Tampilkan postingan dengan label Melihat ke luar. Tampilkan semua postingan

Obsesi Anti Plastik

Suatu kali datanglah dua orang asesor akreditasi akademik asal Jerman ke sebuah kampus di Surabaya untuk mengasesi sebuah Prodi. Ketika disuguhi minum air dengan air botolan, mereka menolak meminumnya karena botolnya terbuat dari plastik. Panitia yang merasa belum diberi peringatan tentang ini pun kelimpungan. Mereka buru-buru ke minimarket berupaya mencari air botolan juga...tapi yang terbuat dari kaca merek Aqua.

Akua, air kencing kuda, harganya lima ratus saja...(tahu plesetan jingle ini?)

Akibat terlampau gopuh inilah mereka malah keliru membeli Aqua berkarbonasi, yang mana sekilas sama kemasannya dengan air minum botolan kaca, terlebih namanya mirip-mirip. 

Solusinya?

Salah seorang panitia berinisiatif menuangkan air botolan plastik yang ditolak duo asesor tadi ke teko kaca ditemani gelas kaca untuk kemudian disuguhkan. Mereka meminumnya!

Apa mereka tahu itu air yang sama dengan yang barusan mereka tolak? Tidak tahu juga. Jerman toh memang melarang penggunaan plastik sekali pakai sejak 2021. Apakah ini jadi pengetahuan umum bagi segenap warga dunia? Tidak tahu juga (sebagian panitia akreditasi mungkin baru tahu). Apakah mereka butuh untuk menunjukkan itu ketika datang ke negara "dunia ketiga"? Tidak tahu juga. Apakah mereka merasa sebagai representasi Jerman harus menunjukkan bahwa mereka patuh pada peraturan negaranya yang perlu dibawa-bawa ke luar negeri? Tidak tahu juga. Apakah ada aroma white man's burden soal isu lingkungan? Tidak tahu juga. Ataukah memang itu prinsip pribadi yaitu untuk menolak "menggunakan plastik"? Tidak tahu juga.

plastik is gay
Gambar di-prompt "anti plastic movement protest" dari Bing Image Creator. Ngapain coba ada bendera LGHDTV nongol di situ? Smh! 

Omong-omong di Surabaya juga ada peraturan yang melarang penggunaan plastik sekali pakai sejak 2022. Secara khusus peraturan ini terasa dan diterapkan hanya di supermarket/swalayan dan minimarket. Terlihat dari adanya pemberitahuan "tidak menyediakan kantong plastik" entah di pintu masuk atau di dekat meja kasir. Konsumen jadi terbiasa, tote bag atau paper bag lumrah dipakai (juga jadi lahan jualan kedua benda itu bagi pihak supermarket). Dalihnya adalah gimmick semacam "sayangi lingkungan", walau kita tidak pernah tahu apakah si tote/paper bag bakal berakhir di tumpukan sampah atau tidak.

Peraturan seperti ini punya asumsi bahwa yang bersalah dan dituding menjadi penyebab rusaknya lingkungan akibat sampah adalah konsumen. 

Namun mau sampai kapan konsumen harus terus-menerus disuruh bertanggung jawab terhadap kantong belanjaan? Kenapa bukan dunia industrinya yang diminta memakai kantong lain yang mudah hancur atau terurai? Kenapa sampai sekarang belum ada pengganti yang lebih mumpuni dari plastik?   




Pascawisuda

Sebelum lebih jauh, di awal tulisan yang tidak aku tulis melainkan diketik ini, inginku mengutip cuitan verbatim dari akun Twitter seorang rekan kuliah yang berbunyi:

“mahasiswa baru tampangnya bahagia dan optimis. mahasiswa lama tampangnya kaya abis nelen jeruk nipis campur garem HAHAHA”

Cuitan ini dicuitkan sekira pertengahan tahun lalu ketika kami semua, mahasiswa sebuah prodi di S2 Pascasarjana UGM tengah berjuang merampungkan tesis di ujung masa akhir studi. Masa studi yang menurut peraturan maksimal hanya boleh mencapai sekian tahun saja, tidak lebih, bila kurang tentu bagus. Sehingga ketika akhirnya berhasil lulus dengan sukses, tidak ada yang lebih melegakan dan menyenangkan bagi diri ini. Sungguh! Lulus dari kampus sebesar UGM sungguh membahagiakan. Ungkapan yang terdengar nyinyir semacam, “selamat, sekarang anda akan menjadi pengangguran…” tidak akan mempan buatku.

Megah...i

Apa sebab? Pertama, biaya kuliahnya mahal. Tentu mahal itu relatif. Sebagai catatan atau upaya untuk mengenang jika aku tidak lagi ingat, satu semesternya mencapai delapan juta Rupiah (sebagai perbandingan, harga bakso yang ‘waras’ adalah sekitar 12 ribuan). Memang sih jika sudah melebihi 2 tahun alias sedang menggarap tesis, biaya menjadi ‘hanya’ lima juta Rupiah. Tapi tetap saja tergolong mahal buatku. Dengan kelulusan artinya aku tidak perlu lagi pusing soal biaya kuliah.

Alasan Kedua, kuliahnya sulit. Seberapa sulit jelaslah lagi-lagi relatif dan tergantung makna sulit itu sendiri yang akan berbanding lurus dengan seberapa cepat rampung atau tidak sehingga membutuhkan bahasan terpisah. Ada orang-orang [sok] bijak bilang bahwa jangan bilang sulit, karena nanti jadi sulit sungguhan. Masalahnya adalah setiap orang tidak punya modal yang sama untuk menghadapi serangkaian perkuliahan tertentu. Jadi shut the hell up. you byatch!

Inti ketikan yang ingin kuejawantahkan di sini kira-kira semacam ini: Kampus tak ubahnya bagai pabrik lulusan. Lulusan yang [harus] siap dipekerjakan di luar sana. Semakin cepat sebuah kampus menghasilkan lulusan, apalagi yang begitu lulus bisa langsung dapat kerja, semakin melangit reputasi kampus. Maka kian cepat pula kampus mendapat mahasiswa baru. Dengan begitu  semakin cepat juga kampus menyerap uang, karena masa depan pasca kelulusan bak menatap mentari terbit dari puncak Merapi, menjanjikan kemilau di ujung wisuda, dan ini semua bekerja bersama lewat berbagai perangkat yang telah diakademisikan (dibuat jadi akademik).

Bukan jangan-jangan, biaya kuliah tersebut di atas memang sengaja dirancang menekan agar mahasiswa tidak betah berlama-lama menguras ilmu dari kampus, melainkan cepat-cepat merampungkan kuliahnya, terjun ke dunia kerja, supaya segera beroleh kompensasi biaya kuliah yang sudah digelontorkan. Jika tidak, maka meminjam ucapan yang selalu terngiang dari seorang dosen: “anda harus segera memikirkan caranya rampung, karena mesin penagih SPP terus berputar.”

Kata-kata dosen ini menarik karena idiom ‘mesin’ yang dipilihnya. Mesin adalah perangkat yang mekanis, bekerja atas sebuah desain berdasar sistem demi melayani suatu fungsi. Mesin penagih SPP adalah perangkat akademis yang dibuat berjalan bersamaan dengan aturan cepat lulus dari kampus.
Biaya sa’hoha di atas lantas diwajar-wajarkan sebagai konon katanya bagian dari peningkatan mutu. Bahwa seiring dengan biaya tinggi akan ada kualitas yang ditingkatkan, walau sependek penyederhanaan dana yang telah mencakup biaya wisuda. Menyembunyikan usaha menaikkan pamor dan akreditasi prodi yang disangkutkan di mata calon mahasiswa. “Oh, biaya mahal berarti kuliahnya bermutu tinggi.” Nalar barang mahal lantas berarti kualitas tinggi diterapkan dalam dunia pendidikan.

Soal cepat dapat kerja, aku gak bilang dapat kerja atau menjadi pekerja itu buruk. Kita semua perlu kerja dan ditakdirkan jadi ‘pekerja’ biar bisa dapat uang untuk bisa terus hidup. Bukankah begitu konsekuensi hidup di alam kapitalisme? Gak heran pula bila si penyanyi dari grup band Nidji menginginkan agar skripsi dihapus saja diganti menjadi magang.

Hahahah…, nalar apa lagi jika bukan nalar dagang yang melanda otak si penyanyi band? Dia tentu kecewa bahwa skripsinya tidak bisa dibuat cari kerja dan memang bukan untuk dapat kerja. Lantas pendidikan menurutnya—seperti orang Indonesia pada umumnya—seharusnya jadi tiket untuk dapat kerja. Dunia pendidikan [tinggi] jadi serba transaksional. Tapi mau bagaimana lagi, wong nama kabinet menteri di Indonesia [saat ini] ya Kabinet Kerja.

Bukannya praktik memberi nama berarti memberi makna? Penamaan demikian menyajikan obsesi pemerintah secara gamblang, yaitu kerja (atau kelihatan kerja?). Pemerintah juga tidak bisa sepenuhnya dituding sebagai biangnya. Ia adalah cerminan mayoritas rakyatnya yang memang terobsesi dengan pekerjaan, sedangkan pemerintah diharapkan jadi penyedia lapangan kerja. Maka jadilah nama kabinet yang serba molitis.

Sambutan Si Lulusan Terbaik (aku tidak tahu namanya siapa) di Sekolah Pascasarjana kala wisuda April lalu dapat dijadikan patokan. Si Mbak yang sudah ibu-ibu ini menyampaikan paradoks usang yang terus disampaikan berulang-ulang soal dunia pendidikan yang kira-kira apalagi kalau bukan: “kebutuhan antara dunia kerja tidak sejalan dengan pendidikan.”

*Ya, iyalah. Siapa bilang harus sejalan?

Pembacaanku terhadap pernyataan Si Mbak Lulusan Terbaik adalah, dia berharap sama seperti Si Penyanyi band Nidji supaya pendidikan jadi pelayan dunia kerja dan dunia kerja jadi lahan untuk para lulusan kampus untuk bekerja. Klasik dan klise. Predictable and exhausted.

Bagiku paradoks sesungguhnya kalau memang mau diada-adakan tentang dunia pendidikan adalah ketika mahasiswa yang sukses saat kuliah (nilai tinggi dan dengan kebanggaan menyandang predikat kumlaut yang dibuktikan selempang di pundak) malahan kalah telak suksesnya dibandingkan mahasiswa yang prestasi akademiknya biasa saja.

Tentu definisi sukses adalah [lagi-lagi] relatif, seperti konon katanya ganteng adalah relatif. Namun situasi yang non hipotetikal di atas jelas ada dan menunjukkan ada yang keliru dengan cara pengelolaan atau lebih tepatnya arah pendidikan.

Lalu masih dari Si Lulusan Terbaik Pascasarjana. Dia dengan nada humble bragging-nya berucap yang kira-kira: “saya lulus bukan karena saya paling pintar, tapi karena saya paling taat aturan...”
Aku cuma bisa geleng-geleng sembari ngekek in silent sendiri plus palm face. Duduk di belakangku wisudawan lain turut berkomentar, “oh, berarti yang lain gak taat aturan…cuman kamu yang taat.”

Hah, aturan. Aturan kampus yang telah pakem tidak pernah dipertanyakan lagi oleh mahasiswa. Memang begitulah adanya dan begitulah seharusnya dan itulah yang dilabeli sebagai sikap disiplin, taat, setia. Dapat nilai dominan A, lulus cepat, cepat dapat kerja pula. Sekali lagi, ya karena kampus sudah berubah jadi pabrik.

Inginnya cepat ini tidak mengherankan. Manusia Indonesia memanglah terobsesi dengan pertanyaan kapan. Kapan yang menunjukkan tempo sesingkatnya, bahkan cenderung diburu-buru. Seolah tidak ada waktu nanti ataupun esok hari. Apa-apa harus serba cepat. “Lebih cepat lebih baik” katanya. “Mengejar ketertinggalan” katanya.

Sialnya, aku berkuliah di prodi pemikir. Sementara kerja berarti membuat langkah ‘nyata,’ mikir berarti tidak kerja melainkan termenung-menung tiada guna. Termasuk ngomyang dewe di blog pribadi. Jangan buru-buru bersangka-ria. Aku dulunya pun sempat punya pikiran pragmatis praktis seperti Si Mbak Lulusan Terbaik. Aku dulu mengejek orang yang kuliah terus tapi ujung-ujungnya nganggur tanpa penghasilan hanya karena belum sepenuhnya sadar bahwa barangkali orientasi pendidikannya yang perlu digugat. Di sinilah buahnya aku berkuliah di prodi pemikir, biar mahasiswa yang belum kunjung lulus tidak seperti nelen jeruk nipis plus garam.

Desainer yang (ter)dekat


Belakangan, dimulai dari sepertiga akhir tahun 2015 di tempat aku kuliah saat ini/kala itu bila aku sudah lulus di prodi KBM UGM aku nyaris selalu dipercaya menggarap desain (baik poster/flyer hingga web) untuk acara-acara kampus baik yang bersifat internal maupun yang terbuka untuk umum. Tapi kata “dipercaya” barangkali terkesan angkuh dan terlalu menyanjung diri. Lebih tepatnya, menurut “Manager Prodi” bahwa aku “keno jagake” alias bisa diandalkan. Sebuah reputasi yang amat sesuatu bukan? Tentu saja itu semua karena sudah ada kedekatan dan kenyamanan yang ter/dibangun.

Garapan perdana di prodi KBM

Salah satu diskusi apik dan asyik tentang budaya populer yang mendunia. Peserta datang  dari luar kota demi diskusi ini.
Soal desain-mendesain aku bukanlah satu-satunya yang mampu. Setidaknya ada empat (atau lebih?) mahasiswa lain yang bisa mendesain dan setidaknya mengoperasikan software desain. Bahkan sepertinya sebagian di antara mereka lebih mumpuni sense of design-nya daripada aku, apalagi aku sudah lama pensiun ndesain sejak konsentrasi mengerjakan skripsi (yang butuh waktu sekitar 1,5 tahun) sekitar tahun 2012-2014. Aku sendiri tidak yakin fakta bahwa aku lulusan D3 DKV dan S1 DKV serta pernah punya pengalaman kerja di perusahaan desain grafis (atau yang bosku menyebutnya sebagai marketing & creative services) ada pengaruhnya terhadap kemampuan desain seseorang. Barangkali ada sih, namun tidak cukup signifikan, soalnya rekan kerja dahulu bukan lulusan prodi DKV, zaman itu belum ada.

Poster ini disebut oleh seorang dosen sebagai "selera bule". Sayangnya acaranya kurang ramai karena mungkin pembicaranya (Ien Ang) dianggap tidak cukup menarik. Pilinan tali kupilih untuk menggambarkan navigasi kompleksitas ilmu sosial sesuai yang dibahas Ien Ang. Seperti Gundam di atas, gambar ilustrasi boleh ambil dari Wikimedia.
Poster dies KBM yang aku sendiri kurang suka, tapi dipilih oleh ketua yang punya gawe. Yah relasi kuasa tak pernah setara.

Jadi kusimpulkan aku diminta ngerjain bukan hanya karena gak ada yang lainnya. Tapi karena dekat dengan “kekuasaan” alias ada access to power *wuuiiihh*. Kekuasaan kumasukkan dalam tanda kutip supaya tidak diartikan bahwa kekuasaan di sini sama dengan kekuasaan yang kerap digunakan di media-media massa yang berkisar pada para elite politik (ini juga frasa yang lebih rumit lagi sebenarnya) atau pejabat besar (sebagai lawan yang “kecil”). Kedekatan ini adalah gabungan berbagai faktor: kerapnya interaksi dengan Manajer Prodi, dosen, dan Sekprodi (yang mana juga dosen); seringnya nongkrong di kantor prodi yang berkaitan dengan mungilnya kantor prodi dan minimnya pegawai prodi; dan nikmatnya iklim kesunyian alias sedikitnya keramaian di sana.
Mencoba poster bujur sangkar. Maksudnya biar A3 dapat 2, tapi malah pas dicetak cuma dapat 1. Boros!

Salah satu acara paling sukses dari segi jumlah peserta. Empat sesi penuh semua. Resepnya adalah pembicaranya harus berstatus "dewa"

Pemutaran dan Diskusi Film produksi Kalyana Shira Foundation yang dihelat di Joglo Dusun Terung pada 22 Agustus 2015 adalah proyek pertama yang dipasrahkan kepadaku. Sejak itu aku mengerjakan desain Prodi KBM yang aku sendiri lupa sudah berapa jumlahnya. Tiap bulan atau beberapa bulan ada saja ajang akademis yang digelar prodi: diskusi/bedah buku, kuliah umum, seminar, lokakarya, hingga dies-nya. Tingkat gaya-gaya profesional sisa-sisa bekerja dahulu masih berbekas. Gimana itu misalnya? Aku sering memberi alternatif desain jika sedang luang waktu dan yang jelas tergolong cepat rampung. Tentu saja, wong mahasiswa full timer kok. Haah! Meski ini bergantung dari dosen mana yang memesan, karena ada dosen yang gak butuh alternatif. Tapi aku tidak menampik jika alternatif kumunculkan lebih karena kurang percaya diri dengan desainnya.
Dr. Haryatmoko memang jaminan penarik masa. Penghadir acara ini membludak. Namun buku ini memicu para dosen prodi KBM untuk bikin buku CDA juga.

Sempat ada seorang rekan kuliah di S2 ini yang mengira aku dapat (duit) banyak untuk desain-desain yang kubuat. Kujawab tidak, karena memang demikian kenyataannya pada saat itu. Tapi tolong agar apa yang kuketikkan ini tidak dianggap curhat demi memohon perhatian seperti yang pernah menimpa Presiden SBY sewaktu bilang gajinya sebagai presiden tidak pernah naik. Lalu memicu reaksi publik yang buatku pribadi kurang simpatik: Koin Untuk Presiden. Aku tidak akan menceritakan ini jika tidak ada yang bertanya. Tapi ada lebih banyak hal yang jauh lebih berharga dibanding uang, yaitu kepercayaan dan kemanfaatan. Jika aku bisa berkontribusi, maka aku akan menyumbangkan apapun yang bisa dan dekat denganku: desain. Toh, mendesain itu mudah buatku. Jika memang mudah kenapa tidak kulakukan, kan? Lagipula para penghadir di acara-acara yang digelar kampus pastilah beroleh ilmu dan jika dapat menjadi salah satu dari mata rantai penyampaian ilmu itu walau hanya sesederhana poster dengan riang  rela kukerjakan.
Ini poster yang aku juga kurang sukai. Topik yang abstrak biasanya membuatku kesulitan memikirkan visualnya. Coba deh, filsafat ilmu tu apa gambarnya?

Membicarakan topik ini aku jadi ingat polemik desain logo nomor pebalap Rio Haryanto yang sempat masuk sebuah tim gurem Minor Team Manor Team dan akhirnya dia dikeluarkan (syukurlah!), karena tidak kunjung melunasi “tiket masuk”-nya. Pada akun Facebook Rio Haryanto di mana kontes logo nomor 88 digelar (silakan googling), para Fesbuktizen, entah desainer grafis pemula, desainer abal-abal, desainer sambilan, atau yang amat sangat maha profesional yang sepertinya dirasuki ideologi dagang/pasar yang percaya bahwa desain harus MAHAL untuk menunjukkan bahwa suatu desain demikian bergengsi, sibuk berdebat berapa akan dibayar untuk desain yang belum pasti dipakai. Sibuk berdebat soal penghargaan, soal royalti, soal harga, bahwa ini kelasnya Formula 1 jadi harusnya hadiahnya lebih dari sekedar bertemu dengan Rio Haryanto dan desainnya dipasang di bodi mobil jet darat itu. Berbengek-bengek alasan dihamparkan: edukasi desainlah, bahwa desain itu gak mudahlah, bahwa desain itu perlu sekolahlah. Oh, astaga!

Salah satu poster yang disukai komentator di Facebook. Tentu saja. Karena mudah untuk memikirkan apa dan bagaimana dekolonisasi terjadi pada arsip visual kita.

Bagiku desainer grafis perlu juga disadarkan bahwa kadang gak semua perlu ditukarkan dengan uang. Cobalah bertanya mengapa yang namanya desain sampai dikondisikan sebagai sesuatu yang mahal? Mengapa desainer grafis harus dikaitkan dengan pekerjaan bergengsi? Mengapa sampai harus ada kuliahnya padahal kursus saja bisa?
Untuk acara yang satu ini aku dipermudah karena foto sudah disediakan. Aku tinggal main komposisi dan warna. Tapi biarpun gak dikasih foto semiotika musik lagu Tompi ini juga mudah sebenarnya jika divisualkan.

Bertahun lalu, prodi DKV ISI Jogja sempat membuahkan gagasan (gerakan?) Desain Gratis Indonesia, yang tujuannya adalah memberi konsultasi desain grafis/komvis secara gratis kepada siapa saja. Perhatikan pemlesetan grafis menjadi gratis. Beda satu huruf namun sudah jauh maknanya dan kuat kesannya. Dimulai pada sebuah pameran karya anak-anak DKV—yang jika disingkat akan menjadi DGI, terdengar sama seperti asosiasi Desain Grafis Indonesia ya?—gagasan yang menarik ini sayangnya tidak kuketahui lagi kelanjutannya. Yang jelas aspek kemanfaatannya lebih besar melampaui aspek keduitannya. Seperti Desain Gratis Indonesia mencoba melakukannya (aku duga sebetulnya tujuannya adalah mengedukasi masyarakat agar lebih menghargai desain, tapi aku lebih suka jika duit tidak terlalu dikejar), akupun ingin agar desain grafis dan DKV sebagai institusi pendidikan tidak terlampau terseret pada penghambaan terhadap duit, melainkan lebih ke arah kontribusi.


Acara reguler prodi KBM tiap tahun adalah Lokakarya oleh Romo Haryatmoko. Yang ini membahas Jean Baudrillard.
Masih acara rutin lokakarya Dr. Haryatmoko. Yang ini sebenarnya adalah alternatif desain tahun sebelumnya. Daripada tidak digunakan ya dipakai saja.

Tapi toh ternyata ada duit turun juga, meski ini tidak (sepenuhnya) diduga-duga. Dana untuk desain pun dialokasikan dan ia turun juga ke dompetku. Gak seberapa sih namun kusyukuri, dan jelas kujadikan sebagai hembusan semangat untuk terus mempertahankan reputasi yang kusebut di awal ketikan, semampuku, hingga tiba waktuku (lulus), kumau tak seorang pun mampu (tuk menggoyahkan niatanku).

Yang satu ini poster acara sambut kenal mahasiswa baru angkatan 2015. Berhubung yang jadi panitia adalah angkatan 2014 aku dikasih kerja paling ringan: desain posternya.


Seberapa Perlu Hukuman Mati?

Tampaknya kata hukuman mati masih laku dicetuskan sebagai the ultimate punishment ever known nowadays. Tapi pertanyaan sesungguhnya mengenai perlukah hukuman mati diterapkan buat tindakan yang saat ini dianggap kejahatan besar terhadap manusia: korupsi, terorisme, pengedar/pembuat narkoba, dan kekerasan seksual/perkosaan, tak pernah dipertanyakan.

Argumen dari para pendukungnya selalu berkisar pada pemberian efek jera. Meskipun aku tidak mengerti bagaimana bisa seseorang menjadi jera setelah dia dihukum mati? Kan sudah mati, gimana mau jera? Jadi yang tepat adalah pemberian efek takut akan kematian dan cinta pada kehidupan (makanya seorang diharapkan tidak akan mencoba melakukan kejahatan), bahkan efek mengasihi sesama yang diharapkan muncul belakangan setelahnya pun kabur bin samar. Yang mana agaknya ini bukan sesuatu yang diingini oleh para religiawan (bukan?) yang selalu mengatakan kita tidak boleh takut mati karena pasti terjadi dan hanya soal waktu (begitu kata Bimbo). Lagipula khusus  untuk pelaku terorisme berkedok agama sudah pasti adalah orang yang sudah siap mati. Maksudku, memberi hukuman mati kepada teroris menjadi sesuatu yang sia-sia, karena kematian itu sudah masuk agenda mereka.

Masalah pertama dari hukuman mati adalah statusnya. Apa bedanya hukuman mati dengan pembunuhan? Bukankah hukuman mati pada dasarnya pembunuhan juga, hanya saja dilegalkan atas nama hukum?

Kedua, perlukah dibuat pembedaan proses hukuman mati untuk kejahatan berbeda hanya demi mengejar efek horornya yang mana berkaitan dengan pemberian efek takut tadi? Perlukah terpidana korupsi dihukum mati dengan cara berbeda? Ini sekedar ide sih. Agak gila tapi bagiku kreatif. Misalnya si koruptor digantung pada tangannya lalu pada kakinya diikat sebuah tank yang disesuaikan dengan jumlah korupsinya. Kemudian seperti orang yang dihukum gantung pada umumnya, di bawah tank sudah disiapkan pintu jebakan yang ketika dibuka tank akan meluncur ke bawah. Si koruptor akan mati kehabisan darah setelah tangan atau kakinya putus (jika tidak segera ditolong, ATAU haruskah dia ditolong?). Gimana? Cukup gory bukan? Lumayan horor kan? Sudah takut korupsi belum?

crippled batman
Atau bagaimana jika pelaku kekerasan seksual (perkosaan, dll.) dihukum penggal kelamin alias kebiri? Bagiku kebiri sendiri sejatinya merestui dendam kesumat yang tersimpan bagai bara dalam sekam dari struktur dan peran masyarakat yang senantiasa dibiarkan lalu diawetkan sebagai oposisi biner: laki-laki//perempuan. Kenapa? Karena kebiri mengandaikan pelakunya hanya laki-laki dan hanya laki-laki sementara korbannya hanya perempuan dan hanya perempuan. Bagaimana jika pelaku kekerasan seksual adalah perempuan? Apanya yang mau dikebiri? Kebiri juga mengandaikan persetujuan atas mitos bahwa laki-laki memikirkan dan selalu menikmati seks sementara perempuan…

pisang yang buluk dan tak menarik (lagi)
Ketiga, siapa yang akan melakukan hukuman mati jika tidak ada algojo(eksekutor)nya atau tidak ada yang mau jadi algojo? Sebelum anda bilang tidak mungkin, aku bilang bayangkan saja sebuah keadaan di mana segenap algojo yang kita punya sedang terserang demam plus diare akut. Aku ingin tanya buat para pendukung hukuman mati, maukah anda menjadi orang yang mengeksekusi terpidana dengan tangan atau kaki (atau apapun) anda sendiri? Dan tidak usah memberiku omong kosong soal jika memang sudah tugas dan kewajiban maka saya akan lakukan, karena jika seorang punya pilihan maka pasti saat ini tidak ada yang mau melakukan pekerjaan mengerikan, melukai tubuh/mengambil hidup orang lain biarpun legal dan dibayar untuk itu kecuali untuk alasan hegemonik, misal: yang percaya bahwa menjadi algojo adalah bagian dari ibadah.
Bayangkan kini di hadapan anda sudah terikat pasrah terpidana mati dan di tangan anda ada sebuah senapan berisi peluru. Maukah anda menekan pelatuk ke arah jantung atau bahkan pelipis terpidana? Kecuali anda punya kecenderungan sakit jiwa, sudah biasa membunuh, terbakar dendam karena korban adalah kerabat anda, pastilah menolak.

Terakhir, kenapa orang yang menolak hukuman mati dianggap pengecut, tidak tegas, dan dituduh mendukung kejahatan atau bahkan disangka akan melakukan kejahatan itu? Tidakkah ada argumen balik yang lebih valid? Tidakkah rangkaian kata yang anda baca ini bisa dimaknai sebagai sebuah langkah yang berani?

Merapi 5 Tahun Lalu bag 2

Siapa yang menyangka Merapi mampu segarang ini? Di hari pertamanya saja Mbah Maridjan direnggutnya. Siapa pula yang salah jika bencana alam menimpa? Alamkah? Tuhankah? Atau manusianya? Manusia “modern” hari ini nyatanya mengalami keterputusan dengan sejarah alamnya sendiri. Mengira teknologi murahan bisa melampaui alam. Yang kubicarakan adalah tivi dan semua tayangannya yang sok mau peduli padahal menjadikan kesusahan orang lain tak lebih sebagai pajangan berulang-ulang demi bisa dijual, dijual supaya banyak orang menontonnya, supaya banyak iklan yang masuk dalam lingkaran “breaking news” tanpa akhir. Di saat berita-berita di tivi tidak dapat diandalkan, tidak bisa dipercaya, dan tak lebih dari cerita sensasional, orang biasa hanya bisa percaya pada nalurinya. Naluri untuk hidup.

30 Oktober 2010 (Sabtu)
Dini hari jam setengah 3 aku terbangun. Agak blank, efek dari tidur yang gak dimaksudkan tidur alias ketiduran. Lampu menyala di ruang tengah. Bapak Ibu pakai masker memantau layar tivi. Aroma belerang kencang berembus, mungkin karena bau ini aku terbangun. Tetangga-tetangga pada terjaga. Mereka sudah bersiap mengungsi jika keadaan kian gawat. Mas Mar, tetangga kami yang juga masih saudara datang ngajak ngungsi ke tempat Bude Nah di daerah Sedan. Aku pun siap-siap juga, baju, charger hape dan kamera semua masuk tas. Siap untuk berangkat.

Merapi erupsi lagi jam 00.12-00.30 tadi. Repoter Metro Tv, Lalita yang berjilbab itu menceritakan bagaimana tangannya melepuh sesudah memegang ‘tepung’ abu gunung. BPPTK memperkirakan jarak luncuran awan panas dapat mencapai 10 km. Itu jarak yang cukup jauh. Artinya akan ada lebih banyak korban.

Ibu bilang abu di luar tebal. Aku lihat ke belakang rumah, hujan abu masih turun, abu putih kecoklatan terlihat menumpuk kira-kira 0,5-1 cm. Belum pernah sebelumnya seperti ini. Iseng aku menyendoki abu Merapi di pekarangan, menyimpannya dalam kantong plastik untuk kenang-kenangan.

Abu Merapi bisa juga untuk narsis (30 Oktober 2010)
Hari itu kami tidak jadi ngungsi. Keadaan masih bisa dibilang normal.

Setelah matahari muncul warna putih kecoklatan terlihat bertebaran di mana-mana di sekitar rumah dan masjid dekat rumah. Abu menutupi hampir semua dedaunan yang ada. Ketika angin bertiup abu itu akan terbang tak karuan. Pakai masker jadi wajib hukumnya. Merapi di utara sana tidak tampak sedikitpun. Langit pun hanya putih semi kelabu, tapi itu bukan jenis mendung yang menyimpan hujan.

Mbah Dasih tetangga desa menyebrangi abu (30 Oktober 2010)
Dengan motor aku “jalan-jalan” mengitari Pakem lalu ambil ke barat kemudian ke selatan ke jalan Palagan Tentara Pelajar mengamati separah apa hujan abu yang terjadi. Jalanan memutih dengan hanya menyisakan sedikit yang tidak tertutup abu. Ingin aku mengambil gambar tapi aku masih sayang kameraku. Aku tak mau kameraku kemasukan partikel abu yang bisa saja merusak lensa atau bagian dalamnya.

Di jalan ada warga yang mengalirkan air dari sungai kecil ke jalan. Mereka bergotong royong membersihkan tumpukan abu dari jalan. Biasanya hujanlah yang melakukan pekerjaan ini, tapi ia tidak turun hari itu.

Kendaraan yang melintas (terutama truk) membuat abu berlarian tapi sekaligus menyibak jalan aspal dari abu. Setiap kali ada truk lewat aku akan pelan-pelan dan menepi. Untungnya aku pakai masker tiga lapis. Masker ini pada awalnya cukup membantu namun hanya 30-an menit naik motor aku sudah mulai agak puyeng. Tak tahu pasti apa penyebabnya, kurasa itu karena saking banyaknya abu yang terhampar. Belum lagi mata ini sering kelilipan biarpun sudah pakai helm berkaca. Suasana parah dan udara yang panas memaksaku balik pulang.

Erupsi Merapi tanggal 1 November 2010. Foto diambil dari sebelah rumahku
3 November 2010 (Rabu)
Kerjaan Kritik DKV selesai jelang maghrib, pas berita Merapi sedang heboh-hebohnya. Radius daerah bahaya diperluas jadi 15 km dari puncak gunung setelah sebelumnya 10 km.

4 November 2010 (Kamis)
Sore itu jam 4 suara gemuruh “glodak-glodak” terdengar dari arah utara. Mirip suara petir tapi terus menerus dan makin lama makin santer. Aku tidak tahu suara apa itu. Aku menyimpulkan itu suara banjir lahar dingin yang sangat dahsyat melewati beberapa kali yang berhulu di Merapi. Mungkin banjir ini membawa batu-batu besar yang saling bertumbukan sehingga menimbulkan seperti itu.

Sekali lagi kami bersiap mengungsi. Kembali aku berkemas, memasukkan baju dan segala sesuatu ke dalam tas. Jantungku berdegup kencang. Tentu saja aku takut kalau banjir lahar dingin sampai menjebol beteng (tanggul) yang membentengi dusun dari kali Boyong. Aku ikut termakan cemasnya Ibu hari itu. Seorang teman adikku yang tinggal di kota sempat menanyakan “suara apa itu dari atas sana?” (rupanya suara “glodak-glodak” tadi terdengar hingga kota). Dan tak seorang pun yang tahu pasti itu suara apa.

Toh, setelah kami melihat sendiri keadaan dam di utara dusun dan jembatan di selatan dusun tidak tampak banjir lahar yang besar. Banjirnya masih kategori biasa belum sedahsyat tahun 1997. Jadi kami bisa tenang untuk malam itu. Setidaknya sampai mendengar rumor jembatan di Pulowatu (sebuah desa di utara) hancur akibat banjir lahar.

Malam itu listrik menyala setelah sempat padam dari sore. Kami duduk di depan tivi, berpindah dari Metro ke TvOne dari TvOne ke Metro tapi tak mendengar berita yang berarti. Tak ada berita tentang jembatan yang ambrol.
...

Esoknya, dini hari tanggal 5 November erupsi terbesar terjadi.

Merapi 5 Tahun Lalu

Dua kali warga Jogja dikejutkan. Tahun 2006 oleh gempa bumi dari arah selatan dan tahun 2010 oleh letusan gunung Merapi dari arah utara. Jogja yang nampaknya damai-damai saja dan selama ini selalu dijual seperti itu nyatanya dikepung oleh kuasa alam yang lebih dahsyat dari kemampuan manusia. Padahal yang namanya bencana alam datangnya tidak pernah ujug-ujug. Bencana alam selalu berulang dan terus berulang dalam rentang waktu tertentu. Mungkin biar manusia tidak meremehkan apa yang sekilas kelihatan jinak. Mungkin biar manusia tidak melupakan, bagaimana dulu mereka bisa tetap hidup dan ada hingga hari ini salah satu di antaranya karena sudah melewati hal yang sama, bencana yang sama.


Berikut adalah catatan harianku dari tahun 2010 selama masa-masa krisis Merapi yang kuketik ulang (dengan singkat) buat sekedar pengingat paling tidak buatku pribadi. Rumah keluargaku yang terhitung berada dalam jarak tidak aman di sebuah dusun di tepi kali yang berhulu di Merapi memaksa keluargaku mengungsi selama belasan hari. Tahun 2010 adalah tahun yang padat peristiwa. Musim hujan Oktober 2010 mengalirkan kemuraman, sepakbola Indonesia tengah menghadapi dua liga (LPI dan LSI), Jakarta sibuk dengan banjirnya, Mentawai diterjang tsunami, dan aku baru setahun di ISI Yogyakarta (yang sedang dies natalis) menjalani status sebagai mahasiswa dengan tanggungan tugas yang gila-gilaan.

25 Oktober 2010 (Senin)
Sore itu aku nggarap kerjaan kelompok Sosiologi Desain “Gaya Hidup Guru” di kosan Tjep. Yang kerja hanya aku dan Yanto yang ternyata berbakat membual dengan banjiran kata-kata yang dia ketik secara semena-mena (aku bilang dia pasti dapat 9 untuk pelajaran Bahasa Indonesia, mungkin itu sebab dia akan memilih jalur skripsi untuk lulus dari ISI), sementara Tjep dan Kelik cuma setor muka dan tidur.

Mas Tardai, office assitant tempat aku dulu kerja di KF ngirim sms kabar-kabaran. Dia bilang banjir Jakarta memang sekronis di tivi, kantor baru kembali merayakan ultah Pak Bos dengan traktiran Bakmi GM, dan Mbak Sus, sekretaris kantor akan menikah Desember nanti. Wah, selamat!

Sampai rumah aku baru tahu dari Bapak situasi terbaru Merapi yang sekarang berstatus “AWAS.” That means it’s about to explode. Tadi siang kata Bapak, di Pakem berjubelan awak-awak tivi nasional: Indosiar, Trans, TvOne, Metro, dll...Mereka berlomba cari berita, kurasa dengan sedikit berharap sesuatu yang buruk terjadi. Supaya bisa menjadi yang pertama menyiarkan berita (yang buruk). Btw, Metro Tv menayangkan berita bahwa Merapi kali ini mungkin akan meletus secara eksplosif alias tidak hanya melelerkan lahar dan wedhus gembel. Aku tidak yakin dengan berita ini. Setahuku Merapi bukan tipe gunung yang eksplosif. Merapi punya tipe letusan yang spesial, setidaknya itu kata para ahli pergunungan.

26 Oktober 2010 (Selasa)
Sore tadi Merapi meletus. Itu letusan pertama sejak 2006. Berita di tivi bilang letusannya terjadi jam 5 sore sebanyak tiga kali. Seluruh tivi berbarengan menayangkan Merapi. Berita di tivi tetap mengatakan bahwa itu adalah letusan eksplosif, meski kepala BPPTK meragukan kemungkinan itu. Tayangan memperlihatkan abu gunung bertebaran di jaket dan rambut reporter dan juga di motor/mobil yang lalu lalang di jalan Kaliurang.

Ibu cemas banget,bahkan ngajak ngungsi ke Bude Rin (kakak kandung Ibu yang tinggal di Godean). Apalagi Bapak belum pulang dari berburu sapi (untuk Idul Adha) di Magelang bareng Ustad Wid. Telepon ke nomor Bapak dan sebaliknya berkali-kali putus. Langit dipenuhi tidak saja oleh abu gunung tapi sambungan telepon yang bersilangan. Semua orang pasti panik ingin tahu kabar keluarganya.

Malamnya TvOne merilis foto letusan yang diklaim sebagai foto amatir diambil jam 16.55! Aneh, sore tadi gelap. Hujan rintik-rintik dan cukup deras di Jakal. Siang tadi pas pulang dari kampus Merapi cuma kelihatan sedikit di sisi timur bawah (dekat Plawangan). Dari mana TvOne dapat foto itu?

Dan, di mana Mbah Maridjan? Tadi pagi aku masih nonton wajahnya yang tidak mau disorot kamera Trans7. Tetangga Mbah Maridjan yang juga anak buahnya di kirim ke RS Ghrasia gara-gara kena wedhus gembel dengan luka bakar 75 %.

Erupsi 2010 menyisakan rekahan besar. Foto diambil 1 bulan kemudian (29 November 2010)
29 Oktober 2010 (Jumat)
Empat hari Merapi meletus kini giliran Krakatau, Slamet, dan Papandayan ikutan menggeliat berkegiatan. Merapi kerap disebut sebagai panglimanya gunung di Jawa. Kalau dia meradang yang lain ikutan juga. Pujian yang berlebihan dan tidak layak dibanggakan.

Ibu bilang kalau bukan orang baik gak akan orang mati bisa dalam posisi sujud. Iya, yang kumaksud adalah Mbah Maridjan yang ditemukan meninggal dalam posisi sujud (sekalipun di kamar mandi). Dia jadi korban pada erupsi pertama Selasa lalu bersama 35 orang lainnya. Rumor yang beredar mengenai dia selamat berakhir sudah.  Berita menunjukkan Kinahrejo luluh lantak. Sejauh mata hanya pemandangan abu-abu dengan debu vulkanik dimana-mana.

Aku tidak ambil peduli soal kemana arah hadap sujud dan di mana jasad Mbah Maridjan ditemukan. Mati dalam keadaan sujud itu tidak mungkin terjadi kalau tubuh orang itu diterjang awan panas. Lihat saja foto-foto korban Merapi lain. Mereka tampaknya mati dengan penuh rasa sakit. Dengan begitu hanya ada satu penjelasan masuk akal kenapa jasad Mbah Maridjan bisa dalam sikap sujud. Itu karena dia sudah meninggal duluan sebelum awan panasnya lewat.  

Yang kudengar Mbah Maridjan kesal dengan wartawan yang suka lebay. Makanya dia menolak diambil gambarnya. Dia juga menolak mengungsi di saat terakhir karena mengaku Merapi adalah rumahnya apapun yang terjadi. Mbah Maridjan sudah meminta warga mengungsi tapi ternyata banyak yang terlambat bereaksi karena yakin Merapi tidak akan mengamuk seperti 2006 lalu saat Kinahrejo baik-baik saja. Besar kemungkinan karena 2006 inilah dia jadi lebih dipercaya sebagai “orang ampuh” oleh warga sekitar. Maridjan tidak turun berarti tidak apa-apa. Makanya petang tanggal 26 itu ada saja yang tidak mengungsi biarpun suara gemuruh terdengar dan bau belerang tajam tercium.

Omong-omong tentang erupsi 2006, ketika itu korbannya ‘hanya’ 2 orang yang salah langkah karena bersembunyi dalam bunker. Bunker yang aneh pula karena tidak berfungsi menahan awan panas. Tahun itu Mbah Maridjan juga menolak mengungsi. Konon dia pernah mengatakan bahwa yang nyuruh itu bukan raja sungguhan. Lalu muncul kata-kata: “sopo sik wani karo Maridjan, sultan wae kalah.” Gara-gara tindakannya Mbah Maridjan malah jadi populer dan ke-roso-annya dipopulerkan iklan KubuBima. Menurut Doni Kesuma (bintang iklan KukuBima) Mbah Maridjan orangnya pendiam, santun, dan sulit diajak turun gunung. Aku sempat salah menyangka Mbah Maridjan kepedean dengan lolosnya dia dari erupsi 2006. Dia melakukan apa yang seharusnya dilakukan, setia kepada sultan (HB IX) dan tugas yang diembankan. Kinahrejo memang rumahnya dan mungkin itu adalah kematian yang dia inginkan, mati di rumahnya.

banjir lahar dingin
Banjir lahar dingin di kali Boyong dekat dusun tempatku tinggal yang jadi tontonan.
...
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang membingungkan, antara rasa cemas dan rasa yakin bahwa Merapi tidak akan memburuk.

Masjidil Haram dalam Bingkai

Sepulang dari ibadah haji tahun 2011 orang tuaku meminta agar foto keduanya sewaktu beribadah haji dicetak. Satu berlatar Kabah sedangkan satunya lagi berlatar menara jam Royal Hotel Mekah. Tidak cukup di situ. Seperti rerata orang pulang dari berhaji atau umroh, ada bermacam oleh-oleh bernuansa “Haji.” Di antaranya dua buah poster foto bergambar Masjid al Haram (Masjidil Haram) dan Masjid Nabawi kurang lebih berukuran A2. Dua poster ini lalu dibingkai kayu bercat keemasan dengan kaca dan lampu fluorescent di baliknya, sehingga ketika saklar dinyalakan, kedua masjid ini akan tampak bercahaya. Masing-masing foto dan poster berbingkai itu dipajang pada dinding ruang tamu dan ruang tengah. Biaya pembingkaian serta instalasi tidak bisa dibilang murah, namun pemajangannya yang ada di “ruang privat namun publik” agaknya menyiratkan suatu hal yang sepadan.

Aku berhaji maka aku ada
Jelas sulit menghindari kesan ingin pamer bahwa “diriku ini sudah berhaji.” Tapi bukankah praktik serupa telah lama dilakukan? Bahkan sejak teknologi foto masih menggunakan kamera analog atau malah sejak teknologi fotografi belum akrab dipakai masyarakat. Misalnya orang suka menunjukkan album foto diri yang berpose di depan suatu bangunan terkenal atau tempat wisata di kota lain atau luar negeri kepada tamu, foto wisuda, atau memajang piala dan medali buah prestasi tertentu, hingga memajang suvenir khas (uang kertas, gantungan kunci, miniatur rumah adat) dari daerah tertentu pada meja/bupet ruang tamu, termasuk membentangkan karpet/permadani raksasa bergambar Masjidil Haram di dinding. Benda-benda material tersebut fungsinya telah melebihi fungsi mereka yang pada awalnya dimaksudkan sebagai penghias ruang, menjadi tanda yang dikonsumsi dan dikomunikasikan citranya oleh tuan rumah bersama dengan para tamu.

Masyarakat spectacle, begitu Debort (2002) menyebutnya. Adalah ketika relasi sosial antar manusia dimediasi oleh imaji, yaitu sebuah cara pandang masyarakat terhadap dunia yang kian dimaterialisasikan. Pada masyarakat spectacle konsumsi atas citra didorong untuk menunjang produksi barang komoditas. Perasionalan atas tindakan konsumsi tumbuh dalam iklim demi pengidentifikasian diri di tengah kehidupan sosial. Debort menyebut ada permainan sistem standardisasi oleh kapitalis untuk mengendalikan masyarakat. Sehingga mereka menjadi patuh bahkan bangga dalam perannya sebagai konsumen. Kehidupan bukan sekedar dinilai dari kepemilikan namun juga pada pemameran atau mempertontonkan status diri.

Berdasar pemaparan Debort, dapatlah disampaikan bahwa perilaku orang-orang yang telah menjalani ibadah haji tak lepas dari apa yang didefinisikan sebagai spectacle, di mana melalui benda-benda seperti poster foto Masjidil Haram dan foto diri di depan Masjidil Haram, mata uang Saudi Riyal, suvenir pintu Kabah, dan  permadani bergambar Masjidil Haram di ruang tamu, orang yang pulang dari berhaji sudah mengonsumsi citra dengan memperantarai hubungan sosial dirinya lewat benda-benda itu (termasuk orang tuaku di dalamnya).

Sisi sosiologi sebuah benda (seni) mengungkapkan bahwa suatu benda tidak lepas dari konteks sosialnya (Zolberg, 1990:9). Poster dan foto diri bersama masjid ini berkaitan dengan ibadah haji itu sendiri sebagai bagian dari tuntunan agama sekaligus tuntutan sosial.

Ibadah haji adalah pilar yang terakhir kali disebut dalam Rukun Islam. Ibarat bangunan maka ia adalah proses dan “tanda” dalam menggapai kesempurnaan status seorang muslim di mata masyarakat (dan Tuhannya), dan konon karena beratnya perjalanan haji maka orang Islam cukup melakukan setidaknya satu kali seumur hidup, itupun bila mampu. Beratnya ibadah haji, terutama di masa ketika perjalanan ke tanah Arab dari wilayah Nusantara/Indonesia hanya bisa melalui jalur laut dan darat yang memakan waktu bulanan hingga tahunan, mendorong pemberian gelar “haji” oleh masyarakat setelah orang yang berhaji kembali ke negerinya. Perjalanan sedemikian berat dari rentang sejarah berimbas pada kepercayaan bahwa orang yang mampu berhaji (karena dianjurkan hanya sekali seumur hidup), pastilah orang yang berada secara finansial (walaupun keyakinan semacam ini bisa saja dibantahkan). Gelar “haji” tidak lagi cukup melegitimasi diri karena gelar haji sudah menjelma kode sosial pelengkap ke-Islam-an, maka oleh-oleh berujud fisik menggantikannya sebagai bukti otentik bahwa yang baru saja pulang sungguh datang dari tanah suci. Proses sosial demikianlah yang membentuk kebutuhan pada konsumsi tanda, konsumsi demi melayani status ke-haji-annya.

Tentu saja gambar, foto, hingga karya kriya/seni berbagai bahan dan rupa yang menampilkan Masjidil Haram lengkap dengan Kabahnya dapat dengan mudah diperoleh di dalam negeri. Tetapi dengan membeli poster bergambar Masjidil Haram di tanah aslinya: Arab Saudi, ada legitimasi lebih meskipun bisa jadi tidak selalu berbanding lurus dengan harga mentereng. “Keorisinalitasan” ini yang dikejar oleh pembelinya tanpa mau peduli bahwa itu merupakan bentuk komodifikasi atas komoditas, terlepas dari lokasi produksi benda itu yang mungkin lebih dekat dari asal negara orang yang berhaji (umumnya buatan Cina).

Masjid Nabawi dalam bingkai keemasan

Pergeseran atas bentuk legitimasi pergi haji—dari oleh-oleh benda kriya/seni ke fotografi—selain karena makin ringkas dan mudahnya kamera juga karena foto mempunyai karakter yang unggul dalam merepresentasikan kenyataan dibandingkan gambar atau benda kriya. Foto menjelma menjadi arena mempertontonkan kebenaran, kebenaran bahwa orang ini benar-benar telah beribadah haji, kebenaran yang ujungnya jatuh pada upaya pemosisian diri di tengah masyarakat lewat perantara imaji. Foto juga memenangkan legitimasi melalui penghadirannya yang berada di ruang privat tetapi bersifat publik: ruang tamu. Setiap tamu yang datang berkunjung akan disuguhi “tanda” yang mewartakan bahwa tuan rumah sudah pergi jauh ke Arab Saudi untuk menjalani ibadah haji, dan bila itu dirasa kurang, barangkali foto Masjidil Haram tadi akan ditingkahi dengan cerita-cerita dan kenangan menakjubkan tentang tanah suci.

Masalah lalu muncul ketika siapa saja, bahkan yang belum pernah berhaji atau melaksanakan ibadah umroh bisa bebas memajang gambar Masjidil Haram di ruang tamunya. Ya, di era reproduksi mekanis—digital, siapa yang berhak melarang suatu pengomsumsian tanda? Entah apapun motivasi orang yang tidak/belum berhaji memasang gambar Kabah. Tidak ingin kalahkah dari yang sudah berhaji? Ingin dikira sudah berhajikah? Ataukah justru suatu bentuk pengharapan agar suatu hari bisa beribadah haji? Apapun yang melatarbelakangi perilaku tersebut, ‘hak eksklusif’ yang hendak ditujukkan hanya kepada orang yang sudah berhaji seolah lebur dan mengabur. Gambar Masjidil Haram yang biasa-biasa saja tidak lagi cukup menunjukkan bahwa seorang pernah menjalani beratnya berhaji.
Dari sini gambar dan foto Masjidil Haram menyimpan perang atas status dan makna, hingga mampu membentuk visualitas dalam masyarakat, visualitas yang  membentuk akan pentingnya daya pembeda. Unsur intrinsik yang biasa berada di wilayah estetika ternyata juga menyentuh sisi sosial. Zolberg (1990:27) menuliskan bahwa suatu karya seni adalah bentukan anggota masyarakat nan kompleks dan jauh dari label sederhana. Walker dan Chaplin (1997:76-77) menyebutnya “selera,” yaitu suatu bentuk resepsi di mana konsumen dan produsen bersama-sama membentuk selera baru dalam masyarakat, yang selera tersebut sering dirancang untuk tetap ada pada waktu tertentu sebelum akhirnya tergantikan. Becker (1982:39) mempertegasnya dengan mengatakan bahwa kriteria atas estetika adalah karakteristik aktivitas kolektif. Gambar boleh menyajikan objek yang sama namun tampilannya haruslah ‘beda.’ Pada tampilan yang beda inilah makna dan status terus dibentuk. Maka diciptakanlah gambar-gambar atau foto sisi lain Masjidil Haram (termasuk gambar pintu emas Kabah), diciptakanlah cara membingkai gambar/foto yang secara konsensus dinilai layak dihargai lebih tinggi dari lainnya. Sebaliknya, ada saja gambar atau foto lain yang tampak tidak pantas ‘disajikan’ di ruang tamu rumah orang yang lebih berada dan karenanya harganya lebih rendah, yang jika dilihat sekilas saja sudah tampak hirarki kualitasnya.

Masjidil Haram dalam bingkai keemasan dengan lampu fluorescent di baliknya menjadi salah satu yang dilingkupi keeksklusivitasan bagi orang yang baru pulang dari berhaji. Bingkai berukir dengan warna keemasan menjadi ciri fisik yang terlihat kelasnya dibandingkan gambar Masjidil Haram yang tidak berbingkai. Namun hanya soal waktu sebelum gaya pembingkaian seperti ini akan mencapai titik jenuh. Bukan saja ketika karya itu semakin lumrah ditemui di setiap rumah yang menyebabkan nilai gengsinya menurun, tapi juga karena makna akan status akan selalu diperbarui oleh segenap anggota masyarakat. Hal demikian dihadirkan untuk melayani diri ini yang selalu haus akan unsur pembeda-yang-tidak-biasa, yang tidak lain adalah unsur yang-tidak-dimiliki-oleh-orang-lain

Model Produksi

Walker dan Chaplin (1997:77) menyebut model produksi, distribusi, dan konsumsi yang perputarannya bukan sebagai pengulangan, melainkan perputaran yang secara berbarengan dan berturutan, di mana setiap putaran selalu berbeda karena selalu ada perubahan dalam masyarakat. Kini sudah tidak jelas lagi siapa yang lebih berkontribusi terhadap nilai elitis dan estetis dalam produksi gambar Masjidil Haram dan pembingkainya.  
Apakah fotografernya? Belum tentu juga, sebab siapapun bisa mengambil foto dengan kualitas cukup baik hari ini, asalkan memiliki kamera dan akses ke lokasi pemotretan. Atau jangan-jangan yang lebih berjasa justru perusahaan pembuat kamera dengan lensa kamera? Tapi apalah arti kamera tanpa keberadaan fotografer?

Dapatkah peran besar ada di percetakannya? Amat diragukan, karena kini kualitas cetak nyaris seragam apapun merek mesinnya. Bisakah pabrik pembuat mesin cetak, pabrik tinta cetak, ataukah operator cetak lebih kuat peranannya? Bisa jadi, namun mesin cetak hanyalah satu metode produksi.

Apakah orang yang diserahi untuk membingkai serta memasang instalasi kabel dan lampu fluorescent di balik poster lebih mumpuni dari mereka yang berprofesi sama? Belum tentu, mereka juga masih membutuhkan jasa tukang kayu, penjual cat kayu, serta pemasoknya. Bahkan ada teknik-teknik pengukiran dan pengecatan yang berpengaruh terhadap hasil dan harga akhir dari suatu produk bingkai.

Benarkah pemesannya (klien) jauh lebih besar peranannya? Mengingat tidak akan ada produksi tanpa ada permintaan, yang kemudian menciptakan paradoks bahwa tidak akan ada permintaan tanpa produksi. Kenyataannya toh seluruh individu secara anonim berperan serta dan turut memberi pengaruh pada setiap elemen karya tersebut. Proses produksi, distribusi, konsumsi tidak tegas meletakkan posisinya pada posisi tertentu, entah sebagai masyarakat penyangga, konstruksi sosial seni, atau lembaga sosio kultural. Menciptakan karya Masjidil Haram dalam bingkai tak lain adalah sebuah kerja kolektif yang luas.

Berhaji yang merupakan bagian dari Rukun Islam menyiratkan kepada pemeluknya untuk memasrahkan diri menjalani serangkaian ibadah dengan menapaktilasi sejarah penyebaran agama yang diimaninya secara langsung di tanah Arab. Membutuhkan tidak saja kesiapan fisik dan mental, serta biaya yang jelas tidak sedikit, orang-orang Islam yang pergi berhaji menjadi terbebani tidak saja di hadapan Tuhannya tapi lebih-lebih secara sosial. Sebuah proses rumit yang sayangnya tidak akan bisa sepenuhnya dilenyapkan di mana proses itu kemudian berimbas pada visualitas sebagai status sosial. Masjidil Haram dalam bingkai akan terus menempa makna legitimasi bagi orang-orang yang berhaji.

Sumber Boleh Ngutip
Becker, H.S., 1982. Art Worlds. Los Angeles: University of California Press.

Debort, G., 2002. The Society of The Spectacle. Canberra: Hobgoblin Press.

Walker, J.A., Chaplin, S. 1997. Visual Culture, An Introduction. New York: Manchester University Press.

Zolberg, V.L., 1990. Contructing a Sociology of The Arts. 1990. New York: Cambridge University Press.

Kegotongroyongan Bundakata

Industri buku selama ini tidak memberi banyak pilihan bagi pembaca. Pembaca selalu hanya dijadikan pasar potensial oleh penerbit demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Hal ini bisa diamati dari tren buku yangmuncul silih berganti mengatasnamakan pelayanan atas selera pembaca. Hingga saat ini ruang penataan di toko-toko buku terus dipenuhi tema-tema yang nyaris seragam, di mana satu buku mengekor kepopuleran lainnya. Tidak cukup soal tema keseragaman juga ikut merambah sisi sampul luarnya. Sampul luar pun ikut menghamba kemauan pasar. Dari situasi ini tumbuh Bundakata, sebuah gagasan mengenai “buku” yang semangatnya adalah hendak menghargai pembaca. Cara pandang segar tentang “buku” yang berbeda dari buku pada umumnya ditawarkan kepada manusia pembaca melalui permainan di ranah pemaknaan yang timbul dari pilihan kata-kata bersanding bersama praktik-praktik unik darinya.

Bentuk display seni rupa buku di Nandur Srawung
Agak rumit sesungguhnya memahami konsep Bundakata dan jalan yang diambilnya. Ada yang berkomentar dengan nada bergurau bahwa ini adalah model gerakan marxis. Rain Rosidi, seorang kurator dan pengajar di ISI Yogyakarta menyebutnya sebagai gerakan “turba” (turun ke bawah). Setidaknya ada tiga konsep kunci: peristiwa—bukan lembaga, gotong royong, dan memberi pilihan. Oleh dua orang pengagasnya, Widyatmoko (40 tahun) yang akrab disapa Koskow dan Awalludin Luthfi (27) yang biasa dipanggil Cak Udin, Bundakata timbul dari penolakan terhadap yang baku dalam industri buku. Keduanya memang “orang-orang buku,” orang yang telah berkecimpung dan memiliki kepedulian di dunia perbukuan. Koskow seorang pengajar di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, penulis Merupa Buku (LKis) dan Teman Merawat Percakapan (Tan Kinira). Sementara Cak Udin semenjak kuliah di Surabaya telah aktif di sejumlah event organizer perbukuan dengan ikut mengadakan pameran buku di beberapa kota kecil di Pulau Jawa.

Nama Bundakata itu sendiri sudah merupakan pilihan bahasa yang berkesan damai dan menenangkan. Dicetuskan Cak Udin dalam sebuah perjalanan berkendara sepeda motor bersama Koskow, nama ini diinspirasi dari peran mulia seorang ibu. Bundakata bagai rahim yang mampu melahirkan siapa saja (penulis) dan apa saja (tulisan/karya). Begitu pula tulisan-tulisan yang lahir dari Bundakata yang pada ujungnya mampu menggerakkan dan menginspirasi orang-orang yang bersentuhan dengannya.

Di Bundakata setiap penulis (yang bisa siapa saja) akan berkarya dalam format selembar kertas A4 yang dilipat menjadi dua sehingga didapati dua lembar A5 yang berdampingan (4 halaman bolak-balik). Isinya boleh berupa apa saja baik tulisan, gambar, foto, hingga komik. Karya ini setelah dilayout lantas dicetak pada kertas buram (ukuran 21,5 x 33 cm) dengan memakai mesin cetak toko atau fotokopi, terserah kemampuan penulis. Kertas buram dipilih agar lebih ramah lingkungan. Penulis dapat mencetak sendiri atau mengirim tulisan (yang belum dilayout) ke Cak Udin atau Koskow untuk dicetak bersama. Biaya cetak akan diusahakan bersama alias patungan. Jika ada penulis yang belum sanggup membayar ongkos produksi, Bundakata tidak menuntut penulis untuk segera membayar. Ini karena hubungan pertemanan dan perkenalan yang serba guyup dikedepankan. Tulisan atau karya tersebut lalu akan dipertemukan dalam sebuah ajang yang dilabeli dengan “peristiwa” Bundakata yang menumpangi pameran buku atau seni di sebuah stan. Lembar-lembar karya penulis yang ditata dan dibentangkan ini dihadapkan kepada pengunjung pameran/pembaca untuk disusun sendiri urutannya langsung di lokasi sesuai kemauan pembaca. Pembaca dapat memilih tulisan/karya yang disukai, mengkreasi sampul untuknya, dan membawanya pulang tanpa dipungut biaya.
Sambutan para pembaca Bundakata
Pendeknya Bundakata lahir karena dan ada demi pembaca. Posisi pembaca dihargai dengan kebebasan memilih tulisan yang disukai. Bundakata memberi mereka pengalaman bagai seorang editor buku walau hanya dalam taraf penyusunan. Tulisan mana yang diletakkan di depan, di tengah, dan mana yang di belakang seluruhnya berada dalam kendali pembaca. Layaknya perilaku orang yang berkelana di internet, di mana orang bebas membaca/menyimpan apa saja yang disukainya dan disusun sesuai selera dan preferensi dalam folder komputer. Model berkarya, pameran, dan interaksi dengan pengunjung semacam ini sesungguhnya ditelurkan dari obrolan di DDF (Diskom Drawing Foundation), sebuah komunitas pehobi menggambar di program studi Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta. Hanya saja gagasan itu belum terujud. Oleh Koskow dan Cak Udin gagasan ini dipinjam dan diadaptasi untuk mengakomodir konsep “buku” Bundakata. Toh, para pehobi gambar pun akhirnya jadi punya ruang ikut serta di Bundakata. Karya gambar bisa dijadikan ilustrasi atau sampul buku.

Peristiwa, bukan Lembaga

Bundakata yang menyebut diri bukan lembaga, forum, ataupun komunitas namun hanya “peristiwa” sedikit mengingatkan akan konsep tubuh-tanpa-organ Deleuze yang melampaui organisasi. Tubuh ini berhubungan, saling bersinggungan antara titik satu dan lainnya, dan terus berubah. Tubuh-tanpa-organ dipertentangkan dengan organisme (yang diasosiasikan bagai pohon) di mana setiap unsur punya fungsi. Tubuh ini keluar dari teritori (kriteria-kriteria tetap), dan membentuk kembali dengan cara baru di daerah baru (Haryatmoko, Basis no. 5-6, tahun 64, 2015). Mungkin karena itulah Bundakata mudah menyebar dan telah hadir di Semarang, Jepara, Malang, keluar dari kota Yogyakarta yang membenihinya.

Bundakata di Hindu Fair
Ketiadaan bentuk lembaga/badan tak pelak membuat Bundakata seolah kosong. Kosong dalam arti tanpa ada struktur kepengurusan. Meskipun kenyataannya tetap saja ada yang mengurus agar ia berjalan. Misalnya ada yang mengurus penataletakan (layout) karya-karya penulis lewat media Adobe InDesign sebelum naik cetak, ada pula yang mengambil peran mencetak lalu menjadi “kurir” karya-karya tersebut, ada yang mengurus patungan dana cetak, ada pula yang kebagian men-display dan membongkar karya, ada juga yang mengambil peran jaga stan, pendokumentasian, hingga pengarsipan. Koskow menolak sebutan “pengurus bayangan” untuk mereka. Istilah pengurus bayangan mengandaikan bentuk pelembagaan juga. Dia lebih suka menyebut Bundakata sebagai “ada orang-orangnya.” Cak Udin menyebut mereka sebagai “pelaku” (Awalludin dalam Hadid ed. 2014). Toh, banyak dari mereka yang menjalani peran ganda tanpa ada yang ribut dengan ketidakadilan pembagian kerja. Cara kerja model ini meniadakan job description yang lazim terdapat pada organisasi/lembaga. Di sinilah kegotong royongan terlihat dalam sebuah peristiwa. Peristiwa yang dipenuhi oleh orang-orang yang menghidupi Bundakata. Orang-orang biasa yang bahkan bukan penulis di Bundakata.

Ketiadaan lembaga ini diakui oleh Cak Udin berdampak pada ketidaktahuan mereka yang tertarik untuk urun berkarya harus menghubungi siapa. Perekat antar para pelaku hanya melalui laman Facebook Bundakata yang terbuka bagi semua orang. Dia tidak merasa ini adalah sesuatu yang buruk sebab dengan begitu gagasan Bundakata justru bisa menyebar dan semakin meluaskan jaringan pertemanan dan perkenalan. Dalam memahami “peristiwa” sebagaimana dimaksud Bundakata, Cak Udin menyebutnya sebagai sesuatu yang “serba tak terduga” atau “yang dinanti-nanti.” Peristiwa Bundakata berupaya menghindari segala hal yang bersifat rutin: pertemuan rutin, acara-acara rutin, rapat, dsb. Banyak komunitas menulis yang mencoba melakukan rutinitas atau sesuatu yang diagendakan secara tetap sehingga kegiatan tersebut terasa seperti kewajiban atau beban, Bundakata sebaliknya tidak harus selalu ada dalam rentang waktu tertentu. Dengan begini Bundakata menjadi langkah yang bebas dari tuntutan.

Sejauh ini telah terjadi tiga peristiwa Bundakata yang mengangkat tema khusus. Yang pertama “Buku Istimewa” (2013), kedua “Jaman Ngedan” (2014), dan ketiga “Ironi dan Daya Hidup” (2014). Setiap tema hadir dari obrolan akrab dan diskusi kecil orang-orang Bundakata untuk menyikapi situasi yang terjadi ketika itu. Setiap peristiwa Bundakata yang terujud dalam tema tidak selalu harus hadir setiap saat atau dalam kurun waktu tertentu, sesuai dengan ke-peristiwa-an yang menjadi jalannya. Kendati Bundakata senantiasa hadir di manapun meskipun tanpa ada tema baru. Bundakata berkeliling dari ajang pameran seni, pameran buku, dan ajang-ajang lain. Jaringan perkawanan dan perkenalan betul-betul dimanfaatkan. Terakhir ia dihelat berbarengan dengan Dies Natalis ISI Yogyakarta XXXI akhir Mei 2015 bertajuk “Selipat.” Berupa naskah/karya-karya di Bundakata yang lalu dijahit bersama menjadi buku dengan seutas 
benang.
Bundakata ke kampus ISI Yogyakarta
Buku Gotong Royong

Ruang-ruang cair tanpa batas dihadirkan oleh Bundakata. Tidak saja dari orang-orang yang terlibat atau pembaca yang diberi kebebasan menyusun, tapi juga dari sisi penulisnya. Di sini siapapun boleh bergabung untuk berkarya. Siapapun diundang ikut serta tanpa ada batasan usia, jenis kelamin, jenjang pendidikan, pekerjaan, tingkat ekonomi, dan sosial. Bundakata tidak mencoba membuat sekat-sekat pemisah, atau yang dikatakan oleh Koskow sebagai partisi-partisi. Bundakata berbeda dari buku bunga rampai pada umumnya yang disusun dengan syarat tema tulisan dan kualifikasi tertentu dari penulisnya. Hanya di Bundakata tulisan seorang anak berumur 3 tahun disandingkan dengan tulisan seorang mahasiswa S2. Semua bergantung kepada pembaca yang diberi kebebasan menyusun karya-karya tersebut menjadi satu bundel buku. Pun pembaca bila tertarik untuk ikut menjadi penulis. Sebab rupanya Bundakata memicu rasa resah mereka yang cuma dipandang sebagai “pembaca” (konsumen) agar mau merasakan menjadi “penulis” (produsen). Terbukti jumlah penulis meningkat di setiap helatan ajang Bundakata.

Logo oleh Andre Tanama
Kegotong royongan juga tampak dari logo Bundakata yang disumbangkan oleh Andre Tanama, seniman dan pengajar di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Diambil dari lukisan tahun 2010 berjudul Dreamy World (Awalludin dalam Hadid ed. 2014), logo ini menampilkan seorang anak perempuan yang tengah menunduk membaca buku. Koskow menyampaikan bahwa dalam menulis atau berimajinasi saat menulis, seorang dibebaskan untuk berimajinasi, berkreasi penuh angan dan mimpi seperti anak kecil yang hanya ingin berbagi.

Demi menjaga interaksi dan ikatan antara pembaca dengan Bundakata, sistem “barter” diperkenalkan bagi pembaca yang ingin mengambil/menyusun karya para penulis. Tujuannya untuk saling mengapresasi. Penulis menghargai hak-hak pembaca memilih tulisan yang disukai, begitu pula pembaca menghargai karya para penulis. Barter ini dapat berupa apa saja seikhlasnya, sukarela, dan semampu pembaca. Ujudnya pun amat sangat beragam tak harus selalu uang, malah uang sebagai alat tukar sebisa mungkin dihindari. Di kesempatan Bundakata tema pertama (“Buku Istimewa”) di Semarang pada acara pemeran Semarang Sejuta Buku. Natalia Afnita, salah seorang penulis dan penjaga stan di Bundakata menuliskan bahwa tak urung barter ini menimbulkan kebingungan pengunjung/pembaca karena tidak tahu nilai yang layak dari buku Bundakata yang mereka susun. Akhirnya buku lain yang baru saja dibeli oleh pembaca di pameran buku yang sama diberikan kepada Bundakata. Ada pula yang menulis puisi, ada yang membacakan puisi langsung di stan Bundakata, ada yang menawarkan diri untuk menjaga stan, hingga memberikan harmonika miliknya. Ditambahkan oleh Cak Udin ada pula yang menyanyi atau sekedar menulis kesan dan pesan di lembar yang tersedia. Bentuk-bentuk apresiasi ini cukup mencengangkan dan dapat dibaca betapa nyata kegotongroyongan itu di kala setiap orang yang berpartisipasi memberi semampunya.
memberi adalah bentuk apresiasi
Dalam perkembangannya, kata barter yang terlalu berkonotasi pertukaran setara dan dinilai bermotif ekonomi kemudian diganti dengan istilah “take and give.” Ini terlihat pada Bundakata #3 bertema Ironi dan Daya Hidup. Semangatnya tetap menjaga hubungan dan saling menghormati. Tetapi take and give pun masih mengandaikan adanya transaksi di mana salah satu pihak bisa jadi lebih diuntungkan dari lainnya. Belakangan kata take and give digantikan dengan “give and give.” Di sinilah kekuatan bahasa dalam memberi makna. Bundakata yang sedari awal ingin memberi pilihan semakin mendekat dengan mendorong “saling memberi.” Saling memberi jelas berbeda dengan “ambil baru kemudian memberi” seperti yang terkandung dalam “take and give.”

Memberi Pilihan

Berbeda dari penerbit buku indie yang menetapkan visi-misi perlawanan secara jelas kepada kemapanan penerbit besar dan industri buku yang cenderung melakukan pendiktean tema. Koskow tidak secara tegas mengelak istilah “melakukan perlawanan,” tapi juga tidak mengiyakan. Bundakata juga tidak tepat jika disebut gerakan sosial. Koskow menyebut sebuah pepatah Jawa: “ngono yo ngono ning ojo ngongo” untuk mengilustrasikan ‘gerakan’ Bundakata. Tujuannya bukan untuk perubahan sosial. Dengan gerakan semacam inilah Bundakata justru bisa mudah masuk/diterima di mana-mana. Bundakata menjadi seperti rhizome yang dimaksud oleh Deleuze. Tidak ada pusat, mampu berkembang biak ke segala arah, tanpa dibatasi kode penyatu (Haryatmoko, Basis no. 5-6, tahun 64, 2015). Bagi Koskow Bundakata adalah sebentuk dari tindakan “memberi pilihan.” Mengenai “pilihan” Cak Udin mempersilakan bila istilah ini dipahami seperti memahami jalur alternatif atau musik alternatif. Yang jelas Bundakata memang hadir sebagai respon atau tanggapan atas industri buku yang makin terseret arus pelayanan pasar dan kian berorientasi keuntungan. Respon atau tanggapan tentu tidaklah sama dengan “reaksi” yang timbul lebih cepat dan tanpa dipikirkan dengan matang. Koskow juga menolak jika Bundakata dikatakan bentuk budaya tanding apalagi gerakan subversif.

Mau kemana arah Bundakata oleh Cak Udin dianalogikan seperti angin yang berembus, kehadirannya dapat dirasakan namun tidak terlihat. Ia dapat berembus ke mana saja, dapat mengisi apa saja. Sony Prasetyotomo, salah seorang penulis dan pelaku Bundakata sepakat bila Bundakata diibaratkan air yang mengalir. Mungkin dengan analogi air ini Bundakata hendak memasuki setiap ceruk dan meresap di dalamnya. Bagi Cak Udin bila ada yang berminat pun dipersilakan mengadakan “peristiwa” yang sama dengan nama Bundakata di mana pun tanpa izin resmi dari orang-orang yang terlibat selama ini, bahkan tanpa restu pencetusnya sekalipun. Hanya saja untuk urusan satu ini Koskow menekankan pentingnya berkomunikasi bagi pihak yang ingin menyelenggarakan Bundakata dengan orang-orang yang telah terlibat. Agaknya ada kecemasan yang berangkali cukup beralasan lantaran pemakaian nama Bundakata oleh lain pihak turut menggeser sisi konseptual Bundakata.

Berdasar pengalaman sebelumnya keseksian nama dan konsep Bundakata telah menarik sejumlah pihak. Moammar Emka (penulis Jakarta Underground) yang pernah menyambangi stan Bundakata menawari agar naskah-naskah/tulisan/karya di Bundakata untuk diterbitkan di Gagas Media. Tawaran ini ditolak oleh Cak Udin tentu saja. Menyerahkan naskah ke penerbit berarti menghilangkan penghargaan kepada pembaca untuk berperan sebagai penyusun naskah. Pada kesempatan lain pernah pula ada pihak yang tanpa izin mendompleng nama dan logo Bundakata untuk jualan buku di Twitter. Oleh Cak Udin pemilik akun tersebut ditegurnya. Bundakata tidak boleh untuk jualan buku. Ia tidak dibuat untuk mencari keuntungan. Menyusul teguran tersebut, pihak yang mengatasnamakan Bundakata tersebut kemudian mengganti nama dan logonya. Mengenai ketidakbersediaan menerima uang ini, Koskow menyebutnya gagasan ‘sombong’ dalam arti khusus. Bayangkan saja para penulis menulis, mengeluarkan uang untuk ongkos cetak, keluar tenaga dan waktu untuk men-display, tetapi tidak mau menerima bayaran jika karya mereka diambil pembaca.

Moammar Emka dan Cak Udin (kanan)
Uniknya kerja ikhlas orang-orang Bundakata, termasuk para penulisnya seperti berbuah manis ketika secara “kebetulan” di helatan ketiga bertema “Ironi dan Daya Hidup” yang membarengkan diri dengan pameran seni rupa Nandur Srawung di Taman Budaya Yogyakarta pada November 2014 mereka turut menerima limpahan dana istimewa sebesar ratusan ribu per penulis. Barangkali analogi bagaikan hembusan angin dan aliran air cukup tepat, sebab pergerakannya mampu memasuki setiap relung hidup yang kemudian ikut meniupkan/mengalirkan rezeki kepada mereka. “Tidak mencari uang tapi malah mendapat uang.” Pada akhirnya langkah memberi pilihan dari Bundakata yang kecil dan sederhana ternyata tidaklah sesederhana itu.

Senutup

Melihat langkah-langkah yang di ambil Bundakata beserta para pelaku/orang-orangnya sesungguhnya buku seperti ini tidak dapat dikatakan sama sekali baru, ia lebih tepat disebut memberi penyegaran. Penyegaran terhadap konsep buku yang telah dibakukan oleh industri, penulis, dan (ironisnya) pembaca sendiri, bahwa buku bukan hanya berisi penerbit dan penulis tapi ada pembaca, editor, dan perancang sampul. Penyegaran muncul melalui pembedaan-pembedaan yang dihadirkan secara sengaja terhadap yang bukan atau bentuk-bentuk yang ditolaknya lewat kesadaran akan kuasa bahasa dalam membentuk makna yang dibarengi dengan praktik. Karena itulah istilah “peristiwa” digunakan, bukannya lembaga.

Ketiadaan bentuk lembaga berarti penolakan pada bentuk-bentuk hierarki di dalamnya yang serba membatasi peran manusia dan merupakan pangkal kesenjangan hati. Sebutan yang dipakai untuk mereka yang menghidupi bukan pengurus melainkan pelaku atau orang-orang. Kata “pengurus” merujuk pada fungsi-fungsi berjenjang di mana satu posisi lebih tinggi dari bawahnya. Bundakata adalah buku yang mencomot istilah gotong royong yang berakar dari tradisi Nusantara. Melalui gotong royong, semua akan terlibat dalam interaksi berdasarkan keikhlasan bukan transaksi untuk membangun bersama. Gotong royong timbul dari rasa “senasib” sebagai penulis, pelakunya, dan pembaca ketika menghadapi gempuran industri buku yang kian mengabdi pada penguasaan pasar. Lewat cara-cara yang ditempuh dengan menegaskan diri dan menegasi yang bukan diri, Bundakata telah menjadi sebuah jalan pilihan sekaligus warisan yang kemudian akan dijaga bersama oleh pembaca di manapun berada, bahkan nanti bila kedua penggagasnya tiada.

Restu Ismoyo Aji/Jino Jiwan

Simak cerita saya yang diikutkan di Bundakata, di SINI.

Sumber dan sumber:
Afnita, N. 2013, Sepekan Bersama Bundakata. http://nocturvis.blogspot.com/2013/12/sepekan-bersama-Bundakata.html, diakses 28 Juni 2015.


Awalludin. 2014. Seni Rupa Buku, Bundakat: Ironi dan Daya Hidup dalam katalog Pameran Ruparupa Senirupa Nandur Srawung, diedit oleh Hadid, M. Yogyakarta: Taman Budaya Yogyakarta.

Haryatmoko, 2015, Gilles Deleuze (3): Tubuh-tanpa-Organ dan Mesin hasrat. Basis No. 5-6, tahun 64, 2015, hal 62-68.

Koskow. 2013. Bundakata Buku Gotong Royong Bundakata,http://koskowbuku.wordpress.com/Bundakata/, diakses 28 Juni 2015.
Wawancara dengan Widyatmoko dan Awalludin Luthfi, Juni-Juli 2015
Foto dokumentasi oleh Cak Udin dkk.