'Wakil Rakyat' dalam Wakil Rakyat Bermalam (2)

16.00.00 Jino Jiwan 0 Comments

Sambungan dari ketikan sebelumnya.

Idealisasi Wakil Rakyat

Acara ini jelas mau menunjukkan seperti apa wakil rakyat ideal. Kantor DPR RI yang nyaman dan sejuk menjadi awal sebuah perjalanan “jauh” yang akan dilakoni Si Anggota DPR RI (Sa’duddin). Anggota DPR RI kita rela meninggalkan kenyamanan ini demi menunaikan tugas. Perjalanan memakai mobil menunjukkan jauhnya jarak tempuh antara kantor DPR RI dan rumah konstituen di sebuah desa di Bekasi Utara. Perjalanan berlangsung dramatis lewat transisi gambar: ruang kantor, jalanan aspal sempit, sungai besar untuk disebrangi memakai perahu getek, dan sebuah desa yang dilawankan dari kemegahan kota. Desa di sini ditampilkan dengan membingkai pola pikir tertentu mengenai desa. Desa adalah ruang tidak tertata, sampah berserak di tepi jalan setapak, pohon-pohon pisang dan kelapa tumbuh tak teratur, hingga rumah Pak Adhim yang separuh berdinding batako dan anyaman bambu. Rumah Pak Adhim pun dikisahkan jauh dan sulit dijangkau sehingga perlu memakan waktu beberapa menit berjalan kaki.  

Drama dibangun kala tiga orang anak kecil datang mengamen di desa! Di emper sebuah rumah yang bukan rumah orang berpunya! Bagaimana mungkin tiga orang anak kecil mengamen di tempat semacam ini bukanlah pertanyaan. Sebab cerita ini dibuat demi pencitraan si anggota DPR. Saat malam datang satu keluarga duduk bersama di ruang tengah bersama Sa’duddin. Ruang tengah adalah ruang di mana keakraban setiap orang yang duduk di sana dibangun melalui perbincangan. Di sinilah puncak peran wakil rakyat (ideal) terhadap yang diwakilinya yaitu mendekati, mendatangi, dan memberi, untuk merasakan seperti apa jadi ‘rakyat’ dan memberi kesempatan bagi rakyat yang diwakilinya untuk menyampaikan aspirasi (alias mengobrol diselingi keluh kesah). Aspirasi yang (idealnya) akan dibawa ke ruang sidang untuk dibahas demi membuahkan kebijakan/Undang-Undang. Bukan soal apakah obrolan di ruang tengah adalah situasi yang sungguh terjadi dan nyaman bagi setiap orang yang terlibat. Yang penting adalah “peran” anggota DPR RI telah dimainkan dan sudah menjadi nyata lewat keakraban Sa’duddin dan keluarga Pak Adhim dalam ruang simulasi acara televisi.

Setelah wakil rakyat dan si rakyat berpisah dari layar kaca. Fokus tayangan malah beralih pada kegiatan Sa’duddin. Di sini Wakil Rakyat Bermalam berfungsi jadi semacam kendaraan demi menampakkan kegiatannya yang berkaitan dengan pendidikan. Ini bisa dilihat dari rangkaian adegan-adegan sebelumnya. Acara ini lalu menjadi ajang bagi anggota DPR RI untuk memamerkan/ memasarkan realisasi visi misinya (janji-janinya) semasa masih menjalani kampanye melangkah ke Senayan. Di ujung acara Sa’duddin mereferensi cita-cita kedua anak Pak Adhim dan secara tidak langsung ketiga anak yang mengamen di desa Sukatenang dalam kaitannya dengan peresmian acara/gedung yang baru saja dilakukannya. Penghubungan ini dilakukan juga secara visual di mana di belakang Sa’duddin dihadirkan dua anak kecil yang memegang piala, tanda prestasi pendidikan.

‘Wakil Rakyat’ dalam Bingkai Kamera

Kameraperson dengan kameranya mewakili mata pemirsa yang menyaksikan. Sudut-sudut pengambilan gambar dipilih demi mendukung ‘cerita’ petualangan si wakil rakyat. Posisi kameraperson dalam acara seolah ditiadakan terlepas perannya yang penting, dalam arti ia tidak diajak berinteraksi dan tidak disertakan secara sengaja sebagai bagian dari rombongan menginap. Kamera adalah ‘subjek’ pasif yang mengganti posisi pemirsa. Dengan posisi menonton seperti ini pemirsa seolah tidak punya posisi tawar untuk mengambil sikap kritis terhadap apa yang disajikan kamera. Padahal sudut kamera bukan hanya perkara pemotongan/peralihan gambar tetapi juga soal representasi.
Sudah pagi...saatnya pulang
Pemilihan konstituen yang akan didatangi dan rumahnya akan diinapi adalah juga persoalan memilih ‘wakil rakyat’ yang dianggap mewakili ‘rakyat’ secara keseluruhan. Wakil rakyat tidak saja berkonotasi pada anggota DPR. Tetapi ‘wakil rakyat’ di dalam acara ini adalah buah dari pemilihan berdasarkan pertimbangan hiburan. Tak pelak pemilihan ini menimbulkan masalah pada representasi ‘wakil rakyat’, yaitu peliyanan rakyat secara luas, walaupun niat awalnya justru sang liyan itu yang diangkat.

Demi menimbulkan efek tertentu, dalam hal ini rasa simpati pemirsa kepada rakyat yang didatangi lebih-lebih lagi kepada anggota DPR RI maka pemilihan ‘wakil rakyat’ yang diinapi pun bersyarat. Mereka tidak akan pernah berasal dari kelas menengah apalagi atas. Mereka sengaja dipilih dari kalangan bawah dengan penanda-penanda khas yang diulang dan mengulang pada episode-episode selanjutnya/sebelumnya. Penanda ini paling terlihat pada aspek fisik/penampilan ‘wakil rakyat’: orang-orang miskin melarat dengan upah kerja dibawah standar, baju dan wajah penuh kelusuhan, rumah berdinding bambu berlantai tanah/semen, dan pekerjaan buruh tani/bangunan atau serabutan.

Pemilihan lokasi juga selalu merujuk pada tempat-tempat ‘terpencil’ atau dikesankan seolah jauh dari pusat kota besar (Jakarta). Lokasi ini sudah dipilih berdasar konstruksi tertentu, yaitu lokasi yang ada di sekitar pemirsa (‘rakyat’ pada umumnya). Pemirsa tidak akan pernah tahu kenyataan mengenai lokasi tempat tinggal si konstituen, kecuali pemirsa secara bukan kebetulan berdomisili di sekitar tempat syuting. Lokasi dipilih untuk menimbulkan kesan "baik" bagi anggota DPR yang mau bersusah payah mendatangi konstituen. Di sini kata “rakyat” yang oleh KBBI didefinisikan sebagai penduduk suatu negara atau orang kebanyakan/biasa telah mengalami penyempitan makna untuk secara khusus menyebut warga ekonomi menengah bawah/miskin.

Acara belum selesai, belum selesai sampai anggota DPR menunjukkan kinerjanya
Dengan demikian Wakil Rakyat Bermalam sudah jatuh pada eksploitasi kemiskinan dari ‘wakil rakyat’. Keluarga Pak Adhim dan keluarga lain yang rumahnya diinapi dimanfaatkan demi kepentingan citra wakil rakyat di DPR RI. Namun ini bukan sekedar eksplotasi dari pihak pembuat acara, di mana anggota DPR RI turut terlibat. Pemirsa sendiri (diam-diam) memang menginginkannya sebab pemilihan ‘wakil rakyat’ sebagaimana diungkap di atas adalah bagian dari kode-kode tayangan yang menghibur. Tayangan penghiburan rakyat kecil ini telah lama dikerjakan oleh industri televisi lewat pembentukan citra-citra tontonan yang menimbulkan kesenangan dan menumbuhkan harapan-harapan dari pemirsanya, harapan agar hidupnya bisa lebih baik setelah didatangi anggota DPR RI atau harapan agar suatu hari rumah mereka akan diinapi juga oleh anggota DPR. Dari sudut pandang keluarga yang diinapi. Kedatangan anggota DPR RI yang dulu dicoblosnya dalam pemilu legislatif pastilah suatu anugrah dan kebanggaan. Dalam bayangan mereka, mereka akan dapat menyampaikan keluh kesah kehidupan sehari-hari terlebih Si Wakil Rakyat juga ikut melibatkan diri merasakan dan mengetahui kegiatan keluarga yang diinapi. 

Senutup

Bagiku Wakil Rakyat Bermalam terjebak antara format tayangan yang mesti menghibur dengan cara meniru pola-pola tayangan sebelumnya dan keinginan menjadi alat penghubung wakil rakyat dengan konstituennya. Untuk keperluan itu situasi dan interaksi yang tercipta antara keduanya terkadang seperti dibiarkan tampak sealamiah mungkin tanpa ada take ulang atau berusaha meyakinkan pemirsa bahwa memang begitulah adanya yang terjadi. Kesan demikian bisa dilihat dari bahasa tubuh yang menyiratkan kecanggungan juga keraguan antara anggota DPR RI dengan konstituennya. Tampak seperti tidak ada prosedur/arahan tertentu dari pihak pembuat acara, yang besar kemungkinan seluruh kru tidak terbiasa menggarap acara sejenis. Akibatnya dari segi hiburan, Wakil Rakyat Bermalam telah gagal. Bukan saja karena para anggota DPR RI berusaha keras menjadi seorang aktor televisi tapi nama mereka telah kalah mentereng dari aktor sungguhan. Jika ada yang dihibur tentunya adalah para anggota DPR RI itu sendiri apalagi yang petualangan menginapnya disiarkan siaran televisi paling luas jangkauannya di Indonesia. Citra DPR RI hendak dibangun ulang, meruntuhkan mitos lawas yang seakan sudah mantap melekat pada diri mereka bahwa mereka hanya menghamburkan uang atau sibuk saling sikut antar fraksi tanpa prestasi. Berganti jadi wakil rakyat DPR RI yang juga sosok manusia dengan hati dan kepedulian terhadap rakyat yang diwakili.

(Restu Ismoyo Aji)

0 komentar: