Moco Preman Pensiun, Komedi dan Kriminalitas

00.47.00 Jino Jiwan 0 Comments

Lanjutan dari tulisan pertama:

Mudah melihat bagaimana Preman Pensiun ini sebetulnya berdialog dengan dua seri film The Godfather. Penonton tidak sungguh tahu siapa lawan dan kawan, siapa memata-matai siapa terutama di kalangan preman-preman kelas bawah. Tetapi cukup diberi tahu mana yang protagonis (pihak Muslihat) dan mana yang antagonis (pihak Jamal). Tentunya minus kekerasan dan kebrutalannya, sebab hanya ada empat jenis sinetron di Indonesia: komedi, romansa, remaja, dan dakwah, atau gabungan dari tiga di antaranya. Dan Preman Pensiun memilih jalan komedi. Tentu akan menarik melihat andai sinetron ini digarap dengan pembawaan serius. Sebab kurasa tak akan kalah menarik.

Preman Pensiun
Koboy, eh preman ding
Karena ke-komedi-an inilah Preman Pensiun mengajak penonton melihat sisi lain preman, bahwa mereka juga manusia. Preman pun ditampilkan ngantukan walau badan bertato, dan bertampang seram bin gahar. Kelakuan mereka pun kadang kikuk dan konyol. Bukan hanya preman tapi nyaris semua punya perwakilan karakter yang berperan bagai abdi/punakawan dalam pewayangan atau istilahnya mereka ini adalah comic relief. Sayangnya peran comic relief-nya jadi terlampau banyak: Ubed (dari kalangan copet tobat), Pipit (dari kalangan preman), Ceu Edoh (dari kalangan sipil), dll. Semua dikreasikan demi memecah tawa penonton. Dunia premanisme dan sekitarnya sudah disimulasikan demi hiburan penonton.
Untuk kota sebesar Bandung dan ke”legenda”an Kang Bahar yang digembar-gemborkan, sangat tidak mungkin rasanya melihat preman-preman di Preman Pensiun sangat amat minim. Bahkan tidak sampai hitungan seluruh jari tangan kanan-kiri. Sungguh sangat mustahal! Belum lagi representasi lokasi kekuasaan ‘hanya’ mencakup pasar, jalan, dan terminal yang itu-itu saja. Mana preman dari Pasar Baru? Preman-preman tempat wisata dan belanja?
Preman pensiun
"ayo kita pesen Prengees prengees
Pilihan sosok preman bisa jadi memang dirasa tepat dan pas dari sisi mata dan bayangan yang selama ini mencantol di benak penonton, kendati bisa dibantah bahwa dengan visualisasi seperti itu Preman Pensiun pun terjebak kepada eksplotasi visual mengenai steriotipe sosok preman yang serba sangar, di mana semuanya (kecuali Muslihat yang jauh dari imaji preman pada umumnya) memakai atribut lumrah seorang preman: gondrong atau rambut skinhead, bertato, bertindik, kumisan, berewokan, berkalung, bergelang, pakaian didominasi warna hitam dan bahan jins. Tahu apa lagi yang kurang? Rokok! Aneh kan preman kok gak merokok? Lenyapnya rokok jelas suatu bentuk negosiasi pembuatnya supaya ia bisa diterima penonton dan bisa ditayangkan di jam premium. Aku cukup yakin, beberapa aktor ini aslinya merokok juga. Andai nuansa Preman Pensiun dibuat lebih serius dan gak terhalang regulasi pemerintah yang melarang menyajikan orang merokok di layar televisi pasti mereka (para preman dan copet) bakal kelihatan merokok di sini. Bagaimanapun rokok adalah bagian penting dari karakterisasi sebuah dunia nyata dan malah mungkin juga merupakan bagian dari steriotipe itu sendiri.
jaket jins, tindikan, atribut serba hitam, kalung, dan tato adalah khas preman
Pemilihan lokasi juga tergolong unik buatku yang bukan orang Bandung. Karena sinetron ini tidak memilih tempat-tempat “gemerlap dan ikonik”, malah ia mencoba memperkenalkan sudut-sudut kota yang baru dan belum banyak diketahui penonton. Bahkan sisi kota yang dipilih jauh dari arketipe-nya Bandung. Landmark terkenal seperti Gedung Sate bahkan tidak kelihatan. Tidak seperti perlakuan FTV di SCTV yang berlatar tempat Yogyakarta yang terus menyorot tugu, pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, dan Malioboro. Jika itu belum cukup, FTV akan menyajikan pemuda berlogat Jawa supermedok, bersurjan, dan berblangkon, lalu naik andong demi menghadirkan keotentikan “Jogja” nan dangkal di mata penonton. Di Preman Pensiun hal itu tidak terlihat. Orang Sunda tampil apa adanya sewajarnya seperti orang saat ini, yang dengan begitu ia membangun kedekatan fisik kepada penonton.
Copet copet binal
Tindak kejahatan yang ditampilkan memang terbatas pada pencopetan, penodongan, dan penjambretan. Nyaris tidak ada bentuk kriminalitas lain. Ketegangan ditimbulkan pula dari persaingan sesama preman yang berebut lahan “bisnis” uang setoran keamanan. Padahal jelas ada banyak ragam kejahatan lain yang lebih meresahkan dan bisa memperkaya cerita. Misalnya pencurian kendaraan bermotor, begal, orang mabuk-mabukan, pedagang makanan yang dagangannya nggak sehat, kejatahan dengan gendam/hipnotis, pelecehan seksual, pembobol rumah/pencuri, bahkan narkoba hingga pembunuhan. Kenapa tidak disertakan?
Preman pensiun
Preman pensiun
Duo penodong yang selalu bernasib sial
Barangkali karena kejahatan lain tadi dirasa terlalu serius bagi penulisnya. Pencopetan dipilih karena dikategorikan oleh pembuat sinetron sebagai sesuatu yang ringan dan bisa ditertawakan bersama, dan yang penting adalah sudut pandang HIBURANnya. Pembuatnya ingin agar penonton punya perspektif tertentu kepada pencopet, bukan pada tindak kejahatan lain yang lebih ‘berat’. Bagaimanapun sinetron ini berposisi sebagai sinetron komedi. Lagi pula  sedari awal pencopetlah yang dihadirkan, istilahnya sudah terbangun keterikatan antara karakter-karakternya dengan cerita dan penonton. Mungkin pula penulis naskah merasa cerita copet inilah yang sudah disukai penonton dengan pengulangan nasib kecopetan di tiap episode dan mereka terjebak bersamanya.

Sadar gak, sinetron ini ironisnya tidak pernah berlatar waktu malam hari. Padahal preman lebih banyak yang merupakan makhluk-makhluk nokturnal. Secara teknis mungkin sulit syuting malam hari. Energi untuk lampu penerangan harus lebih besar bukan? Malam hari akan sangat menarik untuk dibahas terutama dari sisi kriminalitas yang bisa ditangani oleh para preman. Sekali lagi, kurasa akan menarik juga jika melihat sinetron ini digarap dengan nuansa serius, bukannya komedi. Sehingga apa-apa yang kusebut luput dari sinetron ini di atas mendapatkan ruangnya juga.

(Jino Jiwan)

Lanjut ke bagian penutup (?)

0 komentar: