Antara Mimpi dan Realita, Dunia Imajinasi Nolan

15.33.00 Jino Jiwan 1 Comments



Pemeran: Leonardo DiCaprio, Ken Watanabe, Joseph Gordon-Levitt, Marion Cotillard, Ellen Page, Tom Hardy, Cillian Murphy, dan Tom Berenger
Sutradara: Christopher Nolan
Distributor: Warner Bros. Pictures
Durasi: 148 menit
Salah satu syarat sebuah film bisa disebut berkualitas adalah dengan melihat ending yang ditawarkannya. Karena film berposisi sama seperti karya sastra atau komik strip yang punya satu kemutlakan yaitu akhir kisah yang kuat bagi benak penikmatnya. Kata lainnya adalah, ending yang nendang dan terus terngiang untuk waktu yang lama. Begitu pula Inception karya Christopher Nolan pun menawarkan hal yang sama, ending cerdas dengan memasrahkan pada penonton untuk mengambil kesimpulan sendiri. Lebih baik lagi—sebab penonton tidak akan bisa mengambil kesimpulan tersebut tanpa mencurahkan pikiran dan konsentrasi menyimak dan memahami keseluruhan elemen pendiri film yang dibangun oleh Nolan nyaris tanpa cacat berarti dari awal hingga akhir. Inception adalah jenis film yang perlu ditonton lebih dari sekali, dan akan menghipnotis penonton untuk terus memikirkan, membicarakan dunia mimpi ala Christiopher Nolan.
Bagi yang belum menontonnya, review ini mengandung sedikit bocoran yang mungkin akan mengganggu kenikmatan menonton film.

Inception menceritakan sekelompok ekstraktor mimpi dengan keahlian masing-masing dipimpin oleh Cobb (Leonardo DiCaprio) dan didanai oleh Saito (Ken Watanabe)—yang berupaya menanamkan gagasan (insepsi) dalam pikiran Fischer (Cillian Murphy), seorang pewaris perusahaan raksasa, lewat perantara mimpi tanpa disadari oleh orang yang diinsepsi pikirannya. Sehingga seolah gagasan yang muncul adalah murni hasil pikirannya sendiri. Konflik yang intens, suspense yang sulit ditebak, interaksi antar karakter yang unik mewarnai keseluruhan film.

Nolan juga menyelipkan berbagai teori, fakta, dan peraturan dalam mimpi. Seperti, adanya keyakinan orang yang sedang bermimpi bahwa selama ini karakter-karakter lain yang muncul dalam mimpi itu nyata dan mereka benar-benar bertemu di alam mimpi. Anggapan ini seolah diiyakan, berkat Cobb dan timnya. Atau orang juga tidak pernah ingat permulaan ketika mimpi dimulai, dan tahu-tahu sudah sampai ditengah-tengah mimpi. Satu fakta lain, orang yang bermimpi merasa segala kejadian yang terjadi dalam mimpi wajar adanya, namun ketika terbangun barulah sadar bahwa yang barusan terjadi dalam mimpi luar biasa aneh. Juga kenyataan bahwa waktu dalam mimpi berputar lebih cepat dari pada dunia nyata. Hingga peraturan-peraturan yang tidak boleh dilanggar anggota tim, Ya! Ternyata mimpi pun ada aturannya, peraturan yang sangat vital untuk mengerti bagian akhir film. Semua itu disampaikan lewat dialog yang menarik dan natural antar karakternya.

Memang ada beberapa adegan terlihat terlalu aneh atau berkesan teramat tiba-tiba, bahkan maju terlalu jauh seperti melompat-lompat hingga agak terasa berlebihan pada pertengahan film. Namun, pertanyaan kenapa begini kenapa begitu itu akan terjawab semuanya seiring dengan berjalannya film mendekati klimaks. Dengan catatan penonton harus benar-benar menyimak setiap detail.

Secara keseluruhan Inception memang terkesan serius, namun Nolan masih sempat mencuri-curi scene memasukkan unsur humor unik dalam porsi kecil. Bahkan dalam adegan bertarung sekalipun. Kelucuan juga hadir saat kemampuan dunia mimpi yang tanpa batas diekspos. Daripada membuat seorang mampu terbang dalam mimpi sehingga berpeluang terlihat cheezy, Nolan malah memberi kemungkinan lain yang hampir tidak pernah terpikirkan orang saat bermimpi. Bagian ini dimunculkan begitu kuat dan akan sangat memorable hingga puluhan tahun mendatang.

Bagi Leo sendiri, Inception bisa jadi salah satu pencapaian terbaiknya, sehingga bagi penggemar karya Nolan dan Leo boleh berharap cemas mereka bakal berkolaborasi kembali nantinya. Porsi terbesar memang dipegang oleh Leo, sebagai pemimpin sekelompok ahli mimpi ia seakan punya agenda sendiri, konflik dengan hatinya yang sangat mencintai keluarga malah berbalik membahayakan seluruh misi. Ken Watanabe lewat peran Saito, seorang Jepang yang kaya, ambisius, dan berkedudukan tinggi—justru mencuri perhatian, ia begitu tenang dan punya motivasi tersembunyi terkait dengan misi insepsi ini. Bukan berarti karakter lain tidak memberi kontribusi berarti, seperti Arthur (Joseph Gordon-Levitt) yang hadir sebagai penyeimbang dan tangan kanan Cobb, atau Ariadne (Ellen Page) sebagai arsitek mimpi yang selalu ingin tahu rahasia orang lain. Hanya saja motivasi mereka dalam cerita memang tidak sedalam Cobb dan Saito, karakter yang diperankan Leo dan Watanabe.

Meski begitu, kekuatan Inception bukan semata terletak pada akting para pemainnya melainkan pada konsep cerita yang tersampaikan dengan rapi. Terlepas dari mustahilnya peralatan canggih ekstraktor mimpi yang dimiliki Cobb dan timnya, sebab itu juga bagian dari konsep cerita. Pujian layak disematkan pada Christopher Nolan dan tim editingnya yang mampu menghembuskan nyawa pada kisah fantasi mimpi yang rumit ini.
Jino Jiwan untuk Bebas Ngetik
Kamis, 5 Agustus 2010

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Ya...film ini keren loh.