Pascawisuda

Sebelum lebih jauh, di awal tulisan yang tidak aku tulis melainkan diketik ini, inginku mengutip cuitan verbatim dari akun Twitter seorang rekan kuliah yang berbunyi:

“mahasiswa baru tampangnya bahagia dan optimis. mahasiswa lama tampangnya kaya abis nelen jeruk nipis campur garem HAHAHA”

Cuitan ini dicuitkan sekira pertengahan tahun lalu ketika kami semua, mahasiswa sebuah prodi di S2 Pascasarjana UGM tengah berjuang merampungkan tesis di ujung masa akhir studi. Masa studi yang menurut peraturan maksimal hanya boleh mencapai sekian tahun saja, tidak lebih, bila kurang tentu bagus. Sehingga ketika akhirnya berhasil lulus dengan sukses, tidak ada yang lebih melegakan dan menyenangkan bagi diri ini. Sungguh! Lulus dari kampus sebesar UGM sungguh membahagiakan. Ungkapan yang terdengar nyinyir semacam, “selamat, sekarang anda akan menjadi pengangguran…” tidak akan mempan buatku.

Megah...i

Apa sebab? Pertama, biaya kuliahnya mahal. Tentu mahal itu relatif. Sebagai catatan atau upaya untuk mengenang jika aku tidak lagi ingat, satu semesternya mencapai delapan juta Rupiah (sebagai perbandingan, harga bakso yang ‘waras’ adalah sekitar 12 ribuan). Memang sih jika sudah melebihi 2 tahun alias sedang menggarap tesis, biaya menjadi ‘hanya’ lima juta Rupiah. Tapi tetap saja tergolong mahal buatku. Dengan kelulusan artinya aku tidak perlu lagi pusing soal biaya kuliah.

Alasan Kedua, kuliahnya sulit. Seberapa sulit jelaslah lagi-lagi relatif dan tergantung makna sulit itu sendiri yang akan berbanding lurus dengan seberapa cepat rampung atau tidak sehingga membutuhkan bahasan terpisah. Ada orang-orang [sok] bijak bilang bahwa jangan bilang sulit, karena nanti jadi sulit sungguhan. Masalahnya adalah setiap orang tidak punya modal yang sama untuk menghadapi serangkaian perkuliahan tertentu. Jadi shut the hell up. you byatch!

Inti ketikan yang ingin kuejawantahkan di sini kira-kira semacam ini: Kampus tak ubahnya bagai pabrik lulusan. Lulusan yang [harus] siap dipekerjakan di luar sana. Semakin cepat sebuah kampus menghasilkan lulusan, apalagi yang begitu lulus bisa langsung dapat kerja, semakin melangit reputasi kampus. Maka kian cepat pula kampus mendapat mahasiswa baru. Dengan begitu  semakin cepat juga kampus menyerap uang, karena masa depan pasca kelulusan bak menatap mentari terbit dari puncak Merapi, menjanjikan kemilau di ujung wisuda, dan ini semua bekerja bersama lewat berbagai perangkat yang telah diakademisikan (dibuat jadi akademik).

Bukan jangan-jangan, biaya kuliah tersebut di atas memang sengaja dirancang menekan agar mahasiswa tidak betah berlama-lama menguras ilmu dari kampus, melainkan cepat-cepat merampungkan kuliahnya, terjun ke dunia kerja, supaya segera beroleh kompensasi biaya kuliah yang sudah digelontorkan. Jika tidak, maka meminjam ucapan yang selalu terngiang dari seorang dosen: “anda harus segera memikirkan caranya rampung, karena mesin penagih SPP terus berputar.”

Kata-kata dosen ini menarik karena idiom ‘mesin’ yang dipilihnya. Mesin adalah perangkat yang mekanis, bekerja atas sebuah desain berdasar sistem demi melayani suatu fungsi. Mesin penagih SPP adalah perangkat akademis yang dibuat berjalan bersamaan dengan aturan cepat lulus dari kampus.
Biaya sa’hoha di atas lantas diwajar-wajarkan sebagai konon katanya bagian dari peningkatan mutu. Bahwa seiring dengan biaya tinggi akan ada kualitas yang ditingkatkan, walau sependek penyederhanaan dana yang telah mencakup biaya wisuda. Menyembunyikan usaha menaikkan pamor dan akreditasi prodi yang disangkutkan di mata calon mahasiswa. “Oh, biaya mahal berarti kuliahnya bermutu tinggi.” Nalar barang mahal lantas berarti kualitas tinggi diterapkan dalam dunia pendidikan.

Soal cepat dapat kerja, aku gak bilang dapat kerja atau menjadi pekerja itu buruk. Kita semua perlu kerja dan ditakdirkan jadi ‘pekerja’ biar bisa dapat uang untuk bisa terus hidup. Bukankah begitu konsekuensi hidup di alam kapitalisme? Gak heran pula bila si penyanyi dari grup band Nidji menginginkan agar skripsi dihapus saja diganti menjadi magang.

Hahahah…, nalar apa lagi jika bukan nalar dagang yang melanda otak si penyanyi band? Dia tentu kecewa bahwa skripsinya tidak bisa dibuat cari kerja dan memang bukan untuk dapat kerja. Lantas pendidikan menurutnya—seperti orang Indonesia pada umumnya—seharusnya jadi tiket untuk dapat kerja. Dunia pendidikan [tinggi] jadi serba transaksional. Tapi mau bagaimana lagi, wong nama kabinet menteri di Indonesia [saat ini] ya Kabinet Kerja.

Bukannya praktik memberi nama berarti memberi makna? Penamaan demikian menyajikan obsesi pemerintah secara gamblang, yaitu kerja (atau kelihatan kerja?). Pemerintah juga tidak bisa sepenuhnya dituding sebagai biangnya. Ia adalah cerminan mayoritas rakyatnya yang memang terobsesi dengan pekerjaan, sedangkan pemerintah diharapkan jadi penyedia lapangan kerja. Maka jadilah nama kabinet yang serba molitis.

Sambutan Si Lulusan Terbaik (aku tidak tahu namanya siapa) di Sekolah Pascasarjana kala wisuda April lalu dapat dijadikan patokan. Si Mbak yang sudah ibu-ibu ini menyampaikan paradoks usang yang terus disampaikan berulang-ulang soal dunia pendidikan yang kira-kira apalagi kalau bukan: “kebutuhan antara dunia kerja tidak sejalan dengan pendidikan.”

*Ya, iyalah. Siapa bilang harus sejalan?

Pembacaanku terhadap pernyataan Si Mbak Lulusan Terbaik adalah, dia berharap sama seperti Si Penyanyi band Nidji supaya pendidikan jadi pelayan dunia kerja dan dunia kerja jadi lahan untuk para lulusan kampus untuk bekerja. Klasik dan klise. Predictable and exhausted.

Bagiku paradoks sesungguhnya kalau memang mau diada-adakan tentang dunia pendidikan adalah ketika mahasiswa yang sukses saat kuliah (nilai tinggi dan dengan kebanggaan menyandang predikat kumlaut yang dibuktikan selempang di pundak) malahan kalah telak suksesnya dibandingkan mahasiswa yang prestasi akademiknya biasa saja.

Tentu definisi sukses adalah [lagi-lagi] relatif, seperti konon katanya ganteng adalah relatif. Namun situasi yang non hipotetikal di atas jelas ada dan menunjukkan ada yang keliru dengan cara pengelolaan atau lebih tepatnya arah pendidikan.

Lalu masih dari Si Lulusan Terbaik Pascasarjana. Dia dengan nada humble bragging-nya berucap yang kira-kira: “saya lulus bukan karena saya paling pintar, tapi karena saya paling taat aturan...”
Aku cuma bisa geleng-geleng sembari ngekek in silent sendiri plus palm face. Duduk di belakangku wisudawan lain turut berkomentar, “oh, berarti yang lain gak taat aturan…cuman kamu yang taat.”

Hah, aturan. Aturan kampus yang telah pakem tidak pernah dipertanyakan lagi oleh mahasiswa. Memang begitulah adanya dan begitulah seharusnya dan itulah yang dilabeli sebagai sikap disiplin, taat, setia. Dapat nilai dominan A, lulus cepat, cepat dapat kerja pula. Sekali lagi, ya karena kampus sudah berubah jadi pabrik.

Inginnya cepat ini tidak mengherankan. Manusia Indonesia memanglah terobsesi dengan pertanyaan kapan. Kapan yang menunjukkan tempo sesingkatnya, bahkan cenderung diburu-buru. Seolah tidak ada waktu nanti ataupun esok hari. Apa-apa harus serba cepat. “Lebih cepat lebih baik” katanya. “Mengejar ketertinggalan” katanya.

Sialnya, aku berkuliah di prodi pemikir. Sementara kerja berarti membuat langkah ‘nyata,’ mikir berarti tidak kerja melainkan termenung-menung tiada guna. Termasuk ngomyang dewe di blog pribadi. Jangan buru-buru bersangka-ria. Aku dulunya pun sempat punya pikiran pragmatis praktis seperti Si Mbak Lulusan Terbaik. Aku dulu mengejek orang yang kuliah terus tapi ujung-ujungnya nganggur tanpa penghasilan hanya karena belum sepenuhnya sadar bahwa barangkali orientasi pendidikannya yang perlu digugat. Di sinilah buahnya aku berkuliah di prodi pemikir, biar mahasiswa yang belum kunjung lulus tidak seperti nelen jeruk nipis plus garam.

Desainer yang (ter)dekat


Belakangan, dimulai dari sepertiga akhir tahun 2015 di tempat aku kuliah saat ini/kala itu bila aku sudah lulus di prodi KBM UGM aku nyaris selalu dipercaya menggarap desain (baik poster/flyer hingga web) untuk acara-acara kampus baik yang bersifat internal maupun yang terbuka untuk umum. Tapi kata “dipercaya” barangkali terkesan angkuh dan terlalu menyanjung diri. Lebih tepatnya, menurut “Manager Prodi” bahwa aku “keno jagake” alias bisa diandalkan. Sebuah reputasi yang amat sesuatu bukan? Tentu saja itu semua karena sudah ada kedekatan dan kenyamanan yang ter/dibangun.

Garapan perdana di prodi KBM

Salah satu diskusi apik dan asyik tentang budaya populer yang mendunia. Peserta datang  dari luar kota demi diskusi ini.
Soal desain-mendesain aku bukanlah satu-satunya yang mampu. Setidaknya ada empat (atau lebih?) mahasiswa lain yang bisa mendesain dan setidaknya mengoperasikan software desain. Bahkan sepertinya sebagian di antara mereka lebih mumpuni sense of design-nya daripada aku, apalagi aku sudah lama pensiun ndesain sejak konsentrasi mengerjakan skripsi (yang butuh waktu sekitar 1,5 tahun) sekitar tahun 2012-2014. Aku sendiri tidak yakin fakta bahwa aku lulusan D3 DKV dan S1 DKV serta pernah punya pengalaman kerja di perusahaan desain grafis (atau yang bosku menyebutnya sebagai marketing & creative services) ada pengaruhnya terhadap kemampuan desain seseorang. Barangkali ada sih, namun tidak cukup signifikan, soalnya rekan kerja dahulu bukan lulusan prodi DKV, zaman itu belum ada.

Poster ini disebut oleh seorang dosen sebagai "selera bule". Sayangnya acaranya kurang ramai karena mungkin pembicaranya (Ien Ang) dianggap tidak cukup menarik. Pilinan tali kupilih untuk menggambarkan navigasi kompleksitas ilmu sosial sesuai yang dibahas Ien Ang. Seperti Gundam di atas, gambar ilustrasi boleh ambil dari Wikimedia.
Poster dies KBM yang aku sendiri kurang suka, tapi dipilih oleh ketua yang punya gawe. Yah relasi kuasa tak pernah setara.

Jadi kusimpulkan aku diminta ngerjain bukan hanya karena gak ada yang lainnya. Tapi karena dekat dengan “kekuasaan” alias ada access to power *wuuiiihh*. Kekuasaan kumasukkan dalam tanda kutip supaya tidak diartikan bahwa kekuasaan di sini sama dengan kekuasaan yang kerap digunakan di media-media massa yang berkisar pada para elite politik (ini juga frasa yang lebih rumit lagi sebenarnya) atau pejabat besar (sebagai lawan yang “kecil”). Kedekatan ini adalah gabungan berbagai faktor: kerapnya interaksi dengan Manajer Prodi, dosen, dan Sekprodi (yang mana juga dosen); seringnya nongkrong di kantor prodi yang berkaitan dengan mungilnya kantor prodi dan minimnya pegawai prodi; dan nikmatnya iklim kesunyian alias sedikitnya keramaian di sana.
Mencoba poster bujur sangkar. Maksudnya biar A3 dapat 2, tapi malah pas dicetak cuma dapat 1. Boros!

Salah satu acara paling sukses dari segi jumlah peserta. Empat sesi penuh semua. Resepnya adalah pembicaranya harus berstatus "dewa"

Pemutaran dan Diskusi Film produksi Kalyana Shira Foundation yang dihelat di Joglo Dusun Terung pada 22 Agustus 2015 adalah proyek pertama yang dipasrahkan kepadaku. Sejak itu aku mengerjakan desain Prodi KBM yang aku sendiri lupa sudah berapa jumlahnya. Tiap bulan atau beberapa bulan ada saja ajang akademis yang digelar prodi: diskusi/bedah buku, kuliah umum, seminar, lokakarya, hingga dies-nya. Tingkat gaya-gaya profesional sisa-sisa bekerja dahulu masih berbekas. Gimana itu misalnya? Aku sering memberi alternatif desain jika sedang luang waktu dan yang jelas tergolong cepat rampung. Tentu saja, wong mahasiswa full timer kok. Haah! Meski ini bergantung dari dosen mana yang memesan, karena ada dosen yang gak butuh alternatif. Tapi aku tidak menampik jika alternatif kumunculkan lebih karena kurang percaya diri dengan desainnya.
Dr. Haryatmoko memang jaminan penarik masa. Penghadir acara ini membludak. Namun buku ini memicu para dosen prodi KBM untuk bikin buku CDA juga.

Sempat ada seorang rekan kuliah di S2 ini yang mengira aku dapat (duit) banyak untuk desain-desain yang kubuat. Kujawab tidak, karena memang demikian kenyataannya pada saat itu. Tapi tolong agar apa yang kuketikkan ini tidak dianggap curhat demi memohon perhatian seperti yang pernah menimpa Presiden SBY sewaktu bilang gajinya sebagai presiden tidak pernah naik. Lalu memicu reaksi publik yang buatku pribadi kurang simpatik: Koin Untuk Presiden. Aku tidak akan menceritakan ini jika tidak ada yang bertanya. Tapi ada lebih banyak hal yang jauh lebih berharga dibanding uang, yaitu kepercayaan dan kemanfaatan. Jika aku bisa berkontribusi, maka aku akan menyumbangkan apapun yang bisa dan dekat denganku: desain. Toh, mendesain itu mudah buatku. Jika memang mudah kenapa tidak kulakukan, kan? Lagipula para penghadir di acara-acara yang digelar kampus pastilah beroleh ilmu dan jika dapat menjadi salah satu dari mata rantai penyampaian ilmu itu walau hanya sesederhana poster dengan riang  rela kukerjakan.
Ini poster yang aku juga kurang sukai. Topik yang abstrak biasanya membuatku kesulitan memikirkan visualnya. Coba deh, filsafat ilmu tu apa gambarnya?

Membicarakan topik ini aku jadi ingat polemik desain logo nomor pebalap Rio Haryanto yang sempat masuk sebuah tim gurem Minor Team Manor Team dan akhirnya dia dikeluarkan (syukurlah!), karena tidak kunjung melunasi “tiket masuk”-nya. Pada akun Facebook Rio Haryanto di mana kontes logo nomor 88 digelar (silakan googling), para Fesbuktizen, entah desainer grafis pemula, desainer abal-abal, desainer sambilan, atau yang amat sangat maha profesional yang sepertinya dirasuki ideologi dagang/pasar yang percaya bahwa desain harus MAHAL untuk menunjukkan bahwa suatu desain demikian bergengsi, sibuk berdebat berapa akan dibayar untuk desain yang belum pasti dipakai. Sibuk berdebat soal penghargaan, soal royalti, soal harga, bahwa ini kelasnya Formula 1 jadi harusnya hadiahnya lebih dari sekedar bertemu dengan Rio Haryanto dan desainnya dipasang di bodi mobil jet darat itu. Berbengek-bengek alasan dihamparkan: edukasi desainlah, bahwa desain itu gak mudahlah, bahwa desain itu perlu sekolahlah. Oh, astaga!

Salah satu poster yang disukai komentator di Facebook. Tentu saja. Karena mudah untuk memikirkan apa dan bagaimana dekolonisasi terjadi pada arsip visual kita.

Bagiku desainer grafis perlu juga disadarkan bahwa kadang gak semua perlu ditukarkan dengan uang. Cobalah bertanya mengapa yang namanya desain sampai dikondisikan sebagai sesuatu yang mahal? Mengapa desainer grafis harus dikaitkan dengan pekerjaan bergengsi? Mengapa sampai harus ada kuliahnya padahal kursus saja bisa?
Untuk acara yang satu ini aku dipermudah karena foto sudah disediakan. Aku tinggal main komposisi dan warna. Tapi biarpun gak dikasih foto semiotika musik lagu Tompi ini juga mudah sebenarnya jika divisualkan.

Bertahun lalu, prodi DKV ISI Jogja sempat membuahkan gagasan (gerakan?) Desain Gratis Indonesia, yang tujuannya adalah memberi konsultasi desain grafis/komvis secara gratis kepada siapa saja. Perhatikan pemlesetan grafis menjadi gratis. Beda satu huruf namun sudah jauh maknanya dan kuat kesannya. Dimulai pada sebuah pameran karya anak-anak DKV—yang jika disingkat akan menjadi DGI, terdengar sama seperti asosiasi Desain Grafis Indonesia ya?—gagasan yang menarik ini sayangnya tidak kuketahui lagi kelanjutannya. Yang jelas aspek kemanfaatannya lebih besar melampaui aspek keduitannya. Seperti Desain Gratis Indonesia mencoba melakukannya (aku duga sebetulnya tujuannya adalah mengedukasi masyarakat agar lebih menghargai desain, tapi aku lebih suka jika duit tidak terlalu dikejar), akupun ingin agar desain grafis dan DKV sebagai institusi pendidikan tidak terlampau terseret pada penghambaan terhadap duit, melainkan lebih ke arah kontribusi.


Acara reguler prodi KBM tiap tahun adalah Lokakarya oleh Romo Haryatmoko. Yang ini membahas Jean Baudrillard.
Masih acara rutin lokakarya Dr. Haryatmoko. Yang ini sebenarnya adalah alternatif desain tahun sebelumnya. Daripada tidak digunakan ya dipakai saja.

Tapi toh ternyata ada duit turun juga, meski ini tidak (sepenuhnya) diduga-duga. Dana untuk desain pun dialokasikan dan ia turun juga ke dompetku. Gak seberapa sih namun kusyukuri, dan jelas kujadikan sebagai hembusan semangat untuk terus mempertahankan reputasi yang kusebut di awal ketikan, semampuku, hingga tiba waktuku (lulus), kumau tak seorang pun mampu (tuk menggoyahkan niatanku).

Yang satu ini poster acara sambut kenal mahasiswa baru angkatan 2015. Berhubung yang jadi panitia adalah angkatan 2014 aku dikasih kerja paling ringan: desain posternya.


Pelet karya Djair, Anomali Hero

Djair Warni yang dikenal lewat karakter ciptaannya Jaka Sembung dan Si Tolol tak diragukan adalah satu dari maestro komik silat Indonesia, yang meskipun goresannya bisa dibilang tidak serapi dan seindah Teguh Santosa atau Ganes Th, namun mempunyai kemampuan penceritaan yang baik dan termasuk melampaui zaman dari segi keberanian pemikiran. Kekhasan pemikiran ini salah satunya ditunjukkan dalam komik serial Jaka Sembung berjudul Singa Halmahera (1973), di mana ada tokoh biseksual di sana (Singa Betina) yang diceritakan hampir saja bercinta dengan Sri, adik Parmin. Tapi ada satu tokoh karangannya yang amat sangat tidak biasa dan berada di luaran hero pada umumnya. Dia bernama Tigor alias “Arjuna” dari dwilogi komiknya yang kurang dikenal berjudul Pelet dan Pekutukan yang digarap tahun 1970-an. Padahal secara materi  komik ini layak dialihmediakan menjadi film, lengkap dengan bumbu seksnya, kesadisannya, dan jelas kleniknya. Sungguh sebuah formula emas untuk menyusun film yang sukses di pasar bukan?
Dari judul dan gambar sampul, kesan apa yang anda dapatkan? Horor?

Berbeda dengan sekuelnya Pekutukan yang mengisahkan perjuangan Muhammad Ilham, seorang santri keturunan Parmin menyebarkan ajaran Islam di desa Pekutukan, komik Pelet berfokus pada jatuh bangunnya seorang pemuda asal tanah Karo, Sumatera Utara, bernama Tigor yang nantinya menjadi lawan Muhammad Ilham. Cerita dibuka di atas kapal yang mengarung ke arah Sunda Kelapa, di mana Tigor yang diusir dari kampung halamannya menolong seorang gadis bernama Rani, putri saudagar keturunan Tapanuli-Betawi dari upaya perkosaan nahkoda kapal. Tidak dijelaskan benar apa yang membuat Tigor diusir keluarganya, dia hanya mengatakan bahwa dirinya telah ternoda dan merusak nama baik orang tuanya yang berdarah bangsawan. Karena itulah dia memutuskan lebih baik mengembara ke negeri orang meski tanpa tujuan pasti. Niatnya hendak berdagang kandas, modal perbekalannya dicuri orang. Dari kesialan inilah dia berjumpa dengan seorang perempuan cantik misterius yang menyeretnya makin jauh ke kegelapan dan menghantarnya menjadi orang jahat.

Bang Tigor yang terbuang di lautan
Tawaran yang mungkin bakal disesali Tigor
Kehilangan barang-barang berharga membuat Tigor menjual suaranya dari satu kedai ke kedai makan lain. Tentu saja pelanggan kedai mencemoohnya berhubung lagu yang dibawakan Tigor terdengar asing bagi mereka. Tapi ada juga yang menghargainya, bahkan seorang pemilik kedai menawarinya untuk menyanyi secara tetap, yang langsung ditolak oleh Tigor. Penolakan tersebut berujung pengeroyokan. Seorang perempuan bernama Nyi Durgalarasati mencegah pertumpahan darah, lalu menawari Tigor untuk bekerja sebagai penyanyi di rumahnya. Tawaran itu diambil Tigor. Pilihan apa lagi yang dia miliki? Dia tidak punya siapa-siapa atau apa-apa lagi, toh perempuan cantik satu ini telah menyita pikirannya sejak pertemuan pertama mereka berhari-hari lalu, ketika Nyi Durga memanggilnya dengan sebutan “Arjuna.” Siapa yang sanggup menolak?

Masa awal regionalisasi: lagu berbahasa Batak di tanah Betawi
Ah, Sang Arjuna dari Tanah Karo 
Rumah Nyi Durga jauh masuk ke dalam hutan di tepi sungai Cisadane. Besar bagai istana buatan Belanda namun menyeramkan dan seperti pemiliknya, menyimpan misteri di balik dinding dan lorong-lorong bawah tanah. Malam itu juga Tigor diundang bermain gitar dan menyanyi di kamar Nyi Durga. Ramuan yang sebelumnya ditenggak Tigor membuat gairahnya memuncak, ditambah tarian erotis Nyi Durga di hadapannya, jatuhlah Tigor ke dalam perangkap nikmat duniawi.
Misteri dimulai dari sini
Siapa yang mampu mengelak dari Nyi Durga Larasati?
Salah satu yang menarik adalah cara Djair menggambarkan adegan percintaan. Cukup dengan cara sugestif saja, tanpa perlu eksplisit. Mirip iklan Axe zaman sekarang. 
Sesuatu yang memang telah diinginkan Nyi Durga semenjak mereka berjumpa, menyerap saripati kemudaan Tigor lewat hubungan badan demi keawetmudaan dirinya sendiri, bagai succubus. Oh, maaf bukan hanya bagai, memang IYA, Nyi Durga itu succubus, setidaknya dia pemuja… coba tebak… Dewi Durga. Kejutan! Dan Tigor mengetahui rahasia mengerikan Nyi Larasati yang molek itu ketika dia menyusuri sebuah sumur tua tembus ke lorong-lorong gelap. Tapi apa dayanya, dia hanya lelaki biasa, Nyi Larasati punya segalanya. Tigor terlanjur mabuk birahi, tak kuasa menolak karena PELET Nyi Larasati.

Nudis? Oh, bugil maksudnya.
Koleksi patung yang begitu hidup.
Ah, tentu saja bagi para penganut Kajian Budaya atau para PC SJW akan dengan mudahnya menjadikan narasi komik Pelet sebagai makanan empuk untuk dicincang dengan berbagai teori seksualitas, representasi, stereotipe, male gaze, dsb. Bisa saja, tapi aku tak hendak mengarah ke sana. Lanjuut.

Dibakar cemburu, dua orang pemuda, Sastro dan Kasman yang selama ini ternyata juga menjadi ‘tunggangan’ Nyi Durga berkomplot menyingkirkan Tigor, sang kuda baru Nyi Durga. Mereka dengan segera menemui kegagalan. Nasib keduanya? Mereka dialihfungsikan menjadi penghias ruang bawah tanah, berupa dua bilah patung. Tubuh mereka (dalam keadaan hidup) dituangi cairan ajaib mengubah jaringan manusia sekeras batu seperti patung-patung lain yang sudah ada di situ sejak entah kapan. Mereka tak lebih hanyalah mesin persatutubuhan bagi Si Perempuan Iblis yang kalau boleh meminjam teks populer lain yang lebih kontemporer, mirip Melisandre si pendeta merah dari serial tv Game of Thrones. Yah, Nyi Durga tak lain adalah perempuan uzur tua bangka berusia ratusan tahun yang telah lama memakan ratusan korban laki-laki muda. Tigor, untuk kedua kalinya diberi kesempatan untuk menebus kesalahan. Dia mengetahui fakta ini saat bersua dengan seorang Kakek Tua yang mengaku suami Nyi Durga yang dulunya bernama Latifah.

Dalam kategori horor, Djair termasuk advance. Coba bayangkan ngerinya orang dijadikan patung.
Sang Kakek Tua, suami Nyi Larasati
Asal usul Nyi Durga Larasati
 Semangat membara Tigor untuk melawan hanya bertahan sekejap, dia sempat memimpin pemberontakan para lelaki budak Nyi Durga yang langsung dapat dipadamkan. Tigor pun bersimpuh memohon ampun. Untuk menguji kesetiaannya Nyi Durga dengan kejinya memerintahkan Tigor untuk mencabut jantung Rani, perempuan yang pernah ditolong Tigor dan dalam hati kecil dicintainya. Tigor dengan kesetanan berkuda malam itu juga ke rumah Sang Saudagar, di mana Rani tinggal. Di sana dia membantai Rani dan kedua orang tua Rani. Dia merenggut jantung Rani mempersembahkannya kepada Nyi Durga. Namun ternyata apa gerangan? Yang ada di tangannya bukanlah jantung melainkan segumpal kapuk. Rani dan dua orang tuanya masih hidup, Tigor tak membunuh siapapun. Semua berkat campur tangan Si Kakek Tua yang datang tepat pada waktunya. Bingung dengan apa yang menimpanya, jiwa Tigor terguncang, dia pun jatuh pingsan.

Pemberontakan sesaat
Oh, Nyi Durga ampuni aku.
Tigor membantai Rani dan orang tuanya
Jantung kupersembahkan kepadamu
 Si Kakek Tua mengejar Nyi Durga yang telah kehilangan kecantikannya hingga ke suatu tempat di mana Sang Pendeta, guru Nyi Durga bersemayam. Pertarungan tak terhindarkan. Kalah sakti Kakek Tua itu tewas mengenaskan. Cerita belum berakhir di situ. Djair masih menyiapkan kejutan buat pembacanya. Tigor yang dirawat oleh keluarga Rani, sadar dari pingsannya. Dia tak memedulikan sekitarnya. Yang dia tahu, Nyi Durga dalam wujud nenek-neneklah yang harus bertanggungjawab atas kekacauan hidupnya, atas kematian Rani.

wujud asli Mbah Durga
Si Kakek Tua ini menjalankan peran "Kiyai" di film horor, tapi twistnya luar biasa.

Hingga berhari-hari selanjutnya Tigor menebar ketakutan di sejumlah desa. Dia membunuhi setiap perempuan tua, nenek-nenek yang disangkainya sebagai Nyi Durga. Banyak sudah korban yang jatuh. Banyak pula perempuan muda yang dikiranya sebagai Rani dipaksanya untuk kawin. Semua perbuatan itu dilakukan akibat tekanan jiwa. Suatu saat warga desa memergoki pembunuhan itu, mereka mengepung Tigor, siap hendak melenyapkannya. Tetapi seorang lelaki keturunan Arab yang kemudian menjadi kunci penting pengikat kisah Pelet dan Pekutukan dengan serial Jaka Sembung muncul menyelamatkan Tigor dari amukan warga yang kalap. Cerita Pelet pun berakhir di sini. Perjalanan Tigor yang hendak menebus kesalahan di tanah kelahiranya berujung tragis bagi semua pihak, ketragisan yang melengkapi jalannya menjemput perannya sebagai seorang dark lord.
Pembantaian atas simbah-simbah malang. Siapa yang sangka jadi begini?
Tigor tidak sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai pendekar pembela kebenaran, pembasmi kejahatan. Komik Pelet ini juga tidak bisa dimasukkan ke dalam komik silat walaupun ada silatnya juga. Permulaan petualangannya saja sudah diperkenalkan bahwa Tigor bukanlah orang baik-baik dan dia tidak segan menggunakan kemampuan silat dan kekerasan hanya untuk menuruti amarahnya. Tidak, dia bahkan bukan seorang antihero yang masih punya tujuan “mulia” dengan cara-cara tidak mulia, lebih mendekati dia ke konsep tragic hero sebenarnya, tokoh dalam cerita yang nasibnya selalu tragis dan nelangsa. Dia hanya seorang manusia pengelana yang terombang-ambing di sungai kehidupan untuk sesekali mendamparkan diri lalu mengapung kembali hanya untuk tersangkut atau membiarkan dirinya menyangkut dalam kekelaman. Bagiku inilah yang membuat Tigor terasa sangat manusiawi. Kisah Pelet ini mengingatkanku pada komik Tuan Tanah Kedawung-nya Ganes Th, jelas tidak sama persis, sebutlah Pelet adalah Tuan Tanah Kedawung-nya Djair Warni, Di mana drama kehidupannya lebih kuat dibanding adu kanuragan dan jurus-jurus maha sakti untuk meraih kemenangan. Semacam novel grafis lah, hanya saja saat itu belum ada istilah novel grafis.

Rani...Rani
Orang keturunan Arab yang ada kaitannya dengan serial Jaka Sembung
 Sosok Tigor ini bagai anomali jika dihadapkan kepada Parmin. Memang keduanya sama-sama tampan dan gagah, mahir bersilat pula, tetapi secara moral tidak putih, tidak juga tepat abu-abu, malah agak hitam namun tidak sepenuhnya hitam. Bingung kan? Sulit mengandaikan sikap moral Tigor melalui warna. Agak aneh juga melihat kenyataan Djair yang biasanya menggarap kisah tokoh persilatan golongan putih memberi perhatian kepada perjalanan hidup tokoh yang kemudian menjadi musuh dari golongan putih. Dimensi karakter Tigor berlapis dan maaf, tidak sedatar (dan semembosankan) karakteristiknya Parmin yang begitu suci, saleh, nyaris sempurna, tak terbantahkan, bahkan digelari Wali Kesepuluh—sosok yang sangat stoic, sosok bukan-manusia. Tipikal khas hero yang diwariskan dari produk budaya populer satu ke lainnya. Di sinilah letak keunikan Djair yang berani mengisahkan hero yang berbeda dari biasanya. Seakan ingin memberi keseimbangan melalui jalinan liku cerita kehidupan yang malah menimbulkan simpati kepada tokoh jahat. Hei, ini orang gak jahat sih tapi kok jahat juga, ya? Tapi dia ini juga bukan orang baik. Yah, dia hanya manusia seperti kita juga.