Jalan di Pawai FKY 27

00.54.00 Jino Jiwan 0 Comments

Sore itu matahari berpendar hangat. Kadang awan menyela mencipta bayang-bayang teduh. Angin berembus sejuk menambah santai suasana. Pawai eDan-eDanan FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) ke 27 akhirnya dilepas jam setengah empat. Itulah yang dinanti-nanti. Warga tampak antusias meruyak tak karuan menyaksikan. Cukup ramai meski tidak terlalu juga. Tahu dari mana bila mereka antusias? Dari tingkah mereka yang berlintasan, berpose duduk berbaring berfoto dengan jiwa riang di tengah jalan Kaliurang selatan Selokan Mataram di kisaran kampus UGM. Jarangnya jalan aspal satu ini bersahabat dengan para pejalan mereka nikmati betul. Sungguh keramaian dalam ‘kelengangan’ yang tak biasa.

Jalanan lengang
Jalur arak-arakannya tidak panjang. Kurasa hanya tiga kali lapangan sepak bola. Jalur ini bagiku adalah jalur terbaik nan ideal untuk menggelar pawai (kecuali trotoarnya yang sudah diinvasi pedagang kaki lima) dibanding Jl. Malioboro atau jalan yang membentang dari UNY ke Bundaran UGM, atau Jl. Ahmad Dahlan ke Keraton yang selalu (terlalu) padat kendaraan dan manusia. Barangkali ini juga karena ajang Pawai FKY tidak seakbar Jogja Java Karnival yang sudah berapa tahun tidak dihelat. Yang jelas lebih sedikit enaklah disawang dibandingkan Festival Museum atau Pawai Pisowanan. Hanya sayangnya kendaraan pengiring di pawai kali ini tidak berhias alias apa adanya belaka. Aku tidak terlampau memperhatikan kontingen dari mana saja yang tampil. 

prajurit keraton

Ada rombongan orang berpenampilan layaknya “badut” atau mungkin berdandan ala punakawan (aku tidak mengerti). Ada prajurit keraton yang sudah embah-embah. Ada jathilan nan atraktif ada pula jathilan yang sudah loyo meski disorot oleh kamera para penonton. Ada pula marching band yang memainkan lagu-lagu kontemporer, cukup menghibur namun sepertinya butuh nasehat Ivan Gunawan soal kostum. Yang paling kuamati hanya wajah-wajah manis rombongan penari yang datang bergelombang, meliuk luwes lagi genit. Dalam hati aku berharap akulah yang digeniti para penari centil ini. Sampai kemudian aku sadar umur, mereka itu sepertinya anak-anak seusia SMA atau anak kuliahan yang didandani sampai kelihatan dewasa.

Genitnya...
atraktif dan kemayu
Rombongan penari yang satu ini cuma pakai kaus kaki

Ah, tanpa dirasa sudah nyaris jam 5 sore tapi pawai belum kunjung usai. Tampaknya iring-iringan masih panjang, sepanjang jarak antar peserta pawai yang mencapai puluhan meter. Padahal diri ini belum sempat ngashar. Tiba-tiba pula kepikiran tas yang kutitipkan ke Manajer KBM di kampus sana. Ya sudah, berbaliklah aku melangkah cepat di jalan-yang-bukan-trotoar. Kapan lagi bisa jalan bebas di jalan raya. Ya, kapan lagi? Tanpa sengaja aku melihat ke atas, burung-burung penghuni pepohonan UGM beterbangan kian kemari. Mungkin mereka penasaran dengan keramaian di bawah mereka. “Yah, manusia segitu gumunnya sama jalan sepi. Kami dong lewat langit yang lapang tiap hari. Kasihaan...”

0 komentar: