Kegagalan Rasa Fatigon Hydro

15.37.00 Jino Jiwan 0 Comments


Baru-baru ini aku dikejutkan dengan pengubahan nama produk minuman (isotonik?), dari yang sebelumnya Fatigon Hydro menjadi Hydro Coco. Sebagai pengamat iklan, sewaktu pertama kali iklan Fatigon Hydro pertama kali keluar aku penasaran untuk ikut mencoba. Agaknya orang lain pun seantusias aku. Produk tersebut cepat sekali ludes dari rak penjualan di salah satu supermarket. Hanya tinggal satu buah yang kemudian aku beli, untuk pertama kali dan terakhir kalinya. Kenapa begitu? Beberapa minggu kemudian aku kembali ke supermarket yang sama dan produk tersebut masih melimpah di rak penjualan. Untuk waktu yang lama produk Fatigon Hydro luput dari pengamatanku, hingga tiba-tiba terjadi pergantian nama.

Jika dibandingkan Mizone atau Pocari Sweat, Fatigon Hydro memang kalah jauh dari segi rasa. Kata iklannya sih air kelapa, namun lidahku mengatakan ini air kelapa yang dikontaminasi oleh suatu zat yang membuat rasanya jadi aneh. Maaf, tapi itu menurutku. Lagipula jika memang itu hanya air kelapa—sebagaimana positioning-nya sejak awal—buat apa calon konsumen mesti membelinya? Bukannya lebih mending beli kelapa asli yang rasanya lebih enak dan segar. Apa yang membuat Fatigon Hydro lebih unggul dari air kelapa asli? Tambahan vitamin dan mineral di dalamnya? Jadi posisi Fatigon Hydro memang kurang jelas. Mau berhadapan dengan siapa sebetulnya ia. Apakah pesaingnya itu Mizone, Pocari Sweat, Vitazone, Gatorade, Powerade, atau malah mau membuat pasar tersendiri sebagai minuman kesehatan yang berbeda total dengan lainnya? Jika dilihat dari positioning dan bentuk kemasan yang sebetulnya cukup unik dan menarik sih sepertinya mereka mau membuat pasar baru tersendiri.

Selain soal rasa, kekurangan adalah soal nama. Orang dengan gampang dapat saja menduga bahwa Fatigon Hydro berhubungan dengan Fatigon yang telah lebih dahulu mapan sebagai produk multivitamin berbentuk kaplet merah. Bagaimana kaitannya kok multivitamin mengeluarkan minuman air kelapa segar—selain karena produsennya yang sama? Apakah Fatigon Hydro itu sama dengan kaplet Fatigon yang diencerkan dengan air kelapa? Seperti apa rasanya, tidakkah tidak enak? Agaknya itu pilihan nama yang mengerikan. Pengasosiasian macam ini timbul dari penamaan yang kurang tepat. Nama yang tidak nyambung. Ataukah mungkin ada gejala kurang percaya diri dari produsen saat meluncurkan produk pertama kali sehingga merasa perlu numpang nama Fatigon?

Varian kemasan serta namanya. Sumber: sumber 21food.com myhydrocococom
Apa pergantian nama atau lebih tepat disebut peluncuran produk lama dengan nama baru ini ada kaitan dengan kesadaran produsen atas asosiasi nama tersebut atau memang bagian strateginya? Tidak diketahui, tapi langkah pergantian nama ini adalah langkah yang tepat dan layak diapresiasi, meski agak terlambat. Nama Hydro Coco ini jauh lebih memikat dan kuat dibanding menyangkutkan nama Fatigon. Aku heran kenapa tidak sedari pertama mereka melakukan itu. Tapi aku perhatikan positioning-nya tetap tak berubah, tetap sebagai “air kelapa asli”. Sehingga menimbulkan pertanyaan akan siapa sebenarnya yang disasar oleh produk ini? Orang kotakah yang dituju karena tidak ada pohon kelapa di kota? Orang yang tahu manfaat air kelapa untuk kesehatan tapi terlampau sibuk? Barangkali iya, tapi sepertinya enggak juga, kalau mau minum kelapa di kota besar masih bisa kalau mau mencari penjualnya di tepi-tepi jalan. Apa sih yang tidak tersedia di kota besar? Jikapun dilihat dari iklannya yang mengambil lokasi di pantai, apakah yang disasar adalah orang yang tengah wisata di pantai atau orang yang suka bepergian? Bukankah di pantai dengan mudah ditemui penjual buah kelapa segar?

(Jino Jiwan)

0 komentar: