Moco Preman Pensiun

00.42.00 Jino Jiwan 0 Comments

Rasanya sudah begitu lama aku puasa menonton sinetron, sampai-sampai tidak ingat lagi kapan terakhir melakukannya. Sepertinya sinetron yang terakhir kutonton dan benar-benar kusukai adalah Si Doel Anak Sekolahan, Kiamat Sudah Dekat, lalu Bajaj Bajuri. Tentu saja sebelum Bajaj Bajuri diterlalupanjanglebarkan dan dibuat spin-offnya: Salon Oneng. Preman Pensiun (2) menjadi sinetron yang setelah sekian lama kusimak berkat konsepnya yang menarik: kisah “dunia preman” kota Bandung pimpinan seorang ketua preman yang ingin pensiun, sama seperti prekuelnya yang sejalan dengan judul. Bukan hanya soal konsep tapi logat Sunda yang dipertahankan di tengah sinetron-sinetron “Jakartasentris” serta jajaran aktor dan aktrisnya yang memikat, termasuk pemilihan lokasi sungguh terasa “pas” dengan pembawaan sinetron ini. Jelas Preman Pensiun hendak membumi dan memijak tanah. Sayangnya kian berjalannya tiap episode ia mulai terjebak dalam “resep” yang diputarinya sendiri karena kreatornya atau penulisnya barangkali mengira itulah formula yang disukai penonton.

Kalau beberapa hari lalu aku masih belum hapal nama-nama karakternya, hari ini ketika aku mulai mengetik lalu mengunggah ketikan ini, karakter-karakter di Preman Pensiun 2 seperti sudah menjadi sosok-sosok yang aku kenali sehari-hari dan aku rindukan kehadirannya. Nama dan wajah mereka membayang di benak dan sanggup bikin mengulum senyum sendirian. Iya, aku memang tidak menyimak Preman Pensiun season 1 karena mengira jalur ceritanya bakal klise: premannya adalah seorang pemuda dan mau insaf karena bertemu pemudi pemikat hati (yah, mirip dengan Kiamat Sudah Dekat gitu-lah). Bahkan setelah tahu bahwa ternyata Didi Petet (alm.) yang berperan sebagai bos besar preman, aku tetap malas menyerahkan energi nonton karena belum-belum sudah jengah dengan gaya banyolan lugu-lugu-tolol-konyol dari beberapa karakter-karakter bertipe Onengers dan Encuners.
Preman Pensiun
Kakak adik beda warna
Narasi preman hendak tobat lantas berulang di Preman Pensiun 2. Jika di musim pertama Kang Bahar (Didi Petet) ingin berhenti dan menyerahkan kepemimpinan pada Muslihat (Epi Kusnandar), maka pada musim keduanya narasi berulang di mana kini giliran Kang Mus yang ingin pensiun dan memensiunkan anak buahnya, karena “bisnis yang bagus bukan bisnis yang baik” atau semacam itulah alasannya. Tampaknya bukan hanya berupaya menyesuaikan judul tapi itulah pesan yang ingin ditekankan kepada para preman-preman asli di luar sana. Dari tema besar utama ini cerita berkembang dan berputar hingga secara sengaja kerap mengulang sejumlah kelucuan yang sebetulnya seragam tapi beda waktu dan konteks.

Kang Bahar
"Halo halo? Bandung?"
Iya Bebeb
Line favorit pemirsa: "Iyaaa kang..."
Epi kusnandar
Selain hobi gosok batu, hobinya adalah nelepon
Religiusitas Lunak

Berbeda dengan sinetron yang lalu menyusul jam tayangnya: Tukang Bubur Naik Haji yang sudah mencapai episode 6124 (ah, lebay ya?) dan sepertinya belum akan tamat itu. Preman Pensiun tidak dijual dan menjual diri sebagai sinetron dakwah. Pembeda lainnya adalah Preman Pensiun punya plot alias perkembangan cerita yang nyata hendak dituju. Bukan hanya mengulangi keseharian tanpa ujung seperti sinetron Tukang Bubur yang sangat merasa perlu menghadirkan karakter seorang ustadz yang kerjanya hanya ceramah tiada henti tapi tanpa dampak bermakna buat karakter lain atau semata berperan sebagai penengah atau pemecah masalah belaka. Di Preman Pensiun, premannya tobat sendiri dengan jalur berbeda tanpa bantuan para ustadz. Bahkan tidak ada adegan “maksa” seperti ngaji atau sholat dijejalkan di layar tv. Jika pun ada “perintah agama,” itu pun disampaikan tidak dengan “penampakan” tegas melainkan hanya lewat penanda-petanda verbal dan sugesti visual yang ringan seperti saat Gobang, preman terminal mengajak anak buahnya sholat dan tidak ninggalin puasa atau rajukan Ceu Esih yang meminta Kang Mus untuk mengucap salam setiap masuk rumah.

Di sini terasa sekali Preman Pensiun tidak hendak menjilat penonton Indonesia yang mayoritas muslim. Representasi keislaman dalam sinetron ini pun dibuat “wajar” dan mudah ditemui sehari-hari. Yaitu dengan cara sesederhana tidak memaksa kemunculan jilbab dan peci di setiap adegan. Bahkan perempuan yang berjilbab hanya satu-dua orang saja yaitu Diza, perempuan pelanggan cilok incaran Si Ubed dan Emak-nya Ceu Esih. Belakangan ditambah Eneng, putrinya Kang Mus yang tiba-tiba kok jadi berjilbab meski hanya tiap keluar rumah. Juga penghindaran diri dari ucapan-ucapan khas sinetron religi seperti: alhamdulillah, astaghfirullah yang muncul sesekali seperlunya saja.

cewek berjilbab
Diza, satu dari dua/tiga perempuan berhijab di sini
Istri Kang Mus
Esih yang ajaibnya mirip kang Mus
Kuharap pesan-pesan ke-agama-an dalam Preman Pensiun bukan buah tekanan berbagai pihak. Bukan pula lantaran ditayangkan berbarengan bulan Romadhon. Pesan keagamaan yang disampaikan tidak secara eksplisit, atau setidaknya tidak seeksplisit ITU agaknya perlu dipertahankan. Jadi kalau ada karakter yang dikisahkan tidak berpuasa atau tidak sholat ya wajarlah, bukannya “kita” semua yang bukan preman saja juga begitu? Niatnya tentu bukan untuk mengajari hal jelek bin negatif tetapi begitulah eloknya transisi kepremanan menuju manusia beragama, adalah dengan cara yang tidak meng”guru”i. Dengan cara ini Preman Pensiun hendak membedakan diri dari sinetron dakwah ‘keras’ yang mewarnai televisi Indonesia. 

(Jino Jiwan)

0 komentar: