Tampilkan postingan dengan label Dolaner. Tampilkan semua postingan

Meskipun Terik, Nusa Penida Memang Menarik

Sudah lama aku mendengar tentang Nusa Penida, sebuah pulau yang katanya gersang dan puanas. Sebuah pulau yang menurut seorang teman yang asli Bali, "tidak ada-apa di sana" selain batu kapur dan penangkaran penyu, sehingga tidak worthy untuk dikunjungi.

Namun, akhirnya kesempatan menyambangi pulau kecil di sisi tenggara pulau Bali ini pada Desember 2023 kesampaian juga bareng rekan kerja se-Prodi. Entah siapa yang usul, pastilah dia pernah melihat postingan keindahan Nusa Penida di medsos. Paket perjalanan untuk Nusa Penida sisi barat langsung dipesan, seorangnya seharga Rp400an, termasuk tiket kapal bolak-balik, makan sekali, dan dua buah mobil plus sopirnya yang merangkap pemandu.

Pelabuhan Sanur pagi hari

Pagi-pagi sekali kami sudah dijemput dari hotel di daerah Seminyak (iya, harga termasuk penjemputan dari hotel). Karena terlalu pagi ini pula kami belum sempat menikmati sarapan hotel secara sepantasnya. Oleh pihak hotel kami dibungkuskan sesuatu yang kami sangka nasi dan lauk pauknya, tapi ternyata...

sandwich isi timun, tomat, dan telur plus buah

Pelabuhan Sanur, titik berangkat dari Pulau Bali ke Pulau Nusa Penida sangat padat pagi itu. Rombongan kami menunggu cukup lama. Telinga ini harus awas menyimak pengumuman dari pemandu yang bisa sangat acak itu. Mereka mengumumkan travel mana yang bisa berangkat sesuai dengan kalung penanda travel yang tadi sudah diberikan sejak awal begitu sampai (warna lanyar juga berpengaruh), karena titik tujuan juga bisa berbeda. 

Pihak travel membagikan semacam tiket yang memuat nama. Dapat nama yang random juga. Intinya nama ini tidak berpengaruh wong duduknya di kapal juga tidak pakai nomor. Kami gunakan nama ini buat guyonan. 

Alur masuk ke pelabuhan sangat aneh. Masuk antri, naik tangga ke lantai 2, lalu turun tangga lagi ke lantai dasar. 

Kalau sudah sampai dermaga tinggal ikuti arus dan pastikan tidak salah naik kapal

Di Dermaga ada banyak kapal. Tidak perlu khawatir salah naik karena nama kapal sesuai dengan kartu lanyar yang tadi dibagikan.

Ombak besar menuju Nusa Penida

Ketika kapal berangkat dari Sanur terjadi pemandangan yang bagiku sangat menakjubkan. Sekian banyak kapal keluar dari pelabuhan, beriringan, lalu berpisah ke tujuan masing-masing. Ombak memang besar tapi masih kalah besar dengan ombak sore hari ketika kami kembali ke Sanur dari Nusa Penida. Durasi berangkat lebih dari 1 jam padahal konon hanya 45 menit. Aku sempat tertidur karena tadi menenggak seperempat butir Antimo, maklum aku takut mabok laut. Menurut seorang rekan mereka sempat melihat lumba-lumba bermain di sekitar kapal. Mungkin seharusnya aku tidak tertidur.


Sampai di Nusa Penida (sisi timur Sampalan)

Pelabuhan Sampalan yang ternyata lokasinya cukup jauh dari lokasi wisata di Nusa Penida Barat

Kami disambut dua orang pemandu yang sekaligus sopir, mereka berasal dari Jawa Tengah. Kami menyapa mereka dengan "Bli" tapi ternyata mereka bisa bahasa Jawa, jadi kami panggil "Mas". Mobilnya APV. Bisa kubilang mereka jago nyetir. Jalanan di Nusa Penida cukup mulus (kecuali ketika mendekati Angel's Billabong), hanya saja jalannya boleh dikatakan cukup ekstrim, naik turun, belak-belok, sempit, mengingatkan pada kondisi jalan di Gunung Kidul, Jogja. Berhubung aku dapat rombongan yang isinya cowok semua jadilah ujung-ujungnya pembicaraan agak cabul ketika mereka kemudian secara terbuka bercerita telah beberapa kali mengencani (baca: meniduri) turis dari luar (Eropa, Afrika, maupun Asia).

Seperti sudah kusebut, kami cuma sarapan sandwich. Sehingga kami menuntut mampir makan dulu, jauh sebelum jamnya makan siang. Mobil berhenti di sebuah rumah makan (warung) kecil di tepi jalan yang memang menjadi bagian dari paket perjalanan. Menunya sederhana. Harganya? Tidak tahu. Namanya juga paketan. Tapi tempatnya lumayan nyaman. Sejujurnya rasa lapar mengalahkan minat kami untuk menjelajahi pulau itu. Ketika itu aku ingin sekali balik ke hotel untuk sekadar rebahan, karena belum-belum sudah merasa capek dan kegerahan. Plus kelaparan itu tadi.

Mampir di Warung

Mie nyemek seadanya, no expectation. Tetap bersyukur yang penting gak kelaparan.

Tapi tentu saja perjalanan harus berlanjut setelah beberapa kali Mas-Mas Sopir menglakson kami agar lekas bergegas...ke pantai Kelingking.

Jalan turun ke tebing Kelingking

Pantai Kelingking di bawah sana. Kelihatan overexposure? Iya, itu sudah siang. Pas jam 12 siang. Ketika Nusa Penida sedang terik-teriknya. Bisa sih kalau mau turun (1 jam jalan kaki katanya) tapi pemandunya bilang pernah ada yang mati gegara kepanasan.

Duduk-duduk di sebuah warung. Hati-hati, harga minuman/makanan bisa sangat mahal. Aku cuma duduk-duduk saja. 

Dari Pantai Kelingking kami meluncur ke Angel's Billabong dan Broken Beach yang jadi satu kawasan. Jalan menjelang ke lokasi rusak parah. Mobilnya berasa dipmbang-ambing ayun-ayunkan dengan perlahan...

Jalan menurun ke Angel's Billabong. Beberapa rekan sudah menyerah, tidak mau meneruskan. Sungguh sebuah kerugian.

Papan peringatan bahwa lokasi ini berbahaya

Billabong yang mengingatkan seperti kolam di Pantai Wediombo yang juga berbahaya

Dari sini, kedua pemandu mengarahkan kami ke Broken Beach yang memang istimewa...tidak, bukan hanya memang istimewa, tapi sangat istimewa dan ikonik, selain Pantai Kelingking tentunya.

Ada beberapa titik yang layak difoto termasuk di sini

Pantainya tidak bisa diakses, hanya bisa dikagumi dari atas tebing

Mulut pantai yang "broken"

Tumpukan sampah yang ditinggalkan makhluk sampah yang tidak menghargai lingkungan dan keindahan alam

Foto bareng di hadapan Broken Beach

Setelah beristirahat selanjutnya kami balik ke pelabuhan dengan terlebih dulu mampir di pantai Bubu yang menghadap langsung ke Pulau Bali...

Tepi jalan Bubu Beach

Pemandangan pantai yang tenang. Bisa dibayangkan keindahan tempat ini jika malam. Kerlip lampu di Pulau Bali pastilah memukau.

Entah kenapa ada ayunan di situ. Btw, ini sudah jam 15.

Setelah hanya duduk-duduk dan bermain air laut sejenak, saatnya kami berpisah dengan Nusa Penida yang walau memang terik namun memikat dan pastinya cantik.  

Keramaian pelabuhan Sampalan saat sore

Akankah aku balik ke sana lagi? Mungkin suatu saat nanti. Semoga jalannya sudah lebih baik kondisinya.




 
















Menyoal Pertanyaan Under Pressure Pada Saat Wawancara Kerja


Jadi ceritanya, aku dapat panggilan untuk sebuah wawancara kerja dengan posisi dosen tetap di sebuah kampus swasta di sebuah kota besar di Jawa Timur (untuk seterusnya aku sebut kampus ITU saja ), sekira Januari 2020 lalu. Kampus ini sendiri terhitung masih baru. Baru sekali meluluskan/mewisuda mahasiswanya. Sayangnya waktunya kok ya bersamaan dengan wawancara di kampus lain. Di mana? ITS Surabaya, saudara-saudara.

Untuk di ITS Surabaya ini aku sudah lulus Tahap Pertama (TKD tapi pake kertas dan pensil 2B) bersama 6 orang lain. Nah, pada saat Tahap Kedua (wawancara dengan Prodi, microteaching, psikotes, dan TOEFL--khusus yang terakhir ini aku cukup yakin skornya bagus) inilah yang waktunya berbarengan dengan tes di kampus ITU.

Dengan segenap pertimbangan, satu di antaranya dari orang tua, aku jalani serangkaian tes Tahap Kedua di ITS yang makan sampai 3 hari itu. Kenapa? Karena nama ITS lebih mentereng dibandingkan kampus ITU, sehingga asumsinya akan lebih baik kondisi kerjanya. Semuanya benar-benar tanpa persiapan. Termasuk dari segi baju. Aku cuma bawa satu setel, karena mengira akan ngelaju saja Surabaya-Bojonegoro (tinggal di situ aku, bro). Tapi kemudian memilih ngehotel saja selama 2 malam yang rate semalamnya kurang dari Rp. 200 ribu dekat-dekat ITS.

Gimana dengan kampus ITU? Aku dapat nomor kontak HRDnya dari email. Dari situ aku hubungi si-Mbaknya dan meminta penundaan tes jika memungkinkan, dan dijadwalkan ulang di hari terakhir tes TOEFL di ITS. Jadi aku bisa agak tenang.

Singkat cerita, setelah berkejaran dengan waktu, makan siang pake nasi dus mika dengan lauk telor dan sambel kentang yang kubeli di terminal, berdoa dalam hati agar bus ekonomi yang lambat jalannya bisa membawaku tepat waktu ke kota di mana kampus ITU berada, sampailah aku di sana. Si Kang Gojek sempet dihadang di gerbang masuk karena mereka dilarang masuk ke area kampus.

Aku pun jalan kaki ke gedung tempat aku akan menjalani tes. Cukup jauh dan menanjak pula, meksipun area kampus cukup rindang, tapi bikin keringatan. Ingat ya, aku gak bawa salin baju selain yang sudah kupakai sejak 3 hari lalu. Bisa dibayangkan aromanya macam mana.

Sehabis menjalani TPA (Tes Potensi Akademik) yang masya Allah angele pol-polan, karena isinya matematika semua (yang mana aku tidak yakin nilainya bagus). Aku menjalani micro teaching yang sudah kusiapkan (hanya 3 slide), disusul dengan wawancara.

Wawancara dimulai dari Pak Kaprodi yang malah seperti diskusi tentang bidang keilmuan dari Prodi yang kulamar (pastinya tahu prodi apa kalau menyimak juga tulisan lain di blog ini yang isinya materi kuliahku untuk kampus di Bojonegoro).

Wawancara kedua ini yang masih terngiang sampai sekarang, karena pakai bahasa Inggris. Sepertinya si penanya, si Ibu/Mbak(?) jadi dosen bahasa Inggris di kampus ITU. Sebetulnya aku bukannya sulit memahami pertanyaannya, tapi ngomongnya itu yang sulit karena nyais seluruh vocabulary-ku mendadak menguap ke awang-awang. Malah jadi gugup. Menurutku level berbahasa Inggris itu yang paling rendah dimulai dari: 1) reading (and understanding), 2) writing (with correct grammar), baru yang ketiga 3) speaking (also with correct grammar). Aku level 2 saja belum komplit.

