakal cepet mat…” (tewas dengan leher patah)

Chelsea Islan merangkak meraih boneka voodoonya. Dia memuntir balik kaki boneka voodoonya yang sebelumnya patah sehingga sekarang kakinya baik-baik saja, karena begitulah cara kerja tubuh manusia.

Chelsea tersenyum lega tapi, sudah berakhirkah film ini? BELUM! Mawarni muncul di depannya.

Mawarni: “HAHAHA, masih ada aku!!!”

Chelsea Islan: “Astaga kamu lagi?”

Mawarni: “Apa kamu tidak baca review film ini yang bilang bahwa teror terjadi tanpa jeda? Matilah kau!”

Tanah yang dipijak Chelsea runtuh membentuk liang lahat, menguburnya hidup-hidup. Namun Chelsea lantas meloncat ke MESIN WAKTU menuju ke MASA LALU dan melihat penjelasan yang sesungguhnya atas segala jump scare non sense yang menerpa penonton sejak permulaan.

Kita kembali ke adegan di kala Ray Sahetapy memunguti uang pesugihan pemberian Mawarni.
Mawarni: “Ingat Ray, kalau mau kaya sediakan tumbal…yaitu orang terdekatmu!”

Ray Sahetapy: “Orang TERDEKATKU saat ini adalah KAMU. Kalau begitu kamulah tumbalnya!!!” (Ray mengayunkan sekop ke kepala Mawarni, Mawarni ambruk) “Weh, semudah itu ternyata mengalahkan utusan iblis.”

Mawarni tewas, namun dia sempat menjatuhkan kutukan kematian kepada Ray Sahetapy dan keluarganya dengan memakan sejumput RAMBUT RAY. Ray kemudian mengubur Mawarni di ruang bahwa tanah lalu menyegel pintunya. Chelsea lalu meloncat kembali ke masa kini.

Chelsea Islan: “Apa penonton tidak akan diberi penjelasan, apa yang barusan kualami tadi? Apa aku punya kekuatan super yang bisa melihat masa lalu. Enggak?”

Sutradara Timo: “Lakukan saja apa yang ada di skrip.” (menuding sekop)

Chelsea kemudian menggali tanah di ruang bawah tanah dan menemukan mayat Mawarni. Dia merobek leher mayat itu, menemukan rambut Ray yang membawa kutukan, dan secara intuitif membakarnya, seolah tahu bahwa begitulah cara membatalkan kutukan. Secara mengejutkan cara ini berhasil. Mawarni pun lenyap.

Chelsea dengan sok tertatih keluar dari ruang bawah tanah. Hadijah Shahab menyambutnya.

Chelsea Islan: “Loh, kamu masih hidup. Dari mana aja tadi?”

Hadijah Shahab: …

Chelsea Islan: “Kamu yakin mau pergi bareng orang yang membelah kepala ibumu dan sudah membunuh kakakmu, saudara tiriku sendiri?”

Hadijah Shahab: (angkat bahu seolah mengatakan “whatever”)

Chelsea Islan: (angkat bahu juga tanda minta pendapat penonton)

Matahari bersinar, mereka berdua keluar dari villa. Lampu bioskop menyala, penonton keluar dari teater…sambil berusaha mengingat-ingat kira-kira apa yang layak diingat dari film ini? Apa ya? (hmm…mikir).

Zaappp, pindah tempat dalam sekejab ke masa lalu dan meminta diri sendiri supaya tidak nonton ini film.


Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon Versi Ringkas

Suatu hari Kapten Rio Dewanto berpamitan kepada keluarga Jenderal Purn. Deddy Nagabonar Mizwar, bapaknya Revalina S. Temat sang tunangan untuk berangkat ke Libanon sebagai komandan Pasukan Garuda demi menjalankan misi perdamaian. Catat ya! Misi perdamaian. Dan yang dimaksud misi perdamaian adalah sesuai dengan apa arti kata “damai” secara harfiah: tidak banyak yang terjadi, kecuali… “Awas, ada roket diluncurkan, sembunyi di bunker! Karena pasukan perdamaian artinya kita tidak boleh ikut campur, …tapi toh kita hadir di sana!

Kapten Rio Dewanto: “Apa kita tak ingin menjelaskan kepada penonton, ada situasi apa di Libanon, mana lawan mana, atau setidaknya ini tahun berapa.”

Deddy Mizwar (dengan logat Nagabonar): “Sebagai prajurit yang perlu kamu ketahui hanya menjalankan perintah tanpa bertanya. Dan yang benar Lebanon pake E, bukan Libanon. Lebanon terdengar lebih keren.”

Kapten Rio Dewanto: “Siap, salah, Ndan!”

Revalina S. Temat: “Ini tahun 2016, Mas Rio, seperti nanti ditunjukkan anggota pasukan Garuda yang pada video call via Wassap.”

Kapten Rio Dewanto: “…Kita tunda menikahnya nanti setelah saya pulang dari Lebanon …untuk menjaga perdamaian. Ya?”

Revalina S. Temat: “Iya Mas, sebagai dokter spesialis saya toh juga sibuk. Pastinya akan muncul subplot menarik melibatkan karir saya di cerita ini kan?”
(Sayangnya itu tidak terjadi)

Setelah adegan berpisah-pisahan di Bandara, Pasukan Garuda sampai juga di Lebanon. Mereka tak menghabiskan banyak waktu untuk memulai misi perdamaian tahap I: Berpatroli.

Komandan: “Ingat Rio, kita ini penjaga perdamaian, tidak boleh terlibat jauh dengan konflik. Ajak anak buahmu berpatroli sekarang.”

Boris Bokir (dengan steriotip Batak): “Bah, aku ini comic relief-nya film ini. Aku siap menggempur musuh, itupun kalau kita punya musuh… kita punya musuh kan?”

Yama Carlos: “dan saya…” (tenggelam dan terlupakan)

Berkendara dalam panser putih, belum apa-apa mereka berada di tengah tembak-menembak yang melibatkan empat vs lima orang, asap, api, roket, senapan Ak47, pasir gurun, dan… oh helikopter!

Kapten Rio Dewanto: “Mundur! Mundur! Kita tak boleh terlibat!”

Boris (dengan steriotip Batak): “Bah, kenapa kita mesti mundur, Kapten?”

Kapten Rio Dewanto: “CGI-nya kw 5, kita mundur atau mata kita akan sakit!”

Semua anggota pasukan pun berlindung di dalam bunker demi keselamatan. Sesudah pertempuran reda mereka baru keluar. Kemudian masuk lagi ketika ada bentrokan lain. Lalu keluar lagi jika sudah kelar. Dan begitu seterusnya.

Berhubung durasi masih dirasa kurang lama, cerita kemudian disusupi dua adegan paling cringeworthy tak terlupakan. Yang pertama Pasukan Garuda memberi kado kue ulang tahun entah kepada Komandan pasukan Lebanon atau kepada militer Lebanon, tidak jelas juga maunya apa. Tapi yang jelas kita jadi tahu Pasukan Garuda berlimpah-limpah waktu untuk sempat bikin kue dan ternyata pasukan Lebanon jarang makan kue. Hore!

Yang kedua, Kapten Rio dan aktor lain yang cukup penting (karena punya dialog dan masuk kredit) berhasil menemukan sebutir lampu natal berkelap-kelip di sebatang pohon yang bukan pohon natal, oleh karenanya layak dianggap mencurigakan (?). Temuan ini entah bagaimana katanya sangat dihargai oleh PBB sehingga harkat pasukan asal Indonesia melejit pesat di mata dunia. Sungguh!

Misi perdamaian di Lebanon tahap II dilaksanakan: Berkunjung ke sebuah sekolah. Di sana Kapten Rio Dewanto bertemu dengan janda anak satu berbodi semlohai bernama Rania.

Kapten Rio Dewanto: “Salam aleykum, ana Ismi Kapten Rio.”

Rania: “Saya bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar, Kapten Rio.”

Kapten Rio Dewanto (tersentak): “Bagaimana bisa?!”

Rania: “Karena ini film Indonesia maka kamu tidak perlu kaget, dan kamu adalah prajurit, jangan banyak bertanya.”

Kapten Rio Dewanto (melihat seorang anak perempuan emo minus dandanan emo duduk di sudut ruang): “Iiih, anak sapa tuh, lutuna…”

Rania (dengan ekspresi sedih): “Itu anak saya, Kapten. Namanya Salma, dia mengalami trauma...” Rania kemudian menerawang keluar jendela. Lalu ditayangkanlah Flashback yang terdiri dari ledakan bom CGI murahan, debu bertebaran, latar tempat yang ke-Arab-araban, dan seciprat darah yang telah membunuh suaminya, ayah Salma.

Kapten Rio Dewanto (dengan voice over suara hati macam sinetron gitu): “Sebagai prajurit penjaga perdamaian, aku berkewajiban mendamaikan hati anak ini, ehm… dan ibunya juga.”

Lalu tidak banyak hal lain yang terjadi, selain mereka sering ketemu, ngobrolin ini itu, ngobrolin Kahlil Gibran (serius!), jalan-jalan, bergandengan tangan, makan bareng. Pendeknya ini hanyalah adegan orang pacaran hanya saja latarnya di Lebanon. Montase bagaimana mereka berduaan atau bertigaan (dengan Salma) tersaji di layar bioskop selama tigaperempat durasi. Hingga tiba masanya Pasukan Garuda pulang kandang.

Kapten Rio Dewanto: “Rania, Salma, saya akan pulang ke Indonesia. Saya punya Revalina untuk dinikahi. Sampai jumpa.”

Rania dan Salma berpelukan bertangisan. Adegan ini cukup menrenyuhkan hati andai saja Boris Bokir tidak membikin penonton tertawa.

Sementara itu di Indonesia Revalina dikenalkan oleh orangtuanya dengan Baim Wong yang adalah seorang pengusaha.

Deddy Mizwar (dengan logat Pak Haji): “Jadi, kamu pengusaha apa Anak Muda?”

Baim Wong: “Saya sedang mengusahakan supaya penonton sebal sama saya, Pak.” Baim beralih ke Revalina, “Saya dengar dari sutradara kamu dokter spesialis?”

Revalina S. Temat: “Saya dokter spesialis gadungan kandungan.”

Baim Wong (bersenyum pleboi): “Tahukah kau, aku mengandung cinta untukmu.”

Revalina S. Temat jengah, dia memalingkan muka tapi menoleh kembali setelah Baim melahirkan dua buah mobil dan sebongkah apartemen ke hadapannya. Mata mereka bertumbukan memancarkan binar-binar asmara. Begitulah, kawan. Agar tidak gagal dalam percintaan, cobalah beri pasanganmu mobil dan atau apartemen seperti dibuktikan oleh film ini. Rencana pernikahan Baim dan Revalina pun langsung dibicarakan.

Tepat pada saat itulah, Kapten Rio Dewanto datang bermaksud untuk melamar Revalina. Dia hanya ditemui Jend. Purn. Deddy Mizwar di tepian pinggiran teras rumah.

Deddy Mizwar (dengan logat Nagabonar): “Sebagai prajurit, perjalananmu masih panjang. Kamu mungkin tidak bisa bersanding dengan anak saya, Revalina. Tapi kamu masih bisa jadi mayor lalu mengundurkan diri mencoba peruntungan maju sebagai gubernur di pilkada, yang mana itulah yang saya lakukan.”


Bahasa ngode a la militer dipahami dengan baik oleh Kapten Rio. Dia berjalan gontai ke arah matahari terbenam, hujan turun dengan deras, air mata merendam hatinya yang pilu. Tepat sebelum The End judul film pun muncul, kali ini sudah berganti menjadi, Pasukan Garuda: I Wound My Heart in Indonesia.

Film Headshot (review)

Pada sebuah penjara kumuh nan temaram mendekamlah di salah satu biliknya penjahat super sadis bernama Sunny Pang. Kita semua langsung tahu dia bejat karena duo sutradara Mo Bros berkeras agar Sunny Pang memajang tampang licik sepanjang durasi lengkap dengan lensa kontak merah di mata kiri, dan dia pun dipanggil dengan nama yang amat tipikal: siapa lagi kalau bukan, Lee… karena dia berasal dari Cina (kan?) jadi itu adalah satu-satunya nama yang masuk akal.

Apapun itu, Sunny alias Lee meloloskan diri setelah segerombolan penjahat yang bisa keluar dari sel adu tembak secara terbuka dengan satu peleton penjaga penjara yang entah bagaimana melupakan pelatihan menghadapi situasi krisis semacam ini. Mo Bros yang dari tadi sudah gatal ingin mengejutkan penonton kemudian menyemburkan dua puluh liter darah ke segala penjuru.


title sequence

Segera begitu lepas dari penjara, untuk membangun betapa kejinya Sunny Pang, ditemani oleh Julie Estelle, dia menembaki, menusuki, membacoki, lalu cuci muka dengan darah anggota geng yang menjadi distributor barang-barang haramnya, karena bersembunyi bukanlah konsep yang dipahami dengan baik oleh buronan penjara macam Sunny.

“Haah, sebagai seorang penyelundup aku masih sangat membutuhkan distributor, tapi karena aku juga bandit top maka aku wajib membuat penonton memusuhiku. Dilema!” ujar Sunny. Jarinya sudah diujung pelatuk pistol siap melubangi dahi Si Centeng Distributor yang namanya tidak penting disebut. Tapi untuk memudahkan mari kita panggil dia Sisidi (SCD-Si Centeng Distributor).

“Tunggu Bos, jangan tembak saya. Saya punya info. Iko Uwais masih hidup.”

“Masih… hidup?” Sunny mendelik dengan licik.

Siapakah Iko Uwais? Jeng jeng jeng

Kita beralih ke tempat lain, di sebuah rumah sakit yang bukan di Jakarta—barangkali alasan bujet, mungkin pula Mo Bros ingin menjauhi Jakarta yang lekat dengan citra The Raid series—terbaring dalam keadaan koma selama dua bulan Iko Uwais, bintang utama The Raid yang daripada menanti terlalu lama untuk bermain di sekuel garapan Gareth H. Evans mau berperan menjadi seorang lupa ingatan bernama Ishmael. Ingat ya, Ishmael. Bukan Ismail! Ismail mah kampungan, Ishmael lebih bisa dijual!

Rupanya dokter Uayuu selama ini telah menungguinya dan merawatnya dengan kasih sayang karena di rumah sakit terpencil orang sakit jumlahnya mendekati nol, makanya dokter macam dia jadi berlimpah waktu luang. Saat itulah Iko sadar dan bangkit terhenyak dengan gelagat khas film Hollywood bila si aktor bangun dari mimpi buruk.




 *yah, seperti inilah. Nangkap kan?*

“Dimana gue, sejak kapan gue di sini, siapa gue, apa yang terjadi sama gue, kenapa gue begini, gimana gue sampai di sini ? Lima W satu H, gue harap film ini menjawab semuanya!” Iko Uwais bertanya tanpa henti sambil memegangi kepalanya.

 “Iko, sabaaar. Kamu seharusnya orang Sumatra atau… apalah. Bukan Jakarte. Berhenti bilang gue.” dokter Uayuu mencoba menenangkan Iko.

“Apakah ini film eksyen? Tolong katakan ini memang film eksyen, bukan drama. Mengapa dari tadi belum ada adegan silatnya? Jangan paksa gue untuk aktiiing. Gue gak bisa aktiiing!” Wajah Iko mulai terlihat cemas. Mungkin sebenarnya dia bisa akting juga.

Mendengar racauan Iko, Mo Bros lantas mengirim Sisidi (ingat? Si Canteng Tak Bernama?) masuk ke ruang periksa dokter Uayuu.

“Arhh, Iko. Lihat aku melecehkan dokter Uayuu. Kamu harus menghajarku jika ingin menyelamatkannya.”

Bagai disundut rokok yang membara, Iko tanpa perlu menjalani terapi pasca koma dengan hati riang meremukkan wajah Sisidi hingga tak berbentuk lagi.

“Oh, Iko pahlawanku. Terimakasih…” dokter Uayuu mendekap Iko dengan hangat membuat Audy Item Uwais menangis semalam.

Mereka berdua lantas melupakan insiden kecil itu, karena keesokannya dokter Uayuu pulang kampung. Dan yang kumaksud kampung adalah Jakarta yang berstatus Ibukota, jadi lebih tepat dibilang pulang kota. Iko mengantar dokter Uayuu hingga ke pintu bus, membuat anak buah Sunny yang lainnya, Tano//Tejo  mengira Iko turut naik ke dalamnya.

Belum berapa jauh berjalan bus butut itu dihadang Tano//Tejo yang diperintahkan untuk menghabisi Iko Uwais. Tidak menemukan Iko di dalam mereka jadi ingat peran mereka sebagai penjahat dan mereka belum berbuat banyak supaya penonton ikut sebal kepada mereka. Maka dengan senang gembira Tano//Tejo menyemprotkan peluru ke seluruh penumpang bus seakan mereka prop yang terbuat dari steriofoam. Mo Bros bermasturbasi menonton loncatan lima puluh liter darah.

“Hei lihat, ada cewek ayu!” Tano//Tejo cengengesan saling tos tinju.

“Itu…memang nama saya… pemberian dari pengetik tulisan ini yang punya obsesi tidak sehat kepada saya.” Jawab dokter Uayuu.

Berhubung dokter Uayuu terlanjur terlibat dalam plot, dia berkewajiban diculik dan disekap oleh anak buah Sunny demi melengkapi garis takdirnya sebagai perempuan di film ekyen sejak era 80-an.

Iko Uwais datang terlambat di TKP (Tempat Kejadian Pembantaian). Dokter Uayuu tidak ada di situ, bus dalam keadaan kosong. Maksudku tidak benar-benar kosong sih. Ada beragam jenis sobekan kulit; serpihan daging; serbuk tulang; percikan darah, pendeknya semua yang tadinya adalah manusia. Sesuatu yang biasa dilihat Iko seharusnya, tapi entah mengapa dia seperti mual. Iko hendak keluar dari bus, namun bus itu disergap gerombolan penjahat (lagi). Iko dengan sigap siap sedia melumat mereka semua tanpa ampun.

Tiba-tiba Epi Kusnandar muncul menolong Iko dari Penjahat#34 yang hendak membokong. Dia kena babat, tiga liter darah muncrat dari dadanya yang terbelah.

“Ahh…, siapa lo?” tanya Iko.

“Saya Epi…, saya yang menyelamatkan kamu dari tepi pantai dan membawamu ke rumah sakit… sekarang saya mati…selamat tinggal…” Epi pun mati dengan mengenaskan, tapi lebih karena penonton tidak tahu kalau dia ternyata Epi Kusnandar.

“Oh…, oke…” Iko baru akan menunjukkan ekspresi kesedihan dan kemarahannya tapi POLISI keburu menangkapnya.

Di Kantor Polisi Iko diinterogasi AKP Teuku Rifnu Wikana! Sungguh cameo yang tak terkira. Penampilan Teuku Rifnu menggoyahkan semangat akting Iko.

“Astaga, gue harus berhadapan dengan Jokowi muda? Ampuni saya Pak. Saya baru berniat menjalankan nawacita dan ikut tax amnesty namun belum kesampaian.” Kata Iko dengan nada rendah.

“Jawab siapa sebenarnya kamu? Mengapa kamu terlibat dengan gengnya Sunny Pang?!” Sembur Teuku Rifnu

Gue juga gak tahu Pak, gue harap film ini akan mau menjawab semuanya.”

Teuku Rifnu mulai mencium masalah, “Apa aktingku terlalu bagus untuk film ini?” Jawabannya adalah IYA. Teuku Rifnu pun tewas mendadak. Lima setengah liter darah mengucur dari lehernya yang tertembus golok komplotan penjahat (lagi) yang menyerbu Kantor Polisi.

“Ih, yang bener, penjahat menyerbu Kantor Polisi? Kirain cuma teroris yang berani. Ini berarti gue harus kerahkan semua ilmu silat gue!” Benar, ini adalah saatnya Iko untuk menghadapi…

STAGE #1: Police Station (vs. MINI BOSSES #1)

Dari pintu masuk nongol Tano//Tejo, duo pentolan begundal dengan karakteristik sadis gila gemar tertawa. Aku harus bilang kalau aku tidak tahu yang mana yang namanya apa. Mereka jarang memanggil nama satu sama lain. Jadi anggap saja mereka satu orang ya, toh bisa saling menggantikan.

“Ini saatnya Iko. Kita yang sudah seperti saudara ini berhadapan juga!” Tano//Tejo bersorak.

“Saudara apa? Sejak kapan?!” Iko tersentak mendengarnya.

“Sepertinya kamu masih lupa ingatan.” Ucap Tano//Tejo.

“Gak juga. Sebetulnya gak jelas apa aku pura-pura lupa ingatan atau kapan mulai ingat. Mungkin kalau Mo Bros mau lebih kreatif daripada sekedar eksposisi gue bisa lebih menjiwainya.” Ucapan Iko sangat menyengat tapi Mo Bros tutup telinga.

Tunggu! Kalian ingat bagaimana netizen bertanya-tanya, dikemanakankah pistol oleh para penjahat di The Raid 2, mengapa mereka tidak memakainya?  Ini dia! Mo Bros akan menggunakannya secara simultan, bergantian dengan silat. Dan yang aku maksud dengan silat adalah kesuperioritasannya di atas pistol. Mereka lalu bertarung dan bermain petak umpet umpat di antara meja kantor dan bertarung lagi lalu bersembunyi lagi.

“Kami ingin darah. Kami ingin darah. Kami ingin darah!” Tano//Tejo mengucapkannya bagai mantra.

“Baiklah, ini dia darah. Darah lo sendiri!” Iko menembakkan shotgun. Tujuh seperempat liter darah muncrat dari kepala Tano… atau Tejo(?), aku sungguh tidak tahu. Iko melanjutkan gerakan Finish Him ke Tejo…atau Tano(?) dengan menyulap mukanya jadi bubur disertai aliran darah sebanyak sembilan liter.

STAGE #2: Deep Forest (vs. MINI BOSS #2)

Iko melanjutkan misinya ke tengah hutan, markasnya Sunny(?), di mana tersedia tempat yang lapang dan nyaman untuk baku pukul, kebetulan sekali!! Dia dicegat oleh Baseball Bat Man Besi. Misi baru: bunuh Besi untuk maju ke Stage 3!

Besi membuka dialog, “Iko, ini aku… eh? Nama karakterku BESI? Setelah jadi Manusia Pentungan aku jadi Besi?"

"Setidaknya namamu masih keren." hibur Iko.

"Shit! ...ya kurasa. Setidaknya juga penampilanku lebih sophisticated. Lihat jenggot dan kumisku yang lancip, rambutku yang dikuncir ke atas, dan aku pakai kacamata. Lihat Iko, lihat.” Besi menuding-nuding mukanya sendiri.

“Jadi kamu hipster nih?” ujar Iko tak ambil peduli.

Sakit hati karena diejek, Besi mendadak menghilang dari pandangan kamera.

“Astaga, kemana kau pergi?” Iko nampak bingung.

“Kalau kita sudah seperti saudara bukankah kamu tidak usah terkejut dengan gaya bertarungku?” Ternyata Besi ada di atas pohon, rupanya nama Besi juga berarti dia selincah monyet.

“Butuh lebih dari eksposisi dan flashback untuk membangun rasa kedekatan!” sergah Iko.

“Itu belum apa-apa dengan yang menantimu di Stage 3!” Besi menyerbu dengan pentungan besi.

Mereka bertarung lagi. Kamera berputar-putar demi membedakan diri dari The Raid series dan Bourne series. Ini membuat Besi terserang vertigo. Iko dengan gampangnya menghantam wajah Si Besi.

“Oh, ada apa dengan Mo Bros dan wajah? Kenapa mereka begitu membenci wajah?” Besi menyemburkan sebelas liter darah dari mulutnya.

“Dandananmu terlalu basi, Besi!” Iko menuding ke kamera, “yeeah!”

STAGE #3: Beach (vs. MINI BOSS #3, mini boss lagi???!!!)

Iko berlari ke Pantai, kemudian diteriakin Julie Estelle. 

"Jadi setelah jadi pembunuh di The Raid 2, kamu jadi pembunuh lagi? Sungguh perkembangan akting yang luar biasa."

"Diam! Kamu sendiri sama!"  

Mereka bertarung lagi selama sepuluh menit. Belahan dada Julie terpampang di depan kamera, sesuatu yang jarang bisa dilihat belakangan ini. Makasih ya KPI. Karena anda juga belahan dada terasa istimewa. Kedua basah tercebur air laut. Sungguh erotis, eh maksudku eksotis.

“Kenapa kita harus bertarung di pantai sih?” tanya Iko.

“Supaya …romantis? Tak ingatkah kamu Iko, betapa mesranya kita dahulu? Kamu tidak ingat Sunny adalah ayah kita yang baik kepada kita semua…” Julie balik bertanya.

Iko memotong, “Aneh, kalau memang kita dulu mesra kenapa tidak ada flashbacknya? Entah adegan itu sudah dibuat tapi disensor KPI atau tidak dibuat agar tidak melukai perasaan Audy…dan gue mesti percaya kita dulunya adalah sepasang kekasih? Astaga!”

Tersinggung akan indikasi bahwa aktingnya payah, Julie menusuk perutnya sendiri dengan pisau dan langsung mati. Kali ini hanya dua liter darah membuncah merembes ke air laut.

“Tidak…,oh…jangan Si Julie dong, tidak…” Iko baru akan menyajikan ekpresi trenyuh dan tersentuh. Tapi Mo Bros menyuruhnya segera ke stage berikutnya.


FINAL STAGE: Bunker (vs. MAIN BOSS)

Iko Uwais memasuki bunker dan membebaskan dokter Uayuu dari kepungan para penjahat. Mereka ingin segera keluar dari bunker. Tapi Sunny menghalangi.

“Ha ha ha, Iko my son. Kamu pasti tidak menduga akulah yang kamu hadapi di final boss fight ini.” Mata Sunny menyala-nyala.

“Astaga, belum cukupkah pertarungannya? Penonton sudah capek tahu?” Iko terkesiap,  “dan lihat tempat ini. Ruangan kosong empat dinding yang datar dan hambar! Akan sungguh sangat menjanjikan baku hantam yang seru, YA?”

But, the directors said they still got sixteen more litres of blood and it’s all for me.” Sunny mencoba membantah.

“Ngapain lo ngomong bahasa linggis? Tukas Iko.

Because it will add some depths in my character.”

Really?

Kesal karena diajak ngomong pakai bahasa linggis, Iko menyerang Sunny Pang ayah angkatnya. Jujur, aku sudah kehilangan minat menonton perkelahian yang berlarut-larut ini. Intinya, gaya bertarung mereka berbeda. Sunny Pang menggunakan jurus yang kutebak sih cakar harimau dari Shaolin. Sungguh, ini gak bohong! Cakarnya bisa merobek kulit lengan Iko. Sedangkan Iko menggunakan silat aliran… pokoknya silat.

Menyadari ruangan itu terlampau kosong dan tidak ada yang bisa dimanfaatkan untuk jadi plot device. Sunny menghambur keluar bunker,  “Let us continue this fight outside!” teriak Sunny.

Why?

It needs to be more dramatic.

Dan yang dimaksud dramatis adalah hujan! Karena, kenapa tidak? Mereka masih bertarung lagi dan lagi untuk beberapa jurus. Tapi kali ini Sunny Pang sudah demikian terdesak.
Iko, I never told you how much I love this forest.” Sunny merengek.

“Huw…I mean…How?” Jawab Iko sekenanya.

"Witness me!" Sunny menghujamkan dirinya sendiri ke dahan kayu yang tajam, karena di film ini dahan kayu terbuat dari besi stainless steel jadi tidak akan pernah lapuk. Delapan belas liter darah membanjiri tubuh Sunny.

“Ukhh…, sutradara bilang enambelas liter…, eekkhh” Sunny Pang pun tewas dengan gembira.

Dokter Uayuu menghampiri Iko, “Iko, kau makin menegaskan signature-mu.”

“Bahwa gue adalah the next action star in Asia?”

Dokter Uayuu meraba pipi Iko, “Bukan, wajahmu yang dihiasi darah dan luka bikin kamu lebih ganteng.”


fighter

“Oh…, ok…” Iko baru akan menampakkan ekspresi sedih sekaligus tegar, tapi dia keburu pingsan.

...

Kita beralih ke sebuah rumah sakit di Jakarta. Iya, Jakarta! Akhirnya mereka berdua pulang kota juga. Di situ dokter Uayuu sedang menunggui (lagi) Iko Uwais yang sedang koma (lagi). Tiba-tiba seorang cameo masuk.

“Astaga, Ario Bayu. Ngapain kamu di sini!” sapa dokter Uayuu.

“Aku adalah Komisaris Polisi, tugasku adalah eksposisi. Aku di sini berfungsi menjelaskan plot. Begini ceritanya: Iko cilik diculik oleh Sunny, dia dididik sejak kecil jadi pembunuh, dst., dst., bla, bla. Iko bilang "tidak, cukup", lalu dia menjadi informan buat kami, tapi dia ketahuan dan Sunny mencoba membunuhnya, dst., dst., bla, bla., demikian.” Ario Bayu mengakhiri presentasi cerita pakai Powerpoint.

 “Woow, itu cukup detail. Tapi… whatever. Yang penting penonton puas ngelihat adegan tonjok-tonjokan dan darah kan?” dokter Uayuu tersenyum manis ke kamera.

“Dan, gue masih hidup. Berarti bakal ada Headshot 2, kan?” Iko berharap dengan raut memelas.
.
.
.
Mo Bros pura-pura tidak dengar. Mereka menyetel musik rock keras-keras, berendam bareng dalam bak mandi berisi seratus liter darah sambil merevisi naskah The Night Comes For Us memastikan akan lebih banyak darah.

TEE'END

Azrax 2, Menggilas Sindikat Judi Bola bagian 2

lanjutan dari BAGIAN 1

Azrax dan Bang Hadji menyadari ulah mereka yang memancing perhatian penghuni gedung. Mereka seketika berhenti. Sungguh suatu situasi yang amat kikuk.

“Kenapa berhenti? Teruskan!” sahut manusia Namec.

“Aku pasang 5000 untuk yang berkuncir!” salah satu makhluk E.T. berucap.

“Aku pasang 7500 untuk yang bulu dadanya lebat itu.” Kata makhluk Asari.

"Rrrrrrkkkkkk..." kata Predator. (subtitle warna putih: 6000 aja untuk yang berkuncir).

"Wiiiizzzzz..." kata Alien. (subtitle warna kuning: 6000 juga untuk yang berbulu dada lebat itu). 

Disusul suara-suara lain, riuh memasang taruhan berikut harganya masing-masing yang entah dalam mata uang apa. Sorak sorai kian menggema demi agar Azrax dan Bang Haji kembali bertarung.

Bang Haji dengan nada lirih membisik, “Dik Azrax, baiknya kita harus lupakan dulu permasalahan kita. Ada yang lebih penting rupanya.”

“Biar kutebak, nama ibu kita sama persis?” desis Azrax.

“Eng…..gak juga.”

“Nama… bapak kita sama…?”

“Tidak, sama sekali tidak!”

“Nama istri kita…ada yang sama?...Tidak yaa? Nama anak kita, mungkin?”

“Sumpah mati aku akan membenamkan hidungmu jika kamu tidak berhenti. Liat sekeliling kita ini!”

Azrax seketika itu paham. Bang Haji dan Azrax kemudian saling merapatkan punggung masing-masing. Tampang keduanya super waspada, tangan mereka mengepal keras.

Okay, I go this way, you go that way.” Kata Azrax.

What dya mean I go that way, you go this way?” timpal Bang Haji yang ternyata bisa juga berbahasa linggis.

Okay then, I go that way, you go this way.” Keduanya sepakat mupakat.

Azrax melepas ikat kuncirnya. Rambutnya panjang melambai-lambai. Sekali sibak segenap makhluk Klingon terhempas keluar orbit Bumi. Paru-paru mereka meledak di ruang hampa menimbulkan pemandangan langka jika tidak mau disebut belum pernah ada. Para ahli astronomi penjuru Bumi mengira itu semacam anomali di langit, mereka pun kemudian berebut memberi nama.

Sementara itu Bang Haji membuka tiga kancing kemejanya dari atas, tiga puluh butir keringat yang mengalir antara rambut dadanya meluncur membutakan mata ketigapuluh manusia Namec. Azrax menghantam kepala mereka satu-satu dengan lampu taman yang entah dia dapat dari mana. Para Namec itu pun segera tiada tanpa sempat mengucap apa-apa.

Bang Haji Roma memainkan gitarnya yang selama ini dia simpan di balik rimbun rambut dadanya. Hanya beberapa petik nada dangdut berkekuatan 100 decibel mhz sudah cukup membuat Alien juga Predator angkat kaki dan memilih untuk bikin film sendiri di Hollywood.

Azrax kemudian bermunajat. Dari balik tangannya muncul serbuk putih misterius. Ditebarnya serbuk itu secara serampangan, namun tim post-production membuatnya seakan ditebar merata memakai efek yang seperti dikerjakan pakai microsoft paint. Manusia Na’vi gatal-gatal kronis, Asari bersin-bersin sampai butuh tim medis.

Makhluk E.T. sadar mereka tidak mungkin sanggup manahan gempuran kedua manusia pilihan yang sakti ini, sementara para Wookie sadar mereka berada di set film yang salah. Mereka pun segera memesan tiket pulang ke Richard Branson dan Elon Musk.

Kini tinggal seorang tersisa. Itu artinya hanya satu: boss fight melawan Ruhut Towi Sitompul.

“Ruhut Towi, kamu belum kapok juga rupanya. Tidak tahukah kamu judi itu haram!?” bentak Bang Haji sambil mendekat. Azrax turut melangkah perlahan memojokkan Ruhut di sudut ruangan.

“Ahay Daeng, mana mungkin orang seperti aku kapoklah!” Ruhut menukas dengan suara yang agak ditelan. Maklum kan mulutnya tertutup eyepatch, ingat?

Bang Haji Roma menyawang sekitarannya, tidak ada Pak J.K. di situ. “Ruhut Towi, siapa yang kau panggil Daeng? Astaghfirullah, tobatlah! Ajal Demokrat sudah dekat!”

“Ajalmu yang sudah dekat Daeng Roma, lupakan ambisi gilamu jadi presiden. Paling banter kau dapet pesinden!” Ruhut menerkam dengan tameng dan pedang pelepah pisang.

Ternyata Ruhut Towi Sitompul yang Bang Haji hadapi adalah versi upgrade terbaru karena cuma dengan gerakan minimal Ruhut mampu memotong rambut dada Bang Haji Roma hingga seratus helai. Ini saja sanggup mengurangi daya gerak Bang Haji Roma. Rambut dadanya adalah sumber kekuatannya!

“Bang Haji, biar kubantu!” Azrax sigap menahan Bang Haji yang sempoyongan.

“Kita harus bekerja sama, Az!” suara Bang Haji serak.

“Biarpun nama ibu kita tidak sama?” tanya Azrax.

Bang Haji hanya melengos memutar matanya. Seakan mau bilang “not that again.”

“Baik Bang, kita kerja sama.” Jawab Azrax agak terkesiap tapi mantap.

Azrax dan Bang Haji mulai merapal sebuah jurus bersamaan yang membutuhkan durasi 3 menitan sementara Ruhut Towi Sitompul setia menunggu sambil mengembangkan senyum seringai menyebalkan di depan kompor sambil memasak mi instan. Kameramen memainkan kamera dengan menge-zoom-in berkali-kali dan bergantian muka tiga orang ini yang rautnya bagai sedang sembelit tingkat tinggi diiringi efek suara “syuung syuung,” daur ulang dari film silat 1980-an.

Ketiganya maju. Saling menyongsong jurus satu sama lain dengan teriakan. Benturan terjadi di udara, walau terlihat bagai efek murahan sineron Indosiar atau SCTV namun nyatanya Ruhut terkapar di lantai dengan darah hitam segar.

Di saat situasi berpihak pada jagoan kita (kita?) itulah….Tiba-tiba keajaiban terjadi.

Sosok Ruhut Towi yang rebah itu mengepulkan asap pekat. Ketika tersibak nampaklah sosok yang tidak asing lagi, J.co Anwar!

Ternyata J.co Anwar berada di balik semua ini. Mata Azrax nyalang menatap musuh bebututannya. J.co Anwar adalah orang yang sudah mempermalukannya di ajang gulat Najwa Championshop  yang disiarkan tv pemerintah kala itu. Bukan hanya dipermalukan tapi Azrax sudah dikalahkan, dicakar, diiris emosinya, dicincang perasaannya, dibanting hatinya, diinjak mukanya, dibakar rambutnya. Gara-gara J.co Anwar-lah Azrax terpaksa membuka padepokan di sebuah dusun terpencil jauh dari gemerlap dunia dan karena J.co Anwar pula Azrax memanjangkan rambutnya. Tujuannya agar tidak dikenali.

Dipenuhi oleh amarah Azrax siap untuk menyerbu kembali.

“Majulah, maka aku tidak akan segan melenyapkan dia.” J.co Anwar menampilkan foto seorang perempuan setengah uzur dari layar smartphonenya.

Azrax terkesiap, itu adalah perempuan yang dikenalnya dengan baik, itu tak lain Reva Artamezia! Kekasih hatinya.

“Hah hah hah hah hah.” J.co Anwar tertawa bahagia. Terbayang sudah kemenangannya lagi di depan mata. “jika kau ingin dia selamat, datanglah!”

J.co Anwar menekan sebuah tombol di dinding. Sebuah pintu berbingkai sinar biru ke dimensi lain membuka. Sekelebat saja J.co Anwar sudah berada di seberang.

“Bang Haji, aku akan mengejarnya demi menyelamatkan Reva Artamezia kekasihku.” Azrax berdiri di ambang pintu tembus dimensi itu.

“Aku akan ikut membantumu, Azrax. Selama ada kebatilan di muka Bumi, aku tidak akan tinggal diam.” Jawab Bang Haji.

“Baik Bang.” Azrax menanggapi, “…sepertinya memang tidak butuh nama ibu yang sama buat kita untuk saling bahu membahu!”

“…”

.........................................................

Berhasilkah Azrax yang dibantu Bang Haji Roma membebaskan Reva Artamezia dan membasmi J.co Anwar yang keji?

Semua akan terjawab di kisah Azrax 3: Mengejar J.co Anwar ke Ujung Bumi