Moco Preman Pensiun, Bahar dan Hape

22.30.00 Jino Jiwan 0 Comments

Lanjutan dari tulisan sebelumnya:

Sinetron-sinetron kita memang cenderung pasrah dalam menghadapi kematian aktornya. Si aktor yang berpulang pun akan diceritakan meninggal betulan. Tentu tanpa sempat menampakkan bagaimana si karakter yang diperankan meninggal. Agaknya itu jadi satu-satunya cara menghormati aktornya yang wafat betulan di luar rencana awal. Ini terjadi karena pembuatnya sama sekali tidak melakukan langkah preventif atau menyiapkan sesuatu yang tidak terduga, semisal kematian aktor. Jika industri film Hollywood bisa lolos dari kejadian macam ini berkat kecanggihan teknologi CGI, di mana kematian seorang aktor di tengah pembuatan film bukan merupakan penghalang untuk tetap menghadirkannya secara hidup (seperti Paul Walker di Furious Seven, dll.). Maka berbeda dengan industri sinetron, terlebih sejak rating didewakan yang berujung pada kejar tayang demi mengisi slot tayang tiap harinya.
Preman sekeluarga
Setidaknya masih untung Preman Pensiun tidak mencemplungkan diri dalam pembelokan murahan macam operasi plastik (seperti sinetron edan Tersanjung) yang melegitimasi digantinya seorang aktor dengan aktor lainnya. Bayangkan saja jika peran Kang Bahar diganti oleh aktor kawakan lain seperti Dedy Mizwar. Preman Pensiun memilih cara aman yang bisa diterima oleh kebanyakan penonton. Sama seperti Si Doel Anak Sekolahan yang kehilangan Benyamin Sueb, Engkong Tile, Pak Bendot, dan Basuki yang lantas seluruh karakter yang mereka perankan ikut dimatikan.

Tapi kematian Didi Petet dan dimatikannya karakter Kang Bahar mau tak mau amat terasa menyisakan lubang besar pada cerita. Kisah pengejaran kalangan pesaing (Kang Jamal) untuk masuk ke keluarga Kang Bahar jadi tidak relevan. Setidaknya pada awal-awal masa transisi ketika Kang Bahar diceritakan berpulang, lubang ini terasa menganga. Di sini aku salut akan energi kreatif (tim) penulisnya. Menuliskan cerita yang akan ditransformasi ke dalam sinetron dengan durasi tayang 1 jam setiap hari pastilah tidak mudah. Cerita dibelokkan sedemikian rupa supaya kelicikan Jamal masih bisa menemukan tempat dalam cerita. Peran kementoran Kang Bahar kemudian diisi oleh Kang Idris yang buat Kang Mus penting untuk memuluskan jalan tobatnya dari preman.

Antara Ponsel dan Lisan

Satu keberhasilan Preman Pensiun adalah sentuhan kontemporernya. Lihat latar-waktunya yang HARI INI dan ada di ‘dekat kita’? Preman Pensiun mengajak penonton percaya bahwa preman-preman ini ada sungguhan dan bukan sekedar sinetron.
Karier: copet, jalan hidup: copet
Ketergantungan teknologi adalah sebuah isu khusus dalam sinetron ini. Ponsel (hape) memegang peranan sangat penting dalam memerantai bukan hanya komunikasi antar karakter dalam cerita tapi terutama komunikasi dari karakter-karakter tersebut kepada penonton. Di tengah konvergensi teknologi dalam sebuah hape di mana di dalamnya tergabung nyaris segala fungsi—pemutar musik, radio, senter, kalkulator, internet—melebihi fungsi awal hape yang hanya untuk menelpon dan mengirim/menerima pesan (sms), nyatanya hape dalam Preman Pensiun tidak pernah digunakan lebih dari menelpon. Tentu penonton harus melupakan sejenak, bagaimana karakter-karakter dalam Preman Pensiun yang jika bukan preman maka dia adalah pencopet atau penjual cilok bisa dengan mudah dan leluasa menelpon tanpa merasa sayang pulsa, seolah mereka semua pengguna satu provider komunikasi yang satu menit bicara hanya 50 Rupiah.

Preman Pensiun
gadis penipu Preman pensiun
Tuh, kan nih sinetron ini mengajarkan betapa menelpon itu murah biayanya dan "efektif!"
Mengapa demikian? Sebab dalam sinetron sesuatu berujud TULISAN sulit dinarasikan jika bukan dengan LISAN. Lewat hape yang sangat lisan itu cerita pun bisa sampai ke penonton. Bayangkan andai penulis naskah mengisahkan salah seorang karakter ber-sms-ria pastilah sms itu akan dibacakan langsung kepada penonton, agar penonton paham apa yang dituliskan oleh si karakter. Sinetron Tukang Ojek Pengkolan yang bagiku kurang nikmat disaksikan (karena mencoba keras mengekor Preman Pensiun) melakukannya di saat salah satu karakternya meng-update status (Facebook?). Semua update statusnya dilisankan dengan keras sebagai upaya menimbulkan kelucuan yang buatku justru tidak lucu.

Omong-omong, tahu hal baik apa yang diajarkan oleh sinetron ini? Adalah agar kita semua para penonton jika mau terima telepon saat sedang berkendara ya minggirlah dan berhenti dulu baru terima telepon. Aman berkendara, orang lain pun selamat.

Senutup

Bila ada komplainku pada sinetron ini tak lain soal penayangannya yang menembus—waktu sholat terpendek—maghrib, apalagi kemarin di bulan puasa. Sehingga mau tidak mau menimbulkan kecurigaan dan dugaan juga tuduhan(ku) kepada pemilik stasiun televisi atau setidaknya manajer jadwal acara bahwa tujuannya adalah supaya penonton Preman Pensiun tidak pensiun menonton meskipun sudah datang waktu sholat. Iya mungkin agak berlebihan. Tapi sinetron ini bikin aku malas beringsut ke masjid atau ia hanya alasan yang kubuat-buat demi membenarkan tindakanku. 

(Jino Jiwan)

0 komentar: