Industri Buku Makin Edian

21.13.00 Jino Jiwan 1 Comments

Industri buku selama ini tidak memberi banyak pilihan bagi pembaca. Pembaca hanya diplot sebagai pasar potensial oleh penerbit demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Hal ini bisa diamati dari tren buku muncul silih berganti dengan sangat cepat yang selalu mengatasnamakan pelayanan atas selera pembaca, menuruti kemauan pembaca. Hingga saat ini ruang penataan di toko-toko buku terus dipenuhi tema-tema yang nyaris seragam, di mana satu buku mengekor kepopuleran lainnya. Tidak cukup soal tema, keseragaman juga ikut merambah sisi sampul luarnya. Sampul luar pun ikut menghamba pasar. Satu desain sampul yang sukses dari segi penjualan akan diikuti oleh buku dengan sampul yang mirip dari segi penampilan, menciptakan rancangan paritas yang lagi-lagi demi memikat pembaca dan mengejar keuntungan semata.

Pembaca dalam rezim pasar menurut Koskow tak lebih dari konsumen. “Turunnya daya beli bisa dialamatkan kepada maraknya media-media baru (internet, dlsb).” Turunnya daya beli dilimpahkan kepada masyarakat yang malas membaca buku. “Kata ‘konsumen’ jarang dimunculkan manakala daya beli buku menurun (kata yang sering dipilih yaitu ‘masyarakat’). Sedang, kata ‘konsumen’ dipilih manakala sebuah buku (dan penerbitan) melihat realitas buku sebatas pasar.” Dari pernyataan ini terlihat bagaimana pembaca sudah menjadi korban dari kerja dan wacana industri buku.

Buku memang telah menjelma komoditas yang jelas tidak dapat menghindari tren sehingga buku dibuat sebisa mungkin menarik (calon) pembaca. Pasca runtuhnya Orde Baru industri buku menyambutnya dengan buku-buku bertema politik. Misalnya buku-buku yang sebelumnya sulit dijumpai, mulai dari buku beraliran kiri hingga karya-karya Pramoedya Ananta Toer (Adhe, 2007:258). Gelombang perbukuan ini disebut oleh Adam (2009:2-3) dengan istilah “pelurusan sejarah.” Sebuah istilah yang populer sejak Soeharto lengser diiringi meredupnya kekuatan Orde Baru. Salah satu cirinya adalah penerbitan buku sejarah akademis kritis yang biasanya berasal dari tesis, disertasi, atau karya ilmiah lain, serta buku biografi tokoh “terbuang” (Adam, 2009:9-11).

Pernah pula muncul tren buku-buku Kahlil Gibran di awal 2000-an. Diterimanya karya terjemahan Kahlil Gibran oleh pembaca memicu karyanya diterbitkan oleh banyak penerbit, dari Bentang Budaya, Cupid, Diva Press, Padma, Galang Press, Media Pressindo, Navila, Pustaka Pelajar, dll. (Adhe, 2007:171-172). Bukan hanya dari penerimaan pembaca, penerbit pun berpikir bahwa segala yang memuat nama Kahlil Gibran pasti akan laku, demikian pula yang dipikirkan pihak distributor. Sangat banyaknya sampai-sampai jumlah buku versi penerbit di Yogyakarta jauh melebihi karya asli yang ditulis penyair Lebanon. Gejalanya adalah menerbitkan satu judul yang sama tapi berbeda penerbit. Gejala lain adalah penciptaan buku yang berisi kumpulan cuplikan karya Kahlil Gibran namun dengan judul yang dikarang sendiri oleh penerbit. Penerbit juga lalu mengemas buku-buku Kahlil Gibran dengan pendekatan remaja sehingga mirip novel teenlit, di mana semangat sufi dari karya aslinya pun hilang.

Di bidang sastra muncul tren penulis perempuan yang dikategorikan “sastrawangi.” Yudiono (2007) menyebut karya sastra yang hadir sesudah era reformasi dengan istilah “sastra pembebasan.” Semangatnya adalah ingin “menantang zaman” dan “kehendak membebaskan publik dari kebekuan bacaan yang selama puluhan tahun dibayangi pelarangan dan pembredelan” (Yudiono, 2007:282). Salah satu penulis yang digolongkan dalam sastra pembebasan tersebut adalah Ayu Utami. Diawali Saman karya Ayu Utami, penulis buku model ini disusul oleh nama-nama Dewi Lestari, Dinar Rahayu, Fira Basuki, dan Djenar Mahesa Ayu. Publik pun menyambut, bahkan ada novel yang kemudian difilmkan. Menurut Adhe (2007:258) buku-buku ini berisi keberanian mereka mengungkap tabu seksualitas. “Tema ini muncul akibat terlalu lama terjadi pembungkaman dari sudut politik, budaya, dan agama.

Tren buku juga diramaikan genre yang disebut chicklit dan teenlit yang ditulis perempuan muda usia dan remaja. Temanya sangat dekat dengan keseharian remaja perkotaan (Adhe, 2007:267). Mengenai sampul buku sastra perempuan ini, teenlit (untuk remaja perempuan) dan chicklit (untuk perempuan dewasa metropolitan), Koskow (2009:32-37) berpendapat gaya yang digunakan jadi cenderung mengulang yang baku, yaitu dengan gaya dekoratif, deformatif, dan stylish/fashionable. Gaya-gaya yang direpresentasikan pada sampul merupakan bentuk ideologi kelas sosial yang tampak secara fisik. Gaya ini dipengaruhi ruang global sehingga idiom yang digunakan pada sampul pun ikut mengglobal, berbeda dengan novel remaja Ali Topan Anak Jalanan (1970-an) dan Lupus (1990-an). Gaya pada sampul berujung pada penyeragaman citra mengenai perempuan yang ikut dibentuk gaya grafis di luar buku (film, iklan, majalah, fashion)

Dari genre fiksi sejarah muncul novel-novel yang dikategorikan oleh industri sebagai “novel epos” sejak 2004. Novel epos merujuk pada novel yang mengisahkan tokoh-tokoh sejarah berlatar kerajaan Nusantara (prakolonial), dari Sriwijaya, Majapahit, Demak, Mataram, Sriwijaya, hingga kisah Wali Songo, sampai pewayangan (baik Mahabarata maupun Ramayana). Masing-masing novel dari berbagai penerbit kerap mengulangi cerita-cerita yang sudah akrab di kalangan pembaca dan sudah diangkat oleh penulis lain berulang kembali dalam rentang waktu singkat. Perbedaannya adalah pada tafsir jalannya sejarah oleh para penulis, di mana setiap penulis seolah berdialog dan timbul sebagai tanggapan dari novel lainnya. Sensasi yang di kedepankan kepada khalayak adalah kontroversi sejarahnya terutama sejarah Majapahit yang selama ini dikonstruksikan untuk melegitimasi lahirnya negara Indonesia sehingga versi yang beredar tunggal. Kemiripan hadir pula pada sisi sampul yang meminjam kode-kode visual dari novel yang sukses penjualannya dan ikut mencomot kode visual dari film Hollywood yang laris di sekitar tahun 2000-2005, sehingga desain sampulnya menjadi hibrid sekaligus penuh simulasi. Bersamaan dengan tren novel epos muncul pula tren serupa namun dari sisi non fiksi yang turut membahas sejarah kerajaan Nusantara dan buku-buku pewayangan. Buku-buku sejarah non fiksi yang ditulis sejarawan ini mendasarkan diri pada interpretasi data arkeologi dan naskah kuno. Mereka seakan mencoba menjawab interpretasi imajinatif dari para novelis sejarah (Aji, 2014-->ini skripsiku sendiri).

Aspek jualan amat kentara dari elemen semacam “best seller.” Adhe (2007:260) menyoroti bagaimana buku bermain-main dengan istilah ini pada sampul dan bagian informasi bukunya. Padahal ukuran sukses penjualan kerap semau penerbit tanpa ada standar pasti yang disetujui. Embel-embel best seller menjadi strategi demi menarik perhatian pembeli. “sebuah buku bisa saja ditulis cetakan ke-7, 14, atau lebih. Tapi kalau sekali cetak 1000 atau 1500 eksemplar saja, maka kategori best sellet tentunya sangatlah subjekytif.” Dia menyebut bahwa langkah-langkah penerbit yang cenderung pro-pasar ini adalah demi bertahan dan untuk terus berkembang dalam industri.

Adhe (2007:231-232) mengutip pernyataan Nur Khalik Ridwan bahwa ada tiga model keberhasilan dari sebuah penerbitan. Pertama, jika berhasil beroleh laba besar di akhir tahun, punya lini penerbitan, punya toko buku sendiri, dan punya cabang di mana-mana. Kedua, bila penerbit mampu menerbitkan apa yang menjadi cita-cita awal, penerbit model ini masih punya idealisme dan tidak semata cari untung. Ketiga, penerbit bertujuan mencari keuntungan tapi juga menjaga idealisme. Pada penerbit model ini negosiasi-negosiasi ditekankan demi menghidupi mereka sendiri. Negosiasi yang dilakukan penerbit kadang tidak semulia maksud dari buku yang umum dikenal. Pada praktiknya penerbit sering memunculkan buku-buku “ATM” (Amati, Teliti, Modifikasi) dengan tidak mengindahkan ketentuan copyright terutama untuk karya terjemahan dari luar negeri. Belum lagi kualitas terjemahan yang buruk, perilaku yang suka mengarang sendiri ISBN, membuat barcode sendiri, dan tidak berbadan hukum. Semua ini sesungguhnya berpangkal pada minimnya modal dan alasan-alasan ideologis: seperti kebebasan transfer pengetahuan dan anti kapitalisasi ilmu (Adhe, 2007:58, 148, 152, 169).


Para penerbit besar kemudian mengekor dan mengambil alih tema-tema penerbitan kecil/alternatif di Yogyakarta terutama yang muncul setelah kejatuhan rezim Orba, terutama untuk buku-buku “serius” (Koskow, 2009, Adhe:2007). Penerbit alternatif ini membedakan diri dari penerbit mainstream di luar Yogyakarta (Adhe, 2007:67). Alternatif merujuk pada idealisme dalam menawarkan wacana tandingan dalam Misalnya penerbitan buku-buku bernuansa serius seperti buku tentang Che Guevara, Nietzsche, Marx, dan Gramsci. Penerbit alternatif yang telah muncul awal 1990-an hingga reformasi bergulir selalu berada dalam jalur kritis atau tandingan terhadap Orde baru dengan secara nyata mengkritik kenyataan sosial saat itu (Koskow, 2009:4). Pada tataran sampul, penerbit alternatif Yogyakarta memeloporinya dengan rancangan para seniman. Keberanian tampak dari tampilan sampul artistik yang membungkus wacana kritis penuh kiasan dan menggambarkan situasi sosial politik kebudayaan (Koskow, 2009:111). Sayangnya kekuatan modal memang berbicara. Beberapa penerbit bangkrut, beberapa bergabung dengan penerbit besar. Penerbit besar luar Yogyakarta meluaskan pasar dan melihat potensi besar dari model penerbitan di Yogyakarta. Penerbit besar luar Yogyakarta selain punya modal, penggarapan bukunya pun lebih serius (copyright dan sampul), pun memiliki kejelasan dari sisi royalti kepada penulis.

Sumber Bung, Sumber!
Adam, A.W. 2009. Pelurusan Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Adhe. 2007. Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja (1998-2007). Yogyakarta: KPJ.

Aji R.I., 2014. Imajinasi Heroisme Pada Sampul Novel Epos Berlatar Kerajaan Majapahit, Skripsi: ISI Yogyakarta.

Koskow. 2009. Merupa Buku. Yogyakarta: LkiS.

Yudiono K.S. 2007. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo.

1 komentar:

Buku Penerbitan mengatakan...

edian ora katokan hehe...