'Wakil Rakyat' di Wakil Rakyat Bermalam

17.12.00 Jino Jiwan 0 Comments

Menunjukkan diri berdialog langsung di hadapan rakyat, itulah pesan dari tayangan televisi Wakil Rakyat Bermalam di TVRI setiap Senin-Jumat pukul 9:30 WIB tahun 2015 (sepertinya sudah berhenti tayang nih). Dialog ini maksudnya ingin membangun kepercayaan rakyat kepada wakil rakyat di DPR RI dan menjembatani kerenggangan gara-gara pemberitaan media massa atas kinerja DPR RI. Ia juga bermaksud mendekatkan hubungan keduanya: bahwa keduanya saling membutuhkan.  

Dalam acara berdurasi 30 menit ini seorang perwakilan anggota DPR RI dikisahkan menyambangi rumah seorang konstituennya untuk menginap sebanyak satu malam. Di permulaan acara seorang anggota DPR RI ini menyampaikan kepada pemirsa bahwa dirinya akan melakukan perjalanan dalam rangka mendengar aspirasi rakyat langsung di rumahnya. Lalu dengan ditemani seorang asisten dan atau seorang sopir, anggota DPR RI ini berangkat menuju rumah konstituen di daerah pemilihan asalnya. Di rumah tersebut, wakil rakyat ini kemudian menghabiskan sehari semalam berkumpul, makan bersama, mengobrol, lalu menginap, dan ditutup dengan berpamitan kepada keluarga yang diinapi pada keesokan paginya. Cerita model begini selalu berulang di tiap episode dengan hanya sedikit perbedaan.

Tanggal 17 Juni 2015 lalu bintangnya adalah Pak Sa’duddin (mantan bupati Bekasi?) anggota DPR RI dari fraksi PKS. Di ruang kantornya dia bilang kepada asistennya tentang rencana kunjungan ke daerah asal pemilihannya di Bekasi. Dia juga mengajak pemirsa (dengan menatap ke kamera) untuk mengikuti perjalanannya. Sepanjang perjalanan berkendara, di dalam mobil Sa’duddin bercerita pentingnya mendengar aspirasi rakyat. Untuk sampai ke lokasi dia dan rombongan mesti menumpangi getek menyebrangi sungai (seolah tidak ada jalan lain). Di desa Sukatenang, Sukawangi, Babelan, Bekasi Utara dia bertanya kepada warga sekitar rumah Pak Adhim konstituennya. Seorang warga (yang sebetulnya pemeran pembantu) bersedia mengantar Sa'duddin. Sembari mengantar inilah terungkap bahwa pekerjaan Pak Adhim adalah serabutan.


Rumah Pak Adhim yang separuh bertembok batako dan hanya berdinding anyaman bambu rupanya kosong. Pemiliknya tengah menggembala kambing di persawahan, sehingga mereka pun menunggu. Selama menunggu di emper rumah tiga orang anak kecil datang mengamen (beneran!). Sa’duddin bertanya mengapa mereka tidak sekolah. Dijawab oleh salah seorang anak bahwa mereka tidak memiliki biaya. Kepada warga yang mengantar tadi Sa’duddin menitipkan ketiga anak itu agar disekolahkan.


Tak berapa lama Pak Adhim tiba di rumah. Seusai menggiring kambing-kambing masuk kandang dia menyambut Sa’duddin dengan memegang tangannya erat. Mereka berkenalan dan mengobrol sejenak. Ketika malam datang, Sa’duddin duduk bersama satu keluarga itu di ruang tengah sembari membincangkan kegiatan Pak Adhim dan istri, juga cita-cita kedua anaknya yang ingin menjadi dokter dan ustaz. Rekaman pekerjaan Pak Adhim sebagai buruh tani dan bangunan tersaji di layar menyelingi percakapan.


Menjelang tidur Sa’duddin duduk dengan tatapan menerawang (ke atas gitu) diiringi ucapan kagumnya kepada Pak Adhim dan keluarganya. Dia pun tidur di ruang tengah beralas tikar. Keesokannya Sa’duddin dan Pak Adhim sholat subuh di masjid sebelum kemudian dia pamit berangkat kembali ke Jakarta. Tayangan ternyata masih berlanjut menyoroti kegiatan Sa’duddin meresmikan sebuah acara/gedung yang lantas ditutup dengan pesannya mengenai pentingnya pendidikan bagi anak-anak sebagai sarana meraih cita-cita mereka.

Pinjam Sana Pinjam Sini

Sebagai sebuah acara Wakil Rakyat Bermalam sungguh bukan tayangan biasa dan jelas berada di luar jalur utama acara yang menarik minat pemirsa, makanya ia diberi jatah waktu pagi hari di saat orang pada umumnya masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Jika boleh milih pastilah para anggota DPR ingin agar acara ini disiarkan stasiun televisi swasta pada sore hari. Namun cuma TVRI yang menyiarkan. Berhubung TVRI itu tv pemerintah, tentu mereka punya kepentingan. Mungkin supaya kepercayaan masyarakat kepada wakil rakyat mereka di parlemen tetap terjaga. Ini sebabnya sidang-sidang DPR juga rajin disiarkan oleh sejumlah stasiun televisi.  

Di sisi lain acara ini sebenarnya hendak menampilkan sudut pandang berbeda terhadap DPR RI yang sering dibantai oleh media massa melalui berita-berita yang menyudutkan kinerja mereka. Berita ini punya dampak terhadap turunnya angka keikutsertaan rakyat pada pemilu legislatif. Wakil Rakyat Bermalam dikreasikan untuk menjawab keraguan rakyat atas kinerja wakil mereka di DPR RI. Bahkan Wakil Rakyat Bermalam barangkali juga dipicu rutinitas Jokowi sebelum menjadi presiden yang gemar blusukan terutama semenjak menjabat gubernur DKI Jakarta. Perhatian besar media massa pada agenda blusukan Jokowi ikut menimbulkan kebutuhan bagi anggota DPR RI untuk diperlakukan dengan cara serupa (yaitu Eksis!). Bagi anggota DPR RI Wakil Rakyat Bermalam adalah semacam panggung kontribusinya bagi negara dan rakyat. Panggung yang sayangnya tak jauh dari panggung drama.

Wakil Rakyat Bermalam dan acara sejenisnya tidak dapat sepenuhnya disebut reality show ataupun feature. Tayangan televisi adalah bentuk simulasi yang sempurna. Simulasi membuat tayangan ini seolah nyata dan malah lebih nyata dari kenyataan. Supaya menginapnya anggota DPR RI di rumah konstituen menarik ditonton, diciptakanlah cerita runtut dengan nalar-nalar sintagmatik yang dipinjam dari tayangan-tayangan sejenis dari televisi swasta. Tayangan populer semacam Jika Aku Menjadi, Bedah Rumah, Jalan-jalan Selebritis, dll. dipinjam oleh Wakil Rakyat Bermalam. Pemirsa yang sudah biasa menonton acara sejenis diajak ikut membangun urutan cerita dengan menyusun bayangan-bayangan terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya di setiap adegan sama seperti yang dilakukan oleh pembuat acara ketika menata ‘cerita’ anggota DPR yang akan mendatangi rumah konstituen.

Lanjut ke ketikan berikutnya.

(Restu Ismoyo Aji/Jino Jiwan)

0 komentar: