Ulasan Panjang Film Wiro Sableng

Jika ditanya apa serial televisi Indonesia 90-an yang meninggalkan kesan begitu dalam bagiku jawabannya adalah Wiro Sableng. Tampil hanya setiap Minggu siang di RCTI (tidak seperti sekarang di mana sinetron tayang setiap hari selama 2 jam) Wiro Sableng versi sinetron, terutama sewaktu diperankan oleh Ken Ken (fuck the other guy really), menguasai imajinasiku atas kemasalaluan Nusantara dan dunia perpendekaran (persilatan). Hingga saat aku nangkring di bangku bioskop awal September demi menonton filmnya, lagu tema dari masa lalu itu terngiang...

 “Wiro sableng, dasar sableng,gurunya gendeng, muridnya sableng …”



Wiro Sableng yang asli

Jauh ketika mendengar kisah pendekar legendaris ciptaan Bastian Tito akan dibikinkan format layar lebarnya (untuk sekian kali), aku termasuk dari kalangan yang bergembira ria namun juga tidak yakin, bahkan khawatir akan kualitas film ini. Wiro Sableng dari segi karakternya terlampau kompleks untuk dipadatkan ke dalam satu buah film berdurasi 2 jam.

Bila serial televisinya bisa memberi banyak waktu bagi pembuatnya untuk mengembangkan aspek menarik pendekar bernama asli Wiro Saksana perlahan-lahan dari ratusan cerita silatnya (cersil) dan buat penontonnya sendiri untuk membangun imajinasi karakter ini dalam benak mereka, aku khawatir film ini tidak akan sanggup melakukannya (semacam do justice gitu).

Omong-omong, tahukah kamu bahwa selain pendekar 212 yang kita sudah sama-sama tahu siapa, ada pula Pendekar 108: Si Mata Keranjang, Pendekar 131: Si Joko Sableng, dan Pendekar 71: Si Gento Guyon?

Enam cersil yang tokohnya mirip Wiro Sableng

Iya, sama seperti Si Buta dari Goa Hantu karangan Ganes TH yang dikopi sekaligus diejek Tatang S. menjadi Si Gagu. Wiro Sableng memunculkan epigon-epigon dari penulis lain yang bukan saja tanpa sungkan mengekor keber-angka-annya namun juga perilaku dan pembawaan Wiro Sableng yang agak dungu-dungu kocak-gila.

Selain nama-nama di atas ada pula Satria Gendeng, Pendekar Blo’on, Pengemis Binal, dan Pendekar Slebor. Siapa penulisnya? Silakan cari sendiri. Aku menemukan data ini di sejumlah forum cersil di internet yang kadang di sampulnya pun kerap tidak menyertakan nama si penulis.

Kurasa di situlah letak seksinya Wiro Sableng. Berbeda dari Jaka Sembung yang sangat stoic dan terikat kode moral agama, Panji Tengkorak pengelana yang sendu, dan Barda Si Buta dari Goa Hantu pemendam dendam. Wiro Sableng punya cara pandang yang berbeda terhadap dunia. Dia menertawakannya sembari tetap membawa keseriusan. Semacam komentar sosial kritis namun komedik (atau parodik?) atas segala masalah yang mendera umat manusia.

Wiro Sableng adalah pendekar yang  pembawaannya santai dan sangat fleksibel bahkan terhadap kode moral hero: dia tidak segan membunuh (penjahat tentu saja), minum minum, dan tidur dengan perempuan. Keunikan ini yang membuatnya berbeda dari pendekar lain; membuatnya ditiru penulis cersil lain, barangkali karena sebagai hero dia lebih dekat dengan manusia biasa.

Meminjam komentar dosen pembimbingku (Prof. Faruk) atas sosok Wiro Sableng—jika tidak keliru mengingat—yang disebutnya sebagai pendekar yang berada di antara waras dan gila, dia adalah sosok berkelakuan nyeleneh tapi hatinya wali. Dengan segenap latar inilah pengharapanku atas film ini menanjak.

Tentu bukan cuma itu. Selain keterlibatan Yayan Ruhian sebagai penata adegan silat dan sederet aktor pendukung lain, ada bujet yang konon mencapai 2 juta dolar AS. Cukup besar untuk ukuran film Indonesia, sehingga tidak ada alasan mengada-ada buat tidak menjangkau suatu standar film yang enak ditonton. Seminim-minimnya cerita dan plot yang prima, atau sekurangnya penulisan karakter (transformasi karakter/character arc) yang masuk akal, itu kalau CGI a la Hollywood terlalu berat dikejar, atau kalau capaian eksyennya The Raid sulit disamai.

Dari segi kisah, Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (selanjutnya menjadi Wiro Sableng 212), tidak bergeser teramat jauh dari dua cersil Wiro Sableng terbitan awal: Empat Brewok dari Sanggreng dan Maut Bernyanyi di Padjajaran.

Tanpa Spoiler Alert—untuk sekedar menyinopsiskan—ceritanya dimulai dari dibunuhnya Ranaweleng dan Suci, orang tua Wiro Saksana oleh Suranyali (Mahesa Birawa). Dijadikannya Wiro cilik sebagai murid oleh pendekar Sinto Gendeng hingga dilepasnya Wiro dewasa untuk berkelana mencari pembunuh ayah-ibunya yang juga kakak seperguruannya itu. Dalam petualangan tersebut Wiro turut menyelamatkan kerajaan Padjajaran dari serangan para pemberontak.

Dengan plot sederhana ini saja seharusnya Wiro Sableng 212 tidak akan kekurangan bahan pemikat, sehingga tidak perlu ditambah-tambahi plot lain dan segunung karakter yang tidak menyumbang peran lebih terhadap perkembangan cerita. Tapi nyatanya itulah yang terjadi. Wiro Sableng 212 begitu riuh, berlawanan dengan kosong-kosongnya kursi di bioskop.

Iya, suasana di dalam studio yang memutar Wiro Sableng 212 sore itu cukup lengang, sehingga aku leluasa bergeser tempat duduk (di sebelah kiriku ada seorang cowok duduk sendirian soalnya, merasa senasib aku bergeser satu kursi ke kanan, bikin sekat privasi dab).

Kuperhatikan pula beberapa dari penonton tampak berada di rentang usia yang lebih muda dariku. Aku yakin ketika sinetron Wiro Sableng tayang 1990-an mereka masih imut-imut atau malah belum lahir.

Yang mana membuatku bertanya-tanya, mengapa mereka mau menonton film ini? Berbeda dari generasiku yang mungkin ingin merasakan atmosfer nostalgia dan penasaran akan seperti apa filmnya. Generasi mereka barangkali tergoda oleh promosinya yang gencar atau ingin menatap wajah mulus Vino G. Bastian, aktor dan model yang juga putra pengarang pendekar kapak naga geni 212, Bastian Tito, sama seperti sebagian orang yang masih belum bosan ketemu Reza Rahadian lagi dan lagi di layar lebar.

Terus terang Vino G. Bastian bukanlah aktor favoritku. Pembawaannya dari sinetron dan film-filmnya terdahulu masih sangat terasa di sini. Cuma secara sporadis sepanjang durasi film aku bisa melihat jiwa sableng ideal dari Wiro Sableng, yang tak lain merupakan residu dari Ken Ken, sisanya aku masih melihat seorang Vino yang yah…gitu deh. Tidak banyak berubah. Aksen ibukota Vino pun masih kental terdengar, belepotan di sana-sini meski ia sudah berjuang untuk menekannya.

Pertanyaannya adalah, apa tidak ada aktor lain yang lebih pantas memerankan Wiro Sableng? Jelas berlimpah ruah. Tidak harus mencari yang terkenal, sebisa mungkin malah yang tidak terkenal. Secara umur Vino sebetulnya juga sudah kurang layak karena Wiro Sableng seharusnya masih remaja. Itu sebabnya Wiro dilepas oleh Sinto Gendeng untuk turun gunung setelah genap 17 tahun berlalu, artinya usianya adalah 17 tahun.

Vino di sini, istilahnya sudah kurang pas untuk memerankan Wiro yang masih berjiwa “sableng.” Itu sebabnya dia kurang bisa sableng maksimal di sini. Bukan berarti Vino tidak bisa membawakan tokoh Wiro untuk paling tidak tiga film ke depan, hanya saja dengan usianya yang hampir kepala empat, sulit bisa percaya bahwa tokoh Wiro masih edan-edannya. Apalagi karena dalam cersilnya, Wiro bertransformasi menjadi lebih bijak seiring usianya yang bertambah. Jadi, jika film ini masih ada terusannya (sekuel), besar kemungkinan kita tidak akan menjumpai Wiro yang sableng lagi.

Bukan rahasia memang bila Vino menginginkan peran atas tokoh kreasi ayahnya. Begitulah yang ditulis media massa bertahun lalu ketika obsesinya itu disampaikan. Apalagi Vino muda sempat jadi model sampul novel (?) teenlit Boma Gendenk.

Covernya emang rada norak
Siapa itu Boma Gendenk? Boma Gendenk yang mengingatkan pada Catatan Si Boy dan serial Lupus
adalah semacam sempalan (spin off) dari serial Wiro Sableng yang berfokus pada remaja SMA bernama Boma. Bedanya ia berlatar “masa kini,” masa kini 90-an tentu saja, waktu di mana serial ini di tulis Bastian. Kisah masa kini itu berjalan paralel dengan masa di mana alkisahnya Wiro Sableng atau tokoh-tokoh dalam cersil Wiro Sableng masih hidup. Cukup menarik sebenarnya kalau mau dibuat sinetronnya. Mumpung sekarang sedang ngetren sinetron ngamuk-ngamukan (Hei, aku sedang melototin kamu Anak Jalanan dan Anak Langit! Iya kamu!).

Tapi apa hanya dengan bermodal keinginan saja cukup buat Vino? Jelas tidak. Dipilihnya Vino untuk memainkan Wiro Sableng adalah juga pertimbangan tampilan fisik dan fansnya. Sama seperti belum bosannya sebagian orang menggandrungi Reza Rahadian yang masuk checklist standar tertentu (yaitu: putih, tinggi, dan indo), begitulah juga Vino. Sudah dia anak Bastian Tito, ganteng pula untuk sebuah standar entertainmen yang dibentuk salah satunya oleh Hollywood.

Bicara soal Hollywood, aromanya memang sangat terasa sedari detik awal film dibuka. Tidak, bukan logo 20th Century Fox yang aku maksudkan. Logo yang dibangga-banggakan para warga net Indonesia yang mana malah menampakkan mental inferior kita di mata warga dunia. Yang aku maksud adalah saat di mana Mahesa Birawa dan komplotannya hendak menggasak desa Jatiwalu. Pembukaan yang mengingatkanku pada film Apocalypto ketika para pemburu bayaran hendak menyerang pemukiman Jaguar Paw di tengah belantara. Sialnya, adegan pembuka ini adalah satu-satunya yang berkesan buatku dari film Wiro Sableng 212.

Dan, seperti film super hero Hollywood yang memopulerkan mid-credit scene dan post-credit scene, Wiro Sableng 212 menggunakan formula yang serupa, memberikan adegan selepas kredit-awal. Walau sayangnya tanpa konteks berarti yang dibuat dengan mengasumsikan seolah penontonnya mengerti sejarah dan mitologi Wiro Sableng yang cersilnya pertama kali terbit 1967, lebih dari lima puluh tahun lalu.

Lalu, tak sulit menemukan model komentar bernada “apresiatif” sebagai berikut: “Hei, film kita sudah selevel film Avengers karena ada adegan sesudah kredit! Kita harus bangga! Ini waktunya kita mendunia.”

Pertanyaannya, apakah pembuatnya berharap penonton bakal excited (senang?) bahwa akan ada sebuah sekuel yang belum lagi akan dikerjakan?

Bahwa akan ada tokoh yang kita gak tahu “siapa mereka” sebetulnya?

Wiro Sableng dan segenap pendekar silat fiktif lokal, seperti Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Jaka Sembung maupun super hero semacam Gundala dan Godam, sudah lama ter/dicabut dari akar komik (baca: literatur) Indonesia. Komiknya sudah menjadi relik sejarah dengan harga tinggi di mata kolektor dan DIBIARKAN dalam keadaan demikian. Jejaknya lama hilang dan mereka kini tertatih terseok di tengah iklim komik global.

Berbeda dari industri film Amerika Serikat yang bersinergi dengan industri komiknya. Komik super hero Amerika masih terus diproduksi dan diperbarui lewat beragam versi sehingga source material-nya semakin kaya. Pembuat film super hero tidak akan kesusahan mencari ilham.

Komik Indonesia lawas susah payah mengeksistensikan dan mengekstensikan diri di Klasika Kompas, sisipan yang mungkin diabaikan orang. Mereka menjejak kaki pada label “hero legendaris” yang HARUS dipertahankan. Tetapi tidak tahu MENGAPA perlu dipertahankan.

Cersil Indonesia sendiri tidak berbeda drastis nasibnya. Tidak pernah mendapat pengakuan kesastraan dari pemerintah lewat corong Depdikbud-nya. Tidak satupun pengarang cersil yang masuk “wadah” angkatan sastrawan. Pengarang cersil sengaja disingkirkan karena mereka adalah deviants yang karyanya tidak sesuai dengan proyek kesastraan yang polanya dikotak-kotakkan itu.

Cersil Wiro Sableng bukan pengecualian. Dulunya dijual di kios pinggiran dengan harga murah di atas kualitas kertas yang buruk, kini file pdf-nya beredar secara gerilya di internet. Kiranya posisi demikian kian menegaskan kemarginalannya.

Lenyapnya akar literasi ini yang kiranya kurang diperhatikan pembuat film dengan mid-credit scenenya. Wiro Sableng 212 bimbang hendak kemana, melayani siapa. Penonton “milenial” atau pembaca cersilnya.

Siapa kiranya peduli dengan kemunculan tokoh yang penampakannya antagonis itu jika tidak diberi penjelasan bahwa dia adalah musuh utama Wiro Sableng, Pangeran Matahari? Karena kemungkinan besar hanya pembaca cersilnya yang usianya kini di atas 30-60 tahun yang paham referensi tersebut, meski belum tentu juga. Sehingga aku merasa bahwa mid-credit scene ini jika bukan kesia-siaan, ya semacam coba-coba mengekor Hollywood sekaligus mengetes reaksi penonton.

Resep Hollywood ini juga terasa dari upaya pembuat filmnya membangun sebuah cinematic universe selayaknya dilakukan [dengan sukses oleh] Marvel-Disney. Wiro Sableng yang sebenarnya sebagai tokoh pendekar sudah sangat kuat ternyata masih butuh sokongan sesama pendekar lain.

Tidak salah tentu, karena seorang hero dalam konsepnya hampir selalu membutuhkan bantuan teman-temannya (side kick). Tapi apa perlunya teman-teman dari si hero ini jika mereka tidak menjalani fungsi tertentu, yaitu sebagai pembantu dari si hero, bukan hendak menyamainya.

Misalnya si Bujang Gila Tapak Sakti yang asalnya antah berantah ini. Bukankah film ini sudah punya comic relief yang diemban oleh tokoh utama, Wiro Sableng sendiri. Jika rekan seperjalanannya sama-sama gilanya—apalagi namanya saja pakai embel-embel “gila”—maka keduanya jatuh ke dalam kedataran, karena keduanya saling berusaha tampil lebih edan dan bodoh satu sama lain.

Setiap arketip tokoh dalam sebuah cerita selalu mewakili fungsi tertentu. Buat apa ada dua tokoh yang persis sama terlebih berada di kutub yang sama? Hilangkan saja Si Bujang Gila dan plot film tidak mengalami perubahan berarti.

Menyoal fungsi, Wiro di sini juga tidak tampak cukup mulia. Berbeda dengan versi cersil di mana sedikit-sedikit Wiro menolong orang yang sedang kesusahan. Di film ini—yang bertema pendekar baik melawan pendekar jahat—hampir tidak ada kebajikan yang diperbuat Wiro untuk menghantarnya pada peran hero klasik tersebut.

Jalan yang dilaluinya secara kebetulan melintasi pemberontakan atas sebuah kerajaan yang entah buat apa dia—sebagai pengelana—merasa punya kepentingan atasnya, jika tidak [secara kebetulan] melibatkan Mahesa Birawa musuhnya.

Mahesa Birawa yang seharusnya berdiri di sisi seberang Wiro juga tidak cukup terlihat kekejiannya. Sayang sekali, tampang Yayan Ruhian yang secara natural selalu pantas memerankan penjahat di film-film terdahulu tidak cukup menguarkan auranya di sini.

Kita bisa ikut merasa segan sekaligus kagum pada sosok Mad Dog di film The Raid yang saking bad ass-nya dia sampai jadi meme. Mungkin jangan-jangan diam-diam Gareth H. Evans pandai juga meramu karakter. Dalam The Raid, sosok Mad Dog sebagai seorang petarung gila nan tangguh dibangun lewat kebrutalannya sewaktu menghadapi Sersan Jaka (Joe Taslim) dan ketenangannya melawan dua bersaudara, Rama (Iko Uwais) dan Andi (Dony Alamsyah).

Nulis cerita tapi gak tahu tentang apa, biar greget

Lupakan bahwa penulis naskah Wiro Sableng 212 ada tiga orang, yang salah satunya Seno Gumira Ajidarma, pengarang novel Nagabumi yang kemungkinan namanya dipinjam demi meningkatkan gengsi di mata calon penonton. Ketiganya tidak sanggup menjabarkan character arc Mahesa Birawa sebagai musuh besar dengan menarik dan masuk akal.

Para penulis naskah ini telah gagal menyajikan Mahesa Birawa selaku antitesis dari Wiro Sableng. Memang cersilnya kurang sanggup menjelaskan latar karakter Mahesa dengan cukup baik, dan ini seharusnya menjadi ladang bagi penulis naskah untuk menetapkannya menjadi penjahat yang kompeten.

Tapi sepanjang film ‘hanya’ dua kejahatan besar yang dilakukannya: membunuh Ranaweleng, ayah Wiro dan berupaya merebut kapak pusaka milik Sinto Gendeng. Sudah, itu saja.

Ketika dia mati, orang tidak ikut bahagia, sama seperti ketika dia tampil di layar, orang tidak ikut sebal, takut, atau cemas terhadap keselamatan Wiro dkk. Mahesa semata hanya “nongol,” untuk kemudian dia lenyap. Pertarungan puncak di akhir film pun terasa antiklimaks, tak lain satu di antaranya karena Wiro kudu dibantu oleh teman-teman barunya yang tidak punya urusan langsung dengan Mahesa Birawa.

Padahal Mahesa Birawa adalah musuh “bebuyutan” Wiro yang pertama. Dia adalah alasan Wiro Sableng dikirim turun gunung oleh Sinto Gendeng. Tidak, bukan hanya itu. Dia adalah alasan Wiro diambil jadi murid Sinto Gendeng. Mahesa Birawa adalah tugas pertama Wiro untuk membuktikan kapasitas diri sebagai pendekar. Namun perannya tidak lebih dari musuh generik yang dangkal.

Mahesa Birawa memang lantas memimpin pemberontakan atas sebuah kerajaan yang tidak disebut namanya. Namun motivasinya tidak digali lebih jauh selain ucapan: “kita bangun yang baru di atas tatanan lama.” Yang menunjukkan bahwa karakter Mahesa Birawa punya potensi lebih jika mau digali lebih.

Bahwa jangan-jangan dia cuma sosok yang disalah-pahami oleh orang awam. Mungkin maksud Mahesa Birawa baik, ingin menjungkalkan raja Kamadaka yang mungkin menurutnya tidak tahu caranya menjalankan kerajaan.

Dengan dana raksasa (sekali lagi untuk ukuran film Indonesia), Wiro Sableng 212 bukan hanya seakan tidak percaya diri kepada potensi karakter Mahesa Birawa (dan Yayan Ruhian) tapi juga ingin menyaingi skala Hollywood. Ini mendorong Mahesa Birawa ditenggelamkan oleh penulis naskah melalui parade tokoh-tokoh pendekar musuh yang di dalam film jadi forgettable dan layak diteriaki who the f*ck are they anyway.

Padahal di dalam cersilnya tokoh-tokoh musuh ini cukup layak dikenang karena keunikannya: misal Bagaspati dan Pendekar Pemetik Bunga yang di film ini mereka tidak lebih dari sekedar tempelan. Jika aku tidak mau repot menengok poster promosinya aku tidak akan tahu kalau Cecep Arif Rahman yang memerankan “The Assassin” di The Raid 2, kebagian jadi Bagaspati.

Terlepas dari kekurangannya, film ini tetap punya niatan serius. Ini tampak dari departemen wardrobe dan makeup (kecuali Sinto Gendeng yang kelihatan banget makeupnya). Rasanya bolehlah kalau di dada para desainer-kostum disematkan bintang penghargaan “penyelamat film.”

Pakaian semua tokohnya (terutama penjahatnya) cukup imajinatif, mampu menghidupkan pembayangan pembaca atas tokoh-tokohnya dalam cersilnya. Hanya pakaian Mbak Bidadari Angin Timur yang terlalu terasa aroma kekiniannya. Melihat sandangan yang dikenakan tokoh yang diperankan oleh istri aktor utama ini bak melihat ibu-ibu ‘peri’. Bukan peri dalam sinetron melainkan baju peri a la baju karnaval pada aneka acara festival yang belakangan sering dihelat di daerah-daerah.

Keunggulan lain dari film ini adalah pemilihan lokasi yang sulit dideteksi keberadaannya oleh warga awam yang jarang jalan-jalan (seperti aku). Latar hutan, pegunungan, ngarai, sungai sangat menyejukkan mata sekaligus meyakinkan bahwa kisah terjadi di semesta persilatan. Istana kerajaan pun kelihatan bukan sekedar pakai tempat yang sudah ada namun butuh untuk diadakan alias dibuat dari nol. Keduanya memberi nyawa bagi film ini, sejenis redeeming quality.

Ke depannya (di sekuelnya bila jadi dibuat) aku berharap, sutradaranya, siapapun nanti, mau ikut bertanggung jawab terhadap naskah. Pastikan juga penulisnya bukan orang yang sama dengan ini film dan sebisa mungkin patokannya tidak melulu Hollywood. Bukannya anti asing, tapi kita ini butuh standar sendiri yang tujuannya bukan mau menyaingi, cukup bikin film yang enak ditonton dan bisa dinalar.

Catatan Akhir:

1. Agak lebay kalau aku bilang Wiro Sableng adalah satu-satunya sinetron berkesan bagiku, karena  masih ada Si Doel Anak Sekolahan dan beberapa sinetron jadul bermutu (diangkat dari novel) yang dibintangi Paramitha Rusady, Desy Ratnasari, Dian Nitami, Ari Wibowo, Cok Simbara, Ayu Azhari, Meriam Bellina, Gunawan (yang pakai embel-embel Sahrul maupun yang tanpa), Anjasmara, Primus Yustisio, dll. Gak ingat lagi judul sinetronnya, apalagi ceritanya. Yang jelas lagu-lagu soundtracknya masih enak didendangkan hari ini, salah duanya Keliru (Ruth Sahanaya) dan Bahasa Kalbu (Titi Dj).

2. Komik Indonesia hingga sekarang masih berusaha menemukan warna khasnya setelah sempat dijejali komik Amerika di tahun 1950 hingga 60-an dan manga di tahun 1990-an. Kehibridaannya kerapkali dibantah-bantah dan disingkirkan, bukannya diakui.

3. Muncul kembalinya komik Indonesia lawas sepertinya tidak disertai alasan kuat mengapa harus dimunculkan kembali. Ini juga terjadi dalam film-film yang muncul belakangan. Dari Warkop DKI yang me-Reborn diri, Benyamin Sueb versi Reza Rahadian, dan Suzanna berwajah Luna Maya yang bukannya membuat ulang (remake) dengan menambah kebaruan, mereka jatuh pada mimicking atau lebih tepat melakukan impresi dengan dalih melestarikan aktor dari film-film tua tersebut kepada generasi muda.

4. Kekurangan lain film ini: Aku yang berusaha menjauhi trailer dan poster promonya terkejut dengan pemilihan Marcel Siahaan sebagai Ranaweleng. Nyaris tidak ada kemiripan struktur wajah dengan si Vino. Malah awalnya kukira dia ini malah aktor Jepang yang entah siapa. Satu lagi, romansa Wiro Sableng dengan Rarawuni terasa dipaksakan. Hanya dengan bertatapan sejenak lalu sudah jatuh cinta? Ini membikin aku tidak merasa trenyuh, simpati, dan kasihan saat Rarawuni tewas.


Sebelum Iblis Menjemput Versi Ringkas

Di sebuah villa kuno RAY SAHETAPY duduk tepekur merenungkan nasibnya. Keuangannya tengah seret. Tapi itu tidak menghalanginya menampilkan kedalaman emosi hanya lewat ekspresi wajah minim dialog. Mungkin dia sedang galau mengapa sepanjang sisa durasi dia hanya boleh berakting tidur oleh SUTRADARA TIMO TJAHJANTO.

Tiba-tiba speaker bioskop digedor oleh Sutradara Timo.

Ray bangkit, buru-buru membukakan pintu. Dia terkesiap, penonton apalagi. Kita melihat “Si Ibu Pengabdi Setan KW3” berdiri di ambang pintu.

Ray Sahetapy : “Ib..Ibu? ….Ibu sudah bisa..”

Ibu Pengabdi Setan KW3: “Shhh…, saya bukan Ibu… panggil saja saya MAWARNI.

Mawarni masuk ke villa, mondar-mandir sebentar sebelum turun ruang bawah tanah.

Ray Sahetapy: “Ah ya, tentu saja. Tidak pernah ada sebelumnya film horor yang menampilkan ruang bawah tanah…”

Mawarni kemudian menaburkan serbuk kapur di lantai untuk menggambar…seperti sudah kamu duga, PENTAGRAM!, sambil merapal mantra yang didapat secara random oleh Sutradara Timo dari kamus bahasa latin koleksinya.

Lalu Iblis pun muncul atau…merasuk ke dalam Mawarni atau Iblis yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mawarni melayang satu meter dari lantai. Sejurus kemudian ribuan lembar seratus ribuan lawas berterbangan. Ray kelimpungan memungutinya.

Mawarni: “Ray Sahetapy, kamu bisa kayAAA rayAAA… tapi kamu harus menyediakan tumbAAAALLL.” (membuka mulut selebar kepala bayi).

Ray Sahetapy : “AstagAAA, mulutmu lebar betul.” 

Mawarni: “Ini belum seberapAAAAA… nanti kamu akan lihat lebih banyak mulut mengangAAAAA…HA HAHAHAAA…” (tertawa jahat tipikal antagonis).

gambar ini mungkin lebih menghantuimu daripada filmnya


Bertahun-tahun-tahun berikutnya. Ray Sahetapy menjadi pengusaha sukses dan tajir berat, dia menikah lagi dengan seorang artis bernama Karina Suwandi dan bercerai dari istri pertamanya, tapi kemudian jatuh bangkrut dan menderita sakit misterius. Kita tahu ini semua dari eksposisi berupa montase KLIPING KORAN. Ingat ya. Ini akan jadi poin penting.

CHELSEA ISLAN putri pertama Ray dari istri pertama datang ke rumah sakit menjenguk ayahnya yang terbaring koma di bangsal kelas 3.

Chelsea Islan: (berbisik) “Pak, Bapak sakit apa sih? Itu bentol-bentol di kulit kok kayak dibuat dari tepung kanji dan sagu mutiara?”

Tiba-tiba KARINA SUWANDI yang kita kenal lewat sinetron (komedi?) Warkop DKI 1990-an menendang pintu tanpa bisa menyembunyikan raut tipikal antagonis yang menunjukkan bahwa dia… adalah si antagonis?

Karina Suwandi: “Cih! Chelsea, kenapa juga namamu Chelsea? Itu kan nama klub bola.” (mendelik lalu meludahi seorang suster).

PEVITA PEARCE:“Iya, ngapain kamu di sini? Cuh!” (mengetapel cecak di dinding dengan karet gelang lalu menindihnya dengan kaki meja).

SAMO RAFAEL: “Mama udah deh, kamu juga Pev. Kita semua kan bersaudara. Ya kan? …Aku ini anaknya Ray Sahetapy juga kan? Haah?” (garuk-garuk kepala).

Pevita Pearce: “Eniwei, Chelsea. Biaya perawatan bapakmu ini tinggi sekali. Jadi kami mau menjual villa kuno yang sertifikatnya masih atas namamu.”

Chelsea Islan: “Kalau itu tidak cukup menunjukkan bahwa kalian orang jahatnya entah apa lagi.”

Malamnya, Chelsea Islan mimpi bertemu Ibu Mawarni (masih ingat kan?). Saat dia bangun dari mimpi buruk, di luar dugaan Ray Sahetapy jump scare dari komanya lalu MEMUNTAHKAN DARAH karena…ini filmnya Timo dan kita belum melihat darah dari tadi. Sutradara Timo pun memukul-mukul panci masak dengan gembira sembari bersembunyi di kolong dipan rumah sakit.



Besoknya Chelsea Islan memutuskan untuk mendatangi villa kuno nan angker, tempat yang sering dikunjungi Ray Sahetapy sebelum jatuh sakit. Karena… formula film horor memang mengharuskan begitu jadi kenapa tidak?

Maka berangkatlah dia menumpangi bus sejauh 66 km, ojek 6,6 km, dan berjalan kaki menembus hutan sejauh 6 km. Sorenya Chelsea sampai juga di villa bernomor 666.

Chelsea masuk lalu menekan saklar, dan LAMPU PUN MENYALA. Sungguh kebetulan! Villa yang sudah lama terbengkalai masih dialiri listrik! Mari berharap listrik ini akan berguna terhadap plot cerita. Bukan sekedar trik menakut-nakuti lewat ajep-ajep lampu nantinya…

Tiba-tiba Karina Suwandi dan anak-anaknya mendobrak pintu depan villa.

Karina Suwandi: “Ada Chelsea di sini rupanya.” (menyeringai dengan sudut mulut nyaris mencapai telinga). “Saya harap kamu tidak keberatan, kami mau…enggg…menginventarisir benda-benda yang ada di sini…demi biaya perawatan bapakmu.” (menangkapi lalat lalu menusukinya dengan jarum pentul).

Chelsea Islan: “Gak usah keliatan banget jahatnya napa sih? Ini tuh film, bukan sinetron. Dasar artis gadungan!”

Merasa disindir Karina Suwandi bangkit lalu MENGGAMPAR PIPI Chelsea. Chelsea sesenggukan menghambur ke bekas kamarnya yang anehnya perabotnya masih utuh setelah sekian tahun. Dia tengkurap di kasur bak remaja tengah putus cinta.

Samo Rafael kemudian mendatangi kamar Chelsea, membawakan dua tangkup sandwich.

Samo Rafael: “Maafin mamaku ya. Nih, makan dulu. Bisa jadi ini satu-satunya yang kita makan untuk 3 HARI KE DEPAN.”

Serius. Mereka cuma makan ini buat 3 hari(!)


Chelsea Islan: (mengambil sandwich dan mulai makan) “Jadi kamu love interestku?”

Samo Rafael: “Hei, kita ini saudara satu bapak! Gimana sih?”

Chelsea Islan : “Oh, shit.” (tepok jidat) “Kenapa tidak dijelaskan?”

Samo Rafael: “Kamu kan perempuan, harusnya pandai membaca kode.”

Chelsea Islan: “Omong-omong soal kode, tadi di lantai 2 aku lihat ceceran darah, kepala kambing terpenggal, dan sobekan kulit dan daging. Entah itu penting atau tidak…”

typical reference to demonic activity

Samo Rafael: “OOHHH… BIASA ITU. Kan sekarang masa-masa Hari Raya Korban…baidewey, tadi mama nyuruh aku MEMBONGKAR PINTU ke RUANG BAWAH TANAH yang  pintunya dibeton, disegel, digerendel, digembok, dan ditempeli jimat yang biasa untuk membekukan vampir di film-film hongkong 80-an…”

jimat sakti anti vampir...eh iblis

Chelsea Islan: “Hmm…biasanya karakter idiot dalam film horor sih matinya cepet…”

Samo Rafael: “Bicara soal idiot, bapak kita lebih idiot. Dia main pesugihan dengan iblis.”

Chelsea Islan: “Tapi bapak masih hidup, biarpun dia sempat muntah darah sampai 3 galon.”

Mawarni: “Haha, TIDAK LAGI! Kalian telah membebaskan aku dari ruang bawah tanah dan baru saja aku pergi ke rumah sakit untuk menggorok leher Ray lalu balik lagi ke sini. MATI KALIAN SEMUA!”

Mawarni menarik Karina Suwandi masuk ke ruang bawah tanah. Sutradara Timo menggebrak-gebrak meja dan lantai. Situasi kalang kabut tak karuan. Karina berusaha berpegangan pada gawangan pintu, tapi Timo memutuskan menyulap jemari Karina menjadi bubur kertas, darah pun menyembur. Samo, Chelsea, dan oh, Pevita berusaha menolong tapi sia-sia. Karina pun berubah menjadi…ZOMBIE!

ZOMBIE KARINA menerjang mereka semua dengan ganas. Karena sudah belajar bagaimana membasmi zombie dari puluhan film Hollywood, Chelsea MENGHAJAR JIDAT Zombie Karina dengan sebongkah MARTIL dan seharusnya meninggalkan trauma di mata anak-anak Karina tapi nyatanya tidak. Zombie Karina lalu kabur dari villa setelah menggigit tangan Pevita Pearce.

Pevita Pearce: “Oh, tidak. Aku terinfeksi virus zombie. Cepat tembak kepalaku!”

Samo Rafael: “Tenang Pev, Mama bukan zombie. Itu cuma obsesi gak kesampaian Sutradara Timo yang gagal terus bikin film zombie.”

Chelsea Islan: “Di sini gak ada obat-obatan. Tapi 60 km dari sini ada rumah penduduk. Biar aku antar Pevita ke sana, sekarang juga, malam-malam begini, di tengah badai hujan, tanpa payung dan mantol. Kita gak bisa pakai mobil kalian karena mesinnya dirusak Zombie Karina, jadi kita jalan kaki.”

Samo Rafael: “Ide bagus! Biar aku duduk manis di sini nunggu di villa.”

Pevita Pearce: “Kamu gak cuma nunggu di villa, kamu nemenin adik kecil kita.”

Hadijah Shahab: “ehm ehm”

Samo Rafael: “Oh shit, kita masih punya adik lagi?”

Chelsea Islan: “Keluarga besar yang aneh.”



Berbekal sebilah senter dan sebongkah martil, Chelsea dan Pevita meninggalkan villa, namun belum berapa jauh Zombie Karina berkelebat. Mereka, tidak seperti karakter dalam cerita horor pada umumnya, memutuskan ini saat yang tepat untuk BERPENCAR!

Entah bagaimana Pevita merasa itu adalah saat yang tepat untuk membongkar isi tas Chelsea yang berisi… ALBUM KLIPING KORAN tentang keluarga mereka. Ingat montase kliping koran di awal? Pembuatnya ternyata adalah Si Chelsea. Ini membuat Pevita marah dan curiga atas motivasi Chelsea sebenarnya.

Pevita Pearce: “Jadi selama ini kamu memata-matai kami!?”

Chelsea Islan: “Bukan…, itu cuma…Pe’er-ku waktu masih SD.”

Pevita melesat ke tengah hutan. Bukannya memberitahu kedua adiknya yang ada di villa soal album kliping korannya Chelsea…dia ingin menyampaikan ini lebih dulu kepada ibunya yang…sudah berubah jadi zombie (hah?). Dia diterkam oleh Zombie Karina.

Zombie Karina: “ACCCKKKK….!!!!”

Pevita Pearce: “MamAAA…ini aku MAAA!”

Zombie Karina: “ACCCKKKK….!!!!”

Pevita Pearce: “Well, Shit”

Pevita terpaksa mengayunkan martil berkali-kali ke apalagi jika bukan jidat lebar Zombie Karina. Darah muncrat-muncrat dan Sutradara Timo dengan sengaja mengulurkan wajahnya agar kecipratan darahnya Zombie Karina.

Zombie Karina: “Kenapa pula Sutradara Timo seperti membenci jidatku…ACCKK?”

Zombie Karina pun tutup usia dengan laknatnya seperti dia menutup mulutnya, namun tiba-tiba Mawarni muncul di hadapan Pevita.

Mawarni: “PevitAAA…jadilAAAHH…budaaAAAKKUU…”

Pevita Pearce: “Oke, tapi aku tidak mau kalau disuruh mangap mangap.”

Mawarni: “Tidak bisAAAA harus mangAAAPPP…”

Pevita Pearce: “Oh, baikLAAAAHHH…” (membuka mulut selebarnya)



Sementara itu Chelsea kembali ke dalam villa.

Chelsea Islan: “Samo, Si Pevita lari ke hutan setelah melihat album kliping koranku ini.”

Samo Rafael: “Oh…OKE.”

Chelsea Islan: “Kamu gak marah dan takut?”

Samo Rafael: “Enggak, tadi aku ngeliat kepala mamaku dibacok pake martil, santai aja.”

Hadijah Shahab: “Tadi aku tidur sendirian dan diganggu sama jump scare Mawarni.” (dicuekin keduanya)

Chelsea Islan: “Sekarang apa yang kita lakukan?”

Samo Rafael: “Kita tunggu sampai pagi.”

Pagi pun datang.

Chelsea Islan: “Sekarang apa yang kita lakukan?”

Samo Rafael: “Kita tunggu sampai malam.”

Malam pun datang.

tunggulah...lumayan buat manjangin durasi

Chelsea Islan: “Sekarang apa yang kita lakukan?”

Samo Rafael: “Kita tunggu sampai…plotnya jalan.”

Pevita Pearce: “KejutaAAAANN.” (tiba-tiba muncul dari sudut kamera)

Chelsea Islan: “Jelas kejutan karena kamu butuh sehari semalam cuma untuk balik ke sini.”

Pevita Pearce: “Diam, aku adalah abdinya Mawarni. Aku punya boneka voodoo yang mewakili kalian semua.” (mengeluarkan boneka voodoo yang bentuknya mirip Samo Rafael)

Pevita kemudian menarik kepala boneka Samo hingga putus.

Samo Rafael: “Ohh, tidak tidak. Aku adalah satu-satunya laki-laki tersisa di film in…” (lehernya tercabut dari pundak!).

Sembilan galon darah kehitaman mengocor dari leher Samo.

Sutradara Timo: “Sorry, warna darahnya agak gelap. Sisa dari film Headshot belum habis. Hahaha.”

Pevita Pearce: “Sekarang giliranmu Chelsea, tapi…tidak secepat itu. Aku akan menyiksamu lebih dulu, dimulai dari memuntir kakimu pelan-pelan.” (memelintir kaki boneka voodoo  Chelsea ke arah belakang).

Kaki Chelsea Islan-pun terpelintir ke belakang. Sehingga dia jadi cacat permanen.

Pecita Pearce: “Hmm, apalagi ya? Oh iya! Kita lanjutkan dengan ngobrol dari jarak dekat, supaya kamu dapat kesempatan mencuri boneka voodoo yang mewakili diriku yang kubawa-bawa ini, bukannya ku amankan di suatu tempat. Ayo silakan ambil.”

Chelsea Islan: “Makasih Lol!” (merenggut boneka voodoonya Pevita dan langsung memelintir lehernya)

Pevita Pierced: “Ah iya, karakter idiot bakal cepet mat…” (tewas dengan leher patah)

Chelsea Islan merangkak meraih boneka voodoonya. Dia memuntir balik kaki boneka voodoonya yang sebelumnya patah sehingga sekarang kakinya baik-baik saja, karena begitulah cara kerja tubuh manusia.

Chelsea tersenyum lega tapi, sudah berakhirkah film ini? BELUM! Mawarni muncul di depannya.

Mawarni: “HAHAHA, masih ada aku!!!”

Chelsea Islan: “Astaga kamu lagi?”

Mawarni: “Apa kamu tidak baca review film ini yang bilang bahwa teror terjadi tanpa jeda? Matilah kau!”

Tanah yang dipijak Chelsea runtuh membentuk liang lahat, menguburnya hidup-hidup. Namun Chelsea lantas meloncat ke MESIN WAKTU menuju ke MASA LALU dan melihat penjelasan yang sesungguhnya atas segala jump scare non sense yang menerpa penonton sejak permulaan.

Kita kembali ke adegan di kala Ray Sahetapy memunguti uang pesugihan pemberian Mawarni.
Mawarni: “Ingat Ray, kalau mau kaya sediakan tumbal…yaitu orang terdekatmu!”

Ray Sahetapy: “Orang TERDEKATKU saat ini adalah KAMU. Kalau begitu kamulah tumbalnya!!!” (Ray mengayunkan sekop ke kepala Mawarni, Mawarni ambruk) “Weh, semudah itu ternyata mengalahkan utusan iblis.”

Mawarni tewas, namun dia sempat menjatuhkan kutukan kematian kepada Ray Sahetapy dan keluarganya dengan memakan sejumput RAMBUT RAY. Ray kemudian mengubur Mawarni di ruang bahwa tanah lalu menyegel pintunya. Chelsea lalu meloncat kembali ke masa kini.

Chelsea Islan: “Apa penonton tidak akan diberi penjelasan, apa yang barusan kualami tadi? Apa aku punya kekuatan super yang bisa melihat masa lalu. Enggak?”

Sutradara Timo: “Lakukan saja apa yang ada di skrip.” (menuding sekop)

Chelsea kemudian menggali tanah di ruang bawah tanah dan menemukan mayat Mawarni. Dia merobek leher mayat itu, menemukan rambut Ray yang membawa kutukan, dan secara intuitif membakarnya, seolah tahu bahwa begitulah cara membatalkan kutukan. Secara mengejutkan cara ini berhasil. Mawarni pun lenyap.

Chelsea dengan sok tertatih keluar dari ruang bawah tanah. Hadijah Shahab menyambutnya.

Chelsea Islan: “Loh, kamu masih hidup. Dari mana aja tadi?”

Hadijah Shahab: …

Chelsea Islan: “Kamu yakin mau pergi bareng orang yang membelah kepala ibumu dan sudah membunuh kakakmu, saudara tiriku sendiri?”

Hadijah Shahab: (angkat bahu seolah mengatakan “whatever”)

Chelsea Islan: (angkat bahu juga tanda minta pendapat penonton)

Matahari bersinar, mereka berdua keluar dari villa. Lampu bioskop menyala, penonton keluar dari teater…sambil berusaha mengingat-ingat kira-kira apa yang layak diingat dari film ini? Apa ya? (hmm…mikir).

Zaappp, pindah tempat dalam sekejab ke masa lalu dan meminta diri sendiri supaya tidak nonton ini film.


Bentuk Komik dan Perlintasannya

Anda pernah membaca komik? Saya yakin kita semua pernah membacanya setidaknya sekali seumur hidup. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah anda suka membacanya, atau justru tidak? Jika tidak, mengapa? Jika suka, komik apa yang disukai? Apa yang membuat anda menyukainya? Gambar, cerita, tokohnya?

Pertanyaan di atas bukan bermaksud melugukan diri. Pertanyaan di atas adalah pertanyaan-pertanyaan pembuka yang ke depannya saya harap akan memicu lebih banyak pertanyaan untuk diri kita sendiri.







Dalam DKV, komik adalah medium komunikasi visual paling lengkap. Begitulah guru saya Pak Asnar Zacky pernah berujar. Pada komik kita jumpai elemen-elemen dasar DKV: garis, bentuk, ruang yang dipelajari di Desain Elementer; huruf (Tipografi); dan gambar (Ilustrasi). Tapi hal-hal teknis ini sama pentingnya dengan bentuk-bentuk komik dan proses dialogisnya terhadap wacana lainnya. Kita perlu melihat betapa luwes dan lenturnya bentuk komik hingga menjadi komik yang kita kenal sekarang.

Berdasarkan bentuknya komik digolongkan menjadi lima (Maharsi, 2011): komik strip (komik strip bersambung dan kartun komik), buku komik, novel grafis, komik kompilasi, dan komik online (web comic).

Komik Strip


Komik ini terdiri dari beberapa panel saja (3-4 panel) dan biasanya hadir di surat kabar atau majalah. Salah satu komik strip paling populer di Indonesia adalah Panji Koming di Kompas terbitan Minggu. Maharsi memang membedakan lagi antara strip bersambung dangan kartun.

Mengenai “kartun” McCloud (2002) menegaskan perbedaannya dengan “komik.” Sementara komik adalah medium, kartun merupakan pendekatan gaya gambar, yaitu yang kita kenal sebagai non-realis. Sebuah abstraksi/penyederhanaan dari kenyataan yang berfokus pada detail mendasar yang lantas menguatkan makna di mana yang nyata tidak mampu melakukannya. Kita bisa melihat diri kita sendiri ada pada yang-kartun. Ada kesadaran akan identitas diri yang universal ketika kita menyimak kartun.

Karena ikatan identitas manusia itu, kartun menjadi senjata untuk bersuara, berpendapat, dan kritik. Gaya kartun membuatnya dapat di-isi oleh pembaca. Pembaca dapat ikut mengidentifikasi diri dengan tokoh-tokoh di dalam Panji Koming, mengambil posisi yang sama (atau berseberangan?) dengan komik Panji Koming. Kartun yang tampilannya sederhana tidak lagi menjadi lucu (atau justru lucu dalam bingkai miris?), ia menjadi…istilahnya relatable.

Buku Komik

Komik ini terbit dalam bentuk buku yang bukan bagian dari media cetak lain. Kemasannya menyerupai majalah yang terbit secara rutin. Di Amerika Serikat, buku komik mulai populer 1930-an bersamaan dengan komik Superman tahun 1938. Era 1930-1960an ini kemudian disebut The Golden Age Of Comic Books.



Begitu pesatnya industri komik tumbuh di Amerika sehingga timbul reaksi balik dari masyarakatnya sendiri yang menuduhnya sebagai penyebar kebodohan, menurunkan minat baca, dan pelenyap nilai-nilai moral yang ditimbulkan komik dengan tema kriminalitas, horor, penggunaan obat terlarang, dan seks bebas. Terutama sesudah Fredric Wertham menerbitkan The Seduction of Innocent yang berisi kritik dan tuduhan terhadap komik.

Sebagai bentuk ‘tanggung jawab’ terhadap masyarakat, industri komik Amerika lantas membuahkan Comics Code Authority (CCA) atau dikenal Comics Code yang bertujuan menyensor komik dengan konten tertentu. Komik yang lulus sensor lalu berhak mendapat cap logo CCA pada sampulnya. Ketatnya sensor mendorong sejumlah penerbit buku komik menutup usahanya.

Di Indonesia, agak sedikit berbeda. Komik bukan hanya dituduh penyebar kebodohan tapi mewakili Barat yang liberal dan kapitalistik yang membahayakan identitas bangsa (Wibowo,2012). Namun bukan hanya itu. Lewat Seksi Bina Budaya yang bagian dari kepolisian dan Opterma (Operasi Tertib Remaja), komik disensor. Uniknya sensornya cukup luwes karena komik yang memuat “pornografi” (dengan tanda kutip) boleh tetap terbit asal tidak frontal (Bonneff, 2008). Lihat bagaimana isu yang berbeda  digunakan mengkambing-hitamkan komik.

Novel Grafis

Istilah ini muncul saat A Contract with God karya Will Eisner terbit 1978. Menurut Maharsi (2011) tema yang diangkat di novel grafis lebih serius, lebih panjang, ceritanya bukan untuk anak-anak pula. Tujuannya hanya satu: menghilangkan kesan murahan.


Mengapa demikian? Tak lain karena komik masih lagi-lagi dicap pembawa kebodohan, bahkan hingga sekarang. Dari sejarahnya komik pernah dibakar, tidak hanya di Indonesia pada 1955, tapi di Amerika Serikat yang konon menjunjung kebebasan berpendapat tahun 1948. Dengan banyaknya gambar, tuduhan yang dialamatkan pada komik adalah dibatasinya imajinasi pembaca. Tidak seperti ketika membaca novel (Eisner, 1985).

Dari situasi ini tumbuh istilah novel grafis (di Indonesia ada “nopel bergambar”). Maunya ingin agar komik dianggap setara dengan novel, sama-sama dianggap produk sastra. Dengan memakai istilah ini bisa jadi komikus sadar posisinya yang marjinal tetapi dengan secara tidak sadar mengakui wacana dominan yang menggunggulkan novel di atas komik.

Sebagai catatan, di Indonesia dikenal istilah cergam untuk menyebut komik. Bahkan perkumpulannya disebut Ikasti (Ikatan Seniman Tjergamis Indonesia). Para komikus merasa lebih nyaman dengan istilah ini karena terdengar lebih bagus (Bonneff, 2008). Di sini saya mau menunjukkan bahwa suatu istilah semacam novel grafis yang terdengar keren tidak lantas lepas dari hal-hal lain yang non teknis.

 

Komik Online

Komik ini menggunakan internet dalam publikasinya. Kemunculan internet telah membuka kesempatan seluasnya buat komikus untuk berkarya dan menyiarkan karya mereka ke seluruh dunia. Terlebih sejak hingar bingarnya media sosial, kegiatan pamer tidak lagi dilabeli pamer melainkan “berbagi.” Menyimak sejarahnya, justru keterbatasan media massa era sebelumnya seperti surat kabar dan penerbit buku yang mendorong pesatnya komik online. Tentu kehadirannya didukung perangkat teknologi dan akses internet yang makin terjangkau.

Keterbatasan itu bukan hanya dari jumlah medianya, tapi juga alokasi [ruang] cetak, biaya cetak dan distribusi, serta jangkauan pembaca. Internet mengizinkan alih kuasa yang lebih kentara dari pemilik media ke orang biasa. Model komunikasi satu arah dan berjarak berubah ke lintas arah di mana komikus bisa langsung berinteraksi dengan penyimaknya (pemberi komentar).

Penyebab kepopuleran komik online adalah kebutuhan akan wadah berekspresi, yaitu ekspresi yang lain dari biasa/umum. Misalnya salah satu komik online yang populer di Indonesia adalah TahiLalats (dengan bentuk komik strip!). Komik dengan konten nyeleneh yang tidak biasa seperti TahiLalats jelas tidak akan bisa masuk ke media massa arus utama (Kompas misalnya) karena tidak sejalan dengan misi yang telah ditetapkan.

Kendati begitu adalah tidak tepat jika mengatakan internet adalah ruang sebebasnya yang menjunjung kesetaraan. Dunia maya tetap diikat aturan yang ada di dunia nyata. Apalah artinya ruang kebebasan jika hanya untuk melukai pihak lain. Di sisi lain akses suatu konten dapat dengan tiba-tiba dibatasi. Penyedia layanan tetap punya kuasa lebih di atas “pengguna.” Komunikasi lintas arah juga bukannya tanpa masalah karena menimbulkan gesekan antara yang disebut sebagai haters dengan fans.

Tentu ada beberapa kasus menarik di mana komikus mampu membangun kapital berupa basis pendukung (fans) yang bisa dengan kompak menyokong komikusnya baik lewat pendanaan publik (misalnya: patreon) atau gerakan sosial yang pernah menimpa komik TheOatmeal kala menghadapi tuntutan hukum dari situs berbagi konten lucu, FunnyJunk dan serangan para pengguna situs tersebut. Bisa dibaca di sini.


Dari paparan dinamika di atas terlihat bagaimana bentuk komik tidak merupakan ketetapan tunggal, bentuk itu sendiri membentuk diri,  dan seringnya adalah tanggapan atas sebuah situasi sosial. Maka itu pemaknaan atasnya terus dan masih akan berubah.

(Restu Ismoyo Aji)

Sumber:
Bonneff, Marcel, 2008, Komik Indonesia, Jakarta: KPG.
Eisner, Will, 1985, Comis and Sequential Arts, Florida: Poorhouse Press.
Maharsi, Indiria, 2011, Komik Dunia Kreatif Tanpa Batas, Yogyakarta: Kata Buku.
McCloud, Scott, 1993, Understanding Comics, New York: Harperperennial.
Wibowo, Paul Heru, 2012, Masa Depan Kemanusiaan: Superhero Dalam Pop Culture, Jakarta, LP3ES.