Astaghfirullah, Sinetron!

15.44.00 Jino Jiwan 2 Comments


Ah, tahu-tahu sudah bulan puasa. Badan lemes, ngapa-ngapain juga males. Mending nonton tv aja, dari pada kebayang-bayang sang kekasih mulu, ntar malah batal puasanya. Hari gini tv swasta tentu saja akan berlomba-lomba menayangkan tayangan-tayangan penyejuk iman penambah taqwa…kan? Mereka tentu ingin mengawal kita menempuh bulan penuh barokah dengan selamat dan sukses…kan?

Oke…coba kita lihat di tv ada apaan. Ah ada tayangan rohani jelang berbuka…tapi kok elo lagi elo lagi ya? Trus (masih) ada juga acara lawakan sahur yang jayus plus kuis nih. Dan tentu saja tidak ketinggalan ada juga sinetron-sinetron spesial seperti…ya seperti biasanya lah sama kaya bulan Romadhon kemaren-kemarennya. Mulainya beberapa hari sebelum Romadhon dan selesainya bisa sekian hari setelah lebaran. Setiap hari loh itu!

Bosen sama yang terakhir? Wah jangan dulu deh. Yuk kita tonton bareng buat menemukan asyiknya di mana.
Tahu nggak apa yang membedakan sinetron Romadhon dangan sinetron reguler yang menjejali prime time tiap malam?

Pertama. Pemerannya, aktor & aktris berkulit cerah berwajah indo itu, terutama sang protagonis akan selalu memakai atribut religius, yang cowo pake peci dan baju koko, sementara yang cewe bakal pake jilbab pada semua scene, di tiap saat dan tiap waktu. Ya mungkin gak setiap saat, tapi dalam kondisi ekstrim yang sangat dipaksakan (tergantung tuntutan cerita dan PH bersangkutan) ini akan sangat terlihat dengan jelas.

Kedua. Para protagonis akan lebih sering mengucap special words dari pada sinetron reguler. “Astaghfirullah” atau “Alhamdulillah” adalah contoh yang akan sering sekali terdengar, tergantung konteksnya. Si orang baik akan mengucap “Astaghfirullah” ketika diusili oelh si jahat. Dan tentu sulit berharap si tokoh baik mengucap “Alhamdulillah” saat dikabari bahwa si jahat yang usil itu kecelakaan. Kan mereka orang baik to? Sebaliknya si jahat tidak akan mau mengucapkannya sedikitpun. Kecuali di episode akhir saat akan tobat (kalo sempet).

Cerita? Tidak usah terlalu dipikirkan. Sama saja kok sebenarnya dengan sinetron-sinetron reguler, cuma seting waktunya saja yang berubah jadi lebih agamis. Di mana ada orang yang kelewat baik (pasti jadi protagonis) dihadapkan dengan orang super jahat (jelas jadi antagonis). Ending? Orang baiknya akan menang setelah susah payah dan si penjahat pun akan dimaafkan dengan mudahnya oleh si orang baik, tapi belum tentu akan bertobat. Soalnya kisahnya Insya Allah akan diteruskan Romadhon tahun depan.

Kebanyakan dari kita begitu terlena dan sekedar hanyut saja dalam pusaran cerita. Padahal ada cara yang lebih menarik. Misalnya, gimana kalo iseng-iseng ngitungin berapa kali seluruh karakter dalam sinetron mengucap dua special words tadi lalu bandingkan lebih banyak mana ucapan special words yang diucapkan oleh aktor dan aktris dalam satu episode dengan yang diucapkan oleh diri kita sendiri dalam sehari. Hayo banyakan mana? Masa kalah sama karakter-karakter sinetron yang jelas fiktif itu? Ingat, ini bulan penuh barokah loh.
Diketik Jino Jiwan buat Bebas Ngetik
Selasa & Kamis, 3 & 5 Agustus 2010

2 komentar:

Vega Fitria mengatakan...

wah pengamat sinetron ne... hehe lucu juga

Bebas Ngetik mengatakan...

Terima kasih sudah berkunjung.