Ande Ande Lemot

Pada sebuah dusun nan bersahaja tinggallah seorang pemuda bertampang gagah yang tidak seberapa berada bernama Andy. Karena namanya agak lama untuk dicerna kuping, penduduk dusun memanggilnya “Ande.” Si Ande ini sangat pelan dalam segalanya terutama dalam berpikir. Maka itulah dia diaraniAnde Ande Lemot” oleh warga dusun. Walau begitu dia ini sangat berguna jika sedang masanya berguna. Misalnya tatkala nagari tengah mengalami musim banjir dia akan mengantarkan warga menyebrang jalanan pemisah antar dusun yang mendadak berubah jadi kali. Iya, Ande Ande Lemot adalah seorang tukang perahu handal.
tukang perahu
Ande Lemot siap ikut audisi dengan gitar pengayuh perahu
Suatu hari yang harinya sama ketika kamu sedang membaca ketikan ini. Ande Ande Lemot mendengar bahwa di dusun seberang ada seorang perempuan yang konon kecantikannya melampaui manusia. “Terlalu cantiknya sampai-sampai dia lebih layak jadi istri Dewata. Setiap lelaki yang mau melamarnya jadi segan dan memilih memejam mata saja waktu berpapasan muka,” begitu kata temannya yang Si Ande sendiri lupa namanya. Ande mengangguk-angguk saja. Temannya itu pun pulang, mungkin dengan agak dongkol karena yang diajak bicara kelihatan tidak paham.

Keesokannya Ande baru memahami arti perkataan temannya itu. Malamnya Ande bermimpi melihat sinar berwarna kuning benderang turun dari langit jatuh ke sebuah pohon hayat di tengah telaga. Sesosok perempuan berdiri diterpa cahaya kuning yang menerobos antara dedaunan pohon. Perempuan itu berdiri menghadap padanya. Sayang wajah itu perempuan tidak nampak. Sinar itu kian terang, kian terang, kian terang...
Sinar surya menerpa wajah Ande. Rupanya pagi telah menyapa. Ia bergegas bangkit dari pembaringan.

Hari itu juga dia yakinkan diri untuk berkunjung ke dusun seberang untuk sekedar menjawab rasa penasaran atas mimpinya semalam. Melangkahlah ia menuju tepi jalan dusun. Namun alangkah ia tersentak mendapatinya telah berubah jadi kali. Rupanya sekarang tengah musim banjir! Ia jadi tidak tahu apa yang harus dilakukan. 

setelah kupikir buat apa mikir
Ande Lemot bimbang dalam keberbimbangan
Butuh waktu sehari penuh baginya untuk kemudian menyeberangi banjir, itupun karena ada warga dusun yang minta diantar ke dusun seberang. Didoronglah perahunya ke banjir yang deras lalu diantarkan warga dusun itu menyebrang.

Sesampai di seberang Ande Ande Lemot duduk termenung sembari risau. Haruskah dia lanjutkan mencari perempuan seindah bidadari yang dibingkaikan temannya dalam kata tempo hari. Ande bahkan tidak tahu nama perempuan itu, tidak tahu rumahnya ada di mana, tidak punya pula gambaran seperti apa rupa perempuan itu. Dan jikapun berjumpa dia tak tahu akan bagaimana.

Sekonyong-konyong seorang perempuan mendekat ke arahnya. Gadis berkulit kuning, bermata kuning, bergigi kuning, dan bercawat kuning berjalan penuh lenggokan. Warna kuningnya memantulkan cahaya matahari sehingga Ande Lemot tak bisa menyawang dengan jelas selain warna yang serba kuning.

“Wahai, tukang perahu. Antarkanlah aku ke seberang. Berapapun yang kau minta akan aku penuhi.” Perempuan kuning itu bersuara yang terdengar bagai senandung.

“Maafkan aku Nyi Sanak, namun aku tengah memikirkan sesuatu yang...sekarang aku telah lupa apa tadi yang aku khayalkan.” Ande Ande mengernyit.

“Wahai tukang perahu yang perkasa, Aku hendak menjumpai seorang lelaki yang konon ketampanannya melebihi pangeran manapun. Dari kabar burung kudengar dia tinggal di dusun seberang. Bukankah engkau berasal dari dusun seberang? Adakah engkau mengenalnya?” Suara perempuan kuning ini kian mendayu.

“Aku tidak mengenalnya, Nyi Sanak. Dan aku tidak hendak menyebrangkan siapapun saat ini.” Ande Lemot menyipitkan matanya karena kemilau perempuan di depannya kian menyilaukan.
Star Trek Flare
Klenthing Kuning yang kemilaunya menyilaukan
“Tolonglah aku hai tukang perahu. Aku akan berikan apapun. Aku akan berikan kau sebuah ciuman.” Kali ini suaranya makin mendesah.

“Kenapa aku ingin ciuman?” Telapak tangan Ande mengatapi separuh keningnya mencoba melindungi matanya.

“Aku mohon wahai tukang perahu, aku akan penuhi apapun keinginanmu...” Perempuan kuning itu memelas.

Ande Lemot tak beranjak. Dia memalingkan wajah, pertanda sedang teguh pendirian.

Perempuan itu pun akhirnya menyerah. Segala upaya tak hasilnya untuk menggoyahkan kelemotan Si Ande. Ditengoknya sekitar tak ada tukang perahu lain. Dia berdiri di tepian banjir yang bergolak penuh angkara. Tanpa dinyana, dia terjun ke banjir, meraup tangan dan kakinya kalang kabut mencoba mengarungi arus banjir. Sementara Ande diam membiarkan itu terjadi.

Tiba-tiba Ande sadar, barangkali perempuan tadi adalah perempuan yang diceritakan temannya, perempuan yang bersinaran dalam mimpinya. Dia segera menyusul perempuan itu dengan perahunya. Tapi terlambat, perempuan itu senyap ditelan banjir. Mungkin jadi santapan ikan.

Dengan lemas lunglai Ande Ande Lemot menepi ke dusunnya. Tepekur duduk dia atas batu dia meringis memikirkan betapa miris dirinya. Untuk beberapa saat dia merasa memang dia orang yang akan bernasib galau seumur-umur. Sampai...
“Kang, kang!” sayup terdengar suara perempuan muda dari seberang banjir yang sepertinya memanggil dia. Ande menengok ke arah suara. Bukan, bukan hanya seorang perempuan, melainkan tiga! Di kejauhan di sana Ande bisa melihat tiga perempuan menyandang kain berwarna merah, hijau, dan biru.
Klenthing RGB ada di seberang sana siap untuk di...
Tersenyum Ande, begitu pula hatinya. Ini kali pertama ada yang memanggilnya dengan “Kang.”

“Kang, tuKang perahu! Kemarilah, antarkan kami ke sana!” satu dari tiga perempuan itu melambai.

Ande Ande Lemot bangkit, semangatnya juga. Dia mendorong perahu dengan sigap ke bibir banjir...tanpa dia sendiri naik ke atasnya. Perahu itu pun terbawa arus.

(Jino Jiwan/Restu Ismoyo Aji)

Mediatisasi Photoshop bagian 2

Bagian pertama Mediatisasi Photoshop.

Adobe Photoshop dengan segala kelebihannya yang mampu menggantikan kerja manual dalam desain grafis, ilustrasi, dan pengolah foto juga tidak lepas dari masalah. Yang namanya software dapat saja mengalami crash (kondisi di mana software berhenti bekerja secara tiba-tiba), berbeda dengan kerja manual yang jenis crash-nya adalah salah coret atau tertimpa tinta/cat. Kalau sudah begini, pengguna tidak punya pilihan selain harus sering membuat cadangan file (mem-back up), suatu praktik yang tidak mungkin terjadi pada kerja manual. Penggunaan mesin cetak untuk melihat hasil akhir pun membawa konsekuensi dengan seringnya ketidaksesuaian antara warna gambar yang ditampilkan di layar monitor dengan hasil cetak sehingga pengguna harus mengkalibrasi layar monitor miliknya.

Seperti sudah diungkap pada ketikan sebelumnya. Mediatisasi merujuk juga keadaan di mana media sudah menjadi institusi sendiri. Photoshop seperti juga software lainnya telah menjelma institusi tersendiri dengan aturan-aturan tertentu yang terbentuk dan masih terus membentuk diri sebagai bagian dari masyarakat pengguna komputer. Dengan menekan tombol Ctrl dan Z pada papan ketik maka perintah yang baru saja dilakukan pengguna akan dipulihkan seperti semula. Tindakan membatalkan perintah ini dikenal dengan “undo,” dan ini berlaku untuk seluruh operasional komputer. Ctrl dan O yang mengadaptasi kata “openpun demikian. Ia adalah perintah untuk membuka file. Sementara Ctrl dan S yang mengadaptasi kata “saveadalah perintah untuk menyimpan file. Segelintir contoh ini menunjukkan bahwa Photosop adalah institusi besar dengan aturan-aturan serta konvensi bersama yang saling memengaruhi satu sama lain, aturan yang tercipta dari adaptasi pembuat softwarenya sendiri terhadap bahasa dalam dunia nyata.

Kebebasan Pengguna
Uniknya, Photoshop mampu menjadi media (alat/sarana) untuk memproduksi makna yang darinya media lain diciptakan. Misalnya, desainer grafis menciptakan poster atau spanduk, ilustrator dan fotografer menghadirkan buku bergambar.  Posisi desainer grafis, ilustrator, dan fotografer seakan berada di tengah-tengah, mereka dapat menentukan langkah, apakah akan melayani kepentingan kapitalis atau mencoba melawannya. Apakah akan jadi pengguna yang pasrah dengan segala fitur yang disediakan oleh Adobe atau memanfaatkannya demi melakukan ‘perlawanan’ aktif atas standardisasi dengan mengkustomisasi seluruh perangkat dalam Photoshop, mulai dari menciptakan brush, texture, dan plug-in sendiri yang sepenuhnya bergantung pada kreativitas pengguna.

Gambar bisa dengan mudah diberi teks berkat Sotosop. Oh, aku belum sempat mewarnainya.
Digitalisasi seni (pengerjaan/produksi, distribusi, sampai konsumsi) punya banyak keuntungan yang melampaui penggarapan karya secara manual, walaupun “aura” seniman akan lenyap sebagaimana disampaikan Benjamin (2006) dalam tulisannya yang menyoal reproduksi mekanis dari karya seni. Kemajuan reproduksi mekanik (maksudnya foto dan film) membuat karya seni bisa menjangkau masyarakat. Ketika sebuah karya direproduksi maka lenyaplah aura-nya dan hilang juga otentisitas (dalam arti pemujaan terhadap) pembuatnya. 

Berhubung buah karya dari Photoshop hanyalah file yang “mengawang” alias virtual, yang mana realitasnya berbeda dari karya fisik, kemudahan inilah yang seolah menusuk senimannya dari belakang, karena karyanya jadi mudah untuk ‘dicuri’ oleh orang lain tanpa memberikan kredit sepantasnya. Seperti juga ketikan ini kalau dicolong oleh mahasiswa pemalas pun bisa saja untuk diakui sebagai tugasnya. Pemberian watermark (atau tanda air) pada karya tidak cukup, karena watermark pun dapat dihilangkan (ironisnya dengan bantuan Photoshop juga!). Di sisi lain peluang produksi masal yang dibawa oleh Photoshop sesungguhnya sesuai dengan keinginan desainer grafis, illustrator, dan fotografer agar karyanya menjangkau khalayak luas melebihi jika karya tersebut didistribusi secara fisik yang serba terbatas secara geografis. Digitalisasi seni mempermudah desainer grafis, ilustrator, dan fotografer yang cukup memajang karyanya di blog atau laman pribadinya maka hanya dalam hitungan detik karya tersebut sudah bisa dinikmati ribuan orang dari penjuru dunia.

Komoditas yang Makin Dikomodifikasi
Mediatisasi dapat pula menjelaskan budaya pemasaran dan konsumsen. Photoshop semakin menjelma menjadi komoditas yang terkomodifikasi di era internet (hayo, apa coba artinya komodifikasi?). Logika media mengatakan bahwa dia harus ikut arus yang tengah mengalir, logika industri budaya yang mengikat masyarakat luas (penggunanya) untuk mengikutinya.

Adobe Photoshop yang saat ini--bukan hanya aplikasi (berupa paket Creative Suite yang dulu dijual dalam keping CD atau DVD), tapi berubah menjadi penyedia jasa software berbayar secara periodik (yang disebut Adobe Creative Cloud)--adalah bagian dari adaptasi Adobe sendiri sebagai penyedia media terhadap era virtual yang serba cepat dan ringkas serta kecenderungan orang untuk terus terikat dengan internet, sekaligus sebagai upaya mengurangi peredaran software bajakan. Untuk lebih gampangnya, Adobe memaksa penggunanya untuk berlangganan (atau lebih tepatnya ‘menyewa’) seperti orang yang berlangganan majalah, surat kabar, jurnal, atau bahkan channel di YouTube.

Menurut sebuah artikel (http://froknowsphoto.com/adobe-creative-cloud) biaya yang perlu dikeluarkan pengguna mencapai $ 600,- per tahun ($ 49,- per bulan) untuk dapat menikmati seluruh produk Adobe, atau ‘cukup’ $ 19,- per bulan jika hanya ingin memakai satu software sesuai pilihan. Jumlah yang tidak kecil memang namun pengguna akan ‘dimudahkan’ karena tidak perlu terus membeli produk baru setiap kali Adobe mengeluarkan versi update, sayangnya hak pakai pengguna akan diputus jika tidak memperpajang kontrak pemakaian. Dan, jangan lupa Adobe juga menyediakan versi apps-nya untuk membuat penggunanya nyaman dengan 'banyaknya pilihan'. Dengan demikian pengguna mau tidak mau beradaptasi dan mendisiplinkan diri untuk membayar. Kemudahan bagi pengguna ini melahirkan bentuk pengendalian Adobe terhadap para pengguna produknya. Jumlah pengguna akan hadir dalam angka-angka yang bisa mengindikasikan kekuatan brand, seperti jumlah followers di akun Twitter yang digunakan sebagai legitimasi popularitas orang/entitas tertentu. Jumlah pengguna akan digunakan sebagai data untuk menentukan seberapa efektif Adobe dalam menancapkan brand dalam benak pengguna. Bahkan laman Adobe Creative Cloud mempermudah calon pelanggan di Indonesia dengan menyediakan konversi harga jasa software mereka dalam Rupiah. Barangkali ada di antara anda yang berminat?
Paket Adobe. Lebih mending pakai bajakankah?
Yah, apapun itu kehadiran Photoshop telah melampaui apa yang bisa dicapai desain, menggambar, dan mengambil foto dalam proses kerja manual. Melampaui hirarki yang dibentuk dan diyakini bahwa kerja manual seolah lebih tinggi daripada kerja digital yang serba mudah dan instan. Walaupun pada tahap selanjutnya pengerjaan di komputer malah menimbulkan hirarki baru dan ketergantungan yang seolah tanpanya semua proses yang berkaitan dengan grafis tidak bisa dikatakan “grafis” lagi. Ketergantungan yang dimanfaatkan dan dicengkeram habis oleh Adobe demi mengendalikan pengguna supaya terus menggunakan produk mereka. Pernyataan reflektif di awal tulisan menggambarkan bahwa mediatisasi masuk luar biasa ke dalam kehidupanku sebagai desainer dan ilustrator, tapi dari sinilah Photoshop membuka potensi besarnya agar para desainer grafis dan ilustrator mampu terus berkarya tanpa batasan dan halangan apapun, termasuk keterbatasan kemampuan manual di era yang serba termediasi ini.

(Restu Ismoyo Aji / Jino Jiwan)

Sumber
Eymeren, M.V. 2014. Media Komunikasi dan Dampaknya terhadap Kebudayaan. Jakarta: Pusat Kajian dan Filsafat Pancasila.

Hjarvard, S. (2008). “The Mediatization of Society.” http://www.nordicom.gu.se/sites/default/files/kapitel-pdf/269_hjarvard.pdf, (diunduh, 14 Oktober 2014).

Benjamin, W., 2006, The Work of Art in The Age of Mechanical Reproduction, dalam Media and Cultural Studies Keyworks, Diedit oleh Durham, M.G., Kellner, D.M. Victoria: Blackwell Publishing. Hal 18-34.

Polin, Jared. “You Can No Longer Buy Adobe Photoshop.” http://froknowsphoto.com/adobe-creative-cloud/, (diakses 29 November 2014).

Story, Derrick. "From Darkroom to Desktop—How Photoshop Came to Light.” http://www.storyphoto.com/multimedia/multimedia_Photoshop.html, (diakses 29 November 2014).

Mediatisasi Photoshop

Suatu hari ketika aku masih bekerja di sebuah perusahaan jasa desain grafis, ilustrasi manual yang tengah digarap tanpa sengaja tercoret pada bagian yang tidak diinginkan, dan itu tidak gampang dihilangkan begitu saja karena dibuat memakai drawing pen. Saat itulah sekilas aku membayangkan betapa asyiknya jika bisa meng-undo coretan itu macam software komputer yang biasa kupakai tanpa harus bersusah payah menggambar ulang di kertas baru. Tinggal menekan tombol Ctrl dan Z pada papan ketik, masalah pun terselesaikan. Nyaris tidak disadari pola pikir demikian hampir selalu terlintas: andai kehidupan nyata ini seenak operasional komputer.

Untungnya produk akhir desain grafis selama bekerja di perusahaan tersebut seluruhnya memang harus dicetak sehingga gambar mentah tetap perlu melewati proses pengeditan. Pada akhirnya penggunaan mesin pemindai dan komputer tetap wajib. Setelah ditransformasikan dalam format digital salah coret tadi tinggal dihapus memakai penghapus virtual (yang namanya eraser!), dilanjutkan mempertajam goresan dengan memainkan gamma correction, levels, atau curves, dari sini gambar lalu diwarnai dengan kuas (brush) atau paint bucket tool sesuai keinginan. Semua dilakukan via Adobe Photoshop. Kedengaran sangat teknis sih, tapi percayalah langkah-langkah tadi tidak lebih rumit dibandingkan bila mengerjakan rangkaian proses menggambar itu murni secara manual. Proses desain, menggambar, dan mengolah foto telah dimudahkan (boleh dibaca: diambilalih) sepenuhnya oleh Photoshop.

Photoshop merupakan software pengolah gambar raster (gambar yang berbasis dot dalam grid pixel) buatan Adobe System yang dibuat untuk  Windows dan Mac. Photoshop jelas bukan satu-satunya pemain di pasar pengolah gambar, ada puluhan lainnya namun kalah populer. Wikipedia sampai menyebut Photoshop sudah menjadi standar industri pengolahan gambar raster secara de facto. Aku sih menduga kepopuleran Photoshop berkaitan dengan momentum kemunculannya yang  bertepatan dengan kelahiran kamera-kamera digital kelas compact (atau kerap disebut kamera saku), selain karena memang pionir dalam software pengolah foto. Saking populernya muncul istilah Photoshoping atau Photoshoped untuk menyebut proses pengolahan dan objek gambar/foto hasil olahannya, terlepas dari software yang digunakan.

Iya, aku masih pakai Cs3. Karyaku ada di deviantart jika mau lihat
Terimakasih pada Thomas dan John Knoll yang mulai bekerjasama membuat tools pengolah foto agar bisa diterapkan pada komputer personal di akhir 1980-an. Mereka mungkin tidak pernah menduga bahwa apa yang berawal dari minat mereka pada fotografi, ruang gelap, dan komputer Mac bakal sepopuler saat ini. Karya mereka ImagePro dilirik oleh perusahaan software Adobe lalu disempurnakan menjadi apa yang dikenal sekarang sebagai Photoshop (http://www.storyphoto.com/multimedia/multimedia_Photoshop.html). Sejak tahun 1990 itulah revolusi dalam fotografi merebak. Perlahan peran kamar gelap dan rol film 135 mm tergantikan oleh kian umumnya kamera digital dan penggunaan Photoshop.

Tak Bisa Tanpa Photoshop
Dalam konteks fotografi Photoshop umum digunakan untuk memanipulasi gambar/foto, dari operasi sederhana semisal memotong foto (cropping), mencerahkan-menggelapkan gambar, mengubah nuansa warna, menghilangkan jerawat dan kerutan atau memuluskan kulit pada foto wajah, hingga ke hal yang lebih kompleks seperti digital imaging berupa penambahan atau penggabungan dua atau lebih objek dalam satu gambar. Sedangkan dalam konteks proses desain grafis dan menggambar (membuat ilustrasi) Photoshop kerap digunakan dalam penataletakan (pengomposisian), pewarnaan gambar, penambahan huruf, sampai ke konversi format file.

Kenyataannya keseharian profesi-profesi seperti desainer grafis, ilustrator, dan fotografer baik amatir maupun profesional memang telah sangat dimediatisasi oleh Photoshop. Photoshop mampu menggantikan kerumitan manual sampai-sampai orang secara sukarela beradaptasi. Beralih dari kerja manual ke digital dan berubah menjadi “pengguna” yang masuk dalam ketergantungan, sehingga pemakaian Photoshop dirasa sangat perlu dan (seolah) tidak tergantikan. Lebih jauh lagi, orang dengan profesi-profesi di atas lalu diidentikkan dengan Photoshop dalam menjalani pekerjaannya. Desainer grafis dianggap sebagai desainer grafis bila dia duduk menghadap komputer mengerjakan desain di Photoshop, demikian berlaku bagi “ilustrator” yang menggambar dan mewarna pakai Photoshop dan “fotografer” yang mengolah foto dengan Photoshop. Hebat ya? 

Hal yang kurang lebih serupa sebenarnya juga terjadi pada hampir segala profesi kantoran, ketika proses tulis menulis telah tergantikan secara umum oleh (salah satunya) pengoperasian Microsoft Office (terutama Microsoft Word), profesi tertentu seperti sekretaris menjadi terikat dengannya. Modernitas dan teknologi telah menggantikan kerja manual ke arah apa yang dinilai lebih cepat dan efisien.

Pengguna yang Dimediatisasi
Mediatisasi menurut Hjarvard (2008) terjadi ketika muncul proses perubahan kondisi sosial yang disebabkan oleh perubahan media. Media dengan logikanya telah menjadi institusi independen yang terkait dengan institusi lain dalam kehidupan masyarakat sehingga masyarakat akan beradaptasi dan menjadi bagian dari institusi itu bahkan menciptakan ketergantungan.

Mediatisasi Photoshop yang terjadi adalah yang disebut Hjarvard sebagai mediatisasi langsung (direct mediatization), sebuah mediatisasi yang “kuat” karena menggantikan kegiatan yang sebelumnya dilakukan dengan bersentuhan langsung menjadi termediasi. Selain itu aforisme McLuhan (Eymeren, 2014) paling dikenal: “Media adalah Pesan” merujuk keadaan bahwa media memiliki karakter yang mempertajam asosiasi manusia pada skala ruang dan waktu serta tindakan. Media memperpanjang ‘tangan’ manusia untuk berbuat lebih daripada yang bisa dilakukan sebelumnya. Pembabakan era menurut McLuhan menyebut pula bahwa setiap era akan mengandung apa yang sudah dipakai pada era sebelumnya.

Dengan Photoshop, seorang fotografer dapat memoles ulang (retouch) foto, menambahkan filter sesuai keperluan untuk mendapatkan efek-efek yang tidak dapat diperoleh dari segi praktikal sehingga dia tidak perlu memotret ulang dalam kondisi yang sama. Metafora-metafora (terutama visual) juga diadaptasi dari kamera dan aksesorisnya. Ambil contoh menu filter dan photo filter dalam Photoshop.

Dalam Photoshop istilah brush (kuas) masih dipertahankan, padahal tidak benar-benar ada kuas berupa alat lukis dari batang kayu berbulu di ujungnya melainkan kuas virtual yang hanya representasi kuas di alam nyata. Photoshop menggantikan tangan pengguna dalam memegang kuas dengan perantara mouse. Pengguna tidak perlu repot lagi memilih kualitas cat, mengaduknya dengan air atau minyak untuk menemukan campuran yang pas, atau mencuci kuas dan palet yang kotor. Semua proses ini sudah diperantarai parameter-parameter visual yang virtual. Artinya teknologi ini mampu memperpanjang fungsi tubuh manusia, bahkan mampu menutupi keterbatasan kemampuan (skill) manual dari penggunanya.

Schulz dikutip Hjarvard (2008) menyebutnya sebagai peleburan aktivitas yang menggantikan interaksi langsung desainer dengan alat-alat gambar manual. Dalam situasi demikian Photoshop jelas memudahkan pekerjaan seorang desainer grafis, ilustrator, dan fotografer. Belum tentu seorang desainer grafis/ilustrator yang kemampuan manualnya kurang, maka karya digitalnya akan kurang. Meskipun jelas apa yang bisa dicapai pada pengerjaan manual tidak akan bisa dicapai dengan digital, terlebih lagi sebaliknya. Tetapi pengerjaan digital di Photoshop makin menyamai pengerjaan manual. Terkadang sampai dalam tahap di mana pengguna Photoshop tidak lagi merasa perlu tahu cara kerja software, dan merasa tidak perlu tahu atau merasa tidak peduli lagi pada repotnya cara kerja manual lalu melupakan dan tidak ingin menostalgia lagi selain dengan tujuan membandingkan nyamannya proses berkarya yang telah dimediatisasi oleh Photoshop.


(Restu Ismoyo Aji/Jino Jiwan)