Semacam Review Dating Site Setipe

Sudah setahun ini aku gabung di Setipe.com, sebuah laman percomblangan di internet yang kata berbagai artikel (baca: advertorial aka. iklanpunya cara khusus dalam memadu-masangkan karakteristik seorang dengan lainnya sehingga akan ditemukan calon pasangan yang punya kecocokan tinggi. Konsep yang menarik tentu saja, terutama buat orang yang ditekan secara sosial dan dikejar umur untuk segera punya pasangan (instan) dan sulit untuk memulai suatu hubungan baru di tengah kompleksnya tuntutan hidup. Jadi, yaah dari awalnya hanya mencoba-coba karena penasaran sambil sedikit berharap-harap akan menemukan tautan hati, lama-lama namun tidak lantas pasti aku memulai serangkaian pengamatan. Pengamatan yang kemudian kuketikkan di sini sebenarnya diselipi perasaan agak sungkan nan malu, seperti umumnya orang yang cenderung merahasiakan keikutsertaannya di ajang perkontakjodohan (malu karena merasa tidak laku, kecuali mereka yang ikut perjodohan hingar bingar di Indosiar dulu itu). 

Jelas apa yang dipaparkan Setipe merupakan mimpi indah buat para jomblo yang jumlahnya kian melimpah. Citation is not needed as you can see too many of them around you! Makhluk jomblo adalah makhluk yang sungguh nelangsa, kawan. Sudahlah mereka terlunta-lunta hatinya, mereka senantiasa in denial (dalam penyangkalan) dengan mengatakan bahwa “jomblo itu bahagia” padahal dirinya tenggelam dalam air matanya sendiri, dan mereka ini adalah pangsa pasar bagi orang lain. Setipe di sini menawarkan sesuatu (baca: jalan keluar) yang seakan berbeda dari yang ditawarkan laman perjodohan lain (padahal? Silakan cek bermacam apps/laman perjodohan lain). Jalan keluar yang... serba... super panocticon.

Apa itu super panopticon? 

Sebelum ke sana kita kenalan dulu dengan Setipe, siapa tahu ada yang belum ngerti. Dan siapa tahu situs ini tidak bertahan lama, dan ketikan ini dibaca oleh orang-orang yang baru lahir di atas tahun 2010, dan juga bakal diceritakan oleh bapak-ibu yang 'dipertemukan' lewat Setipe.

Setipe, adalah sebuah situs matchmaking atau perjodohan/percomblangan yang mengklaim diri mempunyai cara khusus dalam mendeteksi karakteristik dan lalu memadu-masangkan seorang dengan sesama pengguna lainnya—dalam hal ini lawan jenis(kelamin)nya saja—melalui algoritma tertentu berdasarkan serangkaian pertanyaan (psikotes) yang harus dijawab oleh pengguna begitu mendaftar, sehingga nantinya mesin penjodoh Setipe akan bekerja menemukan calon pasangan ideal untuk hubungan jangka panjang yang mempunyai kecocokan tinggi terutama dari segi kepribadian.

Hey, ituuu akuuu, hey!
Konsep yang unik, (kelihatan) berbeda, jaminan kerahasiaan karena tidak ada sistem pencarian orang di Setipe (yang mana tampaknya masih sangat penting bagi pengguna situs kencan online), lagi janji manis bagi para jomblo pencari pasangan hidup agar dipertemukan jodoh yang tepat, disertai tentu saja “bukti nyata” bahwa sudah ada sekian pasangan yang sukses menikah (yang mana terus dikoarkan di situsnya), sehingga tidak heran rasanya jika para jomblower terpikat lantas bikin akun, lalu ketika mereka mendaftarkan diri, mereka merelakan diri memberikan data pribadi atau lebih tepatnya membuka diri sejujur-jujurnya kepada pihak ketiga yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali demi keakuratan data. 

Data pribadi tersebut mulai dari yang paling umum dan standar seperti: alamat email, tanggal lahir, preferensi terhadap calon pasangan (merokok/tidak merokok, agama, etnis, tipe perawakan, belum/pernah menikah dan punya anak atau tidak), profil (semacam deskripsi diri gitu), penghasilan, tingkat pendidikan, foto diri, sampai ke perjanjian bahwa pendaftar masih berstatus lajang, hingga menjawab ratusan pertanyaan psikotes. Semua ini nantinya akan berpengaruh pada seperti apa calon pasangan yang nanti ditawarkan kepada pengguna di laman akunnya untuk diajak berkenalan. Tingginya tingkat kecocokan calon pasangan (atau diistilahkan sebagai match) dengan pengguna akan terlihat dari besaran angka persentase pada foto tiap match.

Data-data awal maupun lanjutan yang diminta oleh Setipe atas layanan kontak jodohnya dan diberikan secara sukarela oleh pengguna lantas menjadi database yang berfungsi sebagai super panopticon, sebuah istilah yang dipinjam oleh Mark Poster dari Michel Foucault *Iya, ini ketikan mengandung teori*. Menurut Poster ada kesamaan kerja database dengan gagasan Foucault. Database sebagai super panopticon pada dasarnya adalah pengawasan yang terdigitalisasi dalam upaya pendisiplinan. Database merupakan diskursus yang mengatur pengguna/pemiliknya dan erat hubungannya dengan kekuasaan. Dalam bentuk elektronik, database dapat bertahan lama hingga kapanpun. Menurut Poster pengawasan database dilakukan dengan sukarela oleh pengguna, di mana informasi yang bersifat pribadi malah diberikan sebagai bagian dari database. Database ini bahkan semakin detail hingga dapat membentuk profil utuh subjek.
Wauuwww, 50 ++ tips... hmm, kenapa ya kok berasa ngganggu banget
Kemajuan teknologi media nyatanya ikut menggeser cara orang berinteraksi, termasuk hal-hal yang personal, seperti pencarian pasangan hidup. Sesuatu yang juga disebut-sebut oleh Setipe kira-kira seperti ini: situs ini didirikan karena adanya kesadaran modernisasi membawa permasalahan dalam hubungan percintaan dan memperumit proses pencarian dan memulai hubungan baru. Bermunculannya situs-situs kencan pendahulu (match.com atau Okcupid.com), tidak cuma di Indonesia tapi juga di dunia menunjukkan adanya gejala pergeseran praktik pencarian pasangan, di mana sesungguhnya orang tidak lagi (perlu) sungkan untuk melakukannya. Dan jika terus ditelusuri bisa jadi jejaknya telah disemai fasilitas chatting di Yahoo Messenger yang cukup populer hingga awal 2000-an dan bahkan oleh mIRC pada masa-masa bahula jauh sebelumnya. Budaya chatting yang ketika itu masih dimediasi oleh nama samaran bergeser menjadi nama asli seperti di Setipe. Artinya database sebagai super panopticon telah berlangsung tahunan dan kian menjadi hal lumrah sejak media sosial seperti Facebook dan Twitter mulai beroperasi dan disetujui oleh berjuta orang, di mana kita semua didorong memakai nama asli dan saling berbagi apa saja. Betul?

Data pribadi yang diberikan secara sukarela dan cuma-cuma oleh pengguna kepada Setipe inilah yang menjadi identitas pengguna, setidaknya selama dirinya online dan berinteraksi dengan match-nya. Uniknya di dalam profilnya pengguna bisa saja membangun suatu persona dan melakukan manipulasi tertentu lengkap dengan hobi dan foto-fotonya (bahasa populernya adalah: PENCITRAAN DIRI), meskipun Setipe sendiri lebih mendorong seorang untuk jujur, karena manipulasi tentu akan merugikan pengguna yang serius mencari pasangan. Setipe juga berupaya menghalau orang-orang yang berniat melakukan tindakan penipuan dengan serangkaian data penting milik pengguna yang akan menjadi jualan utama Setipe: 140 pertanyaan (psikotes), berupa tes kecocokan dan tes kepribadian yang membutuhkan waktu tidak sedikit untuk menjawab seluruhnya. Aku sendiri sampai butuh tiga kali login (di tiga hari berbeda) karena pertanyaan-pertanyaan ini amat meletihkan.
Bagian awal dari jalan panjaaang menyibak misteri jodoh
Setelah merampungkan psikotes, dalam beberapa hari ke depan pengguna disarankan sering melakukan login agar mesin pencarian calon pasangan (match) terus aktif dan memprioritaskan pencarian match baru kepada pengguna. Mesin pencarian Setipe hanya akan menjodohkan pengguna dengan sesama pengguna lain yang tingkat kecocokannya di atas 60% dan hanya penggunalah yang bisa melihat siapa saja matchnya secara timbal balik. Tentunya sesudah pengguna mengisi profil diri, kriteria dan preferensi jodoh ideal yang telah kubilang di atas. 

Profil yang telah diisikan (walaupun masih dapat diubah-ubah oleh pengguna) menjadi data penting yang dipegang oleh pihak Setipe selaku penyedia layanan. Data ini sewaktu-waktu bisa menjadi bukti suatu tindakan dari pengguna yang mungkin melanggar aturan/ketentuan. Di sinilah database sebagai panopticon mulai bekerja ketika pengguna secara otomatis akan mengisi profil dan hobi sepositif dan semenarik mungkin karena data ini menjadi satu dari dua elemen penting selain foto profil yang ditayangkan Setipe kepada setiap pengguna lain, seperti si pengguna ini melihat macthnya. Dan seperti umumnya laman media sosial lain, Setipe juga menyediakan fasilitas “laporkan member ini.” Lewat fasilitas ini pengawasan perilaku di Setipe dilimpahkan kepada segenap pengguna karena hanya match yang bisa melihat profil dan berhubungan dengan penggguna. Pengguna walaupun punya kebebasan tidak akan main-main dengan profil, foto yang diunggahnya, dan chatting-nya. Kenapa?

Setipe mendorong penggunanya memajang foto close-up untuk foto profil dan sendirian, bukan bersama orang lain, tidak peduli siapapun orang itu. Jika tidak ditaati, sistem Setipe akan otomatis menolak foto tersebut. Pengguna juga didorong memajang foto diri terbaiknya. Sembari di sisi lain tetap tidak boleh melupakan agar nanti tidak mengecewakan matchnya ketika berkencan atau bertemu muka akibat perbedaan wajah asli dengan fotonya. Sekali lagi di sini penggunalah yang harus rela melakukan pengawasan terhadap data fotonya sendiri.

Hasil psikotes yang kusebut tadi selain disampaikan kepada pengguna juga dipajang di halaman profil sebagai “Laporan Kepribadian” biar pengguna lain yang menjadi match bisa membacanya dan akan menentukan ketertarikannya kepada pengguna. Laporan kepribadian itu punya label yang sangat teknis dan berbahasa linggis: openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticism yang...entahlah apa itu...memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing disertai tips perbaikan diri. Tapi tidak semua tips tersedia. Karena... belakangan data psikotes ini dipakai menjadi alat menjual keanggotaan berbayar (premium membership)--berhubung sejauh/sementara ini keanggotaan Setipe memang masih gratis. 


Bagian ijo-ijo itu gak innocent gitu aja, tapi iklan Premium membership

Anggota berbayar dijanjikan akan menerima paket lengkap, berupa laporan kepribadian (yang lebih lengkap) serta mode kompabilitas (compability mode) dengan matchnya. Anggota berbayar juga mendapat saran-saran perkenalan dan percintaan serta konsultasi langsung dengan staf psikologi Setipe (yang kita tidak tahu statusnya: jomblo atau memang ahli dalam relationship).
#curhatbersamapsikologyangmungkinsajamasihjomblo

Dengan kata lain Setipe sebenarnya tengah melakukan penyanderaan database penggunanya untuk mendapat uang dari menjual premium membership. Database yang ironisnya oleh pengguna diserahkan secara cuma-cuma, sukarela, dan butuh waktu+tenaga untuk mengisinya demi memperoleh jodoh yang setipe di SetipeSetipe telah menjadikan database penggunanya sebagai super panopticon dengan membumbui “Laporan Kepribadian” yang lengkap sebagai bagian dari mengenal diri sendiri sebelum mulai mengenal orang lain (calon pasangan/match).


Rp. 178 ribu, berisi 35 lembar, tunggu dulu...berapa???!!

“Setipe yang secara harfiah bisa berarti sama atau minimal mirip/serupa, agaknya mencoba mematahkan konsep perjodohan “yang saling melengkapi” menjadi “saling memahami.” Kenapa saling memahami? Karena sifat ke-setipe-an itu tadi. Dengan adanya kesamaan karakter, pembawaan, kepribadian, maka menurut Setipe hubungan jangka panjang, atau dalam konteks Indonesia secara umum pernikahan akan lebih mudah dijalani dan langgeng. Sesuatu yang bukan hanya asal, namun Setipe sendiri memang menggadang-gadangkannya lewat label ilmiah: ilmu psikologi.

Ini kutipan dari situsnya di bagian about:

“Karena itulah SETIPE hadir. Paling tidak untuk memudahkan kamu dalam memahami diri kamu sendiri terlebih dahulu, baru kemudian membantu mencarikan seseorang yang sesuai dengan kepribadian kamu. Dengan dukungan tim psikologis yang dipimpin Pingkan Rumondor kami telah mempersiapkan sistem yang tidak hanya akan memperkenalkan kamu dengan seseorang, tapi juga memastikan orang tersebut akan cocok dengan kepribadian kamu” 

Tidak terlalu mengherankan sih dan bukan soal benar/salah soalnya Setipe memang dimulai sebagai bisnis (yang memang butuh biaya operasional) dan sejak semula (para jomblo) dilihat sebagai pasar potensial seperti diungkapkan oleh pendirinya. Makanya Setipe juga secara terstruktur-sistematis-masif memajang iklan premium membership-nya dan acara-acara yang dihelatnya (workshop mengenai relationship dan tawaran kopi darat/speed dating) di laman akun pengguna dengan peletakkan yang cukup ‘mengusik’ mata pengguna karena disajikan seolah itu adalah pemberitahuan pun juga via email. Iklan-iklan yang tentu akan berhenti kalau pengguna (yang masih pelit seperti aku*) mau membayar tebusan agar dirinya menjadi seorang yang Premium.
"Setelah saya ke klinik tong-fang...", yah anda mengertilah yang kumaksud

Catatan:
* Era di mana hampir semua "gratis" kenapa aku kudu bayar? Aku cukup yakin hampir 90% apps di smartphone-mu gratisan kan?

Lebih lanjut soal super panopticon simak bukunya David Bell (2001), An Introduction to Cybercultures.

Seberapa Perlu Hukuman Mati?

Tampaknya kata hukuman mati masih laku dicetuskan sebagai the ultimate punishment ever known nowadays. Tapi pertanyaan sesungguhnya mengenai perlukah hukuman mati diterapkan buat tindakan yang saat ini dianggap kejahatan besar terhadap manusia: korupsi, terorisme, pengedar/pembuat narkoba, dan kekerasan seksual/perkosaan, tak pernah dipertanyakan.

Argumen dari para pendukungnya selalu berkisar pada pemberian efek jera. Meskipun aku tidak mengerti bagaimana bisa seseorang menjadi jera setelah dia dihukum mati? Kan sudah mati, gimana mau jera? Jadi yang tepat adalah pemberian efek takut akan kematian dan cinta pada kehidupan (makanya seorang diharapkan tidak akan mencoba melakukan kejahatan), bahkan efek mengasihi sesama yang diharapkan muncul belakangan setelahnya pun kabur bin samar. Yang mana agaknya ini bukan sesuatu yang diingini oleh para religiawan (bukan?) yang selalu mengatakan kita tidak boleh takut mati karena pasti terjadi dan hanya soal waktu (begitu kata Bimbo). Lagipula khusus  untuk pelaku terorisme berkedok agama sudah pasti adalah orang yang sudah siap mati. Maksudku, memberi hukuman mati kepada teroris menjadi sesuatu yang sia-sia, karena kematian itu sudah masuk agenda mereka.

Masalah pertama dari hukuman mati adalah statusnya. Apa bedanya hukuman mati dengan pembunuhan? Bukankah hukuman mati pada dasarnya pembunuhan juga, hanya saja dilegalkan atas nama hukum?

Kedua, perlukah dibuat pembedaan proses hukuman mati untuk kejahatan berbeda hanya demi mengejar efek horornya yang mana berkaitan dengan pemberian efek takut tadi? Perlukah terpidana korupsi dihukum mati dengan cara berbeda? Ini sekedar ide sih. Agak gila tapi bagiku kreatif. Misalnya si koruptor digantung pada tangannya lalu pada kakinya diikat sebuah tank yang disesuaikan dengan jumlah korupsinya. Kemudian seperti orang yang dihukum gantung pada umumnya, di bawah tank sudah disiapkan pintu jebakan yang ketika dibuka tank akan meluncur ke bawah. Si koruptor akan mati kehabisan darah setelah tangan atau kakinya putus (jika tidak segera ditolong, ATAU haruskah dia ditolong?). Gimana? Cukup gory bukan? Lumayan horor kan? Sudah takut korupsi belum?

crippled batman
Atau bagaimana jika pelaku kekerasan seksual (perkosaan, dll.) dihukum penggal kelamin alias kebiri? Bagiku kebiri sendiri sejatinya merestui dendam kesumat yang tersimpan bagai bara dalam sekam dari struktur dan peran masyarakat yang senantiasa dibiarkan lalu diawetkan sebagai oposisi biner: laki-laki//perempuan. Kenapa? Karena kebiri mengandaikan pelakunya hanya laki-laki dan hanya laki-laki sementara korbannya hanya perempuan dan hanya perempuan. Bagaimana jika pelaku kekerasan seksual adalah perempuan? Apanya yang mau dikebiri? Kebiri juga mengandaikan persetujuan atas mitos bahwa laki-laki memikirkan dan selalu menikmati seks sementara perempuan…

pisang yang buluk dan tak menarik (lagi)
Ketiga, siapa yang akan melakukan hukuman mati jika tidak ada algojo(eksekutor)nya atau tidak ada yang mau jadi algojo? Sebelum anda bilang tidak mungkin, aku bilang bayangkan saja sebuah keadaan di mana segenap algojo yang kita punya sedang terserang demam plus diare akut. Aku ingin tanya buat para pendukung hukuman mati, maukah anda menjadi orang yang mengeksekusi terpidana dengan tangan atau kaki (atau apapun) anda sendiri? Dan tidak usah memberiku omong kosong soal jika memang sudah tugas dan kewajiban maka saya akan lakukan, karena jika seorang punya pilihan maka pasti saat ini tidak ada yang mau melakukan pekerjaan mengerikan, melukai tubuh/mengambil hidup orang lain biarpun legal dan dibayar untuk itu kecuali untuk alasan hegemonik, misal: yang percaya bahwa menjadi algojo adalah bagian dari ibadah.
Bayangkan kini di hadapan anda sudah terikat pasrah terpidana mati dan di tangan anda ada sebuah senapan berisi peluru. Maukah anda menekan pelatuk ke arah jantung atau bahkan pelipis terpidana? Kecuali anda punya kecenderungan sakit jiwa, sudah biasa membunuh, terbakar dendam karena korban adalah kerabat anda, pastilah menolak.

Terakhir, kenapa orang yang menolak hukuman mati dianggap pengecut, tidak tegas, dan dituduh mendukung kejahatan atau bahkan disangka akan melakukan kejahatan itu? Tidakkah ada argumen balik yang lebih valid? Tidakkah rangkaian kata yang anda baca ini bisa dimaknai sebagai sebuah langkah yang berani?

DKV yang Pasaran

Jelang akhir Januari sebuah laman internet menampilkan kabar Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bentukan Jokowi tengah membuka lowongan posisi non-pegawai tetap bagi lulusan S1 DKV yang akan ditempatkan dalam Deputi Pemasaran. Persyaratannya standar, bahkan teramat standar: pelamar ber-IPK minimal 2,75, usia minimal 21 tahun, dan tentunya bisa menggunakan aplikasi editing gambar (Corel, Photoshop, Illustrator). Modalnya cukup CV dan portofolio. Entah sebagai apa dan apa spesifikasi kerjanya, tapi yang penting keren, ya kan? Karena akhirnya lulusan S1 DKV diakui (baca: dibutuhkan) oleh pemerintah (atau negara?) setelah selama ini hanya disedot oleh industri yang melahirkan DKV itu sendiri.

Pertama, aku ingin menyampaikan betapa sempitnya cakupan bidang Bekraf yang diadopsi mentah-mentah dari istilah “industri kreatif” (creative industry) ini. Adalah sebuah langkah yang baik ketika ia dipisahkan dari kementrian pariwisata. Sayang bidangnya masih secara spesifik melingkupi bidang “pariwisata” dan mengarah pada produk tertentu belaka (film, musik, animasi, desain komunikasi visual, arsitektur, dll), lengkap dengan perspektif yang mengarah pada penciptaan mesin-mesin uang. Tidak mengherankan memang mengingat pemilihan nama “Ekonomi Kreatif” sudah cenderung memihak orientasi ekonomi(s), yaitu sesuatu yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Penyertaan kata “kreatif” yang menyusul “ekonomi” mengandaikan ada ranah yang tidak kreatif. Kenapa tidak kreatif? Ya karena tidak cukup punya nilai ekonomi.

Mengapa Bekraf tidak berani meluaskan cakupan apa yang dikategorikan “kreatif” ini atau meredefinisi apa yang disebut/masuk kategori ke-kreatif-an? Yang disebut kreatif tentu lebih luas dari bidang-bidang yang sebagian kusebut di atas. Tidakkah orang yang membuka perpustakaan keliling dengan bermodal kuda atau motor juga layak disebut kreatif? Lagipula untuk sebuah lembaga resmi pemerintah dengan nama yang berani melabeli dirinya “kreatif,” persyaratan yang diajukan untuk rekrutan pegawainya sangat tidak kreatif. Persyaratannya sama persis dengan yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan yang mencari tenaga desainer komvis. Tak bisakah Badan Ekonomi yang KREATIF ini memilih memakai jasa desainer lepas? Apakah alasannya sama dengan perusahaan yang memandang pekerja lepas (freelance) lebih mahal karena dibayar per proyek dibanding pegawai yang dibayar rutin setiap bulan?

Poin kedua adalah kenapa Bekraf buru-buru menetapkan dan mengharuskan pelamar punya ijazah S1? Apa supaya pemerintah nampak peduli pada “industri kreatif” dan DKV sebagai penghasil desainer komvis? Bahwa mentang-mentang pemerintah punya Bekraf lalu DKV pun lantas berubah menjadi pencetak orang ‘kreatif’? ‘Kreatif’ yang berpandangan sempit itu?

Jika persoalannya adalah kemampuan menggunakan aplikasi (software) olah gambar, sekarang bukan hanya lulusan D3 dan SMK yang harus dihadapi lulusan S1, tapi mereka yang menuntaskan kursus desain grafis pun berpotensi jadi ancaman atau mereka yang belajar secara otodidak karena punya minat. Jika bukan karena batasan usia, anak SD pun sudah banyak yang jago pakai Corel, Photoshop, dan Illustrator. Jadi tidak ada alasan Bekraf membatasi pelamar hanya pada lulusan S1. Sehingga dengan kata lain Bekraf (yang kreatif itu) ingin mengatakan bahwa keunggulan lulusan S1 DKV terletak hanya pada ijazahnya, yang pada sisi lain mau bilang bahwa lulusan S1 dibutuhkan hanya karena keahlian mereka memainkan software olah grafis.

Aku TIDAK HENDAK berargumen bahwa “lulusan S1 DKV bukan hanya terampil  menggunakan software olah grafis tapi desainer komvis juga (harus) bisa mengidentifikasi masalah, memecahkannya dengan solusi visual lewat riset yang melibatkan sekian lintas bidang keilmuan sehingga pesan nantinya bisa sampai ke benak audiens bla bla bla bla” dan segenap idealitas omong kosong yang diajarkan oleh para dosen dan ditanamkan sekian buku-buku yang membicarakan desain grafis. Karena idealisme macam ini ujung-ujungnya hanya satu, yaitu (efektivitas) jualan. Rencana Bekraf yang akan menempatkan rekrutan tenaga desainer komvis ke Deputi Pemasaran kian menerangkan hal ini.

Perspektif DKV perlu menjauh dari nalar-nalar pemasaran yang agak malu-malu mendasari pemikiran DKV secara umum yaitu kesuksesan penanaman pesan kepada audiens tadi. Hanya karena DKV sebagai disiplin akademik muncul dari industri bukan berarti DKV masih perlu/harus melayani kemauan dunia industri yang serba ingin cepat dan efektif (menjual) sekaligus sempurna. DKV perlu secara bertahap mengurangi perannya sebagai penjawab kebutuhan pasar akan profesi desainer komvis dan profesi sayap DKV lainnya: animator, ilustrator, fotografer. Prodi DKV perlu percaya diri keluar dari kebangaan di kala lulusan/alumnusnya (berhasil) bekerja di perusahaan sebagai tenaga desain.

DKV bukan lagi hanya perkara mengidentifikasi masalah-mencari solusi-memecahkan masalah. DKV perlu dibawa ke arah memberi pilihan-pilihan yang memberdayakan dan bukan hanya perkara cari duit belaka. Pilihan-pilihan ini bersifat luas dan sangat mungkin keluar dari wilayah keprofesian yang menyempitkan. DKV yang non normatif terutama dalam menilai desain yang berada di luaran kerigidan kaidah komvis. DKV yang tidak menganggap desain karya anak SMK/lulusan kursus sebagai sampah visual yang harus dididik atau diredesain hanya dengan alasan tidak efektif menanamkan pesan atau kurang “estetis.” DKV yang non-eksklusif sebagai milik kita semua. Dengan begini mungkin DKV tidak akan memandang sempit dirinya dan apa yang disebut kreatif bakal jauh lebih luas.