Dari Kawah ke Situ

Minggu 16 Mei itu masih bisa dibilang pagi di Kawah Putih, waktu belum melewati jam 10. Nyatanya area kawah tidaklah sedingin yang disebarkan para blogger dan laman-laman internet. Pakai satu helai jaket saja sudah cukup, malah ada pengunjung yang bersandangan layaknya mau ke mall: celana pendek; hotpants; rok mini. Tapi barangkali penyebabnya karena kemarau sudah menapak. Matahari pun terbang bebas tanpa dihalangi awan. Atau ini juga karena luar biasa padatnya pengunjung di area bekas kawah gunung Patuha?

Para penjaja masker bertebaran mulai dari terminal bus hingga terminal/parkir atas serta menjelang kawah, menyerbu setiap pengunjung. Mereka menawarkan masker dengan bujukan yang mbujuki khas pedagang: “Maskernya, di atas bau belerang, temannya tadi sudah ambil.” Temannya sudah ambil? Ha ha, rombongan kami sudah siap masker dari tadi jadi tidak mungkin membeli dari mereka. Aku sendiri tidak merasakan aroma belerang yang menyengat. Buatku aroma belerang lebih parah di Tangkuban Parahu dan Dieng. Entah biasanya memang seperti itu atau ada sebab lain. Jangan-jangan gas sulfurnya sudah disedot habis pengunjung menyisakan karbondioksida belaka. Tepat sebelum tangga menurun menuju kawah terdapat papan yang bertuliskan larangan kunjungan melebihi 15 menit dalam kondisi normal. Aku berada di kawah kurang dari itu. Kepala mulai pening, tapi dasarnya memang sudah pusing sedari tadi. Belakangan kubaca dari papan informasi bahwa aroma belerang baru terasa jika hujan turun atau saat menjelang malam.

Dari gerbang masuk - Kawah Putih - transaksi senjata
Buatku kawah putih sebagai tempat wisata tidak teramat istimewa terlebih jika dibandingkan kawasan Dieng. Dinding kawah malah lebih menarik daripada kawahnya, tapi jelas kawasan ini lebih genah dibanding Kaliurang Jogja yang lebih miskin objek sawangan. Kendati begitu aku salut dengan industri wisatanya. Selain kawah yang jadi daya tarik utama, ada juga kebun stroberi di mana pengunjung boleh memetik sendiri (dengan membayar yang dengar-dengar cukup mahal), atau pengunjung bisa memilih untuk membelinya dari para asongan sekembalinya ke taman parkir bus. Di kala inilah harga stroberi dalam kemasan mika mendadak anjlok. Sayangnya ujud stroberi yang dijual tidak prima. Kurasa kita semua (pembeli dan pedagang) terjebak pada penggambaran media tentang bagaimana penampilan stroberi seharusnya: merah, segar, harum, dan harus ber-DAUN sama seperti apel yang harus bertangkai. Jika kamu membeli satu kemasan stroberi dalam mika, bonus daun stroberi yang indah di mata ini bisa mencapai seperempat kemasan. Lagipula stroberi yang besar-besar diletakkan di atas sehingga terlihat oleh pembeli sedangkan pada tumpukan bawah stroberinya kecil-kecil. Yah, biasalah trik pedagang.

Suasana terminal naik Kawah Putih.
Sebagian pengunjung tidak tahu bahwa isi perut mereka akan segera diontang-anting.
Atraksi lain yang ekstrim adalah angkutan ontang-anting nan unik. Ontang anting adalah mobil jenis carry seperti angkot pada umumnya namun bagian badannya (di belakang deretan sopir) sudah dimodifikasi untuk memuat tiga baris kursi menghadap depan, masing-masing deret di isi 3 orang. Angkutan ini memang disediakan buat pengunjung naik ke dan turun dari kawah. Bukan hanya nyentrik belaka tetapi angkot ini menghidupi banyak perut: perut penjaga loket, sopir dan keluarganya tentu saja. Karena itulah cara supaya mereka tetap hidup adalah dengan tetap membiarkan jalan naik ke kawah sempit hingga hanya cukup untuk 1,8 mobil dan mematok biaya parkir mobil di area atas dengan tarif kurang ajar. Semua demi menjaga industri wisata pada jalurnya.

Oh, omong-omong menumpangi ontang-anting bisa jadi sensasi tersendiri. Sopirnya amat mahir (atau separuh gila) melahap jalur sempit dan tikungan tajam dengan kecepatan tinggi. Empat(?) kilometer jalur naik ditempuh hanya 10 menit, turunnya lebih cepat lagi. Selama perjalanan aku menatap lurus berusaha konsentrasi menahan gejolak perut. Duduk di tengah menjadi solusi menghindari terpaan angin yang tiba-tiba dingin-dingin segar (tapi tidak nyaman kalau sedang masuk angin). Untung duduknya menghadap depan, aku tak tega membayangkan andai penumpang duduk menyamping dan berhadapan dengan medan seperti itu.

Kali lain kalau punya waktu akan kuajari mereka membaca
.....

Perlajuan bus melanjut ke Situ Patengan (Patenggang?). Hamparan kebun teh meluas sepanjang jalan. Pemandangan yang lagi-lagi jauh lebih sedap dibanding Kawah Putih. Buatku pribadi kebun tehnya lebih indah daripada di desa wisata Nglinggo Kulonprogo, tapi tentu tidak adil membandingkan suguhan Nglinggo yang tengah menggeliat dengan Kabupaten Bandung yang sudah mapan. Sayang sekali kebun teh tidak masuk agenda perhentian.

Bikin pengin terbang
Jurusan: Tepi Telaga - Pulau Asmara PP
Sisa hujan yang mendera kawasan Situ Patengan menyisakan genangan air di sana-sini. Cuaca agak mendung bikin pembawaan sekitar agak sendu dan temaram. Rupa telaga ini mengingatkanku pada waduk Sermo Kulonprogo, airnya buram khas danau biasanya. Pada satu sisinya terdapat persewaan perahu kayuh (becak air) dan jasa keliling telaga naik perahu. Aku tidak berminat naik meskipun diimingi mengitari Pulau Asmara di ‘tengah’ telaga sekalipun. Pulau itu bila dilihat dari atas berbentuk seperti jantung...atau tidak akan berbentuk seperti apapun jika kita tidak pernah mengenal konsep “cinta” dalam ujud “hati” sebagaimana telah kita kenal secara taken for granted melalui berbagai film dan iklan.

Buatku legenda di balik Situ Patengan dan pulau di tengahnya cukup menarik walaupun terasa sekali diada-adakan buat menarik pelancong agar mau naik perahu. Legenda mengatakan—seperti tertulis pada papan informasi—ada sejoli saling mencinta, seorang putra raja bernama Ki Santang (nah, namanya saja sudah kehabisan ide gitu) dan titisan dewi bernama Dewi Rengganis. Keduanya lama berpisah dan sama-sama mencari satu sama lain sampai akhirnya dipertemukan di batu cinta. Dewi Rengganis lalu minta dibuatkan danau dan perahu untuk dipakai keduanya berlayar. Perahu itu kemudian berubah jadi...pulau di tengah telaga (Ah iya, kalau perahu bisa berubah menjadi gunung kenapa tidak bisa berubah jadi pulau?). Di sini bagian menariknya: “menurut cerita ini yang singgah di batu cinta dan mengelilingi pulau Asmara senantiasa mendapat cinta yang abadi seperti mereka.”àkutipan langsung dari papan informasi.


Aku cukup yakin ada kreator dari kisah dan mitos ini. Kreator kisah menyuplik kisah perpisahan-pertemuan Adam dan Hawa lantas memanfaatkan bentuk fisik pulau yang katanya seperti “hati” untuk dilekatkan pada legenda hibrida Ki Santang dan Dewi Rengganis. Tapi tak mengapalah. Wong hampir semua lokasi wisata punya kisah pemanisnya, kisah pemanis yang meromantisasi masa lalu sehingga seolah sudah hadir sejak dahulu kala. Salut untuk industri wisata Patengan yang berani bikin mitos baru. Sebab dengan mitos baru ini orang pun rela berbondong untuk memutari pulau demi mengawetkan cinta mereka dan yang paling penting para tukang perahu dan sampingannya hidup sejahtera.

Kabut mulai turun, suhu udara mendingin dengan cepat, perlahan telaga tidak terlihat lagi ketika bus yang kami tumpangi beranjak menanjak pergi. Kemacetan parah menghadang menuju kota Bandung tapi kurasa itu tidak seberapa dibanding rasa gundah terjebak di tengah telaga di atas sepeda air di tengah kabut pekat. Mungkin kabut macam ini yang bikin Ki Santang dan Dewi Rengganis tidak kunjung berjumpa.

(Jino Jiwan)

Wartawan: Antara Film dan Kenyataan

Sebenarnya aku kerap membayangkan betapa nikmatnya kerja jadi wartawan/jurnalis/reporter. Dalam bayanganku sedap nian para wartawan ini bepergian ke sana dan kemari, motret entah apa-motret diri dengan latar entah di mana, wawancara narasumber dengan pertanyaan (sok) kritis, nulis terus dimuat, dan dibayar untuk itu semua. Aku juga membayangkan saktinya kartu pers untuk bikin orang yang mau macem-macem atau ngeremehin jadi ‘takut’. Ngerti ‘takut’ yang kumaksud? Takut disini artinya tunduk. Aku bicara soal kuasa orang media dalam mengintimidasi orang lain dan memanipulasi apa yang ditulisnya. Oke, memanipulasi mungkin kurang tepat. Mungkin lebih tepat bermanuver. Pendeknya kerja di media pernah jadi obsesiku yang sayangnya (atau untungnya?) tidak kesampaian. Karena jalan rupanya tidak menuntunku ke situ. Yang aku mau bilang sebetulnya adalah bahwa aku mungkin tidak berbakat berhadapan dengan banyak orang  dan tidak siap menghadapi gilanya kerja media.

Audrey, Rick, Stephen, dan Lou, bersama memenangkan Pulitzer Prize of Asshole 
Sumber gambar: cinemarx.ro, movieactors.com, fanpop.com, dailymail.co.uk
Film adalah media yang paling sering aku nikmati. Dan sependek pengalamanku kebanyakan film Hollywood tidak memberi kesan yang baik terhadap para wartawan. Tengoklah film Godzilla (1998). Iya, film Godzilla yang agak lawas itu (dan sering diputar di bioskop abal-abal Trans Tv) di mana si jurnalis Audrey Timmonds (diperankan Maria Pitillo) rela melakukan apa saja demi pengembangan karirnya, tidak peduli siapa pasti akan diterabas termasuk mantan kekasih yang masih dicintai. Atau lihat Die Hard (1988) dan Die Hard 2 (1990) yang menggambarkan wartawan/reporter dengan amat menjengkelkan lewat karakter Richard Thornburg (William Atherton) yang rela membahayakan nyawa orang lain asal karirnya melejit, sampai-sampai dia layak dijotos dan disetrum oleh sang protagonis. Ajaibnya penonton pun menikmati perlakuan kepada si wartawan ini. Tonton pula film Shattered Glass (2000) yang mengangkat kisah Stephen Glass (Hayden Christensen), seorang jurnalis sungguhan yang membuat batas antara berita dengan cerita jadi kabur melalui kemampuannya “mengarang indah.” Yang terakhir adalah film tentang pemburu berita/pekerja lepas berita, Nightcrawler (2014) bernama Lou Bloom (Jake Gyllenhaal). Kita diajak untuk melongok produksi berita di sebuah acara kriminal di televisi Amerika lewat mata kamera yang ditenteng Lou, bahwa yang dimaui industri televisi melulu adalah darah, drama, dan kekerasan. Untuk meraih ketenaran Lou rela merekayasa TKP dan mencelakakan orang lain, pesaing bahkan rekan kerjanya sendiri.

Dari sekilas gambaran terhadap para pemburu berita di film-film tadi dapat diambil kesimpulan bagaimana dunia pemberitaan bukanlah dunia yang suci murni mulia mengabarkan untuk teruntuk masyarakat supaya mereka tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Tapi selalu ada kepentingan di balik pemberitaan. Kepentingan bagi si wartawan sendiri, kepentingan pemilik media, dan ‘kepentingan’ (kita sebagai) penonton berita, di mana berita inipun dibentuk supaya jadi tontonan. Tontonan berita yang bersyarat: megah, fenomenal, aktual, sensasional, dan seksi. Agar terpuaskan libido kita, tanpa peduli kalau itu benar-benar manusia yang jadi korban. Akui saja. Perhatian kita pada berita (mau di surat kabar, tv, laman berita) memang pada hal-hal yang “nikmat asalkan tidak dialami sendiri.”

Sebetulnya aku tidak nyaman mengatakan bahwa film adalah representasi kenyataan sebab film pada dasarnya dibuat untuk menghibur hingga selalu ada pelibatan nalar industri. Tapi nyatanya, lagi-lagi sependek yang aku tahu, begitulah kerja wartawan. Penuh intrik dan muslihat. Bukan salah wartawannya juga sih tapi konstruksinya seperti itu. Sistemnya sudah sedemikian sulit dicukili.

Ada 3 orang teman-kuliah yang dulunya merasakan jadi wartawan (oke, ada lebih sebenarnya tapi aku ambil tiga saja). Seorang sebut saja namanya Fadil. Dia dulu kerja di sebuah laman berita nasional yang cukup populer di bawah grupnya ketua umum parpol besar di negara ini. Di tempatnya dulu kerja, dia diwanti-wanti secara tidak resmi (misal: pada saat makan siang) agar jika menulis berita tentang semburan lumpur Lapindo lebih memakai istilah “lumpur Sidoarjo” bukannya “lumpur Lapindo.”  Sudah tahu kan sekarang medianya apa? Seorang dosen menyebut hal semacam ini adalah praktik soft power. Tujuannya barangkali agar tidak ada jejak/bukti tertulis atas perintah tertentu.

Berhubung medianya media online, jadi yang dikedepankan adalah jumlah tayang halaman (pageviews). Di sini permainan kata-kata dalam judul berperan besar menarik orang-orang seperti kita untuk mengkliknya. Kita bakal sering menemui judul-judul sensasional dengan isi entah nyambung atau tidak. Fadil melakukannya juga karena dia kebagian pos “hukum” yang sedikit pemirsanya. Selain itu kuasa atasannya juga amat tinggi dalam menentukan mana yang pantas muat atau tidak berdasarkan tingkat hangat/ademnya berita, yang dilihat dari perhatian kita (pembaca berita) pada suatu isu tertentu. “Berita tingkat kelurahan” (maksudnya berita tidak penting) tidak perlu dimuat. Hal menarik lain menurutku adalah betapa cepatnya berita di-update hingga hanya dalam hitungan menit berita barusan sudah basi, dan mulai lenyapnya steno, berganti menjadi pencatatan cepat via smartphone atau Blackberry.

Teman lainnya bernama Febri. Dia dulu sempat bekerja di surat kabar lokal di Jawa Barat anakannya koran nasional paling besar. Tahu kan nama medianya apa? Awalnya karena itu koran masih dalam rangka promosi, harganya pun murah meriah hanya Rp 1000. Untuk menutupi ongkos produksi koran lokal ini menjejalkan halamannya dengan berbagai iklan, termasuk advertorial. Febri ini merasa kurang nyaman ketika dia ditugasi menulis advertorial. “Wartawan kok nulis advertorial?” Belum lagi isi berita kerap dicampuri beragam kepentingan. Misalnya, dia menyoroti praktik bagi-bagi amplop kepada wartawan dari pihak yang diberitakan setelah acara jumpa pers atau semacamnya sambil dibisiki: “Kamu nulisnya yang bagus ya.”

Seorang lagi namanya Hamad. Dia dulu reporter sekaligus kameraperson di sebuah stasiun televisi besar di bawah grup yang dimiliki konglomerat yang baru saja mendirikan parpolnya sendiri setelah berpindah-pindah parpol. Kepadanya ditunjukkan mana berita yang layak dan mana yang tidak. Sejak awal dia sudah dipesani supaya hanya memberitakan yang “ramai” saja, kalau tidak “ramai” berarti bukan berita. Ramai yang dimaksud mengarah pada keributan atau tindak kekerasan. Kekerasan yang jadi legal atas nama rekaman bernilai jurnalistik, bukan fiksi. Pola macam ini terpatri di benak reporter sehingga saat meliput demonstrasi dia akan menunggu terjadinya keributan. Malah terkadang ada beberapa rekan wartawan yang menyusup massa agar timbul keributan. Hamad juga menyebut bagaimana arsip rekaman lawas kerap disunting ulang oleh stasiun televisi untuk membuat berita baru. Melihat kenyataan ini dia menemukan dirinya sulit untuk bersikap idealis bagi seorang wartawan.

Di sini bisa kita simak bagaimana berita sudah dikemas layaknya sinetron atau film. Semakin ramai dan dramatis maka semakin laku, semakin laku artinya banyak yang nonton, makin banyak yang nonton artinya kredibilitas stasiun televisi itu menanjak dan pemasukan iklan pun bertambah deras. Mata pemirsa ditarik untuk menyaksikan lalu mengiyakan bahwa tayangan berita yang ramai adalah yang pantas diberitakan, sekalipun penuh kekerasan. Kekerasan yang kita nikmati terang-terangan.

(Jino Jiwan/Restu Ismoyo Aji)

Bias Berita di Media

Pernyataan seorang pejabat pemerintahan daerah ternyata bisa sangat kontroversial dan rumit. Ini yang menurutku menimpa walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti, politisi PDIP pada bulan Maret 2015 yang berpendapat bahwa Idham Samawi, mantan bupati Bantul tidak layak dijadikan tersangka korupsi terkait dana hibah ke Persiba Bantul. Alasannya adalah karena mengelola olahraga lebih banyak pengorbanannya. Menyusul pernyataan itu muncul dua kubu berseberangan bereaksi atas pernyataan sang walikota; kubu Paguyuban Kawula Bantul Berjuang (PKBB) yang mendukung perkataan Suyuti, sekaligus pendukung Idham Samawi. Di seberangnya ada Jaringan Anti Korupsi (JAK) DIY yang menentang dan melaporkan Suyuti ke DPRD dan KPK gara-gara pernyataan itu. Menariknya tiga buah surat kabar yang beredar di Yogyakarta pada Kamis, 20 Maret 2015: Kedaulatan Rakyat (KR), Tribun Jogja, dan Sindo secara tersurat menuliskan berita dengan pembingkaian yang berbeda atas peristiwa yang sama.

Distorsi informasi pemberitaan lumrah terjadi. Perbedaan penyampaian berita ini terjadi karena tidak ada sensor formal (dari negara seperti di era Orba dengan Departemen Penerangan-nya), melainkan media-media yang saling bersaing pada ranah ekonomi politik. Dan media memang punya kemampuan untuk itu, untuk merancang dan mengarahkan persepsi masyarakat. Pada tataran lebih jauh bias editorial berita tersebut bekerja dalam apa yang dipaparkan oleh Herman dan Chomsky dalam buku terbitan 1988, Manufacturing Consent sebagai model propaganda media.

Model propaganda mencakup lima filter yang menyangkut kepentingan berbagai pihak dan memengaruhi berita yang sampai di hadapan pembaca. Pertama adalah faktor kepemilikan media dan orientasi profit di mana kepemilikan media dikuasai segelintir orang kaya dan karenanya kuat secara politis. Kedua, faktor iklan akan memaksa media terlibat dalam kompetisi pemberitaan demi merebut pemasukan darinya, yang pada ujungnya menaikkan profit. Ketiga, sumber berita media bergantung pada pemerintah dan pendapat para “ahli” atau disebut “informasi resmi,” karena bahkan media besar sekalipun tetap tidak dapat menjangkau keseluruhan peristiwa yang terjadi dalam sehari sehingga membutuhkan informasi dari sumber resmi pemerintah. Keempat, adalah flak (kritikan pekerja/lembaga pers dalam berbagai ujud untuk membuahkan berita) yang sebenarnya justru berkerja dengan diakomodir oleh media-media juga. Kelima, disebut filter antikomunisme atau dapat dibaca sebagai “ideologi yang dianggap musuh bersama” untuk membenarkan langkah-langkah politis yang diambil demi menguasai wacana dan pasar dunia. Dengan model ini kekuatan status quo bisa dipertahankan. Namun bagi Herman dan Chomsky wacana di balik berita dan siapa pihak-pihak yang diuntungkan serta siapa yang coba dipengaruhi oleh pemberitaan bisa diungkap.

Kedaulatan Rakyat, 20 Maret 2015, hal. 1
Judul berita pada halaman pertama KR (20/3) adalah, “Soal Idham Rela Berkorban di Olahraga, ‘Kawula’ Bantul Bela Pernyataan Haryadi.” Beritanya berkisar pada aksi massa PKBB di gedung DPRD Kota Yogyakarta dalam memberi dukungan pada Suyuti. Berita ini menyertakan foto beberapa laki-laki dari pihak PKBB membawa kertas bertuliskan kata-kata dukungan (versi onlinenya). Berita ini anehnya hanya menyajikan pendapat dari satu pihak saja (yaitu PKBB) tanpa sedikitpun menyebut rivalnya (JAK) yang melaporkan pernyataan Suyuti. Aksi JAK ditiadakan (baca: disenyapkan) oleh KR. Koordinator aksi, Noor J. Langga menjadi satu-satunya sumber kutipan dalam berita, bahwa menurut Langga, Suyuti mengerti benar seluk beluk pengelolaan olahraga dan semestinya hal itu dianggap sebagai bentuk kepedulian kepada kasus yang menimpa Idham, bahwa apa yang dikatakan Suyuti bukan merupakan bentuk intervensi hukum atas kasus yang menimpa Idham Samawi.

Untuk sekedar membandingkan, Tribun Jogja (20/3) menurunkan kedua peristiwa dalam satu berita yang sama di halaman 13 dengan judul: “Haryadi di Laporkan ke KPK,” (versi online tapi sedikit berbeda) Bahkan porsi foto diberikan lebih besar kepada pihak JAK yang memampang amplop berisi laporan atas pernyataan Suyuti ke DPRD DIY dan KPK. Berita pelaporan JAK juga menempati awal pemberitaan dengan mengutip pendapat perwakilan JAK—Tri Wahyu, baru kemudian disusul berita mengenai aksi PKBB yang mendukung Suyuti pada akhir berita.
Tribun Jogja, 20 Maret 2015, hal.13
Sindo juga melakukan cara yang nyaris serupa lewat judul “Haryadi Dilaporkan ke DPRD dan KPK” di halaman 9 (versi online), hanya saja porsi foto untuk pihak JAK jauh-jauh lebih besar lagi dibandingkan foto aksi PKBB, peletakannya pun saling bersebelahan dan kubu PKBB menempati sisi kiri sementara JAK di sisi kanan. Penempatan ini secara visual saja sudah menggiring persepsi tertentu mengenai dikotomi kanan-kiri, baik-buruk. Sindo juga merangkai berita ini dengan “Tersangka Persiba Tepis Sangkaan” yang menempel tepat di bawah berita di atas. Dalam hal ini baik Tribun Jogja maupun Sindo seakan hendak menggiring pembaca untuk menyimak lebih dulu (baca: bersimpati) pada keberanian JAK yang melaporkan pejabat publik setingkat walikota dengan tuduhan menghalangi penuntasan kasus korupsi dibandingkan bersimpati pada kubu PKBB yang seolah dicitrakan sebagai pembela koruptor karena justru membela perkataan Suyuti soal Idham Samawi.

Sindo, 20 Maret 2015, hal. 9
Dengan mencermati pemilihan kata pada berita yang dimuat KR diperoleh wacana khusus yang disampaikan secara ‘lembut’ bahwa Haryadi Suyuti tidak bermaksud menghalangi pemberantasan korupsi dan bahwa Idham Samawi tidak bersalah dalam kasus dana hibah Persiba. Wacana ini bersembunyi di balik kata-kata yang dikutip dari Langga (koordinator PKBB), di mana dia diperlakukan sebagai pihak “ahli,” pihak yang kata-katanya dijadikan sumber “kebenaran.” Gaya KR menuliskan berita pun membuatnya sulit dibedakan antara kutipan dengan opini KR sebagai institusi yang punya kepentingan di balik kasus ini.

Judul yang dipilihkan KR untuk artikel ini pun cenderung sangat bias. Terutama pada kata “kawula.” Benar bahwa kata ‘kawula’ pada judul sudah memakai tanda kutip, namun KR sengaja memilih untuk memakai kata “kawula” yang memang diambil dari singkatan PKBB (Paguyuban Kawula Bantul Berjuang) itu sendiri tapi kata “kawula” sekaligus berasosiasi pada rakyat terpinggir yang siap sedia mendukung pemimpinnya.

Kepemilikan media yang disebut oleh Herman dan Chomsky sebagai filter pertama memegang peranan paling besar terhadap berita di KR. Idham Samawi adalah orang dengan posisi tawar politik yang tinggi di Yogyakarta. Rumornya dia dekat dengan Sultan HB X. Sosoknya jelas berpengaruh pada kemenangan PDIP di Yogyakarta (dan mungkin suara pemilih Jokowi sebagai presiden). Bukti betapa kuat posisinya adalah istrinya sendiri saat ini menjabat sebagai bupati Bantul, sedangkan dia sendiri memenangkan kursi DPR Pusat mewakili PDIP ketika telah menyandang status tersangka (meskipun konon batal dilantik?). Kenapa pula Haryadi Suyuti melontarkan pernyataan seperti itu tentu saja tidak terlepas dari faktor-faktor tadi, dan di antaranya karena berasal dari partai politik yang sama. Pendukung Idham pun cukup militan dengan hadirnya spanduk-spanduk dukungan (simbolis) di jalan-jalan sekitaran Bantul. Kenapa KR yang punya reputasi sebagai koran lokal Jogja tega menyampaikan berita yang bias? Jika ditilik sejarahnya Idham Samawi sendiri adalah putra H. Samawi, salah satu pendiri KR. Meskipun kini tidak memegang KR secara langsung, namun jelas kiranya jika dia masih berkepentingan di balik berita-berita di KR. Bayangkan betapa malunya KR jika putra salah satu pendirinya dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi. Di sinilah faktor kepemilikan media bermain.

foto spanduk dukungan kepada Idham Samawi, foto diambil Des 2013
Ketiga media ini sesungguhnya bagian dari kerajaan media yang besar, di mana masing-masing punya kepentingan. KR adalah pemain lama yang telah terlebih dahulu mapan dan punya nama besar. Ditilik dari sejarahnya, KR memang terkesan pro pada status quo. Di saat koran-koran lain mengalami keambrukan KR selamat dari pembreidelan pada 1960-an. Kestabilan ini tentu menghadirkan kepercayaan warga dan tentu saja para pengiklan.

Dua surat kabar lain yang dibahas di sini bukannya netral sama sekali. Tribun Jogja adalah bagian dari grup Kompas-Gramedia yang bergeser menjadi koran lokal, setelah sebelumnya sempat ada suplemen lokal di dalamnya. Sebuah pemisahan diciptakan dengan cara menciptakan segmentasi baru dari harian Kompas yang lebih ingin berkonsentrasi pada isu nasional. Dengan demikian peluang masuknya pengiklan secara spesifik bisa dirangkul oleh Tribun Jogja, dan harus diingat pula bagaimana harian Kompas pada Pemilu 2014 lebih pro pada Jokowi (meskipun tidak begitu tampak tegas). Sedangkan Sindo (Seputar Indonesia) adalah ‘anak’ dari grup MNC (beserta seluruh stasiun televisi) yang dikuasai Hary Tanoesoedibjo, taipan media yang punya ambisi jadi politisi dan tentu saja punya kedekatan dengan politisi lain. Belum lagi kalau mengingat partai politik Perindo yang didirikannya, maka kian jelas arah kepentingan dari setiap berita yang terpampang di lembar Sindo. Tak terkecuali berita dugaan korupsi yang menimpa Idham Samawi dan pernyataan kontroversial Haryadi Suyuti, politisi PDIP, partai politik yang untuk sementara ini menjadi ‘musuh’ politik KMP, tempat Hary Tanoe berafiliasi.


Yah, semuanya ini bersifat sementara. Setidaknya sampai kepentingannya berubah.