Astaghfirullah, Sinetron!


Ah, tahu-tahu sudah bulan puasa. Badan lemes, ngapa-ngapain juga males. Mending nonton tv aja, dari pada kebayang-bayang sang kekasih mulu, ntar malah batal puasanya. Hari gini tv swasta tentu saja akan berlomba-lomba menayangkan tayangan-tayangan penyejuk iman penambah taqwa…kan? Mereka tentu ingin mengawal kita menempuh bulan penuh barokah dengan selamat dan sukses…kan?

Oke…coba kita lihat di tv ada apaan. Ah ada tayangan rohani jelang berbuka…tapi kok elo lagi elo lagi ya? Trus (masih) ada juga acara lawakan sahur yang jayus plus kuis nih. Dan tentu saja tidak ketinggalan ada juga sinetron-sinetron spesial seperti…ya seperti biasanya lah sama kaya bulan Romadhon kemaren-kemarennya. Mulainya beberapa hari sebelum Romadhon dan selesainya bisa sekian hari setelah lebaran. Setiap hari loh itu!

Bosen sama yang terakhir? Wah jangan dulu deh. Yuk kita tonton bareng buat menemukan asyiknya di mana.
Tahu nggak apa yang membedakan sinetron Romadhon dangan sinetron reguler yang menjejali prime time tiap malam?

Pertama. Pemerannya, aktor & aktris berkulit cerah berwajah indo itu, terutama sang protagonis akan selalu memakai atribut religius, yang cowo pake peci dan baju koko, sementara yang cewe bakal pake jilbab pada semua scene, di tiap saat dan tiap waktu. Ya mungkin gak setiap saat, tapi dalam kondisi ekstrim yang sangat dipaksakan (tergantung tuntutan cerita dan PH bersangkutan) ini akan sangat terlihat dengan jelas.

Kedua. Para protagonis akan lebih sering mengucap special words dari pada sinetron reguler. “Astaghfirullah” atau “Alhamdulillah” adalah contoh yang akan sering sekali terdengar, tergantung konteksnya. Si orang baik akan mengucap “Astaghfirullah” ketika diusili oelh si jahat. Dan tentu sulit berharap si tokoh baik mengucap “Alhamdulillah” saat dikabari bahwa si jahat yang usil itu kecelakaan. Kan mereka orang baik to? Sebaliknya si jahat tidak akan mau mengucapkannya sedikitpun. Kecuali di episode akhir saat akan tobat (kalo sempet).

Cerita? Tidak usah terlalu dipikirkan. Sama saja kok sebenarnya dengan sinetron-sinetron reguler, cuma seting waktunya saja yang berubah jadi lebih agamis. Di mana ada orang yang kelewat baik (pasti jadi protagonis) dihadapkan dengan orang super jahat (jelas jadi antagonis). Ending? Orang baiknya akan menang setelah susah payah dan si penjahat pun akan dimaafkan dengan mudahnya oleh si orang baik, tapi belum tentu akan bertobat. Soalnya kisahnya Insya Allah akan diteruskan Romadhon tahun depan.

Kebanyakan dari kita begitu terlena dan sekedar hanyut saja dalam pusaran cerita. Padahal ada cara yang lebih menarik. Misalnya, gimana kalo iseng-iseng ngitungin berapa kali seluruh karakter dalam sinetron mengucap dua special words tadi lalu bandingkan lebih banyak mana ucapan special words yang diucapkan oleh aktor dan aktris dalam satu episode dengan yang diucapkan oleh diri kita sendiri dalam sehari. Hayo banyakan mana? Masa kalah sama karakter-karakter sinetron yang jelas fiktif itu? Ingat, ini bulan penuh barokah loh.
Diketik Jino Jiwan buat Bebas Ngetik
Selasa & Kamis, 3 & 5 Agustus 2010

Langkah Awal Untuk Bangkit

Boleh dibilang dunia sepak bola Indonesia saat ini sedang memulai langkah awalnya untuk (kembali) bangkit berdiri. Setelah melewati satu dasawarsa akhir yang memilukan dan memalukan, kerontang prestasi dan hanya bisa bermimpi meraih gelar internasional bergengsi.


Bukan rahasia lagi bahwa sepak bola adalah olahraga favorit buat mayoritas rakyat di bumi Indonesia. Sehat untuk dimainkan dan nikmat pula untuk disaksikan. Bahkan kita boleh bangga dengan liga sepak bola nasional yang kasta tertingginya sekarang bernama Liga Super itu. Dimana dulunya hampir di setiap pertandingan kerap dijumpai hawa fanatisme dan anarki yang nyaris selalu berujung tawuran, sekarang sudah berubah jadi tayangan profesional bermutu berrating tinggi.


Di tengah kerinduan akan gelar internasional dan keras kepalanya petinggi PSSI, muncul harapan baru yang ditabur pemerintah. Dalam hal ini melalui Mentri Pemuda dan Olahraga kita Andi Mallarangeng yang terlihat serius memperbaiki pencapaian tim nas. Diawali dari keluarnya rekomendasi untuk me’reformasi’ PSSI dalam Kongres Sepak Bola Nasional yang diprakarsai olehnya. Ia kemudian menjajaki kemungkinan Fatih Terim, pelatih asal Turki memanajeri tim nas. Fatih Terim sempat diundang untuk berkunjung lebih dulu ke Indonesia. Walau akhirnya Terim batal berkunjung.


Belum cukup di situ, Andi juga menjajaki kerja sama dengan Malaysia untuk menjadi tuan rumah bersama pada Piala Dunia FIFA tahun 2026. Setelah FIFA resmi mencoret Indonesia dari bidding resmi tuan rumah Piala Dunia 2022, karena FIFA menilai PSSI tidak didukung oleh pemerintah. Padahal ini adalah syarat mutlak yang diterapkan FIFA pada negara peserta bidding. Rentang waktu yang cukup panjang, selain demi mematangkan segala persiapan, sekaligus untuk memperbaiki pamor Indonesia setidaknya di tingkat Asia Tenggara. Walau FIFA sendiri telah membuat pernyataan bahwa biaya yang membengkak saat Piala Dunia Jepang-Korea Selatan 2002 menjadi faktor pertimbangan FIFA untuk menolak opsi tuan rumah bersama Piala Dunia.


Jangan lupakan juga langkah naturalisasi oleh PSSI lewat tiga pemain keturunan berdarah Indonesia; Irfan Bachdim, Alessandro Trabucco, dan Kim Jeffrey Kurniawan. Apakah ini sebuah langkah instan karena putus asa? Mari kita lihat nanti untuk mengetahuinya. Pemain-pemain ini punya banyak waktu untuk membuktikan kualitas mereka. Singapura yang miskin SDM sudah lama melakukan kebijakan ini dan terbukti sukses.


Semua itu tentu saja masih langkah awal yang masih wajib disusul langkah konkrit selanjutnya. Bagaimanapun, tim nas sepak bola kita pernah dianggap macannya sepak bola Asia. Meski saat ini terpuruk jauh dari Vietnam dan Singapura bahkan Malaysia. Jangan dulu dibandingkan dengan Thailand yang telah lebih dulu mandiri sebagai tim yang ditakuti. Idealnya tidak sulit memang untuk menemukan amunisi muda berbakat di antara 240 juta penduduk Indonesia untuk menyegarkan wajah tim nas kebanggan kita untuk hari ini dan masa datang.

Diketik Jino Jiwan di Kamar Warna,

Untuk Bebas Ngetik: Kamis, 5 Agustus 2010

Antara Mimpi dan Realita, Dunia Imajinasi Nolan



Pemeran: Leonardo DiCaprio, Ken Watanabe, Joseph Gordon-Levitt, Marion Cotillard, Ellen Page, Tom Hardy, Cillian Murphy, dan Tom Berenger
Sutradara: Christopher Nolan
Distributor: Warner Bros. Pictures
Durasi: 148 menit
Salah satu syarat sebuah film bisa disebut berkualitas adalah dengan melihat ending yang ditawarkannya. Karena film berposisi sama seperti karya sastra atau komik strip yang punya satu kemutlakan yaitu akhir kisah yang kuat bagi benak penikmatnya. Kata lainnya adalah, ending yang nendang dan terus terngiang untuk waktu yang lama. Begitu pula Inception karya Christopher Nolan pun menawarkan hal yang sama, ending cerdas dengan memasrahkan pada penonton untuk mengambil kesimpulan sendiri. Lebih baik lagi—sebab penonton tidak akan bisa mengambil kesimpulan tersebut tanpa mencurahkan pikiran dan konsentrasi menyimak dan memahami keseluruhan elemen pendiri film yang dibangun oleh Nolan nyaris tanpa cacat berarti dari awal hingga akhir. Inception adalah jenis film yang perlu ditonton lebih dari sekali, dan akan menghipnotis penonton untuk terus memikirkan, membicarakan dunia mimpi ala Christiopher Nolan.
Bagi yang belum menontonnya, review ini mengandung sedikit bocoran yang mungkin akan mengganggu kenikmatan menonton film.

Inception menceritakan sekelompok ekstraktor mimpi dengan keahlian masing-masing dipimpin oleh Cobb (Leonardo DiCaprio) dan didanai oleh Saito (Ken Watanabe)—yang berupaya menanamkan gagasan (insepsi) dalam pikiran Fischer (Cillian Murphy), seorang pewaris perusahaan raksasa, lewat perantara mimpi tanpa disadari oleh orang yang diinsepsi pikirannya. Sehingga seolah gagasan yang muncul adalah murni hasil pikirannya sendiri. Konflik yang intens, suspense yang sulit ditebak, interaksi antar karakter yang unik mewarnai keseluruhan film.

Nolan juga menyelipkan berbagai teori, fakta, dan peraturan dalam mimpi. Seperti, adanya keyakinan orang yang sedang bermimpi bahwa selama ini karakter-karakter lain yang muncul dalam mimpi itu nyata dan mereka benar-benar bertemu di alam mimpi. Anggapan ini seolah diiyakan, berkat Cobb dan timnya. Atau orang juga tidak pernah ingat permulaan ketika mimpi dimulai, dan tahu-tahu sudah sampai ditengah-tengah mimpi. Satu fakta lain, orang yang bermimpi merasa segala kejadian yang terjadi dalam mimpi wajar adanya, namun ketika terbangun barulah sadar bahwa yang barusan terjadi dalam mimpi luar biasa aneh. Juga kenyataan bahwa waktu dalam mimpi berputar lebih cepat dari pada dunia nyata. Hingga peraturan-peraturan yang tidak boleh dilanggar anggota tim, Ya! Ternyata mimpi pun ada aturannya, peraturan yang sangat vital untuk mengerti bagian akhir film. Semua itu disampaikan lewat dialog yang menarik dan natural antar karakternya.

Memang ada beberapa adegan terlihat terlalu aneh atau berkesan teramat tiba-tiba, bahkan maju terlalu jauh seperti melompat-lompat hingga agak terasa berlebihan pada pertengahan film. Namun, pertanyaan kenapa begini kenapa begitu itu akan terjawab semuanya seiring dengan berjalannya film mendekati klimaks. Dengan catatan penonton harus benar-benar menyimak setiap detail.

Secara keseluruhan Inception memang terkesan serius, namun Nolan masih sempat mencuri-curi scene memasukkan unsur humor unik dalam porsi kecil. Bahkan dalam adegan bertarung sekalipun. Kelucuan juga hadir saat kemampuan dunia mimpi yang tanpa batas diekspos. Daripada membuat seorang mampu terbang dalam mimpi sehingga berpeluang terlihat cheezy, Nolan malah memberi kemungkinan lain yang hampir tidak pernah terpikirkan orang saat bermimpi. Bagian ini dimunculkan begitu kuat dan akan sangat memorable hingga puluhan tahun mendatang.

Bagi Leo sendiri, Inception bisa jadi salah satu pencapaian terbaiknya, sehingga bagi penggemar karya Nolan dan Leo boleh berharap cemas mereka bakal berkolaborasi kembali nantinya. Porsi terbesar memang dipegang oleh Leo, sebagai pemimpin sekelompok ahli mimpi ia seakan punya agenda sendiri, konflik dengan hatinya yang sangat mencintai keluarga malah berbalik membahayakan seluruh misi. Ken Watanabe lewat peran Saito, seorang Jepang yang kaya, ambisius, dan berkedudukan tinggi—justru mencuri perhatian, ia begitu tenang dan punya motivasi tersembunyi terkait dengan misi insepsi ini. Bukan berarti karakter lain tidak memberi kontribusi berarti, seperti Arthur (Joseph Gordon-Levitt) yang hadir sebagai penyeimbang dan tangan kanan Cobb, atau Ariadne (Ellen Page) sebagai arsitek mimpi yang selalu ingin tahu rahasia orang lain. Hanya saja motivasi mereka dalam cerita memang tidak sedalam Cobb dan Saito, karakter yang diperankan Leo dan Watanabe.

Meski begitu, kekuatan Inception bukan semata terletak pada akting para pemainnya melainkan pada konsep cerita yang tersampaikan dengan rapi. Terlepas dari mustahilnya peralatan canggih ekstraktor mimpi yang dimiliki Cobb dan timnya, sebab itu juga bagian dari konsep cerita. Pujian layak disematkan pada Christopher Nolan dan tim editingnya yang mampu menghembuskan nyawa pada kisah fantasi mimpi yang rumit ini.
Jino Jiwan untuk Bebas Ngetik
Kamis, 5 Agustus 2010