Kisah Kereta Api pada Wingko Babad Semarang

20.05.00 Jino Jiwan 1 Comments

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau wingko babad, penganan khas terbuat dari kelapa, tepung ketan, dan gula yang selalu menjadi oleh-oleh wajib Kota Semarang, Jawa Tengah ini bermula dari sebuah kota kecil bernama Babat, yang terletak di persimpangan antara Surabaya, Cepu, Jombang, dan Tuban, Jawa Timur. Barangkali tidak banyak pula yang menaruh perhatian pada kemasan wingko babad yang meskipun beragam, namun bila diperhatikan tampilannya nyaris serupa antara satu dengan lainnya. Seolah jika tidak BEGITU berarti BUKAN wingko babad asli Semarang. Mereka yang akrab dengan jajanan legit ini pasti setuju, bahwa wingko babad Semarang akan cenderung identik dengan cap dagang Kereta Api yang seakan telah menjadi ciri istimewa wingko.

Berawal dari kereta api, berkembang dengan kereta api
sumber: medianusantara.com
Sejarah wingko dan ‘kereta api-nya’ tak terlepas dari usaha yang dirintis suami-istri D. Mulyono dan Loe Lan Hwa yang merupakan warga asli Babat pada 1946 di Semarang. Rasa manis gurih wingko yang dijajakan di atas gerbong kereta api itu membuatnya cepat populer dan dinanti para penumpang. Banyak konsumen menanyakan nama produk tersebut. D. Mulyono yang memang tadinya belum mempertimbangkan nama untuk produknya, akhirnya memilih cap dagang  Kereta Api, tempat ia bekerja sebagai karyawan. D. Mulyono pun mendaftarkan cap dagang Kereta Api atas produk wingko babadnya pada 1958.
Cap dagang Kereta Api inilah yang memicu gambar sekaligus mengacu gambar, baik itu ilustrasi sentral yang digunakan maupun tipografinya yang selanjutnya menjadi dasar gaya desain bagi seluruh cap dagang wingko yang muncul kemudian. Termasuk di dalamnya usaha pembuatan wingko skala kecil dan menengah yang ingin menumpang ketenaran cap dagang Kereta Api demi keuntungan dalam waktu singkat.

Dunia selalu membutuhkan pionir, begitu juga wingko babad Semarang. Wingko Kereta Api D. Mulyono begitu berjaya. Sehingga sebagai perintis yang sukses, wingko babat (di kemudian hari huruf “t” pada babat berubah jadi “d”, wingko babad) D. Mulyono berperan bagai ‘panutan’ buat usaha wingko lainnya. Ilustrasi kereta api pada kemasan wingko D. Mulyono terlanjur begitu ikonik dan membekas, inilah yang dimanfaatkan para pesaingnya. Maka muncullah berbagai cap dagang susulan dari ‘kereta apilainnya yang ingin ‘melestarikan’ pendahulunya untuk meramaikan pasar wingko di Semarang. Mulai dari Kereta Api Diesel & Jet (1960), yang masih ada hubungan saudara dengan Loe Lan Hwa, kemudian muncul berturut-turut Cap Gaya Baru Malam (1970-an), Kereta Senja Utama (1970-an), Kereta Api Eksekutif (1979), Kereta Api Expres (1980-an), Cap Lokomotif (1990-an), Kereta Api Mutiara (1994), dsb. Tidak hanya pilihan nama cap dagangnya, segi tampilan kemasan pun turut mengekor pula, entah itu dari segi bahan, ukuran, tipografi, gaya ilustrasi, lay out, dan warna yang digunakan.

Menariknya, walau ada beberapa produsen yang dari awal sudah berusaha menghindari hal-hal berbau kereta api karena idealisme ”ingin beda”, gaya desain cap dagang Kereta Api-nya D. Mulyono baik yang versi awal maupun terbaru tetap jadi acuan. Terlebih setelah pada 2006 Ny Sinata (putri D. Mulyono dan Loe Lan Hwa), yang adalah pemilik wingko babad saat ini mensomasi produsen wingko babad lainnya yang mencatut nama Kereta Api serta desain kemasannya. Cap dagang pengekor Kereta Api pun segera mengubah nama dan desain tampilan mereka. Pengubahan itu dari yang signifikan hingga minor.

Kesan modernitas
Satu pesan menonjol dari desain kemasan wingko babad Semarang yaitu adanya semangat modernitas. Hal ini sudah tampak sedari awal kemunculan wingko di Semarang. Modernitas sendiri berarti kesadaran akan kekinian-sesuatu yang baru. Semarang pada masa itu adalah pusat perdagangan dan pelabuhan. Etnisnya yang begitu beragam; Jawa, Arab, China, Belanda. Rel kereta api pertama dibangun di kota ini sejak 1867, untuk kepentingan militer dan memudahkan lalu lintas hasil bumi. Kereta Api menjadi penghubung antar kota yang mampu menyingkat waktu tempuh perjalanan. Ia mendukung interaksi antar manusia dan merekatkan perbedaan budaya yang sangat berbeda. Fasilitas penunjang pemerintahan dan transportasi ini menumbuhkembangkan perekonomian setempat.

Pemilihan moda transportasi kereta api sebagai cap dagang menggambarkan fungsinya sebagai simbol modernitas. Masuknya wingko ke Semarang jelas terbantu oleh kereta api uap, sebuah teknologi modern ketika itu. Demikian pula dengan wingko kereta api lain yang berlomba tampil paling mutakhir mengikuti zaman. Semata untuk menunjukkan wingko kereta api terbaru lebih unggul dan lebih modern dari pada wingko kereta api D. Mulyono. Baik dari nama maupun ilustrasinya, dari embel-embel “diesel” sampai “eksekutif”, dari “gaya baru malam” hingga “senja utama. Uniknya, bila mau disanggah, penamaan produk makanan yang empuk dan manis ini tampak tak sesuai dengan karakter kerasnya besi, bahan pembentuk kereta api. Namun kenikmatan wingko babad ini nyatanya berasosiasi dengan kecepatan dan kenyamanan kereta api. Ilustrasi simbolik kereta api yang sederhana ini nyatanya adalah imbas sekaligus berkah dari keterbatasan baca tulis masyarakat umum di awal munculnya wingko.

Pasca somasi yang dilayangkan Ny Sinata, pemilihan moda transportasi lain menjadi alternatif untuk mengganti nama produk mereka. Cap dagang-cap dagang berikut adalah yang berbeda total; Pesawat Jet, Bus, dan Kapal Laut, kurang lebih memiliki filosofi yang serupa dengan kereta api di awal kehadirannya, yaitu pernah menjadi yang tercepat dan ternyaman pada masanya. Modernitas menuntut efisiensi kehidupan, efisiensi menuntut kecepatan. Cepat dan nyaman = nikmat. Inilah fungsi simbolik pertama.

sumber: kulinerenak.com
Sementara ilustrasi cap dagang wingko kereta api lainnya yang juga terkena somasi dan mengganti merk  dan ilustrasi, malah memilih simbol yang jauh dari kecepatan dan kenyamanan. Inilah makna simbolis kedua. Cap dagang Stasiun Lokomotif dan Stoom Mini-nya NN Meniko yang sekilas masih nyerempet-nyerempet Kereta Api. Stasiun lokomotif adalah pusat dari kegiatn semua kereta api jenis apapun, percuma punya kereta api tapi tidak ada stasiun. Stoom mini adalah mesin giling pembangun jalan yang menjadi dasar dari nyamannya transportasi darat yang berlangsung di atasnya. Keduanya menyasar filosofi kuno, klasik, dan sulit ditemukan, bermakna yang paling pertama atau paling awal. Ini terdengar mirip pionir juga.

Makna simbolis ketiga mewakili aspek jenis pengalaman produsen yang mendasari mereka memilih nama produk yang sangat berbeda. Seperti; cap dagang Cakra, Mangga Dua, dan merk Dyriana. Pemilihan nama cap dagang Cakra dilatarbelakangi karena produsen wingko menyukai kisah pewayangan. Cap dagang Mangga Dua, karena produsen terkenang area tempat ayahnya bekerja ketika merantau ke Jakarta (Mangga Dua adalah nama suatu daerah di Jakarta). Sedangkan cap dagang Dyriana hadir semata karena memang ingin berbeda saja. Ketiganya sama ingin tampil beda dengan kereta api dan transportasi. Mereka juga ingin dikenal sebagai yang pertama. Pada dasarnya modernitas kategori ketiga kemasan wingko ini dicirikan tiga hal: subyektifitas (manusia sadar diri sebagai pusat realita), kritik (artiya bebas dari tradisi, tidak terikat kultur), dan kemajuan (sadar waktu tidak kan terulang). Ketiga ciri ini mewarnai masing-masing cap dagang tersebut.

Dilihat dari sisi pragmatis kemasan, modernitas menyinggung antara lain mengenai pilihan bahan pembungkus wingko sendiri yang terbuat dari kertas. Secara teori kemasan harus ekonomis, ergonomis, distributif, memuat identitas sekaligus promosi, juga estetika dan jika perlu kemasan dapat memenuhi fungsi ekspresi nilai budaya setempat yang justru makin terlupakan. Pemakaian kertas telah menunjukkan sebuah kemajuan, jauh meninggalkan makanan tradisional lain yang masih menggunakan daun pisang atau anyaman bambu. Mengikuti prinsip form follows function (bentuk mengikuti fungsi). Selain terjangkau, kertas juga efisien berkat bentuk kemasan berupa amplop mirip angpao. Industri kertas yang sedang pesat  didukung industri cetak yang cukup maju pada saat itu (namun terbatas) membuat kertas kemasan dapat sekaligus berfungsi sebagai media dicetaknya identitas produk, yaitu nama cap dagang dan ilustrasi sentral. Kemasan wingko Dyriana bahkan terhitung yang paling berani mendobrak kebiasaan pemakaian kertas HVS, dengan kertas jenis yuvo yang dicetak full color berbentuk sachet yang licin dan tebal, demi menjamin wingko lebih tahan lama.

Dalam ilustrasi, teknis penggarapannya dapat menjadi patokan untuk mengukur modernitas. Cap Tiga Kelapa Muda merupakan salah satu yang diolah dari foto dan tampil monokrom. Dari segi ilustrasi latar, kemasan awal kepunyaan cap Kereta Api D. Mulyono awalnya memakai garis-garis bergelombang yang kemudian ditiru oleh cap dagang lain. Lucunya begitu cap Kereta Api mengubah latar belakang kemasan menjadi bercak-bercak tipis, kompetitor juga mengikutinya. Adapun ilustasi latar cap Stasiun Lokomotif mengingatkan susunannya yang mirip efek hologram.

Secara total dari 1958 hingga 2010, pengubahan yang terjadi pada desain kemasan wingko babad tidak begitu besar. Ada kecenderungan penggunaan ilustrasi berupa moda transportasi yang diambil dari sisi perspektif, ada pula yang menampilkan  modernitas teknologi transportasi yang paling baru, hingga desain kemasan dengan ikon buah mangga dan kelapa yang berani menegaskan diri bahwa mereka berbeda dari cap dagang yang telah mapan sebelumnya. Kemasan juga rata-rata masih sangat mengandalkan desain yang sangat simbolik dan setia pada pionirnya. Meski begitu, patut dihargai bagaimana upaya masing-masing produsen untuk tampil di hadapan konsumen dengan klaim sebagai yang pertama (pionir), yang terdepan (secara kualitas), dan ternikmat (paling asli) berkat berragam trik visual tersebut.

Disarikan dari skripsi: Desain Kemasan Wingko Babat: Studi Pengubahan Desain Kemasan Sejak Awal Kemunculannya Hingga Kini di Semarang (1958-2010) Oleh: Natalia Afnita. Program Studi Disain Komunikasi Visual, Jurusan Disain, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta 2010.

Oh, btw. Tolong hargai penulis dan juga penelitinya dengan memberi kredit kepada yang berhak. Terima kasih.

1 komentar:

pyoubcozjc mengatakan...

bagi rekan-rekan yang ingin merasakan atau pesan online wingko babat asli cap kereta api bisa order ke saya,
pengiriman akan menggunakan TIKI, dengan paket ONS.
bisa juga cek lapak ane di kaskus gan.
bisa kontak saya. 081805965149 atau di bb, PIN 2A716559