Mengapa Batik Identik dengan Kondangan 1

21.15.00 Jino Jiwan 0 Comments


Pernahkah anda penasaran mengapa batik identik dengan kondangan? Menyambut hari batik mari kita tilik kembali perjalanan kain khas nusantara yang telah diwariskan kepada Indonesia.

Mempertanyakan mengapa batik identik dengan acara resepsi pernikahan sama dengan mempertanyakan sebaliknya: Mengapa resepsi pernikahan identik pula dengan batik? Kenyataannya nyaris dalam segala bentuk resepsi, batik begitu mudah ditemui mewarnai para undangan, terutama kalangan lanjut usia. Mereka tanpa disuruh seolah sepakat bersama-sama mengangkat batik sebagai sandangan mereka. Setidaknya fenomena inilah yang bisa ditangkap dengan jelas,pada sejumlah resepsi di sebagian wilayah Indonesia termasuk Yogyakarta. Untuk menemukan hubungan antara keduanya mau tak mau kita perlu melongok kembali ke masa lalu, ke sejarah dan fungsi batik.

Batik Indonesia menyimpan sejarah yang panjang meniti sekat-sekat masa sejak jaman kerajaan-kerajaan menembus jaman kolonialisme modern hingga melewati kemerdekaan sampai ke “puncak tertingginya” ketika diakui UNESCO sebagai benda warisan tak benda bersamaan dengan wayang asli kepunyaan Indonesia pada 2 Oktober 2009 lalu.

sumber gambar dari shutterstock.com
Batik adalah salah satu cabang seni rupa dengan latar belakang tradisi yang telah mengakar kuat dalam perkembangan budaya Indonesia. Terdapat teori bahwa batik masuk bersamaan dengan hadirnya agama Hindu dan Budha dari India. Namun teori ini dipatahkan oleh kenyataan munculnya teknik pembuatan batik di daerah yang nyaris tak tersentuh kebudayaan Hindu seperti di Toraja, Flores, dan Papua. Jejak batik di Indonesia dapat ditelusuri sekitar abad 14 masehi sejak zaman kerajaan Majapahit. Fakta ini didukung Brandes yang menyatakan bahwa batik telah ada jauh sebelum Hindu memasuki Indonesia. Batik di masa Majapahit pada awalnya ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif pada batik masih terinspirasi bentuk-bentuk binatang dan tanaman. Motif ini berkembang menyerupai awan, relief candi, dan wayang beber. Dari sini batik lalu diwariskan ke masa kerajaan-kerajaan sesudahnya yaitu Kerajaan Mataram di abad 18 yang kemudian terbelah menjadi kesultanan Yogyakarta dan Surakarta dimana keduanya menghasilkan langgam batik klasik yang relatif tak banyak mendapat pengaruh dari luar.

Akulturasi budaya lebih kental terjadi di wilayah pantai utara Pulau Jawa memicu lahirnya batik pesisiran di sejumlah wilayah yang kini dikenal sebagai sentra batik seperti, Cirebon, Tasikmalaya, Pekalongan, Demak, Juwana, Rembang, Tuban yang kebanyakan mendapat pengaruh motif dan warna dari pendatang asal Cina. Pembauran dan saling adaptasi antara para pendatang dengan penduduk asli menciptakan produk batik yang berbeda jauh dari batik klasik. Batik pesisir juga lebih cepat menyebar lewat perdagangan dikarenakan posisi strategisnya, hal ini membuat batik juga dikenal disejumlah wilayah lain di luar Jawa. Masing-masing batik ini, baik klasik dan pesisir memiliki ciri khas yang tercermin dari motif dan goresannya. Dari sehelai batik dapat terungkap segala sesuatu tentang daerah dimana batik tersebut dikreasikan, seperti bahan dasar kain (mori, lawen, atau sutra), bahan malam, keterampilan, selera, sifat, letak geografis, dsb. Setiap warna, setiap bentuk motif, bahkan nama batik memiliki filosofi mendalam yang terkait langsung dengan fungsi, status pemakai, dan aturan pemakaiannya dalam tatanan masyarakat.

Di KasultananYogyakarta, batik telah menjadi budaya tradisi keraton yang diwariskan dari Kerajaan Mataram sejak Sultan Hamengkubuwono I memerintah. Saat itu batik tidak hanya menjadi bahan sandang sehari-hari tapi juga digunakan terutama sebagai busana keprabon perlambang keagungan keraton. Tidak hanya di Yogyakarta, batik di daerah lain yang diterapkan dalam banyak bentuk kain sejak dahulu telah menjadi sandangan sehari-hari sesuai dengan kedudukan dan keperluan tiap individu. Misalnya, batik bangrod Tuban yang diperuntukkan bagi gadis yang belum menikah atau Batik pipitan digunakan bagi wanita yang sudah menikah, nama pipitan sendiri memberi makna hidup berdampingan. Tak ketinggalan batik untuk ikat kepala atau disebut iket (Jawa) odeng (Madura) dan deta (Sumatera Barat) dahulu juga kerap dipakai oleh kaum muda masa lampau. Kain kemben batik juga lumrah dipakai sebagai penutup dada oleh para wanita. Kain sarung pun dipakai sehari-hari sebagai busana bawahan pelengkap baju kurung atau kebaya oleh wanita di Sumatera dan Madura.

Selain dipakai untuk keperluan sehari-hari batik juga menduduki posisi terhormat tak tergantikan sebagai sandangan upacara adat ningrat maupun upacara adat rakyat biasa. Beberapa contohnya batik Rembang Lok Chan yang di Sumatera Barat, Bali, Lombok, dan Sumbawa digunakan sebagai pelengkap busana upacara adat. Selendang batik yang dipakai dalam beberapa tarian sakral. Kain Dodot perlambang kemakmuran adalah kain yang di masa lalu hanya dipakai oleh keluarga raja, serta penari bedoyo dan serimpi. Dodot mempunyai berbagai versi lipatan; kampuh, samparan, dan cincingan yang punya fungsi tersendiri. Kain panjang batik di Surakarta dan Yogyakarta memiliki sejumlah tata cara pemakaian yang ketat dalam berbagai upacara adat, dimana setiap aturan mewakili kedudukan seseorang dalam kalangan ningrat, misal gaya sabukwolo, dipakai oleh anak perempuan yang belum menstruasi atau kain panjang yang juga dikenal di Kalimantan Selatan sebagai buaian bayi dalam upacara ma-ayyun yaitu upacara cukur rambut.

bersambung ke bagian 2.

oleh JinoJiwan untuk bebasngetik

0 komentar: