Tampilkan postingan dengan label Ceritanya.... Tampilkan semua postingan

Sebelum Iblis Menjemput Versi Ringkas

Di sebuah villa kuno RAY SAHETAPY duduk tepekur merenungkan nasibnya. Keuangannya tengah seret. Tapi itu tidak menghalanginya menampilkan kedalaman emosi hanya lewat ekspresi wajah minim dialog. Mungkin dia sedang galau mengapa sepanjang sisa durasi dia hanya boleh berakting tidur oleh SUTRADARA TIMO TJAHJANTO.

Tiba-tiba speaker bioskop digedor oleh Sutradara Timo.

Ray bangkit, buru-buru membukakan pintu. Dia terkesiap, penonton apalagi. Kita melihat “Si Ibu Pengabdi Setan KW3” berdiri di ambang pintu.

Ray Sahetapy : “Ib..Ibu? ….Ibu sudah bisa..”

Ibu Pengabdi Setan KW3: “Shhh…, saya bukan Ibu… panggil saja saya MAWARNI.

Mawarni masuk ke villa, mondar-mandir sebentar sebelum turun ruang bawah tanah.

Ray Sahetapy: “Ah ya, tentu saja. Tidak pernah ada sebelumnya film horor yang menampilkan ruang bawah tanah…”

Mawarni kemudian menaburkan serbuk kapur di lantai untuk menggambar…seperti sudah kamu duga, PENTAGRAM!, sambil merapal mantra yang didapat secara random oleh Sutradara Timo dari kamus bahasa latin koleksinya.

Lalu Iblis pun muncul atau…merasuk ke dalam Mawarni atau Iblis yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mawarni melayang satu meter dari lantai. Sejurus kemudian ribuan lembar seratus ribuan lawas berterbangan. Ray kelimpungan memungutinya.

Mawarni: “Ray Sahetapy, kamu bisa kayAAA rayAAA… tapi kamu harus menyediakan tumbAAAALLL.” (membuka mulut selebar kepala bayi).

Ray Sahetapy : “AstagAAA, mulutmu lebar betul.” 

Mawarni: “Ini belum seberapAAAAA… nanti kamu akan lihat lebih banyak mulut mengangAAAAA…HA HAHAHAAA…” (tertawa jahat tipikal antagonis).

gambar ini mungkin lebih menghantuimu daripada filmnya


Bertahun-tahun-tahun berikutnya. Ray Sahetapy menjadi pengusaha sukses dan tajir berat, dia menikah lagi dengan seorang artis bernama Karina Suwandi dan bercerai dari istri pertamanya, tapi kemudian jatuh bangkrut dan menderita sakit misterius. Kita tahu ini semua dari eksposisi berupa montase KLIPING KORAN. Ingat ya. Ini akan jadi poin penting.

CHELSEA ISLAN putri pertama Ray dari istri pertama datang ke rumah sakit menjenguk ayahnya yang terbaring koma di bangsal kelas 3.

Chelsea Islan: (berbisik) “Pak, Bapak sakit apa sih? Itu bentol-bentol di kulit kok kayak dibuat dari tepung kanji dan sagu mutiara?”

Tiba-tiba KARINA SUWANDI yang kita kenal lewat sinetron (komedi?) Warkop DKI 1990-an menendang pintu tanpa bisa menyembunyikan raut tipikal antagonis yang menunjukkan bahwa dia… adalah si antagonis?

Karina Suwandi: “Cih! Chelsea, kenapa juga namamu Chelsea? Itu kan nama klub bola.” (mendelik lalu meludahi seorang suster).

PEVITA PEARCE:“Iya, ngapain kamu di sini? Cuh!” (mengetapel cecak di dinding dengan karet gelang lalu menindihnya dengan kaki meja).

SAMO RAFAEL: “Mama udah deh, kamu juga Pev. Kita semua kan bersaudara. Ya kan? …Aku ini anaknya Ray Sahetapy juga kan? Haah?” (garuk-garuk kepala).

Pevita Pearce: “Eniwei, Chelsea. Biaya perawatan bapakmu ini tinggi sekali. Jadi kami mau menjual villa kuno yang sertifikatnya masih atas namamu.”

Chelsea Islan: “Kalau itu tidak cukup menunjukkan bahwa kalian orang jahatnya entah apa lagi.”

Malamnya, Chelsea Islan mimpi bertemu Ibu Mawarni (masih ingat kan?). Saat dia bangun dari mimpi buruk, di luar dugaan Ray Sahetapy jump scare dari komanya lalu MEMUNTAHKAN DARAH karena…ini filmnya Timo dan kita belum melihat darah dari tadi. Sutradara Timo pun memukul-mukul panci masak dengan gembira sembari bersembunyi di kolong dipan rumah sakit.



Besoknya Chelsea Islan memutuskan untuk mendatangi villa kuno nan angker, tempat yang sering dikunjungi Ray Sahetapy sebelum jatuh sakit. Karena… formula film horor memang mengharuskan begitu jadi kenapa tidak?

Maka berangkatlah dia menumpangi bus sejauh 66 km, ojek 6,6 km, dan berjalan kaki menembus hutan sejauh 6 km. Sorenya Chelsea sampai juga di villa bernomor 666.

Chelsea masuk lalu menekan saklar, dan LAMPU PUN MENYALA. Sungguh kebetulan! Villa yang sudah lama terbengkalai masih dialiri listrik! Mari berharap listrik ini akan berguna terhadap plot cerita. Bukan sekedar trik menakut-nakuti lewat ajep-ajep lampu nantinya…

Tiba-tiba Karina Suwandi dan anak-anaknya mendobrak pintu depan villa.

Karina Suwandi: “Ada Chelsea di sini rupanya.” (menyeringai dengan sudut mulut nyaris mencapai telinga). “Saya harap kamu tidak keberatan, kami mau…enggg…menginventarisir benda-benda yang ada di sini…demi biaya perawatan bapakmu.” (menangkapi lalat lalu menusukinya dengan jarum pentul).

Chelsea Islan: “Gak usah keliatan banget jahatnya napa sih? Ini tuh film, bukan sinetron. Dasar artis gadungan!”

Merasa disindir Karina Suwandi bangkit lalu MENGGAMPAR PIPI Chelsea. Chelsea sesenggukan menghambur ke bekas kamarnya yang anehnya perabotnya masih utuh setelah sekian tahun. Dia tengkurap di kasur bak remaja tengah putus cinta.

Samo Rafael kemudian mendatangi kamar Chelsea, membawakan dua tangkup sandwich.

Samo Rafael: “Maafin mamaku ya. Nih, makan dulu. Bisa jadi ini satu-satunya yang kita makan untuk 3 HARI KE DEPAN.”

Serius. Mereka cuma makan ini buat 3 hari(!)


Chelsea Islan: (mengambil sandwich dan mulai makan) “Jadi kamu love interestku?”

Samo Rafael: “Hei, kita ini saudara satu bapak! Gimana sih?”

Chelsea Islan : “Oh, shit.” (tepok jidat) “Kenapa tidak dijelaskan?”

Samo Rafael: “Kamu kan perempuan, harusnya pandai membaca kode.”

Chelsea Islan: “Omong-omong soal kode, tadi di lantai 2 aku lihat ceceran darah, kepala kambing terpenggal, dan sobekan kulit dan daging. Entah itu penting atau tidak…”

typical reference to demonic activity

Samo Rafael: “OOHHH… BIASA ITU. Kan sekarang masa-masa Hari Raya Korban…baidewey, tadi mama nyuruh aku MEMBONGKAR PINTU ke RUANG BAWAH TANAH yang  pintunya dibeton, disegel, digerendel, digembok, dan ditempeli jimat yang biasa untuk membekukan vampir di film-film hongkong 80-an…”

jimat sakti anti vampir...eh iblis

Chelsea Islan: “Hmm…biasanya karakter idiot dalam film horor sih matinya cepet…”

Samo Rafael: “Bicara soal idiot, bapak kita lebih idiot. Dia main pesugihan dengan iblis.”

Chelsea Islan: “Tapi bapak masih hidup, biarpun dia sempat muntah darah sampai 3 galon.”

Mawarni: “Haha, TIDAK LAGI! Kalian telah membebaskan aku dari ruang bawah tanah dan baru saja aku pergi ke rumah sakit untuk menggorok leher Ray lalu balik lagi ke sini. MATI KALIAN SEMUA!”

Mawarni menarik Karina Suwandi masuk ke ruang bawah tanah. Sutradara Timo menggebrak-gebrak meja dan lantai. Situasi kalang kabut tak karuan. Karina berusaha berpegangan pada gawangan pintu, tapi Timo memutuskan menyulap jemari Karina menjadi bubur kertas, darah pun menyembur. Samo, Chelsea, dan oh, Pevita berusaha menolong tapi sia-sia. Karina pun berubah menjadi…ZOMBIE!

ZOMBIE KARINA menerjang mereka semua dengan ganas. Karena sudah belajar bagaimana membasmi zombie dari puluhan film Hollywood, Chelsea MENGHAJAR JIDAT Zombie Karina dengan sebongkah MARTIL dan seharusnya meninggalkan trauma di mata anak-anak Karina tapi nyatanya tidak. Zombie Karina lalu kabur dari villa setelah menggigit tangan Pevita Pearce.

Pevita Pearce: “Oh, tidak. Aku terinfeksi virus zombie. Cepat tembak kepalaku!”

Samo Rafael: “Tenang Pev, Mama bukan zombie. Itu cuma obsesi gak kesampaian Sutradara Timo yang gagal terus bikin film zombie.”

Chelsea Islan: “Di sini gak ada obat-obatan. Tapi 60 km dari sini ada rumah penduduk. Biar aku antar Pevita ke sana, sekarang juga, malam-malam begini, di tengah badai hujan, tanpa payung dan mantol. Kita gak bisa pakai mobil kalian karena mesinnya dirusak Zombie Karina, jadi kita jalan kaki.”

Samo Rafael: “Ide bagus! Biar aku duduk manis di sini nunggu di villa.”

Pevita Pearce: “Kamu gak cuma nunggu di villa, kamu nemenin adik kecil kita.”

Hadijah Shahab: “ehm ehm”

Samo Rafael: “Oh shit, kita masih punya adik lagi?”

Chelsea Islan: “Keluarga besar yang aneh.”



Berbekal sebilah senter dan sebongkah martil, Chelsea dan Pevita meninggalkan villa, namun belum berapa jauh Zombie Karina berkelebat. Mereka, tidak seperti karakter dalam cerita horor pada umumnya, memutuskan ini saat yang tepat untuk BERPENCAR!

Entah bagaimana Pevita merasa itu adalah saat yang tepat untuk membongkar isi tas Chelsea yang berisi… ALBUM KLIPING KORAN tentang keluarga mereka. Ingat montase kliping koran di awal? Pembuatnya ternyata adalah Si Chelsea. Ini membuat Pevita marah dan curiga atas motivasi Chelsea sebenarnya.

Pevita Pearce: “Jadi selama ini kamu memata-matai kami!?”

Chelsea Islan: “Bukan…, itu cuma…Pe’er-ku waktu masih SD.”

Pevita melesat ke tengah hutan. Bukannya memberitahu kedua adiknya yang ada di villa soal album kliping korannya Chelsea…dia ingin menyampaikan ini lebih dulu kepada ibunya yang…sudah berubah jadi zombie (hah?). Dia diterkam oleh Zombie Karina.

Zombie Karina: “ACCCKKKK….!!!!”

Pevita Pearce: “MamAAA…ini aku MAAA!”

Zombie Karina: “ACCCKKKK….!!!!”

Pevita Pearce: “Well, Shit”

Pevita terpaksa mengayunkan martil berkali-kali ke apalagi jika bukan jidat lebar Zombie Karina. Darah muncrat-muncrat dan Sutradara Timo dengan sengaja mengulurkan wajahnya agar kecipratan darahnya Zombie Karina.

Zombie Karina: “Kenapa pula Sutradara Timo seperti membenci jidatku…ACCKK?”

Zombie Karina pun tutup usia dengan laknatnya seperti dia menutup mulutnya, namun tiba-tiba Mawarni muncul di hadapan Pevita.

Mawarni: “PevitAAA…jadilAAAHH…budaaAAAKKUU…”

Pevita Pearce: “Oke, tapi aku tidak mau kalau disuruh mangap mangap.”

Mawarni: “Tidak bisAAAA harus mangAAAPPP…”

Pevita Pearce: “Oh, baikLAAAAHHH…” (membuka mulut selebarnya)



Sementara itu Chelsea kembali ke dalam villa.

Chelsea Islan: “Samo, Si Pevita lari ke hutan setelah melihat album kliping koranku ini.”

Samo Rafael: “Oh…OKE.”

Chelsea Islan: “Kamu gak marah dan takut?”

Samo Rafael: “Enggak, tadi aku ngeliat kepala mamaku dibacok pake martil, santai aja.”

Hadijah Shahab: “Tadi aku tidur sendirian dan diganggu sama jump scare Mawarni.” (dicuekin keduanya)

Chelsea Islan: “Sekarang apa yang kita lakukan?”

Samo Rafael: “Kita tunggu sampai pagi.”

Pagi pun datang.

Chelsea Islan: “Sekarang apa yang kita lakukan?”

Samo Rafael: “Kita tunggu sampai malam.”

Malam pun datang.

tunggulah...lumayan buat manjangin durasi

Chelsea Islan: “Sekarang apa yang kita lakukan?”

Samo Rafael: “Kita tunggu sampai…plotnya jalan.”

Pevita Pearce: “KejutaAAAANN.” (tiba-tiba muncul dari sudut kamera)

Chelsea Islan: “Jelas kejutan karena kamu butuh sehari semalam cuma untuk balik ke sini.”

Pevita Pearce: “Diam, aku adalah abdinya Mawarni. Aku punya boneka voodoo yang mewakili kalian semua.” (mengeluarkan boneka voodoo yang bentuknya mirip Samo Rafael)

Pevita kemudian menarik kepala boneka Samo hingga putus.

Samo Rafael: “Ohh, tidak tidak. Aku adalah satu-satunya laki-laki tersisa di film in…” (lehernya tercabut dari pundak!).

Sembilan galon darah kehitaman mengocor dari leher Samo.

Sutradara Timo: “Sorry, warna darahnya agak gelap. Sisa dari film Headshot belum habis. Hahaha.”

Pevita Pearce: “Sekarang giliranmu Chelsea, tapi…tidak secepat itu. Aku akan menyiksamu lebih dulu, dimulai dari memuntir kakimu pelan-pelan.” (memelintir kaki boneka voodoo  Chelsea ke arah belakang).

Kaki Chelsea Islan-pun terpelintir ke belakang. Sehingga dia jadi cacat permanen.

Pecita Pearce: “Hmm, apalagi ya? Oh iya! Kita lanjutkan dengan ngobrol dari jarak dekat, supaya kamu dapat kesempatan mencuri boneka voodoo yang mewakili diriku yang kubawa-bawa ini, bukannya ku amankan di suatu tempat. Ayo silakan ambil.”

Chelsea Islan: “Makasih Lol!” (merenggut boneka voodoonya Pevita dan langsung memelintir lehernya)

Pevita Pierced: “Ah iya, karakter idiot bakal cepet mat…” (tewas dengan leher patah)

Chelsea Islan merangkak meraih boneka voodoonya. Dia memuntir balik kaki boneka voodoonya yang sebelumnya patah sehingga sekarang kakinya baik-baik saja, karena begitulah cara kerja tubuh manusia.

Chelsea tersenyum lega tapi, sudah berakhirkah film ini? BELUM! Mawarni muncul di depannya.

Mawarni: “HAHAHA, masih ada aku!!!”

Chelsea Islan: “Astaga kamu lagi?”

Mawarni: “Apa kamu tidak baca review film ini yang bilang bahwa teror terjadi tanpa jeda? Matilah kau!”

Tanah yang dipijak Chelsea runtuh membentuk liang lahat, menguburnya hidup-hidup. Namun Chelsea lantas meloncat ke MESIN WAKTU menuju ke MASA LALU dan melihat penjelasan yang sesungguhnya atas segala jump scare non sense yang menerpa penonton sejak permulaan.

Kita kembali ke adegan di kala Ray Sahetapy memunguti uang pesugihan pemberian Mawarni.
Mawarni: “Ingat Ray, kalau mau kaya sediakan tumbal…yaitu orang terdekatmu!”

Ray Sahetapy: “Orang TERDEKATKU saat ini adalah KAMU. Kalau begitu kamulah tumbalnya!!!” (Ray mengayunkan sekop ke kepala Mawarni, Mawarni ambruk) “Weh, semudah itu ternyata mengalahkan utusan iblis.”

Mawarni tewas, namun dia sempat menjatuhkan kutukan kematian kepada Ray Sahetapy dan keluarganya dengan memakan sejumput RAMBUT RAY. Ray kemudian mengubur Mawarni di ruang bahwa tanah lalu menyegel pintunya. Chelsea lalu meloncat kembali ke masa kini.

Chelsea Islan: “Apa penonton tidak akan diberi penjelasan, apa yang barusan kualami tadi? Apa aku punya kekuatan super yang bisa melihat masa lalu. Enggak?”

Sutradara Timo: “Lakukan saja apa yang ada di skrip.” (menuding sekop)

Chelsea kemudian menggali tanah di ruang bawah tanah dan menemukan mayat Mawarni. Dia merobek leher mayat itu, menemukan rambut Ray yang membawa kutukan, dan secara intuitif membakarnya, seolah tahu bahwa begitulah cara membatalkan kutukan. Secara mengejutkan cara ini berhasil. Mawarni pun lenyap.

Chelsea dengan sok tertatih keluar dari ruang bawah tanah. Hadijah Shahab menyambutnya.

Chelsea Islan: “Loh, kamu masih hidup. Dari mana aja tadi?”

Hadijah Shahab: …

Chelsea Islan: “Kamu yakin mau pergi bareng orang yang membelah kepala ibumu dan sudah membunuh kakakmu, saudara tiriku sendiri?”

Hadijah Shahab: (angkat bahu seolah mengatakan “whatever”)

Chelsea Islan: (angkat bahu juga tanda minta pendapat penonton)

Matahari bersinar, mereka berdua keluar dari villa. Lampu bioskop menyala, penonton keluar dari teater…sambil berusaha mengingat-ingat kira-kira apa yang layak diingat dari film ini? Apa ya? (hmm…mikir).

Zaappp, pindah tempat dalam sekejab ke masa lalu dan meminta diri sendiri supaya tidak nonton ini film.


Azrax 2, Menggilas Sindikat Judi Bola bagian 2

lanjutan dari BAGIAN 1

Azrax dan Bang Hadji menyadari ulah mereka yang memancing perhatian penghuni gedung. Mereka seketika berhenti. Sungguh suatu situasi yang amat kikuk.

“Kenapa berhenti? Teruskan!” sahut manusia Namec.

“Aku pasang 5000 untuk yang berkuncir!” salah satu makhluk E.T. berucap.

“Aku pasang 7500 untuk yang bulu dadanya lebat itu.” Kata makhluk Asari.

"Rrrrrrkkkkkk..." kata Predator. (subtitle warna putih: 6000 aja untuk yang berkuncir).

"Wiiiizzzzz..." kata Alien. (subtitle warna kuning: 6000 juga untuk yang berbulu dada lebat itu). 

Disusul suara-suara lain, riuh memasang taruhan berikut harganya masing-masing yang entah dalam mata uang apa. Sorak sorai kian menggema demi agar Azrax dan Bang Haji kembali bertarung.

Bang Haji dengan nada lirih membisik, “Dik Azrax, baiknya kita harus lupakan dulu permasalahan kita. Ada yang lebih penting rupanya.”

“Biar kutebak, nama ibu kita sama persis?” desis Azrax.

“Eng…..gak juga.”

“Nama… bapak kita sama…?”

“Tidak, sama sekali tidak!”

“Nama istri kita…ada yang sama?...Tidak yaa? Nama anak kita, mungkin?”

“Sumpah mati aku akan membenamkan hidungmu jika kamu tidak berhenti. Liat sekeliling kita ini!”

Azrax seketika itu paham. Bang Haji dan Azrax kemudian saling merapatkan punggung masing-masing. Tampang keduanya super waspada, tangan mereka mengepal keras.

Okay, I go this way, you go that way.” Kata Azrax.

What dya mean I go that way, you go this way?” timpal Bang Haji yang ternyata bisa juga berbahasa linggis.

Okay then, I go that way, you go this way.” Keduanya sepakat mupakat.

Azrax melepas ikat kuncirnya. Rambutnya panjang melambai-lambai. Sekali sibak segenap makhluk Klingon terhempas keluar orbit Bumi. Paru-paru mereka meledak di ruang hampa menimbulkan pemandangan langka jika tidak mau disebut belum pernah ada. Para ahli astronomi penjuru Bumi mengira itu semacam anomali di langit, mereka pun kemudian berebut memberi nama.

Sementara itu Bang Haji membuka tiga kancing kemejanya dari atas, tiga puluh butir keringat yang mengalir antara rambut dadanya meluncur membutakan mata ketigapuluh manusia Namec. Azrax menghantam kepala mereka satu-satu dengan lampu taman yang entah dia dapat dari mana. Para Namec itu pun segera tiada tanpa sempat mengucap apa-apa.

Bang Haji Roma memainkan gitarnya yang selama ini dia simpan di balik rimbun rambut dadanya. Hanya beberapa petik nada dangdut berkekuatan 100 decibel mhz sudah cukup membuat Alien juga Predator angkat kaki dan memilih untuk bikin film sendiri di Hollywood.

Azrax kemudian bermunajat. Dari balik tangannya muncul serbuk putih misterius. Ditebarnya serbuk itu secara serampangan, namun tim post-production membuatnya seakan ditebar merata memakai efek yang seperti dikerjakan pakai microsoft paint. Manusia Na’vi gatal-gatal kronis, Asari bersin-bersin sampai butuh tim medis.

Makhluk E.T. sadar mereka tidak mungkin sanggup manahan gempuran kedua manusia pilihan yang sakti ini, sementara para Wookie sadar mereka berada di set film yang salah. Mereka pun segera memesan tiket pulang ke Richard Branson dan Elon Musk.

Kini tinggal seorang tersisa. Itu artinya hanya satu: boss fight melawan Ruhut Towi Sitompul.

“Ruhut Towi, kamu belum kapok juga rupanya. Tidak tahukah kamu judi itu haram!?” bentak Bang Haji sambil mendekat. Azrax turut melangkah perlahan memojokkan Ruhut di sudut ruangan.

“Ahay Daeng, mana mungkin orang seperti aku kapoklah!” Ruhut menukas dengan suara yang agak ditelan. Maklum kan mulutnya tertutup eyepatch, ingat?

Bang Haji Roma menyawang sekitarannya, tidak ada Pak J.K. di situ. “Ruhut Towi, siapa yang kau panggil Daeng? Astaghfirullah, tobatlah! Ajal Demokrat sudah dekat!”

“Ajalmu yang sudah dekat Daeng Roma, lupakan ambisi gilamu jadi presiden. Paling banter kau dapet pesinden!” Ruhut menerkam dengan tameng dan pedang pelepah pisang.

Ternyata Ruhut Towi Sitompul yang Bang Haji hadapi adalah versi upgrade terbaru karena cuma dengan gerakan minimal Ruhut mampu memotong rambut dada Bang Haji Roma hingga seratus helai. Ini saja sanggup mengurangi daya gerak Bang Haji Roma. Rambut dadanya adalah sumber kekuatannya!

“Bang Haji, biar kubantu!” Azrax sigap menahan Bang Haji yang sempoyongan.

“Kita harus bekerja sama, Az!” suara Bang Haji serak.

“Biarpun nama ibu kita tidak sama?” tanya Azrax.

Bang Haji hanya melengos memutar matanya. Seakan mau bilang “not that again.”

“Baik Bang, kita kerja sama.” Jawab Azrax agak terkesiap tapi mantap.

Azrax dan Bang Haji mulai merapal sebuah jurus bersamaan yang membutuhkan durasi 3 menitan sementara Ruhut Towi Sitompul setia menunggu sambil mengembangkan senyum seringai menyebalkan di depan kompor sambil memasak mi instan. Kameramen memainkan kamera dengan menge-zoom-in berkali-kali dan bergantian muka tiga orang ini yang rautnya bagai sedang sembelit tingkat tinggi diiringi efek suara “syuung syuung,” daur ulang dari film silat 1980-an.

Ketiganya maju. Saling menyongsong jurus satu sama lain dengan teriakan. Benturan terjadi di udara, walau terlihat bagai efek murahan sineron Indosiar atau SCTV namun nyatanya Ruhut terkapar di lantai dengan darah hitam segar.

Di saat situasi berpihak pada jagoan kita (kita?) itulah….Tiba-tiba keajaiban terjadi.

Sosok Ruhut Towi yang rebah itu mengepulkan asap pekat. Ketika tersibak nampaklah sosok yang tidak asing lagi, J.co Anwar!

Ternyata J.co Anwar berada di balik semua ini. Mata Azrax nyalang menatap musuh bebututannya. J.co Anwar adalah orang yang sudah mempermalukannya di ajang gulat Najwa Championshop  yang disiarkan tv pemerintah kala itu. Bukan hanya dipermalukan tapi Azrax sudah dikalahkan, dicakar, diiris emosinya, dicincang perasaannya, dibanting hatinya, diinjak mukanya, dibakar rambutnya. Gara-gara J.co Anwar-lah Azrax terpaksa membuka padepokan di sebuah dusun terpencil jauh dari gemerlap dunia dan karena J.co Anwar pula Azrax memanjangkan rambutnya. Tujuannya agar tidak dikenali.

Dipenuhi oleh amarah Azrax siap untuk menyerbu kembali.

“Majulah, maka aku tidak akan segan melenyapkan dia.” J.co Anwar menampilkan foto seorang perempuan setengah uzur dari layar smartphonenya.

Azrax terkesiap, itu adalah perempuan yang dikenalnya dengan baik, itu tak lain Reva Artamezia! Kekasih hatinya.

“Hah hah hah hah hah.” J.co Anwar tertawa bahagia. Terbayang sudah kemenangannya lagi di depan mata. “jika kau ingin dia selamat, datanglah!”

J.co Anwar menekan sebuah tombol di dinding. Sebuah pintu berbingkai sinar biru ke dimensi lain membuka. Sekelebat saja J.co Anwar sudah berada di seberang.

“Bang Haji, aku akan mengejarnya demi menyelamatkan Reva Artamezia kekasihku.” Azrax berdiri di ambang pintu tembus dimensi itu.

“Aku akan ikut membantumu, Azrax. Selama ada kebatilan di muka Bumi, aku tidak akan tinggal diam.” Jawab Bang Haji.

“Baik Bang.” Azrax menanggapi, “…sepertinya memang tidak butuh nama ibu yang sama buat kita untuk saling bahu membahu!”

“…”

.........................................................

Berhasilkah Azrax yang dibantu Bang Haji Roma membebaskan Reva Artamezia dan membasmi J.co Anwar yang keji?

Semua akan terjawab di kisah Azrax 3: Mengejar J.co Anwar ke Ujung Bumi

Azrax 2, Menggilas Sindikat Judi Bola

Suara azan Maghrib bergaung-gaung. Kita melihat Azrax, lakon utama paling utama dari cerita ini duduk bersila menunduk dalam temaram lampu 3 watt. Rupanya dia baru saja sadar dari pingsannya. Dia tidak yakin berapa lama dia pingsan, tapi sepertinya tidak cukup lama, paling cuma sepuluh detik.

Pandangannya menyapu sekeliling. Sebuah kamar mungil-lusuh-buram-pengap. Yah, kalian nangkaplah gambaran yang dimaksud. Tengkuknya terasa ngilu, namun ketika hendak meraba belakang kepala dia sadar bahwa kedua pergelangannya terkunci borgol.

Azrax mencoba mengingat apa yang terjadi. Oh iya, hanya sepintas detik lalu dia tengah menyelidiki markas bandar judi bola di suatu gang kecil nan kumuh dekat padepokan pimpinannya. Markas judi bola yang amat sangat meresahkan masyarakat. Istri-istri sekampung pada melapor kepadanya perihal suami mereka yang tidak lagi memberi nafkah karena duitnya habis di meja judi. Tergerak oleh laporan tersebut, dia mendatangi gedung yang disangkai sebagai markas judi, tapi begitu mengetuk pintu dan menyapa “samporasun,” seseorang dari belakang membogem kuncir rambut Azrax. Dia pun pingsan dengan sukses.

Kini mata Azrax memejam, dia menarik nafas, berkonsentrasi untuk melakukan hal terhebat yang belum pernah kau bayangkan. Borgol yang mengunci pergelangan tangannya bergetar. Seiring mulutnya yang komat-kamit, pundaknya naik turun. Musik kian tegang. Degub jantung berdentang. Mata Azrax membelalak dan memelototi borgol itu. Borgol itu langsung ketakutan dan memutuskan untuk melepaskan diri dari Azrax.

Azrax menoleh ke samping membelakangi pintu kamar. Kupingnya berdenyut. Dia bisa mendengar ada dua orang mendekat...sayup-sayup dia mendengar suara dari lorong di luar kamar...

“Bos bilang orang itu harus dibawa menghadap,” kata suara penjahat #1.

“Ya, kita kudu waspada. Kata Bos dia dulu menghancurkan geng Kobra,” jawab suara penjahat #2.

Geng Kobra dari Hongkong?!” (dengan nada “dari Hongkong” seperti yang sudah biasa kamu dengar).

“Memang iya.”

“Oh,...itu artinya...”

Begitu mereka membuka pintu, dua orang yang mukanya garang dan penuh kekejaman itu langsung kaku saat Azrax menyerbu. Azrax melempar borgol ke arah Penjahat #1. Borgol itu mengikat tangan Penjahat #1 secara otomatis. Azrax mengibaskan kuncirnya, Penjahat #1 terlempar keluar jendela kaca. Secepat kilat Azrax mengambil bantal (dalam kamar kan ada kasur dan bantal to?). Sekali ayun jidat Penjahat #2 bonyok lalu ambruk seketika.

Azrax keluar kamar dan berjingkat bak penyusup profesional. Celingukan dia mencari posisi yang pas mengintip hiruk pikuk yang riuh rendah di bangunan bandar judi itu. Dia bersembunyi di balik dispenser jebol bergalon kosong hanya belasan langkah dari keramaian dalam gedung. Tak ada satupun penghuni gedung melihat keberadaannya! Sungguh luar biasa kesaktian Azrax ini, sanggup membuat siapapun tak bisa mendeteksinya.

Tersentak dia sebetulnya menjumpai kesibukan di dalam gedung. Dia sedang berada di bukan hanya markas judi bola nasional atau internasional, melainkan markas judi intergalaktik! Alien segala rupa ras berseliweran di situ, dari Alien, Predator, Klingon, Namec, Na’vi, E.T., Asari, hingga Wookie. Dan dia melihat orang yang sudah sangat dihapalnya, Ruhut Towi Sitompul! Kita langsung tahu Ruhut orang jahat. Pertama karena namanya saja sudah menyebalkan terlebih mukenye. Kedua, karena dia pakai penutup mata. Bukan hanya satu tapi tiga! Satu menutup mata kiri, satu lagi menutup mata kanan, yang terakhir membungkam mulutnya.

“Ruhut Towi, kukira dia sudah tamat riwayatnya.” Bisik Azrax.

“Belum...” sahut seorang tepat di tengkuknya.

Seonggok tangan keriput namun berlemak membekap mulut Azrax. Dengan sigap Azrax memelintir tangan uzur itu, namun itu baru awal dari pergumulan. Pertukaran tapak dan tinju terjadi antara Azrax dengan si pemilik tangan misterius. Pertarungan itu kelihatan keren, tapi lebih karena kameramennya menggoyang-goyangkan kamera kian kemari.

“Drap, Dhuk, Jdhek, Pam pam pam!!!” begitu bunyinya. Tidak diketahui dengan tegas pam pam pam itu bunyi apa ketemu apaan.

Azrax berhenti melancarkan serangan, begitu juga lawannya. Terpana dia mengetahui siapa lawannya. Dia adalah...Bang Haji Roma Irama! Saking terpesonanya dia terlena™ dan tak mampu berkata apa.

Dick Azrax, khamu shudhah sholat bheluuum?” Tanya Bang Haji Roma Irama penuh wibawa dengan logat khas bijaksananya saat tahu lawannya terpana.

“Aku...belum Maghriban, Bang Haji.” Jawab Azrax tunduk.

“Astaghfirullah, sungguh therlhalu™!” Bang Haji Roma geleng-geleng, “Mari kita sholat dulu.”

Mereka pun berwudhu dengan khidmat pakai air dari dispenser (yang tiba-tiba galonnya berisi air!). Dan mereka masih saja dicuekin oleh penghuni gedung. Musik syahdu yang biasa mewarnai suasana tobat pun beralun seiring Bang Haji Roma menggelar kertas koran bekas di selasar yang berdebu. Bang Haji mengimami sholat dengan penuh penghayatan diikuti oleh Azrax di sisinya. Gerakan mereka slowmo untuk suatu alasan dan warna ruangan jadi kuning jingga macam disinari lilin (meski tidak ada lilin), juga untuk suatu alasan.

Adegan berlangsung selama beberapa menit sebelum beralih pada rakaat terakhir.

“Asshyalhamualaikhum warahmathullaah...”

Bang Haji balik badan menghadap Azrax, dia memimpin zikir bersama memohon diberi kejayaan dalam pertarungan yang keduanya tahu takkan terelakkan sebentar lagi. Tapi tentu saja yang namanya Bang Haji tidak mampu melewatkan setiap momentum tanpa memberi wejangan mulia.

Dick Azrax,” Bang Haji membuka, “tahukah memphertyurutkan hawa nafsu itu dhekat dengan syaithouwn?”

Azrax mengangguk, rautnya penuh pemahaman akan tujuan hidup yang… entah apa.

“Thenangkan bijhimu Dick Azrax. Syesungguhnya manushia lebih mhulia dharipadah syaithouwn. Memphertyurutkan phanas hati syebenarnya khuranglah bijhak. Dhulu saya tidhak khurang gusarnya dikhala Rika diculik. Di khala itu saya berkeliling naik khuda hitam dengan ghitar di punggung berkelana™ mencari di mana Rika berada…. Aarhhh...siapa ini yang nulis naskah? Anak Paud ya?!” sergah Bang Haji Roma. “Kenapa kalau aku bicara mesti diselipi aksen “h”, menghina ya?!”

Mendengar tuduhan menyakitkan itu Azrax yang tadi tunduk tenang tiba-tiba meradang, “Dan kamu sudah merenggut penjiwaan karakterisasi yang di mana seharusnya saya perankan!”

“Aku di sini untuk meringkus Ruhut Towi Sitompul bukan untuk berdebat dengan kau Az!” Bang Haji bangkit.

“Dan apa yang kau pikir benar belum tentu tepat, sebab semua ini adalah merupakan manifestasi dunia kelam kriminalitas.” Azrax berdiri, alisnya menyatu di atap dahi.

“Apa yang kau bicarakan? Tenangkan bijhimu, Az!” Bang Haji Roma mengerutkan muka.

“Cukup, aku tak bisa membiarkanmu bicara lebih jauh!” Azrax mengambil kuda-kuda. Sementara Bang Haji Roma geleng-geleng beranjak hendak menunggangi kudanya yang dia parkir di luar. Untuk sesaat kau bisa melihat gurat wajah Bang Haji menyiratkan penyesalan mendalam atas keputusannya terlibat dalam film ini. Tapi Azrax buru-buru menghadangnya.

“Tunggu dulu, kita belum usai.” Tangan Azrax merentang menghalang. Suasana kembali memanas.

“Baiklah, jika itu maumu.” Jawab Bang Haji Roma.

Bang Haji Roma dan Azrax pun kembali bertukar pikiran...,eh tendangan maksudnya dan juga tamparan. Pertarungan yang sungguh seru berlangsung, terutama bagi kameramen yang lagi-lagi menggoncangkan kamera tiada terkira. Kadang-kadang si kameramen sengaja menubrukkan kameranya ke tembok atau malah lantai agar terlihat lebih seru. Tercatat total 15 kamera rusak berat. Belum lagi setiap kali tinju diterima Bang Haji setiap kali itu pula dia beristighfar, begitu pula bila Azrax menerima bogem setiap kali itu dia bertahmid, tanda bersyukur dia masih bisa merasakan rasa perih. Dan seterusnya hingga terjadi saling jawab.

Kali ini baru para makhluk intergalaktik berdatangan untuk melihat keributan macam mana pula yang terjadi. Dalam sekejap para makhluk intergalaktik sudah mengepung Azrax dan Bang Hadji Roma Irama yang sedang asyik bertukar hantaman.

ke BAGIAN 2


Petulangan Fanji

Pada mulanya Kamu melihat warna kehijauan yang kabur. Lalu makin jelas. Tampak kerimbunan pepohonan hijau berhias semak-semak. Kemudian tebing dan batuan, disusul langit kelabu berawan. Musik yang sok tegang mengentak-entak mengusikmu. Sesosok misterius meloncat dari tubir jurang ke bebatuan, tapi kelihatan sekali kalau itu bukan orang sungguhan melainkan efek murahan seperti yang sering hadir di sinetron IndiaSiar. Kemudian…

“Halo para permirsa di rumah, namaku Fanji.” Tampak seorang pemuda tanggung berambut mi instan meringis menyapamu yang sedang tiduran santai di depan tivi. Kamupun sebagai penggemar acaranya jadi terbangun semangat untuk menikmati selama setengah jam ke depan…Petulangan Fanji!

Ini (anggap saja) Kamu
“Di episod kali ini aku akan menangkap 50 jenis ular dalam sehari untuk memperlihatkan betapa piawainya saya, yok ikuti aku.” Fanji mengajak ke arah pemirsa. Dengan langkah malas Kameramen pun terpaksa menuruti kegilaan Fanji. Andai ia tidak diasuransikan untuk keracunan ular oleh pihak tivi ia tidak akan rela ikutan ini acara. Si Kameramen mungkin lebih memilih meliput perang di Palestina. Paling tidak biar bisa mati syahid sekalian, lah ini risikonya mati dipatok ular. Duh!

Fanji berjalan nyekerman di pematang sawah. Tingkahnya amat waspada dan beberapa kali memeringatkan Kamu sebagai pemirsa untuk diam. Kamu pun mengangguk setuju, diam. Ia sesekali melompat maju lalu mundur bagai orang yang ikut lomba balap karung sambil ngisep lem. Mata Fanji tajam bagai burung garuda hendak mengincar tanaman kacang. Ia melihat sesuatu.

“Saya melihat sesuatu pemirsa.” Fanji menoleh ke kamera. Musik tegang kembali dimainkan.


Ini (anggap saja) Fanji
Fanji mengendap. Dia melepas sepatunya. Gerakan itu membuat buruannya kabur. Ia menunjuk pergerakan serupa huruf S pada genangan air sawah di sela-sela tanaman padi yang masih imut-imut. Tahu-tahu ia meloncat menerkam Si Ular. Begitu cepatnya sehingga harus di slow motion. Ia bergumul dan bergulung. Kameramen yang amat terinspirasi seri film Bourne tak menyiakan kesempatan, ia langsung mengocak-ocak kamera tiada karuan. Kamu pun langsung ikut merasa tegang sekaligus bingung dengan apa yang terjadi. Berhubung tayangan yang tersaji seperti diambil langsung oleh Muhammad Ali. Satu-satunya hal yang Si Kameramen sukai dari Petualangan Fanji adalah bagian ini, karena ia merasa berbakat di sini. Ia heran mengapa Paul Green-Grass tidak kunjung merekrut dia.

Pergumulan memakan durasi hingga nyaris sepuluh menitan. Sawah yang ia terjang pun hancur kabur tak tentu rupa. Baju dan muka Fanji terhiasi lumpur. Tiba-tiba ia tak bergerak dalam posisi tengkurap. Perasaanmu teraduk-aduk campur baur. Apakah Fanji baik-baik saja? Tanyamu dalam hati.

Fanji bangkit. Dia terlihat sumringah, bahagia layaknya seorang ayah menggendong anak pertamanya, ia tengah menggenggam leher ular sawah! Dari ekspresinya ular malang itu kelihatan kesal karena ia sudah terlambat untuk kencan dengan ceweknya, tapi apa daya ternyata Fanji lebih ingin berkencan dengannya.

Fanji lalu memberi ceramah ilmu tentang ular dengan gaya meyakinkan namun entah mengapa tidak betul-betul membuatmu yakin. Tapi toh Kamu mengiyakan saja.
“Liat pemirsa, ini namanya ular sawah. Disebut ular sawah karena…ia tinggal di sawah. Kalo dia tinggal di rumah maka namanya jadi ular rumah,” ujar Fanji bangga. “Sama sepreti kuda laut, anjing laut, atau burung gereja, mereka disebut begitu karena habitatnya memang di situ.”

Kameramen geleng-geleng kepala. Kamu tahu itu karena kamera juga jadi ikut gerak ke kiri ke kanan. Dalam hati Si Kameramen berdoa agar Tuhan mengampuni kesoktahuan Fanji.
“Kenapa kamu?!!” bentak Fanji heran pada kelakukan Kameramen.
“Ah nggak, cuma biar lebih dramatis aja.” jawab Kameramen. Entah mengapa Kamu yang dirumah bisa mendengar perdebatan ini. Mungkin disengaja oleh tim produksi demi menambah kesan realistik.

Dengan keterampilan tingkat tinggi Fanji lalu membuka rahang ular hanya menggunakan kelingking kirinya. Ia meminta Kameramen mendekat agar Kamu yang duduk resah dan khawatir akan keselamatan Fanji bisa melihat apa yang membuat makhluk melata ini mengagumkan di mata Fanji dan juga bagi Rob Bredl, tapi kameramen yang takut sama ular mengambil gambar dari jarak sepuluh jangkah. Ia memaksimalkan digital zoom in sampai mentok. Hasilnya? Gambar yang absurd. Kamu melihat butir-butir serupa biji jagung berwarna tidak jelas, kekuningan juga kecoklatan.

Ular yang malang
Ternyata yang di zoom in adalah giginya Fanji. Pantesan!

Kameramen langsung meralat. “Aduh, sori sori.” Lagi-lagi Kamu bisa mendengar ini. Kamera akhirnya membidik gigi taring si ular sebelum wajah Fanji menjadi terlalu merah. Kali ini cukup sukses dan telak. Gigi taring ular itu kecil, paling tidak jika dibandingkan gigimu sendiri. Tapi jelas amat sangat tajam dan berbahaya, jauh lebih gawat darurat dari pada giginya vampir-vampir di Twailait saga.

“Kalau sampai anda pemirsa di rumah digigit ini ular, anda bahkan tidak akan punya kesempatan untuk berkedip. Matahari yang anda lihat hari itu bakal jadi matahari terakhir yang anda lihat.” Senyuman Fanji membuat bulu alismu berdiri.

Ketika nuansa hororisme itu tengah ditebar. Lolongan seseorang meledak mendadak mengagetkan Kamu, Kameramen, dan Fanji. “Hoi, ngapain kamu nginjak-nginjak sawahku?!!!” Itu bisa dipastikan suara yang punya sawah yang jauh lebih horor dari pada analisis Fanji.

Ular sawah yang kangen berat sama pacarnya itu lepas dari genggaman Fanji. Kamera pun jatuh dari tangan Kameramen. Kamu bisa melihat Si Kameramen, yang sekarang sudah bukan Kameramen lagi, ia lari tersruntul-sruntul menjadi Lari-Man jauh meninggalkan sawah, jauh meninggalkan Fanji.

Fanji pun hendak lari, tapi gerak refleknya tertunda gara-gara takut dicium ular yang baru lepas dari tangannya, dia terjebak lumpur sawah dan barangkali juga terlilit doa kutukan tanaman padi yang teraniaya oleh ulahnya. Fanji jatuh bergedebum. Terlambat sudah, terlambat sudah.

...


Lima belas menit terakhir durasi Petualangan Fanji pun diisi Fanji yang betul-betul bertualang menanami kembali padi di lahan yang bagai dilanda pertempuran. Peluh Fanji bukan hanya sebesar biji jagung tapi sebesar bonggol jagung.  Sementara Si Empunya sawah gantian memegangi kamera. Sesekali ia mengarahkan kamera ke wajahnya, memamerkan raut kemenangan, lalu mencobai berbagai efek di kamera yang membuat matamu merana, semerana hati Fanji hari itu. Bagi Fanji matahari hari itu seolah menjadi yang terakhir yang bisa ia lihat.

Jangan sampai kuwalat sama padi

Disklaimer:
Kisah sesat ini tidak ada hubungannya dengan karakter sebenarnya dalam kehidupan nyata walau sesungguhnya ada unsur kebetulan yang disengaja dalam kenyataan pahit ini.