Ini makanya TOEFL bukan standar yang akurat untuk menentukan kemampuan bahasa Inggris seseorang. Aku bisa mengerjakan TOEFL dengan skor cukup baik (waktu tes ACEPT UGM) karena mengerti trik-triknya, sehingga bisa tembus hanya dengan sekali tes.

Beberapa pertanyaannya khas wawancara kerja yang sudah ada semacam template-nya, seperti, "what's your greatest achievement?" atau "what's your greatest fear?" Ya Allah, sebel gak sih ditanyain pertanyaan copy-paste gitu? Memangnya jawaban apa yang dimaui pewawancara, ha? Ngubek-ngubek internet juga jawaban untuk pertanyaan ini bermacam-macam.

Disuruh jawab malah minta jawaban. Piye sih Mbak Jihan iki?

Namun ada salah satu pertanyaan si Ibu/Mbak-nya yang bikin terhenyak (ciee, terhenyak) adalah "what are you going to do when you're under pressure?" (atau kurang lebih semacam ini pertanyaanya).

Yang sempat terlintas di pikiranku pada saat itu

Aku sama sekali tidak menduga ada pertanyaan seperti ini. Hm, under pressure, dalam tekanan, di bawah tekanan. Apa yang kulakukan? Karena kombinasi dari tidak menduga, tidak memahami apa maksud under pressure, dan gugup dengan bahasa Inggris, aku menjawab (dalam bahasa Inggris terbatako-batako--level up-nya terbata-bata), "aku akan tetap mengerjakan pekerjaan meski di bawah tekanan, jika kesulitan aku akan mendatangi teman/kolegaku, bercerita kepada mereka, dan minta saran mereka."

Yep, that's probably my reaction to my own answer
Akhirnya aku memang tidak mendapatkan pekerjaan sebagai dosen itu, mungkin lebih karena tes TPA-nya amburadul. Tentu saja kecewa, apalagi karena di ITS Surabaya aku pun gagal di Tahap Kedua, yang diterima adalah adik kelasku yang memang secara kualitas dan prestasi jauh lebih mumpuni, jadi tidak apa-apa.

Toh, aku tetap bersyukur bukan hanya karena dua kampus tersebut masuk dalam wilayah zona merah pekat (zona hitam?) penularan Covid-19. Yang aku sendiri gak sanggup membayangkan bakal seperti apa kalau aku betulan kerja di sana, bisa cemas berat kedua orang tuaku. Tapi yang paling penting aku juga jadi belajar apa sih yang dimaksud under pressure dalam kerja itu.

Terus apa sih yang dimaksud under pressure pada saat wawancara itu?

Suatu hari di tengah keterlupaan akan ke-under pressure-an ini aku berpapasan dengan sebuah postingan di 9gag. Iya, 9gag! Seketika ingatan yang dormant ini meluap.

Berikut aku sarikan dari dua komentar di sana:

Under pressure artinya:

  • Deadline (tenggat) ketat.
  • Orang(SDM)nya sedikit, tapi pekerjaannya banyak.
  • Harus bersedia cepat belajar, beradaptasi, karena tidak akan ada yang mengajarimu mengerjakan sesuatu. 
  • Ketika bekerja dalam tim (team player) artinya harus siap menyokong rekan yang ngeselin, tidak kompeten, atau malas-malasan.
  • Tambahan lain yang kutemukan dari hasil googling: tidak mudah frustrasi dan terbawa emosi.

Oh, begini tho, under pressure. Kalau sudah tahu kan aku jadi bisa mengelaborasi jawaban. Next time deh kalau ada pertanyaan model begini, kujawab:

"Jadi kampus ini butuh seseorang yang bisa diandalkan bila menghadapi pekerjaan dengan deadline ketat? Mau ngerjain pekerjaannya dosen lain yang gak kompeten, cepat belajar dan beradaptasi, tidak mudah stres dan frustrasi? Tidak usah mencari lagi, karena saya adalah orang yang tepat...tentunya kalau gajinya cocok. Sekarang mari bicarakan gaji."

you're the man!

Tuh kan, nambah lagi bahasan soal wawancara kerja yang tiada ujung. GAJI.

Imajinasi Pedesaan di Kampung Mina Padi


Sore hari di musim kemarau adalah waktu paling menyenangkan. Anti mendung, tiada hujan, iklimnya hangat pula. Di daerah Jogja utara masih ketambahan udara sejuk, terlebih kalau kamu mengunjungi desa wisata yang belakangan semakin trending saja, thanks to the rise of narcism on social media. Semua orang ingin menunjukkan bahwa diri merekalah yang paling unggul jumlah katalog travelingnya.

Mungkin, mungkin ya. Kalau kamu termasuk penikmat desa. Monggo monggo menyambangi desa wisata satu ini. Namanya Kampung Mina Padi. Berada di dusun Samberembe, kecamatan Pakem, Sleman, Yogyakarta, letaknya di sisi timur dari dusun, diapit persawahan, di pesisir kali Boyong.

Jalan di depan Kampung Mina Padi, Perhatian: lokasi tidak di pinggir jalan besar.
Dinamakan “kampung” dan bukannya “desa” tak lain karena ia bukan desa dalam pengertian adminsitratif, melainkan suatu kawasan imajinatif pedesaan. Tau sendiri kan, semacam ruang khusus yang disediakan untuk pelancong modern agar dapat merasakan sesuatu yang barangkali lama mereka rindukan. Sesuatu yang mereka merasa kehilangan.

Penampakan gerbang depan Kampung Mina Padi

Kehilangan apa itu? Insting alamiah laten manusia yang, ingin memandangi sesuatu yang ijo royo-royo yakni sawah. Diiringi alunan gemericik air sungai yang mengalir ke kolam ikan, hembusan lembut angin beraroma lumpur sawah, dan sebongkah gunung di kejauhan.

Kira-kira seperti itulah gambaran Kampung Mina Padi. Berusaha menggodamu untuk kembali ke desa, kembali ke kehidupan bercocok tanam, jadi petani.

Sign System yang mencoba membangkitkan jiwa agraris masa lampaumu
Penampakan calon petani milenial
Jodohku Anak Pak Tani, bisa jadi judul FTV yang bagus
Sekilas informasi yang kuperoleh, pemrakarsa proyek ini adalah seorang petani bernama Timbul yang rumahnya berdiri tepat di seberang jalan Kampung Mina Padi. Tidak mengherankan jika dia kemudian ingin mempromosikan pekerjaan petani. Yang kita sama-sama tahu profesi ini dikenal masih banyak pahitnya. Setidaknya dalam berita di media massa, di mana harga jual dari apapun yang mereka tanam kerap tidak sebanding dengan jerih payah yang dikeluarkan.

Kail dan jala bisa menghidupimu?

Dengan luas 3 hektar, kampung ini didominasi kolam yang jumlah ikan(nila)nya mungkin mencapai ribuan ekor, dilengkapi dengan arena yang hari ini kita kenal dengan outbond. Tak ketinggalan tentu sawah, sawah, dan sawah dengan tanaman padi yang tumbuh begitu rimbun nan subur. Lokasi yang sungguh menyejukkan hati. Pas buat warga urban melepas penat dari ruwetnya pikiran.

platform buat melatih kekompakan (konon katanya)
Tapi bukan hanya itu, ia juga seperti yang sudah kusebut sekilas, mewakili imajinasi pedesaan. Imajinasi pedesaan ini di/membentuk gambaran dan konsep mental yang mendahului realitas, yakni pedesaan yang ideal. Ideal menurut industri wisata kekinian.

Ini makanya desa biasa yang dibiarkan tumbuh dan berkembang tanpa strategi kebudayaan tidak akan menarik di mata pelancong. Karena bahkan gambaran desa yang ijo royo-royo, dll. itu sudah mulai jarang dijumpai di desa pada umumnya.

Di Kampung Mina Padi ini imajinasi pedesaan dilekatkan—mungkin kamu sudah bisa baca di atas—pada pertanian, sehingga teknik pertanian yang sebenarnya modern menyaru seolah tradisional di saat bersamaan. Sehingga selain muncul kesan klasik bahwa pertanian=pedesaan (dan sebaliknya), juga muncul bahwa bertani=kembali ke tradisi asali yang sederhana, padahal secara terang-terangan kampung ini tidak sungkan memamerkan papan-papan bertuliskan jenis bibit unggul bersponsor.

Dilihat dari rimbun dan sehatnya padi ini, perawatannya pasti serius dan berbujet tinggi

Jadi pelancong tidak hanya mendapat udara segar, keeksotisan desa, dan yang pasti foto-foto untuk dipamerkan di Instagram, tapi sesungguhnya mereka juga beroleh pengetahuan bahwa kini jadi petani sudah jauh lebih mudah, semua berkat teknologi pertanian modern: bibit unggul yang orientasinya adalah produksi.

Maka pada ujungnya tanpa disadari apa yang awalnya hanya imajinasi tentang desa, sedikit-sedikitlah pasti mampu menyemai (kita pakai istilah tani) persepsi, opini, dan perilaku atas pertanian.

Dapat bantuan internasional! Jujur aku iri kenapa dusunku tidak mengembangkan diri juga seperti ini.

Lalu apakah pengunjung atau lebih tepat pelancong lantas ingin beralih diri jadi petani? Kalau aku sendiri sih lebih menjadikannya sebagai pengalihan sementara dari kemonotonan kerjaan…eskapisme, untuk kemudian balik lagi ke pekerjaan tetap. Tapi setidaknya upaya kampung Mina Padi menonjolkan ke-petani-annya ini layak diapresiasi. Maka mari kita nantikan beberapa tahun dari sekarang akankah jumlah petani meningkat?

Everything is dildo if you brave enough

Catatan:
Konsep Imajinasi dibantu dari bukunya Tedjoworo – Imaji dan Imajinasi


Jalan Berliku Embung Batara Sriten

Barangkali salah waktu, awal musim hujan 2015 dipadu dengan topografi Gunung Kidul yang memang keras melengkapi penderitaan motorku dan kedua lengan ini dalam perjuangan menggapai puncak tertinggi kabupaten yang dikenal dengan objek wisata pantainya. Butuh lebih dari pengalaman bermotor demi menaklukkan tanjakan dan turunan: yaitu niat bin tekad. Tapi aku terlalu menyanjung diri bila memanfaatkan kata-kata barusan, lebihlah tepat dikatakan: terlanjur basah kepalang tanggung, this is the point of no return *nyambung gak?*

Tempat wisata yang dituju rombongan kami bernama Embung Batara Sriten. Sebuah embung di Gunung Kidul yang satu paket dengan puncak Tugu Magir dan tergolong masih baru. Rencananya (menurut blog-blog sebelah) tempat ini akan dibangun menjadi kebun buah kelengkeng dan manggis. Gak jelas alasan kenapa mereka memilih manggis. Padahal manggis kan sudah ada ekstraknya ya? Ha ha.

gunung kidul
Embung Batara Sriten
Tidak ada papan penunjuk menuju lokasi dari jalan utama. Jadi dengan bijaknya meski terlambat (setelah yakin bahwa kami sudah kebablasan), kami menanyakan arah dan rute kepada warga sekitar yang bisa ditemui dengan mudah di pinggir jalan. Seharusnya kami mulai mengurangi laju motor begitu melihat deretan bukit di sisi utara jalan yang mengarah ke Nglipar dan lalu Klaten. Patokannya cukup jelas: Kantor Kepala Desa Pilangrejo, tapi rombongan kami melewatkannya. Dari sini tinggal ambil ke utara atau ke kiri kalau dari arah Sambipitu.

nglipar
Kantor Kepala Desa buat patokan
Lembaran petunjuk lokasi yang sudah mulai pudar warnanya baru terpampang di sejumlah titik di jalan masuk kampung. Tujuan pemasangannya seperti memastikan bahwa kami tidak salah ambil jalan (sekaligus meyakinkan pengunjung tidak salah jurusan). Walau sebenarnya papan petunjuk tidak benar-benar dibutuhkan karena kamu toh hanya perlu menduga bahwa jalur yang akan membawamu ke atas adalah hampir selalu jalur yang menanjak.
embung batara sriten
Penunjuk jalan yang nyempil dan mungil
Awalnya jalan aspal terhitung mulus untuk ukuran desa. Tapi setelah melintasi sebuah masjid (Abu Bakar Asy Sidiq). Tiba-tiba jalan terjal meliuk tajam, mendaki, dan menurun, terhampar tanpa ampun sejauh 4 km! Semua ini diperparah dengan selang selingnya jalan corblok yang di banyak titik remuk redam, merekah pecah bersatu dengan batuan runcing dan juga tanah merah lembek. Juga tidak dilupakan bagaimana jalan cukup sempit (hanya seukuran satu mobil), itupun tanpa pagar pembatas dari jurang menganga di satu sisinya. Sesekali kami bersua dengan papan peringatan yang meminta pengendara pindah ke gigi satu dan mengecek kondisi rem (sebuah peringatan yang harusnya direntangkan jauh jauh sebelumnya). Sungguh sebuah kondisi yang sangat tidak beradab lagi tidak berperikemanusiaan (bagi manusia modern yang terbiasa dimanjakan jalan aspal). Pendeknya, esktriiim!

petualangan ekstrim
Jalan corblok yang belum parah banget, buat peringatan apa yang akan menantimu di depan sana
Kemahadahsyatan jalan ini membikin aku terpana ketika tahu bahwa masih ada pemukiman (mungkin perkampungan) di atas sana. Gak kebayang kalau ada warga yang punya urusan gawat darurat (misalnya harus ke rumah sakit segera). Dia harus menerobos jalan yang hancur lebur. Kenyataan macam ini kemungkinan besar berandil pada sikap tangguh warga sana. Dan itu dengan jelas terlihat. Beberapa kali kami berpapasan dengan warga (dan anak SMA) menggilas jalanan nan brutal, meninggalkanku yang terheran-heran sekaligus tersalut-salut. Aku jadi merasa segan mengeluh. Warga desa di sana sudah lama mengalaminya hingga “penderitaan” tidak lagi terasa bagai penderitaan.

Sekedar buat perbandingan, jalan ke Embung Batara Sriten lebih parah daripada ke Embung Nglanggeran. Ketika mengunjungi Embung Nglanggeran di tahun 2014 jalan berbatu-tanah masih lebih lebar dan terasa lebih aman karena kamu cukup berjarak dari tepian jurang. Kira-kira setaralah dengan jalan ke Pantai Timang Gunung Kidul. Aku sendiri ragu bila dalam dua-tiga tahun sudah ada langkah berarti untuk mengubahnya jadi jalan aspal *agak sok tahu sih emang*. Paling pol corblok, itu pun gak akan mencakup seluruhnya dari pucuk bukit hingga bawah.
musim kemarau
Di tepian embung (foto oleh Yant)
Sampai di tujuan badan ini begitu letih, ngilu-ngilu, dan tenaga terkuras. Padahal aku nyetir motor sendirian, gak berboncengan. Apakah semua itu terbayar? Aku berani bilang hell yeash! Pemandangan sekeliling dari embung dan puncak tertinggi Gunung Kidul amat (aku tidak punya kata-kata lain untuk mengungkapnya)...indah...amazing...spektakuler, biarpun agak mendung. Tapi jika boleh memilih aku akan memilih untuk tidak melewati jalan yang gak manusiawi barusan. Kalau punya, datanglah ke embung pakai helikopter saja. Tempat parkirnya tinggal milih, wong cukup sepi.

danau
Embung menghijau
puncak gunung
Pemandangan dari atas, Rawa Jombor Klaten pun terlihat (foto oleh Yant)
Embung Batara Sriten tidak seluas Embung Nglanggeran. Namun itu hanya kesan sekilas karena bentuknya yang agak segitiga. Barangkali dari segi angka luasnya nyaris mendekati. Di rumah aku mengukur panjang dan lebar kedua embung via Google Earth. Panjang Embung Batara Sriten mencapai seratusan meter, sedangkan Embung Nglanggeran sisi terpanjangnya ‘hanya’ sekitar 80 meter. But, size doesn’t matter, right? Karena yang dijual dari kawasan Batara Sriten adalah pemandangan puncak tertinggi Gunung Kidul: Puncak Magir yang... entah kenapa kok ada makamnya dan entah makam siapa pula itu. Jika boleh kukomentari *tentu boleh kan ini blog-ku* itu makam bad ass banget! Lebih mewah, sejuk, dan syahdu, daripada San Sicko Hills di Karawang. Bayangin, dia sendirian menikmati panorama seajaib ini siang-malam.
embung batara sriten
Makam orang hebat
Blog-blog tetangga mengembel-embeli lokasi ini dengan “embung di atas awan” atau semacam itu sehingga awan-awan akan tampak menggantung dari sana. Hm..., jangan percaya! Awan punya ketinggian setidaknya 2000 meter dari tanah. Sementara Puncak Magir hanya 859 meter. Kalau yang dimaksud adalah awan-awan terasa lebih dekatpun sebenarnya tidak juga. Tapi tidak perlu buru-buru kecewa sebab pemandangan dari puncak tertinggi mencapai 360°. Itupun kalau kamu berani menapaki pucuk bukit yang lumayan curam di tengah cuaca suram (Ingat! Aku datang pas awal musim hujan). Tiada pembatas antara kaki dengan jurang jadi lihat-lihat kemana kamu melangkah. Waktu aku mencoba berdiri di tugu mungil saja tubuh ini bergetar, takut bila sampai jatuh bergulung-gulung atau diterbangkan angin. Iya, angin berembus kencang, tambahan lagi badanku kurus.

puncak tertinggi gunung kidul
Tugu di puncak (foto oleh Yant)
embung batara sriten
Pemandangan dari puncak (foto oleh Yant)
Petuah yang bisa kusumbangkan adalah: datanglah ke embung pada akhir musim hujan-jelang musim kemarau. Karena dijamin saat itu adalah saat yang paling tepat. Embungnya pasti akan lebih segar karena penuh terisi air tidak seperti saat kami yang mendatanginya di awal musim hujan, air di embung kelihatan kurang penuh. Musim hujan bukan hanya memperburuk keadaan jalan, mengubah tanah menjadi lumpur kemerahan yang sangat mencintai ban kendaraan, saking lekatnya. Selain itu di awal musim kemarau tetumbuhan juga pasti akan lebih hijau dan pandangan akan bebas dari mendung.

embung batara sriten
Pucuk bukit tertinggi di Gunung Kidul di awal musim hujan: mendung, rumput kering, dan sampah bertebaran
Gunakan motor non matik. Pilihan motor bukan hanya mempermudah saat menanjak tapi juga menurun. Semula aku membayangkan betapa tidak mungkin naik ke sana pakai mobil dan betapa kerasnya kerja seorang sopir mengendali mobil, sehingga membuat mobil tampak bagai kendaraan opsi terakhir, nyatanya toh ada mobil jenis Carry selamat mendarat di puncak. Tapi seprima-primanya pilihan kendaraan dan sejago-jagonya sopir, masih lebih baik jika menanti hingga jalannya sudah beres (dua-tiga tahun lagi?).

Sering orang (sok) bijak mengatakan bahwa hal paling indah bukanlah sampai di tujuan, melainkan perjalanannya itu sendiri, atau kira-kira seperti itu. Menurutku orang ini belum pernah merasakan nyetir sepeda motor ke Embung Batara Sriten atau minimal Pantai Timang, so fak yu!


embung batara sriten
This is a nice place to scream "Fak Yu!" (foto oleh Yant)
(JinoJiwan)