Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon Versi Ringkas

17.33.00 Jino Jiwan 0 Comments

Suatu hari Kapten Rio Dewanto berpamitan kepada keluarga Jenderal Purn. Deddy Nagabonar Mizwar, bapaknya Revalina S. Temat sang tunangan untuk berangkat ke Libanon sebagai komandan Pasukan Garuda demi menjalankan misi perdamaian. Catat ya! Misi perdamaian. Dan yang dimaksud misi perdamaian adalah sesuai dengan apa arti kata “damai” secara harfiah: tidak banyak yang terjadi, kecuali… “Awas, ada roket diluncurkan, sembunyi di bunker! Karena pasukan perdamaian artinya kita tidak boleh ikut campur, …tapi toh kita hadir di sana!

Kapten Rio Dewanto: “Apa kita tak ingin menjelaskan kepada penonton, ada situasi apa di Libanon, mana lawan mana, atau setidaknya ini tahun berapa.”

Deddy Mizwar (dengan logat Nagabonar): “Sebagai prajurit yang perlu kamu ketahui hanya menjalankan perintah tanpa bertanya. Dan yang benar Lebanon pake E, bukan Libanon. Lebanon terdengar lebih keren.”

Kapten Rio Dewanto: “Siap, salah, Ndan!”

Revalina S. Temat: “Ini tahun 2016, Mas Rio, seperti nanti ditunjukkan anggota pasukan Garuda yang pada video call via Wassap.”

Kapten Rio Dewanto: “…Kita tunda menikahnya nanti setelah saya pulang dari Lebanon …untuk menjaga perdamaian. Ya?”

Revalina S. Temat: “Iya Mas, sebagai dokter spesialis saya toh juga sibuk. Pastinya akan muncul subplot menarik melibatkan karir saya di cerita ini kan?”
(Sayangnya itu tidak terjadi)

Setelah adegan berpisah-pisahan di Bandara, Pasukan Garuda sampai juga di Lebanon. Mereka tak menghabiskan banyak waktu untuk memulai misi perdamaian tahap I: Berpatroli.

Komandan: “Ingat Rio, kita ini penjaga perdamaian, tidak boleh terlibat jauh dengan konflik. Ajak anak buahmu berpatroli sekarang.”

Boris Bokir (dengan steriotip Batak): “Bah, aku ini comic relief-nya film ini. Aku siap menggempur musuh, itupun kalau kita punya musuh… kita punya musuh kan?”

Yama Carlos: “dan saya…” (tenggelam dan terlupakan)

Berkendara dalam panser putih, belum apa-apa mereka berada di tengah tembak-menembak yang melibatkan empat vs lima orang, asap, api, roket, senapan Ak47, pasir gurun, dan… oh helikopter!

Kapten Rio Dewanto: “Mundur! Mundur! Kita tak boleh terlibat!”

Boris (dengan steriotip Batak): “Bah, kenapa kita mesti mundur, Kapten?”

Kapten Rio Dewanto: “CGI-nya kw 5, kita mundur atau mata kita akan sakit!”

Semua anggota pasukan pun berlindung di dalam bunker demi keselamatan. Sesudah pertempuran reda mereka baru keluar. Kemudian masuk lagi ketika ada bentrokan lain. Lalu keluar lagi jika sudah kelar. Dan begitu seterusnya.

Berhubung durasi masih dirasa kurang lama, cerita kemudian disusupi dua adegan paling cringeworthy tak terlupakan. Yang pertama Pasukan Garuda memberi kado kue ulang tahun entah kepada Komandan pasukan Lebanon atau kepada militer Lebanon, tidak jelas juga maunya apa. Tapi yang jelas kita jadi tahu Pasukan Garuda berlimpah-limpah waktu untuk sempat bikin kue dan ternyata pasukan Lebanon jarang makan kue. Hore!

Yang kedua, Kapten Rio dan aktor lain yang cukup penting (karena punya dialog dan masuk kredit) berhasil menemukan sebutir lampu natal berkelap-kelip di sebatang pohon yang bukan pohon natal, oleh karenanya layak dianggap mencurigakan (?). Temuan ini entah bagaimana katanya sangat dihargai oleh PBB sehingga harkat pasukan asal Indonesia melejit pesat di mata dunia. Sungguh!

Misi perdamaian di Lebanon tahap II dilaksanakan: Berkunjung ke sebuah sekolah. Di sana Kapten Rio Dewanto bertemu dengan janda anak satu berbodi semlohai bernama Rania.

Kapten Rio Dewanto: “Salam aleykum, ana Ismi Kapten Rio.”

Rania: “Saya bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar, Kapten Rio.”

Kapten Rio Dewanto (tersentak): “Bagaimana bisa?!”

Rania: “Karena ini film Indonesia maka kamu tidak perlu kaget, dan kamu adalah prajurit, jangan banyak bertanya.”

Kapten Rio Dewanto (melihat seorang anak perempuan emo minus dandanan emo duduk di sudut ruang): “Iiih, anak sapa tuh, lutuna…”

Rania (dengan ekspresi sedih): “Itu anak saya, Kapten. Namanya Salma, dia mengalami trauma...” Rania kemudian menerawang keluar jendela. Lalu ditayangkanlah Flashback yang terdiri dari ledakan bom CGI murahan, debu bertebaran, latar tempat yang ke-Arab-araban, dan seciprat darah yang telah membunuh suaminya, ayah Salma.

Kapten Rio Dewanto (dengan voice over suara hati macam sinetron gitu): “Sebagai prajurit penjaga perdamaian, aku berkewajiban mendamaikan hati anak ini, ehm… dan ibunya juga.”

Lalu tidak banyak hal lain yang terjadi, selain mereka sering ketemu, ngobrolin ini itu, ngobrolin Kahlil Gibran (serius!), jalan-jalan, bergandengan tangan, makan bareng. Pendeknya ini hanyalah adegan orang pacaran hanya saja latarnya di Lebanon. Montase bagaimana mereka berduaan atau bertigaan (dengan Salma) tersaji di layar bioskop selama tigaperempat durasi. Hingga tiba masanya Pasukan Garuda pulang kandang.

Kapten Rio Dewanto: “Rania, Salma, saya akan pulang ke Indonesia. Saya punya Revalina untuk dinikahi. Sampai jumpa.”

Rania dan Salma berpelukan bertangisan. Adegan ini cukup menrenyuhkan hati andai saja Boris Bokir tidak membikin penonton tertawa.

Sementara itu di Indonesia Revalina dikenalkan oleh orangtuanya dengan Baim Wong yang adalah seorang pengusaha.

Deddy Mizwar (dengan logat Pak Haji): “Jadi, kamu pengusaha apa Anak Muda?”

Baim Wong: “Saya sedang mengusahakan supaya penonton sebal sama saya, Pak.” Baim beralih ke Revalina, “Saya dengar dari sutradara kamu dokter spesialis?”

Revalina S. Temat: “Saya dokter spesialis gadungan kandungan.”

Baim Wong (bersenyum pleboi): “Tahukah kau, aku mengandung cinta untukmu.”

Revalina S. Temat jengah, dia memalingkan muka tapi menoleh kembali setelah Baim melahirkan dua buah mobil dan sebongkah apartemen ke hadapannya. Mata mereka bertumbukan memancarkan binar-binar asmara. Begitulah, kawan. Agar tidak gagal dalam percintaan, cobalah beri pasanganmu mobil dan atau apartemen seperti dibuktikan oleh film ini. Rencana pernikahan Baim dan Revalina pun langsung dibicarakan.

Tepat pada saat itulah, Kapten Rio Dewanto datang bermaksud untuk melamar Revalina. Dia hanya ditemui Jend. Purn. Deddy Mizwar di tepian pinggiran teras rumah.

Deddy Mizwar (dengan logat Nagabonar): “Sebagai prajurit, perjalananmu masih panjang. Kamu mungkin tidak bisa bersanding dengan anak saya, Revalina. Tapi kamu masih bisa jadi mayor lalu mengundurkan diri mencoba peruntungan maju sebagai gubernur di pilkada, yang mana itulah yang saya lakukan.”


Bahasa ngode a la militer dipahami dengan baik oleh Kapten Rio. Dia berjalan gontai ke arah matahari terbenam, hujan turun dengan deras, air mata merendam hatinya yang pilu. Tepat sebelum The End judul film pun muncul, kali ini sudah berganti menjadi, Pasukan Garuda: I Wound My Heart in Indonesia.

0 komentar: