Klisenya Mudik

10.43.00 Jino Jiwan 0 Comments

-->
Musim mudik dan tentu saja arus baliknya nanti berita di surat kabar, radio, internet, dan (terutama) televisi lokal apalagi nasional jadi terlampau sering menyebut nama Cikampek, Kanci, dan Nagreg. Seolah tak ada lokasi lain di wilayah Indonesia yang layak diberi porsi setara. Padahal inti berita di ruas-ruas jalan tersebut juga begitu-begitu saja tiap tahunnya. Tiap saat macet, macet , dan macet, jalanan penuh mobil roda empat dan bis umum, buka-tutup pengalihan arus plus pasar tumpah. Paling jauh ya seputar laka lintas atau pemudik yang dibius. Cerita klasik nan basi yang berulang menjelang hari H dan sesudahnya.
Ketidak sigapan pemerintah menyelesaikan jalan anti macet maupun sarana memperlancar perjalanan tepat waktu, kurangnya sosialisasi tentang jalur-jalur alternatif, dan melimpahnya kendaraan roda empat atau lebih berbondong-bondong melengangkan Jakarta. Hanya segelintir pemicu kisah basi ini.
Dominasi laporan lalu lintas di pantura dan lintas selatan Pulau Jawa ini jelas hanya menarik bagi mereka yang punya kepentingan di dalamnya. Pertama, buat mereka YANG memang AKAN mudik ke daerah Jawa Tengah-Jawa Timur melewati satu atau malah keduanya. Ya! Jelas mereka butuh info yang akurat bagaimana keadaan jalan yang akan dilalui. Bakal tersendatkah atau lancar? Malah barangkali perlu bijak menentukan lagi waktu yang tepat untuk mudik? Untuk itu, berterima kasihlah pada kecanggihan teknologi. Sayang, bagi yang sudah terlanjur terjebak kemacetan, info sebaik apapun dari televisi atau surat kabar tidak akan berarti banyak, selain fakta bahwa mereka kini justru jadi bagian dari konsumsi publik. Tak ada yang lebih buruk dari stuck in the traffic, sementara mereka jadi bagian darinya, mobil yang dibawa ditonton jutaan orang. Andai bisa nonton televisi pun mungkin ada dari mereka yang kesal sekaligus menyesal. “Knapa juga gw mudik ni hari ya?”, sembari menyalahkan sesama pengguna mobil, sesama pemudik, sesama penghuni Jakarta. Malah mungkin kota tujuannya pun sama. Kesamaan yang tidak merekatkan, solidaritas berkurang, pemenuh jalan kini tidak lebih dari pesaing mereka.
Kedua, keluarga di kampung halaman pemudik. Mereka menanti dan berharap agar pemudik baik-baik saja, tak ada berita laka lintas. Bila ada pun juga berharap tidak menimpa keluarganya yang ikut arus mudik/balik itu.
Mungkin bagi sebagian orang berita macam ini masih menarik. Namun coba bayangkan bagi orang yang tidak berkepentingan dengan cerita Cikampek, Kanci, dan Nagreg. Emangnya berita arus mudik/balik cuma buat warga Jakarta yang pulang ke Jawa saja? “Apa urusannya berita jalanan macet di sono denganku?” kata mereka yang mudik di dan ke luar Jawa. Misal yang harus menyebrangi Laut Sawu yang galak di NTT, atau yang mudik dari Surabaya ke Ambon, atau orang Makassar menuju Manado, Pontianak ke Banjarmasin, Palembang ke Aceh dan wilayah Sumatera lainnya, atau malah wilayah Papua yang terdengar masih asing. Apa mereka tidak disebut mudik? Apa mereka di berada bawah radar pantauan awak media lokal/nasional? Apa karena mereka minoritas? Karena terlalu sedikit, maka tidak begitu layak tayang, paling yang nonton juga sedikit, dan bila yang nonton sedikit, iklan/sponsor yang masuk juga sedikit. Sepertinya jadi soal uang ya? Wajar sih, bukankah awak media harus membiayai kru mereka berburu berita? Biaya terbesar tentu di dapat dari pengiklan.
Padahal sebenarnya tak sedikit pula yang penasaran seperti apa suasana mudik/balik di luar Jawa. Meski bukan berarti liputan mudik/balik di luar Jawa tidak ada sama sekali, hanya saja jumlahnya bisa disimpulkan sangat minim, berbanding jauh dengan pemberitaan di Jawa. Rasanya perlu ada peningkatan perhatian lebih dan berimbang jika pemerintah terkesan pelan dalam memberi pelayanan/fasilitas transportasi yang prima, awak media bisa segera memulai mengeksposnya pun perusahaan penyeponsor demi membuka mata nusantara akan kenyataan di luar sana. Tidak setara rasanya meratakan Indonesia dengan hanya mengutamakan Pulau Jawa yang selalu begitu saja tiap tahun: macet, macet, dan macet (lagi). Cikampek, Kanci, dan Nagreg (lagi).
Jino Jiwan untuk Bebas Ngetik

0 komentar: