Petualangan Ikan Kembung Junior

Di sebuah laut yang dalam (setidaknya menurut para ikan), hiduplah seekor ikan Kembung Junior, atau setidaknya begitulah ia diberi nama karena bapaknya adalah Papa Kembung Senior yang entah sekarang minggat kemana. Kembung Junior hanya tinggal berdua bersama Mama Kembung di bawah steriofom bekas ganjel kulkas yang ketindihan kasur bekas.
Si Kembung Junior yang tangkas

Ikan Kembung Junior adalah ikan yang mbeling tiada tedeng aling-aling. Ada saja polahnya yang tiap hari cuma bikin Mama Kembung susah bukan cakalang.

“Nak, boleh mbeling tapi jangan sekali-kali kau ke permukaan,” Mama Kembung memberi nasihat.
“Kenapa Ma?” Sahut Kembung Junior sambil memamah steriofom.
“Karena daging kita ini...uenak tenan,” tukas Mama Kembung.
“Kok mama bisa tahu?” Kembung Junior keheranan.
Pertanyaan ini tetap jadi misteri karena tidak dijawab oleh Mama Kembung. Mama Kembung malah balik menghardik. “Jangan dimakan tuh steriofom, ntar kita gak punya rumah lagi!”

Kembung Junior pun menjauh hendak bermain dengan temannya Guri si gurita (hayah!), tapi ia melihat sesuatu mengambang di permukaan laut, ia pun jadi penasaran. Maka ia berenang mendekat. Tak dinyana ia ditangkap oleh nelayan, Kembung Junior lalu dilempar ke ember berisi rontokan es dan pingsan seketika. Begitu terbangun ia mendapati perutnya sudah dibedah, lalu dicampur garam dan bawang. Beberapa menit kemudian dia di goreng “sreeenng!” garing, baunya lezat kemana-mana.

Tak lama Kembung Junior tersaji di atas piringmu. Dan kamu mencuili Kembung Junior yang sudah tak berdaya. Dia masih bisa menatap kamu mengunyah bagian tubuhnya dengan nasi pulen hangat ditemani sambel terasi pedas.

Kembung Junior yang kini tinggal tulang dibuang ke bak sampah oleh yang punya warung, lalu dibuang ke laut oleh anaknya-yang-punya-warung.
balung belulang Kembung Jr.

Tulang Kembung Junior perlahan tenggelam dan  jatuh tepat di depan rumah steriofom Mama Kembung. Mama Kembung melihat sisa tulang Kembung Junior, tak percaya ini bisa terjadi. Matanya sembab, bibirnya bergetar...

“Demi Hiu Yang Agung..., sudah lama aku tidak makan!” Karena lapar ia mengkrikiti serpihan sisa daging di tulang Kembung Junior yang (barangkali) tanpa tahu kalau itu Si Kembung Junior. “Ah, rasanya enak tenan!”
Mama Kembung menikmati daging pemberian Hiu Agung
...

Pertanyaannya, di manakah Papa Kembung Senior berada kini? Kirim jawabanmu ke Mama Kembung via surat dalam botol kaca dan lempar ke laut terdekat. Tulis: “Teruntuk Mama Kembung.” Lalu berharaplah mereka berdua bisa bersua kembali demi meneruskan garis keturunan mereka yang terputus olehmu. Selamat menjawab!

(Restu Ismoyo Aji / Jino Jiwan)

Sang Pendekar

,dadanya bolong seperti hidupnya...

Pada zaman yang tidak terlampau dahulu kala. Tersebutlah seorang pendekar berlengan kekar yang terkapar tumpas penasaran dalam sebuah adu kanuragan. Kenapa disebut tumpas penasaran? Gara-garanya cukup sepele, ia masih menjomblo sewaktu dijemput malaikat. Hingga napas sepenghabisannya ia ingin sekali punya kekasih walau hanya sekejap seumur hidup. Karena itulah ia rela bertarung dalam sayembara melawan pesaing bebuyutannya yang memang lebih linuwih, Pendekar Brotowali demi memperebutkan wanita idaman, Dewi Rara Polah.

Hidup sendiri, matinya pun sendiri. Begitulah garis nasib sang pendekar malang. Tak heran ia dikenal secara luas oleh warga nagari sebagai Pendekar Penyendiri, sebatang kara seumur-umur. Bisa dikatakan hidupnya bolong, seperti dadanya yang juga bolong terkena hantaman ajian Brotowali. Meski begitu  banyak juga warga yang bersedia mengantarkan dia ke pusara. Mereka adalah orang-orang yang dulu pernah ditolongnya lepas dari bromocorah, tapi juga sekaligus orang-orang yang membiarkan dia selalu berkelana sendirian kemana-mana tanpa pernah mau sekalipun menawarkan anak perempuan mereka untuk dinikahi si pendekar. Dan yang dilakukan para pengantar tak lebih dari ratapan yang diiba-ibakan, ditrenyuh-trenyuhkan, karena bagi mereka Pendekar Penyendiri hanyalah satu dari sekian ratus pendekar dalam hayat. Begitu jasad si pendekar lenyap diurug tanah merah, rombongan pelayat bubar dengan urusan masing-masing.

Berkebalikan dengan hidupnya yang sepisepi, catatan kebaikan Pendekar Penyendiri ternyata cukup lumayan ramai. Jiwa si pendekar langsung hendak diangkat ke Nirwana sebagai anugrah atas segala kebajikannya. Namun wajahnya murung tanpa semangat. Ia tak bersedia diajak ke alam sana di mana bidadari molek sudah melambai-lambai sapu tangan putih mewangi menanti untuk dibelai-belai. Alih-alih ia memohon agar dihadapkan kepada Sang Pengabul dan dengan kurang-dampratnya meminta untuk dihidupkan kembali sebagai keturunan dari si gadis pujaan. Alasannya, hanya dengan cara itu ia dapat beroleh pelukan hangat dan menyerap siraman kasih sayang dari si gadis pujaan yang maha jelita, walau sekali dalam kehidupan keduanya.

Ck, sempat-sempatnya si pendekar kita ini berpikiran sekalap itu, maklumlah namanya juga tumpas penasaran. Rupanya karena kasihan, Sang Pengabul yang memang suka mengabulkan bersedia meluluskan permintaan Pendekar Penyendiri. Dia hanya diminta menunggu saat yang tepat untuk dihadirkan kembali di muka bumi. Sembari menunggu, dengan penuh suka cita riang gembira ria Si Pendekar Penyendiri rajin menyempurnakan jurus itu jurus ini, tenaga mendalam, serta menciptakan puluhan jurus-jurus baru. Setiap usai berlatih, dia akan meluangkan diri untuk memikirkan dan menyebut nama gadis impiannya, lalu dia berlatih lagi tanpa patah tenaga. Lalu dia akan mendendangkan tembang rindu teruntuk Dewi Rara Polah, lalu berlatih kanuragan lagi, dan begitu seterusnya.

Waktu pun berkedip tanpa dirasa, Pendekar Penyendiri pun tak merasakannya. Tiba saatnya sang pendekar yang masih penasaran dipanggil ke hadapan Sang Pengabul. Hari itu dikatakan kepadanya bahwa dia akan dikirim ke perut sang gadis pujaan. Mendengar itu bukan bercanda bahagianya dia. Melonjaklah dia kegirangan. Tapi sebelumnya Pendekar Penyendiri meminta agar kesaktiannya tidak dilunturkan lewat kelahiran kembali itu dan dia juga memohon supaya tetap diberi ingatan sebagaimana adanya sebelum mati, dia cuma tak ingin ingatan rasa cintanya musnah. Sayang,berhubung jatah penuh karena ternyata yang minta dijadikan anak si gadis bukan cuma dia seorang dan juga karena Sang Pengabul tak ingin ada kisah Sangkuriang#2. Kelahiran kembali Si Pendekar Penyendiri telah mengalami penundaan dan baru kebagian jadi cucunya Dewi Rara Polah. Hal demikian tidak diberitahukan kepada Si Pendekar. Maka dalam ketidaktahuannya disemburkanlah jiwanya ke rahim nan hangat, di mana dia menanti menyapa dunia sembari bertapa mempersakti diri.

Berbulan kemudian tibalah saat yang ditunggu, lahirlah dia ke dunia disambut oleh si gadis pujaan, Dewi Rara Polah yang...sekarang sudah jadi nenek-nenek peyot bergelambir. Terpana dia dalam kejut dan kecewa, terlebih dia lahir bukan dari rahim si gadis impian. Pendekar Penyendiri murka sejadinya tapi yang muncul hanya tangisan dan rontaan ala bayi sewajarnya. Nenek Rara Polah mencoba menenangkan ‘cucu’nya, tapi Pendekar Penyendiri uring-uringan tak bersedia berdamai dengan kenyataan. Kesaktian yang tidak menghilang membuat tangisannya menggetarkan siapa saja yang berada di bilik persalinan.

Nenek Rara Polah kewalahan maka dipanggillah suaminya yang dari tadi menanti di luar. Seorang laki-laki tua tergopoh ikut masuk ke bilik persalinan putrinya. Melihat siapa yang muncul dari balik tirai, si bayi Pendekar Penyendiri tercengang-cengang setelah dia tahu siapa ‘kakek’nya. Malang oh malang, yang baru diketahui oleh pendekar kita adalah bahwa gadis pujaannya dulu itu rupanya telah dikawini oleh musuh bebuyutan yang justru menamatkan riwayatnya dan memenangkan sayembara, Si Pendekar Brotowali. Kini wajahnya jelas-jelas mewarisi ciri perawakan dan garis wajah musuh bebuyutannya. Termenung dia beberapa saat bergantian menatap wajah uzur Nenek Rara Polah dan Kakek Brotowali yang penuh raut bahagia campur bangga, ketika dia kemudian kembali menangis sepenuh hati.
oh, dunia memang keji

...

...tiba-tiba pendekar kita ingat kalau dia masih punya kesaktian...,


Cerita ini ikut serta dalam peristiwa Bunda Kata #3: Ironi dan Daya Hidup.
(Restu Ismoyo Aji/Jino Jiwan)

Spanduk Perlawanan PSS Sleman

Menatap jalanan seputar Sleman pada bulan November (2014), niscaya mata akan menjumpai penampakan yang tidak biasa. Spanduk-spanduk berhias kata-kata dukungan untuk klub PSS (Persatuan Sepak Bola Sleman), diselingi hujatan kepada PSSI ditorehkan dengan cat semprot (aerosol paint) bertebaran nyaris di mana saja, dari tepi jalan ‘tak bertuan’, di gerbang masuk dusun-dusun, hingga di hampir tiap persimpangan jalan. Spanduk-spanduk ini diikat sekenanya pada pohon, tiang listrik, pagar rumah. Fenomena ini tentu tidak bermaksud semata-mata meminta perhatian atau sekedar bertujuan merebut ruang publik seperti yang sering didengungkan sebagai “sampah visual” yang mana hampir selalu bertujuan komersial atau politik praktis. Spanduk-spanduk ini adalah ruang perlawanan Slemania pun Brigata Curva Sud terhadap apa yang ditatap sebagai tirani dalam sepak bola.

Jl. Palagan, perempatan Jl. Gitogati - Jl. Kapt. Hariadi

di Jl. Palagan Tentara Pelajar

Seperti fenomena visual lainnya yang tidak lahir begitu saja tanpa latar peristiwa. Spanduk-spanduk yang menjamur di musim penghujan dipicu oleh insiden memalukan dalam sejarah sepak bola Indonesia pada Minggu 26 Oktober 2014, ketika tragedi “sepak bola gajah” terulang setelah pertemuan Indonesia lawan Thailand di Piala Tiger pada 1998 silam. Kali ini di Yogyakarta pada laga Divisi Utama yang mempertemukan PSS dengan PSIS Semarang. Pertandingan dimenangkan PSS 3-2, di mana gol yang tercipta seluruhnya merupakan gol bunuh diri. Kedua tim rupanya berupaya menghindari pertemuan di semifinal dengan Pusamania Borneo FC yang dirumorkan dekat dengan mafia lokal. Menyusul insiden ini PSSI kemudian mendiskualifikasi kedua tim dan menghukum pemain masing-masing klub.

di Jl. Besi-Jangkang

Dugaan adanya mafia dalam sepak bola bukan masalah yang bisa dianggap remeh. Sudah lama rumor mengenai mafia pengaturan skor beredar. Belum lagi masalah persepakbolaan Indonesia memang pelik. Dari perpecahan kepemimpinan PSSI sehingga memaksa pemerintah dan FIFA untuk turun mengimbau perdamaian, dua format liga yang pernah berjalan berbarengan (LSI vs LPI--Liga Primer Indonesia), masalah pengadil lapangan yang kerap dituding tidak adil, hingga kasus meninggalnya pemain asal luar negeri yang tidak mampu membayar biaya pengobatan akibat klub menunggak gaji. Wajar jika kekecewaan demi kekecewaan timbul, terlebih harapan untuk meraih prestasi yang dibebankan kepada timnas U-19 di Piala Asia berujung kegagalan.

Di pertigaan Pakem, Jl. Kaliurang

Dalam bingkai kekecewaan inilah spanduk-spanduk ‘sederhana’ ini muncul sebagai medium suara hati Slemania. Kuatnya media massa resmi dalam menguasai wacana pemberitaan yang disajikan kepada masyarakat, membuat Slemania memilih medium pinggiran yang lebih dekat dengan mereka untuk mengomunikasikan kegelisahan atas apa yang dinilai sebagai sebuah ketidakadilan, ketika klub kebanggaan harus ditumbalkan atas ketidakberesan PSSI sebagai induk dan PT Liga Indonesia sebagai penyelenggara turnamen. Terbukti hanya dalam beberapa hari berselang berita tentang peristiwa ini seolah lenyap dari sorotan media. Bagi Slemania media massa telah gagal menjalankan peran menjernihkan persoalan dan memberi perlindungan.  

di Jl. Kaliurang dekat RS Pantinugroho, Pakem

Penempatan spanduk yang berkesan alakadarnya di setiap sudut Sleman menunjukkan pemasangannya jelas tanpa mengindahkan izin dari badan terkait. Hal ini merupakan suatu bentuk anarki namun sekaligus kekuatan dan keberanian bersuara. Di masa sebelum reformasi tentu sulit melihat kebebasan berpendapat dihargai terutama di ruang publik. Ruang publik di mana ia dipahami sebagai sarana pengungkapan identitas untuk bergerak bersama menuju pada kebebasan (Haryatmoko, 2014:176). Spanduk ini bisa saja dibaca sebagai aksi politik yang berada di tingkat bawah dan dalam lingkup kecil. Gerakan protes lewat medium spanduk bekas ini menjelma menjadi demonstrasi dalam ‘bisu’ yang mampu berbicara sendiri tanpa perlu berkumpul secara fisik. Slemania mengikat diri dalam suatu identitas dengan keprihatinan yang sama dalam semangat mengingatkan publik agar menolak lupa.

di Jl. Palagan dekat Monjali

Penempatan spanduk di ruang publik setidaknya melayani dua hal. Pertama fungsi internal, yaitu demi menunjukkan eksistensi pendukung klub. Spanduk ini ada sebagai upaya memaknai peristiwa secara kritis, penegasan kecintaan dan kepedulian kepada  klub, serta sebentuk solidaritas dan dukungan moral kepada tim kesayangan bahwa mereka akan tetap hadir menjalani kesulitan bersama-sama. Dalam menjalankan fungsi ini tidak diperlukan keindahan normatif desain, karena bagi pendukung klub, keindahan adalah kalau tim mereka bisa menang, main cantik, tidak terkena sanksi terlebih diskualifikasi. Keindahan adalah jika mereka mampu bergerak secara partisipatoris mencoreti spanduk lalu memajangnya dalam nalar yang dimiliki secara kolektif. Itu sebabnya pilihan kata-kata dukungan diambil dari hal paling dekat dengan dunia mereka, bukan mengenai benar/salahnya tata bahasa, entah itu bahasa negeri sendiri atau bahasa Inggris yang asal comot.

di Jl. Kaliurang km 14

Kesan militan, spontan, ekspresif, dan eksplosif tertangkap pula dari bahan-bahan yang dipakai. Merujuk McLuhan bahwa “medium adalah pesan”, di mana tak ada dikotomi media dengan pesan, tak ada batas antara baik/buruk, boleh/tidak boleh (Piliang, 2012:70), spanduk ini tengah menyampaikan wacana "perlawanan dari bawah" atau "anti elitisme." melalui mediumnya. Pasalnya spanduk didominasi oleh bekas iklan komersial yang dibaliknya masih menyisakan lembar kosong putih, pada lembar kosong inilah kata-kata dukungan ditorehkan.

Penerapannya sendiri mengingatkan pada pratik vandalisme tembok di ruang publik oleh tangan-tangan usil, hanya saja oleh Slemania spanduk ini tidaklah anonim sebab identitas pemasang dan tujuannya jelas tertera. Penggunaan spanduk bekas dan cat semprot seolah mengejek mesin cetak yang nyaris selalu melayani korporasi berbau komersial maupun politisi dalam kampanye. Dari sini terlihat pula keistimewaannya karena setiap spanduk tampil unik dan tidak identik antara satu dengan lainnya berkat pengerjaan manual, berbeda dengan mesin cetak yang mampu mencetak dalam jumlah besar lagi seragam. Dengan demikian Slemania hampir tidak mengeluarkan biaya kecuali untuk cat semprot. Kendati bisa saja dikemukakan bahwa alasannya adalah soal biaya.

di Jl. Besi-Jangkang dekat SPBU

Kedua, fungsi eksternal spanduk di ruang publik adalah agar masyarakat awam melihatnya, yaitu mereka yang bukan pendukung PSS atau warga Sleman pada umumnya. Orang awam dapat bebas menyikapi. Entah dengan tidak peduli, mencibir, merasa terganggu namun tidak bisa apa-apa, atau justru bertanya-tanya ada apa sebenarnya di balik spanduk-spanduk yang mau menawarkan cara melihat masalah dari sudut pandang Slemania.


Tentu spanduk ini bukan tanpa masalah. Masyarakat mungkin merasa terjebak dalam ketidakberdayaan atas ketidaksetujuan mereka terhadap invasi spanduk di ruang publik. Belum lagi adanya kecenderungan fanatisme dari Slemania, yang mana fanatisme memiliki kecenderungan untuk menuding pihak lain yang bersalah (walau memang ada pula yang mengkritisi sikap manajemen PSS sendiri yang jelas terlibat). Sehingga alat protes ini berpotensi menyimpan benih kekerasan (non fisik), tidak saja kepada PSSI yang memang jelas diserang secara verbal lebih-lebih kepada publik yang melihat atau yang diasosiasikan dengannya. Tetapi setidaknya gerakan ini bisa dipandang sebagai kebebasan menyampaikan pendapat yang merupakan bagian dari pluralitas dalam praktik berdemokrasi di mana spanduk yang mampu berteriak ini akan dikenang oleh siapapun yang pernah memintasinya.

(Restu Ismoyo Aji/Jino Jiwan)

Sumber:
Haryatmoko. 2014. Etika Politik dan Kekuasaan. Jakarta: Kompas.
Piliang, Y.A. 2012. Semiotika dan Hipersemiotika, Gaya, Kode, dan Matinya Makna. Bandung: Matahari.

Foto: dokumentasi pribadi, kecuali dua foto terakhir yang ditandai.