Apa yang Mereka Sensor dari Film

16.48.00 Jino Jiwan 0 Comments

Butuh imajinasi untuk menonton film-film (terutama asal Hollywood) yang tayang di televisi setahun belakangan ini. Kian hari kian tidak nikmat dan cukup bikin gusar. Banyak bagian yang hilang, yang entah bagaimana aku yakin anda semua bisa merasakannya. Apa saja yang menjadi kebijakan baru sensor menyensor ini?

Belahan dada (wanita) hanya satu di antara yang menjadi mangsa dari sensor dengan metode “pengaburan” alias blur. Tentu anda sering melihat ada bagian yang tampak tidak lazim pada sejumlah karakter wanita dalam film yang dinilai keterlaluan seksinya oleh tim sensor. Bagian dadanya terlihat kabur. Eh, emangnya sulit ya kalau mau lihat bagian ini? Main saja ke mal, maka dijamin hidangan ini tersedia untuk mata nyaris di setiap sudut. Di internet pun semua juga bisa menemukannya hingga bergiga-giga kalau mau. Malah bagian dada yang dikaburkan ini bikin aku penasaran “memang seberapa eksplisitnya sampai harus disensor segala?” Akhirnya, tahu apa? Aku mencari—via apa lagi kalau bukan Google—sebuah versi tanpa blur-nya. Sederhana alasannya, hanya PENASARAN.
buah dada montok
mau liat tanpa sensornya?

Adegan merokok juga dikaburkan, seolah kita tidak tahu sedang menjepit apa si karakter dalam film itu dengan jemarinya. Kita tahu karena kita menggunakan imajinasi kita. Kenapa tayangan film yang disalahkan kalau ada anak-anak yang jadi perokok? Setahuku rokok tidak merokok itu masalah jodoh tidak berjodoh, cocok tidak cocok, dan soal gaulnya dengan siapa. Bagaimana dengan orang tua yang merokok? Apakah ini tidak dipertimbangkan oleh tim sensor? Aku punya beberapa teman perokok, tidak lantas membuat aku jadi perokok—jika memang itu yang dikhawatirkan dari pem-bluran jemari orang yang sedang pegang rokok di dalam film.

Agaknya sensoran pada kegiatan merokok ini akarnya serupa dengan iklan rokok yang dilarang memperlihatkan orang sedang merokok. Akibatnya, iklan rokok malah tampil jauh jauh lebih kreatif dan menghibur melebihi iklan produk lain di televisi (silakan buktikan). Padahal dalam film, rokok adalah salah satu elemen penting untuk menunjukkan latar kejiwaaan dari peran yang dilakoni si aktor. Rokok dalam sebuah film apalagi sebesar Hollywood punya, pastilah tidak main-main.

orang merokok kartun
hasil olahan "blur tool ver. 1.01"
Pukul-pukulan bin baku hantam turut jadi korban sensoran. Tentu kerap anda saksikan—kalau sering memperhatikan film—adegan di mana salah satu karakter yang tengah berhadap-hadapan untuk saling menukar tinju, tau-tau sudah ambruk karena adegan pukulannya (di mana tinju mendarat di wajah karakter dalam film) dipotong.

Belakangan adegan menodongkan pistol juga ikut kena cekal. Rupanya ada yang khawatir kalau seseorang menyaksikan  adegan ini maka dalam sekejap orang itu akan berubah menjadi pelaku kriminal. Ironis karena stasiun televisi punya standar ganda. Giliran acara bergaya reportase tengah malam yang berbau sek-esek (yang sebagian dari kalian pasti tahu apa nama acaranya), sensorannya mendadak senyap. Pembawa acara tayangan ini malah lebih bebas mengumbar paha, dada, dan suara mendesah, padahal jam tayangnya juga berdekatan dengan film-film yang jadi korban sensoran. Lalu bagaimana dengan tayangan olah raga keras macam tinju atau UFC (di mana dulu kasus serupa menimpa pertunjukan gulat bebas bertajuk WWF)? Nyatanya tayangan macam ini tetap bebas menunjukkan jotosan dan tinju ke wajah lawan. Kenapa gak sekalian ikut disensor?

Menyalahkan film atau budaya pop untuk tingginya angka kejahatan adalah mitos, sebab faktor kriminalitas tidak pernah tunggal. Mitos bukan dalam arti “sesuatu yang belum tentu benar.” Melainkan sesuatu yang distereotipekan sebagai kebenaran yang seolah disetujui orang banyak. Bahwa teroris adalah orang yang anti-sosial; bahwa pemerkosa adalah orang yang hobi nonton film porno; bahwa seorang pembunuh psikopat adalah orang yang mengalami broken home semasa kecilnya; bahwa seorang jadi perampok karena kebanyakan nonton film lalu terinspirasi. Stereotipe yang berasal dari budaya pop sendiri.

Jika memang terbukti benar bahwa tayangan ‘kekerasan’ dkk. ini yang dituding sebagai kambing hitam meningkatnya angka perokok, penyalahgunaan narkoba, krimimalitas, perkosaan, berarti seharusnya kuantitasnya jauh lebih tinggi dari saat ini. Dijamin aparat sendiri bakal kepayahan, malah mungkin akan lebih banyak menghadapi kasus internal. Jujur saja, berapa banyak dari kita yang sudah terpapar tontonan ratusan adegan yang katanya tidak mendidik ini dalam film. Buanyaaak! Apa itu berarti bikin kita ingin jotos-jotosan seusai nonton film, persis dalam film? Ngerampok bank atau museum mungkin, terus kejar-kejaran dengan Polisi barangkali? Atau setelah melihat adegan pembunuhan di film slasher, lantas orang dengan mudahnya akan meniru sama persis adegan pembunuhan itu?

Kasihan nih tim sensor. Capek-capek motongin adegan (yang mungkin sebagian jadi koleksi pribadinya :-), masang filter blur segala buat batang rokok yang menyala dan belahan dada jika hanya sia-sia. Ujung-ujunganya orang malah jadi penasaran setelah sebelumnya hanya mengimajinasikan adegan apa yang terlewat atau adegan apa yang disensor. Kalau istilah ala Mad Dog-nya The Raid, “kurang greget” untuk ditonton, dan kurang mantap. Bukan lagi perumpamaannya “bagai sayur tanpa garam”, tapi “bagai sayur tanpa sayuran.” Sia-sia pula bikin film, sebab film telah kehilangan apa sebetulnya yang ingin ditunjukkan oleh pembuatnya. Dari pada repot nyensor, mbok ya gak usah ditayangin aja sekalian.

Memang sih ada alternatif lain jika mau menonton film dengan versi yang lebih minim sensorannya: bioskop. Sayang, bagiku menonton film di bioskop dengan harga antara Rp. 35.000 – Rp. 50.000 cukup memberatkan di masa-masa sekarang. Karena harga yang cukup tinggi ini pula aku cenderung milih-milih film di bioskop, kalau gak bagus luar biasa aku lewati nontonnya. Itupun juga harus antri karena anehnya banyak orang yang antusias menyumbang uang buat jaringan bioskop yang begitu memonopoli peredaran film di Indonesia ini. Bisa jadi orang-orang ini kalangan yang benar kaya sungguhan dan luang waktu, karena ikhlas antri demi tiket mahal di saat jam kerja atau jangan-jangan mereka sama kecewanya dengan aku terhadap film-film yang dibabat habis-habisan di televisi. Para penonton bioskop ini rebutan nonton duluan sebelum nanti versi sensoran ketat dan penuh iklan hadir di televisi, sehingga nanti mereka bisa cerita mana yang dipotong dan bagian apa yang blur.

(Jino Jiwan)

0 komentar: