Seberapa Top-kah Top Coffee?

16.19.00 Jino Jiwan 0 Comments


Seberapa jujur kah seharusnya sebuah iklan?
gambar:areamagz.com

Top Coffee adalah salah satu kasus iklan yang menurutku luar biasa dalam berpromosi. Mirip dengan kasus Mie Sedaap dulu (yang sama-sama berasal dari Wings Food) waktu beriklan demikian gencar berhadapan dengan merek mi instan produk Indofood yang telah jauh lebih dahulu mapan. Metode gencar ini agaknya berhasil menempatkan Mie Sedaap sejajar dengan produk dari Indofood, paling tidak dari sisi rasa. Tapi bagaimana dengan Top Coffee?

Memadukan Iwan falls dan Nikita Willy juga Samuel Zylgwyn, iklan produk kopi yang menyasar segala kalangan baik tua maupun muda ini tampak megah dan mewah, dibalut musik tangguh adaptasi dari film The Avengers, setidaknya itu yang terbit dari pikiranku tentang iklan Top Coffee yang kerap mampir di televisi. Iklannya secara visual sangat indah. Mampu menunjukkan kopi yang tampak sangat menggiurkan; panas, berbuih, dan berasap. Simak bagaimana kopi itu diaduk dan dituang. Hmmm, penonton seolah bisa menghirup uap wangi kopi dari iklan itu. Ditambah suara orang bule—yang entah siapa—menjelaskan bahwa kopi ini gabungan sempurna dari kopi arabica dan robusta. Tampil makin meyakinkan penonton. Lalu akhir-akhir ini iklannya kian disingkat jadi mengedapankan kehebohan masyarakat menerima Si Kopi Top ini. Coba lihat bagaimana iklan menampilkan bahwa konon jutaan orang sudah mencicipi kopi Top dan setuju bahwa rasanya memang “Top”.

Soal penamaan produk pun layak disoroti. Produk ini mengaku-ngaku “Top” yang secara harfiah bermakna paling, teratas, terdepan. Sungguh sebuah strategi penamaan yang harus diakui sangat cerdas, sama seperti penamaan Mie Sedaap yang mengaku paling sedap. Logo pun sangat mirip dengan logo Starbucks. Kalian bisa langsung mengidentifikasinya dari lingkaran hijau berlubang itu. Kasus pengadaptasian (yaitu bahasa lain dari “memirip-miripkan”) logo bukan hal yang sulit ditemui di dunia branding, jadi ini bukan masalah besar. Tapi tentu ikut memengaruhi persepsi keistimewaan produk di mata konsumen, yang ini kalian boleh percaya boleh tidak. Dan ternyata ada yang perlu merasa membahasnya, walaupun sudah jelas terlihat.

Soal harga? Bisa dibilang Top Coffee amat terjangkau. Bisa jadi ini nilai minus untuk iklan yang begitu mewah dan heboh atau sebaliknya nilai plus yang artinya “kopi mewah ini bisa anda dapatkan dengan harga terjangkau”. Apalagi disertai promosi “beli 2 bungkus bonus 1 bungkus” (paket 10 bungkus dapatnya 15 bungkus). Siapa yang tidak tergoda dengan promosi demikian kencangnya?

Apakah iklan yang megah dan gencar memang mampu mengubah persepsi lidah publik? Jujur aku penasaran akan apa yang dipikirkan oleh penikmat kopi tentang rasa Top Coffee. Karena aku sendiri yang bukan penggemar kopi menilai bahwa rasa Top Coffee ini bukan yang paling nikmat. Menurutku rasanya sangat tidak sebanding dengan kehebohan promosinya. Sehingga dengan setengah bercanda aku nyatakan bahwa Iwan Falls sendiri barangkali belum pernah mencicipi kopi yang diiklankannya. Kalau pernah, pasti dia sendiri yang akan mem-“Bongkar” iklan itu.

Menarik tentunya untuk melihat bagaimana sesama produsen kopi bereaksi terhadap iklan Top Coffee. Baru-baru ini Kapal Api ikut-ikutan bikin iklan melalui pendekatan yang mirip, dengan Agnes Monica sebagai duta iklannya—yang tentu saja sangat mahal bayarannya. Barangkali Kapal Api sudah khawatir akan posisinya atau malah mulai merasa tersaingi, sehingga merasa perlu membuat penegasan sebagai kopi paling enak disertai dengan bintang iklan yang lebih kontemporer. Padahal jujur saja menurutku kalau soal rasa Kapal Api masih lebih baik dari Top Coffee. Tapi itu pendapatku, bagaimana menurut kalian?

oleh JinoJiwan untuk Bebas Ngetik

0 komentar: