Kisah Kereta Api pada Wingko Babad Semarang

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau wingko babad, penganan khas terbuat dari kelapa, tepung ketan, dan gula yang selalu menjadi oleh-oleh wajib Kota Semarang, Jawa Tengah ini bermula dari sebuah kota kecil bernama Babat, yang terletak di persimpangan antara Surabaya, Cepu, Jombang, dan Tuban, Jawa Timur. Barangkali tidak banyak pula yang menaruh perhatian pada kemasan wingko babad yang meskipun beragam, namun bila diperhatikan tampilannya nyaris serupa antara satu dengan lainnya. Seolah jika tidak BEGITU berarti BUKAN wingko babad asli Semarang. Mereka yang akrab dengan jajanan legit ini pasti setuju, bahwa wingko babad Semarang akan cenderung identik dengan cap dagang Kereta Api yang seakan telah menjadi ciri istimewa wingko.

Berawal dari kereta api, berkembang dengan kereta api
sumber: medianusantara.com
Sejarah wingko dan ‘kereta api-nya’ tak terlepas dari usaha yang dirintis suami-istri D. Mulyono dan Loe Lan Hwa yang merupakan warga asli Babat pada 1946 di Semarang. Rasa manis gurih wingko yang dijajakan di atas gerbong kereta api itu membuatnya cepat populer dan dinanti para penumpang. Banyak konsumen menanyakan nama produk tersebut. D. Mulyono yang memang tadinya belum mempertimbangkan nama untuk produknya, akhirnya memilih cap dagang  Kereta Api, tempat ia bekerja sebagai karyawan. D. Mulyono pun mendaftarkan cap dagang Kereta Api atas produk wingko babadnya pada 1958.
Cap dagang Kereta Api inilah yang memicu gambar sekaligus mengacu gambar, baik itu ilustrasi sentral yang digunakan maupun tipografinya yang selanjutnya menjadi dasar gaya desain bagi seluruh cap dagang wingko yang muncul kemudian. Termasuk di dalamnya usaha pembuatan wingko skala kecil dan menengah yang ingin menumpang ketenaran cap dagang Kereta Api demi keuntungan dalam waktu singkat.

Dunia selalu membutuhkan pionir, begitu juga wingko babad Semarang. Wingko Kereta Api D. Mulyono begitu berjaya. Sehingga sebagai perintis yang sukses, wingko babat (di kemudian hari huruf “t” pada babat berubah jadi “d”, wingko babad) D. Mulyono berperan bagai ‘panutan’ buat usaha wingko lainnya. Ilustrasi kereta api pada kemasan wingko D. Mulyono terlanjur begitu ikonik dan membekas, inilah yang dimanfaatkan para pesaingnya. Maka muncullah berbagai cap dagang susulan dari ‘kereta apilainnya yang ingin ‘melestarikan’ pendahulunya untuk meramaikan pasar wingko di Semarang. Mulai dari Kereta Api Diesel & Jet (1960), yang masih ada hubungan saudara dengan Loe Lan Hwa, kemudian muncul berturut-turut Cap Gaya Baru Malam (1970-an), Kereta Senja Utama (1970-an), Kereta Api Eksekutif (1979), Kereta Api Expres (1980-an), Cap Lokomotif (1990-an), Kereta Api Mutiara (1994), dsb. Tidak hanya pilihan nama cap dagangnya, segi tampilan kemasan pun turut mengekor pula, entah itu dari segi bahan, ukuran, tipografi, gaya ilustrasi, lay out, dan warna yang digunakan.

Menariknya, walau ada beberapa produsen yang dari awal sudah berusaha menghindari hal-hal berbau kereta api karena idealisme ”ingin beda”, gaya desain cap dagang Kereta Api-nya D. Mulyono baik yang versi awal maupun terbaru tetap jadi acuan. Terlebih setelah pada 2006 Ny Sinata (putri D. Mulyono dan Loe Lan Hwa), yang adalah pemilik wingko babad saat ini mensomasi produsen wingko babad lainnya yang mencatut nama Kereta Api serta desain kemasannya. Cap dagang pengekor Kereta Api pun segera mengubah nama dan desain tampilan mereka. Pengubahan itu dari yang signifikan hingga minor.

Kesan modernitas
Satu pesan menonjol dari desain kemasan wingko babad Semarang yaitu adanya semangat modernitas. Hal ini sudah tampak sedari awal kemunculan wingko di Semarang. Modernitas sendiri berarti kesadaran akan kekinian-sesuatu yang baru. Semarang pada masa itu adalah pusat perdagangan dan pelabuhan. Etnisnya yang begitu beragam; Jawa, Arab, China, Belanda. Rel kereta api pertama dibangun di kota ini sejak 1867, untuk kepentingan militer dan memudahkan lalu lintas hasil bumi. Kereta Api menjadi penghubung antar kota yang mampu menyingkat waktu tempuh perjalanan. Ia mendukung interaksi antar manusia dan merekatkan perbedaan budaya yang sangat berbeda. Fasilitas penunjang pemerintahan dan transportasi ini menumbuhkembangkan perekonomian setempat.

Pemilihan moda transportasi kereta api sebagai cap dagang menggambarkan fungsinya sebagai simbol modernitas. Masuknya wingko ke Semarang jelas terbantu oleh kereta api uap, sebuah teknologi modern ketika itu. Demikian pula dengan wingko kereta api lain yang berlomba tampil paling mutakhir mengikuti zaman. Semata untuk menunjukkan wingko kereta api terbaru lebih unggul dan lebih modern dari pada wingko kereta api D. Mulyono. Baik dari nama maupun ilustrasinya, dari embel-embel “diesel” sampai “eksekutif”, dari “gaya baru malam” hingga “senja utama. Uniknya, bila mau disanggah, penamaan produk makanan yang empuk dan manis ini tampak tak sesuai dengan karakter kerasnya besi, bahan pembentuk kereta api. Namun kenikmatan wingko babad ini nyatanya berasosiasi dengan kecepatan dan kenyamanan kereta api. Ilustrasi simbolik kereta api yang sederhana ini nyatanya adalah imbas sekaligus berkah dari keterbatasan baca tulis masyarakat umum di awal munculnya wingko.

Pasca somasi yang dilayangkan Ny Sinata, pemilihan moda transportasi lain menjadi alternatif untuk mengganti nama produk mereka. Cap dagang-cap dagang berikut adalah yang berbeda total; Pesawat Jet, Bus, dan Kapal Laut, kurang lebih memiliki filosofi yang serupa dengan kereta api di awal kehadirannya, yaitu pernah menjadi yang tercepat dan ternyaman pada masanya. Modernitas menuntut efisiensi kehidupan, efisiensi menuntut kecepatan. Cepat dan nyaman = nikmat. Inilah fungsi simbolik pertama.

sumber: kulinerenak.com
Sementara ilustrasi cap dagang wingko kereta api lainnya yang juga terkena somasi dan mengganti merk  dan ilustrasi, malah memilih simbol yang jauh dari kecepatan dan kenyamanan. Inilah makna simbolis kedua. Cap dagang Stasiun Lokomotif dan Stoom Mini-nya NN Meniko yang sekilas masih nyerempet-nyerempet Kereta Api. Stasiun lokomotif adalah pusat dari kegiatn semua kereta api jenis apapun, percuma punya kereta api tapi tidak ada stasiun. Stoom mini adalah mesin giling pembangun jalan yang menjadi dasar dari nyamannya transportasi darat yang berlangsung di atasnya. Keduanya menyasar filosofi kuno, klasik, dan sulit ditemukan, bermakna yang paling pertama atau paling awal. Ini terdengar mirip pionir juga.

Makna simbolis ketiga mewakili aspek jenis pengalaman produsen yang mendasari mereka memilih nama produk yang sangat berbeda. Seperti; cap dagang Cakra, Mangga Dua, dan merk Dyriana. Pemilihan nama cap dagang Cakra dilatarbelakangi karena produsen wingko menyukai kisah pewayangan. Cap dagang Mangga Dua, karena produsen terkenang area tempat ayahnya bekerja ketika merantau ke Jakarta (Mangga Dua adalah nama suatu daerah di Jakarta). Sedangkan cap dagang Dyriana hadir semata karena memang ingin berbeda saja. Ketiganya sama ingin tampil beda dengan kereta api dan transportasi. Mereka juga ingin dikenal sebagai yang pertama. Pada dasarnya modernitas kategori ketiga kemasan wingko ini dicirikan tiga hal: subyektifitas (manusia sadar diri sebagai pusat realita), kritik (artiya bebas dari tradisi, tidak terikat kultur), dan kemajuan (sadar waktu tidak kan terulang). Ketiga ciri ini mewarnai masing-masing cap dagang tersebut.

Dilihat dari sisi pragmatis kemasan, modernitas menyinggung antara lain mengenai pilihan bahan pembungkus wingko sendiri yang terbuat dari kertas. Secara teori kemasan harus ekonomis, ergonomis, distributif, memuat identitas sekaligus promosi, juga estetika dan jika perlu kemasan dapat memenuhi fungsi ekspresi nilai budaya setempat yang justru makin terlupakan. Pemakaian kertas telah menunjukkan sebuah kemajuan, jauh meninggalkan makanan tradisional lain yang masih menggunakan daun pisang atau anyaman bambu. Mengikuti prinsip form follows function (bentuk mengikuti fungsi). Selain terjangkau, kertas juga efisien berkat bentuk kemasan berupa amplop mirip angpao. Industri kertas yang sedang pesat  didukung industri cetak yang cukup maju pada saat itu (namun terbatas) membuat kertas kemasan dapat sekaligus berfungsi sebagai media dicetaknya identitas produk, yaitu nama cap dagang dan ilustrasi sentral. Kemasan wingko Dyriana bahkan terhitung yang paling berani mendobrak kebiasaan pemakaian kertas HVS, dengan kertas jenis yuvo yang dicetak full color berbentuk sachet yang licin dan tebal, demi menjamin wingko lebih tahan lama.

Dalam ilustrasi, teknis penggarapannya dapat menjadi patokan untuk mengukur modernitas. Cap Tiga Kelapa Muda merupakan salah satu yang diolah dari foto dan tampil monokrom. Dari segi ilustrasi latar, kemasan awal kepunyaan cap Kereta Api D. Mulyono awalnya memakai garis-garis bergelombang yang kemudian ditiru oleh cap dagang lain. Lucunya begitu cap Kereta Api mengubah latar belakang kemasan menjadi bercak-bercak tipis, kompetitor juga mengikutinya. Adapun ilustasi latar cap Stasiun Lokomotif mengingatkan susunannya yang mirip efek hologram.

Secara total dari 1958 hingga 2010, pengubahan yang terjadi pada desain kemasan wingko babad tidak begitu besar. Ada kecenderungan penggunaan ilustrasi berupa moda transportasi yang diambil dari sisi perspektif, ada pula yang menampilkan  modernitas teknologi transportasi yang paling baru, hingga desain kemasan dengan ikon buah mangga dan kelapa yang berani menegaskan diri bahwa mereka berbeda dari cap dagang yang telah mapan sebelumnya. Kemasan juga rata-rata masih sangat mengandalkan desain yang sangat simbolik dan setia pada pionirnya. Meski begitu, patut dihargai bagaimana upaya masing-masing produsen untuk tampil di hadapan konsumen dengan klaim sebagai yang pertama (pionir), yang terdepan (secara kualitas), dan ternikmat (paling asli) berkat berragam trik visual tersebut.

Disarikan dari skripsi: Desain Kemasan Wingko Babat: Studi Pengubahan Desain Kemasan Sejak Awal Kemunculannya Hingga Kini di Semarang (1958-2010) Oleh: Natalia Afnita. Program Studi Disain Komunikasi Visual, Jurusan Disain, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta 2010.

Oh, btw. Tolong hargai penulis dan juga penelitinya dengan memberi kredit kepada yang berhak. Terima kasih.

Cowok

Atau cowo; alias boyfriend; atau laki; atau man adalah mahkluk sempurna dengan bentuk sempurna dan pekerjaan sempurna juga berpenghasilan sempurna yang amat diidamkan cewek seumur hidupnya. Apalagi mereka yang waktu kecil kebanyakan nonton film tentang princess-princessan dan mengidolakan princess dan ingin jadi princess. Cowok dituntut untuk ‘sukses’ oleh cewek tanpa cewek sendiri bisa menjelaskan arti sukses itu lebih jauh dari, kaya; punya mobil banyak; punya rumah; punya anak buah. Akibatnya cowok pun termotivasi untuk bisa ‘sukses’.

Cowok yang diharapkan
-          Tinggi (antara 167-185 cm)
-          Putih (alias brightness nya 70-100%)
-          Bermuka Korea
-          Badan tegap simetris dada bidang sempurna
-          Modis dengan gaya rambut masa kini bukan masa kuno
-          Tajir (punya mobil, rumah, anak buah)
-          Klimis, atau dengan cambang tipis yang halus. Tak lupa membawa pisau cukur dan after shave kemanapun pergi. Hal ini lah jarang bisa didapat Cowok bermuka Korea. Jadi kesempatan kalian ada di sini.
-          Wangi, tak lupa bawa parfum ke mana-mana
-          Bawa sapu tangan
-          Punya BB atau smart phone (stupid phone dengan ring tone polyphonic dianggap najis berat)
-          Punya senyuman maut yang bisa bikin Cewek sekarat
-          Pandai merayu
-          Jago mencumbu
-          Mau ngasih uang belanja
-          Mau nemenin belanja (Ini nih!)
-          Ngebiayain salon dan
-          Mau nge-gym bareng

Hobi cowok yang diharapkan cewek
-          Basket
-          Futsal
-          Renang
-          Golf
-          Balap liar (sumpah! Cewek gila banget sama pebalap liar. Liat aja FastFurious kalo gak percaya)
-          Nge-gym

Profesi ideal yang diidamkan
-          Anak band
-          Anggota boyben
-          Artis sinetron/FTV
-          Pebalap motor
-          Pebalap mobil

Hobi Cowok yang entah kenapa dihindari Cewek (kenapa coba?)
-          Baca buku
-          Kutu buku
-          Nonton film
-          Main game
-          Koleksi komik, terutama Manga dan Amerika

Hobi Cowok yang adu duh enggak banget
-          Koleksi bokep
-          Koleksi bokep buatan sendiri (mungkin masih bisa ditolerir kalau si cowo adalah Ariel)
-          Main mercon
-          Koleksi boneka (boneka barbie lagi)
-          Kecuali koleksi berlian, emas, permata, atau koleksi mobil sport mewah

Cowok yang akhirnya didapatkan
-          Perokok
-          Bau dan malas mandi
-          Bau keringat

-          Hobi Ngorok

Dosa-dosa Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

Sepertinya hari itu aku sedang gak berjodoh dengan film bagus. Aku pilih nonton film yang sedang gila-gilaan promosinya: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Alasannya sederhana, karena penasaran saja. Kata iklan ini film sudah menyedot sekian juta koma sekian penonton, dan sialnya aku termasuk salah satu dari sekian penonton itu. Aku memang belum baca bukunya (sehingga sama sekali tidak tahu plotnya bakal seperti apa) tapi aku percaya antara buku dan film harus diberi perlakuan yang berbeda. Film ini adalah salah satu contoh kasus di mana semua elemen yang ditampilkan sangat gagal menghibur. Ujung-ujungnya ini film dragging banget. Film ini membawa aku tenggelam bukan terhanyut. Iya, tenggelam dalam rasa bosan dan kesal. Kenapa aku sampai membeli tiketnya dan menghabiskan 2 jam waktuku buat menonton sesuatu-yang-disebut-film-ini (?). Sungguh amat sangat maha mengecewakan. Tapi akhirnya aku temukan kenapa, barangkali supaya aku bisa menulis ketikan ini untuk menghujat film bioskop yang paling bikin aku kecewa sepanjang hayat. Setidaknya hingga saat ini.
Berikut dosa-dosa film ini menurutku.

Tempo yang supeeerrr lambaaattttt. Aku tidak menduga film bakal selambat ini. Apalagi terlalu banyak voice over surat menyurat, seolah tidak ada cara lain yang lebih kreatif dalam menyampaikan adegan surat menyurat. Akibatnya konflik berjalan tidak menarik. Konflik naik hanya sebentar itu pun tidak ikut membawa emosiku sebagai penonton.  

“Sumpah mati” lagu-lagunya Nidji bising banget di film ini. Penempatan lagu-lagunya sungguh salah alamat; salah adegan; salah secara timeline. Aku tidak mengerti kenapa mereka dipilih untuk bikin soundtrack film yang berseting 1930-an. Jangan salah mengerti, Nidji bukannya jelek (walaupun aku juga gak nge-fans). Gaya pop mereka dan instrumen musik modern jelas tidak tepat masuk ke dalam film. Kalau pun mereka memang benar-benar dipilih untuk mengisi soundtrack, seharusnya tidak perlu dimainkan terus-menerus di sejumlah adegan. Cukup mainkan saja di end-credit, agar tidak mengganggu nuansa zaman dulunya. Jika begini berarti yang salah sutradaranya yang memaksakan untuk memasukkan musik modern ke dalam adegan. Belum lagi nanti di tengah-tengah film muncul musik ‘dugem’ pada saat mereka menari-anri di pesta yang terdengar persis seperti dugem hari ini.

Miskin set dan properti. Aku bukan ahli sejarah yang tahu seperti apa 1930-an. Tapi setingnya kelihatan sekali berasal dari masa kini. Amat kurang meyakinkan untuk mendukung suasana 1930-an. Butuh lebih dari sekedar mobil kuno yang masih kinclong untuk membuat latar 1930-an terlihat nyata. Penata set-nya males banget buat hunting lokasi. Latar Batavia juga cuma ambil alakadarnya dari sekitaran kota tua. Tinggal tambahin bule-bule mejeng, jadi deh Batavia 1930-an. Bahkan tampak di salah satu adegan di mana bangunannya adalah bangunan kuno di kota tua yang kusam dan nyaris rubuh itu. Sama pula yang terjadi dengan latar Surabaya yang jauh lebih malas lagi pilihan latarnya. Malah untuk bagian-bagian akhir seting film hanya berkisar di rumah besar yang entah ada di mana itu.

Aktingnya payah. Yang kelihatan segar malah penampilan personelnya Nidji. Dia lumayan menolong film ini dengan penampilannya yang agak komikal, tanpa dia ini film kering kerontang. Dan omong-omong buat apa Reza Rahadian di sini? Karakternya gak begitu jelas antara pemabuk; penjudi; orang baik; orang jahat; orang tobat. Dia terbuang sia-sia di sini.

Weaklink: Herjunot Ali lagi-lagi Herjunot Ali. Aktingnya gak jauh bedanya dengan film Di bawah Lindungan Kabah. Lebih mendingan sedikitlah. Nada suaranya lebih mengganggu, karena sepertinya dia kali ini tengah berusaha keras terdengar macho tapi sayangnya gagal. Menurutku dia malah terdengar kayak Batman (tapi versi cemennya). Dia pun gak terlihat meyakinkan sebagai penulis sukses, atau minimal penulis biasa. Waktu karakternya jadi orang kaya (mendadak!), dia juga tidak terlihat meyakinkan kalau dia itu orang kaya. Kemudian waktu dia bertemu kembali dengan Hayati, dia juga tidak terlihat sebagaimana mestinya, entah itu tangguh atau kuat atau menyembunyikan perasaan.

Karakternya Pevita Pearce sebagai Hayati juga lemah. Sepertinya Hayati ini karakter yang bingung dengan dirinya sendiri. Sulit rasanya untuk peduli sama karakter ini. Dikit-dikit nangis dan setiap nangis dia seolah meminta belas kasihan penonton untuk ikut membelanya.  Jujur tiap dia nangis rasanya aku ingin dia mati saja. Eh, kok mati sungguhan. Kenapa karakternya tampak bingung? Nyatanya pas dia dideketin sama Reza Rahadian (Aziz), kayaknya dia demen juga (malu tapi mau). Adegan di pacuan kuda apalagi tuh (pas si Herjunot dicuekin), mengesankan Hayati menikmati jadi orang kaya. Lalu saat dia dikasari oleh suaminya, entah kenapa kok rasanya dia seolah meminta penonton bersimpati padanya. Salah siapa ini? Mungkin salah naskah filmnya. Treatment-nya keliru. Aku sebagai penonton jadi menangkap bahwa karakternya memang seorang cewek labil yang ingin diperhatikan.

Make up-nya malas. Entah apa yang terjadi dengan make-up department. Mungkin karena perintah sutradara sehingga aktor-aktrisnya tetap kelihatan ganteng dan cantik biarpun sedang sakit atau susah atau habis tenggelam. Rambutnya Herjunot tetap rapi sisiran ke arah kiri waktu dia sakit. Mukanya Pevita tetap cantik waktu mau mati. Barangkali salah permainan nuansa warna. Karena ajaibnya ketika suasana seharusnya haru, lighting–nya malah hangat dan kuning-jingga.

Kapalnya amat sangat gak jelas. Special effect kapal bisa dibilang pas-pasan. Tenggelamnya pun entah apa penyebabnya. Pokoknya cita-cita kapal ini seolah cuma mau tenggelam saja, biar sama membenarkan judul. Aku harus menunggu lama dalam kantuk hingga jelang akhir film untuk menanti apa yang dimaksud oleh judul film. Namun, pertanyaan sesungguhnya adalah mengapa kapal yang hanya muncul sekian menit jelang akhir film menjadi hal penting bagi kisah ini. Atau kira-kira dengan kata lain, kenapa judulnya mesti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk? Bukannya lebih baik judulnya Teroesir atau Balada Zainudin dan Hayati. Ini adalah masalah bagi penulis naskah untuk menjelaskan dan tidak memberi alasan semata “karena memang judul bukunya begitu.”

Orang yang paru-parunya tenggelam masih bisa ngomong. Masa orang yang paru-parunya kemasukan air dan pendarahan masih bisa ngomong? Ngomongnya dengan jelas lagi. Dan ternyata muncul elemen klise di mana orang yang sedang sakaratul maut masih bisa ngomong tepat sebelum nyawanya oncat. Kurasa ini hanya plot yang bertujuan buat menguras air mata penonton. Tidak lebih.

Kata-kata penutup yang sok mau ngajarin pesan moral. Dan lagi-lagi penutup filmnya mau sok ngajarin penonton untuk mengambil hikmah tertentu. Pesan moral ini juga dijejalkan dengan gamblangnya lewat dialog penghujung film, seolah para penonton adalah kumpulan orang blo’on yang sulit paham apa maksud isi cerita. Persis seperti film 5 cm yang endingnya menurutku gak banget itu (Di film 5 cm, masak setelah mereka sukses naik puncak gunung lalu tiba-tiba pidato di depan bendera? Sungguh konyol!). Kenapa penonton harus diberi tahu pesan moral film ini? Biarkanlah penonton menerjemahkan sendiri. Menikmati ending film dengan mengimajinasikan sendiri apa makna film bagi diri masing-masing. Hey, ini kan bukan sinetron yang harus selalu ada ‘suara hatinya’ buat menjelaskan ke penonton.

Satu hal yang bikin aku kesal sama film ini adalah kenyataan bahwa di IMDB, film ini mendapat rating 8. Sepertinya tidak banyak orang yang memberi rating di sini (mungkin karena tidak tahu). Sebuah rating yang terlalu tinggi menurutku. Baru sesudah aku cek. Ternyata 41% orang memberi nilai 10, sehingga tidak heran jika ratingnya mengalahkan film Soekarno: Indonesia Merdeka

Tapi baiklah. Biarlah ini menjadi pelajaran bagiku untuk berhati-hati jika mau menonton film. Lihat-lihat dulu siapa jajaran aktor-aktrisnya, siapa penulis naskahnya (bayangkan loh ada 4 penulis naskah!), siapa sutradaranya, dan paling penting siapa produsernya.

Jika berkenan silakan baca review-ku untuk film ini di IMDB.