Tampilkan postingan dengan label Jogjanesia. Tampilkan semua postingan

Jalan Berliku Embung Batara Sriten

Barangkali salah waktu, awal musim hujan 2015 dipadu dengan topografi Gunung Kidul yang memang keras melengkapi penderitaan motorku dan kedua lengan ini dalam perjuangan menggapai puncak tertinggi kabupaten yang dikenal dengan objek wisata pantainya. Butuh lebih dari pengalaman bermotor demi menaklukkan tanjakan dan turunan: yaitu niat bin tekad. Tapi aku terlalu menyanjung diri bila memanfaatkan kata-kata barusan, lebihlah tepat dikatakan: terlanjur basah kepalang tanggung, this is the point of no return *nyambung gak?*

Tempat wisata yang dituju rombongan kami bernama Embung Batara Sriten. Sebuah embung di Gunung Kidul yang satu paket dengan puncak Tugu Magir dan tergolong masih baru. Rencananya (menurut blog-blog sebelah) tempat ini akan dibangun menjadi kebun buah kelengkeng dan manggis. Gak jelas alasan kenapa mereka memilih manggis. Padahal manggis kan sudah ada ekstraknya ya? Ha ha.

gunung kidul
Embung Batara Sriten
Tidak ada papan penunjuk menuju lokasi dari jalan utama. Jadi dengan bijaknya meski terlambat (setelah yakin bahwa kami sudah kebablasan), kami menanyakan arah dan rute kepada warga sekitar yang bisa ditemui dengan mudah di pinggir jalan. Seharusnya kami mulai mengurangi laju motor begitu melihat deretan bukit di sisi utara jalan yang mengarah ke Nglipar dan lalu Klaten. Patokannya cukup jelas: Kantor Kepala Desa Pilangrejo, tapi rombongan kami melewatkannya. Dari sini tinggal ambil ke utara atau ke kiri kalau dari arah Sambipitu.

nglipar
Kantor Kepala Desa buat patokan
Lembaran petunjuk lokasi yang sudah mulai pudar warnanya baru terpampang di sejumlah titik di jalan masuk kampung. Tujuan pemasangannya seperti memastikan bahwa kami tidak salah ambil jalan (sekaligus meyakinkan pengunjung tidak salah jurusan). Walau sebenarnya papan petunjuk tidak benar-benar dibutuhkan karena kamu toh hanya perlu menduga bahwa jalur yang akan membawamu ke atas adalah hampir selalu jalur yang menanjak.
embung batara sriten
Penunjuk jalan yang nyempil dan mungil
Awalnya jalan aspal terhitung mulus untuk ukuran desa. Tapi setelah melintasi sebuah masjid (Abu Bakar Asy Sidiq). Tiba-tiba jalan terjal meliuk tajam, mendaki, dan menurun, terhampar tanpa ampun sejauh 4 km! Semua ini diperparah dengan selang selingnya jalan corblok yang di banyak titik remuk redam, merekah pecah bersatu dengan batuan runcing dan juga tanah merah lembek. Juga tidak dilupakan bagaimana jalan cukup sempit (hanya seukuran satu mobil), itupun tanpa pagar pembatas dari jurang menganga di satu sisinya. Sesekali kami bersua dengan papan peringatan yang meminta pengendara pindah ke gigi satu dan mengecek kondisi rem (sebuah peringatan yang harusnya direntangkan jauh jauh sebelumnya). Sungguh sebuah kondisi yang sangat tidak beradab lagi tidak berperikemanusiaan (bagi manusia modern yang terbiasa dimanjakan jalan aspal). Pendeknya, esktriiim!

petualangan ekstrim
Jalan corblok yang belum parah banget, buat peringatan apa yang akan menantimu di depan sana
Kemahadahsyatan jalan ini membikin aku terpana ketika tahu bahwa masih ada pemukiman (mungkin perkampungan) di atas sana. Gak kebayang kalau ada warga yang punya urusan gawat darurat (misalnya harus ke rumah sakit segera). Dia harus menerobos jalan yang hancur lebur. Kenyataan macam ini kemungkinan besar berandil pada sikap tangguh warga sana. Dan itu dengan jelas terlihat. Beberapa kali kami berpapasan dengan warga (dan anak SMA) menggilas jalanan nan brutal, meninggalkanku yang terheran-heran sekaligus tersalut-salut. Aku jadi merasa segan mengeluh. Warga desa di sana sudah lama mengalaminya hingga “penderitaan” tidak lagi terasa bagai penderitaan.

Sekedar buat perbandingan, jalan ke Embung Batara Sriten lebih parah daripada ke Embung Nglanggeran. Ketika mengunjungi Embung Nglanggeran di tahun 2014 jalan berbatu-tanah masih lebih lebar dan terasa lebih aman karena kamu cukup berjarak dari tepian jurang. Kira-kira setaralah dengan jalan ke Pantai Timang Gunung Kidul. Aku sendiri ragu bila dalam dua-tiga tahun sudah ada langkah berarti untuk mengubahnya jadi jalan aspal *agak sok tahu sih emang*. Paling pol corblok, itu pun gak akan mencakup seluruhnya dari pucuk bukit hingga bawah.
musim kemarau
Di tepian embung (foto oleh Yant)
Sampai di tujuan badan ini begitu letih, ngilu-ngilu, dan tenaga terkuras. Padahal aku nyetir motor sendirian, gak berboncengan. Apakah semua itu terbayar? Aku berani bilang hell yeash! Pemandangan sekeliling dari embung dan puncak tertinggi Gunung Kidul amat (aku tidak punya kata-kata lain untuk mengungkapnya)...indah...amazing...spektakuler, biarpun agak mendung. Tapi jika boleh memilih aku akan memilih untuk tidak melewati jalan yang gak manusiawi barusan. Kalau punya, datanglah ke embung pakai helikopter saja. Tempat parkirnya tinggal milih, wong cukup sepi.

danau
Embung menghijau
puncak gunung
Pemandangan dari atas, Rawa Jombor Klaten pun terlihat (foto oleh Yant)
Embung Batara Sriten tidak seluas Embung Nglanggeran. Namun itu hanya kesan sekilas karena bentuknya yang agak segitiga. Barangkali dari segi angka luasnya nyaris mendekati. Di rumah aku mengukur panjang dan lebar kedua embung via Google Earth. Panjang Embung Batara Sriten mencapai seratusan meter, sedangkan Embung Nglanggeran sisi terpanjangnya ‘hanya’ sekitar 80 meter. But, size doesn’t matter, right? Karena yang dijual dari kawasan Batara Sriten adalah pemandangan puncak tertinggi Gunung Kidul: Puncak Magir yang... entah kenapa kok ada makamnya dan entah makam siapa pula itu. Jika boleh kukomentari *tentu boleh kan ini blog-ku* itu makam bad ass banget! Lebih mewah, sejuk, dan syahdu, daripada San Sicko Hills di Karawang. Bayangin, dia sendirian menikmati panorama seajaib ini siang-malam.
embung batara sriten
Makam orang hebat
Blog-blog tetangga mengembel-embeli lokasi ini dengan “embung di atas awan” atau semacam itu sehingga awan-awan akan tampak menggantung dari sana. Hm..., jangan percaya! Awan punya ketinggian setidaknya 2000 meter dari tanah. Sementara Puncak Magir hanya 859 meter. Kalau yang dimaksud adalah awan-awan terasa lebih dekatpun sebenarnya tidak juga. Tapi tidak perlu buru-buru kecewa sebab pemandangan dari puncak tertinggi mencapai 360°. Itupun kalau kamu berani menapaki pucuk bukit yang lumayan curam di tengah cuaca suram (Ingat! Aku datang pas awal musim hujan). Tiada pembatas antara kaki dengan jurang jadi lihat-lihat kemana kamu melangkah. Waktu aku mencoba berdiri di tugu mungil saja tubuh ini bergetar, takut bila sampai jatuh bergulung-gulung atau diterbangkan angin. Iya, angin berembus kencang, tambahan lagi badanku kurus.

puncak tertinggi gunung kidul
Tugu di puncak (foto oleh Yant)
embung batara sriten
Pemandangan dari puncak (foto oleh Yant)
Petuah yang bisa kusumbangkan adalah: datanglah ke embung pada akhir musim hujan-jelang musim kemarau. Karena dijamin saat itu adalah saat yang paling tepat. Embungnya pasti akan lebih segar karena penuh terisi air tidak seperti saat kami yang mendatanginya di awal musim hujan, air di embung kelihatan kurang penuh. Musim hujan bukan hanya memperburuk keadaan jalan, mengubah tanah menjadi lumpur kemerahan yang sangat mencintai ban kendaraan, saking lekatnya. Selain itu di awal musim kemarau tetumbuhan juga pasti akan lebih hijau dan pandangan akan bebas dari mendung.

embung batara sriten
Pucuk bukit tertinggi di Gunung Kidul di awal musim hujan: mendung, rumput kering, dan sampah bertebaran
Gunakan motor non matik. Pilihan motor bukan hanya mempermudah saat menanjak tapi juga menurun. Semula aku membayangkan betapa tidak mungkin naik ke sana pakai mobil dan betapa kerasnya kerja seorang sopir mengendali mobil, sehingga membuat mobil tampak bagai kendaraan opsi terakhir, nyatanya toh ada mobil jenis Carry selamat mendarat di puncak. Tapi seprima-primanya pilihan kendaraan dan sejago-jagonya sopir, masih lebih baik jika menanti hingga jalannya sudah beres (dua-tiga tahun lagi?).

Sering orang (sok) bijak mengatakan bahwa hal paling indah bukanlah sampai di tujuan, melainkan perjalanannya itu sendiri, atau kira-kira seperti itu. Menurutku orang ini belum pernah merasakan nyetir sepeda motor ke Embung Batara Sriten atau minimal Pantai Timang, so fak yu!


embung batara sriten
This is a nice place to scream "Fak Yu!" (foto oleh Yant)
(JinoJiwan)

Dari Kiskendo ke Seplawan

Awal November 2015 kemarau di Jogja sedang memasuki masa akhir. Rencana dolan ke pantai terpaksa ditunda hingga suasana lebih adem ayem. Tujuan dialihkan ke goa-goa di sisi barat Jogja, dari Kulonprogo hingga Purworejo, dari Kiskendo ke Seplawan. Kali-kali aja dengan menyambanginya aku akan mendapat kesejukan  dalam rupa wangit di tengah temaramnya goa.

Goa Kiskendo dan Seplawan cukup gampang dicapai melalui Godean dari arah Jogja. Tinggal lurus terus mengikuti jalan Godean hingga mentok perempatan. Dari perempatan ambil terus jalan lurus menuju pegunungan Menoreh lalu ikuti petunjuk jalan dan... intuisi. Iya serius, intuisi. Kamu perlu intuisi soalnya mau nanya orang juga gak bisa wong gak banyak orang lalu lalang sepanjang jalan apalagi di hari Minggu. Dulu sewaktu aku mencoba mencari jalan ke kebun teh Nglinggo saja sempat nyasar. Tapi itu lebih akibat kepedean sok tahu jalan (dan) juga karena gak banyak orang untuk ditanyai arah *tetap nyalahin orang lain*. Tidak mengapalah, nyasar adalah bagian dari kehidupan. Di situlah keseruannya!

Meskipun rutenya gampang dan jalannya telah diaspal namun melewatinya tetap saja tidak mudah karena jalurnya bisa dibilang sempit, penuh kelokan tajam, dan tanjakan yang bisa bikin motormu ngeden. Sangat tidak disarankan memakai motor matik berboncengan terutama bagi pengendara yang kurang berpengalaman. Jika di musim kemarau musuhnya adalah debu, kerikil, dan pasir kering di jalan yang kadang dapat merepotkan apalagi kalau ban motormu aus, di musim hujan aku yakin tingkat kelicinan bakal meningkat sehingga kamu perlu waspada. Tangan dan kaki harus tegar menguasai stang dan rem.

Selama perjalanan kamu mungkin bakal sering berhenti seperti yang aku lakukan. Apalagi di musim kemarau Pegunungan Menoreh yang menggersang beralih jadi kuning-coklat. Sungguh sayang jika dilewatkan tanpa difoto.

kemarau
Kemarau di Menoreh (mungkin mengilhami Api di Bukit Menoreh)
Menurut seorang kawan yang pernah berkunjung ke Goa Kiskendo sebelumnya. Pada hari biasa lampu di dalam goa tidak dinyalakan sehingga kalau pengunjung mau masuk goa perlu membawa senter sendiri (itupun jika berani), atau menggunakan jasa pemandu, tentu dengan biaya ekstra (itupun si pemandu juga tidak selalu siap sedia). Maka akan sangat bijak datang ke sana pada akhir pekan. Bukan apa-apa sih, selain karena lampu di dalam goa dinyalakan, alasan lain adalah supaya ada teman sesama pengunjung. Kecuali jika kamu memang berniat mau menyendiri untuk bertapa dalam goa. Aku tidak bercanda ngomongin masalah bertapa ini. Sebab goa ini memang awalnya kerap dipakai bertapa. Hampir setiap sudut dan ujung percabangan goa adalah lokasi untuk semedi. Pengelola bahkan melengkapi setiap titik pertapaan dengan papan nama, karena rupanya setiap titik tersebut punya fungsi masing-masing (kurasa).
Goa Kiskendo, ruang bagian tengah
Kulon Progo
Titik pertapaan dengan nama-namanya
Secara keseluruhan goa ini cukup gelap walaupun sudah ada penerangan. Penyebabnya adalah lampu hanya segelintir dan peletakannya tidak strategis. Lampunya pun hanya lampu biasa yang sering dipakai menerangi rumah, bukan model lampu sorot warna-warni seperti di Jatijajar atau Goa Gong. Kami (aku dan kawan) masuk cuma bermodal sebuah kamera D90 yang sesekali disorotkan menjadi semacam senter. Belum terlalu jauh dari mulut goa, tangga yang menuntun ke dalam perut goa sama sekali tidak terlihat. Kami terpaksa harus meraba-raba pegangan dan anak tangga, maju perlahan-lahan.

Salah satu ujung Goa Kiskendo
Beberapa lampu di ujung goa dibiarkan mati dan belum diganti sehingga gelap total. Mungkin memang disengaja untuk menunjukkan bahwa itu adalah ujung goa, akhir dari langkah dan peringatan agar kami balik badan. Walaupun sebenarnya kamu akan bisa melihat bahwa goa belum berhenti di situ dan masih ada lorong yang mengharuskan orang merangkak jika mau lanjut. Rendahnya langit-langit goa membuat udara bergerak kurang leluasa, sehingga berada di dalamnya terasa agak gerah dan sumpek. Setelah mentok di setiap ujung goa kami keluar meninggalkan Kiskendo menuju Seplawan.

Dari Goa Kiskendo jarak Goa Seplawan masih 8 km. Jarak yang tidak seberapa jauh namun ternyata Seplawan sudah berada di wilayah Purworejo, Jawa Tengah. Jalannya lebih sempit dari arah Godean-Kiskendo. Uniknya jalan menuju ke Goa Seplawan mengarah langsung ke gerbangnya (dengan kata lain ini adalah “jalan buntu”). Tidak perlu khawatir tersesat karena sudah ada papan petunjuk ke arah Seplawan di setiap persimpangan jalan.

Hutan pinus menuju ke Seplawan
Jika ingin berkunjung ke Goa Seplawan sebaiknya tidak di musim hujan. Setidaknya itu yang tertulis pada papan peringatan di luar bahwa di musim hujan air bisa meluap dan kalau sampai meluap pengunjung diminta mencari tempat yang lebih tinggi lalu menunggu bantuan datang. Semula aku tidak mengerti mengapa mesti ada peringatan semacam ini. Aku sama sekali tidak mendapat gambaran seperti apa di dalam goa (dan memang sengaja tidak mencari tahu). Ternyata yang dimaksud air bisa meluap adalah karena goa ini bukan jenis goa yang menyediakan jembatan pun jalur pejalan dari corblok. Bagian dalam goa masih asli dan sepertinya memang sengaja dibiarkan seperti itu. Goa Seplawan adalah sungai bawah tanah dan pengunjung ditawari pengalaman menyusurinya bagai seorang petualang di acara wisata di tivi.

Sungai dalam Goa Seplawan
Bagiku yang masih awam soal per-goaan, Goa Seplawan bisa disebut unik. Batu-batunya coklat kehitaman, bukannya putih. Stalaktit dan stalakmit tidak bertebaran. Malahan goa ini lebih layak disejajarkan dengan kata “terowongan.” Sebuah terowongan yang alamiah tentunya. Di banyak bagian atap goa bisa setinggi bangunan tiga-lima lantai. Aku jadi membayangkan kalau bisa membangun rumah dalam goa akan kubuat macam menara. Dengan begitu rumah itu akan menjadi salah satu rumah terkeren sedunia: menara dalam goa.

Lorong/terowongan Goa Seplawan
Tips susur Goa Seplawan adalah pakailah sandal/sepatu yang memang dirancang untuk susur goa: kedap air dan anti selip. Lantai goa bisa sangat licin akibat endapan lumpur dan karenanya pengunjung disarankan berjalan justru di sungainya, seperti yang dilakukan kebanyakan pengunjung hari itu. Keberadaan air di sungai sekaligus membantu mengurangi selip di kaki (terutama buat yang mengarunginya sambil telanjang kaki). Sayangnya dasar sungai adalah batuan yang lumayan tidak nyaman di telapak kaki (atau boleh dibilang tajam). Makanya itu kamu butuh alas kaki yang mumpuni.

Di musim kemarau air dalam goa cukup dangkal. Air masih di bawah lutut rata-rata orang dewasa. Aku tidak yakin apakah ini berkah atau bikin susah. Sebab andai airnya lebih tinggi sedikit pastinya ia tidak akan sekeruh seperti ketika aku berkunjung ke sana. Kurasa penyebabnya adalah kaki-kaki pengunjung yang tiada henti mengaduk lumpur dari dasar sungai lalu ikut membawanya ke tepian.

Dan, oh hindari pakai rok. Bukan apa-apa sih, kesenengen aja cowok-cowok kalau liat rok diangkat tinggi-tinggi. Jangan lupakan pula senter! Goa ini memang lebih terang dibandingkan Kiskendo namun tetap saja gelap. Lagi pula lebih asyik jika bawa senter sendiri kamu akan bisa memasuki lorong tersembunyi tanpa pemandu. Mungkin malah di lorong tersembunyi inilah hadir wangsit tersembunyi.

Batas wisata: silakan lanjut jika mau bunuh diri.
Foto oleh Yant.
Ketikan oleh JinoJiwan

Jalan di Pawai FKY 27

Sore itu matahari berpendar hangat. Kadang awan menyela mencipta bayang-bayang teduh. Angin berembus sejuk menambah santai suasana. Pawai eDan-eDanan FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) ke 27 akhirnya dilepas jam setengah empat. Itulah yang dinanti-nanti. Warga tampak antusias meruyak tak karuan menyaksikan. Cukup ramai meski tidak terlalu juga. Tahu dari mana bila mereka antusias? Dari tingkah mereka yang berlintasan, berpose duduk berbaring berfoto dengan jiwa riang di tengah jalan Kaliurang selatan Selokan Mataram di kisaran kampus UGM. Jarangnya jalan aspal satu ini bersahabat dengan para pejalan mereka nikmati betul. Sungguh keramaian dalam ‘kelengangan’ yang tak biasa.

Jalanan lengang
Jalur arak-arakannya tidak panjang. Kurasa hanya tiga kali lapangan sepak bola. Jalur ini bagiku adalah jalur terbaik nan ideal untuk menggelar pawai (kecuali trotoarnya yang sudah diinvasi pedagang kaki lima) dibanding Jl. Malioboro atau jalan yang membentang dari UNY ke Bundaran UGM, atau Jl. Ahmad Dahlan ke Keraton yang selalu (terlalu) padat kendaraan dan manusia. Barangkali ini juga karena ajang Pawai FKY tidak seakbar Jogja Java Karnival yang sudah berapa tahun tidak dihelat. Yang jelas lebih sedikit enaklah disawang dibandingkan Festival Museum atau Pawai Pisowanan. Hanya sayangnya kendaraan pengiring di pawai kali ini tidak berhias alias apa adanya belaka. Aku tidak terlampau memperhatikan kontingen dari mana saja yang tampil. 

prajurit keraton

Ada rombongan orang berpenampilan layaknya “badut” atau mungkin berdandan ala punakawan (aku tidak mengerti). Ada prajurit keraton yang sudah embah-embah. Ada jathilan nan atraktif ada pula jathilan yang sudah loyo meski disorot oleh kamera para penonton. Ada pula marching band yang memainkan lagu-lagu kontemporer, cukup menghibur namun sepertinya butuh nasehat Ivan Gunawan soal kostum. Yang paling kuamati hanya wajah-wajah manis rombongan penari yang datang bergelombang, meliuk luwes lagi genit. Dalam hati aku berharap akulah yang digeniti para penari centil ini. Sampai kemudian aku sadar umur, mereka itu sepertinya anak-anak seusia SMA atau anak kuliahan yang didandani sampai kelihatan dewasa.

Genitnya...
atraktif dan kemayu
Rombongan penari yang satu ini cuma pakai kaus kaki

Ah, tanpa dirasa sudah nyaris jam 5 sore tapi pawai belum kunjung usai. Tampaknya iring-iringan masih panjang, sepanjang jarak antar peserta pawai yang mencapai puluhan meter. Padahal diri ini belum sempat ngashar. Tiba-tiba pula kepikiran tas yang kutitipkan ke Manajer KBM di kampus sana. Ya sudah, berbaliklah aku melangkah cepat di jalan-yang-bukan-trotoar. Kapan lagi bisa jalan bebas di jalan raya. Ya, kapan lagi? Tanpa sengaja aku melihat ke atas, burung-burung penghuni pepohonan UGM beterbangan kian kemari. Mungkin mereka penasaran dengan keramaian di bawah mereka. “Yah, manusia segitu gumunnya sama jalan sepi. Kami dong lewat langit yang lapang tiap hari. Kasihaan...”

Ironi Kupon Undian Beasiswa

Meraih beasiswa adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi penerimanya. Kian istimewa di kala persyaratan untuk itu tidak makin mudah dan prosesnya memakan waktu yang tidak singkat. Mulai dari standar nilai akademik yang tinggi, sertifikat serta surat-surat rekomendasi, pemrioritasan tingkat ekonomi atau asal daerah/negara tertentu, hingga wawancara langsung dengan pihak pemberi dana. Jadilah menerima beasiswa terasa bagai prestasi apalagi jika melibatkan angka-angka: mendapat lebih dari satu beasiswa; nominalnya terbilang besar; atau bisa mengalahkan sekian jumlah pelamar yang lantas bisa/akan dicantumkan dalam Daftar Riwayat Hidup ketika melamar pekerjaan atau pada profil penulis jika yang bersangkutan menulis buku. Berbanding terbalik dengan keadaan tersebut, swalayan Mediko di daerah Patangpuluhan Yogyakarta menawarkan kemudahan bagi siapa saja untuk meraih “beasiswa.” Syaratnya mudah, cukup belanja senilai Rp. 50.ooo,- dan kelipatannya maka seorang berhak mendapat kupon undian beasiswa. Hadiah yang ditawarkan hanya 1,5 juta Rupiah dibagi 6 pemenang, bukan jumlah menggiurkan memang apalagi jika disandingkan beasiswa lain. Namun yang namanya beasiswa tetap saja beasiswa..., atau tidak lagi?

Rp. 50 ribu untuk Rp. 250 ribu

Sulit untuk melacak asal usul beasiswa, diduga ia sama tua dengan munculnya pendidikan terinstitusi itu sendiri. Menurut dictionary.reference.com beasiswa atau scholarship dalam pengertian biaya untuk sekolah/kuliah digunakan pertama kali pada 1580. Berbeda dengan dana pinjaman yang harus dikembalikan kepada pemberinya, beasiswa adalah dana cuma-cuma yang dijadikan sebagai investasi dari pihak pemberi dengan timbal balik berupa prestasi dari penerima. Lewat pola semacam ini, beasiswa tidak pernah bebas nilai dan tidak bersih dari kepentingan. Apalagi jika beasiswa menyaru kupon undian yang mensyaratkan belanja dengan nominal tertentu. Maka dipastikan berlimpahnya relasi tanda terhadap makna yang ditimbulkan.

Kesederhanaan melingkupi seluruh tampilan kupon undian. Mulai dari kertasnya yang tipis dan hanya berukuran 9 x 4 cm hingga penggunaan teknik fotokopi menunjukkan biaya yang ditekan untuk membuatnya. Terdapat lima rangkaian informasi verbal di lembarnya yang mungil. Pertama, jenis kupon diikuti periode bertuliskan: kupon belanja Periode April-Juli 2015. Kedua, nama program undian dan nilai hadiah: mediko Back To School, DAPATKAN HADIAH BEA SISWA TOTAL HADIAH Rp. 1.500.000 (@Rp.250,00 Untuk 6 pemenang). Ketiga, data diri pelanggan dalam kupon: Nama, Alamat, No. id. Keempat, syarat dan ketentuan: hanya dengan belanja Rp. 50.000, berhak mendapat 1 kupon dan berlakukelipatannya. Dan yang terakhir, cap/stempel Mediko Patangpuluhan.

Kupon ini uniknya tanpa menyertakan sama sekali nomor seri, tidak ada pula sobekan bukti keabsahan yang umumnya dipegang pihak pengundi. Ketiadaannya digantikan oleh stempel toko yang anehnya tidak begitu kentara. Hal ini mengindikasi bagaimana pihak toko percaya kepada pelanggan tidak akan memalsukan kupon. Ada keyakinan pelanggan adalah pelanggan yang secara rutin sering berbelanja dan terus mengikuti program undian lain di Mediko. Nilai uang hadiah yang kecil dapat pula berdampak pada tidak perlunya mekanisme undian rumit karena itulah nomor seri tidak diperlukan.

Penyertaan data diri pelanggan yang terbatas pada nama, alamat, dan no. id (identitas) tanpa ada baris isian nomor ponsel menunjukkan pihak Mediko tidak mau repot menghubungi pemenang dan tidak ada cara lain bagi pelanggan untuk tahu apakah dia menang atau tidak selain datang sendiri ke Mediko setelah undian dilakukan di akhir periode Juli nanti. Dengan cara memancing pelanggan datang berarti ‘memaksa’ mereka untuk berbelanja kembali walau sekadarnya saja. Di era konsumerisme seperti sekarang sulit membayangkan bila seorang datang ke toko hanya untuk mengecek nama pemenang.
Kekurangcermatan bertebaran pada penampakan kupon. Misalnya pada tulisan “kupon belanja” sebagai judul, bukannya menggunakan “kupon undian,” sebuah istilah yang jelas lebih tepat karena kupon ini diundi bukan untuk belanja langsung. Bisa jadi pihak Mediko hanya tinggal mengubah template kupon yang dimiliki. Kata “Bea Siswa” pun ditulis dengan spasi pemisah antara bea dengan siswa. Keterangan bilangan hadiah tertulis @Rp.250.00, kurang satu angka “0” sehingga terbaca dua ratus lima puluh, bukan dua ratus limapuluh ribu sebagaimana dimaksud oleh pembuatnya. Kekurangcermatan ini dapat dibaca sebagai murni kesalahan ketik yang diabaikan/luput dari perhatian atau justru kaidah bahasa sudah tidak teramat penting lagi buat pembuat program undian, terlebih bagi pelanggan yang hanya ingin belanja demi beroleh kesempatan menang hadiah.

Di tengah persaingan menghadapi minimarket bermodal lebih besar seperti, Indomaret dan Alfamart,  Mediko meminjam istilah beasiswa untuk memoles hadiah undiannya, undian yang tujuannya tidak lebih dari memikat orang untuk belanja. Beasiswa jatuh menjadi label yang disematkan pada uang hadiah undian. Serupa dengan yang dilakukan acara-acara seminar ketika memakai kata “investasi” untuk mengganti biaya keikutsertaan atau mengganti istilah hadiah uang tunai dari bank dengan “tabungan pendidikan.” Dengan demikian jika kontek waktu berganti menjelang Idul Fitri maka besar kemungkinan undian akan memakai istilah “THR” bukan beasiswa back to school. Nyatanya swalayan Mediko bukan satu-satunya yang memanfaatkan istilah beasiswa ini.

Belakangan gairah mengincar beasiswa turut dipicu dua novel berseri semi-memoar berkisah mengenai kesuksesan mengejar pendidikan tinggi, Laskar Pelangi (Andrea Hirata) dan Negeri 5 Menara (Ahmad Fuadi) di mana tokoh-tokoh dalam novel diceritakan mendapat beasiswa untuk meneruskan pendidikan ke luar negeri. Ahmad Fuadi, setelah novelnya laris juga ikut-ikutan menulis buku Beasiswa 5 Benua yang berisi tips mendapat beasiswa. Dari terbitnya buku-buku ini dapat dibaca bahwa beasiswa yang menjanjikan kenikmatan dunia akademis telah menjadi komoditas. Beasiswa dengan tingkat keistimewaannya, terutama kalau menyangkut ke negara luar jadi pantas diperjuangkan oleh siapa saja. Itu sebabnya bila seorang ingin mendapat beasiswa, maka dia harus membeli buku-buku tips cara memperolehnya. Tidak cukup membeli tapi orang tersebut harus membacanya, mencari informasi ke sana ke mari, dan mencari surat-surat yang diperlukan. Bayangkan, buku berjudul 45 Negara Pemberi Beasiswa saja sudah seharga Rp. 45 ribu. Bagi kalangan menengah ke bawah harga itu nyaris setara kupon undian beasiswa di Mediko. Hanya dengan 50 ribu kalangan menengah ke bawah punya kesempatan meraih “beasiswa,” dan inilah yang ditawarkan oleh Mediko.

Dari sekian banyak istilah yang bisa dipakai, beasiswa yang dirangkai dengan back to school terbilang kerap dipakai. Back to school jelas merujuk pada latar waktu tertentu, yaitu berbarengan dengan kenaikan kelas dan pembukaan tahun ajaran baru. Uang hadiah undian atau hadiah dari pihak manapun seolah menemukan pembenarannya secara fungsional (nilai guna): asumsinya uang hadiah akan dipakai membantu membiayai tahun ajaran baru di sekolah. Sementara beasiswa lekat kaitannya dengan dunia akademis. Tak jarang beasiswa dijadikan pelengkap yang harus ada bagi setiap kampus. Di sini terlihat betapa biaya pendidikan masih menjadi kendala buat mahasiswa dan atau keluarganya. Hingga tidak mengherankan bila pengeksplotasian “beasiswa” lumrah di manapun. Kampus-kampus negeri terlebih swasta tak ingin kalah berlomba menawarkan beasiswa melalui iklannya sebagai magnet menarik calon mahasiswa agar mendaftarkan diri terlepas dari motifnya yang berbau komersialisasi pendidikan. Jadi tidak ada alasan mengapa minimarket haram melakukannya.

Rasanya cukup aman mengatakan bila hal demikian hanya muncul di negara yang pendidikannya ruwet di mana biayanya dirasa membebani rumah tangga. Jika kupon ukuran kecil dan kertas fotokopian tidak cukup menampakkan begitu tercampakkannya derajat beasiswa hingga dia semata dijadikan nilai tukar untuk belanja keperluan rumah tangga kalangan menengah ke bawah, bagaimana dengan peminjaman istilah beasiswa itu? Adakah ini sebuah degradasi bagi terhormatnya/bergengsinya konstruksi beasiswa selama ini?

Kiranya praktik pemakaian istilah “beasiswa” macam ini adalah suatu bentuk kitsch. Kitsch mirip parodi, sebuah representasi palsu yang memperalat stylemes untuk kepentingan adaptasi/simulasi dalam memassakan seni tinggi melalui produksi massal lewat proses demitoisasi nilai seni tinggi (Piliang, 2012:188). Nilai tanda dari secuil kata “bea(spasi)siswa” seolah mengejek rumitnya urusan meraih beasiswa digantikan oleh: berkeliling di antara rak swalayan, memilih-milih barang, membayar di kasir, mendapat kupon lalu mengisinya, dan memasukkannya ke kotak undian. Syukur kalau dapat, tidak pun tak mengapa toh sudah dapat belanjaan untuk dinikmati.
Di akhir Juli, andai pun sudah menang tidak ada kepastian uang hadiah akan benar-benar dipakai oleh pemenang untuk membiayai pendidikan anak. Siapa yang menjamin kalau pemenang sudah punya anak atau anaknya masih bersekolah. Kalau pun iya, bisa saja uang tunai itu dibelanjakan lagi di Mediko. Terlebih di saat bersamaan Mediko telah menyediakan buku-buku tulis dan alat tulis sebagai bagian dari Back To School yang diperuntukkan kepada siapa lagi jika bukan bagi pelanggan yang anaknya akan memasuki tahun ajaran baru.

(Restu Ismoyo Aji/Jino Jiwan)

http://dictionary.reference.com/browse/scholarship (diakses 20 Mei 2015).

Piliang, Y.A. 2012. Semiotika dan Hipersemiotika, Gaya, Kode, dan Matinya Makna. Bandung: Matahari.

Blunder Wall's Ice Cream Day

Pagi itu matahari belum beranjak terlalu naik, acara di Alun-alun Selatan Yogyakarta (Alkid) pun baru saja dimulai, tapi pengunjung sudah pada bubar. Bubarnya tidak mudah, jalan seputaran Alkid macet padat bin berat. Tampaknya mereka kecewa karena pesaing untuk mendapat sebungkus es krim terlampau berlimpah ruah. Iya, Minggu pagi itu ada ajang nasional serentak di kota-kota tertentu se-Indonesia, sebuah hajatan yang layak dihujat: Wall’s Ice Cream Day atau harus disebut: Wall’s Ice Crap Day.

Entah media mana yang dimaksud oleh kedua pembawa acara, kata mereka ada 40-an media yang meliput acara Wall’s Ice Cream Day tanggal 11 Mei 2014 itu. Klaim semacam ini barangkali dibentuk dan diada-adakan saja biar seolah hebat. Karena pada kenyataannya acara yang berlangsung di Yogyakarta berlangsung seolah tanpa persiapan matang. Tidak ada informasi sebelumnya mengenai “kupon penukaran es krim,” tidak ada informasi jelas mengenai kapan es krim dibagikan, tidak ada kantong parkir yang memadai di lokasi, tidak ada cukup tenda untuk berteduh dari garangnya sinar matahari Jogja.

Hingga muncul dugaan di benak bahwa ajang ini ilegal (atau semi-ilegal). Sebab tidak terlihat sama sekali pihak polisi untuk urusan pengamanan atau paling tidak untuk mengatur jalan yang super macet. Bisa dibayangkan, jika dijanjikan 12.500 batang es krim gratis (katanya untuk pengunjung pertama), dan jika satu orang hanya boleh mendapat satu batang es krim artinya akan ada 12.500 orang memenuhi lapangan. Itu bukanlah jumlah yang sedikit. Pada kenyataannya jumlah pengunjung membludak lebih dari itu.

Aku yakin banyak yang merasa tertipu. Dan inilah akibatnya.

Bangga karena bisa bikin macet
Pengunjung yang memilih untuk beli es krim di minimarket dekat rumah
Diri ini sudah niat datang karena penasaran, tanpa tahu ada iming-iming 12.500 es krim gratis, itu juga dari iklan di tv. Sebuah acara yang inovatif kalau boleh dibilang begitu. Mendekatkan/mengedukasi (manfaat) es krim ke masyarakat atau semacam itulah, sekalian peluncuran ikon/logo baru yang tidak penting. Memang cukup menggiurkan kalau yang dibagikan adalah es krim yang paling mahal itu (tahu kan merek apa?). Jika pun tidak, bayangkan andai satu batang nilai es krim yang dibagikan (gratis) hanya senilai Rp. 3000,- saja, dikalikan 12.500. Itu jelas uang yang banyak. Sayang nominal itu gak sepadan dengan kekonyolan sosial (dan waktu) yang diderita pengunjung dan kota tempat helatan berlangsung (juga pada Wall’s sendiri). Tengok apa yang terjadi di Surabaya, di mana Bu Walikota sempat geram dibuatnya. Tanaman di taman kota sampai hancur terinjak-injak hanya demi sebatang es krim gratis.

Twitter anehnya dipenuhi kicauan para penjilat yang bahkan mungkin tidak hadir langsung di lapangan untuk melihat kenyataan. Ini yang kujumpai ketika malamnya aku mengecek #WallsIceCreamDay di Twitter. Rupanya sama seperti medan politik yang membutuhkan para simpatisan (maksudnya pengiklan), acara ini juga dipenuhi para pengiklan, yaitu orang yang memang dapat duit dari menyiarkan kicauan bernada positif alias memuja-muji sesuatu ke para pengikut.

Para mupengers es krim (gratis)
Mbaknya sedang memberi penjelasan tata cara dapat es krim gratis untuk ke-100 kali
"Wah, ada truk es terbuka. Serbu!"
Begitu aku sudah di atas motor mengitari Alkid siap melaju pulang dan bersumpah untuk mengetik sebuah tulisan tentang ajang ra urus ini, sirine itu berbunyi. Sirine pertanda penukaran kupon gak jelas dengan es krim gak jelas (mungkin bisa juga tanpa kupon, siapa yang tahu?). Lalu pemandangan yang sungguh tidak layak itu meledak di hadapan. Lautan manusia dengan tergopoh berlarian menyerbu tenda-tenda dan truk-truk pengangkut es krim hanya demi es krim harga 3000-an atau paling pol seharga 7000-an. Tak hentinya aku ditaburi rasa takjub dengan mereka yang rela berpanas dan bersikutan demi sebatang es krim gratis. Kemudian aku sadar bahwa apapun yang dibalut kata “GRATIS” di negeri ini amat kuat menyihir orang untuk rela melakukan apapun, termasuk diminta untuk manut memakai kaos warna merah. Jadi, panitia dan EO-nya yang terlampau meremehkan arti kata “GRATIS” boleh makan mentah-mentah tuh niatan untuk mencetak rekor Muri. Sungguh sebuah cakaran besar di wajah Wall’s dan Unilever.

Gua Selarong yang Kehilangan Auranya

Diponegoro yang putih naik kuda hitam
Siang nan terik dan langit cerah sewaktu kaki memasuki gerbang salah satu situs sejarah penting di Yogyakarta. Panasnya matahari daerah istimewa ini langsung disejukkan oleh pohon-pohon rindang di area gua Selarong. Seketika itu juga ingatan pelajaran SD, IPS Sejarah tentang perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda bermain di dalam benak. Dahulu aku membayangkan gua Selarong pastilah tempat yang hebat. Tersembunyi, di area hutan lebat, guanya besar, dan ada tempat terbuka untuk rapat militer. Tapi memang yang namanya membayangkan itu kerap jauh lebih hebat daripada kenyataan. Yah, harus kubilang gua Selarong tidak sehebat itu. Setidaknya kesan itulah yang terekam dari tampilan luarnya.

Air terjun, penyelamat gua Selarong
Objek (wisata?) gua Selarong, atau lebih pas disebut “situs sejarah” gua Selarong letaknya tidak jauh dari kota Yogyakarta. Masuk ke wilayah kabupaten Bantul, gua ini mudah dicapai dengan kendaraan pribadi. Tinggal menyusuri jalan dan perhatikan penunjuk arah. Maka gerbangnya sudah bisa terlihat dari tepi jalan aspal. Area situs gua Selarong yang nyempil di di antara rumah dan ladang penduduk sekitar ini bolehlah dibilang luas. Ada tambahan objek unik berupa air terjun, lumayan buat foto-foto. Setidaknya sekarang pengunjung jadi tahu bahwa pemilik nama kecil RM. Ontowiryo tidak akan sulit memperoleh pasokan air, karena ada dua aliran sungai mengapit di kanan kiri gua.

Gua Selarong terdiri dari dua buah ‘gua’, satu diberi nama Gua Kakung, letaknya di sisi barat, satunya lagi dinamakan Gua Putri, hanya beberapa meter di sebelah timur Gua Kakung. Kenapa kusebut ‘gua’ (dengan tanda kutip)? Tidak perlu membayangkan gua ini sebesar gua Gong atau Tabuhan di Pacitan. Karena menurutku sebuah lubang yang dalamnya hanya kurang dari dua meter dengan tinggi tidak sampai dua meter menjorok di bawah bukit karang tidaklah tepat bila didefinisikan sebagai gua. Lebih seperti bolongan atau lubang dangkal yang agaknya dipahat. Aku tidak yakin apa gua ini dahulu sudah tampak seperti itu.

Gua kakung dan Gua Putri
Sebagaimana keterangan pada sebuah papan kayu yang ‘dilukis’ secara manual di luar gua. Gua Kakung yang lebih kecil dulunya ditempati oleh Pangeran Diponegoro, sedangkan Gua Putri yang lebih lapang ditempati oleh selir beliau RAy. Retnoningsih semasa Perang Jawa berkecamuk. Jadi kedua gua ini berfungsi bagai kamar bagi keduanya. Memang sih konon katanya mulut gua merupakan pintu masuk untuk menembus dimensi lain di perut bukit (serem juga ya?). Itu sebabnya pasukan Belanda tidak kunjung bisa menemukan markas putra Sultan HB III ini, mereka hanya berputar-putar saja di hutan tanpa hasil. Belum lagi ulat-ulat yang merayap-rayap menggerombol di berbagai sudut, terutama di mulut gua, yang barangkali saja ikut berkontribusi menipu Belanda, macam kisah Nabi Muhammad yang sembunyi dalam gua Tsur bersarang laba-laba dari kejaran orang-orang Quraisy. Sayang romantisme berbau mistis ini gugur akibat salah polesan.

Ada Taman Kanak-Kanak di sini? 
Iya, salah polesan. Ada yang salah dengan tempat ini. Area situs sejarah ini kacau konsepnya. Jujur aku tidak mengerti mengapa tempat yang punya nilai sejarah tinggi seperti ini pakai menyediakan tempat bermain anak-anak segala, mulai dari ayunan, jungkat jungkit, hingga tangga melengkung (gak tahu namanya apa). Apalagi letak area bermain ini begitu dekat dengan kedua gua. Apa tujuannya coba? Supaya kesan angker tidak nampak lagi atau bagaimana? Yang ada malah merusak suasana hati, istilahnya killing the vibe. Memangnya untuk siapa wisata situs sejarah ini diperuntukkan? Untuk anak-anak TK dan SD, karena ada materinya di mata pelajaran? Apa dipikir anak-anak itu akan menikmati bermain di lokasi sekeramat ini? Atau yang disasar adalah keluarga yang punya anak kecil? Kalau iya, ngapain keluarga yang punya anak kecil mau berkunjung ke sini? Yakin deh, mereka lebih baik pilih main ke mall atau Taman Pintar. Anak tangga semen dan pagar besi memang memudahkan pengunjung namun semuanya terkesan modern sehingga kesan kunonya lenyap. Sungguh beda rasanya dengan makam raja-raja di Imogiri.

Tangga curam ke gua Selarong
Alangkah lebih indah jika kealamiannya dijaga dengan meminimalkan beton-semen serta segala hal yang berbau modern, dsb. Semestinya nilai sejarah bisa dijual tapi bukan dengan mengubahnya jadi arena bermain anak TK. Meski begitu, aku masih bisa mengimajinasikan bahwa dulunya gua Selarong pastilah tampak menyeramkan, bahkan sampai sekarang pun menurutku tetap menyeramkan. Pohon-pohon besar berusia tua masih kokoh berdiri (menyembul diantara cor semen), tingginya sudut kemiringan menuju gua (dari anak tangga cor semen juga). Dan jika semua nilai sejarah itu telah gagal hadir akibat sajian kulit luar yang kurang memberi empati hati. Maka mereka hanya bisa hadir dalam bayangan pengunjung. Aku sungguh ingin tahu apa yang Pangeran Diponegoro rasakan melihat markas gerilyanya telah kehilangan aura perjuangan.

(Jino Jiwan)